1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer

KEMENANGAN AKHIR

great-controversy

..:: INFORMASI BUKU ::..

Judul:
Kemenangan Akhir
Kemenangan Akhir Pertikaian Besar

Penulis:
ELLEN G. WHITE

Penerbit:
Indonesia Publishing House
Jl. Raya Cimindi 72
Bandung 40184

Informasi Lain:
Judul asli : The Great Controversy
Penulis : Ellen G. White
Penerjemah : P. A. Siboro
Editor : J. F. Manullang

 


great-controversy

..:: INFORMASI BUKU ::..

Judul:
Kemenangan Akhir
Kemenangan Akhir Pertikaian Besar

Penulis:
ELLEN G. WHITE

Penerbit:
Indonesia Publishing House
Jl. Raya Cimindi 72
Bandung 40184

Informasi Lain:
Judul asli : The Great Controversy
Penulis : Ellen G. White
Penerjemah : P. A. Siboro
Editor : J. F. Manullang

 


KATA PENGANTAR

..:: KATA PENGANTAR ::..

Saudara pembaca yang budiman,

Buku ini diterbitkan bukan untuk memberitahukan kepada kita bahwa di dunia ini ada dosa, kesusahan dan penderitaan. Semuanya itu telah kita ketahui dengan jelas. Buku ini diterbitkan bukan untuk memberitahukan bahwa ada suatu pertikaian atau pertentangan yang tidak bisa didamaikan antara kegelapan dan terang, antara dosa dan kebenaran, antara yang salah dan yang benar dan antara kematian dan hidup. Di hati kita yang terdalam kita telah mengetahui keberadaan semua itu, dan mengetahui bahwa kita ikut berperan serta, dan pelaku dalam pertikaian itu.

Tetapi kepada masing-masing kita kadang-kadang datang suatu kerinduan untuk mengetahui lebih banyak mengenai pertikaian besar itu. Bagaimanakah pertikaian itu mulai? Atau, apakah pertikaian itu selamanya ada di dalam dunia ini? Unsur-unsur apakah yang masuk kepada aspeknya yang rumit dan mengerikan itu? Bagaimanakah saya dihubungkan dengan pertikaian itu? Apakah tanggungjawab saya? Saya berada di dalam dunia ini bukan atas pilihanku sendiri. Apakah itu berarti jahat atau baik bagiku?

Prinsip utama apakah yang terlibat di sini? Berapa lamakah pertikaian itu akan berlangsung? Apakah akhir pertikaian itu? Akan tenggelamkah dunia ini ke dalam suatu kedalaman yang tidak bermatahari, ke dalam malam yang membeku selama-lamanya, sebagaimana beberapa orang ilmuwan mengatakan? Atau adakah hari depan yang lebih baik bagi dunia ini di mana disinari dengan terang kehidupan, dihangatkan oleh kasih abadi Allah?

Masih ada pertanyaan yang lebih mendalam: Bagaimanakah pertikaian di dalam hatiku, yaitu pertikaian antara sifat mementingkan diri sendiri yang memasuki hatiku, dengan kasih yang harus ditunjukkan kepada orang lain, dapat diselesaikan dengan kemenangan di pihak kebaikan, dan diselesaikan untuk selama-lamanya? Apakah yang dikatakan Alkitab? Apakah yang diajarkan Allah kepada kita sehubungan dengan pertanyaan ini, yang selama-lamanya penting bagi setiap jiwa?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini dihadapkan kepada kita dari semua arah. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dengan keras dari hati kita yang terdalam. Pertanyaan-pertanyaan itu menuntut jawaban yang tepat dan pasti.

Tentu saja Allah, yang menciptakan di dalam diri kita keinginan untuk lebih baik dan kerinduan untuk mengetahui kebenaran, tidak akan menahan jawaban kepada semua pengetahuan yang diperlukan; karena "Tuhan Jehovah tidak akan melakukan sesuatu, kecuali Ia menyatakan rahasia-Nya kepada hamba-hamba-Nya para nabi."

Saudara pembaca, tujuan penerbitan buku ini ialah untuk menolong jiwa yang dilanda kesusahan untuk memperoleh penyelesaian yang tepat dari semua masalah ini. Buku ini telah dituliskan oleh seorang yang telah mengecap dan menemukan bahwa Allah adalah baik, dan yang telah belajar hidup bersama Allah dan mempelajari firman-Nya bahwa rahasia Tuhan diberitahukan kepada mereka yang takut akan Dia, dan bahwa Ia akan menunjukkan perjanjian-Nya kepada mereka.

Penulis telah menyajikan buku ini di hadapan kita menjadi pokok pelajaran nyata yang utama pada penghujung abad ke dua puluh ini, agar kita boleh mengerti lebih baik prinsip-prinsip penting pertikaian itu, dalam mana kehidupan alam semesta ini dilibatkan.

Isi buku ini dimulai dengan cerita yang menyedihkan tentang akhir sejarah Yerusalem, kota pilihan Allah, setelah penolakannya akan Yesus yang disalibkan di Golgota, yang telah datang untuk menyelamatkannya. Selanjutnya dalam perjalanan hidup bangsa-bangsa, buku ini menunjukkan kepada kita penganiayaan anak-anak Allah pada abad-abad pertama; kemurtadan besar yang terjadi di dalam jemaat-Nya; kebangkitan sedunia Pembaruan (Reformasi), dimana beberapa prinsip utama pertikaian dinyatakan dengan jelas; pelajaran yang mengerikan tentang penolakan prinsip-prinsip

yang benar oleh Perancis; kebangunan meninggikan Alkitab dan manfaat serta pengaruhnya pada penyelamatan jiwa; kebangunan agama pada akhir zaman membukakan pancaran mata air firman Allah, dengan pernyataan terang yang ajaib dan pengetahuan untuk menghadapi munculnya penyesat-an kegelapan.

Pertikaian yang segera akan terjadi sekarang, dengan melibatkan prinsip-prinsip vital, dalam mana tak seorangpun boleh netral, dinytakan dengan sederhana dan gamblang.

Akhirnya, kepada kita dinyatakan kemenangan kekal dan mulia, kebaikan atas kejahatan, kebenaran atas kesalahan, terang atas kegelapan, kegembiraan atas kedukaan, pengharapan atas keputus-asaan, kemuliaan atas kehinaan, kehidupan atas kematian, dan kasih yang tekun dan selama-lamanya atas kebencian dan keinginan balas dendam.

Edisi sebelumnya buku ini telah menuntun banyak jiwa kepada Gembala Yang Benar. Penerbit berdoa mudah-mudahan edisi ini lebih membawa hasil kebaikan kekal.

-Penerbit.


PENDAHULUAN

..:: PENDAHULUAN ::..

Sebelum dosa masuk ke dalam dunia ini, Adam menikmati suatu persekutuan terbuka dengan Khaliknya. Akan tetapi sejak manusia memisahkan dirinya dari Allah oleh pelanggaran, umat manusia telah kehilangan kesempatan yang baik ini. Namun, oleh rencana penebusan suatu jalan telah terbuka dengan mana penduduk bumi masih mempunyai hubung-an dengan surga. Allah telah berkomunikasi dengan manusia melalui Roh Ku-dus-Nya, dan terang ilahi telah diberikan kepada dunia ini melalui wahyu kepada hamba-hamba pilihan-Nya. "Tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah." (2 Pet. 1:21)

Selama dua ribu lima ratus tahun pertama sejarah umat manusia, tidak ada wahyu yang dituliskan. Mereka yang telah di ajar oleh Allah, mengkomunikasikan pengetahuan mereka kepada orang lain, dan demikian-lah dari ayah kepada anaknya turun-temurun. Penyediaan firman yang tertu-lis baru baru di mulai pada zaman Musa. Wahyu-wahyu yang diilhamkan lalu dikumpulkan menjadi suatu buku yang diilhamkan. Pekerjaan penulisan ini berlangsung selama seribu enam ratus tahun -- dari Musa ahli sejarah penciptaan dan hukum, sampai Yohanes, sipencatat kebenaran paling agung Injil.

Alkitab menunjukkan Allah sebagai pengarangnya; namun Alkitab itu di tuliskan oleh tangan manusia. Dan dalam berbagai pola penulisan buku-buku itu menyatakan ciri-ciri penulis-penulisnya. Kebenaran-kebenaran yang dinyatakan semuanya "diilhamkan Allah" (2 Tim. 3:16); namun kebenaran-kebenaran itu dinyatakan dalam bahasa mnusia. Allah, Yang Tanpa Batas itu, oleh Roh Kudus-Nya, telah memancarkan sinar terang ke dalam pikiran dan hati hamba-hamba-Nya. Ia telah memberikan mimpi-mimpi dan khayal-khayal, lambang-lambang, dan bilangan-bilangan; dan mereka, yang kepadanya kebenaran itu dinyatakan, telah menyusun pikiran-pikiran itu dalam bahasa manusia.

Sepuluh hukum itu telah diucapkan Allah sendiri, dan telah dituliskan oleh tangan-Nya sendiri. Sepuluh hukum itu adalah karangan ilahi, bukan susunan manusia. Tetapi Alkitab, yang berisi kebenaran yang diberikan Allah dan dinyatakan dalam bahasa manusia, menunjukkan persatuan ilahi dan manusia. Persatuan seperti itu terdapat dalam diri alamiah Kristus, yang adalah Anak Allah dan anak manusia. Jadi adalah sesuai dengan Alkitab dan sesuai juga dengan Kristus, bahwa, "Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita." (Joh. 1: 14)

Oleh karena di tulis pada zaman yang berbeda-beda, oleh penulis yang ber-beda kedudukan dan pekerjaan serta karunia mental dan rohani yang berbeda pula, maka buku-buku dalam Alkitab itu menunjukkan perbedaan dalam pola

penulisan dan demikian juga pokok-pokok bahasan yang diungkapkan. Berbagai bentuk ekspresi telah digunakan oleh para penulis. Sering kebenaran yang sama lebih menarik perhatian dinyatakan oleh seseorang penulis daripada seseorang penulis yang lain. Dan sementara beberapa penulis menyatkan suatu pokok bahasan dalam berbagai aspek dan hubungannya, mungkin akan tampak kepada pembaca yang lalai, dangkal dan berprasangka buruk sebagai suatu perbedaan dan kontradiksi.Tetapi bagi pelajar Alkitab yang sungguh-sungguh dan khidmat, dengan pandangan yang terang, akan melihat dengan jelas keharmonisan yang mendasar.


Sebagaimana dinyatakan melalui berbagai pribadi yang berbeda, maka kebenaran itu ditunjukkan dalam aspeknya yang berbeda-beda. Seorang penulis lebih terkesan dengan satu fase pokok pelajaran; ia mengambil pokok-pokok yang sesuai dengan pengalamannya atau dengan daya tangkap atau daya nalarnya dan apresiasinya. Yang lain menangkap fase yang lainnya, dan masing-masing dengan tuntunan Roh Suci, menyatakan apa yang paling berkesan kepada pikirannya -- aspek kebenaran berbeda-beda tetapi semuanya harmonis secara sempurna. Dan kebenaran yang telah di-nyatakan itu bersatu membentuk suatu kesatuan yang utuh, untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam segala keadaan dan pengalaman hidup.

Allah sangat senang mengkomunikasikan kebenarannya kepada dunia ini dengan perantaraan manusia, dan Dia sendiri, melalui Roh Kudus-Nya, menyanggupkan manusia itu untuk melakukan tugas ini. Ia menuntun pikir-an dalam memilih kata-kata yang akan diucapkan dan yang akan dituliskan. Harta surgawi itu dipercayakan kepada wadah duniawi, namun, itu tetap harta dari Surga. Kesaksian disampaikan melalui ungkapan bahasa manusia yang tidak sempurna, namun, itu tetap kesaksian Allah. Dan anak Allah yang percaya dan menurut melihat di dalam keaksian itu kemuliaan kuasa ilahi, penuh rakhmat dan kebenaran.

Di dalam firman-Nya, Allah telah menyampaikan kepada manusia pengetahuan yang perlu untuk keselamatan. Alkitab harus di terima sebagai pernyataan kehendak Allah yang teguh dan penuh kuasa. Alkitab adalah standar tabiat, yang menyatakan doktrin (ajaran) dan ujian pengalaman. "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik." (2 Tim. 3:16,17).

Namun, meskipun Allah telah menyatakan kehendak-Nya kepada manusia melalui firman-Nya, kehadiran dan tuntunan Roh Kudus yang terus menerus tetap diperlukan. Sebaliknya, Roh itu telah dijanjikan oleh Juru Selamat kita, untuk membukakan Firman itu kepada hamba-hamba-Nya, untuk menyinarkan dan menerapkan pengajaran-Nya. Dan oleh karena Roh Allahlah yang mengilhamkan Alkitab itu, maka tidak mungkin pengajaran Roh bertentangan dengan Firan itu.

Roh tidak diberikan atau dikaruniakan untuk menggantikan Alkitab, karena Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa firman Allahlah standar untuk menguji semua pengajaran dan pengalaman. Rasul Yohanes mengata-kan, "Saudara-sudaraku yang kekasih, janganlah percaya setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi keseluruh dunia." (1 Yoh.4:1) Dan nabi Yesaya mengatakan, "Carilah pengajaran dan kesaksian. Siapa yang berbicara tidak sesuai dengan perkataan itu, maka tidak terbit fajar baginya."(Yes.8:20)

Pekerjaan Roh Kudus telah di cela oleh kesalahan sekelompok orang yang mengatakan bahwa mereka mendapat terang, dan mengatakan bahwa tidak diperlukan lagi tuntunan dari firman Allah. Mereka dikuasai dan diperintah oleh kesan yang mereka anggap sebagai suara Allah di dalam jiwa mereka. Te-tapi roh yang mengendalikan mereka bukan Roh Allah. Mengikuti kesan seperti ini, yang mengabaikan Alkitab, hanya menuntun kepada kekacauan, kepada penipuan dan kebinasaan. Hal ini hanya memperluas bentuk-bentuk rencana si jahat. Oleh karena pelayanan Roh Kudus sangat penting bagi jemaat Kristus, adalah salah satu alat-alat Setan, melalui kesalahan-kesalahan orang-orang fanatik dan ekstrim pekerjaan Roh itu tercela, dan menyebabkan umat Allah mengabaikan sumber kekuatan yang telah disediakan Tuhan kita sendiri.


Selaras dengan firman Allah, Roh-Nya akan meneruskan pekerjaan-Nya selama pengabaran Injil. Pada zaman-zaman pengilhaman Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, Roh Kudus tetap mengkomunika-sikan terang kepada pikiran individu-individu, selain dari wahyu yang dimasukkan dalam Peraturan Kudus (Sacred Canon). Alkitab itu sendiri, melalui Roh Kudus, menghubungkan bagaimana manusia menerima amaran, teguran, nasihat dan petunjuk dalam hal-hal yang tidak berhubungan dengan pemberian Kitab-kitab itu. Disebutkan mengenai para nabi yang hidup di berbagai zaman, yang perkataan-perkataannya tidak di catat. Demikian juga setelah penutupan penulisan Kitab-kitab itu, Roh Kudus masih meneruskan pekerjaan-Nya untuk menerangi, mengamarkan dan menghiburkan anak-anak Allh.

Yesus menjanjikan kepada murid-murid-Nya, "tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan di utus oleh Bapa atas nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu." "Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu kepada seluruh kebenaran; . . . dan Ia akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang akan datang." (Yoh. 14:26; 16:13) Dengan jelas Alkitab mengajarkan bahwa janji-janji ini tidak terbatas hanya kepada zaman rasul-rasul, tetapi berlanjut kepada jemaat Kristus pada segala zaman. Juru Selamat meyakinkan pengikut-pengikut-Nya, " . . . Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat. 28:20) Dan Rasul Paulus menyatakan bahwa karunia dan penyataan Roh telah diberikan kepada jemaat "untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus." (Epes. 4:12,13)

Rasul itu berdoa bagi orang-orang percaya di Epesus, "dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia membe-rikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengha-rapan apakah yang terkandung di dalam panggilan-Nya . . . dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya" (Epes. 1:17-19). Pelayanan Roh ilahi yang memberi terang kepada pengertian dan yang membukakan pikiran kepada firman Allah yang kudus, itulah yang dimohonkan Rasul Paulus bagi jemaat Epesus.

Setelah penyataan ajaib Roh Kudus pada hari Pentakosta, Rasul Petrus mendorong orang-orang supaya bertobat dan memberi diri di baptis di dalam nama Kristus untuk keampunan dosa-dosa mereka, dan ia berkata, " . . . maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan di panggil oleh Tuhan Allah kita" (Kisah. 2:38,39).

Dalam hubungan dengan pemandangan pada hari besar Allah itu, Tuhan melalui nabi Yoel telah menjanjikan suatu manifestasi khusus Roh Kudus-Nya(Yoel 2:28). Nubuatan ini sebagian digenapi pada kecurahan Roh pada Hari Pentakosta itu. Tetapi Nubuatan itu akan mencapai kepenuhan penyataan rakhmat ilahi, yang akan membantu penyelesaian pekabaran Injil pada akhir zaman.

Pertikaian besar antara yang baik dan yang jahat akan bertambah intensitasnya pada akhir zaman. Pada segala zaman, kemarahan Setan telah dimanifestasikan terhadap jemaat Kristus. Dan Allah telah mengaruniakan rakhmat-Nya dan Roh-Nya kepada umat-Nya untuk menguatkan mereka berdiri tegak melawan kuasa si jahat itu. Bilamana rasul-rasul Kristus mem-bawa kabar Injil-Nya ke dunia ini dan mencatatnya bagi waktu yang akan datang, kepada mereka telah dikaruniakan terang Roh secara khusus. Akan tetapi sementara jemaat mendekati kelepasannya yang terakhir, Setan akan bekerja dengan kuasa yang lebih besar. Ia akan turun "dalam geramnya yang dahsyat, karena ia tahu, bahwa waktunya sudah singkat." (Wah. 12:12). Ia akan bekerja "disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizatpalsu." (2 Tes. 2:9). Selama enam ribu tahun otak pemberontakan ini -- yang pada suatu waktu adalah yang tertinggi di antara malaikat-malaikat Allah -- telah dengan sepenuhnya mengerahkan tenaganya untuk pekerjaan penipu-an dan pembinasaan. Semua kemampuan dan ketrampilan Setan serta kelicikan dan kekejaman yang dikembangkannya selama perjuangan pada segala zaman, akan dikerahkannya untuk melawan umat Allah pada pertikai-an terakhir. Dan dalam masa yang sangat berbahaya ini, pengikuti-pengikut Kristus harus membawa amaran kedatangan Tuhan ke dua kali ke dunia ini. Dan suatu umat yang "tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya" (2 Pet. 3:14) harus dipersiapkan untuk berdiri di hadapan-Nya pada waktu kedatangan-Nya itu. Pada waktu ini karunia khusus rakhmat ilahi dan kuasa sangat dibutuhkan oleh jemaat lebih daripada waktu zaman rasul-rasul.

Melalui penerangan Roh Kudus, pemandangan pertentangan yang telah berlangsung lama ini, antara yang baik dan yang jahat, telah dibukakan kepada penulis buku ini. Dari waktu ke waktu saya telah diizinkan untuk me-mandang pada berbagai zaman pekerjaan pertikaian yang besar antara Kristus, Putra Kehidupan, Pencetus Keselamatan, dengan Setan, putra kejahatan, pencetus dosa, pelanggar pertama hukum Allah yang kudus. Per-musuhan Setan terhadap Kristus telah dimanifestasikan kepada pengikut-pengikut-Nya. Kebencian yang sama terhadap prinsip hukum Allah, cara penipuan yang sama, dengan mana kesalahan telah di buat tampaknya seolah-olah kebenaran, dengan mana hukum-hukum manusia telah menggantikan hukum Allah, dan manusia di tuntun untuk berbakti kepada makhluk-makhluk gantinya berbakti kepada Khalik, dapat ditelusuri dalam sejarah masa lalu. Usaha-usaha Setan untuk memberikan gambaran yang salah tentang tabiat Allah, menyebabkan manusia menyukai konsepsi yang salah mengenai Khalik, dengan demikian memandangnya sebagai yang menakutkan, dan membenci gantinya mengasihi. Usaha-usahanya untuk mengesampingkan hukum ilahi itu menuntun manusia untuk berpikir bahwa mereka telah terbebas dari tuntutan hukum itu. Dan penganiayaan yang dilakukan atas mereka yang berani menolak penipuannya telah selalu terjadi pada segala zaman. Hal itu dapat ditelusuri dalam sejarah para bapa, para nabi, para rasul, para martir (yang mati syahid) dan para pembaharu.

Dalam pertikaian besar terakhir, Setan akan menggunakan cara yang sama, memanifestasikan roh yang sama, dan bekerja untuk tujuan yang sama seperti pada zaman-zaman sebelumnya. Apa yang telah terjadi, akan terjadi lagi, kecuali bahwa pertarungan yang akan datang itu akan ditandai dengan intensitas yang luar biasa hebatnya, sebagaimana yang belum pernah disak-sikan oleh dunia ini. Penipuan Satan akan lebih licik, dan serangannya lebih tajam. "Sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan." (Mark. 13:22).

Sementara Roh Allah membukakan kebenaran agung firman-Nya ke dalam pikiran saya, dan memperlihatkan pemandangan masa lalu dan masa yang akan datang, saya telah di suruh menyatakan kepada orang lain semua yang telah dinyatakan kepadaku -- untuk menelusuri sejarah pertikaian pada masa lalu, dan menyatakannya secara khusus untuk menerangkan pergumulan yang akan datang yang akan terjadi segera. Untuk mencapai tujuan ini, saya telah berusaha keras untuk menseleksi dan mengelompokkan peristiwa-peristiwa dalam sejarah gereja sedemikian rupa untuk menelusuri ujian besar kebenaran yang diungkapkan, yang pada waktu yang berbeda-beda telah diberikan ke dunia ini; kebenaran yang telah membangkitkan amarah Setan, dan rasa permusuhan gereja pecinta damai, dan yang telah dipertahankan oleh kesaksian orang-orang "yangtidak mengasihi nyawanya sampai mati."

Dalam catatan sejarah itu, kita dapat melihat bayangan pertentangan yang akan datang di hadapan kita. Kalau kita menanggapinya dengan terang firman Allah dan dengan penerangan Roh Kudus-Nya, kita dapat melihat dengan jelas muslihat si jahat, dan bahaya yang harus dihindari oleh mereka yang dijumpai "tidak bersalah" di hadapan Allah pada waktu kedatangan-Nya.


Peristiwa-peristiwa besar yang telah menandai kemajuan pembaharuan pada masa lalu, adalah bahan-bahan sejarah, yang di kenal dan diakui secara universal oleh dunia Protestan. Peristiwa-peristiwa itu adalah fakta, yang tak seorangpun dapat menyangkalnya. Sejarah ini telah saya ungkapkan secara singkat, sesuai dengan ruang lingkup buku ini. Dan kesingkatan yang harus perlu diperhatikan, dan fakta-fakta yang telah dipadatkan dan diringkaskan sedapat mungkin tampak masih konsisten dengan pengetahuan penerapannya yang selayaknya. Dalam beberapa kasus, di mana ahli sejarah telah mengelompokkan peristiwa-peristiwa sedemikian rupa secara singkat, atau menyoroti pokok masalah secara lengkap, atau telah meringkaskan rincian sejarah itu dalam cara yang mudah dimengerti dan serasi, kata-katanya telah di kutip. Tetapi dalam hal lain tidak diberikan kredit khusus, karena pengutipan tidak dilakukan dengan maksud mengutip penulis tersebut sebagai otoritas, tetapi karena perkataannya memberikan penekanan penyajian pokok masalah. Dalam menceriterakan pengalaman dan pandangan mereka yang melanjutkan pembaharuan di zaman kita, penggunaan yang sama dilakukan atas karya-karya mereka yang telah diterbitkan.

Tujuan penerbitan buku ini bukan hanya menyatakan kebenaran yang baru mengenai perjuangan di masa lampau, yang menyatakan fakta dan prinsip yang mempunyai dampak penekanan pada peristiwa-peristiwa yang akan datang. Tetapi bilamana di pandang sebagai satu bagian dari pertikaian antara kuasa terang dan kuasa kegelapan, maka semua catatan di masa lampau ini tampaknya mempunyai makna yang baru; dan melalui catatan-catatan itu terang terpancar ke masa depan, menerangi jalan mereka yang di panggil, seperti para pembaharu pada zaman dahulu. Meskipun harus mengorbankan harta duniawi, mereka terus bersaksi "bagi firman Allah dan kesaksian Yesus Kristus."

Tujuan menerbitkan buku ini ialahuntuk membukakan adegan pertikaian besar antara kebenaran dan kesalahan, untuk menyatakan tipu muslihat Setan, dan cara-cara dengan mana ia mungkin bisa di tolak; untuk mengete-ngahkan penyelesaian yang memuaskan atas masalah besar kejahatan, mene-rangkan asal-mula dan akhir dosa dengan menyatakan sepenuhnya keadilan dan kebaikan hati dan kasih Allah dalam hubungannya dengan makhluk-Nya; dan menunjukkan hukum-Nya yang kudus dan tak berubah. Itulah tujuan buku ini. Agar supaya melalui pengaruh buku ini jiwa-jiwa boleh diselamat-kan dari kuasa kegelapan, dan menjadi "ikut mempunyai bagian dalam warisan orang-orang saleh," memuliakan Dia yang mengasihi kita, dan menyerahkan diri-Nya untuk kita, itulah doa sungguh-sungguh penulis buku ini.

E. G. W.


KERUNTUHAN KOTA YERUSALEM

~ 1 ~
KERUNTUHAN KOTA YERUSALEM

"Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi dari matamu! Sebab akan datang harinya , bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batupun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengeta-hui saat bilamana Allah melawat engkau." (Lukas 19:42-44).

Dari puncak bukit Zaitun Yesus memandang kota Yerusalem. Pemandangan indah penuh kedamaian terhampar dihadapan-Nya. Pada waktu itu musim Paskah, dan anak-anak Yakub dari segala penjuru negeri berkumpul di sana untuk merayakan hari nasional itu. Di tengah-tengah taman dan kebun-kebun anggur, serta di lereng-lereng bukit yang hijau bertebaranlah kemah-kemah para musafir; juga di lereng-lereng bukit yang di terasering, di istana-istana kenegaraan dan di kubu-kubu pertahanan kuat ibu kota Israel. Tampaknya Putri Sion dengan sombongnya berkata, "Aku duduk di atas takhta sebagi ratu, dan tidak akan mengalami kesusahan;" dan menganggap dirinya aman di bawah naungan Surga, seperti berabad-abad yang lalu penyanyi kerajaan menyanikan, "Gunungnya yang kudus, yang menjulang permai, adalah kegirangan bagi seluruh bumi; gunung Sion itu, . . . kota Raja Besar." (Mz. 48:3). Tampak jelas bangunan kaabah yang megah dan indah dalam pemandangan itu. Sinar sang surya yang sudah mulai condong ke barat menyinari tembok pualam putih, dan tampak pantulan sinar dari gerbang keemasan, menara dan puncak kaabah. Bangunan kaabah, yang berdiri dengan "keelokan yang sempurna," menjadi kebanggaan bangsa Yahudi. Anak Israel manakah yang melihat pemandangan itu yang tidak merasa gembira dan kagum? Tetapi lebih dari pda itu, hal-hal lain memenuhi pikiran Yesus. "Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisi-nya."(Luk. 19:41). Ditengah-tengah kegembiraan memasuki kota, sementara daun palem dilambai-lambaikan, sementara pujian kegembiraan bergaung di bukit-bukit, dan ribuan suara menyatakan Dia raja, sang Penebus dunia itu diliputi oleh dukacita yang tiba-tiba dan misterius. Ia, Anak Allah, Anak Perjanjian bagi Israel, yang kuasa-Nya telah menaklukkan kematian, dan yang telah memanggil tawanan kematian itu dari dalam kubur, sekarang dengan deraian air mata, bukan oleh karena kedukaan biasa, tetapi penderitaan yang berat yang tak tertahankan.

Air mata-Nya itu bukan untuk kepentingan-Nya meskipun Ia tahu benar kemana Ia melangkah. Dihadapan-Nya terbentang Getsemane, pemandangan pendahuluan penderitaan-Nya. Pintu gerbang domba juga tampak oleh-Nya, melalui mana selama berabad-abad korban-korban persembahan di giring. Dan pintu gerbang itu juga terbuka bagi-Nya bilamana Ia harus di bawa "seperti anak domba yang di bawa ke pembantaian." (Yes. 53:7). Tak jauh dari sana terdapat Golgota (Calvary), tempat penyaliban. Jalan yang sebentar lagi akan dilalui Kristus akan diliputi oleh kegelapan yang mengerikan, sementara Ia memberikan jiwa-Nya sebagai korban karena dosa. Namun bukanlah karena memikirkan hal ini yang membuat bayang-bayang menyelubunginya pada saat-saat kegembiraan seperti ini. Tak ada tanda-tanda bahwa penderita-an-Nya yang luar biasa akan menyelubungi roh yang tidak mementingkan diri. Ia menangis oleh karena kebinasaan ribuan orang-orang Yerusalem -- oleh karena kebutaan dan kedegilan mereka untuk siapa sebenarnya Yesus datang untuk memberkati dan menyelamatkan mereka.

Sejarah pertolongan khusus dan pemeliharaan Allah selama lebih dari seribu tahun yang dinyatakan kepada umat pilihan-Nya dipaparkan di depan mata Yesus. Di sana ada gunung Moriah, di mana anak perjanjian Ishak, korban yang tidak meronta, telah di ikat kepada mezbah -- lambang pengorbanan Anak Allah. Di sanalah diteguhkan kepada bapa orang percaya itu janji berkat, yaitu janji Mesias. (Kej. 22:9, 16-18). Di sana, nyala api korban naik ke surga dari penggilingan gandum Ornan yang telah menghindarkan pedang malaikat pembinasa (1Tawar. 21) -- sesuai dengan lambang pengorbanan dan pengantaraan Juru Selamat bagi orang-orang berdosa. Yerusalem telah dihormati Allah di atas seluruh bumi. Tuhan telah "memilih Sion" dan "menginginkannya menjadi tempat kedudukan-Nya" (Maz. 132:13).

Di sana, selama berabad-abad nabi-nabi kudus telah mengucapkan pekabaran-pekabaran amarannya. Di sana, imam-imam mengayunkan pedupaannya dan asap asap pedupaan bersama-sama dengan doa orang yang berbakti naik ke hadirat Allah. Di sana, setiap hari dipersembahkan darah domba yang di sembelih, merujuk kepada Anak Domba Allah. Di sana, Yehovah telah menya-takan hadirat-Nya dalam awan kemuliaan di atas takhta kemurahan. Di sana, berjejak tangga ajaib yang menghubungkan dunia dengan surga (Kej. 28:12; Yoh.1:21) -- tangga tempat malaikat-malaikat Allah turun dan naik, dan yang telah membuka kepada dunia ini jalan kepada tempat yang maha kudus. Jikalau sekiranya Israel sebgai satu bangsa memelihara kesetiaannya kepada Surga, Yerusalem akan beridiri selma-lamanya sebagai kota pilihan Allah. (Yerm. 17:21-25). Tetapi sejarah umat pilihan itu yang tampak hanyalah catatan kemurtadan dan pemberontakan. Mereka telah menolak rahmat Surga, menyalah-gunakan kesempatannya serta menganggap enteng kesempatan-kesempatan itu.

Meskipun Israel telah "mengolok-olok utusan Allah itu, dan menghina segala firman-Nya, dan mengejek nabi-nabi-Nya ( 2 Taw.36:16, 15), Ia masih menyatakan diri-Nya kepada mereka sebagai "Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya." (Kel. 34:6). Meskipun di tolak berulang-ulang, kemurahan-Nya terus mengundang. Dengan kasih yang melebihi kasih seorang ayah kepada anak yang diasuhnya, Allah telah "berulang-ulang mengirim pesan melalui utusan-utusan-Nya, karena Ia sayang kepada umat-Nya dan tempat kediaman-Nya." ( 2 Taw. 36:16.15). Pada waktu protes, himbauan dan teguran telah gagal, Ia mengirimkan kepada mereka pemberian surga yang terbaik; bahkan Ia mencurahkan surga kepada Pemberian satu-satunya itu.

Anak Allah sendiri telah dikirimkan untuk mengundang kota yang tidak merasa bersalah itu. Kristuslah yang telah membawa bangsa Israel keluar dari Mesir sebagai pokok anggur yang baik. (Maz. 80:8). Tangan-Nya sendirilah yang menumpas orang kafir di hadapan mereka. Ia telah menanamkannya di "lereng bukit yang subur." (Yes. 5:1-4). Pemeliharaan perlindungan-Nya telah memagarinya. Hamba-hamba-Nya telah di kirim untuk merawatnya. "Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggurKu itu," Ia berseru, " yang belum Kuperbuat kepadanya?" Meskipun Ia "menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik," tetapi, " yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam." ( Yes. 5:1-4). Namun, dengan kerinduan mengharapkan buah yang baik, Ia sendiri datang ke kebun anggur-Nya, kalau-kalau masih ada kemungkinan untuk menyelamatkannya dari kebinasaan. Ia menggali di sekeliling pokok anggur-Nya itu; Ia memangkasnya dan memeliharanya. Ia tidak mengenal lelah dalam usaha-Nya untuk menyelamatkan pokok anggur, yang ditanam-Nya sendiri itu.

Selama tiga tahun, Tuhan terang dan kemuliaan itu telah datang dan berada di antara umat-Nya. Ia " berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis," (Kis.10:38) "memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang buta, membuat orang lumpuh berjalan dan orang tuli mendengar, orang kusta menjadi tahir, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik." (Luk. 4:18,19). Panggilan lembut dan ramah ini ditujukan kepada semua golongan masyarakat, "Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Mat. 11:28).

Meskipun yang baik di balas dengan yang jahat, dan kebencian untuk kasih-Nya (Maz. 109:5), Ia tetap melaksanakan misi kemurahan-Nya. Orang yang menolak Dia tidak pernah mencari rahmat-Nya. Sebagai seorang pengembara yang tidak mempunyai rumah, yang di cela orang dan yang berkekurangan, Ia melayani kebutuhan orang-orang dan meringankan penderitaan mereka, membujuk mereka untuk menerima karunia hidup.

Gelombang kemurahan, yang di tolak oleh hati yang degil, kembali dalam gelombang pasang kasih yang tak dapat dijelaskan. Tetapi orang Israel telah meninggalkan Temannya yang terbaik, dan Penolong stu-satunya itu. Mereka telah meremehkan kasih-Nya, menolak dan menghina nasihat-Nya, dan mengejek amaran-Nya.

Saat pengharapan dan pengampunan telah berlalu dengan cepat. Cawan murka Allah yang telah lama di tunda hampir penuh. Awan kemurtadan dan pemberontakan yang telah terkumpul selama berabad-abad, sekarang menghitam dengan kesengsaraan, dan sudah hampir meledak atas orang berdosa. Dan Dia, yang satu-satunya sanggup menyelamatkan mereka dari nasib buruk itu telah diremehkan, disalah-gunakan, di tolak dan segera akan dislibkan. Bilamana Kristus harus digantungkan di kayu salib Golgota, maka berakhirlah hari Israel sebagai yang di pilih dan diberkati Allah. Kehilangan satu jiwa saja adalah suatu bencana yang sangat besar yang melebihi keuntungan harta dunia. Tetapi sementara Kristus menatap Yerusalem, kebinasaan seluruh kota itu, seluruh bangsa itu, telah nampak dihadapan-Nya -- kota itu, bangsa itu, yang pada suatu waktu adalah bangsa pilihan Allah, harta istimewa-Nya.

Para nabi telah menangisi kemurtadan bangsa Israel, dan kehancurannya sebagai akibat dosa-dosanya. Yeremia ingin seandainya matanya bisa menjadi mata air agar ia bisa menangisi putri-putri bangsanya yang terbunuh siang dan malam, oleh karena kawanan domba Tuhan di angkut tertawan. (Yer. 9:1; 13:17). Lalu apakah yang mendukakan Dia, yang kilasan nubuatan-Nya mencakup bukan saja tahunan tetapi berabad-abad ke depan! Ia melihat malaikat pembinasa itu mengangkat pedangnya terhunus terhadap kota yang telah sekian lama menjadi tempat tinggal Yehovah. Dari punggung bukit Zaitun, tempat yang kemudian diduduki oleh Titus dan pasukannya, Ia memandang menerusi lembah kepada serambi dan ruang pengadilan suci. Dan dengan berlinang air mata Ia melihat, dalam perspektif yang mengerikan, dinding Yerusalem dikelilingi pasukan asing. Ia mendengar derap langkah tentara bersedia berperang. Ia mendengar suara ratap tangis ibu-ibu dan anak-anak meminta makan di dalam kota yang sudah terkepung itu. Ia melihat rumah indah dan bangunan suci, istana-istananya dan menara-menaranya terbakar habis di lalap api. Tinggallah hanya onggokan puing-puing belaka.


Memandang kepada sepanjang masa, Ia melihat umat perjanjian itu tercerai-berai di berbagai negeri, "seperti reruntuhan kapal di pantai padang pasir." Dalam hukuman duniawi yang akan menimpa anak-anaknya, Ia melihat regukan pertama dari cawan murka Allah, yang pada penghakiman terakhir ia harus menghabiskan seluruh isi cawan murka Allah itu. Di dalam pengasihan ilahi, dalam kerinduan kasih-Nya, terdapat ucapan dengan kata-kata tangisan ini, "Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang di utus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau." (Mat. 23:37). Hai bangsa yang ditinggikan di atas bangsa-bangsa lain, telah mengetahui saat hukuman dari Tuhan dan hal-hal yang menyangkut kedamaianmu! Aku telah menahankan malaikat keadilan. Aku telah mengajakmu untuk bertobat, tetapi sia-sia saja. Bukan hanya hamba-hamba, utusan-utusan dan nabi-nabi yang telah engkau tolak, tetapi juga Yang Kudus Israel, Penebusmu. Jikalau engkau dibinasakan, itu adalah tanggungjawabmu sendiri. "Namun kamu tidak mau datang kepadaKu untuk memperoleh hidup itu." (Yoh. 5:40).

Kristus melihat di Yerusalem suatu lambang dunia yang mengeraskan hati di dalam ketidak-percayaan dan pemberontakan, dan yang bergerak cepat menuju penghakiman pembalasan Allah. Penderitaan bangsa yang yang sudah jatuh itu menekan jiwa Yesus, yang memaksa keluar dari bibirnya tangis kepahitan. Ia melihat catatan dosa tergambar dalam penderitaan, air mata dan darah manusia. Hatinya tergerak oleh kasih yang tak terhingga bagi manusia yang menderita dan sengsara di dunia ini. Ia rindu untuk membebaskan manusia itu dari semua penderitaan dan kesengsaraan mereka. Tetapi tangan-Nya sendiripun tidak dapat membalikkan gelombang penderitaan manusia itu, karena hanya sedikit yang akan mencari Sumber Pertolongan satu-satunya itu. Ia rela menyerahkan jiwa-Nya kepada maut, untuk membawa keselamatan ke dalam jangkauan mereka, tetapi hanya sedikit yang akan datang kepada-Nya untuk memperoleh hidup itu.

Maharaja Surga mencucurkan air mata! Anak Allah yang tak terbatas itu menderita di dalam jiwa, tertunduk dalam kesedihan yang amat sangat. Pemandangan itu memenuhi surga dengan kekaguman. Pemandangan itu menyatakan kepada kita keberdosaan luar biasa dosa itu. Pemandangan itu menunjukkan betapa beratnya tugas itu, baik kepada kuasa yang tak terbatas sekalipun, untuk menyelamatkan orang jahat dari akibat-akibat pelanggaran hukum Allah. Yesus memandang kepada generasi terakhir manusia, dan melihat dunia ini terlibat dalam peniupuan yang sama dengan yang menyebabkan kebinasaan Yerusalem. Dosa besar seorang Yahudi ialah penolakannya akan Kristus. Dosa besar dunia Kristen ialah penolakannya pada hukum Allah, dasar pemerintahan-Nya di surga maupun di dunia ini. Ajaran-ajaran Yehovah akan direndahkan dan dihinakan serta ditiadakan. Berjuta-juta orang yang berada di dalam tawanan dosa, yang menjadi budak Setan, yang ditentukan untuk menderita kematian yang kedua, akan menolak mendengarkan perkataan kebenaran pada hari pembalasan mereka. Kebutaan yang mengerikan! Ketergila-gilaan yang aneh!

Dua hari sebelum pesta Paskah, pada waktu terakhir kalinya meninggalkan kaabah, setelah mencela kemunafikan pemimpin-pemimpin Yahudi, sekali lagi Ia bersama murid-murid-Nya pergi ke Bukit Zaitun dan duduk bersama mereka di kaki bukit berumput yang menghadap ke kota Yerusalem. Sekali lagi Ia memandangi tembok-temboknya, menara-menaranya, dan istana-istananya. Sekali lagi Ia menatap kaabah dalam pantulan keindahan dan kemuliaannya, tanda kebesaran dan keindahan yang memahkotai bukit yang suci itu.

Seribu tahun sebelumnya, pemazmur telah memperbesar pilihan Allah atas Israel dengan mendirikan bangunan kudus itu menjadi tempat tinggal-Nya, "Di Salem sudah ada pondok-Nya, dan kediaman-Nya di Sion!" (Mazmur 76:3). Tetapi Ia "memilih suku Yehuda, gunung Sion yang dikasihi-Nya. Ia membangun tempat kudus-Nya setinggi langit." (Mazmur 76: 68,69). Kaabah yang pertama telah didirikan pada zaman yang paling makmur dalam sejarah bangsa Insrael. Raja Daud telah mengupulkan harta yang sangat banyak untuk keperluan, dan rencana pembangunannya telah di buat atas ilham ilahi (1 Tawarikh 28:12,19). Salomo, raja Israel yang paling arif bijaksana telah merampungkan pembangunan kaabah itu. Bangunan kaabah ini adalah bagunan terindah yang pernah di lihat oleh dunia ini. Namun, Tuhan telah menyatakan melalui nabi Hagai mengenai kaabah yang kedua, "Adapun rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula." "Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi rumah ini dengan kemegahan, firman Tuhan semesta alam."( Hagai 2:9.7).

Setelah dibinasakan oleh raja Nebukadnezar, kaabah itu telah dibangun kembali kira-kira lima ratus tahun sebelum Kristus lahir. Kaabah di bangun oleh orang-orang yang kembali dari penawanan seumur hidup ke negeri yang telah diterlantarkan dan sampai menjadi gurun. Di antara mereka ada orang-orang tua, yang telah melihat kemegahan dan kemuliaan kaabah Salomo, yang menangis di fondasi bangunan baru itu karena bangunan itu lebih rendah mutunya dari yang sebelumnya. Perasaan yang melanda mereka dengan gamblang diungkapkan oleh nabi, "Masih adakah di antara kamu yang telah melihat Rumah ini dalam kemegahannya yang semula? Dan bagaimanakah kamu melihat keadaannya sekarang? Bukankah keadaannya di matamu seperti tidak ada artinya?" (Hagai 2:3; Ezra 3:12). Kemudian diberikanlah janji bahwa kemuliaan bangunan yang sekarang ini akan lebih besar dari yang sebelumnya.


Akan tetapi keindahan dan kemegahan kaabah yang kedua ini tidak sama dengan yang pertama. Tidak juga dikuduskan oleh tanda yang dapat terlihat kehadiran ilahi seperti pada kaabah yang pertama. Tidak ada pernyataan kuasa supernatural (gaib) yang menandai penahbisannya. Tidak tampak adanya awan kemuliaan yang memenuhi kaabah yang baru didirikan itu. Tidak ada api yang turun dari surga untuk membakar korban di atas mezbahnya. Shekinah tidak lagi berada di antara kerubium di bilik yang maha suci. Tabut perjanjian, tahta kemurahan dan meja-meja kesaksian tidak ditemukan lagi di sana. Tidak ada suara untuk menjawab pertanyaan para imam mengenai kehendak Yehovah.

Selama berabad-abad orang Yahudi tidak dapat melihat kegenapan janji Allah kepada nabi Hagai. Tetapi, kesombongan dan ketidak-percayaan telah membutakan pikiran mereka mengenai arti yang sebenarnya perkataan nabi itu. Kaabah yang kedua ini tidak dihormati dengan awan kemuliaan Yehovah, tetapi dengan kehadiran yang hidup dari Dia yang didalam-Nya tinggal kepenuhan badan keallahan -- yang adalah Allah sendiri yang dinyatakan di dalam daging. "Kerinduan segala bangsa " sebenarnya telah datang ke kaabah itu pada waktu Orang dari Nasaret itu mengajar dan menyembuhkan orang sakit di serambi kaabah yang kedua ini melebihi kemuliaan kaabah yang pertama. Tetapi bangsa Israel telah menolak tawaran Karunia surga. Setelah Guru yang rendah hati, pada hari itu meninggalkan pintu gerbang keemasan kaabah, maka kemuliaan Allah telah meninggalkan kaabah itu untuk selama-lamanya. Pada hari itu perkataan juru Selamat ini digenapi, "Lihatlah, rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi." (Matius 23:38).

Murid-murid-Nya kagum dan heran mendengar ramalan Kristus mengenai keruntuhan kaabah, dan mereka rindu untuk mengerti lebih jauh arti perkataan-Nya itu. Kekayaan, usaha,, dan keahlian arsitektur, telah dikerahkan selama empat puluh tahun untuk meningkatkan keindahan dan kemegahan kaabah itu. Herodes yang Agung telah menghabiskan kekayaan Romawi dan harta kekayaan Yahudi untuk bangunan itu. Bahkan kaisar dunia telah membantu dengan sumbangan-sumbangan. Balok-balok, batu pualam putih dengan ukuran yang luar biasa telah didatangkan dari Roma untuk keperluan ini, yang membentuk sebagian strukturnya. Dan mengenai hal ini murid-murid itu telah menarik perhatian Guru mereka dengan berkata, "Kau lihat gedung-gedung yang hebat ini?" (Mark. 13:1).

Yesus memberi jawaban yang sungguh-sungguh dan mengejutkan kepada pertanyaan ini, "Sesungguhnya tidak ada satu batupun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan." (Matius 24:2,3).

Dengan runtuhnya kota Yerusalem, murid-murid itu menghubung-hubungkan kejadian kedatangan Kristus secara pribadi dalam kemuliaan duniawi untuk mengambil alih tahta kerajaan dunia, menghukum orang Yahudi yang degil dan membebaskan bangsa itu dari kuk penjajahan bangsa Romawi. Tuhan telah menyatakan kepada mereka bahwa Ia akan datang kedua kali. Oleh karena itu sejak diberitahukan penghakiman atas kota Yerusalem, pikiran mereka harus ditujukan kepada kedatangan itu. Dan sementara mereka berkumpul mengelilingi Juru Selamat di atas Bukit Zaitun, mereka bertanya, "Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan kesudahan dunia?" (Matius 24:2,3).

Masa depan telah diselubungkan dari murid-murid itu. Seandainya mereka pada waktu itu mengerti sepenuhnya kedua fakta yang mengerikan itu -- penderitaan dan kematian Penebus, dan kebinasaan kot dan kaabah mereka -- maka mereka akan diliputi oleh kengerian yang amat sangat.Kritus memaparkan dihadapan mereka ringkasan kejadian-kejadian yang menonjol yang akan terjadi sebelum akhir zaman. Perkataan-Nya tidak sepenuhnya dimengerti, tetapi artinya akan dibukakan bilamana umat-Nya memerlukan petunjuk mengenai hal-hal yang telah diberikan. Nubuatan yang dikatakan-Nya mempunyai makna rangkap dua: bayangan pendahuluan mengenai kebinasaan kota Yerusalem, dan juga gambaran pendahuluan kesusahan besar akhir zaman.

Yesus memberitahukan kepada murid-murid yang mendengarkan-Nya itu pehukuman yang akan berlaku atas bangsa Israel yang murtad, dan terutama hukuman pembalasan yang akan terjadi atas mereka sebagai akibat dari penolakan dan penyaliban Mesias. Tanda-tanda yang tidak boleh salah akan mendahului klimaks yang mengerikan itu. Saat yang menakutkan itu akan datang tiba-tiba dan segera. Dan Juru Selamat mengamarkan pengikut-pengikut-Nya, "Jadi apabila kamu melihat Pembinasa keji berdiri di tempat kudus, menurut firman yang disampaikan oleh nabi Daniel -- para pembaca hendaklah memperhatikannya -- maka orang-orang yang di Yudea haruslah melarikan diri ke pegunungan." (Matius 24:15,16; Lukas 21:20). Bilamana tiang-tiang berhala orang Roma didirikan di atas tanah suci, beberapa ratus meter di luar tembok kota, maka pengikut-pengikut Kristus menyelamatkan diri dengan melarikan diri. Bilamana tanda amaran kelihatan, mereka yang akan meluputkan diri tidak boleh bertangguh. Tanda untuk melarikan diri harus segera dipatuhi oleh mereka yang diam di seluruh Yudea, demikian juga yang diam di Yerusalem. Ia yang kebetulan berada di atas sotoh rumah tidak boleh turun dan masuk ke dalam rumah biarpun untuk menyelamatkan hartanya yang paling berharga. Mereka yang bekerja di ladang atau di kebun anggur jangan lagi membuang waktu untuk menukar pakaiannya yang dipakainya bekerja di bawah terik matahari pada hari itu. Mereka tidak boleh membuang-buang waktu sesaatpun kalau mereka tidak mau terlibat dalam kebinasaan menyeluruh itu.

Selama pemerintahan raja Herodes, kota Yerusalem bukan saja telah banyak dipercantik, tetapi dengan pendirian menara-menara, tembok-tembok, dan kubu-kubu, menambah kepada ketahanan letak kota, sehingga memberikan kesan bahwa tak mungkin kota itu bisa ditaklukkan. Ia yang pada waktu ini meramalkan secara terbuka mengenai kebinasaan kota Yerusalem, akan di sebut pengamar gila, seperti Nuh pada zamannya. Tetapi Kristus telah mengatakan, "Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu."(Matius 24:35). Oleh karena dosa-dosanya, kemurkaan telah dikenakan atas Yerusalem, dan kedegilan ketidak-percayaannya telah memastikan kebinasaanya.


Tuhan telah menyatakan melalui nabi Mika, "Baiklah dengarkan ini, hai para kepala kaum Yakub, dan para pemimpin kaum Israel! Hai kamu yang muak terhadap keadilan dan membengkokkan segala yang lurus, hai kamu yang mendirikan Sion dengan darah dan Yerusalem dengan kelaliman! Para kepalanya memutuskan hukum karena suap, dan para imamnya memberi pengajaran karena bayaran, para nabinya menenung karena uang, padahal mereka bersandar kepada Tuhan dengan berkata: Bukankah Tuhan ada di tengah-tengah kita! Kita tidak datang malapetaka menimpa kita!" (Mika 3:9-11).

Kata-kata ini menggambarkan dengan jelas penduduk kota Yerusalemyang korup dan yang menganggap dirinya benar. Sementara mereka mengatakan bahwa mereka melakukan perintah hukum Allah dengan ketat, mereka sedang melanggar semua prinsip hukum itu. Mereka membenci Kristus, oleh karena kesucian-Nya dan kekudusan-Nya menyatakan kejahatan mereka. Dan mereka menuduh-Nya sebagai penyebab semua kesusahan yang menimpa mereka, sebagai akibat dosa-dosa mereka. Meskipun mereka mengenal Dia sebagai seorang yang tidak berdosa, mereka telah menyatakan bahwa kematian-Nya perlu demi keselamatan mereka sebagai bangsa. "Apabila kita membiarkan Dia," kata para pemimpin Yahudi, "maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita."( Yoh. 11:48). Jikalau Kristus dikorbankan, mereka akan bisa kembali menjadi bangsa yang kuat dan bersatu. Demikian mereka memberi alasan dan mereka menyetujui keputusan imam besar mereka, bahwa adalah lebih baik seorang mati daripada seluruh bangsa itu binasa.

Jadi pemimpin-pemimpin Yahudi telah "membangun Sion dengan darah dan Yerusalem dengan kelaliman." Dan, sementara mereka membunuh Juru Selamat mereka oleh sebab Dia menegur dosa-dosa mereka, demikianlah mereka membenarkan diri sendiri, bahwa mereka menganggap diri mereka sebagai umat Allah, dan mengharapkan Tuhan untuk melepaskan mereka dari musuh-musuh mereka. "Sebab itu," nabi itu melanjutkan, "oleh karena kamu maka Sion akan di bajak seperti ladang, dan Yerusalem akan menjadi timbunan puing dan gunung Bait Suci akan menjadi bukit yang berhutan." (Mika 3:12).

Hampir selama 40 tahun, sesudah kebinasaan Yerusalem diumumkan oleh Kristus sendiri, Tuhan menunda penghakiman-Nya atas kota dan bangsa itu. Cukup mengagumkan panjang sabar Allah terhadap para penolak Injil-Nya dan para pembunuh Anak-Nya. Perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah itu menyatakan perlakuan Allah terhadap bangsa Yahudi. Perintah sudah dikeluarkan, "Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma?" (Lukas 13:7). Tetapi belas kasihan ilahi telah memberikan waktu sedikit lagi. Masih banyak orang-orang Yahudi yang tidak mengetahui tabiat dan pekerjaan Kristus. Dan anak-anak belum menikmati atau menerima terang yang di tolak orang tua mereka dengan hinaan, melalui pemberitaan rasul-rasul dan rekan-rekan mereka. Allah akan membuat terang itu bersinar atas mereka. Mereka akan diizinkan melihat bagaimana nubuatan itu digenapi, bukan saja pada kelahiran dan kehidupan Kristus, tetapi juga pada kematian dan kebangkitan-Nya. Anak-anak tidak di hukum atas dosa-dosa orang tua mereka. Akan tetapi, bilamana dengan mengetahui semua terang yang diberikan kepada orang tua mereka, anak-anak itu tetap menolak terang tambahan yang diberikan kepada mereka, maka mereka menjadi ikut mengambil bahagian dalam dosa-dosa orang tua mereka, dan turut terlibat di dalam kelaliman mereka.

Panjang sabar Allah atas Yerusalem hanya memastikan bahwa orang Yahudi itu tetap keras kepala tidak mau mengakui dosa-dosa mereka. Di dalam kebencian dan kekejaman mereka terhadap murid-murid Yesus, mereka menolak tawaran kemurahan terakhir. Lalu Allah tidak lagi melindungi mereka, dan menarik kuasa pengendalian-Nya atas serangan Setan dan malaikat-malaikatnya kepada mereka. Dan bangsa itu telah dibiarkan dikendalikan oleh pemimpin yang dipilihnya sendiri. Anak-anaknya telah menghinakan rahmat Kristus, yang sebenarnya dapat menyanggupkan mereka untuk mengalahkan dorongan-dorongan jahat mereka. Dan sekarang mereka ditaklukkan oleh dorongan-dorongan jahat mereka sendiri. Setan membangkitkan kemarahan yang paling ganas dan yang paling keji di dalam jiwa mereka. Manusia tidak lagi menggunakan pertimbangan akal sehat; mereka sudah jauh dari pertimbangan akal sehat, -- dikuasai oleh nafsu dan dorongan hati dan amarah yang membabi-buta. Mereka menjadi kesetanan dalam tindakan kejahatannya. Di dalam keluarga atau di dalam masyarakat, baik dengan golongan atas maupun golongan bawah, terdapat kecurigaan, kecemburuan, kebencian, perkelahian, pemberontakan dan pembunuhan. Tidak ada rasa aman dimana-mana. Sahabat-sahabat dan sanak saudara saling mengkhianati satu sama lain. Orang tua membunuh anaknya dan anak membunuh orang tuanya. Para pejabat pemerintah tidak berkuasa memerintah mereka. Nafsu yang tidak terkendalikan membuat mereka jadi lalim. Orang-orang Yahudi telah menerima kesaksian palsu untuk menghukum Anak Allah yang tidak bersalah itu. Dan sekarang tuduhan-tuduhan palsu membuat hidup mereka tidak ada kepastian. Oleh tindakan-tindakan mereka, telah lama mereka berkata, "Janganlah susahi kami dengan Yang Maha Kudus, Allah Israel." (Yes. 30:11). Sekarang keinginan mereka telah diberikan. Takut akan Allah tidak lagi mengganggu mereka. Setan telah memimpin bangsa itu, dan penguasa tertinggi negara dan agama telah berada di bawah kendalinya.


Para pemimpin golongan penentang pada waktu itu bersatu untuk merampok dan menganiaya korban-korban yang malang. Dan sekali lagi mereka terlibat kekerasan satu sama lain dan saling membunuh tanpa dapat menahan kengerian keganasan mereka. Orang-orang yang datang beribadat ke kaabah telah di serang di depan mezbah, dan kaabah itu dikotori dengan tubuh orang-orang yang telah di bunuh. Namun dalam pikiran mereka yang buta dan yang penuh dengan hujatan para penggerak pekerjaan naraka itu secara terbuka menyatakan bahwa mereka tidak takut kota Yerusalem akan dibinasakan, karena Yerusalem adalah kota Allah sendiri. Untuk memantapkan kekuasaan mereka lebih kuat lagi, mereka menyuap nabi-nabi palsu untuk mengumumkan, agar orang-orang menunggu kelepasan dari Allah, meskipun tentera Roma sedang mengepung kaabah itu. Akhirnya, orang banyak berpegang pada kepercayaan bahwa Yang Maha Tinggi campur tangan dalam mengalahkan musuh-musuh mereka. Tetapi Israel telah menolak dan menghinakan perlindungan ilahi, dan sekarang ia tidak mempunyai pertahanan sama sekali. Yerusalem yang malang! Di koyak-koyak oleh pertikaian di dalam negeri sendiri, darah anak-anak mereka yang di bunuh oleh tangan-tangan orang lain membuat jalan-jalannya merah, sementara tentera asing menghancurkan kubu-kubu pertahanannya, dan membunuh pahlawan-pahlawan perangnya.

Semua ramalan yang dikatakan Kristus mengenai kebinasaan kota Yerusalem telah digenapi dengan tepat. Orang-orang Yahudi mengalami kebenaran amaran-Nya, "dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu." (Matius 7:2).

Tanda-tanda dan keajaiban bermunculan mendahului bencana dan malapetaka itu. Pada tengah malam bersinarlah terang yang tidak biasa di atas kaabah dan mezbah. Di awan-awan matahari terbenam terlukis kereta-kereta perang dan bala tentera siap untuk berperang. Imam-imam yang bertugas malam di kaabah telah ditakutkan oleh suara-suara misterius. Bumi bergetar dan terdengar suara tangisan orang banyak, "Marilah kita pergi dari sini." "Pintu gerbang kota sebelah timur yang besar, yang begitu berat, sehingga dengan susah payah bisa di tutup oleh dua puluhan orang, yang dipasangkan dengan batang-batang besi yang tertancap dalam pada batu, terbuka pada malam itu dengan sendirinya tanpa ada terlihat yang membuka." -- Milman, "History of the Jews," buku 13.

Selama tujuh tahun seseorang terus menerus menelusuri jalan-jalan kota Yerusalem, menyatakan malapetaka yang akan menimpa kota itu. Siang dan malam ia menyanyikan nyanyian ratapan kesedihan, "Suara dari timur! suara dari barat! suara dari keempat penjuru mata angin! suara menentang Yerusalem dan menentang kaabah! suara menentang pengantin laki-laki dan pengantin perempuan! suara menentang semua orang!" Orang aneh ini dipenjarakan, di cambuk dan di hukum dengan kejam, tetapi tidak ada keluhan yang keluar dari bibirnya. Terhadap hinaan dan perlakuan kejam itu ia hanya menjawab, "Malapetaka, malapetaka bagi Yerusalem! malapetaka, malapetaka bagi penghuninya!" Seruan amarannya terhenti setelah ia di bunuh pada pengepungan yang dikatakannya sebelumnya.

Tak seorangpun orang Kristen yang binasa pada waktu Yerusalem dimusnahkan. Kristus telah mengamarkan murid-murid-Nya. Dan semua orang yang percaya kepada firman-Nya, memperhatikan tanda-tanda yang sudah dijanjikan. "Apabila kamu melihat Yerusalem di kepung oleh tentera-tentera, ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat," kata Yesus. "Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi." (Lukas 21:20,21). Setelah tentera Roma di bawah pimpinan Cestius mengepung kota itu, tanpa di duga pengepungan itu di batalkan, pada saat segalanya sudah siap untuk mengadakan serangan segera. Kota yang terkepung dan yang tak mempunya harapan untuk bertahan itu, sudah mau menyerah pada waktu jenderal Romawi itu menarik pasukannya tanpa alasan yang jelas. Tetapi Allah yang berbelas kasihan itu, mengendalikan kejadian itu demi kebaikan umat-Nya. Tanda yang dijanjikan telah diberikan kepada orang-orang Kristen yang sedang menunggu. Dan sekarang suatu kesempatan diberikan kepada semua orang yang mau, untuk menuruti amaran Juru Selamat. Kejadian-kejadian semua dibatalkan sedemikian rupa sehingga baik orang Yahudi maupun orang Romawi tidak akan menghalangi pengungsian orang Kristen. Pada waktu Cestius dengan pasukannya mundur, orang Yahudi tiba-tiba keluar dari Yerusalem mengejar tentara Roma yang sedang mundur itu. Pada waktu kedua belah pihak terlibat pertempuran, orang-orang Kristen mempunyai kesempatan untuk meninggalkan kota itu. Pada waktu ini juga tidak ada lagi musuh-musuh di kota itu yang mungkin mencegat mereka. Pada waktu pengepungan itu, orang-orang Yahudi berkumpul di Yerusalem untuk merayakan hari Hari-hari Raya Kaabah, dengan demikian orang-orang Kristen dari seluruh negeri bisa meloloska diri tanpa gangguan. Mereka meloloskan diri ke tempat yang aman tanpa bertangguh -- ke kota Pella, di tanah Perea di seberang sungai Yordan.

Tentera orang Yahudi yang mengejar Cestius dan tenteranya, berada di belakang mereka, yang dengan keganasannya mengancam akan membinasakan dan memusnahkan mereka. Hanya dengan susah payah pasukan Romawi dapat berhasil mengundurkan diri. Orang Yahudi dapat megalahkan tentera Romawi hampir tanpa kehilangan apa-apa. Dan dengan barang-barang rampasan, mereka kembali ke Yerusalem di dalam kemenangan. Namun keberhasilan nyata ini hanya mengakibatkan kejahatan bagi mereka. Hal itu menimbulkan pembangkangan mereka kepada orang Romawi, yang dengan segera membawa malapetaka yang tak terkatakan ke atas kota Yerusalem itu.


Bencana yang mengerikan menimpa kota Yerusalem pada waktu pengepungan diulangi oleh Titus. Kota itu di kepung musuh pada waktu Hari Raya Paskah, pada waktu berjuta-juta orang Yahudi berkumpul di dalam kota. Gudang-gudang penyimpanan bahan makanan mereka, yang jika di isi dengan cermat akan dapat memasok bahan makanan bagi penduduk untuk bertahun-tahun lamanya. Tetapi sebelumnya telah dirusakkan oleh karena iri hati dan dendam kelompok-kelompok yang menentang. Dan sekarang bala kelaparan yang mengerikan harus dialami. Sesukat gandum telah di jual dengan harga satu talenta. Begitu ganasnya kelaparan itu, sehingga manusia menggerogoti ikat pinggang kulit, sandal kulit dan penutup perisainya yang terbuat dari kulit. Banyak orang menyelinap keluar pada malam hari, mengumpulkan tanaman liar yang tumbuh di luar tembok kota, meskipun banyak yang tertangkap dan di siksa dengan kejamnya. Dan mereka yang kembali dengan selamat sering dirampok apa-apa yang telah mereka kumpulkan dengan penuh bahaya. Penyiksaan yang paling tidak mengenal peri kemanusiaan dilakukan oleh mereka yang berkuasa, untuk mengambil bahan makanan dari orang yang kelaparan, yang mungkin mereka sembunyikan. Dan tindakan kekejaman ini sering dilakukan oleh orang-orang yang cukup makan, dan hanya semata-mata untuk menimbun persediaan makanan untuk diri sendiri di masa mendatang.

Beribu-ribu orang yang binasa oleh karena kelaparan dan wabah. Peri kemanusiaan tampaknya sudah sirna. Suami-suai merampok isteri-isteri, dan sebaliknya. Anak-anak terlihat menjambret makanan dari mulut orng tua mereka yang sudah lanjut usia. Pertanyaan nabi, "Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya?" (Yes. 49:15), jawabnya terdapat di dalam tembok kota yang mengalami malapetaka itu. "Dengan tangan sendiri wanita yang lemah lembut memasak kanak-kanak mereka, untuk makanan mereka tatkala runtuh putri bangsaku." (Ratapan 4:10). Sekali lagi amaran nubuatan yang diberikan empat belas abad yang lalu digenapi: "Perempuan yang lemah dan manja diantaramu, yang tidak pernah menjejakkan telapak kakinya ke tanah karena sifatnya yang lemah lembut dan manja itu, akan kesal terhadap suaminya sendiri atau terhadap anaknya laki-laki dan anaknya perempuan karena uri yang keluar dari kandungannya ataupun karena anak-anak yang dilahirkannya; sebab karena kekurangan segala-galanya ia akan memakannya dengan sembunyi-sembunyi, dalam keadaan susah dan sulit yang ditimbulkan musuhmu kepadamu di dalam tempatmu." (Ulangan 28:56,57).

Para pemimpin Romawi berusaha menimbulkan teror pada orang-orang Yahudi, dan dengan demikian menyebabkan mereka mau menyerah. Para tawanan yang mencoba melawan, di cambuk dan di siksa dan disalibkan di luar tembok kota. Setiap hari ratusan orang di bunuh dengan cara ini. Dan perbuatan kejam ini berlangsung terus sampai seluruh lembah Jehoshaphat dan Golgota penuh dengan salib-salib yang didirikan, sehingga tinggal sangat sedikit ruang gerak di antara mereka. Sangat mengerikan hukuman dan kutuk dahsyat yang diucapkan di kursi pengadilan Pilatus: "Biarlah darah ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami." (Matius 27:25).

Sebenarnya Titus mau mengakhiri keadaan yang mengerikan ini, dengan demikian menghindarkan kota Yerusalem dari kebinasaan total. Ia diliputi perasaan ngeri ketika ia melihat timbunan jenazah di lembah-lembah. Bagaikan seorang yang terpesona, ia melihat kaabah yang megah dan indah itu dari puncak Bukit Zaitun, sehingga ia memberi perintah agar tak satupun batunya boleh di jamah. Sebelum berusaha menguasai kubu pertahanan, ia menghimbau para pemimpin Yahudi degan sungguh-sungguh agar jangan memaksanya untuk mencemarkan tempat kudus itu dengan darah. Jika mereka keluar dan bertempur dimana saja, maka tak seorangpun tentera Romawi akan melanggar kesucian kaabah itu. Josephus sendiri, dalam berbagai himbauannya, memohon dengan sangat agar mereka menyerah, untuk menyelamatkan mereka sendiri, kota mereka dan tempat mereka berbakti. Akan tetapi kata-katanya ini telah di jawab dengan kutukan pahit. Lembing telah dilemparkan kepadanya, sebagai seorang juru penengah manusia, pada waktu ia berdiri memohon kepada mereka. Orang Yahudi telah menolak permohonan Anak Allah, dan sekarang anjuran dan permohonan hanya membuat mereka tetap bertahan sampai akhir. Sia-sialah usaha Titus untk menyelamatkan kaabah; Seorang yang lebih besar dari padanya telah menyatakan bahwa tak satu batupun tinggal di atas batu yang lain.

Sikap keras kepala yang membabi-buta para pemimpin Yahudi dan kejahatan keji yang meraja-lela di dalam kota yang terkepung itu menimbulkan ketakutan dan kemarahan tentera Romawi, dan akhirnya Titus memutuskan untuk menyerang kaabah itu. Ia juga menetapkkan, jika mungkin, untuk menyelamatkan kaabah itu dari keruntuhan. Tetapi perintahnya itu tidak lagi diindahkan anak buahnya. Pada waktu itu ia beristirahat di kemahnya pada malam hari, orang Yahudi keluar dari kaabah itu dan menyerang tentera Romawi dengn tiba-tiba. Dalam pertempuran itu seorang tentera melemparkan obor berapi melalui lobang di serambi kaabah, dan dengan segera membakar ruangan yang dilapisi dengan kayu cedar, yang berdekatan dengan kamar yang kudus. Titus segera berlari menuju api itu, diikuti oleh jenderal-jederal dan komandan-komandan pasukannya, dan memerintahkan pasukan untuk memadamkan api itu. Namun perintahnya tidak diacuhkan. Dalam keganasannya tentera-tentera itu melemparkan obor-obor menyala ke ruangan-ruangan yang berdampingan dengan kaabah itu, dan kemudian dengan pedangnya membunuh banyak sekali orang-orangyang bersembunyi di situ. Darah mengalir di tangga kaabah, bak aliran air layaknya. Beribu-ribu orang Yahudi binasa. Selain suara peperangan itu, terdengar teriakan, "Ichabot!" -- keuliaan sudah hilang.


"Tidak mungkin bagi Titus menghentikan amukan tenteranya pada saat itu. Ia bersama stafnya memasuki dan memeriksa bagian dalam bagunan yang kudus itu. Mereka terpukau dan kagum karena api belum membakar tempat kudus itu. Ia membuat usaha terakhir untuk menyelamatkan tempat kudus itu. Ia melompat ke depan dan mengajak tenteranya untuk menghentikan kebakaran itu. Biasanya pasukan Liberalis harus patuh kepada atasannya. Tetapi rasa hormat kepada kaisarpun akan hilang oleh karena kebencian terhadap orang Yahudi, dan keganasan pertempuran itu, serta pengharapan akan mendapat rampasan. Tentera-tenera itu melihat disekeliling mereka kilauan emas, yang memantulkan cahaya dalam amukan api. Mereka mengira bahwa harta yang tak terhitung banyaknya di simpan di dalam kaabag itu. Tanpa menyadari, seorang tentera menyulutkan obornya yang sedang menyala ke antara engsel pintu. Dengan sekejap saja seluruh bangunan sudah menyala. Nyala api dan asap yang membutakan mata memaksa para staf mundur, dan bangunan agung itupun dibiarkan menemui nasibnya.

"Bagi orang Roma pemandangan itu adalah suatu yang mengerikan -- bagaimana pula bagi orang Yahudi? Seluruh puncak bukit tempat kota itu berdiri, terbakar bagaikan gunung berapi. Satu demi satu banguan itu runtuh dengan bunyi yang bergemuruh, lalu di telan lubang dalam yang menyala. Atap-atap yang terdiri dari kayu cedar bagaikan lempengan-lempengan nyala api. Menara-menara yang di atas rumah yang di sepuh bersinar bagaikan paku-paku cahaya merah. Menara gerbang terbakar dengan nyala api yang membubung tinggi. Bukit-bukit di sekitar itu terang-benderang. Orang-orang memperhatikan dengan kecemasan yang luar biasa kemusnahan kaabah itu. Tembok kota bagian luar dan bukit-bukit penuh dengan manusia yang sebagian pucat pasi oleh karena ketakutan dan putus asa, dan yang sebagian lagi dengan wajah marah ingin pembalasan, tetapi sia-sia. Teriakan-teriakan tentera Roma yang berlari kesana kemari, dan jeritan orang-orang Yahudi yang binasa dalam nyala api bercampur-baur dengan dengan gemuruh nyala api besar dan suara membahana balok-balok dan tiang-tiang yang rubuh. Gema dari bukit-bukit memantulkan kembali teriakan orang yang berada di ketinggian. Di sepanjang tembok terdengar teriakan dan ratap tangis yang dipantulkan kembali. Orang-orang yang nyaris mati karena kelaparan, mengerahkan seluruh tenaganya yang masih sisa untuk berteriak dalam kesakitan dan keputus-asaan.

"Pembantaian di dalam jauh lebih mengerikan daripada yang dapat di lihat dari luar. Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, para pembangkang atau imam-imam, mereka yang bertempur dan yang memohon belas kasihan, telah di tebas tanpa pilih bulu dalam pembantaian itu. Jumlah yang terbunuh jauh melebihi pembunuh. Para tentera itu harus melompati tumpukan mayat-ayat untuk meneruskan penumpasan." -- Milman, "History of the Jews," buku 16.

Setelah keruntuhan kaabah, kemudian seluruh kota itu jatuh ke tangan tentera Romawi. Para pemimpin Yahudi meninggalkan menara-menara benteng-benteng pertahanan kuat mereka, dan Titus -- mendapatinya dalam keadaan sunyi senyap. Ia memandanginya dalam kekaguman. Dan ia menyatakan bahwa Allahlah yang telah menyerahkan semua itu ketangannya, karena tak ada musuh, betapapun kuatnya, yang dapat menundukkan benteng yang begitu kuat. Baik kota maupun kaabah diratakan dengan fondasinya, dan tanah tempat berdirinya bangunan suci itu telah "di bajak seperti ladang." (Yer. 26:18). Dalam pengepungan dan pembantaian selanjutnya, lebih sejuta orang binasa terbunuh. Yang masih hidup dibawa sebagai tawanan, di jual sebagai budak, di giring ke Roma untuk merayakan kemenangan, dilemparkan ke binatang buas di amfiteater, atau dicerai-beraikan sebagai musafir tuna wisma di seluruh dunia.

Orang-orang Yahudi telah menempa sendiri belenggu kakinya. Mereka telah mengisi sendiri cawan pembalasan. Dalam keruntuhan total yang menimpa mereka sebagai bangsa, dan dalam semua malapetaka yang menimpa mereka lebih lanjut dalam pencerai-beraian, mereka hanya menuai apa yang telah mereka tanam dengan tangan mereka sendiri. Nabi berkata, "Hai Israel, engkau telah membinasakan dirimu sendiri." (Alkitab Bahasa Inggeris, KJV, Hosea 13:9); "sebab engkau telah tergelincir karena kesalahanmu." (Hosea 14:1 Bahasa Indonesia). Penderitaan mereka sering dinyatakan sebagai hukuman yang diberikan kepada mereka oleh perintah langsung dari Allah. Dengan demikian, Setan penipu besar itu, mencoba menyembunyikan pekerjaannya. Oleh karena orang-orang Yahudi telah dengan degilnya menolak kasih dan kemurahan ilahi, menyebabkan perlindungan Allah di tarik dari mereka, dan Setan telah diizinkan memerintah mereka sesuai dengan kehendaknya. Kekejaman hebat yang berlaku selama keruntuhan kota Yerusalem adalah suatu pertunjukan kuasa balas dendam Setan atas mereka yang diserahkan kepada pengendaliannya.


Kita tidak dapat mengetahui berapa banyak kita berhutang kepada Kristus untuk kedamaian dan perlindungan yang kita nikmati. Kuasa Allahlah yang mencegah manusia jatuh sepenuhnya ke bawah pengendalian Setan. Orang-orang yang tidak mau menurut dan orang-orang yang tidak tahu berterima- kasih mempunyai alasan yang kuat untuk mensyukuri kemurahan dan panjang sabar Allah dalam menahan kuasa si jahat yang berbahaya dan kejam itu. Akan tetapi bilamana manusia melewati batas kesabaran ilahi, penahanan itu akan dilepaskan. Allah tidak bertindak sebagai pelaksana hukuman bagi orang bedosa yang melanggar, melainkan membiarkan penolak-penolak belas kasihan-Nya itu sendiri menuai apa yang mereka sudah tanam. Setiap sinar terang yang di tolak, setiap amaran yang diabaikan, setiap nafsu yang dimanjakan, setiap pelanggaran kepada hukum Allah, adalah bibit yang di tanam, yang akan memberikan tuaian yang pasti, dan tidak pernah gagal. Roh Allah yang tetap di tolak, akhirnya akan di tarik dari orang berdosa itu, dan kemudian tidak ada lagi kuasa untuk mengendalikan nafsu jahat jiwa, dan tidak ada lagi perlindungan dari kebencian dan rasa permusuhan Setan. Kebinasaan Yerusalem adalah amaran yang sungguh menakutkan bagi semua orang yang meremehkan pemberian karunia ilahi, dan yang menolak ajakan kemurahan ilahi itu. Tidak akan diberikan lagi kesaksian yang lebih menentukan mengenai kebencian Allah pada dosa, dan mengenai hukuman tertentu yang akan dijatuhkan kepada orang yang bersalah.

Nubuatan Juru Selamat mengenai pelaksanaan penghakiman terhadap Yerusalem masih akan ada lagi kegenapannya yang lain, dimana kehancuran yang dahsyat hanya merupakan suatu bayangan saja. Dalam nasib buruk kota pilihan itu kita boleh melihat kebinasaan dunia yang telah menolak kemurahan Allah dan menginjak-injak hukum-Nya. Begitu gelapnya catatan penderitaan umat manusia, yang pernah disaksikan oleh dunia ini selama kejahatannya yang sudah berabad-abad. Hati menjadi sakit dan pikiran melemah dalam merenungkan hal itu. Sungguh mengerikan akibat dari penolakan kuasa Surga. Tetapi yang lebih gelap lagi akan dinyatakan dalam nubuatan masa yang akan datang. Catatan-catatan masa lalu -- rentetan panjang kegemparan, pertikaian, dan revolusi, "setiap sepatu tentera yang berderap dan setiap jubah yang berlumuran darah," (Yes. 9:4) -- semuanya tidak berarti bila dibandingkan dengan kengerian pada hari itu bilamana Roh Allah yang menahan di tarik dari orang jahat, dan tidak lagi menahan meledaknya nafsu manusia dan murka Setan! Kemudian, dunia ini akan melihat akibat dari pemerintahan Setan yang belum pernah dilihatnya sebelumnya.

Akan tetapi pada hari itu, seperti pada waktu kebinasaan Yerusalem, umat-umat Allah akan diselamatkan, yaitu "setiap orang yang terdapat namanya tertulis di antara yang hidup." Kristus telah menyatakan bahwa Ia akan datang kedua kalinya, untuk mengumpulkan umat-Nya yang setia kepada-Nya. "Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain." (Matius 24:30,31). Kemudian, mereka yang tidak menuruti Injil akan dimusnahkan oleh nafas yang keluar dari mulut-Nya, dan dibinasakan dengan sinar terang kedatangan-Nya. (2 Tes. 2:8). Seperti bangsa Israel kuno, orang-orang jahat itu membinasakan diri mereka sendiri. Mereka jatuh oleh karena kejahatan mereka. Oleh karena mereka meghidupkan suatu kehidupan yang penuh dengan dosa, mereka telah menempatkan diri mereka sedemikian rupa sehingga tidak selaras dengan Allah. Keadaan mereka begitu direndahkan oleh kejahatan, sehingga kenyataan kemuliaan Allah bagi mereka bagaikan api yang menghanguskan.

Biarlah orang-orang berhati-hati agar mereka tidak meremehkan pelajaran yang disampaikan kepada mereka di dalam firman Kristus. Sebagaimana ia mengamarkan murid-murid-Nya mengenai keruntuhan dan kebinasaan Yerusalem, memberikan kepada mereka tanda-tanda keruntuhan yang mendekat, agar mereka dapat menyelamatkan diri, demikanlah Ia telah mengamarkan dunia ini mengenai kebinasaan terakhir, dan telah memberikan kepada mereka tanda-tanda dekatnya kebinasaan itu, agar mereka yang mau boleh melarikan diri dari murka yang akan datang itu. Yesus menyatakan, "Dan akan ada tanda-tanda pad matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut." (Luk. 21:25; Matius 24:29; Markus 13:24-26; Wahyu 6:12-17). Mereka yang memandang tanda-tanda kedatangan-Nya ini akan mengetahui, "bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu." (Matius 24:33). "Karena itu berjaga-jagalah," (Mark 13:35) kataNya menasihatkan. Mereka yang mengindahkan amaran itu tidak akan terus tinggal dalam kegelapan, sehingga hari itu menimpa mereka tanpa di sanga-sangka. Tetapi bagi mereka yang tidak berjaga-jaga, "hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam." (1 Tes. 5:2-5).

Dunia ini tidak lebih siap menerima pekabaran zaman ini daripada orang Yahudi menerima amaran Juru Selamat mengenai Yerusalem. Bagaimanapun juga, hari Allah itu akan datang tidak di sangka-sangka bagi orang yang tidak beriman. Bilamana kehidupan berlangsung terus di dalam berbagai kegiatannya, bilamana manusia larut dalam kepelesiran, dalam bisnis, dalam perjalanan, dalam mencari uang, bilamana pemimpin-pemimpin agama membesar-besarkan kemajuan dunia dan penerangan, dan manusia dinina-bobokkan dengan keamanan palsu -- kemudian, seperti pencuri di tengah malam mencuri di tempat yang tidak di jaga, demikianlah kebinasaan yang tidak di sangka-sangka datang menimpa orang-orang yang lalai dan tak beriman, "mereka pasti tidak akan luput." (1 Tes. 5:2-5).


PENGANIYAAN PADA ABAD PERMULAAN

~ 2 ~
PENGANIAYAAN PADA ABAD-ABAD PERMULAAN

Bilamana Yesus menyatakan kepada murid-murid-Nya mengenai nasib kota Yerusalem dan pemandangan tentang kedatangan-Nya yang kedua kali, Ia juga meramalkan pengalaman umat-Nya mulai dari waktu Ia di angkat dari antara mereka sampai kepada Ia kembali di dalam kuasa dan kemuliaan untuk melepaskan mereka. Dari atas Bukit Zaitun Juru Selamat melihat badai yang akan menimpa jemaat kerasulan. Dan menerawang lebih jauh ke masa depan, mata-Nya melihat dengan jelas badai ganas yang mengerikan yang akan memukul pengikut-pengikut-Nya pada masa-masa kegelapan dan penganiayaan yang akan datang. Dalam beberapa ucapan-ucapan singkat yang mengerikan, Ia meramalkan bagian pemimpinpemimpin dunia ini yang akan dibagikan kepada jemaat Allah. (Matius 24:21,22). Pengikut-pengikut Kristus harus menjalani jalan penghinaan, celaan dan penderitaan yang sama seperti yang dijalani oleh Tuhannya. Kebencian dan permusuhan yang ditimbulkan terhadap Penebus dunia ini akan ditunjukkan terhadap semua yang percaya kepada nama-Nya.

Sejarah jemaat yang mula-mula itu menyaksikan kegenapan kata-kata Juru Selamat. Kuasa-kuasa dunia dan neraka mempersiapkan diri mereka melawan Kristus dalam pribadi pengikut-pengikut-Nya. Kekafiran melihat, jika Injil menang, maka kuil-kuil dan mezbah-mezbahnya akan dimusnahkan. Oleh sebab itu ia memerintahkan pasukan-pasukannya untuk membinasakan Kekristenan. Api penganiayaan telah di sulut. Orang-orang Kristen telah di rampas harta miliknya dan di usir dari rumah mereka. Mereka "bertahan dalam perjuangan yang berat" (Iberani 10:32). "Ada pula yang di ejek dan di dera, bahkan yang di belenggu dan dipenjarakan" (Iberani 11:38-38). Banyak yang memeteraikan kesaksian mereka dengan darahnya. Kaum bangsawan dan hamba, orang kaya dan orang miskin, orang-orang terpelajar dan orang-orang bodoh, semuanya sama di bantai tanpa belas kasihan.

Penganiayaan ini bermula pada zaman kaisar Nero, pada waktu Rasul Paulus mati syahid, berlangsung terus dengan semakin kejam atau kurang selama berabad-abad. Orang-orang Kristen di tuduh dengan tuduhan palsu melakukan kejahatan yang mengerikan, dan dinyatakan sebagai penyebab bencana besar seperti bahaya kelaparan, wabah dan gempa bumi. Sementara mereka menjadi sasaran kebencian dan kecurigaan, para penuduh, demi keuntungannya, mengkhianati orang yang tidak bersalah itu. Mereka di tuduh sebagai pemberontak yang melawan kerajaan, sebagai musuh agama, dan sebagai wabah bagi masyarakat. Banyaklah yang dilemparkan kepada binatang buas, atau di bakar hidup-hidup di amfiteater. Sebagian disalibkan, yang lain di bungkus dengan kulit binatang liar dan dilemparkan ke arena untuk di cabik-cabik oleh anjing-anjing ganas. Hukuman mereka sering di buat menjadi hiburan utama pada pesta-pesta umum. Orang banyak berjubel menikmati tontonan itu, dan tertawa serta bertepuk tangan menyaksikan korban yang sedang menderita menghadapi maut.

Kemana saja pengikut Kristus mencari perlindungan, mereka terus di buru sepeti binatang mangsa. Mereka terpaksa mencari persembunyian di tempat-tempat terpencil yang tidak ada orang. "Kekurangan, kesesakan dan siksaan. Dunia ini tidak layak bagi mereka. Mereka mengembara di padang gurun dan di pegunungan, dalam gua-gua dan celah-celah gunung" (Iberani 11:36-38). Katakomb-katakomb (kuburan di bawah tanah) dimanfaatkan menjadi tempat persembunyian beribu-ribu orang. Di bawah bukit-bukit di luar kota Roma, terowongan panjang telah di gali di tanah dan batu. Jaringan lorong-lorong gelap dan rumit di buat bermil-mil di luar tembok kota. Di tempat pengasingan bawah tanah inilah pengikut-pengikut Kristus menyembunyikan orang mati mereka. Dan di sini jugalah mereka bertempat tinggal bilamana mereka dicurigai dan dipersalahkan mengenai sesuatu. Bilamana Pemberi Hidup itu membangunkan mereka yang telah melakukan perjuangan yang baik, banyaklah orang-orang yang telah mati syahid demi Kristus yang akan keluar dari gua bawah tanah yang suram itu.

Meskipun mengalami penganiayaan yang paling kejam, saksi-saksi Yesus ini tetap memelihara iman mereka tidak tercemar. Meskipun jauh dari segala kesenangan, ditutupi dari sinar matahari, dan tinggal di dalam gelap di dalam tanah, mereka tidak mengeluh sedikitpun. Dengan kata-kata iman, ketabahan, dan pengharapan mereka menguatkan satu sama lain untuk menanggung penderitaan dan kekurangan dan kesesakan. Kehilangan berkat-berkat duniawi tidak bisa memaksa mereka untuk menyangkal iman mereka pada Kristus. Pencobaan dan penganiayaan hanyalah langkah-langah yang membawa mereka semakin dekat kepada istirahat dan upah mereka.


Seperti hamba-hamba Allah pada zaman dahulu kala, banyak dari mereka yang "di siksa dan tidak mau menerima pembebasan, supaya mereka menerima kebangkitan yang lebih baik" (Iberani 11:25). Hal ini mengingatkan kepada pikiran mereka kata-kata Guru mereka, yang bilamana di aniaya demi Kristus, mereka akan sangat bersukacita karena besarlah upah mereka di surga, karena demikianlah juga nabi-nabi di aniaya sebelum mereka. Mereka bersukacita karena mereka dianggap layak menderita demi kebenaran. Dan naynyian kemenangan berkumandang naik dari dalam api yang mengamuk. Oleh iman mereka memandang ke atas, mereka melihat Kristus dan malaikat-malaikat menghadapi peperangan surga, memandang kepada mereka dengan penuh perhatian, dan menghargai kesetiaan dan keteguhan hati mereka. Satu suara turun dari takhta Allah kepada mereka, "Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan" (Wahyu 2:10).

Sia-sialah usaha Setan menghancurkan jemaat Kristus dengan kekerasan. Pertentangan yang besar di mana murid-murid Yesus menyerahkan hidup mereka, tidak berakhir pada waktu murid-murid pembawa standar moral ini di bunuh. Mereka menaklukkan pada waktu mereka dikalahkan. Pekerja-pekerja Allah di bunuh, tetapi pekerjaan-Nya maju terus dengan mantap. Kabar Injil itu terus tersebar, dan jumlah pengikut-pengikut-Nya terus bertambah. Injil itu menerusi daerah-daerah yang tidak mudah dimasuki, bahkan sampai ke daerah kekuaasaan Roma. Seorang Kristen dalam pembelaannya berkata kepada penguasa kafir yang mendorong penganiayaan: Engkau boleh "membunuh kami, menyiksa kami, menghukum kami . . . . Ketidak-adilanmu adalah bukti bahwa kami tidak bersalah . . . . Atau kejahatanmu tidak berguna bagimu." Semuanya itu menjadi undangan kuat memanggil orang lain kepada keyakinannya yang kuat. "Semakin sering kami engkau babat, semakin banyak kami bertumbuh, darah orang-orang Kristen itu adalah benih." -- Tertullian's "Apology," par. 50 (ed. T. and T. Clark, 1869).

Ribuan orang dipenjarakan dan di bunuh, tetapi yang lain muncul menggantikan tempat mereka. Dan mereka yang telah mati syahid (martir) oleh karena iman mereka yang teguh kepada Kristus, telah diperhitungkan Tuhan sebagai penakluk. Mereka telah melakukan perjuangan dengan baik, dan mereka akan menerima mahkota kemuliaan bilamana Kristus datang kembali. Penderitaan yang mereka tanggung telah membuat orang-orang Kristen semakin dekat kepada satu sama lain dan kepada Penebus mereka. Teladan kehidupan mereka dan sikap mereka menghadapi kematian telah menjadi kesaksian abadi bagi kebenaran. Dan tanpa diharapkan pengikut-pengikut Setan meninggalkan tugasnya dan menggabungkan diri di bawah panji-panji Kristus.

Oleh sebab itu Setan menetapkan rencananya untuk berperang lebih keras dan lebih berhasil melawan pemerintaha Allah, dengan cara menanamkan panji-panjinya di dalam jemaat Kristen. Jikalau para pengikut Kristus dapat di tipu, dan di tuntun untuk melawan Allah, maka kekuatan, ketahanan dan keteguhan mereka akan dapat dihancurkan, dan mereka akan jatuh menjadi mangsa yang tidak berdaya.

Sekarang permusuhan besar ini berusaha memenangkan dengan tipu daya licik apa yang tidak dimenangkan dengan kekerasan. Penganiayaan dihentikan, dan digantikan dengan daya tarik kekayaan duniawi yang berbahaya dan kehormatan duniawi. Para pemuja berhala telah di tuntun untuk menerima sebahagian iman Kristen, sementara mereka menolak kebenaran-kebenaran penting lainnya. Mereka mengaku menerima Yesus sebagai Anak Allah dan percaya kepada kematian dan kebangkitan-Nya. Tetapi mereka tidak punya pendirian mengenai dosa dan tidak merasa perlu bertobat atau perubahan hati. Oleh karena pihak mereka telah memberi konsesi, maka mereka mengusulkan agar orang-orang Kristen juga memberi konsesi agar supaya semuanya boleh bersatu dalam landasan iman dalam Kristus.

Sekarang jemaat berada dalam bahaya yang sangat menakutkan. Penjara, penyiksaan, api dan pedang adalah lebih berkat dibandingkan dengan ini. Sebagian orang Kristen berdiri teguh dan menyatakan tanpa kompromi kepada Setan. Sebagian yang lain setuju menyerah atau memodifikasi sebagian bentuk kepercayaan mereka, dan bersatu dengan mereka yang telah menerima sebagian Kekristenan itu, dan mengatakan bahwa ini adalah bentuk pertobatan mereka sepenuhnya. Ini adalah masa kesukaran dan penderitaan yang dalam kepada pengikut-pengikut setia Kristus. Dengan jubah Kkekristenan yang pura-pura, Setan membuat dirinya disenangi oleh jemaat, untuk merusak iman mereka, dan mengalihkan pikiran mereka dari firman kebenaran.

Kebanyakan orang Kristen pada akhirnya setuju menurunkan standar moral mereka, sehingga terbentuklah satu persekutuan antara Kekristenan dan kekafiran. Meskipun mereka yang berbakti kepada dewa-dewa mengaku bertobat dan dipersatukan dengan gereja, mereka masih terus bergantung kepada penyembahan berhalanya, hanya mengganti obyek peribadatan mereka kepada patung Yesus, bahkan patung-patung Maria dan orang-orang kudus lainnya. Dengan demikian bau busuk ragi penyembahan berhala di bawa masuk ke dalam gereja yang dilanjutkan dengan pekerjaan-pekerjaan jahatnya. Ajaran-ajaran yang tidak kuat dan mantap, upacara takhyul dan acara penyembahan berhala telah digabungkan dengan iman dan peribadatannya. Sementara para pengikut Kristus dipersatukan dengn para penyembah berhala, agama Kristen telah menjadi rusak, dan jemaat telah kehilangan kesucian dan kuasanya. Namun, ada sebahagian yang tidak disesatkan oleh penipu ini. Mereka masih tetap mempertahankan kesetiaannya kepada Pencipta kebenaran, dan berbakti hanya kepada Allah saja.


Akan selalu ada dua kelompok orang-orang yang menyatakan dirinya pengikut-pengikut Kristus. Sementara yang satu kelompok mempelajari kehidupan Juru Selamat dan dengan sungguh-sungguh memperbaiki kekurangan mereka serta menyesuaikan diri dengan Teladan mereka, kelompok yang lain menghindari kebenaran yang praktis dan mudah dimengerti, yang mengungkapkan kesalahan mereka. Bahkan dalam keadaan terbaik sekalipun, jemaat itu tidak terdiri dari orang-orang yang seluruhnya benar, suci dan sungguh-sungguh. Juru Selamat kita mengajarkan bahwa mereka yang dengan sengaja memanjakan diri dalam dosa tidak boleh di terima menjadi anggota jemaat. Namun Ia menghubungkan kepada diri-Nya orang-orang yang bertabiat buruk dan memberikan kepada mereka manfaat pengajaran dan teladan-Nya, agar supaya mereka boleh mempunyai kesempatan melihat kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut. Di antara ke dua belas rasul terdapat seorang pengkhianat. Yudas di terima bukan karena cacad tabiatnya, tetapi ia di terima meskipun tabiatnya demikian. Ia telah dihubungkan dengan murid-murid itu, agar melalui pengajaran dan teladan Kristus mudah-mudahan ia boleh belajar apa itu tabiat Kristiani, dan dengan demikian di tuntun untuk melihat kesalahannya, untuk bertobat, dan oleh rahmat ilahi, menyucikan jiwanya "dalam menuruti kebenaran." Tetapi Yudas tidak berjalan dalam terang yang dengan ramah diizinkan bersinar kepadanya. Oleh memanjakan diri dalam dosa, ia mengundang godaan Setan. Sikap tabiat buruknya menjadi sangat menonjol. Ia menyerahkan pikirannya ke bawah pengendalian kuasa kegelapan. Ia menjadi marah bilamana kesalahannya di tegur, dan dengan demikian ia telah di tuntun melakukan kejahatan mengerikan mengkhianati Tuhannya. Demikianlah semua orang yang menyukai kejahatan yang mengaku saleh, membenci mereka yang mengganggu ketenangannya oleh menegur dosa-dosanya. Bilamana kesempatan diberikan kepada mereka, seperti Yudas, mereka akan mengkhianati yang menegur mereka meskipun demi kebaikan mereka.

Para rasul menemui di dalam jemaat orang-orang yang mengaku saleh sementara secara sembunyi-sembunyi menyukai kejahatan. Ananias dan Safira bertindak sebagai penipu, berpura-pura mengorbankan seluruh uangnya kepada Allah, pada waktu dengan tamaknya mereka menahan sebahagian untuk mereka sendiri. Roh kebenaran yang menyatakan kepada para rasul tabiat sebenarnya orang berpura-pura ini. Dan pengadila Allah membebaskan jemaat dari titik yang menodai kesuciannya. Tanda tindakan Roh Kristus di dalam jemaat merupakan suatu teror kepada orang-orang munafik dan pelaku kejahatan. Mereka tidak tahan lama berhubungan dengan orang-orang yang senantiasa menjadi wakil-wakil Kristus, dalam tabiat dan watak. Dan sementara cobaan dan penganiayaan datang ke atas pengikut-pengikut-Nya, hanya mereka yang rela menyangkal semuanya demi kebenaran saja yang menjadi murid-murid-Nya. Jadi selama penganiayaan berlanjut, jemaat itu relatif tetap suci. tetapi sesudah berhenti, orang-orang yang bertobat yang kurang sungguh-sungguh dan kurang pengabdian ditambahkan, maka terbukalah jalan bagi Seta untuk menjejakkan kakinya.

Akan tetapi tidak ada persekutuan antara Putra terang dengan putra kegelapan, dan tidak akan ada persekutuan antara pengikut-pengikut mereka. Bilamana oang-orang Kristen mau bersekutu dengan mereka yang setengah-setengah bertobat dari kekafiran, mereka memasuki satu jalan yang menuntun mereka semakin jauh dan semakin jauh dari kebenaran. Setan bersuka bahwa ia telah berhasil menipu begitu banyak pengikut Kristus. Ia kemudian mengerahkan lebih banyak kuasanya dalam usaha ini dan mengilhami mereka untuk menganiaya mereka yang tetap setia kepada Allah. Tidak ada yang paling mengerti cara menentang iman Kristen yang benar seperti mereka yang pada suatu waktu pernah mempertahankannya. Dan orang-orang Kristen yang murtad ini, bergabung bersama-sama dengan teman-temannya yang setengah kafir, menunjukkan peperangan mereka menentang doktrin paling penting Kristus.

Dibutuhkan perjuangan keras dari mereka yang akan berdiri tetap setia dan teguh melawan penipuan dan kebencian mereka yang menyamar dalam jubah pendeta yang diperkenalkan kedalam jemaat. Alkitab tidak lagi di terima sebagai ukuran iman. Doktrin kebebasan beragama di anggap sebagai suatu penyimpangan, dan mereka yang menjunjungnya di benci dan dikucilkan dan diharamkan.

Setelah melalui pertikaian panjang dan sengit, mereka yang setia dan sedikit, memutuskan untuk menghilangkan semua persekutuan dengan gereja yang murtad, kalau gereja itu tetap menolak membebaskan dirinya dari kepalsuan dan penyembahan berhala. Mereka melihat bahwa pemisahan mutlak diperlukan jikalau mereka mau menuruti firman Allah. Mereka tidak berani bersikap toleransi terhadap kesalahan-kesalahan yang fatal bagi jiwa mereka sendiri dan memberikan contoh yang membahayakan iman anak-anak dan cucu-cucu mereka. Untuk menjamin perdamaian dan persatuan, mereka siap melakukan konsesi yang sesuai dengan kesetiaan kepada Allah. Tetapi mereka merasa bahwa perdamaian sekalipun akan terlalu mahal jika harus di beli dengan mengorbankan prinsip. Jikalau persatuan dapat di jamin hanya oleh dikompromikannya kebenaran dan kebajikan, maka biarlah ada perbedaan dan bahkan peperangan.

Adalah baik bagi jemaat dan dunia jikalau prinsip yang menggerakkan jiwa-jiwa yang berdiri teguh itu, dihidupkan kembali di dalam hati mereka yang mengaku umat Allah. Ada bahaya acuh tak acuh dalam hubungannya dengan ajaran atau doktrin yang mejadi tiang-tiang iman Kristen. Ada pendapat yang muncul bahwa, pada akhirnya, ajaran-ajaran itu tidaklah sesuatu yang vital. Degenerasi ini menguatkan usaha kaki-tangan Setan, sehingga teori-teori palsu dan penipuan-penipuan fatal yang membahayakan hidup umat-umat yang setia yang menolaknya dan melayaninya pada masa lalu, sekarang di anggap sebagai sesuatu yang menyenangkan oleh ribuan orang yang mengatakan dirinya pengikut-pengikut Kristus.


Orang-orang Kristen yang mula-mula itu memang adalah umat-umat yang khas. Tingkah laku mereka yang tidak bercela dan iman mereka yang tidak bisa dibengkokkan merupakan teguran yang senantiasa mengganggu ketenteraman orang-orang berdosa. Biarpun jumlah mereka sedikit, tidak mempunyai harta, kedudukan dan jabatan yang terhormat, mereka menjadi ancamn yang menakutkan bagi pelaku-pelaku kejahatan dimana saja tabiat dan ajaran mereka dinyatakan. Oleh sebab itu mereka di benci oleh orang jahat, seperti Habil di benci oleh Kain abangnya. Dengan alasan itulah Kain membunuh Habil, demikian juga mereka yang menolak pengendalian Roh Suci, membunuh umat-umat Allah. Dengan alasan yang sama juga orang-orang Yahudi menolak dan menyalibkan Juru Selamat, -- oleh karena kesucian dan kekudusan tabiat-Nya senantiasa merupakan teguran kepada sifat korup dan mementingkan diri mereka. Sejak zaman Kristus sampai sekarang, murid-murid-Nya yang setia telah membangkitkan kebencian dan pertentangan mereka yang mencintai dan mengikuti jalan-jalan dosa.

Lalu, bagaimanakah kabar Injil itu bisa di sebut kabar perdamaian? Pada waktu nabi Yesaya meramalkan tentang kelahiran Mesias, ia memberikan gelar kepada-Nya "Putra Raja Damai." Ketika para malaikat memberitahukan kepada para gembala bahwa Kristus telah lahir, mereka menyanyi di atas padang Betlehen, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya" (Lukas 2:14). Tampaknya ada kontradiksi antara pernyataan nubuat dan perkataan Kristus, "Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang." Tetapi dengan jelas dapat di mengerti bahwa keduanya sangat selaras. Kabar Injil itu adalah berita damai. Kekristenan adalah sebuah sistem, yang bila di terima dan dituruti akan menyebarkan damai, keselarasan dan kebahagiaan di seluruh bumi ini. Agama Kristus akan mempersatukan dalam ikatan persaudaraan yang erat semua orang yang menerima pengajaran-Nya. Misi Yesus adalah memperdamaikan umat manusia dengan Allah, demikian juga antara sesama manusia. Akan tetapi kebanyakan dunia ini berada di bawah pengendalian Setan, musuh Kristus yang paling kejam. Kabar Injil menyatakan kepada mereka prinsip-prinsip kehidupan yang seluruhnya bertentangan dengan tabiat dan keinginan-keingian mereka, dan mereka lalu bangkit melawannya. Mereka membenci kesucian yang menyatakan dan menyalahkan dosa-dosa mereka. Dan mereka yang menganiaya dan membinasakan orang-orang yang membujuk mereka menerima tuntunan yang benar dan kudus. Dalam pengertian inilah -- oleh karena kebenaran yang ditinggikan kadang-kadang membawa kebencian dan permusuhan -- kabar Injil itu di sebut pedang.

Pemeliharaan misterius Tuhan yang mengizinkan orang-orang benar itu menderita penganiayaan di tangan orang-orang jahat, telah menyebabkan kebingungan kepada banyak orang yang lemah iman. Sebahagian mereka bahkan sudah siap untuk tidak lagi menaruh percaya kepada Allah, sebab Ia membuat orang paling jahat memperoleh kemakmuran, sementar orang-orang terbaik dan tersuci menderita dan di siksa oleh orang-orang jahat yang berkuasa. Orang bertanya, bagaimana mungkin seorang yang adil dan murah hati, dan yang kuasanya tidak terbatas, dapat menerima ketidak-adilan dan penindasan? Inilah satu pertanyaan yang kita tidak bisa lakukan apa-apa. Allah telah memberikan kepada kita cukup bukti kasih-Nya. Dan kita tidak perlu meragukan kebaikan-Nya, sebab kita tidak bisa mengerti cara kerja pemeliharaan-Nya itu. Jurus Selamat berkata kepada murid-murid-Nya, setelah meramalkan kebimbangan yang akan menimpa jiwa mereka pada hari-hari percobaan dan kegelapan, "Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu" ( Yoh. 15:20).

Yesus menderita untuk kita lebih dari yang seseorang pengikut-Nya derita dari kekejaman orang-orang jahat. Mereka yang di panggil untuk menahan siksaan dan mati syahid adalah mengikuti jejak Anak Allah yang kekasih.

"Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya" (2 Pet. 3:9). Ia tidak melupakan atau melalaikan anak-anak-Nya. Tetapi Ia mengizinkan orang-orang jahat menyatakan tabiat mereka yang sebenarnya, agar supaya tak seorangpun yang rindu melakukan kehendak-Nya tidak boleh tertipu oleh mereka. Sekali lagi orang benar itu ditempatkan di dalam dapur kepicikan agar mereka sendiri boleh disucikan. Agar teladan mereka boleh meyakinkan orang-orang lain mengenai realitas dan kebaikan. Dan juga agar oleh keteguhan mereka boleh menyatakan kesalahan orang yang tak beriman dan tidak percaya.

Allah mengizinkan orang jahat itu memperoleh kemakmuran, dan menyatakan permusuhan terhadap Dia, agar supaya bilamana mereka telah mencapai puncak kejahatannya, semua boleh melihat keadilan dan dan rahmat-Nya dalam kebinasaan mereka. Hari pembalasan-Nya tidak lama lagi dimana semua mereka yang telah melanggar hukum-Nya dan yang menindas umat-Nya akan memperoleh upah yang adil bagi setiap perbuatan mereka. Dan dimana setiap perbuatan kejahatan atau ketidak-adilan terhadap umat-umat Allah yang setia akan dihukum seolah-olah perbuatan itu dilakukan kepada Kristus sendiri.


Ada lagi pertanyaan lain dan yang lebih penting yang harus menjadi perhatian jemaat-jemaat dewasa ini. Rasul Paulus menyatakan bahwa "setiap yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya" (2 Tim. 3:12). Lalu, mengapa penganiayaan itu nampaknya seperti tertidur? Sebab satu-satunya ialah bahwa jemaat telah meyesuaikan diri dengan standar duniawi, oleh sebab itu tidak menimbulkan perlawanan. Agama pada zaman kita ini bukanlah agama yang bertabiat suci dan kudus sebagaimana yang menandai iman Kristen pada zaman Kristus dan rasul-rasul-Nya. Hanyalah oleh karena roh berkompromi dengan dosa, oleh karena kebenaran agung firman Tuhan di anggap tidak berbeda dengan dunia ini, oleh karena sangat sedikit kesalehan vital di dalam jemaat, yang membuat Kekristenan sangat populer di dunia ini. Cobalah ada kebangunan iman dan kuasa jemaat yang mula-mula itu, maka roh penganiayaanpun akan dibangunkan dan api penganiayaan itupun akan di sulut kembali.


KEMURTADAN

~ 3 ~
ZAMAN KEGELAPAN ROHANI

Rasul Paulus dalam suratnya yang ke dua kepada orang-orang Tesalonika, meramalkan tentang kemurtadan besar yang akan mengakibatkan terbentuknya kuasa kepausan. Ia menyatakan bahwa hari Kristus tidak akan datang, kecuali "datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka yang harus binasa, yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang di sebut atau yang di sembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah" (2 Tes. 2:3,4,7). Dan lebih jauh rasul itu mengamarkan saudara-saudaranya bahwa, "rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja." Bahkan pada hari-hari permulaan itupun ia melihat menjalar ke dalam gereja, kesalahan yang membuka jalan kepada pengembangan kepausan.

Sedikit demi sedikit, mula-mula secara sembunyi-sembunyi dan diam-diam, kemudian semakin terbuka setelah semakin bertambah kuat dan semakin menguasai pikiran manusia, rahasia kejahatan itu menampakkan pekerjaan penipuan dan penghujatannya. Hampir tidak bisa disadari kebiasaan-kebiasaan kekafiran mendapatkan jalan memasuki gereja Kristen. Roh berkompromi dan penyesuaian diri untuk seketika lamanya telah di tahan oleh penganiayaan kejam yang dialami jemaat dari kekafiran. Tetapi sementara penganiayaan berhenti dan Kekristenan memasuki pengadilan dan istana raja-raja, jemaat itu telah menanggalkan kerendahan dan kesederhanaan Kristus dan rasl-rasul-Nya, dan menggantikannya dengan kesombongan dan keangkuhan imam-imam kafir dan para penguasa. Dan tuntunan Allah di ganti dengan teori-teori dan tradisi manusia. Pertobatan tak berarti kaisar Constantine pada permulaan abad ke empat membawa kesukaan besar. Dan dunia ini, yang diselubungi suatu bentuk kebenaran, memasuki gereja. Sekarang pekerjaan yang korup berkembang dengan pesat. Kekafiran yang tampaknya akan menang menjadi penakluk. Roh kekafiran menguasai jemaat. Ajarannya, upacara-upacaranya dan takhyul telah digabungkan kedalam perbaktian orang-orang yang mengaku pengikut Kristus. Kompromi antara kekafiran dan Kekristenan mengakibatkan berkembangnya "manusia durhaka" yang diramalkan di dalam nubuatan sebagai yang melawan dan yang meninggikan dirinya melebihi Allah. Sistem raksasa agama palsu itu adalah buah karya kuasa Setan, -- sebagai monumen usahanya untuk mendudukkan dirinya sendiri di atas takhta untuk memerintah dunia ini menuruti kehendaknya.

Setan pada suatu kali berusaha untuk membentuk suatu kompromi dengan Kristus. Ia mendatangi Anak Allah di padang gurun pencobaan, dan menunjukkan kepada-Nya semua kerajaan dunia ini serta kemuliaannya. Ia akan memberikan semuanya itu kepada-Nya jikalau saja Ia mau mengakui supremasi raja kegelapan itu. Kristus menghardik penggoda yang keterlaluan itu, dan mengusirnya pergi. Tetapi Setan memperoleh keberhasilan yang lebih besar dengan menggunakan pencobaan yang sama kepada manusia. Untuk memperoleh keuntungan-keuntungan dan kehormatan duniawi, jemaat telah di tuntun untuk mencari bantuan dan dukungan orang-orang besar dunia. Dan dengan menolak Kristus, jemaat itu di bujuk untuk tunduk kepada wakil Setan -- bishop Romawi.

Salah satu doktrin utama Romanisme ialah bahwa paus adalah kepala gereja universal Kristus yang kelihatan, yang di beri kuasa utama mengatasi semua bishop dan pendeta di seluruh bagian dunia ini. Lebih daripada itu, paus telah di beri satu-satunya gelar Keilahian. Ia dijuluki "Paus Tuhan Allah" (lihat lampiran), dan telah dinyatakan sebagai seorang yang tidak dapat salah. Ia menuntut pernyataan rasa hormat dari semua manusia. Tuntutan yang sama yang diajukan oleh Setan di padang gurun pencobaan, masih tetap diajukannya melalui Gereja Roma, dan sangat banyaklah orang yang siap sedia memberikan kepadanya penghormatan itu.

Tetapi orang-orang yang takut dan meghormati Allah menghadapi asumsi ini dengan keberanian surgawi sebagaimana Kristus menghadapi bujukan licik musuh itu: "Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti" (Lukas 4:8). Allah tidak pernah memberi isyarat di dalam firman-Nya yang Ia telah menunjuk seseorang menjadi kepala gereja. Ajaran (doktrin) mengenai supremasi kepausan adalah bertentangan langsung dengan pengajaran Alkitab. Paus tidak mungkin mempunyai kuasa atas gereja Kristus kecuali dengan perebutan kekuasaan.

Para pengikut Romanisme terus menerus menuduh kaum Protestan sebagai orang-orang yang menyimpang dari iman dan dengan sengaja memisahkan diri dari gereja yang benar. Tetapi sebenarnya tuduhan ini mengenai dan berlaku bagi mereka sendiri. Merekalah yang telah menurunkan panji-panji Kristus, dan berpaling dari "iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus" (Yudas 3).

Setan mengetahui benar bahwa Alkitab akan menyanggupkan manusia untuk mengetahui penipuannya dan melawan kuasanya. Bahkan, adalah oleh Firman itu Juru Selamat dunia ini telah mampu melawan serangan Setan itu.


Pada setiap serangan, Kristus menggunakan perisai kebenaran abadi, dengan berkata, "Ada tertulis." Kepada setiap usul musuh, Ia menghadapkan akal budi dan kuasa Firman itu. Setan harus membuat manusia itu mengabaikan dan tidak mengerti Alkitab agar ia dapat mempertahankan serangan-serangannya kepada manusia dan mendirikan kekuasaan kepausan yang di rebut itu. Alkitab akan meninggikan Allah, dan menempatkan manusia fana itu pada posisinya yang sebenarnya. Oleh sebab itu kebenarannya yang kudus harus ditutupi dan di tindas. Logika seperti itu telah di anut oleh Gereja Roma. Selama bertahun-tahun pengedaran Alkitab telah di larang. Orang-orang di larang membacanya dan mempunyainya dirumahnya. Dan para pastor yang tidak jujur dan keji dan pejabat-pejabat tinggi Gereja Roma menerjemahkan pengajaran Alkitab untuk mendukung kepura-puraan mereka. Dengan demikian, paus menjadi seseorang yang secara universal diakui sebagai wakil Allah di dunia ini, yang di beri kuasa atas gereja dan negara.

Alat penunjuk kesalahan telah disingkirkan. Setan bekerja sesuka hatinya. Nubuatan telah mengatakan bahwa kepausan telah "berusaha untuk mengubah waktu dan hukum" (Daniel 7:25). Dan usaha ini telah diwujudkan dengan tidak berlambatan. Untuk memperoleh orang-orang yang bertobat dari kekafiran, suatu pengganti penyembahan berhala telah diadakan, dengan demikian memajukan penerimaan mereka akan Kekristenan secara resmi. Pemujaan terhadap patung-patung dan benda-benda keramat, secara berangsur-angsur diperkenalkan kepada perbaktian Kristen. Dekrit majelis umum (lihat lampiran) pada akhirnya menetapkan sistem pemujaan berhala. Untuk penyempurnaan penodaan tempat yang suci, Roma memberanikan diri untuk menghapus dari taurat Allah hukum yang kedua yang melarang penyembahan berhala, dan membagi hukum yang ke sepuluh agar tetap jumlah hukum itu sepuluh.

Pemberian konsesi kepada penyembahan berhala membuka jalan kepada pengabaian lebih jauh kekuasaan Surgawi. Setan, yang bekerja melalui pemimpin-pemimpin gereja yang tidak suci, memalsukan hukum keempat dan mencoba menyingkirkan hari Sabat kuno, hari yang telah diberkati dan dikuduskan (Kej. 2:2,3), dan sebagai gantinya meninggikan hari berpesta orang kafir sebagai "hari matahari yang patut dihormati." Mula-mula perobahan ini tidak dilakukan secara terbuka. Pada abad-abad pertama, hari Sabat yang sebenarnya telah dipelihara oleh semua orang Kristen. Mereka menjaga kehormatan Allah, dan percaya bahwa hukum-Nya tidak bisa dirubah. Dengan bersemangat mereka menjaga kesucian ajarannya. Tetapi dengan kelicikan yang amat sangat, Setan bekerja melalui agen-agennya untuk mencapai tujuannya. Agar supaya perhatian orang-orang boleh dialihkan kepada hari Minggu, hari itu telah dijadikan hari pesta prayaan menghormati kebangkitan Kristus. Diadakan juga upacara keagamaan pada hari itu, namun hari Minggu itu di anggap sebagai hari rekreasi, karena hari Sabat masih di pelihara sebagai hari kudus.

Untuk mempersiapkan jalan bagi pekerjaan yang telah ditetapkan untuk di capai, Setan telah menuntun orang-orang Yahudi, sebelum kedatangan Kristus, untuk membebani pemelihara hari Sabat dengan ketepatan yang sangat ketat, sehingga membuat pemeliharaan hari Sabat itu sebagai suatu beban. Sekarang, dengan mengambil keuntungan dari terang palsu yang mengharuskan pemeliharaan itu, ia melemparkan cemoohan pada hari itu sebagai lembaga Yahudi. Sementara orang-orang Kristen umumnya terus memelihara hari Minggu hari pesta kesukaan, ia menuntun mereka untuk membenci Yudaisme dan menjadikan hari Sabat suatu hari berpuasa, hari kesedihan dan kemurungan.

Pada permualaan abad keempat, kaisar Constantine mengeluarka suatu dekrit yang membuat hari Minggu menjadi hari perayaan umum di seluruh kekaisaran Romawi (lihat lampiran). Hari matahari itulah di puja oleh orang-orang kafir, dan telah dihormati oleh orang-orang Kristen. Adalah kebijakan kaisar untuk mempersatukan kepentingan yang bertentangan antara kekafiran dan Kekristenan. Ia telah di dorong untuk melakukan ini oleh para bishop gereja, yang diilhami oleh ambisi dan kehausan akan kekuasaan, dengan pertimbangan, jika hari yang sama di pelihara oleh baik orang Kristen maupun orang kafir, maka akan meningkat penerimaan orang-orang kafir terhadap Kekristenan, dan dengan demikian memajukan kuasa dan kemuliaan gereja. Tetapi sementara banyak orang-orang Kristen yang takut akan Allah secara berangsur-angsur di tuntun untuk menganggap hari Minggu sebagai hari yang mempunyai tingkat kekudusan, mereka masih tetap berpegang pada hari Sabat yang benar sebagai hari kudus Allah, dan memeliharanya sebagai penurutan kepada hukum keempat.

Penipu ulung itu belum menyelesaikan pekerjaannya. Ia telah bertekad untuk mengumpulkan dunia Kristen di bawah panji-panjinya dan menjalankan kuasanya melalui wakilnya, paus yang angkuh, yang mengatakan dirinya sebagai wakil Kristus. Melalui orang-orang kafir yang setengah bertobat, imam-imam yang ambisius dan orang-orang gereja yang mengasihi dunia ini, ia mencapai maksud dan tujuannya . Musyawarah-musyawarah akbar telah diadakan dari waktu ke waktu, dimana pejabat-pejabat tinggi gereja dari seluruh dunia di undang untuk berkumpul. Di dalam hampir semua musyawarah, hari Sabat yang telah ditetapkan oleh Allah, telah di tekan dan semakin direndahkan, sementara hari Minggu semakin ditinggikan. Demikianlah pesta perayaan kekafiran akhirnya dihormati sebagai lembaga ilahi, sementara hari Sabat yang menurut Alkitab, telah dinyatakan sebagai peninggalan Yudaisme, yang pengikutnya telah dinyatakan terkutuk.


Yang murtad itu telah berhasil meninggikan dirinya sendiri "di atas segala yang di sebut atau yang di sembah sebagai Allah" (2 Tes. 2:4). Ia telah berani mengganti ajaran hukum ilahi yang menunjukkan semua umat manusia kepada Allah yang benar dan hidup itu. Dalam hukum keempat, Allah dinyatakan sebagai khalik, pencipta langit dan bumi, yang dengan demikian membedakannya dari semua allah-allah palsu. Hari Sabat itu adalah sebagai peringatan kepada pekerjaan penciptaan, dan hari ketujuh itu telah disucikan sebagai hari istirahat bagi manusia. Hari Sabat itu di rancang agar Allah yang hidup itu selalu berada di dalam pikiran manusia sebagai sumber segala sesuatu dan tujuan dari penghormatan dan perbaktian. Setan berusaha keras untuk membalikkan manusia itu dari kesetiaannya kepada Allah dan dari penurutannya kepada hukum-Nya. Itulah sebabnya ia menunjukkan usahanya terutama menentang hukum yang menunjuk kepada Allah sebagai Khalik. Protestan dewasa ini mengatakan bahwa kebangkitan Kristus pada hari Minggu itu menjadi hari Sabat orang Kristen. Tetapi bukti-bukti Alkitabiah tidak cukup. Tidak ada penghormatan seperti itu diberikan kepada hari itu baik oleh Kristus maupun oleh rasul-rasul-Nya. Pemeliharaan hari Minggu sebagai institusi Kristen bermula dalam "rahasia kedurhakaan" (2 Tes. 2: 7) yang, bahkan pada zaman Rasul Paulus, telah memulai pekerjaannya. Di mana dan kapankah Tuhan mengadopsi anak kepausan ini? Alasan sah apakah yang dapat diberikan untuk perubahan yang tidak disetujui Alkitab?

Pada abad keenam kepausan telah berdiri dengan kokoh. Tahta kekuasaannya telah ditetapkan di kota kerajaan, dan imam (bishop) Roma telah dinyataka menjadi kepala atas semua gereja. Kekafiran telah menerima kepausan. Naga itu telah memberikan kepada binatang itu "kekuatannya, dan tahtanya dan kekuasaannya yang besar" ( Wahyu 13:2; lihat juga Lampiran). Dan pada waktu itulah masa 120 tahun penindasan kepausan yang telah diramalkan dalam nubuatan Daniel dan Wahyu ( Daniel 7:25; Wahyu 13:5-7). Orang-orang Kristen telah di paksa untuk memilih apakah melepaskan integritas mereka dan menerima upacara dan perbaktian kepausan atau menghabiskan hidup mereka di dalam penjara bawah tanah yang gelap atau menderita kematian di atas rak penyiksaan, di bakar, atau di pancung kepalanya. Pada waktu itu telah digenapi perkataan Yesus, "Dan kamu akan diserahkan juga oleh orangtuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan di bunuh dan kamu akan di benci semua orang oleh karena nama-Ku" ( Lukas 21:16,17). Penganiayaan atas orang-orang yang setia dilakukan dengan lebih kejam dari sebelumnya, dan dunia ini menjadi medan perang yang luas. Selama ratusan tahun gereja Kristus berlindung di tempat-tempat terpencil dan tempat yang tidak tentu. Beginilah kata nabi itu, "Perempuan itu lari ke padang gurun, dimana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya" ( Wahyu 12:6).

Naiknya kekuasaan Gereja Roma menandai permulaan Zaman Kegelapan. Sementara kekuasaannya bertambah, kegelapan semakin bertambah. Iman telah dialihkan dari Kristus, fondasi yang benar itu, kepada paus Roma. Sebagai gantinya percaya kepada Anak Allah untuk pengampunan dosa-dosa dan keselamatan kekal, orang-orang memandang kepada paus dan kepada imam-imam dan ulama-ulama yang telah di beri kuasa. Mereka telah di ajar bahwa paus adalah pengantara duniawi mereka, dan bahwa tak seorangpun dapat mendekati Allah kecuali melalui dia. Dan lebih jauh, ia berdiri sebagai ganti Allah bagi mereka, dan oleh sebab itu secara mutlak harus dituruti. Setiap penyimpangan dari tuntutan ini telah cukup alasan menjalankan hukuman paling berat bagi tubuh dan jiwa para pelanggar. Dengan demikian pikiran orang-orang telah dialihkan dari Allah kepada orang-orang yang bersalah, berdosa dan kejam, dan juga kepada raja kegelapan sendiri, yang menjalankan kuasanya melalui mereka. Dosa ditutupi di dalam jubah kesucian. Pada waktu Alkitab di tindas dan di tekan, dan manusia menganggap dirinya tertinggi, kita hanya melihat penipuan, tipu muslihat dan penghinaan. Dengan ditinggikannya hukum-hukum dan tradisi manusia, maka nyatalah kebobrokan yang diakibatkan oleh mengesampingkan hukum Allah.

Masa itu adalah malapetaka bagi gereja Kristus. Tinggal sedikit saja yang seti mempertahankan standar. Walaupun kebenaran itu tidak ditinggalkan tanpa saksi-saksi, namun kadang-kadang kelihatannya kesalahan dan takhyul lebih meraja-lela dan menonjol; dan agama yang benar seakan-akan lenyap dari muka bumi ini. Injil tidak lagi tampak, tetapi bentuk-bentuk agama berlipat ganda , dan orang-orang dibebani dengan tuntutan yang keras.

Mereka di ajar bukan saja memandang paus sebagai pengantara mereka, tetapi mempercayai tugas paus untuk menghapus dosa mereka. Perjalanan yang lama berziarah, tindakan-tindakan pengampunan dosa, pemujaan atau penyembahan kepada benda-benda keramat dan benda-benda peninggalan, mendirikan gereja-gereja, kuil-kuil, tempat-tempat dan makam-makam suci serta mezbah-mezbah, pembayaran sejumlah besar uang kepada gereja -- semua ini serta tindakan-tindakan serupa, dipadukan untuk meredakan murka Allah atau mengambil hati-Nya, seolah-olah Allah itu seperti manusia, yang marah oleh karena perkara kecil atau dapat ditenangkan dengan pemberian- pemberian atau tindkan-tindakan pengampunan!

Meskipun kejahatan meraja-lela, bahkan di antara pemimpin Gereja Roma, pengaruhnya tampaknya tetap semakin bertambah. Kira-kira pada penghujung abad ke delapan, para paus telah menyatakan bahwa pada masa-masa permulaan gereja, imam (bishop) Romawi telah mempunyai kuasa spiritual seperti yang mereka punyai sekarang ini. Untuk menguatkan pernyataan ini, berbagai sarana harus di buat untuk menunjukkan kekuasaan. Dan hal ini telah diusulkan atau dikemukakan oleh bapak segala bohong itu. Tulisan-tulisan kuno telah dipalsukan oleh biarawan. Dekrit majelis (konsili) telah ditemukan sebelum diumumkan, untuk mendirikan supremasi universal kepausan sejak dari zaman permulaan. Dan sesuatu gereja yang telah menolak kebenaran, dengan tamaknya menerima penipuan itu. (lihat Lampiran).


Beberapa orang pembangun yang setia yang membangun di atas dasar yang benar (1 Kor. 3:10,11) telah dibingungkan dan di hambat oleh omong- kosong ajaran-ajaran palsu yang menghadang pembangunan itu. Sama seperti para pembangun di atas tembok kota Yerusalem pada zaman Nehemia, beberapa orang telah siap untuk mengatakan, "Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan puing masih sangat banyak. Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini" (Nehemia 4:10,14). Beberapa orang yang dulunya pembangun yang setia menjadi tawar hati karena sudah letih, karena sudah terus berjuang melawan penganiayaan, penipuan, kejahatan, dan setiap hambatan lain yang dapat di buat oleh Setan untuk merintangi kemajuan pembangunan itu. Dan demi ketenangan dan keamanan bagi harta milik dan nayawa mereka, mereka meninggalkan dasar yang benar. Yang lain, tidak gentar oleh perlawanan musuh-musuh mereka, tanpa takut menyatakan, "Jangan kamu takut kepada mereka! Ingatlah kepada Tuhan yang maha besar dan dahsyat" (Nehemia 4:10,14). Dan mereka terus bekerja, masing-masing dengan pedang di pinggang (Epesus 6:17).

Roh kebencian yang sama dan perlawanan kepada kebenaran telah mengilhami musuh-musuh Allah pada segala zaman, dan kewaspadaan serta kesetiaan yang sama di butuhkan dari hamba-hamba-Nya. Kata-kata Kristus yang ditujukan kepada murid-murid yang pertama itu dapat berlaku kepada para pengikut-Nya pada akhir zaman, "Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah" (Mark. 13:37).

Kegelapan tampaknya semakin kelam. Penyembahan berhala telah menjadi semakin umum. Lilin-lilin dinyalakan di depan patung-patung, dan doa-doa diucapkan kepada mereka. Hal-hal yang paling tidak masuk akal dan kebiasaan takhyul meraja-lela. Pikiran manusia sama sekali telah dikuasai oleh takhyul, sehingga pertimbangan sehat tampaknya sudah hilang.Sementara imam-imam dan bishop-bishop sendiri adalah orang-orang pecinta kepelesiran, penuh hawa nafsu dan bejat, maka orang-orang yang meminta tuntunan dari mereka akan tenggelam di dalam kebodohan dan kejahatan.

Kesombongan kepausan telah maju selangkah lagi, pada waktu di abad kesebelas Paus Gregory VII memproklamasikan kesempurnaan Gereja Roma. Di antara hal-hal atau dalil-dalil yang ia kemukakan ialah antara lain menyatakan bahwa gereja tidak pernah salah, atau tidak akan pernah salah, sesuai dengan Alkitab. Tetapi bukti-bukti dari Alkitab tidak disertakan dalam pernyataan itu. Paus yang angkuh itu juga menyatakan bahwa ia mempunyai kuasa untuk memberhentikan para kaisar dan menyatakan bahwa tak seorangpun boleh mengubah keputusan yang ia buat. Tetapi ia mempunyai hak istimewa untuk mengubah keputusan-keputusan orang lain. (lihat Lampiran).

Suatu gambaran yang menyolok mengenai sifat kekejaman paus yang tidak bisa salah ini ialah perlakuannya terhadap kaisar Jerman, Henry IV. Karena di duga mengabaikan kekerasan paus, raja ini diturunkan dari tahtanya dan diasingkan. Takut oleh karena pembangkangan dan ancaman putranya sendiri yang telah mendapat mandat kepausan untuk memberontak melawan dia, Henry IV merasa perlu untuk mengadakan perdamaian dengan Roma. Bersama isteri dan hamba-hambanya, ia melintasi pegunungan Alpen pada waktu pertengahan musim dingin, agar supaya ia boleh merendahkan dirinya dihadapan paus. Setelah tiba di istana Paus Gregory VII, ia telah di tuntun keluar istana tanpa pengawal-pengawalnya. Dan di sana, di tempat yang begitu dinginnya musin saju, tanpa penutup kepala dan alas kaki dengan pakaian yang menyedihkan, ia menunggu izin paus untuk datang menghadap. Setelah tiga hari terus menerus berpuasa dan membuat pengakuan dosa, barulah paus mau memberikan pengampunan kepadanya. Itupun hanya dengan syarat yang, kaisar harus menunggu sanksi dari paus sebelum ia boleh memakai lambang kerajaan atau melakukan wewenang kerajaan kembali. Dan Paus Gregory VII merasa berbahagia atas kemenangannya dan menyombongkan diri bahwa adalah tugasnya untuk mencabut kesombongan raja-raja.

Betapa besar perbedaan antara kesombongan yang sok mau berkuasa dari paus yang angkuh ini dengan kerendahan hati dan kelemah-lembutan Kristus yang menggambarkan diri-Nya sendiri memohon di pintu hati untuk masuk, agar Ia boleh masuk membawa pengampunan dan damai. Dan yang telah mengajar murid-murid-Nya, "Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu" (Matius 20:27).

Pada abad-abad berikutnya semakin banyak kesalahan yang ditemukan di dalam ajaran (doktrin) yang dikeluarkan oleh Roma. Bahkan sebelum terbentuknya kepausan, pengajaran para filsuf kafir telah mendapat perhatian dan telah menanamkan pengaruhnya di dalam gereja. Banyak orang yang mengaku bertobat masih tetap bergantung kepada faham falsafah kekafiran mereka. Dan bukan saja mereka terus mempelajarinya, tetapi menganjurkannya kepada orang lain sebagai sarana untuk memperluas pengaruh mereka di antara orang kafir. Dengan demikian kesalahan yang serius telah dimasukkan ke dalam kepercayaan Kristen. Salah satu yang menonjol ialah kepercayaan mengenai kekekalan alamiah manusia dan kesadarannya di dalam kematian. Doktrin inilah yang menjadi dasar Roma memanggil di dalam doa orang-orang kudus yang telah meninggal dunia dan pemujaan kepada Perawan Maria. Dari kepercayaan ini muncul pula kepercayaan yang menyimpang mengenai penyiksaan yang kekal bagi orang-orang yang tidak mengakui dosa-dosanya, suatu kepercayaan yang pada mulanya telah digabungkan kepada kepercayaan kepausan.


Kemudian, jalan telah dipersiapkan bagi masuknya ciptaan kekafiran yang lain, yang Roma sebut purgatori (api penyucian), dan digunakan untuk menakut-nakuti orang-orang yang mudah percaya da berpegang kepada takhyul. Dengan ajaran kepercayaan yang menyimpang ini memperkuat adanya tempat penyiksaan, di tempat mana jiwa-jiwa yang belum tergolong ke dalam kutukan kekal harus menderita hukuman atas dosa-dosanya, dan dari tempat ini juga, setelah dibersihkan dari kekotoran, mereka diterima masuk ke surga (lihat Lampiran).

Masih diperlukan suatu buat-buatan lain untuk menyanggupkan Roma memperoleh keuntungan dari ketakutan dan sifat buruk pengikut-pengikutnya. Hal ini ialah doktrin (ajaran) pengampunan dosa. Pengampunan penuh dosa-dosa masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang, dan pembebasan dari semua kesakitan dan hukuman dijanjikan bagi semua mereka yang mau mendaftarkan diri berperang bersama paus untuk melebarkan kekuasaannya, untuk menghukum musuh-usuhnya, atau untuk membasmi mereka yang berani menyangkal supremasi spiritual kepausan. Orang-orang juga di ajar bahwa dengan membayar sejumlah uang kepada gereja mereka boleh membebaskan diri dari dosa, dan juga membebaskan jiwa teman-teman mereka yang sudah meninggal yang telah dimasukkan ke dalam api penyiksaan. Dengan cara ini Roma mengisi peti perbendaharaannya, dan mempertahankan kebesaran dan kemewahannya, dan sifat buruk yang seolah-olah wakil Dia yang tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya. (lihat Lampiran).

Peraturan upacara perjamuan kudus Tuhan yang berda sarkan Alkitab telah digantikan dengan upacara misa yang bersifat penyembahan berhala. Imam-iman kepausan berpura-pura, oleh penyamaran tak berperasaan, untuk mengubah roti dan anggur sederhana itu menjadi "tubuh dan darah Kristus." -- Cardinal Wiseman's Lectures on "The Real Presence," Lecture 8, sec. 3, par. 26. Dengan hujatan lancang mereka mengatakan bahwa mereka mempunyai kuasa penciptaan Allah, Pencipta segala sesuatu. Orang-orang Kristen di paksa, di siksa sampai mati, untuk mengakui terus-terang iman mereka dalam kemurtadan yang mengerikan dan menghinakan surga. Mereka yang menolak telah dilemparkan ke dalam nyala api.(lihat Lampiran).

Pada abad ketigabelas, telah ditetapkan suatu alat kepausan yang paling mengerikan dari semua, yang di sebut "Inkuisisi" (Pemeriksaan). Raja kegelapan bekerja-sama dengan para pemimpin kepausan. Dalam rapat-rapat (konsili) rahasia mereka, Setan dengan malaikat-malaikatnya mengendalikan pikiran orang-orang jahat, sementara di tengah-tengah berdiri tidak kelihatan malaikat-malaikat Allah, mencatat dengan teliti keputusan-keputusan jahat dan kejam mereka, dan menuliskan sejarah perbuatan mereka yang sangat mengerikan bagi mata manusia. "Babilon yang besar" telah "mabuk karena meminum darah orang-orang kudus." Berjuta-juta orang yang mati syahid (martir) yang telah diremukkan, berseru-seru kepada Allah memohon pembalasan atas kuasa yang murtad itu.

Kepausan telah menjadi raja dunia yang lalim dan sewenang-wenang. Raja-raja dan kaisar-kaisar tunduk kepada dekrit kepausan Roma. Nasib manusia, baik sekarang maupun selama-lamanya, tampaknya ada dalam pengendalian dan kekuasaannya. Selama beratus-ratus tahun ajaran-ajaran atau doktrin-doktrin Roma telah di terima secara luas dan mutlak. Upacara-upacaranya dilakukan dengan khidmat, hari-hari rayanya dirayakan secara umum. Pastor-pastornya dihormati dan di dukung dengan limpahnya. Tidak pernah seperti itu sebelumnya. Gereja Roma memperoleh kewibawaan, keagungan atau kuasa yang lebih besar.

Akan tetapi, "tengah hari kepausan adalah tengah malam bagi dunia ini." -- Wylie, "History of Protestantism," book 1, chap.4. Alkitab yang Suci hampir tidak di kenal lagi, bukan saja oleh orang-orang biasa, tetapi juga oleh imam-imam. Seperti orang-orang Farisi zaman dahulu kala, para pemimpin kepausan membenci terang itu yang akan menyatakan dosa-dosa mereka. Hukum Allah, ukuran kebenaran itu, telah di tolak. Mereka menjalankan kekuasaan tanpa batas, dan melakukan kejahatan tanpa rintangan. Penipuan, keserakahan dan ketidak-bermoralan merajalela dimana-mana. Orang-orang dengan leluasa melakukan kejahatan, dengan mana ia bisa memburu harta atau mendapat kedudukan.

Istana-istana paus dan para pejabat tinggi gereja telah menjadi tempat pesta-pora dan kebejatan moral yang paling memalukan dan menjijikkan. Beberapa pejabat kepausan yang sedang berkuasa telah melakukan kejahatan sehingga pemerintah-pemerintah sekular memberontak berusaha menyingkirkan pejabat-pejabat gereja yang bertindak bagaikan binatang buas, yang terlalu menjijikkan untuk di toleransi. Selama berabad-abad Eropah tidak mengalami kemajuan dalam pendidikan, seni dan kebudayaan. Kelumpuhan moral dan intelektual telah menimpa Kekristenan.

Keadaan dunia di bawah kekuasaan Romawi menyatakan kegenapan nubuatan nabi Hosea yang menakutkan, "Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu, maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu." ". . . sebab tidak ada kesetiaan dan tidak ada kasih dan tidak ada pengenalan akan Allah di negeri itu. Hanya mengutuk, berbohong, membunuh, mencuri, berzinah, melakukan kekerasan dan penumpahan darah menyusul penumpahan darah" (Hosea 4: 6, 1, 2). Semuanya itu adalah akibat dari meniadakan firman Allah.


ORANG-ORANG WALDENSIA

~4~
ORANG-ORANG WALDENSIA

 

Di tengah-tengah kegelapan yang menutupi dunia ini selama supremasi kekuasaan kepausan, terang kebenaran tidak dapat seluruhnya dipadamkan. Ada saksi-saksi Allah pada setiap zaman -- orang-orang yang memelihara imannya pada Kristus sebagai satu-satunya pengantara antara Allah dan manusia, yang berpegang pada Alkitab sebagai satu-satunya pedoman hidup, dan yang menguduskan hari Sabat yang benar. Generasi berikutnya tidak akan pernah tahu betapa besar dunia ini berhutang kepada orang-orang ini. Mereka di cap sebagai orang-orang bida'ah (penganut aliran yang bertentangan dengan aliran resmi), yang memegang kepercayaan yang keliru. Motif mereka diragukan, tabiat mereka di fitnah, tulisan-tulisan mereka di kekang, disalah-artikan, atau dirusakkan. Namun mereka tetap berdiri teguh, dan sepanjang zaman mereka mempertahankan kemurnian iman mereka, sebagai warisan suci bagi generasi yang akan datang.

Sejarah umat Allah selama zaman-zaman kegelapan yang mengikuti supremasi kekuasaan Romawi, telah dituliskan di surga, tetapi hanya sedikit dalam catatan sejarah manusia. Hanya sedikit catatan keberadaan mereka yang bisa didapatkan, kecuali dalam hal tuduhan-tuduhan para penganiaya mereka. Adalah kebijakan Roma untuk menghilangkan setiap perbedaan pendapat mengenai ajaran-ajaran atau dekrit-dekritnya. Setiap yang menyimpang, apakah manusia atau tulisan, harus dibinasakan. Pernyataan keragu-raguan atau yang mempertanyakan kekuasaan dogma kepausan, telah cukup alasan untuk membinasakan nyawa orang kaya atau miskin, bangsawan atau rakyat jelata. Roma juga berusaha untuk membinasakan setiap catatan mengenai kekejamannya terhadap orang-orang yang mengingkari kekuasaannya. Konsili-konsili kepausan mengeluarkan dekrit agar semua buku-buku dan tulisan-tulisan yang berisi catatan-catatan seperti itu harus di bakar. Sebelum alat-alat cetak ditemukan, terdapat hanya sedikit buku-buku, dan dalam bentuk yang tidak tahan lama di simpan. itulah sebabnya penganut-penganut agama Romawi hanya mengalami sedikit hambatan dalam melaksanakan maksud-maksud mereka.

Tak satupun gereja yang berada dalam kekuasaan Romawi yang, tanpa di ganggu, bisa menikmati kebebasan hati nuraninya. Segera setelah kepausan memperoleh kekuasaan, ia menghancurkan semua yang menolak mengakui jalan-jalannya. Dan satu per satu gereja itu tunduk kepada pemerintahan dan kekuasaannya.

Di Britania Raya (Inggeris) telah sejak lama berakar Kekristenan primitif. Kabar Injil yang di terima orang-orang Briton pada abad-abad pertama tidak dicemarkan oleh kemurtadan Roma. Penganiayaan yang dilakukan oleh kaisar-kaisar kafir, yang mencapai tempat jauh ini, adalah satu-satunya pemberian yang di terima oleh gereja-gereja Britania dari Roma. Banyak orang-orang Kristen yang melarikan diri dari penganiayaan di Inggeris dan berlindung di Skotlandia. Dari sini kebenaran itu telah di bawa ke Irlandia, dan di semua negeri kabar Injil itu telah di terima dengan sukacita.

Pada waktu bangsa Saxon menyerang Britania, maka kekafiran memperoleh kekuasaan. Para penakluk ini merasa dirinya diremehkan kalau digurui oleh budak-budak mereka. Dan orang-orang Kristen telah di paksa untuk mengundurkan diri ke gunung-gunung dan ke daerah-daerah bersemak-semak. Namun terang yang tersembunyi untuk sementara, terus menyala. Di Skotlandia, seabad kemudian, terang itu menyinarkan terang yang menerangi negeri-negeri yang jauh. Dari Irlandia, muncullah Columba yang saleh dengan teman-temannya, yang menghimpun orang-orang percaya di pulau terpencil, Iona. Mereka membuat pulau ini menjadi pusat usaha pekabaran Injil. Salah seorang dari evangelis dari pusat pekabaran Injil ini adalah pemelihara hari Sabat menurut Alkitab, dan dengan demikian kebenaran ini telah diperkenalkan kepada orang-orang. Sebuah sekolah telah didirikan di Iona, dari mana para misionaris dikirimkan, bukan saja ke Skotlandia dan Inggeris, tetapi juga ke Jerman, ke Swis dan bahkan ke Italia.


Akan tetapi Roma telah memusatkan perhatiannya ke Britania dan memutuskan untuk menguasainya. Pada abad keenam, misionarisnya menobatkan orang-orang kafir Saxon. Orang-orang barbar Saxon kafir yang sombong ini menerima para misionaris Roma, dan mempengaruhi ribuan orang untuk memeluk kepercayaan Romawi itu. Sementara pekerjaan itu maju, para pemimpin kepausan bersama-sama dengan mereka yang telah ditobatkan menhadapi orang-orang Kristen primitif. Tampaklah perbedaan yang menyolok. Orang Kristen primitif adalah sederhana, rendah hati, berpegang pada Alkitab dalam tabiat, pengajaran dan sikap, sementara para pemimpin kepausan bersama orang-orang Saxon yang sombong ditandai dengan menganut ketakhyulan, kemegahan dan kecongkakan kepausan. Utusan Roma meminta agar gereja-gereja Kristen mengakui supremasi kekuasaan kepausan. Orang-orang Briton dengan rendah hati menjawab bahwa mereka ingin mengasihi semua orang, tetapi paus tidak berhak menguasai gereja, dan yang bisa mereka berikan kepadanya hanyalah sikap tunduk yang berlaku bagi setiap pengikut Kristus. Berkali-kali mereka mengusahakan agar orang-orang Kristen ini tunduk kepada kekuasaan Roma. Tetapi orang-orang Kristen yang rendah hati itu, yang heran melihat kesombongan yang diperlihatkan oleh para utusan paus, dengan tegas menjawab bahwa mereka tidak mengenal pemimpin lain selain Kristus. Sekarang nyatalah roh kepausan yang sebenarnya. Pemimpin-pemimpin Roma itu berkata, "Jikalau kamu tidak menerima saudara-saudara yang membawa perdamaian kepadamu, maka kamu akan menerima musuh yang membawa kepadamu peperangan. Jikalau kamu tidak mau bersatu dengan kami untuk menunjukkan jalan kehidupan kepada orang-orang Saxon, maka kamu akan menerima pukulan maut dari mereka." -- D'Aubigne, "History of the Reformation in the Sixteenth Century," b. 17, ch. 2. Ini bukanlah gertak sambal. Peperangan, persekongkolan dan tipu muslihat telah dilakukan terhadap saksi-saksi iman Alkitab ini, sampai Gereja Britania dihancurkan atau dipaksa tunduk kepada kekuasaan paus.

Di negeri-negeri di luar kekuasaan Roma, selama berabad-abad telah terdapat kelompok-kelompok Kristen yang tetap hampir bebas seluruhnya dari kebejatan kepausan. Mereka dikelilingi oleh kekafiran, dan dengan berlalunya zaman telah dipengaruhi oleh kesalahan-kesalahan kekafiran tersebut. Tetapi mereka tetap menganggap Alkitab sebagai satu-satunya ukuran iman, dan berpegang kepada banyak kebenarannya. Orang-orang Kristen ini percaya keabadian hukum Allah dan memelihara hari Sabat hukum yang keempat. Jemaat-jemaat yang memegang iman dan praktek seperti ini terdapat di Afrika tengah dan di antara orang-orang Armenia di Asia.

Tetapi dari antara mereka yang menolak pelanggaran kekuasaan kepausan itu, orang-orang Waldenseslah yang berdiri paling depan. Di negeri dimana kepausan telah memantapkan kedudukannya, maka kepalsuannya dan kebejatannyalah yang paling di tentang. Selama berabad-abad jemaat-jemaat di Piedmont mempertahankan kebebasan mereka. Tetapi waktunya akhirnya tiba pada waktu Roma memaksa mereka menyerah. Setelah dengan sia-sia berjuang melawan kekejaman Roma, para pemimpin jemaat ini dengan enggan mengakui supremasi kekuasaan kepausan, kepada siapa nampaknya seluruh dunia memberi pengakuan tanda takluk. Namun, ada sebagian orang yang menolak patuh kepada kekuasaan paus atau pejabat-pejabatnya. Mereka memutuskan untuk tetap mempertahankan kesetiaannya kepada Allah, dan memelihara kemurnian dan kesederhanaan iman mereka. Maka pemisahanpun terjadi. Mereka yang bergabung pada iman yang dahulu, sekarang mengasingkan diri. Sebagian mereka meninggalkan Alpen, negeri leluhur mereka, dan mengangkat panji-panji kebenaran di negeri asing. Sebagian yang lain mengasingkan diri ke lembah-lembah sempit dan celah-celah bukit terjal. Di tempat-tempat ini mereka memelihara kebebasan mereka menyembah Allah.

Iman yang selama berabad-abad di pegang dan diajarkan oleh orang-orang Kristen Waldenses sangat bertentangan dengan doktrin palsu yang dikemukakan oleh Roma. Kepercayaan agama mereka di dapat dari firman Allah yang tertulis, sistem Kekristenan yang benar. Tetapi petani-petani yang rendah hati ini, di tempat pengasingan mereka yang tersembunyi dan tertutup dari dunia luar, dan yang harus mengerjakan pekerjaan mereka sehari-hari menggembalakan ternak dan memelihara kebun anggur, belum sampai kepada kebenaran yang menentang dogma dan ajaran gereja yang murtad itu. Iman mereka bukanlah iman yang baru saja di terima. Kepercayaan agama mereka adalah warisan dari leluhur mereka. Mereka merasa puas dengan jemaat kerasulan -- "iman yang telah disampaikan kepada orang kudus" ( Yudas 3). "Jemaat di padang belantara," bukan hierarkhi yang dengan sombongnya bertahta di ibu kota besar dunia, adalah jemaat Kristus yang benar, penjaga kebenaran yang Allah suruh umat-Nya berikan kepada dunia ini.

Salah satu sebab utama yang menyebabkan pemisahan jemaat yang benar dari Roma, ialah kebencian Roma kepada hari Sabat Alkitab. Sebagaimana diberitahukan oleh nubuatan, kekuasaan kepausan membuangkan kebenaran itu. Hukum Allah diinjak-injak, sementara tradisi dan adat kebiasaan manusia ditinggikan. Gereja-gereja yang telah di bawah kekuasaan kepausan dari mulanya telah di paksa untuk menghormati hari Minggu sebagai hari kudus. Di tengah-tengah kesalahan dan takhyul yang merajalela itu, banyak yang menjadi bingung, sementara mereka yang memelihara hari Sabat, mereka juga tidak bekerja pada hari Minggu. Hal ini tidak memuaskan para pemimpin kepausan. Mereka di tuntut bukan saja menyucikan hari Minggu, tetapi harus menajiskan hari Sabat. Dan mereka akan mengumumkan dan mencaci-maki dengan bahasa yang paling keras, mereka yang berani menghormati hari Sabat. Hanya dengan melarika diri dari kekuasaan Roma saja seseorang dapat menuruti hukum Allah di dalam kedamaian.

Orang-orang Waldenses adalah di antara orang-orang Eropa yang pertama mendapat terjemahan Kitab Suci. (lihat Lampiran). Beratus-ratus tahun sebelum Pembaharuan (Reformasi), mereka memiliki Alkitab dalam naskah bahasa mereka sendiri, mereka memiliki kebenran yang tidak dipalsukan, dan oleh karena ini mereka menjadi sasaran kebencian dan penganiayaan. Mereka menyatakan Gereja Roma sebagai Babilon murtad yang diwahyukan, dan meskipun nyawa mereka di ancam bahaya mereka berdiri teguh menolak kebejatannya. Sementara itu, di bawah tekanan penganiayaan yang berkepanjangan, beberapa orang berkompromi dalam iman mereka, sedikit demi sedikit mereka menyerah dalam prinsip-prinsip mereka yang jelas. Sebagian yang lain tetap berpegang teguh kepada kebenaran. Selama zaman kegelapan dan kemurtadan, terdapatlah orang-orang Waldenses yang menyangkal supremasi Roma, yang menolak penyembahan patung sebagai pemujaan terhadap berhala, dan yang memelihara hari Sabat yang benar. Mereka tetap mempertahankan iman mereka meskipun di bawah topan oposisi yang ganas. Meskipun dilukai oleh tombak Savoyard dan dihanguskan oleh api Romawi, mereka tetap berdiri tabah walaupun menghadapi marabahaya demi firman Allah dan kehormatan-Nya.


Orang-orang Waldenses mendapatkan persembunyian mereka di balik puncak gunung-gunung pertahanan yang tinggi -- yang sepanjang zaman menjadi perlindungan bagi orang-orang yang di aniaya dan yang di tindas. Di sini terang kebenaran itu tetap bersinar di tengah-tengah kegelapan Zaman Pertengahan. Di sini, selama seribu tahun, saksi-saksi kebenaran mempertahankan iman yang mula-mula itu.

Allah telah menyediakan bagi umat-Nya satu kaabah kebesaran yang dahsyat, sesuai dengan kebenaran yang sangat besar yang dipercayakan kepada tanggungjawab mereka. Kepada mereka yang dipengasingan yang setia, gunung-gunung itu adalah lambang kebenaran Yehovah yang tak terubahkan. Mereka menunjukkan puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi itu kepada anak-anak mereka dalam kebesarannya yang tak berubah, dan membicarakan kepada mereka mengenai Dia yang pada-Nya tidak ada keadaan berubah-ubah atau bayangan perubahan, yang firman-Nya bertahan tetap seperti bukit-bukit yang kekal. Allah telah meletakkan gunung-gunung dan memperlengkapinya dengan kekuatan. Tak ada tangan yang mampu selain tangan Penguasa Tak Terbatas itu, yang dapat memindahkannya dari tempatnya. Demikianlah juga Ia telah menetapkan hukum-Nya, yang menjadi dasar pemerintahan-Nya di surga maupun di dunia ini. Tangan manusia mungkin bisa menangkap sesamanya manusia dan membinasakan hidup mereka; tetapi Tangan itu dapat mencabut gunung-gunung itu dari dasarnya dan melemparkannya kedalam lautan, sebagimana itu dapat mengubah satu perintah hukum Yehovah, atau menghapuskan salah satu janji-janji-Nya kepada mereka yang melakukan kehendak-Nya. Dalam kesetiaan mereka kepda hukum-Nya, hamba-hamba Allah haruslah seperti teguhnya bukit-bukit yang tidak berubah.

Gunung-gunung yang mengelilingi lembah dibawahnya telah menjadi saksi kepada kuasa penciptaan Allah dan kepastian perlindungan serta pemeliharaan-Nya yang tidak pernah gagal. Para musafir itu belajar mencintai lambang diam kehadiran Yehovah. Mereka tidak mengeluh atas kesulitan yang menimpa mereka. Mereka tidak pernah merasa kesepian di antara gunung-gunung terpencil itu. Mereka berterimakasih kepada Allah oleh karena Dia telah menyediakan bagi mereka suatu perlindungan dari angkara murka dan kekejaman manusia. Mereka bersukacita dalam kebebasan mereka untuk berbakti kepada-Nya. Sering, jika di kejar oleh musuh, kekuatan bukit-bukit itu terbukti menjadi pertahanan yang pasti. Dari tebing-tebing yang sangat tinggi mereka menyanyikan lagu-lagu pujian kepada Allah, dan pasukan tentera Roma tidak dapat mendiamkan nyanyian ucapan syukur mereka itu.

Kesalehan para pengikut Kristus adalah murni, sederhana dan bersemangat. Mereka menilai prinsip-prinsip kebenaran melebihi nilai rumah, tanah, teman, kaum keluarga, bahkan hidup itu sendiri. Mereka berusaha dengan sungguh-sungguh membuat prinsip ini berkesan dan tertanam di dalam hati para pemuda. Sejak masa kanak-kanak para pemuda telah di beri pelajaran Alkitab dan di ajar untuk menganggap suci tuntutan hukum Allah. Alkitab jarang ada pada waktu itu; oleh sebab itu firman yang berharga itu harus di taruh di dalam ingatan. Banyak dari antara mereka mampu menghafalkan bagian-bagian dari Perjanjian Lama dan Perjjanjian Baru. Pemikiran tentang Allah dihubungkan dengan pemandangan alam yang indah dan agung, dan dengan berkat-berkat sederhana kehidupan sehari-hari. Anak-anak kecil belajar memandang Allah dengan rasa syukur sebagai pemberi setiap karunia dan setiap penghiburan.

Orang-orang tua yang lemah lembut dan penuh kasih sayang, mengasihi anak-anak mereka dengan bijaksana untuk membiasakan diri merasa puas diri. Dihadapan mereka terbentang kehidupan yang penuh dengan cobaan dan kesukaran, dan barangkali mati syahid. Mereka telah di didik sejak kecil menanggung kesukaran, tunduk kepada penguasa, namun berpikir dan bertindak bagi diri mereka sendiri. Sejak dini mereka telah di ajar untuk memikul tanggungjawab, menjaga pembicaraan dan mengerti kebijaksanaan berdiam diri. Satu perkataan yang ceroboh yang terdengar oleh musuh dapat membahayakan bukan saja nyawa orang yang berbicara itu, tetapi juga nyawa ratusan saudara-saudaranya. Karena sebagaimana serigala mencari mangsanya, demikianlah musuh-musuh kebenaran mengejar mereka yang berani menuntut kebebasan iman keagamaannya.

Orang-orang Waldenses telah mengorbankan harta duniawi demi kebenaran, dan dengan kesabaran yang gigih mereka bekerja untuk mendapatkan makanan mereka. Setiap jengkal tanah yang bisa dikerjakan di antara gunung-gunung dikerjakan dengan cermat. Lembah-lembah dan kaki-kaki bukit yang kurang subur telah di buat memberikan hasil yang bertambah. Berhemat dan penyangkalan diri menjadi bagian dari pendidikan yang diberikan kepada anak-anak sebagai warisan dari leluhur. Kepada mereka diajarkan bahwa Allah merancang kehidupan untuk berdisiplin, dan kebutuhan mereka akan terpenuhi hanya oleh usaha pribadi, oleh pemikiran dan perencanaan yang hati-hati, perhatian dan iman. Proses itu memang menuntut kerja keras dan melelahkan, tetapi baik dan menyehatkan, sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh manusia yang telah jatuh dalam dosa, sebagai sebuah sekolah yang disediakan Allah untuk pelatihan dan pengembangannya. Sementara pemuda itu di tempa tahan uji menghadapi kerja keras dan kesulitan, budaya intelek juga tidak dilalaikan. Mereka di ajar bahwa semua tenaga dan kekuatan mereka adalah milik Allah, dan bahwa semua harus ditingkatkan dan dikembangkan untuk pelayanan-Nya.


Jemaat -jemaat Vandois, di dalam kemurniannya dan kesederhanaannya, menyerupai jemaat-jemaat pada zaman rasul-rasul. Mereka menolak supremasi kepausan dan penjabat-pejabat tingginya, dan mereka membuat Alkitab sebagai satu-satunya kekuasaan tertinggi yang tidak dapat salah. Pendeta-pendeta mereka berbeda dengan imam-imam Roma yang megah bagaikan raja. Mereka mengikuti teladan Tuhannya, yang "datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani." Mereka memberi makan kawanan domba Allah, menuntun mereka ke padang rumput yang hijau dan mata air hidup firman-Nya yang kudus. Berbeda jauh dari keindahan dan kebesaran manusia yang angkuh, orang-orang ini berkumpul bukan di dalam bangunan gereja yang megah atau katedral yang agung, tetapi di bawah bayang-bayang bukit-bukit di lembah Alpine, atau pada waktu bahaya, di tempat-tempat perlindungan di celah-celah bukit-bukit batu, untuk mendengarkan firman kebenaran dari hamba-hamba Kristus. Para pendeta itu bukan hanya mengkhotbahkan kabar Injil itu, tetapi mereka juga mengunjungi orang-orang sakit, mengajar dan menguji pengetahuan agama pada anak-anak, menegur kesalahan, berusaha menyelesaikan perselisihan dan memajukan keharmonisan dan rasa persaudaraan. Pada waktu damai, mereka dibelanjai dengan pemberian sukarela orang-orang. Tetapi seperti Rasul Paulus, si pembuat kemah itu, masing-masing belajar cara-cara berdagang atau profesi lain oleh mana, bila perlu, mereka menghidupi dirinya.

Para pemuda menerima pengajaran dari para pendeta mereka. Alkitab dijadikan mata pelajaran utama, sementara perhatian juga diberikan kepada cabang-cabang pengetahuan umum lainnya. Injil Matius dan Yohanes dihafalkan dengan tulisan para rasul lainnya. Mereka juga dipekerjakan untuk menyalin Alkitab. Sebagian naskah berisi seluruh Alkitab itu, sebagian lagi hanya berisi pilihan-pilihan singkat, sebagian berisi keterangan ayat-ayat yang diberikan oleh mereka yang mampu menjelaskan Alkitab itu. Dengan demikian dimunculkanlah harta kebenaran yang telah lama disembunyikan oleh mereka yang berusaha meninggikan dirinya di atas Allah.

Dengan sabar, dengan kerja keras yang tak mengenal lelah, kadang-kadang di dalam gua-gua yang dalam dan gelap di dalam tanah, yang diterangi hanya oleh obor, Alkitab itu telah di tulis ayat demi ayat, fatsal demi fatsal. Demikianlah pekerjaan itu berjalan terus, kehendak Allah yang telah dinyatakan itu bersinar terus seperti emas murni. Betapa semakin bersinar, semakin terang dan semakin berkuasanya kehendak Allah itu oleh karena mengalami pencobaan, hanya mereka yang terlibat langsung dalam pekerjaan ini saja yang dapat mengetahuinya. Malaikat-malaikat dari surga mengelilingi pekerja-pekerja yang setia ini.

Setan telah mendesak imam kepausan dan pejabat-pejabat tingginya untuk mengubur Firman kebenaran itu di bawah sampah kesalahan, kemurtadan dan ketakhyulan. Tetapi dengan cara yang paling mengherankan firman itu telah terpelihara dengan murni sepanjang Zaman Kegelapan. Firman itu tidak membawa cap manusia, tetapi meterai Allah. Manusia tidak jemu-jemunya berusaha mengaburkan arti Alkitab yang sederhana dan jelas, dan membuatnya bertentangan kepada kesaksian mereka sendiri. Tetapi seperti bahtera di atas laut yang bergelombang besar, Firman Allah itu mengatasi badai yang mengancamnya dengan kebinasaan. Sebagaimana tambang yang berisi emas dan perak tersembunyi jauh di bawah permukaan tanah, demikianlah semua orang harus menggali untuk mendapatkan kandungannya yang berharga. Demikianlah juga Alkitab mengandung harta kebenaran yang akan dinyatakan hanya oleh mencarinya dengan sungguh-sungguh, rendah hati serta dengan doa. Allah merancang Alkitab itu sebagai buku pelajaran bagi semua umat manusia, pada masa kanak-kanak, pemuda dan dewasa, dan untuk dipelajari sepanjang masa. Ia memberikan firman-Nya kepada manusia sebagai penyataan diri-Nya sendiri. Setiap kebenaran baru yang terlihat adalah pernyataan segar tabiat Pengarangnya. Mempelajari Alkitab adalah cara yang ditetapkan ilahi untuk menghubungkan manusia itu lebih dekat kepada Penciptanya, dan memberikan kepada mereka pengetahuan yang lebih jelas mengenai kehendak-Nya. Alkitab itu adalah media komunikasi antara Allah dan manusia.

Sementara orang-orang Waldenses itu menganggap bahwa takut akan Allah adalah permulaan kebijaksanaan, mereka juga tidak buta terhadap pentingnya hubungan dengan dunia ini, dengan pengetahuan mengenai manusia dan kehidupan yang aktif, di dalam memperluas pemikiran dan mempercepat daya tangkap. Dari sekolah-sekolah mereka di pegunungan, beberapa pemuda telah mereka kirim ke institusi pendidikan di kota-kota Perancis dan Italia, dimana terdapat bidang-bidang studi, pemikiran dan pengamatan yang lebih luas daripada dikampung halaman mereka di pegunungan Alpen. Pemuda-pemuda yang di kirim itu terbuka kepada pencobaan. Mereka menyaksikan kejahatan dan kebejatan, menghadapi agen-agen cerdik Setan yang membujuk mereka dengan bujukan yang paling halus dan penipuan yang paling berbahaya. Tetapi pendidikan mereka sejak kecil telah menjadi tabiat yang mempersiapkan mereka untuk menghadapi semua pencobaan ini.


Di sekolah-sekolah yang mereka masuki, mereka tidak membuat persahabatan karib dengan siapapun. Jubah-jubah mereka telah di buat sedemikian rupa sehingga dapat menyembunyikan harta yang paling mahal -- naskah-naskah berharga Alkitab. Ini semua, adalah hasil kerja berbulan-bulan dan bertahun-tahun, mereka bawa bersama mereka, dan bilamana keadaan memungkinkan tanpa menimbulkan kecurigaan, mereka dengan hati-hati meletakkan barang-barang itu di jalan orang-orang yang hatinya tampaknya terbuka untuk menerima kebenaran. Dari sejak pangkuan ibu, pemuda Waldenses telah di latih untuk maksud ini. Mereka mengerti pekerjaan mereka dan melakukannya dengan setia. Orang-orang yang bertobat kepada iman yang benar telah dimenangkan di institusi pendidikan ini, dan sering prinsip-prinsipnya telah menyusup ke seluruh sekolah. Namun para pemimpin kepausan tidak dapat menelusuri asal-usul apa yang mereka sebut kemurtadan yang bejat atau bida'ah, meskipun dilakukan penyelidikan yang ketat.

Roh Kristus adalah roh pengabar Injil (misionaris). Gerakan pertama hati yang dibaharui adalah membawa orang-orang lain juga kepada Juru Selamat. Demikianlah juga roh orang-orang Kristen Vaudois. Mereka merasa bahwa Allah meminta dari mereka lebih dari sekedar memelihara kebenaran itu dalam kemurniannya di dalam jemaat mereka, bahwa tanggungjawab yang sungguh-sungguh ditanggungkan kepada mereka untuk memancarkan terangnya menyinari mereka yang berada di dalam kegelapan. Dengan kuasa sangat hebat firman Allah, mereka berusaha mematahkan rantai perbudakan yang dilakukan oleh Roma. Pendeta-pendeta Vaudois telah di latih sebagai misionaris. Setiap orang yang diharapkan memasui pelayanan kependetaan, pertama-tama harus mempunyai pengalaman sebagai pengabar Injil atau evangelis. Mereka harus melayani selama tiga tahun diberbagai ladang misi sebelum mereka di beri tanggungjawab mengurus jemaat di kampung halamannya. Pekerjaan ini, yang menuntut penyangkalan diri dan pengorbanan pada permulaannya, adalah penyesuaian pendahuluan kepada kehidupan kependetaan, yang pada waktu itu yang mencobai jiwa seseorang. Pemuda yang menerima penahbisan kepada jabatan kudus, memandang ke depan bukan kepada harta dan kemuliaan dunia, tetapi kepada kehidupan yang penuh kerja keras dan bahaya, dan mungkin nasib sebagai syahid (martir). Para misionaris itu keluar berdua-dua, sebagaimana Yesus mengirimkan murid-murid-Nya. Setiap orang muda biasanya ditemani oleh seorang yang lebih tua dan berpengalaman. Orang muda itu, yang di bawah bimbingan temannya yang bertanggungjawab untuk melatihnya, harus mematuhi dan memperhatikan pengajaran yang diberikan oleh temannya. Kedua teman sekerja ini tidak selamanya bersama-sama, tetapi sering bertemu untuk berdoa dan memperoleh petunjuk atau nasihat, dengan demikian menguatkan satu sama lain di dalam iman.

Jika tujuan misi mereka ketahuan, pastilah mereka akan gagal. Oleh sebab itu, dengan hati-hati dan cermat mereka harus menyembunyikan maksud mereka yang sebenarnya. Setiap pendeta mempunyai pengetahuan mengenai perdagangan atau bidang-bidang profesi lain, dan para misionaris itu melakukan tugas-tugas misionarisnya secara rahasia di bawah naungan profesinya sebagai pedagang atau yang lain-lain. Biasanya mereka memilih sebagai pedagang atau penjaja barang-barang. "Mereka membawa kain sutera, batu permata, dan barang-barang lain yang pada waktu itu tidak mudah dapat di beli kecuali di pasar-pasar yang jauh. Dan mereka di sambut sebagai pedagang, yang seharusnya mereka di tolak dengan kasar kalau sebagai misionaris." -- Wylie, b. 1, ch. 7. Sementara itu hati mereka terangkat kepada Allah memohon akal budi untuk menyatakan harta yang lebih berharga dari emas atau batu permata. Dengan secara rahasia dan diam-diam mereka membawa salinan Alkitab, baik sebagian maupun seluruhnya. Dan bilamana kesempatan muncul, mereka menarik perhatian langganan kepada naskah-naskah ini. Sering perhatian untuk membaca firman Tuhan dibangkitkan, dan beberapa bagian-bagian Alkitab itu ditinggalkan pada mereka yang berminat menerimanya.

Pekerjaan para misionaris ini dimulai di dataran dan lembah-lembah di kaki pegunungan mereka, tetapi kemudian meluas ke luar dari daerahnya itu. Dengan kaki telanjang dan dengan jubah yang kasar seperti yang di pakai Tuhannya dahulu, mereka melewati kota-kota besar dan menembusi negeri-negeri yang jauh. Dimana-mana mereka menebarkan benih yang berharga itu. Gereja-gereja bertumbuh disepanjang jalan yang mereka lalui. Dan darah orang yang mati syahid itu menjadi saksi bagi kebenaran. Hari Allah akan menyatakan tuaian yang limpah jiwa-jiwa yang dikumpulkan sebagai hasil pekerjaan orang-orang yang setia ini. Dengan terselubung dan dengan diam-diam, firman Tuhan menerobos Kekristenan, dan menemui penerimaan dengan senang hati di rumah-rumah dan di dalam hati orang-orang.

Bagi orang-orang Waldenses Alkitab bukanlah sekedar catatan apa yang dilakukan Allah kepada manusia pada masa lalu, dan suatu pernyataan tanggungjawab dan tugas pada masa kini, tetapi membukakan marabahaya dan kemuliaan pada masa yang akan datang. Mereka percaya bahwa tidak jauh lagi akhir dari segala sesuatu. Dan sementara mereka mempelajari Alkitab di dalam doa dan air mata, mereka semakin mendapat kesan mendalam dengan kata-katanya yang berharga itu, dan dengan tugas mereka untuk memberitahukan kepada orang lain mengenai kebenaran yang menyelamatkan itu. Mereka melihat rencana keselamatan itu dengan jelas dinyatakan di halaman-halamannya yang kudus. Dan mereka menemukan penghiburan, pengharapan dan kedamaian di dalam mempercayai Yesus. Sementara itu menerangi pengertian mereka dan memberi kegembiraan kepada hati mereka, mereka rindu untuk menyinarkan terang itu kepada orang-orang lain yang berada di dalam kegelapan kesalahan kepausan.


Mereka melihat bahwa di bawah tuntunan paus dan imam-imamnya orang banyak dengan sia-sia berusaha memperoleh pengampunan oleh menyiksa tubuhnya untuk dosa-dosa jiwa mereka. Di ajar untuk percaya kepada pekerjaan baik untuk menyelamatkan mereka, mereka selalu memandang kepada dirinya sendiri, pikiran mereka tetap dalam keadaannya yang berdosa. Mereka melihat diri mereka dihadapkan kepada murka Allah, yang menyiksa jiwa dan tubuh, namun tidak ada kelepasan. Dengan demikian jiwa-jiwa itu telah di ikat oleh ajaran-ajaran atau doktrin-doktrin Roma. Beribu-ribu orang meninggalkan teman-temannya dan kaum keluarganya dan menghabiskan waktunya di dalam sel-sel biara. Dengan berpuasa berulang-ulang dan dengan mencambuk dengan kejam, dengan berdoa semalam-malaman, dengan tertelentang lemah berjam-jam lamanya di atas lantai yang dingin dan lembab yang sangat menyedihkan, dengan pengembaraan dan ziarah yang jauh, dengan menghukum diri sendiri untuk menebus dosa-dosa dan penyiksaan yang mengerikan, ribuan orang dengan sia-sia mencari kedamaian hati nurani. Di tekan oleh perasaan berdosa, dan dibayang-bayangi oleh ketakutan kepada murka pembalasan Allah, banyaklah yang menderita sampai menemui ajalnya tanpa seberkas sinar pengharapan mereka memasuki kuburnya.

Orang-orang Waldenses rindu untuk membagi-bagikan roti hidup kepada jiwa-jiwa yang kelaparan ini, membukakan kepada mereka kabar kedamaian di dalam janji-janji Allah, dan menuntun mereka kepada Kristus sebagai satu-satunya pengharapan keselamatan mereka. Doktrin yang mengatakan bahwa perbuatan baik boleh menyucikan pelanggaran kepada hukum Allah yang mereka pegang, didasarkan atas kepalsuan. Kebergantungan kepada jasa manusia menghalangi pandangan kepada kasih Kristus yang tidak terbatas itu. Yesus mati sebagai korban bagi manusia, sebab manusia yang sudah jatuh itu tidak dapat berbuat apa-apa untuk menyenangkan Allah atas dirinya. Jasa Juru Selamat yang sudah tersalib dan bangkit kembali itu adalah azas iman Kristen. Ketergantungan jiwa-jiwa kepada Kristus adalah suatu realita, dan hubungan jiwa-jiwa itu kepada-Nya haruslah sedekat seperti anggota tubuh kepada badan atau seperti cabang kepada pokok anggur itu.

Pengajaran para paus dan imam-imam telah menuntun manusia memandang tabiat Allah, dan bahkan Kristus, sebagai yang keras, bengis, suram dan menakutkan. Juru Selamat dinyatakan sebagai yang tidak mempunyai simpati kepada manusia di dalam keadaannya yang telah jatuh, sehingga pengantaraan imam-imam dan orang-orang kudus perlu dimintakan. Mereka yang pikirannya telah diterangi oleh firmn Allah rindu untuk menunjukkan jiwa-jiwa ini kepada Yesus sebagai Juru Selamatnya yang berbelas kasihan dan yang penuh kasih sayang. Juru Selamat yang merentangkan tangan-Nya berdiri mengundang semua orang untuk datang kepada-Nya dengan beban dosa mereka, dengn kekhawatirannya dan keletihannya. Mereka rindu untuk menyingkirkan semua hambatan yang telah di tumpuk oleh Setan sehingga orang-orang tidak bisa lagi melihat janji-janji Tuhan, dan datang langsung kepada Allah, mengakui dosa-dosa dan memperoleh pengampunan dan perdamaian.

Dengan kerinduan, misionaris Vaudois itu membukakan kabar Injil kebenaran yang berharga itu kepada pikiran orang-orang yang bertanya-tanya. Dengan hati-hati ia memberikan bagian Alkitab yang telah di salin. Adalah merupakan kesukaan besar baginya untuk memberikan pengharapan bagi jiwa-jiwa yang di landa dosa, jiwa yang sungguh-sungguh, yang melihat hanya Allah pembalas, yang menunggu pelaksanaan pengadilan. Dengan bibir yang gemetar dan mata yang berlinang air mata, ia sering melipat lututnya, membukakan kepada saudara-saudaranya janji-janji mulia yang dinyatakan menjadi harapan satu-satunya bagi orang berdosa. Demikianlah terang kebenaran itu menerusi banyak pikiran yang telah digelapkan, menggulung kembali awan gelap sampai Matahari Kebenaran bersinar ke dalam hati dengan kesembuhan di dalam sinar-Nya. Sering terjadi bahwa beberapa bagian Alkitab di baca berulang-ulang; yang mendengarkan mau agar diulangi, seolah-olah untuk memastikan kepada dirinya bahwa ia telah mendengarnya dengan benar. Khusunya pengulangan kata-kata ini sangat dirindukan, "Darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa" (1 Yoh. 1:7). "Dan sam seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal" (Yoh. 3:14,15).

Banaklah yang tidak dapat di tipu sehubungan dengan tuntutan-tuntutan Roma. Mereka melihat betapa sia-sianya pengantaraan orang-orang atau malaikat-malaikat atas orang-orang berdosa. Sementara terang benar itu terbit di dalam pikiran mereka, mereka berseru dengan sukacita, "Kristuslah imanku; darah-Nyalah korbanku; mezbah-Nyalah tempat pengakuanku." Mereka menaruh dirinya sepenuhnya kepada jasa Yesus, lalu mengulang-ulangi perkataan ini, "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah" ( Iberani 11:6). "Sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kisah 4:12).

Kepastian kasih Juru Selamat tampaknya terlalu banyak untuk disadari oleh jiwa-jiwa malang yang di landa topan kebingungan. Begitu besar kelegaan yang diberikannya, sinar yang begitu terang dipancarkan kepada mereka, sehingga mereka merasa seolah-olah telah di angkat ke surga. Tangan mereka dengan yakin diletakkan di atas tangan Kristus. kaki mereka dijejakkan di atas Batu Zaman. Semua ketakutan kepada kematian telah sirna. Sekarang mereka dapat menghadapi penjara dan dapur api jika dengan itu mereka bisa memuliakan nama Penebus mereka.

Di tempat-tempat rahasia firman Allah telah dibawakan dan di baca, kadang-kadang kepada perseorangan, kadang-kadang kepada sekelompok kecil orang yang rindu kepada terang dan kebenaran. Seringkali sepanjang malam digunakan dengan cara ini. Begitu besar keheranan dan kekaguman para pendengar sehingga tidak jarang pemberita belas kasihan itu di paksa untuk menghentikan pembacaannya sampai pengertian mereka dapat menangkap berita keselamatan itu. Sering kata-kata seperti ini diucapkan, "Maukah Allah meneima persembahanku? Maukah Ia tersenyum kepadaku? Maukah Ia mengampuni aku?" Lalu dibacakan jawabnya, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Matius 11:28).


Iman menangkap janji itu, dan respons kesukaanpun terdengarlah: "Tidak perlu lagi mengadakan perjalanan ziarah yang jauh, tidak perlu lagi perjalanan ke kuil-kuil yang meletihkan. Aku boleh datang kepada Yesus sebagaimana aku ada, penuh dosa dan cemar, dan Ia tidak akan menghinakan doa penyesalan atau pertobatan. 'Dosamu diampuni.' Dosaku, bahkan dosaku, juga dapat diampuni!"

Suatu arus sukacita yang suci akan memenuhi hati, dan nama Yesus akan dibesarkan oleh puji-pujian dan ucapan terimakasih dan syukur. Jiwa-jiwa yang berbahagia itu kembali ke kampung halaman mereka masing-masing untuk menyebarkan terang, untuk menceriterakan kembali pengalaman baru mereka kepada orang lain, sebaik mereka bisa, bahwa mereka telah menemukan Jalan yang hidup dan benar. Ada kuasa yang aneh dan khidmat di dalam firman Alkitab yang berbicara langsung ke dalam hati orang-orang yang rindu kepada kebenaran. Itu adalah suara Allah, yang membawa keyakinan kepada mereka yang mendegarkannya.

Pemberita atau pesuruh kebenaran itu meneruskan perjalanannya. Tetapi penampilannya yang rendah hati, ketulusannya, kesungguh-sungguhannya dan semangatnya yang menyala-nyala sering menjadi pokok pembicaraan. Dalam berbagai hal pendengar-pendengarnya tidak menanyakan kapan ia datang dan kemana ia akan pergi. Mereka begitu dipenuhi, mula-mula dengan kejutan, dan sesudah itu rasa syukur dan sukacita, sehingga tidak terpikir lagi untuk bertanya. Bilamana mereka membujuknya bersama kerumah mereka, ia menjawab bahwa ia harus mengunjungi domba yang hilang dari kawanannya. Apakah ia itu malaikat dari surga? Mereka bertanya.

Dalam bebagai keadaan, pemberita atau pesuruh kebenaran itu tidak kelihatan lagi. Ia telah pergi ke negeri lain, atau ia telah di sekap di dalam penjara bawah tanah, atau barangkali ia telah di bunuh di tempat ia menyaksikan kebenaran itu. Tetapi firman yang ditinggalkannya di belakangnya tidak dapat dibinasakan. Firman itu telah bekerja di dalam hati orang-orang. Hasil terbaiknya hanya akan diketahui pada waktu penghakiman.

Para misionaris Waldenses itu telah menyerbu kerajaan Setan. Dan kuasa kegelapan bangkit dengan kewaspadaan yang lebih besar. Setiap usaha untuk memajukan kebenaran diamati dengan seksama oleh raja kejahatan, dan ia menimbulkan rasa takut agen-agennya. Para pemimpin kepausan melihat gejala-gejala yang membahayakan kepentingan mereka dari usaha-usaha yang rendah hati ini. Jika terang kebenaran dibiarkan bersinar tanpa hambatan, maka ia akan menyapu bersih awan tebal kesalahan yang menyelimuti orang-orang. Terang itu akan menuntun pikiran manusia hanya kepada Allah saja, dan dengan demikian akan menghancurkan supremasi Roma.

Kehadiran orang-orang ini, yang berpegang kepada iman yang mula-mula itu, telah menjadi kesaksian tetap kepada kemurtadan Roma, dan oleh sebab itu telah membangkitkan kebencian dan penganiayaan yang paling kejam. Penolakan mereka menyerahkan Alkitab itu juga merupakan suatu pelanggaran yang tidak bisa di terima oleh Roma. Roma memutuskan untuk menghapuskan mereka dari muka bumi ini. Sekarang mulailah perang melawan umat Allah di rumah mereka dipegunungan. Para pemeriksa mulai bekerja, maka terulanglah pembantaian orang-orang yang tidak bersalah, seperti Habil yang tidak bersalah dahulu itu di bantai oleh Kain, si pembunuh.

Lagi-lagi tanah mereka yang subur diterlantarkan, tempat tinggal dan rumah kebaktian mereka di sapu bersih, sehingga yang pada suatu waktu adalah ladang-ladang subur dan rumah orang-orang yang tidak bersalah dan rajin, sekarang yang tinggal hanyalah kegersangan. Sebagaimana binatang buas semakin buas setelah menghisap darah, demikianlah amukan orang-orang kepausan dinyalakan semakin besar oleh penderitaan korban mereka. Banyak dari saksi-saksi ini oleh karena iman mereka di kejar-kejar ke gunung-gunung, di buru sampai ke lembah-lembah dimana mereka bersembunyi, yang ditutupi oleh hutan lebat dan batu-batu besar.

Tidak ada celaan moral yang bisa dituduhkan kepada kelompok yang diharamkan ini. Musuh-musuhnya sendiri menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang suka damai, tenang dan saleh. Kesalahan besar mereka adalah bahwa mereka tidak mau berbakti kepada Allah seperti yang dikehendaki oleh paus. Untuk kejahatan ini maka ditimpakanlah kepada mereka segala cemoohan dan hinaan dan siksaan yang dapat diciptakan oleh manusia atau Setan.

Bilamana Roma pada suatu waktu memutuskan untuk memusnahkan sekte yang di benci ini, satu surat perintah dikeluarkan oleh paus, yang mengutuk mereka sebagai orang-orang murtad, dan mengirim mereka ke pembantaian. (lihat Lampiran). Mereka tidak di tuduh sebagai orang-orang yang malas atau yang tidak jujur, atau orang yang mengacau, tetapi telah dinyatakan bahwa mereka tampak sebagai orang saleh yang kudus yang menggoda "domba yang benar." Oleh sebab itu paus memerintahkan agar "sekte yang jahat dan menjijikkan yang berbahaya itu" jika mereka "menolak untuk meninggalkan keyakinannya, maka akan dihancurkan sebagai ular berbisa." -- Wylie, b. 16, ch. 1. Apakah penguasa yang sombong ini mengharapkan akan bertemu kembali dengan kata-kata itu? Apakah ia tahu bahwa kata-kata itu telah di catat di buku surga, untuk menghadapinya pada pengadilan surga kelak? "Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini," kata Yesus, "kamu telah melakukannya untuk Aku" ( Matius 25:40).


Surat perintah itu memanggil semua anggota jemaat untuk bergabung memerangi orang-orang bida'ah, yang murtad itu. Sebagai perangsang untuk mengambil bagian dalam pekerjaan kejam ini, seseorang akan "dibebaskan dari segala beban dan hukuman, baik secara umum atau khusus. Mereka yang ikut berperang akan dibebaskan dari setiap sumpah yang telah diucapkan. Akan disahkan haknya atas harta yang sebelumnya mungkin diperoleh dengan tidak sah, dan memperoleh pengampunan dosa, jika mereka harus membunuh orang-orang murtad atau bida'ah itu. Perintah itu juga membatalkan semua kontrak dengan orang-orang Vaudois, dan memerintahkan untuk meninggalkan rumah mereka serta melarang semua orang untuk membantu mereka dalam hal apapun. Dan memberi kuasa kepada semua orang untuk mengambil harta milik mereka." -- Wylie, b. 16, ch. 1. Dokumen ini dengan jelas menyatakan siapa yang menjadi dalangnya. Itu adalah auman suara gemuruh naga itu, bukan suara Kristus yang terdengar di situ.

Para pemimpin kepausan tidak akan menyesuaikan tabiat mereka dengan standar hukum Allah, tetapi mendirikan satu standar yang sesuai dengan kehendak mereka, dan memutuskan memaksa semua menyesuaikan diri dengan standar ini, sebab Roma menghendaki demikian. Tragedi yang paling mengerikan telah berlaku. Imam-imam yang bejat dan penuh dengan hujat, bersama-sama dengan paus telah melakukan pekerjaan yang di suruh oleh Setan mereka lakukan. Belas kasihan tidak ada lagi pada diri mereka. Roh yang sama yang menyalibkan Kristus dan yang membunuh para rasul, roh yang sama yang menggerakkan kaisar Nero yang haus darah menimpa orang-orang yang setia pada zamannya, itulah yang bekerja untuk menumpas kekasih-kekasih Allah dari dunia ini.

Penganiayaan yang menimpa orang-orang yang takut kepada Allah selama beberapa abad telah mereka tanggung dengan kesabaran dan ketetapan hati yang memuliakan Penebus mereka. Walaupun ada perang yang dilancarkan terhadap mereka, dan pembantaian yang tidak berperikemanusiaan yang ditujukan kepada mereka, mereka terus mengirim misionaris untuk menyebarkan kebenaran yang berharga itu. Mereka di buru-buru untuk di bunuh, namun darah mereka menyirami biji-biji kebenaran yang ditaburkan, dan biji-biji kebenaran itu tidak gagal untuk mengeluarkan buah-buah. Demikianlah orang-orang Waldenses bersaksi bagi Allah, berabad-abad sebelum kelahiran Martin Luther. Tercerai berai di berbagai negeri, mereka menaburkan bibit Reformasi yang mulai pada zamannya Wycliffe, yang bertumbuh meluas dan mendalam pada masa Martin Luther, dan akan diteruskan sampai akhir zaman oleh mereka yang juga besedia menderita segala sesuatu "oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus" (Wahyu 1:9).


JOHN WYCLIFFE

~5~
JOHN WYCLIFFE

 

Sebelum Reformasi, pada suatu waktu hanya ada sedikit sekali Alkitab. Tetapi Allah tidak membiarkan firman-Nya sama sekali dilenyapkan. Kebenaran firman itu tidak akan selamanya disembunyikan. Allah dengan mudah dapat melepaskan rantai firman kehidupan itu, seperti Ia membuka pintu-pintu dan gerbang-gerbang besi untuk membebaskan hamba-hamba-Nya. Diberbagai negara di Eropah, Roh Allah telah menggerakkan orang-orang untuk mencari kebenaran seperti mencari harta yang terpendam. Dengan tuntunan ilahi mereka mempelajari lembaran-lembaran Alkitab dengan minat yang sungguh-sungguh. Mereka bersedia menerima terang itu apapun akibatnya bagi mereka. Walaupun mereka tidak bisa melihat segala sesuatu dengan jelas, mereka telah disanggupkan untuk menyadari adanya kebenaran yang telah lama tersembunyi dan terpendam. Sebagai pesuruh-pesuruh atau jurukabar-jurukabar yang di kirim Surga, mereka bangkit mematahkan mata rantai kesalahan dan ketakhyulan, dan memanggil mereka-mereka yang telah lama diperbudak untuk bangkit dan menyatakan kemerdekaannya.

Kecuali di antara orang-orang Waldenses, firman Allah selama berabad-abad tertutup dalam bahasa yang hanya diketahui oleh orang-orang yang terpelajar saja. Tetapi watunya telah tiba bagi Alkitab untuk diterjemahkan dan diberikan kepada orang-orang di berbagai negeri dalam bahasa mereka sendiri. Dunia telah melewati tengah malamnya. Saat-saat kegelapan telah berlalu, dan di berbagai negeri telah terlihat tanda-tanda fajar menyingsing.

Pada abad ke empat belas, telah terbit di Inggeris "bintang fajar Reformasi." John Wycliffe telah mengumumkan sebuah pembaharuan, bukan saja bagi Inggeris, tetapi juga bagi dunia Kristen. Protes besar terhadap Roma yang pernah diizinan ia ucapkan, tidak akan pernah bisa didiamkan. Protes itu membuka perjuangan yang mengakibatkan pembebasan individu, gereja-gereja dan bangsa-bangsa.

Wycliffe menerima pendidikan bebas, dan baginya takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat. Ia menonjol di perguruan tinggi dalam hal semangat kesalehan, dan demikian juga dalam bakat yang luar biasa serta ilmu pengetahuan yang luas. Dalam kehausannya akan ilmu pegetahuan ia berusaha untuk mengetahui setiap cabang ilmu pengetahuan. Ia di didik dalam ilmu filsafat, peraturan-peraturan gereja, dan hukum-hukum sipil, terutama yang berlaku dinegaranya. Nilai-nilai dari pendidikannya ini nyata benar dalam tugas-tugasnya dikemudian hari. Pemahaman yang mendalam mengenai filsafat spekulatif pada zamannya menyanggupkannya untuk menyatakan kesalahan. Dan dengan mempelajari hukum nasional dan kependetaan, ia telah disanggupkan untuk terjun dalam perjuangan hak-hak sipil dan kebebasan beragama. Sementara ia dapat menggunakan senjata yang di ambil dari firman Allah, ia telah memperoleh disiplin intelektual sekolah-sekolah, dan ia mengerti taktik para pengajar di sekolah-sekolah itu. Kuasa dari kecerdasannya dan luasnya serta terperincinya pengetahuanya mengundang rasa hormat dari baik teman maupun lawan. Pengikut-pengikutnya merasa puas bahwa pemimpin mereka menonjol di antara para cerdik pandai di negaranya. Dan musuh-musuhnya tidak bisa mencela dan mencemoohkan penyebab timbulnya reformasi dengan mengungkapkan kebodohan atau kelemahan para pendukungnya.

Pada waktu Wycliffe masih di perguruan tinggi, ia sudah mempelajari Alkitab. Pada mas itu, pada waktu Alkitab hanya ada dalam bahasa kuno, para mahasiswa telah mampu mendapatkan jalan kepada mata air kebenaran itu, yang tertutup kepada orang-orang yang tidak berpendidikan. Dengan demikian jalan telah dipersiapkan bagi pekerjaan Wycliffe dikemudian hari sebagai Reformer (Pembaharu). Kaum terpelajar telah mempelajari firman Allah, dan telah menemukan kebenaran besar rakhmat-Nya yang dinyatakan di situ. Dalam pengajarannya, mereka telah menyebarkan pengetahuan kebenaran ini, dan telah menuntun orang-orang lain berbalik kepada Firman Allah Yang hidup.

Pada waktu perhatian Wycliffe ditujukan kepada Alkitab, ia menyelidikinya dengan seksama seperti yang ia lakukan untuk menguasai ilmu pengetahuan di sekolah. Sampai sejauh ini ia telah merasakan kebutuhan besar, yang tidak bisa dipenuhi baik oleh pendidikannya yang tinggi maupun oleh pengajaran gereja. Di dalam firman Allah ia menemukan apa yang sebelumnya ia cari dengan sia-sia. Disini ia melihat rencana keselamatan dinyatakan, dan Kristus ditetapkan sebagai satu-satunya pembela bagi manusia. Ia menyerahkan dirinya menjadi pelayan bagi Kristus, dan memutuskan untuk mengumumkan kebenaran yang telah ia temukan.


Seperti pembaharu yang lain yang berikut, Wycliffe tidak melihat kemana arah perjuangan itu pada permulaannya. Ia tidak menempatkan dirinya sama sekali oposisi terhadap Roma. Tetapi pengabdiannya kepada kebenaran terpaksa membuat ia melawan kepalsuan. Semakin jelas ia melihat kesalahan kepausan, semaki bersungguh-sungguh ia menyatakan pengajaran Alkitab. Ia melihat bahwa Roma telah melupakan firman Allah dan menggantikannya dengan tradisi manusia. Tanpa gentar ia menuduh keimamatan telah menghapuskan Alkitab, dan menuntut agar Alkitab dikembalikan kepada orang-orang, dan agar wewenangnya kembali ditetapkan di dalam gereja. Ia adalah seorang guru yang berkemampuan dan sungguh-sungguh, dan seorang pengkhotbah yang fasih berbicara. Dan kehidupannya setiap hari adalah peragaan kebenaran yang dikhotbahkannya. Pengetahuan Alkitabnya, kuasa pertimbangannya, kesucian kehidupannya, dan keberanian serta kejujurannya yang tak terbengkokkan, memberikan kepadanya penghargaan dan kepercayaan orang banyak. Banyak dari antara orang-orang yang tidak merasa puas lagi dengan kepercayaannya yang sebelumnya, pada waktu mereka melihat kejahatan yang merajalela di dalam Gereja Roma, lalu menyambut dengan sukacita yang tak tersembunyikan kebenaran yang ditunjukkan oleh Wycliffe. Tetapi para pemimpin kepausan sangat marah pada waktu mereka mengetahui bahwa Pembaharu ini telah memperoleh pengaruh yang lebih besar dari mereka. Wycliffe adalah seorang penemu kesalahan yang tajam, dan tanpa takut-takut ia melawan hukuman-hukuman yang keterlaluan yang dilakukan oleh penguasa Roma. Pada waktu ia menjabat sebagai pendeta bagi kerajaan, ia dengan berani menentang pembayaran upeti yang di tuntut oleh paus dari raja Inggeris, dan menunjukkan bahwa penggunaan kekuasaan negara bertentangan dengan akal sehat maupun wahyu. Tuntutan paus itu telah menimbulkan kemarahan, dan pengajaran Wycliffe membawa pengaruh kepada cerdik cendekiawan negara itu. Raja dan para bangsawan bersatu untuk melawan tuntutan paus kepada penguasa kerajaan, dan menolak membayar upeti kepada paus. Dengan demikian pukulan hebat melawan supremasi kepausan telah di mulai di Inggeris.

Kejahatan lain yang sudah lama ditentang dan diperangi oleh Pembaharu ialah pembentukan ordo biarawan peminta-minta sedekah. Biarawan pengemis ini banyak di Inggeris, yang membawa kesan buruk bagi kebesaran dan kemakmuran negara. Industri, pendidikan, moral, semua merasakan pengaruh yang memalukan itu. Kehidupan biarawan yang bermalas-malas dan meminta-minta bukan saja menghabiskan sumberdaya dari orang-orang, tetapi juga membuat pekerjaan yang berguna menjadi terhina. Para pemuda mengalami penurunan moral dan bejat. Oleh pengaruh para biarawan ini banyak mereka terbujuk untuk measuki biara dan membaktikan hidupnya pada kehidupan biarawan. Hal ini bukan saja tidak dengan seizin orang tua, tetapi bahkan tanpa sepengetahuan mereka, dan bertentangan dengan perintah mereka. Salah seorang Paderi mula-mula Gereja Roma mengatakan bahwa tuntutan kebiarawan melebihi kewajiban kepatuhan dan cinta serta kewajiban keluarga, berkata : "Meskipun ayahmu tergeletak di pintu rumahmu menangis dan merengek, dan ibumu harus menunjukkan tubuhnya yang melahirkan engkau dan payudaranya yang menyusui engkau, injaklah mereka dan berjalanlah lurus mendapatkan Kristus." Dengan "monster yang tidak berperikemanusiaan ini," sebagaimana Luther menggambarkannya kemudian, "melebihi keganasan serigala dan kelaliman daripada orang Kristen dan manusia," demikianlah hati anak-anak dikeraskan melawan orang tua mereka. -- Sears, Barnes, "Life of Luther," pp. 70,69. Itulah yang dilakukan para pemimpin kepausan, seperti orang Farisi pada zaman dahulu, membuat hukum Allah tidak berguna digantikan oleh tradisi mereka. Rumah-rumah telah menjadi sunyi, dan para orang tua kehilangan anak laki-laki dan perempuan mereka.


Para mahasiswa di perguruan tinggipun telah tertipu oleh pernyataan palsu para biarawan, dan bujukan untuk bergabung dengan orde mereka Banyak dari antara mereka yang kemudian berbalik, karena melihat bahwa mereka telah merendahkan kehidupan mereka, dan telah menyebabkan orang tua mereka berdukacita. Tetapi sekali telah kokoh terjerat, tidak mungkin bagi mereka untuk membebaskan diri lagi. Banyak orang tua menolak mengirim anak mereka ke universitas karena takut terpengaruh para biarawan. Ada penurunan tajam mahasiswa yang memasuki pusat-pusat pendidikan yang besar. Akibatnya sekolah-sekolah menderita, dan kebodohanpun merajalela. Paus telah memberikan kepada para biarawan ini kuasa untuk mendengarkan pengakuan dan memberikan pengampunan. Ini menjadi sumber kejahatan besar. Cenderung untuk meningkatkan pendapatan mereka, para biarawan bersedia memberikan pengampunan dosa kepada para penjahat dari segala jenis yang meminta pertolongan kepada mereka. Dan sebagai akibatnya, kejahatan yang paling burukpun bertambah dengan cepat. Orang sakit dan orang miskin dibiarkan menderita, sementara pemberian yang seharusnya meringankan kebutuhan mereka diberikan kepada para biarawan, yang dengan ancaman meminta sedekah orang-orang, melaporkan rasa tidak hormat orang-orang yang menahan pemberian bagi ordo mereka. Walaupun profesi biarawan sebagai profesi miskin, kekayaan para biarawan terus bertambah dan bangunan mereka yang megah dan meja makan mereka yang mewah membuat kemiskinan bangsa itu semakin nyata. Dan sementara menikmati kemewahan dan kepelesiran, mereka mengutus orang-orang bodoh yang hanya bisa memberikan cerita-cerita dongeng, cerita-cerita kuno dan sendagurau untuk menghibur rakyat dan membuat mereka benar-benar korban penipuan para biarawan. Para biarawan terus menguasai masyarakat banyak yang berpegang pada ketakhyulan, dan menuntun mereka mempercayai bahwa kewajiban keagamaan adalah terdiri dari mengakui supremasi paus, memuja orang-orang kudusnya, dan memberikan pemberian kepada para biarawan; dan dengan melakukan hal-hal itu sudah cukup untuk mendapatkan suatu tempat di surga. Kaum cendekiawan dan orang-orang saleh telah bekerja dengan sia-sia untuk melakukan suatu pembaharuan pada ordo biarawan ini. Tetapi Wycliffe, dengan pandangan yang lebih jelas, menghantam pada akar kejahatan itu, dengan mengatakan bahwa sistem itu sendiri adalah salah, dan oleh sebab itu harus dihapuskan. Timbullah perbincangan dan pertanyaan. Sementara biarawan-biarawan itu menjelajahi negeri untuk menjual surat pengampunan paus, banyak yang sangsi mengenai kemungkinan membeli pengampunan dengan uang. Mereka heran mengapa tidak mencari pengampunan dari Allah gantinya dari paus Roma. (lihat Lampiran). Banyak yang sudah sadar mengenai ketamakan para biarawan, yang kerakusannya tampaknya tidak terpuaskan. "Para biarawan dan imam-imam Roma," kata mereka, "telah menggerogoti kita seperti penyakit kanker. Allah mesti melepaskan kita, kalau tidak orang-orang akan binasa." -- D'Aubigne, b. 17, ch. 7. Untuk menutupi ketamakan mereka, para biarawan peminta-minta ini mengatakan bahwa mereka mengikuti teladan Juru Selamat. Mereka mengatakan bahwa Yesus dengan murid-murid-Nya telah di dukung oleh sumbangan derma orang-orang. Pernyataan ini merusak usaha mereka sendiri, karena dengan demikian banyaklah orang di tuntun kepada Alkitab untuk mempelajari kebenaran -- suatu akibat yang paling tidak disukai Roma. Pikiran manusia tidak diarahkan kepada Sumber kebenaran, yang selama ini dengan sengaja ditutupi.

Wycliffe mulai menulis dan menyiarkan selebaran menentang para biarawan, namun ia berusaha untuk tidak menimbulkan perselisihan dengan mereka sementara ia menarik perhatian orang-orang kepada pengajaran Alkitab dan Pengarangnya. Ia menyatakan bahwa kuasa pengampunan atau pengucilan yang dimiliki oleh paus tidaklah lebih besar derajatnya dari yang dimiliki oleh imam-imam biasa, dan bahwa tak seorangpun benar-benar dikucilkan kecuali sebelumnya ia telah mendapat hukuman dari Allah. Tidak ada cara yang lebih berhasil yang dapat dilakukan untuk menggulingkan dominasi raksasa kerohanian dan duniawi yang telah didirikan oleh paus, dimana badan dan jiwa berjuta-juta orang di tawan.

Sekali lagi Wycliffe dipanggil untuk mempertahankan hak-hak kerajaan Inggeris melawan pelanggaran-pelanggaran Roma. Dan karena ia di angkat menjadi duta kerajaan Inggeris, ia tinggal dua tahun di Negeri Belanda untuk bermusyawarah dengan pejabat-pejabat tinggi (komisaris) paus. Disini ia berkesempatan berkomunikasi dengan pendeta-pendeta dari Perancis, Italia dan Spanyol, dan berkesempatan melihat ke balik layar, dan memperoleh pengetahuan tentang berbagai hal yang selama ini tersembunyi baginya di Inggeris. Ia banyak mempelajari hal-hal yang kelak berguna bagi pekerjaannya di kemudian hari. Dari para utusan istana kepausan, ia mengerti sifat dan tujuan yang sebenarnya hirarki. Ia kembali ke Inggeris untuk mengulangi pengajaran-pengajarannya yang sebelumnya dengan cara yang lebih terbuka dan dengan semangat yang lebih besar. Ia mengatakan bahwa ketamakan, kesombongan dan penipuan adalah ilah-ilah Roma.

Dalam salah satu selebarannya tentang paus dan para pengumpul uang, ia berkata, "Mereka mengeruk uang dari negeri kita, dari mata pencaharian orang-orang kita yang miskin, ribuan banyaknya setiap tahun, dan uang raja untuk upacara-upacara suci dan hal-hal kerohanian. Tindakan adalah tindakan terkutuk, yang membuat semua dunia Kristen menyetujui dan melaksanakan penyimpangan atau bida'ah ini. Dan tentu saja, walaupun negara kita mempunyai gunung emas yang besar, kalau terus-menerus uang di ambil oleh pengumpul uang imam yang sombong ini, lama kelamaan gunung emas itu akan habis juga. Paus selalu mengambil uang dari negeri kita, tetapi tidak ada yang di kirim kepada kita selain kutukan Allah atas ketamakan terkutuk itu." -- Lewis, Rev. John, "History of the Life and Suffering of J. Wycliffe," p. 37 (ed. 1820).

Seger setelah ia kembali ke Inggeris, Wycliffe ditugaskan oleh raja di tempat pendeta-pendeta di Lutterworth. Penugasan ini memastikan bahwa raja paling sedikit tidak digusari oleh pernyataannya yang terus terang itu. Pengaruh Wycliffe terasa di dalam menentukan tindakan istana serta di dalam membentuk kepercayaan bangsa.

Tak lama kemudian geledek kepausanpun menyambarnya. Ada tiga surat perintah dikirimkan ke Inggeris -- ke universitas, kepada raja, dan kepada pejabat-pejabat gereja -- semuanya memerintahkan untuk segera mengambil segala tindakan mendiamkan guru bida'ah atau yang menyimpang itu. (lihat Lampiran). -- Neander, "History of Christian Religion and Church," period 6, sec. 2, part 1, para. 8. Namun, sebelum surat perintah itu tiba, para uskup, dengan bersemangat, telah memanggil Wycliffe untuk diperiksa. Tetapi dua orang putra mahkota yang paling berkuasa di kerajaan itu mendampinginya di pengadilan. Dan massa yang mengelilingi gedung pengadilan menerobos emasuki gedung, sehingga mengintimidasi para hakim. Akhirnya sidang pada waktu itu di tunda, dan Wycliffe diizinkan pergi dengan aman. Tidak berapa lama kemudian, Edward III, yang pada masa tuanya di minta oleh para pejabat tinggi gereja untuk mempengaruhi Pembaharu itu, meninggal dunia, dan bekas pelindung Wycliffe menjadi wali raja kerajaan.

Akan tetapi dengan tibanya surat perintah itu berlakulah untuk seluruh Inggeris suatu perintah yang harus dituruti, untuk menangkap dan memenjarakan para bida'ah. Tindakan ini menunjuk langsung kepada pertaruhan. Nampaknya Wycliffe pasti segera akan menjadi korban pembalasan Roma. Tetapi Ia yang pernah berkata kepada seseorang pada zaman dahulu, "Jangan takut, . . . Akulah perisaimu" (Kejadian 15:1), sekali lagi merentangkan tangan-Nya untuk melindungi hamba-Nya. Kematian datang bukan kepada Pembaharu, tetapi kepada paus yang telah mengelurkan dekrit untuk membinasakannya. Paus Gregory XI meninggal dan para pendeta yang berkumpul untuk memeriksa Wycliffe dibubarkan.


Pemeliharaan Allah lebih jauh masih mengendalikan kejadian-kejadian untuk memberikan kesempatan bagi pertumbuhan Reformasi. Kematian Paus Gregory dilanjutkan dengan pemilihan dua orang calon paus yang saling bersaing. Dua penguasa yang bersaing itu, yang masing-masing mengatakan bahw ia tidak dapat salah (mutlak), sekarang menuntut penurutan. (lihat Lampiran). Setiap paus memanggil pengikut-pengikutnya yang setia untuk membantu memerangi yang lain. Ia memaksakan kemauannya dengan para pendukungnya. Kejadian ini sangat melemahkan kekuasaan kepausan. Faksi-faksi yang bersaing melakukan segala apa yang bisa dilakukannya untuk saling menyerang satu sama lain, dan untuk sementara Wycliffe bisa beristirahat. Kutukan dan tuduhan balasan telah dilayangan seorang paus kepada paus yang lain, dan banjir darah tercurah untuk mendukung tuntutan persengketaan mereka. Kejahatan dan skandal membanjiri gereja. Sementara itu Pembaharu, di tempat pengasingannya yang tenang di paroki Lutterworth, telah bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menuntun orang-orang dari paus-paus yang bersaing kepada Yesus, Putra Raja Damai itu.

Perpecahan, dengan segala percekcokan dan kebejatan yang disebabkannya, telah menyiapkan jalan bagi Reformasi, oleh berkesempatannya orang-orang melihat apa sebenarnya paus itu. Dalam salah satu selebaran yang diterbitkannya, "On the Schism of the Pope," (Perpecahan Paus), Wycliffe menghimbau orang-orang untuk mempertimbangkan apakah ke dua imam calon paus itu tidak mengatakan kebenaran dalam saling menuduh sebagai antikritsus. "Allah," katanya, "tidak akan membiarkan Setan memerintah salah satu dari antara imam-imam itu, tetapi . . . membuat perpecahan di antara keduanya supaya manusia lebih mudah mengalahkan keduanya di dalam nama Krs=istus." -- Vaughan, R., "Life and Opinions of John de Wycliffe," Vo. II, p.6 (ed.1831).

Wycliffe, seperti Tuhannya, mengkhotbahkan Injil kepada orang miskin. Ia tidak merasa puas menyebarkan terang hanya di rumah-rumah yang sederhana diparokinya di Lutterworth. Ia memutuskan bahwa terang itu harus di bawa ke seluruh bagian Inggeris. Untuk mencapai maksudnya ini ia mengorganisasikan suatu badan pengkhotbah yang sederhana, orang-orang yang saleh, yang mencintai kebenaran dan tidak ada yang lebih diinginkan selain meluaskan kebenaran itu. Orang-orang ini pergi kemana-mana, mengajar di pasar-pasar, di jalan-jalan kota, dijalan-jalan kota kota besar, dan di lorong-lorong desa-desa. Mereka mencari orang-orang yang sudah lanjut usia, orang-orang sakit, dan orang-orang miskin, dan membukakan kepada mereka kabar kesukaan rakhmat Allah.

Sebagai seorang profesor teologi di Universitas Oxford, Wycliffe mengkhotbahkan firman Allah di ruangan-ruangan univesitas. Dengan begitu setia ia menyatakan kebenaran itu kepada para mahasiswa yang di bawah asuhannya, sehingga ia menerima gelar "Doktor Kabar Injil." Tetapi karya terbesarnya selama hidupnya ialah penerjemahan Alkitab ke dalam Bahasa Inggeris. Dalam salah satu karyanya, "On the Truth and Meaning of the Scripture," ia mengatakan rencananya untuk menerjemahkan Alkitab, agar setiap orang di Inggeris boleh membaca perbuatan ajaib Allah dalam bahasanya sendiri.

Akan tetapi, tiba-tiba pekerjaanya itu dihentikan. Walaupun ia belum berusia enam puluh tahun, pekerjaannya yang tak habis-habisnya, belajar keras, dan siksaan dari musuh-musuhnya telah mempengaruhi kekuatannya, yang membuatnya lekas tua. Ia terserang penyakit yang berbahaya. Berita itu membawa sukacita kepada para biarawan. Sekarang mereka pikir ia akan bertobat dengan sungguh-sungguh dari kejahatan yang ia telah lakkukan kepada gereja. Mereka segera ke kamar penngampunan dosa untuk mendengar pengakuannya. Wakil-wakil dari empat ordo keagamaan ditambah dengan empat orang pejabat-pejabat sipil berkumpul sekeliling orang yang sudah sekarat itu. "Maut segara akan menjemputmu," kata mereka, "sadarilah akan kesalahanmu dan tariklah dihadapan kami semua yang telah engkau katakan yang melukai kami." Sang Pembaharu itu mendengarkan dengan diam. Kemudian ia meminta pembantunya untuk meninggukan dia di tempat tidur, lalu memandang dengan tenang mereka yang sedang berdiri menunggu penarikan kembali pernyataannya itu. Lalu ia berkata dengan suara yang keras dan teguh yang telah membuat mereka sering gemetar, "Saya tidak akan mati, tetapi akan tetap hidup, dan kembali akan menyatakan perbuatan jahat para biarawan." -- D'Aubigne, b. 17, ch. 7. Terkejut dan malu, para biarawan itu bergegas meninggalkan kamar itu.

Kata-kata Wycliffe itu telah digenapi. Ia hidup untuk memberikan senjata paling ampuh melawan Roma di tangan orang-orang sebangsanya -- memberikan Alkitab kepada mereka, alat yang di tunjuk Surga untuk membebaskan, menerangi dan mengevangelisasi orang-orang. Ada banyak hambatan besar yang harus diatasi untuk mewujudkan pekerjaan ini. Wycliffe telah dibebani dengan kelemahan dan penyakit karena lanjut usia. Ia menyadari bahwa waktunya tinggal beberapa tahun lagi baginya untuk bekerja. Ia melihat tantangan yang harus ia hadapai, tetapi dikuatkan oleh janji-janji firman Allah, ia maju terus tanpa gentar. Di dalam kekuatan penuh kuasa intelektualnya yang kaya pengalaman, ia telah dipelihara dan dipersiapkan oleh pemeliharaan khusus Tuhan untuk tugas ini, tugasnya yang paling besar. Sementara semua dunia Kristen telah dipenuhi oleh kekacauan dan huruhara, Pembaharu itu di rumah parokinya di Lutterworth, tanpa memperdulikan badai yang menimpa, melakukan pekerjaan pilihannya.

Akhirnya pekerjaan itupun selesai -- Alkitab terjemahan Bahasa Inggeris pertama yang pernah di buat. Firman Allah telah dibukakan ke Inggeris. Pembaharu itu sekarang tidak lagi dipenjarakan atau di gantung. Ia telah menempatkan terang yang tidak dapat dipadamkan itu di tangan orang-orang Inggeris. Di dalam ia memberikan Alkitab itu kepada orang sebangsanya, ia telah melakukan sesuatu yang lebih besar dalam memutuskan belenggu kebodohan dan kebiasaan buruk, untuk memerdekakan dan mengangkat negaranya lebih banyak daripada apa yang pernah diperoleh dari kemenangan yang paling brilian di medan perang.


Seni cetak mencetak pada waktu itu belum diketahui orang. Hanya dengan usaha yang melelahkan dan lambat bagian dari Alkitab itu dapat digandakan. Begitu besar minat orang-orang untuk mempuyai buku itu, sehingga banyak orang yang bersedia untuk menyalinnya. Tetapi hanya dengan susah payah para penyalin bisa memenuhi kebutuhan. Beberapa pembeli yang lebih kaya ingin membeli Alkitab secara lengkap. Yang lain-lain hanya membeli sebagian-sebagian. Dalam beberapa kasus, beberapa keluarga bersatu untuk membeli satu Alkitab. Dengan demikian, Alkitab Wycliffe segera bisa ditemukan di rumah-rumah penduduk.

Himbauan kepada orang-orang untuk berpikir dan menggunakan pertimbangannya membangkitakan mereka dari penyerahan pasif mereka kepada dogma-dogma kepausan. Sekarang Wycliffe mengajarkan doktrin khas aliran Protestan -- keselamatan oleh iman di dalam Kristus, dan kemutlakan Alkitab. Para pengkhotbah yang dikirimnya, membagi-bagikan Alkitab itu bersama-sama dengan tulisan-tulisan Pembaharu itu. Pekerjaan ini memperoleh kemajuan sehingga iman yang baru ini telah diterima oleh hampir separuh orangInggeris.

Munculnya Alkitab membawa ketakutan bagi penguasa-penguasa gereja. Sekarang mereka harus menghadapi suatu alat yang lebih ampuh dari Wycliffe -- suatu alat yang mereka tidak dapat lawan dengan alat mereka. Pada waktu itu tidak ada undang-undang di Inggeris yang melarang Alkitab, karena sebelumnya belum pernah ada diterbitkan dalam bahasa Inggeris. Undang-undang seperti itu baru kemudian diberlakukan dan dipaksakan dengan keras. Sementara itu, walaupun para imam berusaha membendung peredaran Alkitab, ada satu masa kesempatan firman Allah itu tetap beredar.

Sekali lagi para pemimpin kepausan merencanakan untuk membungkam suara Pembaharu itu. Ia telah diperiksa di depan pengadilan sebanyak tiga kali, tetapi tanpa hasil. Mula-mula sinode para uskup menyatakan tulisannya sebagai yang menyimpang, bida'ah. Dan setelah mempengaruhi raja muda Richard II memihak kepada mereka, mereka memperoleh dekrit raja untuk memenjarakan semua orang yang berpegang pada ajaran-ajaran yang di larang itu.

Wycliffe naik banding dari sinode ke Parlemen. Tanpa takut sedikitpun, ia menjawab semua tuduhan hirarki dihadapan musyawarah nasional, dan menuntut suatu pembaharuan terhadap banyaknya penyalah-gunaan yang dilakukan oleh gereja. Dengan kuasa yang menyakinkan ia menggambarkan perampasan dan kebejatan moral kepausan. musuh-musuhnya menjadi bingung. Teman-teman dan para pendukung Wycliffe telah dipaksa untuk menyerah. Dan sangat diharapkan agar Pembaharu itu nanti pada hari tuanya, pada waktu kesepian tanpa teman, akan tunduk kepada kuasa gabungan kerajaan dan gereja. Tetapi sebaliknya, para pemimpin kepausan melihat mereka telah dikalahkan. Parlemen yang dibangkitkan oleh himbauan yang merangsang dari Wycliffe, mencabut surat perintah untuk menyiksa, dan sekali lagi Pembaharu itu dibebaskan.

Untuk ketiga kalinya ia dihadapkan ke pengadilan untuk di periksa, dan sekarang di pengadilan tinggi gereja kerajaan itu. Disini tidak akan ada toleansi terhadap bida'ah atau penyimpangan ajaran. Pada akhirnya Roma disini akan menang, dan pekerjaan Pembaharu itu akan dihentikan. Demikianlah pendapat para pemimpin kepausan. Jika mereka dapat mencapai tujuannya, Wycliffe akan dipaksa bersumpah untuk meninggalkan ajaran-ajarannya atau ia akan di bakar hidup-hidup.

Akan tetapi Wycliffe tidak mundur, ia tidak akan berpura-pura. Tanpa takut ia mempertahankan ajaran-ajarannya dan menolak semua tuduhan penuntutnya. Tanpa memperdulikan kepentingan dirinya, kedudukannya, keadaan dan suasana sekitarnya, ia mengajak semua pendengar-pendengarnya untuk menghadap pengadilan ilahi, dan menimbang kepura-puraan dan penipuan mereka dengan timbangan kebenaran abad itu. Kuasa Roh Kudus dapat dirasakan di dalam ruangan pengadilan itu. Daya tarik Allah memenuhi para pendengar. Tampaknya mereka tak kuasa meninggalkan tempat itu. Seperti anak panah Allah, kata-kata Pembaharu itu menusuk hati mereka. Tuduhan penyimpangan atau bida'ah yang mereka lontarkan kepadanya, dia lemparkan kembali kepada mereka dengan kuasa yang menyakinkan. Mengapa mereka berani menyebarkan kesalahan mereka? ia bertanya. Demi keundtungan, mereka memperdagangkan rakhmat Allah.

Akhirnya ia berkata, "Dengan siapakah pikirmu kamu sedang berhadapan? Dengan seorang tua yang sudah mau masuk liang kubur? Tidak! Dengan kebenaran -- kebenaran yang lebih kuat daripada kamu dan yang akan mengalahkanmu." -- Wylie, b. 2, ch. 13. Setelah selesai a berkata-kata demikian, ia meninggalkan sidang tanpa seorangpun daripada penuntutnya berani mencegah.


Pekerjaan Wycliffe sudah hampir selesai. Panji-panji kebenaran yang selama ini diembannya akan segera lepas dari tangannya, tetapi sekali lagi ia bersaksi demi kebenaran. Kebenaran itu akan dikabarkan justru dari benteng kerajaan kesalahan. Wycliffe telah dipanggil untuk diadili dihadapan pengadilan kepausan di Roma yang telah begitu sering menumpahkan darah para orang kudus. Ia sama sekali tidak menutup mata kepada bahaya yang mengancamnya, namun ia akan memenuhi panggilan itu kalau saja ia tidak lumpuh, sehingga tidak mungkin baginya mengadakan perjalanan. Akan tetapi meskipun suaranya tidak akan terdengar di Roma, ia akan berbicara melalui surat, dan ia telah menetapkan akan melakukannya. Dari tempat parokinya, Pembaharu itu menulis sebuah surat kepada paus yang penuh nada hormat dan roh Kekristenan. Surat ini menjadi kecaman pedas kepada kebesaran dan kesombongan kepausan.

"Sesungguhnya aku bersukacita," katanya, "membuka dan menyatakan kepada setiap orang iman yang aku pegang, dan teristimewa kepada uskup Roma. Karena sebagaimana aku mendengar bahwa iman itu kuat dan benar, ia akan mengukuhkan iman saya yang saya sebut itu, atau, kalaupun itu salah, aku akan tetap menyatakannya.

"Pertama-tama, saya kira bahwa Injil Kristus adalah keseluruhan hukum Allah . . . . Saya yakin dan percaya uskup Roma akan berpegang kepada Injil Kristus itu, sebab sebagai wakil Kristus di dunia ini, akan lebih terikat kepada hukum dan Injil itu daripada orang lain. Karena kebesaran bagi murid-murid Kristus tidak terdiri dari kehormatan atau kemuliaan dunia, tetapi pada dekatnya dan tepatnya mengikuti Kristus dalam hidupnya dan perbuatan . . . . Kristus, pada waktu pengembaraannya di dunia ini, adalah orang yang paling miskin, menolak dan membuangkan kehormatan dan kemuliaan dunia . . . .

"Tidak ada keharusan bagi seseorang yang setia untuk mengikuti paus atau salah seorang dari orang-orang kudus, sehingga dengan demikian ia di anggap telah mengikuti Tuhan Yesus Kristus. Karena Petrus dengan anak-anak Zebedeus telah dipersalahkan, karena menginginkan kemuliaan dunia, yang bertentangan dengan langkah-langkah mengikuti Kristus. Oleh sebab itu di dalam kesalahan-kesalahan tersebut mereka tidak boleh diikuti. . . .

"Paus harus memberikan kepada pemerintah semua kekuasaan dan pemerintahan. Dan disamping itu menggerakkan dan mendorong secara efektif semua para alim ulama (pendeta-pendeta), karena demikianlah dilakukan oleh Kristus, terutama oleh rasul-rasul-Nya. Oleh sebab itu, jika seandainya aku telah bersalah dalam sesuatu hal ini, dengan rendah hati aku akan menyerah untuk diperbaiki, bahkan di hukum mati bila perlu. Dan jikalau aku bekerja menurut kemauanku atau keinginanku sebagai pribadi, dengan pasti aku akan mempersembahkan diriku dihadapan uskup Roma. Tetapi sebaliknya, Tuhan telah berbicara kepadaku dan telah mengajarku bahwa lebih baik menuruti Allah daripada manusia."

Sebagai penutup ia berkata, "Marilah kita berdoa kepada Allah kita, agar Ia menggerakkan hati paus kita yang baru, Urban VI, agar ia dan para pastor-pastornya boleh mengikuti Tuhan Yesus Kristus dalam hidup dan perbuatannya. Dan agar mereka boleh mengajar orang-orang dengan efektif, dan agar demikian juga orang-orang itupun mengikuti mereka dengan setia." -- Foxe, Acts and Monuments" (edited by Rev. J. Pratt), Vol. III, pp. 49, 50.

Dengan demikian Wycliffe menyatakan kepada paus dan para kardinalnya kelembutan dan kerendahan hati Kristus, dan bukan hanya kepada mereka, tetapi kepada semua dunia Kristen, perbedaan antara mereka dan Tuhan yang mereka mengaku sebagai wakil-wakilnya.

Wycliffe sepenuhnya megharapkan agar kehidupannya adalah harga kesetiaannya. Raja, paus dan para uskup bersatu untuk membinasakannya, dan hampir pasti bahwa paling tidak dalam beberapa bulan mendatang ia akan di bawa ke tiang gantungan. Tetapi keberaniannya tidak goyah. "Mengapa kamu berkata mahkota mati syahid itu jauh?" katanya. "Khotbahkanlah Injil Kristus kepada para pejabat tinggi kepausan, dan mati syahid akan pasti menimpamu. Apa? Saya harus hidup dan berdiam diri? . . . Tidak akan pernah! Biarlah maut itu datang, saya menunggu kedatangannya." -- D'Aubigne, b. 17, ch. 8.

Tetapi pemeliharaan Allah masih melindungi hamba-Nya. Orang yang seumur hidupnya telah berdiri teguh mempertahankan kebenaran dalam bahaya sehari-hari kehidupannya, tidak akan menjadi korban kebencian musuh-musuh kebenaran itu. Wycliffe tidak pernah mencari perlindungan dirinya sendiri, tetapi Tuhanlah menjadi perlindungannya.

Dan sekarang, pada waktu musuh-musuhnya merasa pasti mengenai korbannya, tangan Allah memindahkannya jauh dari jangkauan mereka. Di gerejanya di Lutterworth, pada waktu ia hampir memulai perjamuan kudus, ia jatuh karena mendapat serangan kelumpuhan. Dan tidak berapa lama kemudian iapun meninggal dunia.

Allah telah menunjuk Wycliffe kepada pekerjaan-Nya. Ia telah menaruh firman kebenaran itu di dalam mulutnya, dan Ia menjaganya agar firman ini boleh sampai kepada orang-orang. Kehidupannya telah dilindungi dan kerjanya dilanjutkan sampai dasar fondasi telah diletakkan bagi pekerjaan besar pembaharuan (reformasi).

Wycliffe datang dari kekelaman Zaman Kegelapan. Belum ada seorangpun sebelum dia yang boleh ditirunya untuk membentuk sistem pembaharuannya. Dibesarkan seperti Yohanes Pembaptis untuk mengemban satu tugas, ia adalah pemberita era baru. Namun, dalam sistem kebenaran yang dinyatakannya ada kesatuan dan kesempurnaan yang tidak dilebihi oleh para Pembaharu yang mengikutinya kemudian, dan yang beberapa dari mereka tidak capai, bahkan pada seratus tahun kemudian. Begitu luas dan dalamnya fondasi itu diletakkan, begitu kuat dan benar kerangkanya sehingga tidak perlu di bangun kembali oleh mereka yang datang kemudian sesudah dia.


Pergerakan besar yang sudah diresmikan oleh Wycliffe, yaitu yang memerdekakan hati nurani dan ineligensia, yang membebaskan bangsa-bangsa yang sudah begitu lama dibelenggu oleh kekusaan Roma, bersumber dari dalam Alkitab. Dari sinilah sumber mata air berkat, yang telah mengalir sepanjang zaman sejak abad keempatbelas, seperti mata air kehidpuan. Wycliffe menerima Alkitab dengan iman yang mutlak, seperti diilhamkan oleh penyataan kehendak Allah, sebagai aturan iman dan praktek yang lengkap. Ia telah di didik untuk menganggap Gereja Roma sebagai penguasa ilahi yang mutlak dan menerima tanpa ragu-ragu kesucian pengajaran dan kebiasaan yang telah ditetapkan selama seribu tahun. Tetapi ia meninggalkan semua ini karena mendengarkan firman Allah yang suci. Firman inilah satu-satunya penguasa yang ia himbau agar diakui oleh semua orang. Sebagai gantinya gereja berbicara melalui paus, ia menyatakan satu-satunya penguasa yang benar adalah suara Allah yang berbicara melalui firman-Nya. Dan ia mengajarkan bukan saja Alkitab itu sebagai penyataan kehendak Allah yang sempurna, tetapi bahwa Roh Suci adalah penerjemah satu-satunya, dan bahwa setiap orang harus mempelajari tugas-tugas untuk diri sendiri, oleh mempelajari pengajaran firman itu. Dengan demikian ia membalikkan pikiran orang-orang dari paus dan Gereja Roma kepada firman Allah.

Wycliffe adalah salah seorang yang terbesar daripada Pembaharu. Ia telah disamai beberapa orang yang datang kemudian dalam hal luasnya intelek atau kecerdasannya, kejernihan pikirannya, keteguhannya dalam mempertahankan kebenaran, dan keberaniannya menjaga kebenaran itu. Kesucian kehidupan, kerajinan yang tidak mengenal lelah dalam belajar dan bekerja, integritas yang tidak bejat, dan kecintaan yang menyerupai Kristus serta kesetiaan dalam pelayanannya, menandai para Pembaharu yang mula-mula itu. Semua ini mereka punyai walaupun ada kegelapan intelektual dan kebejatan moral pada zaman dimana mereka hidup.

Tabiat Wycliffe adalah suatu kesaksian kepada kuasa mengajar dan mengobahkan dari Alkitab. Alkitablah yang membuat ia seperti ia ada sekarang. Usaha untuk meraih kebenaran agung, wahyu memberikan kesegaran dan kekuatan kepada pikiran. Ia memperluas pikiran, mempertajam pengertian dan mematangkan pertimbangan. Pelajaran Alkitab mempertinggi derajat pemikiran, perasaan, dan aspirasi yang tidak dapat diberikan oleh pelajaran lain. Ia memberikan stabilitas kepada maksud, kesabaran, keberanian dan kekuatan pikiran. Ia memperhalus tabiat, dan menyucikan jiwa. Mempelajari Alkitab dengan sungguh-sungguh dan dengan hikmat akan membawa pikiran si pelajar berhubungan langsung dengan pikiran yang tanpa batas itu, sehingga akan memberikan kepada dunia orang-orang yang mempunyai intelek yang lebih kuat dan lebih aktif serta prinsip yang lebih tinggi daripada yang bisa dihasilkan oleh pelatihan terbaik yang bisa diberikan oleh falsafah manusia. "Bila tersingkap," kata pemazmur, "firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang bodoh" (Mazmur 119:130). Doktrin atau ajaran-ajaran yang telah diajarkan oleh Wycliffe untuk sementara terus menyebar. Pengikut-pengikutnya yang di sebut orang-orang Wycliffe dan Lollards, tidak saja menjelajahi Inggeris, tetapi tersebar ke negeri-negeri lain membawakan pekabaran Injil. Sekarang meskipun pemimpin mereka telah tiada, para pengkhotbah bahkan bekerja lebih bersemangat daripada sebelumnya, dan orang-orang berduyun-duyun mendengarkan pengajaran mereka. Beberapa bangsawan dan bahkan ratu sendiri adalah di antara orang-orang yangbertobat. Di berbagai tempat terdapat perobahan yang nyata dalam tabiat orang-orang, dan lambang-lambang penyembahan berhala Romawi telah dibuangkan dari gereja-gereja. Tetapi topan penganiayaan yang tak berbelas kasihan segera menimpa mereka yang berani menerima Alkita sebagai penuntun mereka. Raja-raja Inggeris, yang ingin memeperkuat kekusaan mereka dengan memperoleh dukungan Roma, tidak segan-segan mengorbankan para Pembaharu itu. Untuk pertama kali dalam sejarah Inggeris, tiang gantungan diputuskan menjadi hukuman murid-murid Injil. Mati syahid diikuti mati syahid silih berganti. Penganjur-penganjur kebenaran diasingkan, di aniaya, dan hanya dapat mencurahkan jeritan mereka ke telinga Allah Zebaot. Di buru sebagai musuh gereja dan pengkhianat kerajaan. Mereka terus berkhotbah di tempat-tempat rahasia, mencari perlindungan yang terbaik yang boleh di dapat di rumah-rumah orang miskin, dan bahkan sering bersembunyi di lubang-lubang dan gua-gua.

Meskipun amukan penganiayaan terus berlangsung, protes yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, tenang, sabar dan tulus terhadap kebejatan iman keagamaan yang merajalela terus dilancarkan selama berabad-abad. Orang-orang Kristen yang mula-mula itu hanya mengetahui sebagian kebenaran itu, tetapi mereka telah belajar mengasihi dan menuruti firman Alah, dan dengan sabar mereka menanggung penderitaan karenanya. Seperti murid-murid pada zaman rasul-rasul, banyak yang mengorbankan hartanya demi Kristus. Mereka yang diizinkan tinggal dirumahnya, dengan senang hati memberi perlindungan kepada saudara-saudara mereka yang terbuang. Dan bilamana mereka juga di usir, dengan gembira mereka menerima nasibnya. Benar, ribuan orang yang takut akan keganasan para penganiaya, membeli kebebasan dengan mengorbankan iman mereka. Mereka keluar dari penjara dengan berpakaian jubah pertobatan untuk menyatakan pengunduran diri mereka dari kebenaran. Tetapi tidak sedikit jumlahnya yang membawa kesaksian tanpa takut kedalam penjara bawah tanah di "menara Lollards," yang di antara mereka tedapat keturunan bangsawan serta yang sederhana dan hina. Dan di tengah-tengah penyiksaan dn nyala api mereka bersukacita karena termasuk di antara orang-orang yang layak mengetahui "persekutuan penderitaan-Nya."


Para pemimpin kepausan telah gagal melaksanakan kehendaknya kepada Wycliffe semasa hidupnya, dan kebencian mereka tidak terpuaskan kalau jasadnya terbaring beristirahat di kuburannya. Dengan dekrit Konsili Constance lebih empat puluh tahun sesudah kematiannya, tulang-tulangnya di gali dan di bakar didepan umum, dan abunya dibuangkan ke anak sungai yang terdekat. "Anak sungai ini," kata seorang penulis tua, "telah meneruskan abunya ke Avon, dari Avon ke Severn, dari Severn ke laut sempit dan terus ke lautan luas. Dan dengan demikian abu jenazah Wycliffe adalah lambang doktrinnya yang sekarang tersebar di seluruh dunia." -- Fuller, T., "Church History of Britain," b. 4, sec. 2, par. 54. Hanya sedikit disadari oleh musuh-musuhnya makna tindakan jahat mereka itu.

Adalah melalui tulisan Wycliffe, sehingga John Huss dari Bohemia telah di tuntun untuk meninggalkan banyak kesalahan Romanisme, dan memasuki gerakan reformasi (pembaharuan). Jadi di dalam dua abad ini, yang terpisah jauh, bibit kebenaran telah ditaburkan. Dari Bohemia pekerjaan itu meluas ke negeri-negeri lain. Pikiran-pikiran manusia telah di tuntun kepada firman Allah yang telah lama dilupakan. Tangan ilahi telah mempersiapkan jalan kepada Reformasi Akbar.


HUSS DAN JEROME

~6~
HUSS DAN JEROME

Benih Injil telah ditanam di Bohemia pada abad kesembilan. Alkitab telah diterjemahkan, dan perbaktian umum telah dilaksanakan dalam bahasa penduduk setempat. Akan tetapi, sementara kuasa paus bertambah, demikianlah firman Allah semakin tesembunyi. Paus Gregory VII, yang telah merendahkan harga diri raja?raja, tidak kurang niatnya untuk memperbudak orang?orang. Dan untuk itu ia mengeluarkan keputusan melarang perbaktian umum diadakan di dalam bahasa Bohemia. Paus mengatakan bahwa "adalah menyenangkan kepada Yang Maha Kuasa kalau perbaktian kepada?Nya dilakukan dalam satu bahasa yang tidak diketahui, dan bahwa banyak kejahatan dan bida'ah telah timbul karena tidak mematuhi peraturan ini." ?? Wylie, b. 3, ch.1. Dengan demikian Roma telah mendekritkan bahwa terang firman Allah harus dipadamkan, dan orang?orang harus ditutup dalam kegelapan. Tetapi Surga telah menyediakan agen?agen lain untuk memelihara gereja. Banyak orang?orang Waldenses yang diusir oleh penganiayaan dari rumah?rumah mereka di Perancis dan Italia datang ke Bohemia. Meskipun mereka tidak berani mengajar secara terang?terangan, mereka dengan bersemangat bekerja secara sembunyi?sembunyi. Dengan demikian iman yang benar itu telah dipelihara dari abad ke abad.

Sebelum zamannya Huss, ada orang?orang di Bohemia yang bangkit mempersalahkan dengan terang?terangan kebejatan di dalam gereja dan kemerosotan moral orang?orang. Usaha mereka itu membangkitkan perhatian dikalangan paus. Timbullah kekuatiran hirarki, dan penganiayaanpun dilakukan ke atas murid?murid Injil itu. Mereka diusir ke hutan?hutan dan ke gunung?gunung dimana mereka mengadakan perbaktian. Mereka diburu oleh tentera dan banyak yang dibunuh. Setelah beberapa lama dikeluarkanlah dekrit bahwa semua yang berpaling dari perbaktian Romaisme harus dibakar. Akan tetapi sementara orang?orang Kristen menyerahkan hidup mereka, mereka mengharapkan kepada kemenangan jauh dihadapan mereka. Salah seorang dari mereka yang "mengajarkan bahwa keselamatan hanya didapat oleh iman dalam Juru Selamat yang telah disalibkan itu," mengatakan waktu mau meninggal, "Kemarahan musuh?musuh kebenaran sekarang leluasa melawan kita, tetapi itu tidak akan berlangsung selama?lamanya. Akan ada seseorang yang bangkit dari orang?orang biasa, tanpa pedang dan kekuasaan; dan melawan dia mereka tidak akan bisa sewenang?wenang." ?? Wylie, b. 3, ch. 1. Zamannya Luther masih jauh di depan. Tetapi telah bangkit seseorang, yang kesaksiannya melawan Roma akan menggemparkan bangsa?bangsa.

John Huss dilahirkan sebagai orang yang hina, dan secara dini telah menjadi anak yatim karena ditinggal mati ayahnya. Ibunya yang saleh, yang menganggap pendidikan dan takut akan Allah sebagai harta milik paling berharga, berusaha membuat ini sebagai warisan bagi anaknya. Huss belajar di sekolah propinsi, kemudian melanjutkan ke universitas di Praha yang diterima sebagai mahasiswa amal, tenpa membayar. Ia disertai ibunya dalam perjalanan ke Praha. Sebagai seorang janda miskin ia tak mempunyai sesuatu harta dunia yang bisa diberikan kepada anaknya. Tetapi sementara mereka semakin dekat ke kota besar itu, ibunya berlutut di samping pemuda yang tidak berayah ini, dan memohon berkat Bapa Surgawi baginya. Ibu tidak begitu menyadari bagaimana doanya itu akan dijawab.


Di universitas itu Huss segera menonjol karena ketekunannya yang tak mengenal lelah dan kemajuannya yang pesat, sementara kehidupannya yang tidak bercacad dan kelemah lembutannya, dan kelakuannya yang baik memberikan kepadanya penghargaan universal. Ia adalah seorang penganut Gereja Roma yang sungguh?sungguh, dan seorang yang sungguh?sungguh mencari berkat?berkat rohani yang dijanjikan akan diberi. Pada suatu perayaan jubileum, ia mengadakan pengakuan dosa, membayarkan uangnya yang terakhir, dan mengikuti arak?arakan agar mudah?mudahan mendapat bagian pengampunan yang dijanjikan. Setelah ia menyelesaikan pendidikan tinggi, ia memasuki keimamatan, dan dengan segera memperoleh kedudukan yang tinggi. Ia segera bertugas di istana raja. Ia juga diangkat menjadi profesor dan kemudian menjadi rektor universitas dimana ia dulu memperoleh pendidikannya. Dalam beberapa tahun saja, mahasiswa amal yang hina ini telah menjadi kebanggaan negaranya, dan namanya telah terkenal di seluruh Eropa.

Tetapi Huss memulai pekerjaan pembaharuan dalam bidang lain. Beberapa tahun setelah ia menjadi imam, ia ditunjuk sebagai pengkhotbah di kapel Betlehem. Pendiri kapel ini telah melakukan pengkhotbahan Alkitab dalam bahasa masyarakat setempat, sebagai sesuatu yang sangat penting. Walaupun Roma menentang tindakan seperti itu, belum sepenuhnya dihentikan di Bohemia. Tetapi mereka sangat buta mengenai Alkitab, dan kejahatan merajalela disemua lapisan masyarakat. Kejahatan ini sangat dicela oleh Huss, dan menghimbau untuk memperhatikan firman Allah dan menjalankan prinsip?prinsip kebenaran dan kesucian yang ia telah ajarkan berulang?ulang.

Seorang warga Praha yang bernama Jerome, yang kemudian begitu dekat berhubungan dengan Huss, telah membawa tulisan?tulisan Wycliffe pada waktu ia kembali dari Inggeris. Ratu Inggeris, yang telah bertobat kepada pengajaran Wycliffe, adalah putri Bohemia. Dan melalui pengaruhnya juga pekerjaan Reformasi itu telah disebarkan secara luas di negara asalnya. Tulisan?tulisan itu dipelajari oleh Huss dengan minat yang besar. Ia percaya pengarang tulisan?tulisan itu adalah seorang Kristen yang sungguh?sungguh, sehingga ia cenderung mengakui pembaharuan?pembaharuan yang dilancarkannya. Huss sebenarnya telah memasuki suatu jalan yang membawanya jauh dari Roma, walaupun ia tidak menyadarinya.

Pada waktu itu ada dua orang orang asing yang baru tiba di Praha dari Inggeris. Orang?orang itu adalah orang?orang terpelajar, yang telah menerima terang. Mereka datang untuk menyebarkan terang di negeri itu. Mereka memulai dengan serangan terbuka terhadap supremasi paus, dan oleh karena itu mereka segera dibungkam oleh para penguasa. Tetapi oleh karena mereka tidak mau membatalkan niatnya, maka mereka terpaksa mencari cara lain. Oleh karena mereka adalah artis?artis yang sekali gus pengkhotbah, mereka mulai menggunakan kemahiran mereka. Di suatu tempat yang terbuka untuk umum mereka melukis dua gambar. Yang satu menggambarkan Kristus memasuki Yerusalem, "lemah lembut dan mengenderai seekor keledai" (Matius 1: 5), dan diikuti oleh murid?murid?Nya dengan pakaian yang sudah kumal dan dengan kaki telanjang. Lukisan yang satu lagi menggambarkan prosesi kepausan ?? paus berhias diri dengan jubah yang mewah dan dengan mahkota tiga tingkat, duduk di atas kuda yang dihiasi dengan agungnya, yang didahului oleh peniup sangkakala dan diikuti oleh para kardinal dan pejabat?pejabat tinggi agama dalam suatu kemegahan.

Ini merupakan suatu khotbah yang menarik perhatian semua golongan. Orang ramai berkerumun melihat lukisan itu. Tak seorangpun yang gagal membaca makna moral lukisan itu, bahkan banyak yang terkesan secara mendalam oleh perbedaan menyolok antara kelemah?lembutan dan kerendahan hati Kritus, Tuhan itu, dengan kesombongan dan keangkuhan paus, yang mengatakan dirinya hamba Kristus. Terjadilah keributan di Praha. Dan demi keselamatan mereka, kedua orang asing itu merasa perlu untuk meninggalkan tempat itu. Tetapi pelajaran yang mereka telah ajarkan tidak dilupakan. Lukisan itu memberikan kesan mendalam dalam pikiran Huss, sehingga menuntun dia untuk mempelajari Alkitab dan tulisan?tulisan Wycliffe lebih teliti. Meskipun pada waktu itu ia belum siap untuk menerima semua pembaharuan yang dicetuskan oleh Wycliffe, ia melihat semakin jelas tabiat kepausan. Dan dengan semangat yang lebih besar ia mencela kesombongan, ambisi dan kebejatan moral para hirarki.


Dari Bohemia terang itu meluas ke Jerman, karena gangguan yang terjadi di Universitas Praha menyebabkan ratusan mahasiswa Jerman ditarik dari sana. Banyak dari antara mereka telah menerima pengetahuan pendahuluan Alkitab dari Huss. Dan pada waktu mereka kembali, mereka menyiarkan Injil itu di negeri mereka.

Berita mengenai pekerjaan di Praha telah sampai ke Roma. Dan Huss dipanggil untuk menghadap paus di Roma. Memenuhi panggilan seperti itu berarti Huss membuka diri kepada kematian. Raja dan ratu Bohemia, universitas, kaum bangsawan dan pejabat?pejabat pemerintah bersatu untuk mengajukan suatu permohonan kepada paus, agar Huss diizinkan tetap tinggal di Praha, dan memberikan jawaban di Roma melalui wakil atau utusan. Gantinya memenuhi permintaan itu paus melanjutkan mengadili dan menghukum Huss dan menyatakan Praha sebagai kota terlarang (tidak boleh mengadakan upacara kudus ?? sakramen). Pada masa itu hukuman seperti ini, bila diumumkan, akan menimbulkan kegemparan dan ketakutan. Upacara yang diadakan bersamaan dengan pengumuman disesuaikan benar untuk menimbulkan teror kepada seseorang yang memandang paus sebagai wakil Allah sendiri, yang memegang anak kunci surga dan neraka, dan mempunyai kuasa untuk mengadakan pengadilan duniawi maupun rohani. Dipercayi bahwa pintu surga telah tertutup bagi daerah yang dinyatakan terlarang, sehingga orang?orang mati di daerah yang terlarang seperti itu tidak akan masuk ke tempat yang berbahagia sampai paus dengan senang hati mencabut larangan itu. Sebagai tanda bencana yang mengerikan ini, semua upacara agama dihentikan. Gereja?gereja ditutup. Upacara pernikahan dilaksanakan di halaman gereja saja. Orang?orang mati dilarang dikuburkan di tempat pemakaman yang telah ditahbiskan. Mereka dikuburkan di parit?parit atau di ladang?ladang tanpa upacara penguburan. Dengan demikian, oleh hal?hal yang menarik kepada imaginasi orang?orang, Roma berusaha menguasai hati nurani manusia.


Kota Praha dipenuhi kegemparan dan kekacauan. Sebagian besar menuduh Huss sebagai penyebab dari semua malapetaka ini dan menuntut agar ia menyerah saja kepada tindakan balas dendam Roma. Untuk menenangkan gejolak tersebut, untuk sementara Pembaharu itu mengundurkan diri ke kampung halamannya. Ia menulis kepada teman?temannya di Praha, "Jika saya mengundurkan diri dari tengah?tengah Anda sekalian, adalah mengikuti ajaran dan teladan Yesus Kristus, untuk memberikan kesempatan kepada orang?orang yang sudah sakit pikiran mengambil bagi dirinya hukuman yang kekal, dan agar supaya jangan menjadi penyebab kepicikan dan penganiayaan bagi orang?orang saleh. Saya juga mengasingkan diri dengan pengertian agar imam?imam yang tidak saleh itu boleh terus melarang pengkhotbahan firman Allah lebih lama di tengah?tengah kamu. Tetapi saya tidak membebaskan kamu untuk menyangkal kebenaran ilahi, untuk mana, dengan pertolongan ilahi, saya bersedia mati." ?? Bonnechose, "The Reformers before the Reformation," Vol. I, p. 87, (ed.1844). Huss tidak berhenti beusaha. Ia menjelajahi negeri?negeri disekitarnya, berkhotbah kepada orang?orang yang berminat mendengar. Dengan demikian usaha?usaha yang dimaksudkan paus untuk menekan penyebaran Injil itu, justru menyebabkan lebih luas menyebar. "Karena kami tidak dapat berbuat apa?apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran" (2 Kor. 13:8). "Sampai sejauh ini dalam karirnya, pikiran Huss tampaknya dipenuhi oleh pertentangan yang sengit. Meskipun gereja menyerang dia bagaikan petir, tetapi ia tidak menyangkal kekuasan gereja itu. Baginya Gereja Roma masih tetap isteri Kristus, dan paus adalah utusan dan wakil Allah. Yang ditentang oleh Huss ialah penyalah?gunaan kekuasaan, bukan prinsipnya. Hal ini membawa pertentangan besar antara keyakinan pengertiannya dengan tuntutan hati nuraninya. Jikalau kekuasaan itu benar dan mutlak, sebagaimana yang dipercayainya demikian, bagaimana mungkin sampai ia merasa terpaksa untuk menolaknya? Ia melihat, bahwa menuruti kuasa itu berarti dosa. Tetapi mengapa penurutan kepada gereja yang mutlak seperti itu menuntun kepada masalah? Inilah masalah yang tidak bisa dipecahkannya. Inilah keragu?raguan yang menyiksanya setiap saat. Penyesuaian yang paling mungkin, yang bisa dilakukannya, ialah bahwa hal itu terjadi lagi, sebagaimana pernah terjadi pada zaman Juru Selamat. Imam?imam gereja telah menjadi jahat dan menggunakan wewenangnya yang legal untuk sesuatu hasil yang tidak legal. Ini menuntunnya untuk mengambil satu pedoman bagi dirinya, dan mengkhotbahkan kepada orang?orang lain, bahwa peribahasa ajaran Alkitab yang disampaikan melalui pengertian, itulah yang mengendalikan hati nurani. Dengan perkataan lain, bahwa Allah berbicara di dalam Alkitab, dan bukan gereja berbicara melalui imam?imam. Inilah penuntun yang mutlak." ?? Wylie, b. 3, ch. 2.

Bilamana pada suatu waktu kegemparan di Praha telah reda, maka Huss kembali kekapelnya di Betlehem, untuk meneruskan mengkhotbahkan firman Allah dengan lebih berani dan lebih bersemangat. Musuh?musuhnya terus aktif dan kuat, tetapi ratu dan beberapa orang bangsawan adalah teman?temannya, dan banyak orang memihak kepadanya. Dengan membandingkan pengajarannya yang murni dan yang mengangkat jiwa serta kehidupannya yang kudus, dengan dogma?dogma yang menurunkan martabat yang diajarkan oleh pengikut?pengikut Gereja Roma dan keserakahan dan kerakusan yang dilakukan mereka, banyaklah yang merasa suatu kehormatan kalau berpihak kepada Huss.

Sampai sejauh ini Huss masih sendirian dalam pekerjaannya. Tetapi sekarang Jerome, yang pada waktu di Inggeris telah menerima pengajaran Wycliffe, menggabungkan diri kepada pekerjaan pembaharuan (reformasi). Sejak waktu itu keduanya bersatu didalam hidup, dan dalam kematianpun mereka tidak mau dipisahkan. Jerome mempunyai kecerdasan dan kepintaran yang menonjol, kebolehan?kebolehan yang membuat seseorang mudah populer. Tetapi dalam kualitas yang membentuk kekuatan tabiat yang sebenarnya, Huss lebih unggul. Pertimbangannya yang tenang dapat menjadi pengekang kepada semangat Jerome yang suka meledak?ledak, yang dengan kerendahan hati, menerima kata?kata dan nasihatnya. Dengan usaha mereka yang bersatu, pekerjaan pembaharuan itu lebih cepat berkembang.

Allah membiarkan terang yang besar bersinar ke dalam pikiran orang?orang piliha ini, menyatakan kepada mereka kesalahan?kesalahan Roma yang banyak. Tetapi mereka tidak menerima semua terang yang harus diberikan kepada dunia ini. Melalui hamba?hambanya ini Allah telah menuntun orang?orang keluar dari kegelapan Romanisme. Tetapi banyak dan besarlah rintangan yang mereka hadapi. Dan Tuhan memimpin mereka terus langkah demi langkah didalam pekerjaannya sebagaimana yang sanggup mereka pikul. Mereka tidak dipersiapkan untuk menerima semua terang itu sekali gus. Seperti kemuliaan sinar matahari pada waktu tengah hari kepada orang?orang yang sudah lama tinggal di dalam kegelapan, jika diberikan dengan serta?merta, akan menyebabkan mereka meninggalkan kebenaran itu. Itulah sebabnya, Allah menyatakannya sedikit demi sedikit kepada para pemimpin, sebagaimana kesanggupan orang?orang menerimanya. Dari abad ke abad, pekerja?pekerja yang setia susul?menyusul menuntun orang?orang lebih jauh kedalam jalan pembaharuan.

Perpecahan dalam gereja masih terus berlangsung. Sekarang tiga orang paus bersaing untuk mendapatkan supremasi, dan persaingan mereka itu memenuhi dunia Kekristenan dengan kejahatan dan keributan. Tidak puas dengan saling mengutuk, mereka juga menggunakan senjata. Masing?masing membeli senjata dan membentuk pasukan tentera. Sudah barang tentu mereka memerlukan uang untuk ini. Dan untuk memperoleh uang mereka menjual hadiah?hadiah, jabatan dan berkat?berkat gereja (Lihat Lampiran). Para imam juga meniru atasan mereka, memperjual?belikan pangkat gereja dan berperang menjatuhkan martabat lawan dan memperkuat kekuasaan sendiri. Dengan keberanian yang semakin bertambah setiap hari, Huss mencela kekejian yang dilakukan dengan kedok agama. Dan orang?orang menuduh para pemimpin Roma sebagai penyebab penderitaan yang menimpa dunia Kekristenan.


Sekali lagi kota Praha nampaknya berada di tepi jurang pertikaian berdarah. Seperti pada zaman?zaman dahulu, hamba?hamba Allah dituduh sebagai "yang mencelakakan Israel" ( 1 Raja?raja 18:17). Kota itu sekali lagi dinyatakan sebagai kota terlarang, dan Huss mengundurkan diri ke kampung halamannya. Berakhirlah sudah kesaksian setia yang keluar dari kapelnya di Betlehem. Ia akan berbicara dari podium yang lebih luas kepada semua dunia Kekristenan, sebelum menyerahkan nyawanya sebagai saksi kebenaran.

Untuk mengatasi kejahatan?kejahatan yang mengganggu Eropa, maka diadakanlah konsili umum di Constance. Konsili itu diadakan atas kemauan kaisar Sigismund, oleh salah seorang paus yang bersaing, Yohanes XIII. Sebenarnya Paus Yohanes tidak menyukai diadakannya konsili itu oleh karena tabiat pribadinya dan kebijaksanaannya tidak tahan pemeriksaan, baik oleh pejabat?pejabat tinggi gereja, yang kurang bermoral sebagaimana juga para anggota gereja pada masa itu. Namun, ia tidak berani melawan keinginan kaisar Sigismund. (lihat Lampiran).

Tujuan utama yang hendak dicapai konsili itu ialah untuk memulihkan perpecahan didalam gereja, dan untuk membasmi bida'ah atau aliran yang menyimpang. Oleh karena itu kedua orang yang anti paus telah dipanggil menghadap serta propagandis utama pemikiran?pemikiran baru John Huss. Kedua orang anti paus tidak mau menghadap oleh karena alasan keselamatan, tetapi mengirim utusannya untuk mewakili. Paus Yohanes, sementara berpura?pura sebagai seorang yang mengadakan konsili itu, ia datang dengan keragu?raguan, menduga bahwa kaisar berencan secara diam?diam untuk menggulingkannya. Ia takut diminta pertanggungan jawab atas kejahatan?kejahatan yang merendahkan mahkota kepausan, serta kejahatan?kejahatan yang telah dilakuka untuk mendapatkannya. Namun begitu ia memasuki kota Constance dengan suatu kebesaran dan keagungan disertai para pendeta golongan atas dan diikuti oleh iring?iringan panjang pegawai tinggi istana. Semua pendeta dan para pejabat kota bersama kerumunan massa keluar menyambut dan mengelu?elukan dia. Di atas kepalanya terbentang penutup singgasana keemasan yang diusung oleh empat orang pejabat tinggi. Roti Suci dibawa dihadapannya, dan kemegahan pakaian para kardinal dan para bangsawan membuat suatu pameran yang mengagumkan.

Sementara itu seorang lain yang mengadakan perjalanan juga sedang mendekati kota Constance. Huss sadar akan bahaya yang mengancam dia. Ia berpisah dengan teman?temannya, seolah?olah ia tidak akan pernah melihat mereka lagi. Dan ia menjalani perjalanannya dengan perasaan seolah?olah berjalan menuju tiang gantungan. Walaupun ia telah mendapatkan surat pas jalan dari raja Bohemia dan kaisar Sigismund untuk perjalanannya ini, ia telah mengatur sedemikian rupa oleh karena kemungkinan kematiannya.


Dalam sebuah suratnya yang ditujukan kepada teman?temannya di Praha ia berkata, "Saudara?saudaraku, . . . Saya pergi dengan surat pas jalan dari raja, untuk menemui musuh?musuh saya yang banyak . . . . Saya menaruh kepercayaan penuh pada kuasa Allah, pada Juru Selamatku; saya percaya bahwa Ia akan mendengarkan doamu yang sungguh?sungguh, agar Dia memasukkan kebijaksanaan?Nya dan akal budi?Nya kedalam mulutku, agar supaya saya boleh bertahan terhadap mereka. Dan agar Dia memberikan Roh Suci?Nya untuk menguatkan aku didalam kebenaran?Nya, agar supaya saya dapat menghadapi dengan berani segala pencobaan dan penjara, dan jikalau perlu, kematian yang kejam. Yesus Kristus menderita untuk semua yang dikasihi?Nya, dan oleh sebab itu bukankah kita patut bergembira karena Ia telah memberikan teladan?Nya bagi kita, agar supaya kita tabah menanggung segala sesuatu demi keselamatan kita? Ia adalah Allah, dan kita adalah makhluk?Nya. Ia adalah Tuhan, dan kita adalah hamba?hamba?Nya. Ia adalah Tuhan dunia ini, dan kita adalah manusia berdosa yang hina dan keji ?? namun Dia telah menderita untuk kita! Kalau begitu, mengapa kita juga tidak menderita, terutama kalau penderitaan itu bagi kita adalah penyucian? Oleh sebab itu, Saudara?saudara yang kekasih, jikalau kematianku untuk kemuliaan?Nya, berdoalah supaya kematian itu cepat datang, dan agar Dia menyanggupkan aku menanggung semua malapetaka dengan keteguhan hati. Akan tetapi jika adalah lebih baik aku kembali ke tengah?tengah kamu, baiklah kita berdoa kepada Allah agar aku boleh kembali tanpa noda, ?? yaitu, agar aku jangan menyembunyikan satupun kebenaran Injil, agar aku dapat meninggalkan suatu teladan bagi saudara?saudaraku untuk diikuti. Oleh sebab itu, mungkin Saudara?saudara tidak akan memandang mukaku lagi di Praha. Tetapi jika menjadi kehendak Allah yang maha kuasa berkenan mengembalikan aku kepada kamu, marilah kita maju terus dengan hati yang semakin teguh dalam pengetahuan dan kecintaan kepada hukum?Nya." ?? Bonnechose, Vol. I, pp. 147,148.

Dalam surat lain, kepada seorang imam yang telah menjadi murid Injil, Huss berbicara dengan kerendahan hati yang mendalam mengenai kesalahan?kesalahannya sendiri, menuduh dirinya sendiri, "telah menikmati kesenangan dalam memakai pakaian yang mewah, dan telah menghabiskan waktu dalam pekerjaan yang sia?sia." Lalu ia menambahkan nasihat yang menyentuh hati ini: "Biarlah kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa?jiwa menempati pikiranmu, dan bukan kedudukan dan harta kekayaan. Berhati?hatilah, jangan menghiasi rumahmu melebihi jiwamu. Dan diatas segalanya, berikanlah perhatianmu kepada pembangunan kerohanian. Berlakulah saleh dan rendah hati kepada orang miskin, dan jangan menghabiskan hartamu dalam pesta pora. Jikalau engkau tidak mengubah kehidupanmu dan berhenti dari segala yang berlebihan, saya khawatir bahwa engkau akan dihukum seperti saya ini . . . . Engkau mengetahui ajaranku, karena engkau telah menerima petunjukku sejak dari masa kanak?kanakmu. Oleh sebab itu tidak ada gunanya bagiku menulis kepadamu lebih jauh. Tetapi saya meminta kepadamu, oleh rahmat Tuhan kita, agar tidak meniruku dalam kesombongan yang sia?sia, kedalam mana engkau saksikan aku jatuh." Pada sampul suratnya itu ia menambahkan, "Saya menghimbaumu, Saudaraku, jangan membuka surat ini sampai engkau sudah mendapat kepastian bahwa saya sudah mati." ?? Bonnechose, Vol. I, pp. 148,149.

Dalam perjalanannya, Huss melihat dimana?mana tanda?tanda tersebarnya ajaran?ajarannya, dan dukungan demi perkembangan ajaran itu. Orang?orang berduyun?duyun menemuinya, dan di beberapa kota pejabat?pejabat menyambutnya di jalan?jalan mereka.

Setelah tiba di Constance, Huss diberikan kekebasan penuh. Kepada surat pas jalan yang diberikan oleh kaisar telah ditambahkan jaminan perlindungan pribadi oleh paus. Tetapi pelanggaran kepada deklarasi yang sungguh?sungguh dan diulang?ulang ini, menyebabkan Pembaharu itu ditangkap dalam waktu singkat, atas perintah paus dan para kardinal, dan menjebloskannya kedalam penjara bawah tanah yang menjijikkan. Kemudian dipindahkan ke kastil yang kokoh di seberang Rhine sebagai tawanan. Tidak berapa lama kemudian, paus, oleh karena pengkhianatannya telah dijebloskan kedalam penjara yang sama. ?? Lihat Idem, p. 247. Dihadapan konsili, ia telah terbukti melakukan kejahatan yang paling mendasar, disamping pembunuhan, memperjual?belikan kedudukan gereja dan perzinahan, "dosa?dosa yang tidak pantas disebut namanya." Jadi konsili mengeluarkan pernyataan; dan demikianlah akhirnya mahkota dicopot dari padanya, dan ia dijebloskan kedalam penjara. Orang?orang yang anti paus juga dicopot dan paus barupun dipilih.


Meskipun paus sendiri telah melakukan kesalahan yang lebih besar daripada yang pernah dituduhkan Huss kepada para imam, dan untuk itu ia menuntut diadakan reformasi, namun konsili yang sama yang menurunkan martabat paus, juga meneruskan menumpas Pembaharu. Dengan dipenjarakannya Huss telah menimbulkan kemarahan di Bohemia. Kaum bangsawan yang berkuasa mengajukan protes keras kepada konsili menentang perbuatan biadab itu. Kaisar, yang tidak suka mengizinkan pelanggaran ini kepada surat pas jalan yang diberikannya, menentang tindakan yang dilakukan kepada Huss. Tetapi musuh?musuh Pembaharu begitu ganas dan bersikeras. Mereka memohon perhatian raja mengenai prasangkanya, ketakutannya dan semangatnya terhadap gereja. Mereka mengajukan argumentasi yang panjang lebar untuk membuktikan bahwa "iman tidak boleh dipelihara dengan bida'ah atau orang?orang yang dicurigai menganut kepercayaan yang menyimpang, walaupun mereka dilengkapi dengan surat?surat pas jalan dari kaisar atau raja?raja." ?? Lenfant, "History of the Councils of Constance," Vol. I, p. 516. Maka dengan demikian merekapun berhasil.

Dilemahkan oleh penyakit dan penahanannya didalam penjara bawah tanah yang lembab dengan udara yang bau busuk, telah menyebabkan ia menderita demam yang nyaris mengakhiri hidupnya. Akhirnya Huss dihadapkan kedepan konsili. Dibebani dengan rantai?rantai, ia berdiri dihadapan kaisar yang mulia dan yang mempunyai iman yang baik, yang telah berjanji melindunginya. Selama pemeriksaannya yang memakan waktu lama, dengan teguh ia mempertahankan kebenaran, dan di hadapan perkumpulan para pejabat tinggi gereja dan negara ia mengeluarkan protes yang sungguh?sungguh dan jujur menentang kebejatan para hirarki.

Rahmat Allah mendukung dia. Selama minggu?minggu yang telah berlalu sebelum keputusan terakhirnya, damai Surga memenuhi jiwanya. "Saya menulis surat ini," katanya kepada seorang temannya, "di dalam ruang penjara saya, dan dengan tangan saya yang terbelenggu, menanti pelaksanaan hukuman mati saya besok . . . . Bilamana, dengan pertolongan Yesus Kristus, kita kan bertemu lagi dikedamaian kehidupan yang akan datang, engkau akan tahu bagaimana Allah yang berbelas kasihan itu telah ditunjukkan?Nya sendiri kepadaku, dan betapa besar pertolongan?Nya kepadaku dalam pencobaan dan pengadilanku." ?? Bonnechose, Vol. II, p. 67.

Didalam kegelapan penjara ia melihat kemenangan iman yang benar. Dalam mimpi ia kembali ke kapel di Praha dimana ia mengkhotbahkan Injil, ia melihat paus dan para uskupnya menghapus gambar Kristus yang telah dilukisnya di dinding kapel itu. "Penglihatan ini menyusahkan hatinya, tetapi hari berikutnya ia melihat banyak pelukis melukis kembali gambar itu dalam jumlah yang lebih besar dan dengan warna yang lebih terang. Segera setelah tugas mereka selesai, para pelukis itu, yang telah dikelilingi oleh banyak sekali orang, berseru, 'Sekarang biarlah para paus dan para uskup datang. Mereka tidak akan pernah lagi bisa menghapus gambar itu!' " Pembaharu itu berkata pada waktu ia menghubungkan mimpinya, "Saya merasa pasti, bahwa gambar Kristus tidak akan pernah dihapus. Mereka ingin memusnahkannya, tetapi akan dilukis baru di dalam semua hati oleh para pengkhotbah yang jauh lebih baik dari saya." ?? D'Aubigne, b. 1, ch.6.

Untuk terakhir kalinya, Huss dibawa kembali kehadapan konsili. Mahkamah sekali ini adalah mahkamah yang brilian dan luas ?? dihadiri oleh kaisar, para pangeran kerajaan, para deputi kerajaan, para kardinal, uskup?uskup dan imam?imam; dan orang banyak yang datang sebagai penonton kejadian hari itu. Dari seluruh dunia Kekristenan telah berkumpul untuk menyaksikan korban besar yang pertama ini yang telah lama memperjuangkan kebebasan hati nurani.

Setelah dipanggil untuk mendengarkan keputusan terakhir, Huss menyatakan penolakannya untuk menyangkal keyakinannya, dan sambil menujukan pandangannya yang tajam kepada kaisar yang kata?kata janjinya telah dilanggar dengan tidak mengenal malu, ia mengatakan, "Saya memutuskan atas kemauan saya sendiri, untuk hadir dihadapan konsili ini dibawah perlindungan umum dan jaminan keelamatan kaisar yang hadir di sini." ?? Bonnechose, Vol. II, p. 84. Wajah kaisar Sigismund menjdi merah padam pada waktu semua mata orang yang hadir di mahkamah itu memandang kepadanya.


Keputusan telah diumumkan, upacara penurunan pangkatpun dimulai. Para uskup mengganti pakaiannya dan memakaikan pakaian keimamatan. Dan pada waktu ia mengenakan pakaian keimamatan itu, ia berkata, "Tuhan kita Yesus Kristus telah dibungkus dengan kain putih sebagai penghinaan, pada waktu Herodes memerintahkan menghadapkannya kepada Pilatus." ?? Bonnechose, Vol. II, p. 86. Pada waktu sekali lagi ia diminta untuk menarik kembali pernyataannya, ia menjawab sambil berbalik kepada orang banyak, "Lalu dengan muka apa saya harus memandang Surga? Bagaimana saya melihat orang banyak itu kepada siapa saya sudah khotbahkan Injil yang sejati? Tidak. Saya lebih menghargai keselamatan mereka daripada tubuh saya yang hina ini, yang sekarang telah diputuskan untuk dibunuh." Pakaiannya ditanggalkan satu persatu; setiap uskup mengatakan kata?kata kutukan sementara mereka melakukan tugasnya dalam upacara itu. Akhirnya, "mereka mengenakan diatas kepalanya sebuah topi atau semacam topi yang dipakai oleh uskup dalam upacara, yang berbentuk piramida dan terbuat dari kertas. Dikertas itu dilukiskan gambar?gambar Setan dengan kata?kata, 'Kepala Bida'ah,' dituliskan dengan menyolok dibagian depan. 'Sangat senang' kata Huss, 'akan saya pakaikah mahkota yang memalukan ini demi Engkau, O, Yesus, yang telah mengenakan mahkota duri untukku?'"

Setelah itu, "para pejabat tinggi gereja berkata, 'Sekarang kami serahkan jiwamu kepada Setan.' 'Dan aku,' kata John Huss, dengan menengadah kelangit, 'menyerahkan rohku kedalam tangan?Mu, O, Tuhan Yesus, oleh karena Engkau telah menebus aku.'" ?? Wylie, b. 3, ch. 7.

Sekarang ia diserahkan kepada pejabat?pejabat pemerintah, dan dibawa ketempat pelaksanaan hukuman mati. Suatu arak?arakan besar mengikuti dia, ratusan orang bersenjata, para imam dan para uskup dengan berpakaian yang mahal?mahal, dan penduduk kota Constance. Pada waktu ia diikat ketiang gantungan, dan semua sudah siap untuk menyalakan api, orang martir (mati syahid) ini sekali lagi dihimbau untuk menyelamatkan dirinya dengan meninggalkan kesalahannya. "Kesalahan apa," kata Huss, "yang saya harus tinggalkan? Saya tahu saya tidak bersalah. Saya memohon Allah untuk menyaksikan bahwa semua yang saya telah tuliskan dan khotbahkan adalah demi penyelamatan jiwa?jiwa dari dosa dan kebinasaan. Dan oleh sebab itu, dengan sangat senang saya akan pastikan dengan darahku, kebenaran yang telah kutuliskan dan kukhotbahkan." ?? Wylie, b. 3, ch. 7. Ketika api menyala disekelilingnya, ia mulai menyanyi, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku," dan demikianlah seterusnya ia menyanyi sampai suaranya terdiam untuk selamanya.

Musuh?musuhnya sendiripun merasa terpukul melihat keperkasaannya. Seorang pengikut paus yang bersemangat, menerangkan kematian Huss dan Jerome, yang mati segera sesudah itu, demikian: "Keduanya mereka menetapkan hati pada waktu saat?saat terakhir datang menjelang. Mereka telah bersedia menghadapi api itu seperti mereka menghadapi pesta pernikahan. Mereka tidak mengeluh kesakitan. Ketika nyala api menjulang, mereka menyanyikan nyanyian puji?pujian. Dan kehebatan api tidak dapat menghentikan nyanyian mereka." ?? Wylie, b.3, ch. 7.

Setelah tubuh Huss seluruhnya hangus terbakar, maka abunya bersama tanah tempat abu itu, dikumpulkan dan dibuangkan ke Sungai Rhine, yang kemudian dihanyutkan arus ke laut. Para penganiaya membayangkan bahwa mereka telah berhasil membasmi kebenaran yang telah dikhotbahkan Huss. Tidak terbayang bagi mereka bahwa abu jenazah yang dihanyutkan arus ke laut akan menjadi benih yang tersebar keseluruh negeri di dunia ini. Dan bahwa negeri yang belum diketahui itu akan memberikan buah?buah yang limpah sebagai saksi kebenaran.

Kata?kata yang diucapkan di gedung konsili di Constance telah membahana, dan gaungnya akan terdengar sampai ke masa?masa yang akan datang. Huss tidak ada lagi, tetapi kebenaran yang diperjuangkannya dengan kematiannya tidak akan pernah binasa. Teladan iman dan ketetapan hatinya akan mendorong banyak orang untuk berdiri teguh demi kebenaran, dalam menghadapai siksaan dan kematian. Kematiannya telah membeberkan kepada seluruh dunia tentang kekejaman pengkhianatan Roma. Musuh?musuh kebenaran, meskipun mereka tidak menyadarinya, telah memajukan kebenaran itu, yang dengan sia?sia mereka berusaha memusnahkannya.


Satu lagi tiang gantungan pembakaran akan didirikan di kota Constance. Darah saksi yang lain harus menyaksikan kebenaran itu. Jerome, yang mengucapkan selamat jalan kepada Huss waktu ia pergi untuk menghadiri konsili, telah mendorong semangat dan menguatkan pendirian Huss. Jerome menyatakan akan datang menolongnya jika Huss harus menghadapi bahaya. Setelah mendengar penahanan Pembaharu itu, murid yang setia ini segera menyiapkan diri memenuhi janjinya. Tanpa surat pas jalan ia berangkat ke Constance dengan seorang teman. Setelah tiba di Constance ia merasa pasti bahwa ia hanya membuka dirinya kepada bahaya tanpa adanya kemungkinan bisa berbuat sesuatu untuk melepaskan Huss. Ia melarikan diri dari kota itu, tetapi tertangkap dalam perjalanan pulang. Ia dibawa kembali ke Constance dengan dirantai dan dengan pengawalan sepasukan tentera. Pada penampilan pertama di konsili, dalam usahanya menjawab tuduhan?tuduhan yang dilontarkan kepadanya, telah disambut dengan teriakan, "Bakar dia! bakar dia!" ?? Bonnechose, Vol. I, p. 234. Ia dijebloskankan kedalam penjara bawah tanah, dirantai dalam posisi yang menyebabkannya sangat menderita, dan diberi makan roti dan air saja. Setelah beberapa bulan kekejaman yang dilakukan kepada Jerome, ia menderita penyakit yang mengancam nyawanya.

Musuh?musuhnya takut kalau?kalau ia melarikan diri, memperlakukannya tidak sekejam sebelumnya, meskipun ia tetap meringkuk dalam penjara selama setahun.

Kematian Huss tidak berakibat seperti yang diharapkan oleh pengikut?pengikut kepausan. Pelanggaran terhadap surat pas jalan telah membangkitkan badai kemarahan. Dan sebagai cara yang lebih aman, konsili memutuskan untuk memaksa Jerome, kalau mungkin, untuk menarik mundur pernyataannya, sebagai ganti membakarnya. Ia dibawa menghadap mahkamah, dan memberikan pilihan untuk menarik kembali pernyataannya, atau mati di tiang gantungan pembakaran. Kematian pada permulaan penahanannya adalah merupakan belas kasihan jika dibandingkan dengan penderitaan hebat yang telah dialaminya. Tetapi sekarang, setelah dilemahkan oleh penyakit, oleh kekakuan penjaranya, dan siksaan kecemasan dan ketegangan, dipisahkan dari teman?temannya, dan terpukul oleh kematian Huss, maka keteguhan hati Jeromepun luluhlah sudah. Dan ia setuju untuk menyerah kepada konsili. Ia berjanji kepada dirinya untuk mematuhi imam Katolik, dan menerima tindakan konsili dalam melarang ajaran?ajaran Wycliffe dan Huss, namun kecuali "kecuali kebenaran kudus," yang mereka telah ajarkan. ?? Lihat Bonnechose, Vol. II, p. 141.

Dengan cara ini Jerome berusaha untuk mendiamkan suara hati nuraninya dan melepaskan diri dari kebinasannya. Akan tetapi didalam keterasingannya di penjara bawah tanah ia melihat lebih jelas apa yang telah dilakukannya. Ia memikirkan keberanian dan kesetiaan Huss, bertolak belakang dengan penyangkalannya akan kebenaran itu. Ia memikirkan Tuhannya yang kepada?Nya ia telah berjanji untuk melayani, dan demi kepentingannya sendiri bersedia menanggung kematian di kayu salib. Sebelum menarik kembali pernyataannya ia memperoleh penghiburan atas semua penderitaannya, dan kepastian memperoleh kasih Allah. Tetapi sekarang, penyesalan yang dalam dan keragu?raguan menyiksa jiwanya. Ia tahu bahwa masih banyak penarikan pernyataan yang harus dilakukannya sebelum ia berdamai dengan Roma. Jalan yang sekarang ia lalui bisa berakhir hanya dengan kemurtadan penuh. Akhirnya ia membuat keputusan: ia tidak akan menyangkal Tuhannya hanya untuk kelepasan sementara dari penderitaan.

Kemudian ia dibawa kembali menghadap konsili.Penyerahannya belum memuaskan para hakimnya. Kehausan mereka akan darah yang dirangsang oleh kematian Huss, mendesak mereka untuk mendapatkan korban baru. Hanya dengan penyerahan tanpa syarat kebenaran itu Jerome dapat mempertahankan hidupnya. Tetapi ia telah menetapkan untuk berpegang pada imannya, dan mengikuti jejak saudara martirnya Huss ke pembakaran.


Ia membatalkan penarikan pernyataannya yang sebelumnya. Dan sebagai seorang yang sedang sekarat, dengan sungguh?sungguh ia memohon kesempatan untuk memberikan pembelaannya. Takut akan pengaruh kata?katanya, para pejabat tinggi gereja bertahan agar ia hanya menguatkan atau menolak kebenaran tuduhan yang dituduhkan kepadanya. Jerome memprotes perlakuan yang begitu kejam dan tidak adil. "Kamu telah menutup saya di penjara yang mengerikan selama tiga ratus empat puluh hari," katanya, "di tengah?tengah kekotoran, di dalam ruangan yang pengap dan bau busuk, dan dimana sangat kekurangan segala sesuatu. Dan sekarang kamu membawa saya menghadap dan mendengarkan musuh?musuhku , tetapi kamu tidak mau mendengarkan aku . . . . Jikalau kamu benar?benar orang bijaksana dan terang dunia ini, hati?hatilah jangan berdosa kepada keadilan. Bagiku, aku hanya seorang manusia yang lemah. Hidupku tidak begitu penting. Dan bilamana saya menghimbau kamu agar jangan mengucapkan satupun kalimat yang tidak adil, saya bukan berkata?kata untuk diriku, tetapi untuk kamu." ?? Bonnechose, Vol. II, pp. 146, 147.

Akhirnya permohonannya disetujui. Dihadapan hakimnya Jerome berlutut dan berdoa agar Roh ilahi dapat kiranya menguasai pikirannya dan kata?katanya, agar ia dapat berbicara dengan tidak bertentangan dengan kebenaran atau yang tidak menghormati Tuhannya. Baginya pada hari itu telah digenapi janji Allah kepada murid?murid yang pertama itu: "Karena Aku kamu akan digiring kemuka penguasa?penguasa dan raja?raja . . . . Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang kamu harus katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata?kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang berkata?kata di dalam kamu " (Matius 10:18?20.).

Kata?kata Jerome menimbulkan keheranan dan kekaguman juga kepada musuh?musuhnya. Karena sepanjang tahun ia telah dikurung di dalam penjara bawah tanah, ia tidak bisa membaca bahkan melihat. Ia menanggung penderitaan fisik yang berat dan kecemasan mental. Namun argumen?argumennya disampaikan dengan begitu jelas dan dengan kuasa seolah?olah ia tidak pernah mengalami gangguan kesempatan belajar. Ia menunjukkan kepada para pendengarnya barisan panjang orang?orang kudus yang telah dihukum oleh hakim?hakim yang tidak adil. Hampir di setiap generasi terdapat orang?orang yang, sementara berusaha mengangkat derajat orang?orang pada zamannya, telah dipersalahkan dan dibuang, tetapi yang dikemudian hari ternyata berhak mendapat kehormatan. Kristus sendiri telah dihukum sebagai penjahat oleh pengadilan yang tidak adil.

Pada waktu Jerome menarik kembali pernyataannya, ia setuju dengan keputusan pengadilan yang menghukukm mati Huss. Tetapi sekarang ia menyatakan pertobatannya, dan bersaksi mengenai ketidak?bersalahan dan kesalehan orang yang mati syahid itu. "Saya mengenal dia sejak masa kanak?kanaknya," katanya. "Ia adalah orang yang paling baik, jujur dan saleh. Ia telah dihukum walaupun ia tidak bersalah . . . . Saya juga, saya sudah sedia untuk mati. Saya tidak akan mundur menghadapi siksaan yang telah disediakan bagiku oleh musuh?musuhku dan para saksi palsu. Pada suatu hari kelak, mereka akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan tipuan mereka di hadirat Allah yang maha agung, yang tak seorangpun bisa menipu." ?? Bonnechose, Vol. II, p. 151.


Dalam penyesalan dirinya sendiri karena menyangkal kebenaran, Jerome selanjutnya berkata, "Dari semua dosa yang aku lakukan sejak masa mudaku, tidak ada yang lebih berat membebani pikiranku dan yang menyebabkanku begitu sangat menyesal, daripada apa yang kulakukan di tempat celaka ini, pada waktu aku menyetujui keputusan yang tidak adil yang dijatuhkan kepada Wycliffe, dan kepada syuhada saleh John Huss, tuanku dan sahabatku. Ya! Aku mengakuinya dari dalam hatiku, dan menyatakan dengan kengerian bahwa aku merasa malu dan takut pada waktu saya mempersalahkan ajaran?ajaran mereka oleh karena takut mati. Oleh sebab itu, aku memohon . . . Allah Mahakuasa sudi mengampuni aku dari dosa?dosaku, terutama yang satu ini, yang paling mengerikan dari semua." Sambil menunjuk kepada hakimnya, ia berkata dengan tegas, "Kamu telah mempersalahkan Wycliffe dan John Huss, bukan karena menggoncangkan doktrin gereja, tetapi hanya oleh karena mengutuk kejahatan yang dilakukan para pendeta ?? kesombongan dan keangkuhan mereka, dan semua kebusukan para pejabat tinggi gereja dan para imam. Hal?hal yang mereka sudah kuatkan, yang tidak dapat dibantah lagi, aku juga berpikir dan mengatakan demikian, seperti mereka."

Kata?katanya disela. Para pejabat tinggi gereja gemetar dalam kemarahannya, dan berteriak, "Bukti?bukti apa lagi yang diperlukan? Kita telah melihat dengan mata kepala kita sendiri seorang bida'ah yang keras kepala!"

Tanpa terpengaruh oleh keributan itu, Jerome menyerukan, "Apa? Apakah kamu menyangka aku takut mati? Kamu telah mengurung aku dipenjara bawah tanah yang mengerikan setahun penuh, yang lebih mengerikan dari kematian itu sendiri. Kamu telah memperlakukan saya lebih buruk dari orang?orang Turki, Yahudi atau orang kafir. Dan dagingku sebenarnya telah membusuk dan terlepas dari tulang?tulangku selagi aku masih hidup. Namun begitu, saya tidak mengeluh, karena ratap tangis akan menyakitkan hati dan jiwa. Tetapi aku tak dapat mengutarakan keherananku atas kebiadaban besar seperti itu terhadap seorang Kristen." ?? Bonnechose, Vo. II, pp. 151 ?153.

Sekali lagi topan amarah menolak, dan Jerome dilarikan kepenjara. Namun ada beberapa orang di dalam mahkamah yang sangat terkesan dengan kata?kata Jerome, dan yang ingin untuk meyelamatkan nyawanya. Ia dikunjungi oleh para pejabat tinggi gereja dan mendorongnya untuk menyerahkan dirinya kepada konsili. Hari depan yang paling gemilang telah ditawarkan kepadanya sebagai imbalannya jika ia meninggalkan perlawanannya kepada Roma. Tetapi seperti Tuhannya pada waktu ditawarkan kemuliaan dunia, Jerome tetap teguh menolak.

"Butikanlah kepadaku dari Alkitab bahwa aku ini salah," katanya, "dan aku akan meninggalkannya untuk selama?lamanya."

"Alkitab!" seru seorang yang mencobainya, "apakah semuanya harus diadili oleh Alkitab? Siapa yang bisa mengertinya sampai gereja menafsirkannya?

"Apakah tradisi manusia lebih layak untuk dipercaya daripada Injil Juru Selamat kita?" jawab Jerome. " Paulus tidak menasihatkan orang?orang yang dikirimi surat untuk mendengarkan tradisi manusia, tetapi katanya, 'Selidiklah Alkitab.'"

"Bida'ah!" teriak seseorang, "Saya menyesal telah membujuk engkau begitu lama. Saya melihat bahwa engkau telah didorong oleh Setan." ?? Wylie, b. 3, ch. 10.

Tidak lama kemudian keputusan hukuman mati dijatuhkan kepadanya. Ia dituntun ke tempat yang sama dimana Huss menyerahkan nyawanya. Sepanjang jalan ia menyanyi, wajahnya bercahaya penuh sukacita dan kedamaian. Pandangannya tertuju kepada Kristus, dan baginya kematian telah kehilangan kengeriannya. Pada waktu petugas, yang hampir menyalakan onggokan kayu api, berjalan dibelakangnya, syuhada itu berkata, "Majulah dengan berani, taruhlah api itu diwajahku. Kalau saya takut saya tidak akan berada di sini."

Kata?katanya yang terakhir yang diucapkan sementara nyala api membesar disekelilingnya adalah sebuah doa, "Tuhan Yang Mahakuasa," katanya, "kasihanilah aku, dan ampunilah dosa?dosaku, karena Engkau tahu, aku selalu mencintai kebenaran?Mu." ?? Bonnechose, Vol II, p. 168. Suaranya lenyap, tetapi bibirnya tetap komat?kamit berdoa. Setelah api membakar seluruh tubuhnya, abu syuhada itu bersama tanah tempatnya, dikumpulkan dan, seperti abu jenazah Huss, dibuangkan ke Sungai Rhine.


Demikianlah binasa para pembawa terang Allah yang setia. Tetapi terang kebenaran yang disiarkan mereka, ? ? terang teladan keperkasaan mereka ? ? tidak bisa dipadamkan. Bagaikan manusia yang paling kuat berusaha menahan peredaran matahari agar matahari fajar tidak menyingsing, tetapi bagaimanapun juga, fajar tetap terbit bagi dunia. Pelaksanaan hukuman mati Huss telah menyulut api kemarahan dan kengerian di Bohemia. Hal itu dirasakan segenap bangsa itu, bahwa ia telah menjadi mangsa kebencian para imam dan pengkhianatan kaisar. Ia dinyatakan sebagai seorang guru kebenaran yang setia, dan konsili yang memutuskan hukuman mati itu dituduh bersalah sebagai pembunuh. Ajaran?ajaran Huss sekarang menarik perhatian orang lebih banyak daripada sebelumnya. Atas perintah kepausan tulisan?tulisan Wycliffe telah dibakar. Tetapi yang lolos dari pemusnahan sekarang dibawa keluar dari tempat persembunyiannya dan dipelajari bersama Alkitab, atau bagian?bagiannya yang bisa didapat. Dan banyaklah yang dituntun menerima iman yang diperbaharui itu.

Para pembunuh Huss tidak tinggal diam dan menyaksikan kemenangan?kemenangan Huss. Paus dan kaisar bersatu untuk menumpas gerakan itu, dan tentera Sigismund menyerang Bohemia.

Tetapi bangkit seorang penyelamat. Ziska, yang segera sesudah perang mulai telah menjadi buta sama sekali, namun adalah seorang jenderal yang paling mahir pada zamannya, menjadi pemimpin orang Bohemia. Percaya pada pertolongan Allah dan kebenaran perjuangan mereka, sehingga orang?orang dapat menahan tentera musuh yang kuat yang menyerang mereka. Berulang?ulang kaisar mengirim tentera baru untuk menyerang Bohemia hanya untuk dipukul mundur secara memalukan. Pengikut?pengikut Huss sekarang tidak takut mati, dan tak ada yang tahan melawan mereka. Beberapa tahun setelah perang meletus, Ziska, sipemberani itu wafat. Tetapi tempatnya digantikan oleh Procopius, yang juga adalah seorang jenderal pemberani dan trampil, dan dalam berbagai hal, seorang pemimpin yang lebih berkemampuan.

Musuh?musuh orang Bohemia, mengetahui bahwa pejuang yang buta itu telah meninggal, merasa sudah saatnya untuk menebus kekalahan mereka selama ini. Paus mengumumkan perang suci melawan pengikut?pengikut Huss. Dan tentera yang besar jumlahnya segera dikirimkan menyerang Bohemia, tetapi hanya untuk menderita kekalahan yang mengerikan. Perang suci lain diumumkan. Disemua negara kepausan di Eropa, tentera, uang dan perlengkapan perang dikumpulkan. Orang banyak berduyun?duyun menggabungkan diri kebawah panji?panji kepausan. Mereka merasa pasti bahwa akhirnya para bida'ah pengikut Huss akan dapat ditumpas. Dengan keyakinan akan menang, pasukan besar itupun memasuki Bohemia. Orang?orang Bohemia bertempur mengusir mereka. Kedua pasukan saling mendekat, sehingga hanya dipisahkan oleh sebuah sungai saja. "Tentera kepausan jauh lebih unggul, tetapi sebagai gantinya mereka langsung menyeberangi sungai utnuk memerangi pengikut?pengikut Huss, mereka berdiri memandangi dengan diam prajurit?prajurit Huss. Sebenarnya mereka jauh?jauh datang hanya untuk memerangi pengikut?pengikut Huss ini." ?? Wylie, b. 3, ch. 17. Tiba?tiba ketakutan yang misterius melanda pasukan kepausan. Tanpa membuat sesuatu untuk melawan, pasukan yang kuat ini tercerai berai dihalau oleh kekuatan yang tidak kelihatan. Banyak yang disembelih oleh pasukan pengikut?pengikut Huss, yang mengejar musuh yang lari itu. Dan banyaklah barang?barang rampasan yang jatuh ke tangan pasukan yang menang, sehingga sebagai gantinya, perang itu membuat kemiskinan, justru membuat orang?orang Bohemia lebih kaya.


Beberapa tahun kemudian, perang suci yang lain direncanakan dibawah pimpinan paus yang baru. Seperti yang sebelumnya, tentera dan peralatan diambil dari negara?negara kepausan di Eropa. Banyaklah janji diberikan untuk membujuk orang?orang untuk bergabung kepada pekerjaan yang berbahaya ini. Pengampunan penuh atas kejahatan yang paling keji telah dijanjikan bagi setiap orang tentera kepausan. Semua yang tewas dalam peperangan itu dijanjikan upah besar di Surga dan mereka yang selamat akan memperoleh penghormatan dan kekayaan di medan pertempuran. Sekali lagi pasukan besar telah terkumpul, dan melintasi perbatasan memasuki Bohemia. Pasukan pengikut Huss menggunakan taktik mundur dihadapan pasukan penyerang, sehingga musuh semakin jauh masuk ke negeri itu. Hal ini membuat penyerang mengira bahwa mereka telah memenangkan peperangan. Akhirnya tentera Procopius bertahan dan berbalik menghadapi musuh, maju menyerang mereka. Tentera musuh, menyadari kesalahannya, menunggu serangan diperkemahannya. Sementara suara pasukan yang mendekat terdengar, bahkan sebelum pasukan pengikut Huss terlihat, kembali kepanikan melanda pasukan kepausan. Para pangeran, para jenderal dan tentera biasa membuangkan senjata mereka, lalu lari kesegala pejuru. Sia?sia utusan kepausan, yang memimpin penyerangan itu, berusaha untuk mengumpulkan pasukannya yang sudah ketakutan dan kucar?kacir tak teratur lagi itu. Walaupun ia berusaha keras, ia sendiripun juga ikut hanyut dalam arus pelarian. Kekalahan itu sempurna. Dan sekali lagi barang?barang rampasan yang banyak jatuh ketangan pemenang.

Demikianlah untuk kedua kalinya pasukan yang jumlahnya besar, yang dikirim oleh bangsa?bangsa kuat di Eropa, pasukan yang berani yang siap tempur, dan yang dilatih dan diperlengkapi untuk berperang, lari tanpa perlawanan dari hadapan para pembela bangsa yang kecil dan lemah. Disinilah manifestasi kuasa ilahi. Para penyerang telah dipukul mundur dengan teror gaib. Ia yang mengalahkan tentera Firaun di Laut Merah, yang membuat lari tentera Midian dari hadapan Gideon dan pasukannya yang berjumlah tiga ratus orang itu, yang pada suatu malam melumpuhkan pasukan Assur yang angkuh, kembali merentangkan tangan?Nya melumpuhkan kekuatan penindas. "Disanalah mereka di timpa kejutan yang besar, padahal tidak ada yang mengejutkan; sebab Allah menghamburkan tulang?tulang para pengepungmu; mereka akan dipermalukan, sebab Allah telah menolak mereka" (Mazmur 53:5).

Setelah putus asa tidak berhasil menguasai Bohemia dengan kekuatan senjata, para pemimpin kepausan akhirnya manggunakan saluran?saluran diplomasi. Mereka mengadakan kompromi. Sementara mereka mengatakan memberikan kemerdekaan hati nurani kepada Bohemia, tetapi sebenarnya mereka dikhianati untuk masuk kedalam kekuasaan Romawi. Orang?orang Bohemia mengajukan empat tuntutan sebagai syarat perdamaiannya dengan Roma: Kebebasan mengkhotbahkan Alkitab; hak seluruh gereja atas roti dan anggur dalam perjamuan kudus dan penggunaan bahasa sendiri dalam perbaktian ilahi; penarikan imam?imam dari kuasa dan jabatan pemerintahan; dan dalam hal perkara kejahatan, jurisdiksi pengadilan sipil sama terhadap para pendeta dan orang awam. Penguasa kepausan akhirnya "menyetujui menerima keempat tuntutan pengikut?pengikut Huss, akan tetapi hak untuk menjelaskannya, yaitu menentukan makna yang sebenarnya, haruslah menjadi hak konsili ?? dengan perkataan lain, hak paus dan hak kaisar." ?? Atas dasar ini dibuatlah suatu perjanjian. Dengan menyembunyikan tipu muslihatnya dan kecurangannya Roma memperoleh apa yang tidak bisa diperolehnya dengan peperangan, oleh karena, dengan memberikan interpretasinya atas tuntutan pengikut Huss itu, seperti juga atas Alkitab, ia dapat memutar?balikkan artinya sesuai dengan maksud dan kemauannya.

Segolongan besar orang di Bohemia, yang melihat bahwa kemerdekaan mereka telah dikhianati, tidak setuju dengan perjanjian itu. Timbullah perselisihan dan perpecahan yang menjurus kepada bentrokan dan pertumpahan darah diantara mereka sendiri. Dalam perselisihan ini bangsawan Procopius jatuh, dan lenyaplah kebebasan Bohemia.

Sigismund, yang mengkhianati Huss dan Jerome, sekarang menjadi raja Bohemia. Dan tanpa mengingat sumpahnya untuk mendukung hak?hak orang Bohemia, ia mulai mendirikan kepausan. Tetapi ketakutannya kepada Roma tidak memberi keuntungan banyak baginya. Selama dua puluh tahun kehidupannya telah dipenuhi dengan kerja keras dan bahaya. Balatenteranya dikalahkan dan hartanya habis terkuras oleh perjuangan yang lama dan yang tak membawa hasil. Dan sekarang, setelah ia memerintah selama setahun iapun mangkat, meninggalkan kerajaannya ditepi jurang perang saudara, dan mewariskan kepada generasi yang akan datang suatu nama kekejian.


Kerusuhan, perselisihan, dan pertumpahan darah berkepanjangan. Sekali lagi pasukan dari luar menyerang Bohemia, dan perselisihan di dalam negeri berlanjut mengalihkan perhatian bangsa itu. Mereka yang tetap setia kepada Injil dihadapkan kepada penganiayaan berdarah.

Sementara saudara?saudara mereka yang terdahulu, mengadakan perjanjian dengan Roma, dan menelan keksalahannya, mereka yang memberi perhatian kepada iman yang mula?mula itu membentuk suatu gereja yang berbeda sifatnya, yang diberi nama, "United Brethren" (Perserikatan Saudara?saudara). Tindakan ini mengundang kutukan dari semua golongan kepada mereka. Namun, mereka tidak dapat digoyahkan. Meskipun terpaksa mencari perlindungan di hutan?hutan dan di gua?gua, mereka masih tetap berkumpul untuk membaca firman Allah dan bersatu dan berbakti bersama kepada Tuhan.

Melalui pesuruh?pesuruh yang dikirim secara rahasia keberbagai negeri, mereka mengetahui bahwa disana?sini terdapat "saksi?saksi kebenaran yang terpisah?pisah, sedikit di kota ini dan sedikit disana yang menjadi sasaran penganiayaan seperti mereka. Dan ditengah?tengah pegunungan Alpen ada gereja tua, yang beralaskan Alkitab, dan yang memprotes kebejatan moral Roma." ?? Wylie, b. 3, ch. 19. Pesuruh?pesuruh intel ini telah diterima dengan sukacita yang besar, dan surat menyuratpun diadakan dengan orang Kristen Waldenses.

Sambil tetap teguh berpegang kepada Injil, orang?orang Bohemia menunggu sepanjang malam penganiayaa mereka. Di malam yang paling gelap mereka masih mengalihkan matanya ke ufuk timur seperti orang?orang yang sedang menantikan terbitnya matahari pagi. "Mereka mengalami nasib buruk pada hari?hari yang jahat, tetapi . . . mereka mengingat kata?kata yang diucapkan oleh Huss, dan yang diulangi oleh Jerome, bahwa seabad harus berlalu sebelum fajar menyingsing. Kata?kata ini ditujukan kepada bangsa?bangsa didalam perhambaan: 'Saya akan mati, dan Allah pasti akan melawat kamu, dan membawa kamu keluar.' " ?? Idem, b. 3, ch. 19. "Selama masa penutupan abad ke lima belas terlihat perkembangan yang lambat tetapi pasti gereja Brethren. Walaupun tidak jauh dari gangguan, namun mereka masih mengalami kedamaian yang sebanding. Pada permulaan abad ke enambelas, gereja mereka telah berjumlah dua ratus gereja di Bohemia dan Moravia." ?? Gillett, "Life and Times of John Huss," (3d ed.), Vol. II, p. 570. "Betapa bersukacitanya perasaan umat yang sisa, yang terlepas dari keganasan api dan pedang, melihat terbitnya fajar yang telah diramalkan oleh Huss." ?? Wylie, b. 3, ch.19.


PEMISAHAN DIRI LUTHER DARI ROMA

~7~
PEMISAHAN DIRI LUTHER DARI ROMA

Martin Luther adalah seorang yang terkemuka dari orang?orang yang terpanggil untuk memimpin gereja keluar dari kegelapan kepausan kepada terang iman yang lebih murni. Seorang yang bersemangat, rajin dan berserah, tidak mengenal rasa takut kecuali takut kepada Allah, yang mengakui tidak ada dasar iman keagamaan kecuali Alkitab. Luther adalah tokoh pada zamannya. Melalui dia Allah melakukan pekerjaan?pekerjaan besar untuk pembaharuan gereja dan menerangi dunia.

Seperti pesuruh?pesuruh Injil yang pertama, Luther muncul dari lapisan masyarakat miskin. Masa kecilnya dihabiskan di rumah sederhana seorang petani Jerman. Dengan pekerjaan sehari?hari sebagai seorang pekerja tambang, ayahnya dapat menyekolahkannya. Ayahnya berniat agar Luther kelak menjadi seorang pengacara. Tetapi Allah bermaksud membuat dia menjadi seorang pembangun di kaabah?Nya yang berkembang begitu lambat selama berabad?abad. Kesukaran, penderitaan dan tindakan disiplin adalah sekolah dimana Yang Mahabijak mempersiapkan Luther bagi suatu misi penting dalam hidupnya.

Ayah Luther adalah seorang yang berpikiran kuat dan aktif, dan mempunyai tabiat yang teguh, jujur, tabah dan lurus. Ia setia kepada keyakinan tugasnya walau apapun akibatnya. Citarasanya yang sejati menuntunnya tidak percaya kepada sistem biara. Ia sangat tidak senang pada waktu Luther memasuki biara tanpa persetujuannya. Selama dua tahun hubungan mereka tidak baik karenanya, dan sesudah berdamai kembalipun pendirian ayahnya tetap sama.

Orang tua Luther sangat memperhatikan pendidikan dan pelatihan anak?anaknya. Mereka berusaha mengajarkan pengetahuan akan Allah dan mempraktekkan kebijakan Kristen. Doa?doa ayahnya sering dinaikkan didengar oleh anaknya, agar anaknya boleh mengingat nama Tuhan, dan pada suatu hari membantu memajukan kebenaran?Nya. Setiap kesempatan untuk memupuk moral dan intelektual yang diberikan oleh kehidupan mereka yang keras kepada mereka untuk dinikmati, selalu dikembangkan oleh orangtua ini. Mereka berusaha dengan sungguh?sungguh dan dengan sabar untuk mempersiapkan anak?anak mereka bagi suatu kehidupan yang saleh dan berguna. Dengan keteguhan dan kekuatan tabiat kadang?kadang mereka melatih terlalu keras. Tetapi Pembaharu itu sendiri, meskipun menyadari bahwa dalam berbagai hal mereka salah, menemukan dalam disiplinnya lebih banyak persetujuan daripada hukuman.

Di sekolah, dimana ia belajar pada masa mudanya, Luther diperlakukan dengan kasar dan bahkan dengan kejam. Orangtuanya sangat miskin, sehingga pada waktu ia bersekolah di kota lain, diharuskan mencari makan sendiri dengan menyanyi dari satu rumah ke rumah yang lain, dan sering ia harus menahan lapar. Pemikiran agama yang gelap dan penuh ketakhyulan yang merajalela membuat ia ketakutan. Ia berbaring pada waktu malam dengan hati yang sedih, memandang ke masa depan yang gelap dengan gemetar, dan dengan ketakutan yang terus menerus menganggap Allah itu sebagai hakim yang lalim yang tidak menaruh belas kasihan, seorang tiran jahat, daripada seorang Bapa Surgawi yang baik hati.

Namun, dibawah begitu banyak dan begitu besar yang membuat ia tawar hati, Luther terus berusaha maju menuju standar moral yang tinggi dan keungguluan intelektual yang menarik jiwanya. Ia haus akan pengetahuan, dan kesungguh?sungguhan serta sifat praktis pikirannya menuntunnya menginginkan yang kuat dan berguna, daripada yang menyolok dan dangkal.


Pada usia 18 tahun, waktu ia memasuki universitas Erfurt, keadaannya sedikit lebih baik, dan hari depannya lebih cerah daripada tahun?tahun sebelumnya. Orangtuanya, oleh karena berhemat dan rajin, telah mampu memberikan bantuan yang diperlukan. Dan pengaruh teman?temannya yang bijaksana telah mengurangi pengaruh suram pendidikan sebelumnya. Ia mempelajari karya?karya pengarang terbaik, dengan rajin mempelajari pikiran?pikiran berbobot, dan membuat kebijaksanaan orang?orang bijak itu menjadi kebijaksanaannya. Bahkan dibawah disiplin kasar guru?gurunya sebelumnya, ia tetap menonjol. Dan dengan pengaruh?pengaruh yang baik pikirannya berkembang dengan pesat. Ingatannya yang tajam, imaginasinya yang kreatif, daya pertimbangannya yang kuat, dan ketekunannya yang tak mengenal lelah, segera menempatkannya pada barisan depan teman?temannya. Disiplin intelektual mematangkan pengertiannya, dan membangkitkan suatu kegiatan pikiran dan suatu ketajaman persepsi yang mempersiapkan dia bagi perjuangan hidup.

Perasaan takut akan Allah selalu tiggal dalam hati Luther, yang menyanggupkannya mempertahankan keteguhan tujuannya, dan merendahkan diri dihadapan Allah. Ia mempunyai rasa ketergantungan kepada pertolongan ilahi. Dan ia tidak pernah lupa memulai setiap hari dengan doa, sementara hatinya terus memohon tuntunan dan dukungan. Sering ia berkata, "Berdoa dengan baik adalah setengah pelajaran yang lebih baik." ?? D'Aubigne, "History of the Reformation of the Sixteenth Century," b. 2, ch. 2.

Ketika sedang memeriksa buku?buku di perpustakaan universitas pada suatu hari, Luther menemukan Alkitab dalam bahasa Latin. Belum pernah ia melihat buku seperti itu sebelumnya. Ia sama sekali tidak tahu keberadaan buku itu. Ia telah pernah mendengar bagian?bagian dari Injil dan Surat?surat Rasul, yang telah dibacakan kepada orang?orang pada waktu kebaktian umum, dan ia berpikir bahwa itulah seluruh Alkitab itu. Sekarang, untuk pertama kalinya ia melihat seluruh firman itu. Dengan rasa kagum bercampur heran ia membalik halaman?halaman kudus itu. Dengan denyut nadi yang lebih cepat dan jantung berdebar?debar, ia membaca firman kehidupan itu untuk dirinya sendiri. Setelah berhenti sejenak ia berseru, "Oh, seandainya Allah memberikan buku seperti ini menjadi milikku sendiri!" ?? Idem, b. 2, ch. 2. Malaikat?malaikat Surga berada disampingnya dan sinar?sinar terang dari takhta Allah menyatakan kekayaan kebenaran itu kepada pengertiannya. Sebelumnya ia selalu takut melanggar kehendak Allah. Tetapi sekarang ia mempunyai kesadaran yang mendalam mengenai keadaannya sebagai orang berdosa dan bergantung kepada Allah seperti belum pernah sebelumnya.

Suatu kerinduan yang sungguh?sungguh untuk bebas dari dosa dan untuk memperoleh kedamaian dengan Allah, akhirnya menuntun dia memasuki sebuah biara, dan menyerahkan dirinya kepada kehidupan biara. Di sini ia diharuskan melakukan pekerjaan yang paling rendah, dan meminta?minta dari rumah ke rumah. Pada waktu itu ia berada pada tingkat umur dimana penghormatan dan penghargaan sangat didambakan. Dan pekerjaan yang cocock untuk seorang hamba ini sangat melukai perasaan alamiahnya. Tetapi dengan tabah dan sabar ia tahankan pekerjaan yang merendahkan diri ini, sebab ia percaya bahwa hal itu diperlukan oleh dosa?dosanya.


Setiap saat diwaktu senggangnya ia gunakan untuk belajar, sehingga mengurangi tidurnya, bahkan sebagian menghabiskan waktu untuk makan yang tidak mencukupi itu. Diatas segalanya yang lain, ia bersuka cita mempelajari firman Allah. Ia menemukan sebuah Alkitab yang dirantai ke dinding biara, dan untuk ini ia sering pergi ke situ. Sementara keyakinannya mengenai dosa semakin mendalam, ia mulai mencari pengampunan dan kedamaian atas usahanya sendiri. Ia menghidupkan suatu kehidupan yang ketat, dengan berpuasa, berjaga dan berdoa sepanjang malam, dan menyiksa diri untuk menundukkan keadaannya yang jahat, yang untuk ini kehidupan biara tidak dapat membebaskannya. Ia tidak menahankan pengorbanan, dengan harapan, mudah?mudahan oleh itu ia memperoleh kesucian hati yang akan menyanggupkannya berdiri berkenan dihadapan Allah. "Sesungguhnya aku adalah seorang biarawan yang taat," katanya kemudian, "dan mematuhi semua peraturan ordeku lebih ketat daripada yang dapat aku katakan. Jikalau pernah seorang biarawan memperoleh Surga oleh pekerjaannya sebagai biarawan, aku merasa pasti berhak untuk itu . . . . Jika pekerjaan itu diteruskan lebih lama lagi, pekerjaan penyiksaan diri itu akan menewaskan aku." ?? D'Aubigne, b. 2, ch. 3. Sebagai akibat disiplin yang menyakitkan, ia kehilangan kekuatannya, dan menderita pingsan kejang?kejang, yang tidak pernah sembuh benar dari pengaruhnya. Tetapi dengan semua usahanya ini jiwanya yang menanggung beban tidak menemukan kelegaan. Akhirnya ia berada ditepi jurang keputus?asaan.

Bilamana tampaknya semua sudah hilang bagi Luther, Allah memberikan seorang sahabat dan penolong baginya. Staupitz yang saleh membuka firman Allah kedalam pikiran Luther dan mengajaknya mengalihkan pandangannya dari dirinya sendiri, menghentikan merenungkan hukuman tanpa batas karena pelanggaran hukum Allah, dan memandang kepada Yesus, Juru Selamat yang mengampuni dosa itu. "Daripada menyiksa dirimu oleh karena dosa?dosamu, jatuhkanlah dirimu ketangan Penebus. Percayalah kepada?Nya, kepada kebenaran kehidupan?Nya, kepada penebusan kematian?Nya . . . . Dengarkanlah Anak Allah. Ia menjelma menjadi manusia untuk memberikan kepadamu jaminan perkenan ilahi." "Kasihilah Dia yang telah lebih dahulu mengasihimu." ?? Idem, b. 2, ch. 4. Demikianlah pesuruh kemurahan itu berbicara. Kata?katanya itu membawa kesan mendalam di pikiran Luther. Setelah bergumul dengan kesalahan?kesalahan kesayangan lama, ia akhirnya mampu menerima kebenaran, dan kedamaianpun datang kepada jiwanya yang susah.

Luther ditahbiskan menjadi imam, dan telah dipanggil keluar dari biara menjadi guru besar di Universitas Wittenberg. Disini ia mempelajari Alkitab dalam bahasa aslinya. Ia mulai memberi ceramah mengenai Alkitab. Dan buku?buku Mazmur, Injil, dan Surat Rasul?rasul telah dibukakan kepada pengertian para pendengar yang bergembira. Staupitz, sahabatnya dan atasannya, mendorongnya untuk naik mimbar dan mengkhotbahkan firman Allah. Luther merasa ragu karena merasa dirinya tidak layak berbicara kepada orang?orang sebagai ganti Kristus. Hanya setelah pergumulan yang lama dia menerima permintaan sahabat?sahabatnya. Ia sudah mahir mengenai Alkitab, dan rakhmat Allah turun keatasnya. Kemampuannya berbicara memikat para pendengarnya, dan penyampaian kebenaran yang jelas dan dengan kuasa meyakinkan pengertian mereka, dan semangatnya yang berapi?api menyentuh hati mereka.

Luther masih tetap menjadi anggota gereja kepausan yang sugguh?sungguh, dan tidak pernah berpikir yang lain?lain. Dengan pemeliharaan Allah ia telah dituntun untuk mengunjungi Roma. Ia melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, dan menginap di biara?biara sepanjang perjalanan. Di salah satu biara di Italia ia dipenuhi keheranan melihat kekayaan, keindahan dan kemewahan yang disaksikannya. Para biarawan tinggal di apartemen yang megah, dengan pendapatan yang memuaskan, berpakaian yang paling mewah dan paling mahal, dan memakan makanan yang mewah. Dengan sangat ragu?ragu, Luther membandingkan pemandangan ini dengan penyangkalan diri dan kesukaran yang dialaminya dalam hidupnya sendiri. Pikirannya menjadi bingung.


Akhirnya ia melihat dari kejauhan kota tujuh?gunung itu. Dengan perasaan yang mendalam ia tersungkur ke tanah dan berseru, "Roma yang kudus, aku menghormatimu." Ia memasuki kota itu, mengunjungi gereja?gereja, mendengarkan cerita?cerita dongeng yang diceritakan oleh para imam dan biarawan, dan menjalankan semua upacara yang diharuskan. Dimana?mana ia melihat pemandangan yang memenuhinya dengan kekaguman dan ketakutan. Ia melihat bahwa kejahatan terjadi di semua tingkat pendeta. Ia mendengar lelucon yang tidak sepantasnya dari para pejabat tinggi gereja, dan dipenuhi dengan kengerian kenajisan mereka, bahkan pada waktu misa. Pada waktu ia berbaur dengan para biarawan dan penduduk, ia menemui pemborosan, pesta pora dan kebejatan. Berpaling ke tempat yang seharusnya suci, ia dapati kenajisan. "Tak seorangpun bisa membayangkan," ia menulis, "dosa apa dan tindakan tak terpuji apa yang dilakukan di Roma. Mereka harus melihat dan mendengar sendiri supaya percaya. Dengan demikian mereka akan bisa berkata, 'Jika ada neraka, Roma didirikan diatasnya: itu adalah suatu lobang yang dalam darimana keluar segala jenis dosa.'" ?? D'Aubigne, b. 2, ch. 6.

Dengan dekrit yang baru, paus telah menjanjikan kesenangan kepada semua yang menaiki "Tangga Pilatus" dengan berlutut. Katanya tangga itu telah dituruni oleh Juru Selamat kita pada waktu meninggalkan pengadilan Roma, dan dengan ajaib telah dipindahkan dari Yerusalem ke Roma. Luther pada suatu hari menaiki tangga itu dengan sungguh?sungguh, pada waktu mana ia tiba?tiba mendengar satu suara bagaikan geledek yang berkata, "Orang benar akan hidup oleh iman" (Roma 1:17). Ia langsung berdiri dan segera meninggalkan tempat itu dengan malu dan ngeri. Ayat itu tidak pernah kehilangan kuasa atas jiwanya. Sejak waktu itu ia melihat lebih jelas dari sebelumnya pendapat yang keliru, yang mempercayai keselamatan diperoleh atas usaha manusia, dan pentingnya iman yang terus menerus kepada usaha Kristus. Matanya sekarang terbuka, dan tak akan pernah lagi tertutup, karena penipuan kepausan. Pada waktu ia memalingkan wajahnya dari Roma, hatinya juga ikut berpaling, dan sejak waktu itu jurang perpisahanpun semakin melebar, sampai akhirnya ia memutuskan semua hubungannya dengan gereja kepausan.

Sekembalinya dari Roma, Luther menerima gelar Doctor of Divinity dari Universitas Wittenberg. Sekarang ia bebas membaktikan dirinya kepada Alkitab yang dicintainya, seperti belum pernah sebelumnya. Ia telah bernazar untuk mempelajari dengan teliti firman Allah dan dengan setia akan mengkhotbahkannya seumur hidupnya, bukan kata?kata dan ajaran?ajaran para paus. Ia bukan lagi sekedar biarawan atau guru besar, tetapi juga bentara dan pejabat yang berwenang Alkitab. Ia telah dipanggil sebagai gembala untuk memberi makan kawanan domba Allah, yang telah lapar dan haus akan kebenaran. Dengan tegas ia menyatakan bahwa orang Kristen tidak boleh menerima ajaran lain selain yang berdasarkan otoritas Alkitab yang suci. Kata?kata ini menghantam dasar supremasi kepausan. Kata?kata ini mengandung prinsip vital Pembaharuan (Reformasi).

Luther melihat bahayanya meninggikan teori?teori manusia di atas firman Allah. Tanpa gentar ia menyerang ketidak?percayaan pada agama yang spekulatif dari para dosen, dan menentang filsafat dan teologi yang telah begitu lama mempunyai pengaruh menguasai orang?orang. Ia mencela pelayanan yang seperti itu sebagai bukan saja tidak berguna, tetapi juga berbahaya. Dan ia mencoba mengalihkan pikiran pendengarnya dari argumentasi yang tidak benar dengan tujuan menipu dari para ahli filsafat dan ahli teologi, kepada kebenaran kekal yang diletakkan oleh para nabi dan para rasul.

Begitu berbahaya pekabaran yang dibawanya kepada para pendengar yang rindu dan yang lapar akan kata?katanya. Belum pernah pengajaran seperti itu mereka dengar sebelumnya. Berita kesukaan mengenai kasih Juru Selamat, jaminan pengampunan dan kedamaian melalui penebusan darah?Nya, memberikan sukacita dan mengilhamkan suatu pengharapan kekal didalam hati mereka. Di Wittenberg satu terang sudah dinyalakan yang sinarnya harus meluas sampai ke hujung bumi, dan yang terangnya bertambah menjelang akhir zaman.

Akan tetapi terang dan kegelapan tidak bisa berbaur. Antara kebenaran dan kesalahan ada pertentangan yang tidak bisa dihilangkan. Untuk meninggikan dan mempertahankan yang satu kita harus melawan dan membuangkan yang lain. Juru Selamat kita sendiri berkata, "Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang" (Matius 10:34). Luther berkata beberapa tahun setelah Pembaharuan, "Allah tidak menuntun aku, Ia mendorong aku kedepan. Ia membawa aku. Aku bukan tuan atas diriku. Aku rindu hidup dengan tenang, tetapi aku telah dilemparkan ke tengah?tengah keributan dan revolusi." ?? D'Aubigne, b. 5, ch. 2. Sekarang ia hampir terbujuk memasuki pertarungan.


Gereja Roma telah membuat rahmat Allah menjadi barang dagangan. Meja?meja penukaran uang (Matius 21:12) disediakan disamping mezbah?mezbah, dan udara dipenuhi hiruk?pikuk teriakan para penjual dan para pembeli. Oleh karena kebutuhan dana yang besar untuk mendirikan gereja St. Petrus di Roma, surat?surat pengampunan dosa telah dijual secara terbuka atas persetujuan paus. Dengan hasil kejahatan sebuah kaabah akan didirikan, tempat berbakti kepada Allah ?? batu penjuru telah diletakkan dengan upah kejahatan dan kekjaman! Tetapi cara yang digunakan untuk memperbesar kuasa dan kekayaan Roma telah menimbulkan pukulan yang mematikan kepada kekuasaannya dan kepada kebesarannya sendiri. Inilah yang membangkitkan musuh kepausan yang paling bertekad melawan dan yang paling sukses, yang menimbulkan peperangan yang menggoncangkan istana kepausan, dan yang telah mendesak mahkota bertingkat tiga itu dari kepala paus.

Petugas resmi yang ditunjuk melaksanakan penjualan surat pengampunan dosa itu di Jerman ?? Tetzel namanya ?? telah dipersalahkan melakukan kejahatan terhadap masyarakat dan terhadap hukum Allah. Tetapi ia tidak dihukum atas kejahatannya itu, sebaliknya ia dipekerjakan untuk memajukan proyek mencari keuntungan paus ini. Dengan kelancangan yang sangat ia mengulangi kepalsuan yang menyolok dan menghubungkan cerita?cerita dongeng untuk menipu orang?orang bodoh, orang?orang yang mudah percaya dan yang percaya kepada takhyul. Seandainya mereka mempunyai firman Tuhan, mereka tidak akan tertipu seperti itu. Alkitab dihindarkan dari orang?orang agar mereka tetap dibawah kekuasaan kepausan, dan agar kekayaan dan kekuasaan para pemimpinnya terus berkembang. ?? Lihat Gieseler, Ecclesiastical History," Period IV, sec. 1, par. 5.

Pada waktu Tetzel memasuki kota, seorang pesuruh mendahului dia dan mengumumkan, "Rahmat Allah dan bapa kudus sekarang berada di pintu gerbang Anda." ?? D'Aubigne, b. 3, ch. 1. Dan orang?orang menyambut penipu yang penuh hujat itu, seolah?olah ia adalah Allah Sendiri yang datang dari Surga kepada mereka. Perdagangan keji telah dilakukan di gereja, dan Tetzel naik ke mimbar dan mengacung?acungkan surat pengampunan dosa itu sambil mengatakan bahwa itulah pemberian yang paling berharga dari Allah. Ia mengatakan bahwa dengan jasa surat pengampunannya itu semua dosa yang akan dilakukan oleh pembeli sesudah ini akan diampuni dan bahwa "pertobatanpun tidak diperlukan." ?? Idem, b. 3, ch. 1. Lebih dari itu, ia juga memastikan kepada para pendengarnya bahwa surat pengampunan ini bukan saja berkuasa menyelamatkan yang hidup, tetapi juga yang sudah meninggal. Pada saat uang itu jatuh ke dasar kotaknya, maka jiwa untuk siapa uang itu dibayarkan, akan lolos dari api penyiksaan (purgatori) dan masuk ke Surga. ?? Lihat Hagenbach, "History of the Reformation," Vol. I, p. 96.

Pada waktu Simon Magus mau membeli dari rasul?rasul kuasa untuk melakukan mujizat, Petrus menjawabnya, "Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang" (Kisah 8:20). Tetapi tawaran Tetzel itu disambut oleh ribuan orang yang ingin. Keselamatan yang dapat dibeli dengan uang lebih mudah didapatkan daripada keselamatan yng menuntut pertobatan, iman dan usaha yang rajin untuk menolak dan mengalahkan dosa. ?? (Lihat Lampiran).

Pengajaran mengenai surat pengampunan dosa telah ditentang oleh kaum terpelajar dan oleh orang?orang saleh di dalam Gereja Roma. Dan banyak yang tidak percaya kepura?puraan atau kemunafikan yang bertentangan dengan akal sehat dan nubuatan itu. Tak seorangpun pejabat tinggi gereja yang berani bersuara menentang perdagangan jahat ini. Tetapi pikiran orang?orang telah menjadi terganggu dan gelisah, dan banyak orang yang bertanya mengapa Allah tidak bekerja dengan cara lain untuk menucikan gereja?Nya.


Luther, meskipun masih pengikut paus yang paling jujur, telah dipenuhi kengerian terhadap perdagangan surat pengampunan dosa yang penuh dengan kesombongan dan hujat itu. Banyak anggota jemaatnya telah membeli surat pengampunan itu, dan mereka segera datang kepada gembala jemaatnya mengakui dosa?dosa mereka, dan mengharapkan pengampunan, bukan karena mereka sudah bertobat dan menginginkan pembaharuan, tetapi atas dasar surat pengampunan itu. Luther menolak memberi pengampunan, dan mengamarkan mereka bahwa kecuali mereka bertobat dan membaharui kehidupan mereka, mereka akan binasa dalam dosa?dosanya. Dalam kebingungan yang sangat, mereka pergi ke Tetzel dengan keluhan bahwa gembala jemaat mereka telah menolak sertifikat pengampunan dosa. Dan sebagian dengan tegas meminta supaya uangnya dikembalikan. Tetzel sangat marah. Ia mengucapkan kutukan yang paling ngeri, dan menyuruh menyalakan api alun?alun kota, dan menyatakan bahwa ia telah menerima perintah dari paus untuk membunuh semua bida'ah yang berusaha melawan surat pengampunan dosa yang mahakudus itu. ?? D'Aubigne, b. 3, ch. 4.

Sekarang Luther memulai pekerjaannya dengan berani sebagai pejuang kebenaran. Suaranya terdengar dari atas mimbar memberikan amaran yang sungguh?sungguh dan khidmat. Ditunjukkannya dihadapan orang?orang sifat pelanggaran dasar, dan mengajarkan kepada mereka bahwa adalah tidak mungkin bagi manusia, atas usahanya sendiri, mengurangi kesalahannya atau menghindari hukumannya. Tidak ada yang lain kecuali pertobatan kepada Allah dan iman kepada Yesus Kristus yang dapat menyelamatkan orang berdosa. Rahmat Kristus tidak dapat dibeli, itu adalah pemberian cuma?cuma. Ia menasihati orang?orang supaya jangan membeli surat pengampunan dosa, tetapi memandang dengan iman kepada Penebus yang sudah disalibkan itu. Ia menghubungkan pengalamannya yang menyakitkan yang dengan sia?sia mencari kehinaan diri dan pengampunan untuk mendapatkan keselamatan. Ia juga meyakinkan pendengarnya bahwa barulah setelah ia melihat ke luar dari dirinya dan percaya pada Kristus, ia menemukan kedamaian dan sukacita.

Pada waktu Tetzel meneruskan perdagangan dan kepura?puraannya yang tidak percaya kepada Tuhan, Luther memutuskan untuk memprotes dengan lebih efektif terhadap penyalah?gunaan ini. Suatu kesempatan segera didapatkan. Gereja kastel Wittenberg, yang mempunyai beberapa benda?benda kuno yang dianggap bernilai agama, yang pada hari?hari besar tertentu dipamerkan kepada umum, memberikan pengampunan penuh kepada semua orang yang berkunjung ke gereja itu dan yang membuat pengakuan dosa. Sebagai mana biasanya pada hari?hari seperti itu, banyak orang yang berkunjung ke tempat itu. Salah satu kesempatan yang paling penting ini, festival "Semua orang kudus," yang sudah hampir tiba.

Pada hari sebelum fetival itu, Luther, bersama?sama dengan orang banyak yang pergi ke gereja, memakukan di pintu gereja selembar kertas yang berisi 95 dalil atau tesis yang menentang ajaran surat pengampunan dosa. Ia menyatakan kesediaannya untuk mempertahankan dalil atau tesis ini besoknya di universitas, terhadap semua yang merasa diserang.


Dalil?dalilnya itu menarik perhatian umum. Mereka membaca, dan membaca ulang dalil itu, dan mengulanginya di segala penjuru. Suatu kegemparan besar terjadi di universitas dan seluruh kota itu. Dengan tesis ini telah ditunjukkan bahwa kuasa untuk memberikan pengampunan dosa dan penghapusan hukuman tidak pernah diberikan kepada paus atau seseorang yang lain. Seluruh rencana itu adalah lelucon belaka, ?? suatu kecerdikan untuk memeras uang oleh bermain melalui ketakhyulan orang?orang ?? suatu alat Setan untuk membinasakan jiwa orang?orang yang mau percaya kepada dusta kepura?puraannya. Juga dengan jelas ditunjukkan bahwa Kristus adalah harta gereja yang paling berharga, dan bahwa rahmat Allah yang dinyatakannya, diberikan dengan cuma?cuma kepada semua orang yang mencarinya oleh pertobatan dan iman.

Tesis Luther menantang perbincangan, tetapi tak seorangpun berani menerima tantangan itu. Pertanyaan?pertanyaan yang dihadapkannya telah tersebar ke seluruh Jerman hanya dalam beberapa hari saja. Dalam beberapa minggu telah terdengar ke selurh dunia Kekritenan. Banyak dari pengikut agama Roma yang setia, yang telah melihat dan menyesali kejahatan keji yang merajalela di gereja tetapi tidak tahu cara menghentikannya, membaca dalil itu dengan sukacita besar, menganggap dalil itu sebagai suara Allah. Mereka merasa bahwa tangan Tuhan yang penuh rahmat telah menghentikan arus kebejatan moral yang cepat membengkak itu yang telah dikeluarkan dari Roma. Para pangeran dan para pejabat tinggi gereja bersukacita secara diam?diam karena sebuah rintangan telah diberlakukan terhadap kuasa yang congkak itu, yang telah menghilangkan hak naik banding atas keputusan?keputusannya.

Tetapi orang?orang banyak yang mencintai dosa dan ketakhyulan telah ketakutan pada waktu kepura?puraan yang telah menenangkan ketakutan mereka telah hilang. Para pendeta yang banyak tipu muslihatnya berhenti sementara dalam melakukan kejahatan mereka, dan melihat pendapatan mereka dalam bahaya, telah menjadi marah dan berlomba untuk mempertahankan kepura?puraan mereka. Sang Pembaharu menghadapi para penuduh yang gigih. Sebagian menuduh dia bertindak gegabah dan menurut dorongan hati saja. Yang lain menuduhnya berprasangka dan congkak, menyatakan bahwa ia tidak dipimpin oleh Allah, tetapi bertindak atas kesombongan dan penonjolan diri. "Siapa yang tidak tahu," katanya, "bahwa seseorang jarang mengemukakan ide baru tanpa kelihatan sombong dan tanpa dituduh menimbulkan pertengkaran? . . . . Mengapa Kristus dan para syuhada dibunuh? Oleh karena mereka tampaknya seperti penghina yang sombong kepada kebijaksanaan masa itu, dan oleh sebab mereka memajukan hal?hal baru tanpa terlebih dahulu, dengan rendah hati, meminta nasihat orang?orang bijaksana sebelumnya."

Sekali lagi ia nyatakan, "Apa saja yang saya lakukan akan saya lakukan, bukan oleh kepintaran manusia, tetapi nasihat Allah. Jika pekerjaan itu datangnya dari Allah, siapakah yang dapat menghentikannya? Jikalau tidak dari Allh, siapakah yang sanggup meneruskannya? Bukan kehendakku, atau kehendak mereka atau kehendak kami. Tetapi kehendak?Mu, O, Bapa yang kudus, yang di dalam Surga." ?? Idem, b. 3, ch. 6.


Meskipun Luther telah digerakkan oleh Roh Allah untuk memulai pekerjaannya, ia tidak mengerjakannya tanpa pertentangan hebat. Celaan?celaan musuh?musuhnya, penyelewengan tujuan?tujuannya, dan pencerminan ketidak?adilan dan bahaya atas tabiat dan motifnya, dilancarkan kepadanya seperti banjir yang sedang melanda, dan semuanya bukan tanpa pengaruh. Ia merasa percaya diri bahwa para pemimpin orang?orang baik dalam gereja maupun di sekolah?sekolah akan dengan senang bersatu dengan dia dalam usaha?usaha pembaharuan. Kata?kata dorongan dari mereka yang berada pada kedudukan yang tinggi, telah mengilhaminya dengan sukacita dan pengharapan. Ia telah mengantisipasi bahwa hari yang lebih cerah akan terbit di dalam gereja. Tetapi kata?kata dorongan telah berubah menjadi celaan dan kutukan. Banyak pejabat?pejabat tinggi, baik gereja maupun negara telah diyakinkan oleh kebenaran tesisnya itu; tetapi mereka segera melihat bahwa penerimaan kebenaran ini akan melibatkan perubahan besar. Memberi penerangan kepada rakyat dan mengadakan pembaharuan pada orang?orang jelas?jelas merendahkan kekuasaan Roma, menghentikan arus kekayaan mengalir ke perbendaharaan Roma, dan dengan demikian mengurangi perbuatan melampaui batas, dan kemewahan para pemimpin kepausan. Lebih jauh, mengajar orang berpikir dan bertindak sebagai makhluk yang bertanggungjawab, memandang kepada Kristus satu?satunya jalan keselamatan, akan meruntuhkan tahta paus, yang akhirnya menghancurkan kekuasaannya. Atas alasan?alasan ini mereka menolak pengetahuan yang ditawarkan kepada mereka oleh Allah, dan mempersiapkan diri mereka melawan Kristus dan kebenaran oleh perlawanan terhadap orang yang telah dikirimnya menerangi mereka.

Luther gemetar pada waktu dia memandang dirinya ?? seorang melawan orang yang paling berkuasa di dunia. Kadang?kadang ia ragu?ragu apakah ia benar?benar dipimpin oleh Allah untuk melawan otoritas gereja. "Siapakah aku," ia menulis, "menentang keagungan paus, yang dihadapannya . . . raja?raja dunia ini dan seluruh dunia gemetar? . . . Tak seorangpun yang tahu betapa hatiku menderita selama dua tahun pertama ini, dan kedalam kemurungan dan keputusasaan aku tenggelam." ?? Idem, b. 3, ch. 6. Tetapi ia tidak dibiarkan tawar hati. Bilamana dukungan manusia gagal, ia hanya melihat kepada Allah saja, dan mengetahui bahwa ia dapat bersandar dengan aman di atas tangan Yang Mahakuasa itu.

Luther menulis kepada seorang sahabat Pembaharuan, "Kita tidak dapat mengerti Alkitab itu baik oleh mempelajarinya atau oleh kepintaran. Tugas pertamamu ialah memulai dengan berdoa. Mintalah agar Tuhan memberikan kepadamu, oleh kemurahannya yang besar, pengertian yang benar tentang firman?Nya. Tidak ada penafsir firman Allah yang lain selain Pengarang firman itu sendiri, sebagaimana Ia sendiri katakan, 'Mereka semua akan diajar oleh Allah.' Janganlah mengharapkan sesuatu dari usahamu sendiri, dari pengertianmu sendiri. Percayalah kepada Tuhan saja dan kepada pengaruh Roh?Nya. Percayalah kepada perkataan ini dari seorang yang sudah berpengalaman." ?? Idem, b. 3, ch. 7. Inilah satu pelajaran yang sangat penting bagi mereka yang merasa dipanggil oleh Allah untuk menyajikan satu?satunya kebenaran itu kepada orang lain pada masa ini. Kebenaran itu akan membangkitkan rasa permusuhan Setan dan orang?orang yang menyukai cerita?cerita dongeng yang telah dirancangnya. Dalam pertentangan dengan kuasa kejahatan, ada suatu keperluan yang lebih penting dari pada sekedar kekuatan intelek dan akal budi manusia.

Bilamana musuh menarik perhatian kepada adat dan tradisi, atau tuntutan dan kekuasaan paus, Luther menghadapinya dengan Alkitab, dan satu?satunya Alkitab. Inilah argumentasi yang tidak dapat dijawab oleh mereka. Oleh sebab itu budak?budak formalisme dan ketakhyulan berteriak menuntut darahnya, sama seperti orang?orang Yahudi berteriak menuntut darah Kristus. "Dia seorang bida'ah," teriak orang?orang fanatik Roma itu. "Adalah suatu pengkhianatanbesar terhadap gereja membiarkan seorang bida'ah hidup lebih dari sejam. Dirikanlah segera tiang gantungan baginya!" ?? Idem, b. 3, ch. 9. Akan tetapi Luther tidak jatuh menjadi mangsa keganasan mereka. Allah mempunyai pekerjaan yang akan dikerjakannya, dan malaikat?malaikat Allah telah dikirimkan untuk melindunginya. Namun begitu, banyak orang yang telah menerima terang yang berharga itu dari Luther, telah menjadi sasaran murka Setan, dan demi kebenaran tanpa takut menderita siksaan dan kematian.

Pengajaran Luther menarik perhatian orang?orang cerdik pandai diseluruh Jerman. Dari khotbah?khotbahnya keluarlah sinar?sinar terang yang membangunkan dan menerangi beribu?ribu orang. Iman yang hidup menggantikan formalisme mati yang telah lama dianut gereja. Setiap hari orang?orang mulai tidak percaya lagi kepada ketakhyulan Roma. Hambatan prasangka mulai hilang. Firman Allah, oleh mana setiap doktrin dan tuntutan diuji oleh Luther, bagaikan pedang bermata dua, menembusi masuk kedalam hati orang?orang. Dimana?mana ada kebangunan kerinduan kepada suatu kemajuan kerohanian. Dimana?mana ada kelaparan dan kehausan kepada kebenaran yang belum pernah terjadi sebelumnya selama berabad?abad. Mata orang?orang yang begitu lama ditujukan kepada upacara?upacara manusia dan pengantara duniawi, sekarang dialihkan kepada pertobatan dan iman kepada Kristus yang disalibkan itu.


Perhatian orang?orang yang semakin meluas ini menimbulkan rasa takut lebih jauh pada penguasa kepausan. Luther dipanggil ?? menghadap ke Roma, untuk menjawab tuduhan bida'ah. Perintah itu membuat teman?temannya sangat merasa takut. Mereka mengerti benar bahaya yang mengancamnya di kota yang bejat itu, yang telah mabuk dengan darah para syuhada Yesus. Mereka memprotes kepergiannya ke Roma, dan memohon agar pemeriksaannya dilakukan di Jerman saja.

Permohonan itu akhirnya disetujui, dan utusan paus dipilih untuk mendengar kasus itu. Dalam instruksi yang disampaikan paus kepada utusannya dikatakan bahwa Luther telah dinyatakan sebagai bida'ah. Oleh sebab itu utusan itu ditugaskan untuk "menuntut dan menahan Luther dengan segera." Jikalau ia tetap bertahan dan utusan itu gagal untuk menguasainya, maka utusan itu diberi kuasa untuk "mengucilkan dan mengharamkan dia di seluruh bagian Jerman, dan menghapuskan, mengutuk dan mengucilkan semua orang yang berhubungan dengan dia." ?? Idem, b. 4, ch. 2. Lebih jauh paus memberi petunjuk kepada utusannya agar membasmi sampai keakar?akarnya bala sampar bida'ah, dan mengucilkan semua pejabat gereja maupun pejabat negara kecuali kaisar, yang melalaikan penangkapan Luther dan pengikut?pengikutnya, dan menyerahkannya kepada pembalasan Roma.

Disinilah diperagakan roh kepausan yang sebenarnya. Sedikitpun tak terdapat prinsip Kekristenan, atau bahkan rasa keadilan di dalam seluruh instruksi itu. Luther berada jauh dari Roma. Dia tidak mendapat kesempatan untuk menjelaskan atau mempertahankan posisinya. Namun sebelum kasusya diperiksa ia telah dinyatakan seorang bida'ah, dan pada hari yang sama didorong, dituduh, dihakimi dan dihukum. Semua ini dilakukan oleh bapa kudus, satu?satunya penguasa tertinggi dan mutlak di dalam gereja maupun negara.

Pada waktu ini, pada saat Luther begitu membuthkan simpati dan nasihat dari sahabat?sahabat sejatinya, pemeliharaan Allah mengirim Melanchthon ke Wittenberg. Meskipun masih muda, rendah hati dan bersahaja, dan masih kurang percaya pada diri sendiri, tetapi pertimbangannya yang baik dan pengetahuannya dan kemahirannya berbicara digabung dengan kesucian dan ketulusan tabiatnya, Melanchthon dikagumi dan dihargai kalangan luas. Kecemerlangan bakatnya sama menonjolnya dengan kelemah?lembutan watak dan tabiatnya. Tidak lama kemudian ia menjadi murid Injil yang sungguh?sungguh dan sahabat Luther yang paling terpercaya. Kelemah?lembutannya, keberhati?hatiannya dan ketepatannya menjadi pelengkap kepada keberanian dan kekuatan Luther. Perpaduan mereka dalam bekerja menambah kekuatan kepada Pembaharuan, dan menjadi sumber dorongan kuat bagi Luther.

Telah ditetapkan kota Augsburg menjadi tempat pemeriksaan pengadilan, dan sang Pembaharu berjalan kaki ke kota itu. Ketakutan yang serius memenuhi orang?orang oleh karenanya. Ancaman telah dilancarkan secara terbuka bahwa ia akan ditangkap dan dibunuh dalam perjalanan, sehingga teman?temannya merintanginya agar jangan mengambil risiko. Bahkan, mereka memintanya meninggalkan Wittenberg untuk sementara waktu, dan berlindung pada mereka yang dengan senang melindunginya. Tetapi ia tidak akan meninggalkan posisi dimana Allah telah menempatkannya. Ia harus terus mempertahankan kebenaran itu dengan setia, meskipun badai memukulnya. Inilah ucapannya, "Aku seperti nabi Yeremia, seorang yang penuh dengan pertikaian dan pertentangan. Tetapi semakin bertambah ancaman mereka, semakin bertambah pulalah sukacitaku. . . . Mereka telah menghancurkan kehormatanku dan reputasiku. Hanya satu perkara saja yang masih tinggal, ialah tubuhku yang hina ini. Biarlah mereka juga mengambilnya, dengan demikian mereka akan memperpendek hidupku beberapa jam. Tetapi mengenai jiwaku, mereka tidak dapat mengambilnya. Ia yang rindu menyiarkan firman Kristus ke dunia ini, harus mengharapkan kematian setiap saat." ?? Idem, b. 4, ch. 4.


Berita mengenai tibanya Luther di Augsburg memberikan rasa puas kepada utusan paus. Orang bida'ah yang menyusahkan ini, yang telah membangkitkan perhatian seluruh dunia, tampaknya sekarang sudah berada dalam kekuasaan Roma, dan utusan paus itu telah menetapkan agar ia tidak boleh lolos. Sang Pembaharu itu tidak mempunyai surat jalan jaminan keselamatan. Sahabat?sahabatnya mendesak dia agar jangan menemui utusan paus itu tanpa surat jalan jaminan keselamatan. Dan mereka sendiri berusaha mendapatkannya dari kaisar. Utusan paus bermaksud untuk memaksa Luther, jika mungkin mundur dari keyakinannya, atau jika gagal dalam hal ini, meneruskannya ke Rom untuk mendapat nasib yang sama seperti Huss dan Jerome. Itulah sebabnya melalui agen?agennya ia berusaha mengajak Luther menghadap tanpa surat jalan jaminan keselamatan, dengan mempercayai belas kasihan utusan paus. Ajakan ini sama sekali ditolak oleh sang Pembaharu itu. Ia tidak akan menghadap utusan paus sebelum ia menerima dokumen yang menjanjika kepadanya perlindungan kaisar.

Menurut kebijakan yang diambil, para penguasa Roma telah memutuskan untuk berusaha menundukkan Luther dengan tampak seolah?olah lembut. Utusan paus dalam wawancara dengannya menunjukkan seolah?olah sangat bersahabat. Tetapi ia mendesak agar secara implisit tunduk kepada kekuasaan gereja, dan mengalah tanpa argumentasi atau pertanyaan. Utusan paus itu belum memperhitungkan dengan benar tabiat orang yang dihadapinya. Sebagai jawaban, Luther menyatakan rasa hormatnya kepada gereja, kerinduannya kepada kebenaran, kesediaannya menjawab semua keberatan?keberatan terhadap apa yang telah diajarkannya, dan menyerahkan ajarannya itu untuk dinilai oleh universitas?universitas terkemuka tertentu. Tetapi pada waktu yang sama ia memprotes sikap kardinal, utusan paus, yang meminta ia mundur tanpa membuktikan dia bersalah.

Respons satu?satunya ialah, "Mundur, mundur!" Pembaharu itu menunjukkan bahwa posisinya didukung oleh Alkitab, dan dengan tegas ia katakan bahwa tidak dapat menyangkal kebenaran itu. Utusan paus, yang tidak sanggup menjawab arguen?argumen Luther, menghujaninya dengan celaan, cemoohan, dan rayuan, yang diselingi dengan kutipan?kutipan dari tradisi dan sebutan?sebutan para pater tanpa memberi kesempatan kepada Pembaharu itu untuk berbicara. Setelah melihat bahwa konferensi itu akan berakhir dengan kegagalan jika diteruskan, akhirnya Luther mendapat izin yang terpaksa untuk memberikan jawabannya secara tertulis.

"Dengan berbuat demikian," katanya dalam suratnya kepada seorang sahabatnya, "yang tertindas mendapat keuntungan ganda. Pertama, apa yang ditulis itu dapat diserahkan untuk dipertimbangkan oleh orang lain, dan yang kedua, seseorang mempunyai kesempatan untuk mengatasi rasa takut terhadap seseorang yang angkuh, pengocehan dan lalim, yang kalau tidak bisa dikalahkan dengan bahasa yang sombong dan meninggi." ?? Martyn, "The Life and Times of Luther," pp. 271, 272.

Pada wawancara berikutnya, Luther menyatakan pandangannya dengan jelas, singkat dan berbobot, yang didukung sepenuhnya dengan kutipan?kutipan dari Alkitab. Setelah membacakan tulisannya dengan nyaring, Luther menyerahkannya kepada kardinal, utusan paus itu. Namun utusan paus menganggap rendah tulisan itu dan mengesampingkannya, dan mengatakan bahwa tulisan itu adalah kumpulan dari kata?kata yang tidak berguna dan kutipan?kutipan yang tidak relevan. Luther tersinggung, benar?benar bangkit dan menghadapi pejabat tinggi gereja, utusan paus yang nakal itu dengan dasarnya sendiri, ?? tradisi dan ajaran?ajaran gereja ?? dan berhasil mengalahkan asumsinya.

Bilamana kardinal, utusan paus, melihat bahwa pendapat Luther itu tidak bisa dijawab, ia sama sekali tidak dapat lagi mengendalikan dirinya, dan dengan geramnya ia berteriak, "Mundur! atau saya akan kirim engkau ke Roma, meghadap para hakim yang ditugaskan menangani masalahmu. Saya akan mengucilkan engkau dengan semua partisanmu, dan semua yang pada suatu waktu akan membantumu, dan akan mengusir mereka keluar dari gereja." Dan akhirnya ia mengatakan dengan nada sombong dan marah, "Mundur, atau engkau tidak akan kembali lagi." ?? D'Aubigne, b. 4, ch. 8 (London ed.).


Sang Pembaharu dengan segera meninggalkan tempat itu bersama sahabat?sahabatnya. Dengan demikian menyatakan dengan jelas bahwa tidak akan mundur dari ajaran?ajarannya. Bukanlah ini yang dimaksudkan oleh kardinal. Ia telah menyombongkan diri bahwa dengan kekuasaan ia membuat Luther menyerah. Sekarang ia ditinggalkan bersama para pendukungnya, saling melihat satu sama lain dengan sangat kecewa melihat kegagalan yang tidak diharapkan sebelumnya.

Usaha?usaha Luther pada waktu ini bukannya tidak berhasil baik. Para hadirin di mahkamah itu berkesempatan membandingkan kedua orang itu, dan menilai roh yang dinyatakan kedua mereka, serta kekuatan dan kebenaran posisi mereka masing?masing. Sangat bertolak belakang! Pembaharu itu sederhana, rendah hati, teguh, berdiri dengan kekuatan Allah, kebenaran berada dipihaknya. Kardinal, utusan paus, merasa diri penting, bersifat menguasai, sombong, tidak bisa bermusyawarah, tanpa satu argumentasi dari Alkitab, namun dengan keras berteriak, "Mundur! atau dikirim ke Roma untuk dihukum."

Meskipun Luther telah memperoleh surat jalan jaminan keselamatan, para penguasa Roma telah berkomplot untuk menangkapnya dan memenjarakannya. Sahabat?sahabatnya mengataka kepada Luther bahwa tidak ada gunanya ia tinggal lebih lama dikota itu, ia harus segera kembali ke Wittenberg, dan ia harus sangat berhati?hati menyembunyikan maksudnya. Ia meninggalkan Augsburg sebelum fajar menyingsing dengan menunggang kuda, ditemani oleh seorang penunjuk jalan yang disediakan oleh pejabat kota. Dengan harap?harap cemas, dengan diam?diam ia menyusuri jalan?jalan kota yang gelap dan sepi. Musuh?musuhnya, dengan berjaga?jaga dan dengan kejam telah berkomplot untuk membinasakannya. Apakah ia bisa meloloskan diri dari perangkap yang dipasang baginya? Saat itu adalah saat yang menegangkan dan saat untuk berdoa dengan sungguh?sungguh. Mereka tiba di suatu gerbang di tembok kota. Gerbang itu terbuka baginya, dan bersama penunjuk jalannya melewatinya tanpa halangan. Setelah selamat tiba diluar kota, pelarian itu segera melanjutkan perjalanannya, dan sebelum utusan paus mengetahui kepergian Luther ia sudah jauh berada diluar jangkauan para penuduhnya. Setan bersama kaki?tangannya telah dikalahkan. Orang yang mereka sangka sudah berada dalam kekuasaannya telah tiada, seperti burung lepas dari jerat pemburu.

Mendengar kaburnya Luther, utusan paus sangat kaget dan marah. Ia telah mengharapkan akan memperoleh penghargaan atas kebijaksanaannya dan keteguhannya dalam menangani pengganggu gereja itu. Tetapi pengharapannya telah pupus semua dan sangat mengecewakannya. Ia menyatakan kegeramannya dalam satu surat kepada Frederick, penguasa Saxony, dengan keras ia mencela Luther dan meminta agar Frederick mengirimkan Pembaharu itu ke Roma atau ia akan diusir dan dibuang dari Saxony.

Sebagai pembelaannya, Luther meminta agar utusan paus atau paus sendiri menunjukkan kepadanya kesalahannya dari Alkitab, dan berjanji dalam cara yang paling khidmat akan mencela ajaran?ajarannya jika ajaran?ajaran itu bertentangan dengan firman Allah. Dan ia menyatakan rasa syukurnya kepada Allah karena ia telah dianggap pantas untuk menderita oleh karena?Nya.


Penguasa Saxony belum begitu banyak mengetahui tentang ajaran pembaharuan, tetapi ia sangat terkesan oleh keterus?terangan, kuasa dan jelasnya kata?kata Luther. Frederick berketetapan untuk menjadi pelindung Luther sampai sang Pembaharu itu terbukti bersalah. Dalam jawabannya kepada tuntutan utusan paus ia menulis, " 'Oleh karena Doktor Martin Luther telah menghadap Anda di Augsburg, seharusnya Anda sudah merasa puas. Kami tidak mengharapkan bahwa Anda membuat dia mundur dari keyakinannya tanpa meyakinkannya tentang kesalahannya. Tak seorangpun kaum terpelajar di negeri kami yang memberitahukan kepada saya bahwa ajaran Luther itu tidak menghormati Tuhan atau tidak beriman, anti Kristen, atau bida'ah.' Disamping itu, pangeran menolak mengirimkannya ke Roma, atau mengusirnya dari negaranya." ?? D'Aubigne, b. 4, ch. 10.

Penguasa Saxony melihat bahwa ada kemerosotan umum moral di masyarakat. Suatu pekerjaan besar pembaharuan diperlukan. Pengaturan yang rumit dan mahal untuk mencegah dan menghukum kejahatan tidak akan diperlukan jika orang?orang mengakui dan menuruti tuntutan Allah dan suara hati nuraninya. Ia melihat bahwa Luther berusaha untuk mencapai tujuan ini, dan secara rahasia ia bersukacita bahwa pengaruh yang lebih baik sedang terasa di dalam gereja.

Ia juga melihat bahwa sebagai seorang profesor di universitas, Luther adalah seorang yang sukses. Baru setahun berlalu setelah Luther menempelkan tesisnya di gereja kastel, sudah ada penurunan kunjungan peziarah ke gereja itu pada pesta hari raya Seluruh Orang Kudus. Roma telah kekurangan kelompok orang yang datang berbakti dan kekurangan persembahan. Tetapi tempat mereka ini telah diisi oleh kelompok lain, yang datang ke Wittenberg, bukan menjadi peziarah untuk mengagumi benda?benda bersejarah, tetapi menjadi pelajar?pelajar yang memenuhi ruangan?ruangan belajar. Tulisan?tulisan Luther telah membangkitkan minat baru terhadap Alkitab, bukan hanya dari seluruh bagian Jerman, tetapi juga dari negara?negara lain. Mereka berduyun?duyun memasuki universitas. Para pemuda yang pertama kali datang ke Wittenberg, "mengangkat tangan mereka ke atas dan memuji Allah yang telah menyebabkan terang kebenaran bersinar dari kota ini, seperti dari Sion pada zaman dahulu, darimana terang itu tersebar bahkan ke negeri?negeri yang jauh." ?? D'Aubigne, b. 6, ch. 10.

Sampai kini Luther baru sebagian bertobat dari kesalahan?kesalahan Romanisme. Tetapi sementara ia membandingkan Tulisan?tulisan Kudus dengan dekrit kepausan dan undang?undang, ia menjadi sangat keran. "Saya sedang membaca," ia menulis, "dekrit para paus, dan . . . saya tidak tahu apakah paus itu sendiri antikristus atau rasulnya. Kristus sangat disalah?gambarkan dan disalibkan didalamnya." ?? Idem, b. 5, ch. 1. Namun sampai saat ini tidak ada pikirannya untuk memisahkan diri dari persekutuannya

Tulisan?tulisan dan doktrin Pembaharu itu telah meluas kesetiap bangsa didunia Kekristenan. Pekerjaan itu meluas ke Swis dan ke Negeri Belanda. Salinan tulisan?tulisannya terdapat juga di Perancis dan Spanyol. Di Inggeris pengajaran Luther diterima sebagai firman kehidupan. Juga ke Belgia dan ke Italia kebenaran itu telah meluas. Beribu?ribu bangkit dari tidur mereka yang bagaikan orang mati itu, kepada kesukaan dan pengharapan suatu kehidupan beriman.

Roma menjadi semakin jengkel oleh serangan?serangan Luther. Dan telah dinyatakan oleh beberapa lawan?lawannya yang fanatik, bahkan oleh para doktor di universitas?universitas Katolik, bahwa siapa yang membunuh biarawan pemberontak itu tidak berdosa. Pada suatu hari seorang asing, dengan pistol disembunyikan dibalik jubahnya, mendekati Pembaharu itu, dan bertanya mengapa ia berjalan sendirian seperti itu. Luther menjawab, "Aku berada didalam tangan Tuhan. Ia adalah kekuatanku dan perisaiku. Apa yang bisa dilakukan oleh seseorang terhadap aku?" ?? Idem, b. 6, ch. 2. Setelah mendengar perkataan ini orang asing itu menjadi pucat pasi dan melarikan diri, seperti dari hadapan malaikat?malaikat Surga.

Roma bertekad membinasakan Luther, tetapi Allahlah pelindungnya dan pertahanannya. Doktrin?doktrinnya telah terdengar dimana?mana, ?? "di gubuk?gubuk dan biara?biara, . . . di kastel?kastel para bangsawan, di universitas?universitas, dan di istana raja?raja." Dan para bangsawan telah bangkit untuk mendukung usaha?usahanya disegala bidang. ?? Idem, b. 6, ch. 2.


Kira?kira pada waktu inilah Luther, setelah membaca tulisan?tulisan Huss, mendapati bahwa kebenaran besar pembenaran oleh iman, yang ia sendiri berusaha tinggikan dan ajarkan, telah dianut oleh pembaharu Bohemia. "Kami semua," kata Luther, "Paul, Augustine dan saya sendiri, telah menjadi pengikut Huss tanpa mengetahuinya!" "Allah pasti akan datang melawat dunia ini," lanjutnya, "bahwa kebenaran itu telah dikhotbahkan kepada dunia ini seabad yang lalu, dan membakarnya." ?? Wylie, b. 6, ch. 1.

Dalam suatu himbauan kepada kaisar dan para bangsawan Jerman atas nama Pembaharuan Kekristenan, Luther menuliskan mengenai paus, "Adalah suatu yang mengerikan memandang seseorang yang menamakan dirinya sendiri wakil Kristus, yang memperagakan keindahan dan kemuliaan yang tak seorang kaisarpun dapat menyamainya. Apakah ini yang dikatakan seperti Yesus yang malang atau seperti Petrus yang hina? Dia, mereka katakan adalah Tuan dunia ini! Tetapi Kristus, yang diwakilinya dengan menyombongkannya, telah berkata, 'Kerajaanku bukan dari dunia ini.' Dapatkah kekuasaan wakil melebihi kekuasaan atasannya yang diwakilinya?" ?? D'Aubigne, b. 6, ch. 3.

Mengenai beberapa universitas ia menulis, "Aku merasa sangat khawatir bahwa universitas?universitas akan menjadi pintu?pintu neraka, kecuali mereka dengan rajin menerangkan Alkitab, dan mengukirkannya didalam hati para pemuda. Saya tidak menasihati seorangpun untuk menempatkan anaknya di sekolah yang tidak meninggikan Alkitab. Setiap lembaga pendidikan dimana orang?orang tidak diisi dengan firman Allah akan korup." ?? Idem, b. 6, ch. 3.

Himbauan ini segera beredar ke seluruh Jerman, dan memberikan suatu pengaruh kuat kepada orang?orang. Seluruh bangsa itu telah digerakkan, dan orang banyak bangkit berkumpul dibawah panji?panji pembaharuan. Penentang?penentang Luther, didorong oleh keinginan untuk membalas, memohon kepada paus agar mengambil tindakan terhadapnya. Dengan segera dikeluarkan dekrit yang melarang dan mengharamkan doktrin?doktrin Luther. Diberikan waktu enam puluh hari kepada Pembaharu dengan pengikut?pengikutnya, sesudah itu, jika mereka tidak menarik kembali pernyataannya, semua mereka akan dikucilkan dari gereja.

Keadaan itu adalah suatu kemelut yang mengerikan bagi Pembaharuan. Selama berabad?abad keputusan pengucilan Roma telah menakutkan raja?raja yang berkuasa sekalipun. Keputusan seperti itu telah membuat kerajaan yang kuat mengalami bencana dan kehancuran. Mereka yang dijatuhi hukuman pengucilan, pada umumnya dipenuhi ketakutan dan kengerian. Mereka tidak diperbolehkan berhubungan dengan sesamanya, dan diperlakukan sebagai orang terbuang yang tidak dilindungi oleh undang?undang, dan akan diburu untuk dibinasakan. Luther tidak buta terhadap topan yang akan menimpanya, tetapi ia tetap teguh, percaya kepada Kristus yang akan menjadi penopangnya dan perisainya. Dengan iman dan keberanian untuk mati syahid atau menjadi syuhada ia menulis, "Apa yang akan terjadi aku tidak tahu, atau aku tidak perduli untuk mengetahuinya . . . . Biarlah pukulan itu menghantam kemana ia mau menghantam, aku tidak takut. Tidak sehelai daunpun yang jatuh tanpa kehendak Bapa kita. Betapa Dia lebih memeliharakan kita! Adalah suatu perkara enteng untuk mati demi Firman itu, karena Firman yang telah menjadi daging itu Sendiri juga telah mati. Jikalau kita mati bersama Dia, kita akan hidup bersama Dia. Dan melalui apa yang Dia telah lalui sebelum kita, kita akan berada dimana Dia ada dan tinggal bersama Dia selama?lamanya." ?? Idem, b. 6, ch. 9 (3d London ed., Walther, 1840).

Pada waktu surat keputusan paus sampai kepada Luther, ia berkata, "Saya menganggapnya remeh dan menentang itu sebagai palsu, selaku seorang yang beriman kepada Tuhan . . . . Kristus Sendirilah yang dipersalahkan dalam hal ini . . . . Saya bersukacita menanggung derita seperti itu kalau alasan?alasannya baik. Saya telah merasakan kebebasan yang besar di dalam hati saya, sebab akhirnya saya tahu bahwa paus adalah antikristus, dan bahwa takhtanya adalah takhta Setan sendiri." ?? D'Aubigne, b. 6, ch. 9.


Namun, perintah Roma itu bukan tanpa akibat. Untuk memaksakan penurutan kepada perintah itu digunakanlah pedang, penyiksaan dan penjara. Orang?orang yang lemah dan yang percaya kepada takhyul gemetar menghadapi dekrit paus itu. Dan sementara banyak yang bersimpati kepada Luther, banyak juga yang merasa hidup itu terlalu mahal untuk dikorbankan demi pembaharuan. Segala sesuatu tampaknya seolah?olah menyatakan bahwa pekerjaan Pembaharu itu sudah mau terhenti.

Akan tetapi Luther tetap tidak takut. Roma telah melemparkan lembing kutukannya melawan dia. Dan dunia melihatnya, tanpa ragu?ragu bahwa ia akan binasa atau dipaksa menyerah. Tetapi dengan kuasa yang dahsyat ia balik melemparkan lembing kutukan kepada paus, dan dengan terbuka ia menyatakan ketetapan hatinya untuk meninggalkan kepausan selama?lamanya. Dihadapan kerumunan para mahasiswa, para doktor dan masyarakat dari segala lapisan Luther membakar surat keputusan paus itu, bersama buku undang?undang serta surat?surat keputusan dan tulisan?tulisan lain yang mendukung kekuasaan kepausan. "Musuh?musuhku telah merusakkan maksud?maksud kebenaran didalam pikiran orang?orang awam dan merusakkan jiwa?jiwa mereka dengan membakar buku?buku saya, dan sebagai gantinya, saya juga membakar buku?buku mereka. Perjuangan yang sungguh?sungguh baru saja mulai. Sampai sekarang saya bermain?main dengan paus. Saya memulai pekerjaan ini dalam nama Allah, dan akan berakhir tanpa saya, dan oleh kuasa?Nya." ?? Idem, b. 6, ch.10

Terhadap celaan musuh?musuhnya yang mengejeknya dengan kelemahan pekerjaannya, Luther menjawab, "Siapa yang mengetahui kalau?kalau Allah tidak memilih dan memanggil saya, dan kalau mereka tidak harus merasa takut, bukankah dengan menghina saya mereka menghina Allah Sendiri? Musa sendirian pada waktu keberangkatan dari Mesir. Elia sendirian pada waktu pemerintahan Raja Ahab. Nabi Yesaya sendirian di Yerusalem. Nabi Yehezkiel sendirian di Babilon . . . . Allah tidak pernah memilih sebagai seorang nabi oleh karena ia seorang imam besar atau orang?orang penting lainnya; tetapi biasanya Dia memilih orang?orang yang rendah dan hina, bahkan pada suatu kali gembala Amos. Pada setiap zaman, orang?orang kudus harus menegur orang?orang besar, raja?raja, para pangeran, para imam dan para cerdik cendekiawan, dengan mempertaruhkan nyawa mereka . . . . Saya tidak mengatakan bahwa saya ini adalah nabi. Tetapi saya katakan bahwa mereka harus merasa takut sebab saya sendirian, sementara mereka banyak. Saya merasa yakin dalam hal ini, bahwa firman Allah ada bersama saya, dan bukan bersama mereka." ?? Idem, b. 6, ch. 10.

Keputusan Luther untuk memisahkan diri dari gereja bukan tanpa pergumulan sengit dalam dirinya sendiri. Kira?kira pada saat inilah Luther menulis, "Saya merasa semakin sulit setiap hari untuk melepaskan keengganan yang telah meresap dalam diri sejak masa kanak?kanak.Oh, betapa sakitnya, walaupun Alkitab ada disamping saya untuk membenarkan kepada diri saya, bahwa saya harus berani berdiri sendirian menghadapi paus, dan menganggapnya sebagai antikristus! Betapa hatiku menderita seperti belum pernah terjadi sebelumnya! Berapa kali saya menanyakan kepada diri sendiri pertanyaan?pertanyaan yang sering terdengar keluar dari bibir para pengikut kepausan, 'Apakah hanya Anda sendiri yang bijaksana? Apakah semua orang lain itu salah? Bagaimana jadinya, jika yang salah itu adalah Anda sendiri, dan yang terlibat dalam kesalahanmu itu begitu banyak jiwa, yang akan binasa selama?lamanya? Begitulah saya berjuang melawan diri saya sendiri dan melawan Setan, sampai Kristus, melalui firman?Nya yang tidak pernah salah, menguatkan hatiku melawan keragu?raguan itu." ?? Martyn, "Life and Times of Luther," pp. 372 ? 373.

Paus telah mengancam Luther dengan pengucilan jika ia tidak menarik kembali pernyataannya, dan ancaman itu sekarang sudah dilaksanakan. Surat keputusan yang baru menyusul, menyatakan pemisahan diri Pembaharu itu dari Gereja Roma, dan menyatakannya sebagai yang dikutuk oleh Surga; termasuk dalam pengutukan ini semua orang yang menerima ajarannya. Pertentangan besarpun telah dimulai dengan sepenuhnya.


Perlawanan adalah salah satu yang Allah gunakan untuk menyatakan kebenaran yang khusus sesuai dengan zamannya. Ada kebenaran masa kini pada zaman Luther, ?? suatu kebenaran yang pada waktu itu mempunyai kepentingan khusus. Ada kebenaran masa kini bagi jemaat sekarang. Dia yang melakukan segala sesuatu sesuai dengan nasihat kehendak?Nya, telah berkenan menempatkan orang?orang dalam berbagai keadaan, dan menyerahkan kepada mereka tugas?tugas yang khusus kepada zaman dimana mereka hidup dan kepada keadaan?keadaan dimana mereka ditempatkan. Jikalau mereka menghargai terang yang diberikan kepada mereka, maka pandangan yang lebih luas tentang kebenaran akan dibukakan kepada mereka. Tetapi kebenaran itu tidak lebih dirindukan oleh kebanyakan orang sekarang ini daripada oleh para pengikut paus yang menentang Luther. Atas sifat yang sama, menerima teori?teori dan tradisi?tradisi manusia sebagai gantinya menerima firman Allah, sebagaimana pada zaman?zaman terdahulu. Mereka yang menyatakan kebenaran itu sekarang ini janganlah mengharapkan akan diterima dengan senang hati melebihi para pembaharu yang terdahulu. Pertentangan yang besar antara kebenaran dengan kesalahan, antara Kristus dengan Setan, akan semakin bertambah hebat menjelang penutupan sejarah dunia.

Jesus berkata kepada murid?murid?Nya, "Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia ini, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia ini, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidak lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman?Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu" ( Yohanes 15:19,20). Sebaliknya Tuhan kita menyatakan dengan jelas, "Celakalah kamu jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi?nabi palsu." (Lukas 6:26). Roh dunia ini tidak lebih selaras dengan roh Kristus sekarang ini daripada zaman dahulu. Dan mereka mengkhotbahkan firman Allah dalam kemurniannya sekarang tidak akan diterima dengan lebih baik sekarang ini seperti juga dahulu. Bentuk?bentuk perlawanan kepada kebenaran itu bisa berubah. Permusuhan mungkin kurang terbuka karena lebih halus. Tetapi antagonisme yang sama akan terjadi, dan akan dinyatakan pada akhir zaman.


LUTHER DIHADAPAN MAHKAMAH

~8~
LUTHER DIHADAPAN MAHKAMAH

Seorang kaisar baru, Charles V, naik takhta di Jerman. Dan dengan segera utusan Roma menyampaikan ucapan selamat mereka, dan mengajak kaisar itu untuk menggunakan kuasanya melawan Pembaharuan. Sebaliknya, penguasa Saxony, kepada siapa kaisar Charles V berhutang budi untuk mahkotanya, memohon kepadanya agar jangan mengambil tindakan terhadap Luther sebelum ia memberikan waktu kepada Luther untuk didengar. Dengan demikian kaisar berada pada posisi yang sulit dan membingungkan. Para pengikut paus akan merasa puas kalau saja raja memerintahkan menjatuhkan hukuman mati bagi Luther. Penguasa Saxony telah dengan tegas menyatakan bahwa "baik kepada sri baginda kaisar maupun kepada seseorang lain telah ditunjukkan bahwa tulisan?tulisan Luther belum bisa dibantah," oleh sebab itu ia meminta, "agar Dr. Luther diberi surat jalan jaminan keselamatan agar ia bisa menghadap pengadilan yang terdiri dari kaum terpelajar, orang?orang saleh dan para hakim yang adil." ?? D'Aubigne, b. 6, ch. 11.

Perhatian semua pihak sekarang tertuju kepada mahkamah negara Jerman yang akan bersidang di Worms, segera sesudah penobatan Charles menjadi kaisar. Ada masalah?masalah politik dan kepentingan yang harus dipertimbangkan oleh konsili nasional ini. Untuk pertama kalinya para pangeran Jerman bertemu dengan rajanya yang masih muda dimahkamah perundingan. Dari seluruh pelosok negeri telah berdatangan para pemuka agama dan pemerintahan. Para penguasa, para bangsawan yang berkuasa yang bangga atas hak?hak warisan mereka, para rohaniawan yang bangga dengan menyadari kedudukan mereka yang tinggi dan berkuasa, para kesatria dengan pembawa senjatanya, dan para duta besar negara?negara asing dan negeri?negeri yang jauh, semuanya berkumpul di Worms. Namun, yang menjadi pokok masalah yang menarik perhatian yang terbesar di mahkamah itu ialah masalah Pembaharu dari Saxony itu.

Sebelumnya kaisar Charles telah menunjuk penguasa Saxony untuk membawa Luther bersamanya ke mahkamah, dengan jaminan perlindungan, dan menjanjikan akan mengadakan diskusi bebas dengan orang?orang yang berkompeten dalam masalah?masalah yang diperdebatkan. Luther sudah sangat rindu untuk menghadap kaisar. Kesehatannya pada waktu ini sangat memburuk, namun ia menulis kepada penguasa Saxony, "Kalau saya tidak bisa pergi dalam keadaan sehat ke Worms, saya akan diusung kesana dalam keadaan sakit seperti sekarang ini. Oleh karena jika kaisar memanggil saya, saya tidak menyangsikan bahwa panggilan itu adalah panggilan Allah Sendiri. Jika mereka menginginkan membuat keributan terhadap saya, dan sangat besar kemungkinannya (karena bukan atas perintah mereka saya disuruh menghadap), saya akan menyerahkan masalah itu ketangan Tuhan. Dia masih tetap hidup dan memerintah, yang telah memelihara tiga orang pemuda didalam dapur api yang bernyala?nyala. Jikalau Dia tidak menyelamatkan aku, hidupku kurang berarti. Marilah kita cegah Injil itu dari jatuh kepada hinaan orang jahat, dan marilah kita tumpahkan darah kita demi Injil itu, agar mereka yang takut akan firman itu memperoleh kemenangan. Bukanlah hakku untuk menentukan apakah kehidupanku atau kematianku menyebabkan keselamatan semua orang . . . . Yang mulia bisa mengharapkan segala sesuatu daripadaku . . . kecuali melarikan diri dan menarik mundur keyakinan saya. Saya tidak bisa melarikan diri, dan demikian juga menarik kembali ajaran?ajaranku." ?? Idem, b. 7, ch. 1.


Pada waktu berita tersiar di Worms bahwa Luther akan menghadap mahkamah, terjadilah kegemparan umum. Aleander, utusan paus, kepada siapa kasus ini secara khusus dipercayakan, terkejut dan marah. Ia melihat bahwa akibat semua ini akan membahayakan kepentingan kepausan. Penyelidikan mahkamah terhadap sesuatu kasus yang telah diputuskan paus dengan hukuman mati akan mendatangkan penghinaan kepada kekuasaan dan kedaulatan paus. Lebih jauh, ia juga khawatir, bahwa kemahiran berbicara dan kemampuan berargumentasi Luther akan dapat mengalihkan para pangeran dari kepentingan dan ketaatannya kepada paus. Oleh sebab itu ia mengajukan protes keras kepada Charles mengenai rencana menghadirkan Luther di Worms. Kira?kira pada waktu itu surat keputusan pengucilan Luther telah dikeluarkan. Dan ini, ditambah dengan kehadiran utusan paus itu mendesak kaisar untuk menerimanya. Ia menulis surat kepada penguasa Saxony, bahwa jika Luther tidak mau menarik kembali ajaran?ajarannya, ia harus tetap tinggal di Wittenberg.

Belum lagi puas dengan kemenangan ini, Aleander bekerja keras dengan segala kemampuan dan kekuasaan untuk mewujudkan hukuman Luther. Dengan kegigihannya ia mendesak perhatian para pangeran, pejabat?pejabat tinggi gereja, dan anggota?anggota mahkamah yang lain agar menuduh Pembaharu itu dengan tuduhan "penghasutan, pemberontakan, tidak hormat kepada Tuhan, dan penghujatan." Akan tetapi kekerasan dan nafsu yang ditunjukkan oleh utusan paus itu menunjukkandengan jelas roh yang menggerakkannya. "Ia digerakkan oleh kebencian dan rasa balas dendam," kata orang?orang, "bukannya oleh kesungguh?sungguhan dan kesalehan." ?? Idem, b. 7, ch. 1. Mayoritas peserta mahkamah itu cenderung mendukung masalah Luther itu lebih dari sebelumnya.

Dengan melipat?gandakan usaha, Aleander mendesak kaisar agar melaksanakan keputusan paus. Tetapi, sesuai dengan hukukm yang berlaku di Jerman, hal ini tidak bisa dilakukan tanpa persetujuan para pangeran. Oleh karena akhirnya kaisar kalah atas desakan utusan kepausan, ia menyuruh utusan kepausan itu membawa kasus itu ke mahkamah. "Hari itu adalah hari kesembongan bagi duta paus. Mahkamah itu sungguh besar, tetapi masalah lebih besar lagi. Aleander membela kepentingan Roma, . . . ibu suri dan induk semua gereja." Ia harus mempertahankan kepangeranan Petrus dihadapan kumpulan kekuasaan dunia Kekristenan. "Ia mempunyai karunia berbicara dan pada waktu yang sama ia diagungkan. Allah menyuruh agar Roma hadir dan membela diri dengan ahli pidatonya yang terbaik dihadapan pengadilan yang termulia, sebelum ia dinyatakan bersalah." ?? Wylie, b. 6, ch. 4. Dengan ragu?ragu, mereka yang memihak kepada Pembaharu, menunggu akibat dari pidato Aleander. Penguasa Saxony tidak hadir, tetapi atas perintahnya beberapa orang penasihatnya mencatat amanat utusan paus itu.

Dengan segala kemampuan pengetahuan dan kemahiran berbicara, Aleander berusaha melenyapkan kebenaran. Tuduhan demi tuduhan dilontarkan kepada Luther sebagai musuh gereja dan negara, musuh orang yang masih hidup maupun yang sudah mati, musuh para alim ulama maupun orang awam, anggota?anggota konsili maupun orang?orang Kristen biasa. Ia menyatakan, "Oleh karena kesalahan Luther seratus ribu orang bida'ah" harus dibakar.

Sebagai kesimpulan ia berusaha mencela pengikut?pengikut iman yang diperbaharui, "Apalah semua pengikut Luther itu? Mereka adalah sekelompok guru?guru biadab, imam?imam bejat, biarawan?biarawan tak bermoral, pengacara?pengacara dungu, dan bangsawan?bangsawan hina dan rakyat biasa yang telah ditipu dan disesatkan. Betapa lebih tinggi kelompok Katolik dari mereka dalam jumlah, kemampuan dan kuasa! Suatu dekrit suara bulat dari mahkamah yang mulia ini akan memberi kejelasn bagi orang sederhana, mengamarkan yang kurang hati?hati, meneguhkan hati yang bimbang dan memberikan kekuatan pada yang lemah." ?? D'Aubigne, b. 7, ch. 3.


Dengan senjata yang sama penganjur?penganjur kebenaran diserang pada sepanjang zaman. Argumen?argumen serupa masih terus dihadapkan kepada mereka yang berani menyatakan ajaran firman Tuhan yang langsung dan jelas itu untuk melawan kesalahan yang sudah ditetapkan. "Siapa?siapakah pengkhotbah doktrin?doktrin baru ini?" seru mereka yang menginginkan agama populer. "Mereka tidak terpelajar, jumlahnya sedikit, dan terdiri dari golongan orang?orang miskin. Namun mereka mengatakan mempunyai kebenaran, dan menjadi umat pilihan Allah. Mereka itu bodoh dan ditipu. Betapa gereja kita lebih unggul dalam jumlah dan pengaruh! Betapa banyak orang besar dan terpelajar ada diantara kita! Betapa banyak kuasa ada dipihak kita! "Inilah argumentasi?argumentasi yang sangat berpengaruh atas dunia ini. Tetapi argumentasi itu tidak lebih berpengaruh sekarang daripada waktu zamannya Pembaharu itu. Pembaharuan tidak berakhir bersama Luther, sebagaimana banyak orang mengira. Pembaharuan itu akan diteruskan sampai penutupan sejarah dunia. Luther mempunyai tugas besar merefleksikan terang itu kepada orang lain yang telah diizinkan Allah bersinar kepadanya. Namun, ia belum menerima semua terang yang akan diberikan kepada dunia ini. Sejak waktu itu sampai sekarang terang yang baru bersinar terus atas Alkitab, dan kebenaran?kebenaran baru terus dibukakan.

Amanat utusan paus itu memberikan kesan mendalam bagi mahkamah. Luther yang mempunyai kebenaran yang jelas dan meyakinkan dari Firman Allah tidak hadir untuk mengalahkan jagonya kepausan itu. Tak ada usaha yang dilakuka untuk mempertahankan Pembaharu itu. Ada gejala?gejala kecenderungan umum bukan saja mempersalahkan Luther dan doktrin?doktrin yang diajarkannya, tetapi jika mungkin, menumpas semua bida'ah. Roma menikamti kesempatan yang paling menyenangkan untuk mempertahankan kepentingannya. Semua yang bisa ia katakan untuk membuktikan kebenarannya sendiri sudah ia katakan. Akan tetapi kemenangan nyata itu adalah pertanda kekalahan. Sejak waktu itu perbedaan antara kebenaran dan kesalahan akan terlihat lebih jelas, sementara keduanya melakukan perang terbuka. Sejak waktu itu kedudukan Roma tidak lagi seaman sebelumnya.

Meskipun sebahagian besar anggota mahkamah tidak keberatan kepada pembalasan Roma, tetapi banyak dari antara mereka melihat dan menyesalkan kemerosotan moral yang terjadi di dalam gereja, dan menginginkan suatu pemeberantasan penyalah?gunaan yang diderita oleh orang?orang Jerman yang diakibatkan oleh korupsi dan ketamakan hirarki. Utusan paus telah menyajikan peraturan kepausan dengan sangat terang. Sekarang Tuhan menggerakkan hati seorang anggota mahkamah untuk memberikan gambaran yang benar akibat dari kelaliman kepausan. Duke George berdiri dengan teguh dihadapan musyawarah dan dengan sangat tepat memaparkan penipuan?penipuan dan kemurkaan kepausan dan akibat?akibatnya yang mengerikan. Sebagai penutup ia mengatakan, "Inilah beberapa penyalah?gunaan yang diteriakkan terhadap Roma. Semua perasaan malu telah dikesampingkan, dan tujuan mereka satu?satunya ialah . . . . uang, uang, uang . . . sehingga para pengkhotbah yang seharusnya mengajarkan kebenaran tidak mengucapkan apa?apa selain kepalsuan. Dan kepalsuan ini bukan saja diterima, tetapi diberi penghargaan, sebab semakin besar kebohongan, semakin besar keuntungannya. Dari mata air yang kotor inilah mengalir air yang cemar. Kebejatan membukakan tangannya kepada ketamakan dan keserakahan akan harta . . . . Oh, skandal para ulamalah yang menjebloskan banyak jiwa?jiwa yang malang kedalam hukuman yang kekal. Suatu pembaharuan umum harus dilakukan." ?? Idem, b. 7, ch. 4.

Penyelewengan kepausan yang hebat tidak bisa disampaikan Luther sendiri. Dan fakta bahwa pembicara adalah musuh utama Pembaharu, akan memberikan pengaruh yang lebih besar kepada kata?katanya.

Seandainya mata para peserta musyawarah terbuka, mereka akan melihat para malaikat Allah berada di tengah?tengah mereka memancarkan sinar?sinar terang menerangi kegelapan kesalahan dan kepalsuan, dan membuka pikiran dan hati mereka untuk menerima kebenaran. Adalah kuasa kebenaran dan akal budi Allah yang menguasai bahkan lawan?lawan Pembaharuan, dan dengan demikian menyediakan jalan bagi pekerjaan besar yang akan dicapai. Martin Luther tidak hadir di mahkamah itu, tetapi suara Seseorang yang lebih besar dari Luther telah diperdengarkan disitu.


Mahkamah segera membentuk sebuah komite untuk menyusun satu daftar penindasan kepausan yang begitu membebani kehidupan orang Jerman. Daftar yang berisi seratus satu malam penindasan ini diserahkan kepada kaisar, dengan permohonan agar segera mengambil tindakan untuk memperbaiki penyalah?gunaan itu. "Betapa banyaknya jiwa orang Kristen yang hilang, " kata para pemohon, " betapa banyaknya perampasan, pemerasan yang dilakukan oleh skandal yang mengelilingi dunia Kekristenan! Adalah kewajiban kita untuk mencegah bangsa kita dari kehancuran dan kehinaan. Untuk alasan inilah kami memohon dengan kerendahan hati tetapi dengan sangat agar kaisar memerintahkan pembaharuan umum dan bertanggungjawab mengenai pelaksanaannya." ?? Idem, b. 7, ch. 4.

Sekarang konsili menghendaki kehadiran Pembaharu itu dihadapan mereka. Walaupun Aleander memohon, memprotes, dan mengancam, akhirnya kaisar menyetujuinya dan Luther diperintahkan untuk hadir didepan mahkamah. Bersama?sama dengan surat perintah itu dikeluarkan juga surat jaminan keselamatan, untuk menjaminnya kembali ketempat yang aman. Surat?surat ini dibawa ke Wittenberg oleh seorang pengawal yang ditugaskan untuk membawaya ke Worms.

Sahabat?sahabat Luther takut dan cemas. Mengetahui prasangka buruk dan rasa permusuhan mereka terhadap Luther, sahabat?sahabat Luther khawatir kalau?kalau surat jaminan keselamatan itu sendiri tidak dihargai. Dan mereka meminta agar jangan membahayakan hidup Luther. Luther menjawab, "Para pengikut kepausan tidak menginginkan kedatangan saya ke Worms. Yang mereka inginkan ialah hukuman dan kematian saya. Tidak ada masalah. Janganlah berdoa untuk saya, tetapi berdoalah untuk firman Tuhan . . . . Kristus akan memberikan Roh?Nya kepada saya untuk mengalahkan pelayan?pelayan kepalsuan itu. Saya tidak mengacuhkan mereka selama hidupku, dan aku akan bergembira karena mengalahkan mereka oleh kematianku. Mereka sekarang sibuk di Worms untuk memaksa saya menarik kembali ajaran?ajaran saya. Dan inilah penarikan kembali saya: saya sudah katakan sebelumya bahwa paus adalah wakil Kristus, dan sekarang saya menyatakan bahwa dia adalah lawan Tuhan kita, dan rasul Setan." ?? Idem, b. 7, ch. 6.

Luther tidak mengadakan perjalanan berbahaya itu sendirian. Selain pesuruh kerajaan, tiga orang sahabatnya yang paling karib memastikan untuk menyertai dia. Melanchthon sungguh?sungguh ingin pergi bersamanya. Hatinya begitu terjalin dengan hati Luther, dan ia rindu untuk mengikutinya, kalau perlu, kedalam penjara atau kepada kematian. Tetapi permohonannya ditolak. Seandainya Luther harus binasa, maka harapan Pembaharuan harus terpusat kepada teman sekerjanya yang masih muda ini. Luther berkata pada waktu berpisah dari Melanchthon, "Jikalau seandainya saya tidak kembali, dan musuh?musuh saya membunuh saya, teruskanlah mengajar dan berdiri teguh dalam kebenaran. Bekerjalah sebagai penggantiku . . . . Jikalau engkau bertahan hidup terus, maka kematianku tidak berakibat apa?apa." ?? Idem, ch. 7. Para mahasiswa dan rakyat banyak yang menyaksikan keberangkatan Luther sangat terharu. Orang banyak yang hatinya telah dijamah oleh kabar Injil, mengucapkan selamat jalan dengan menangis. Demikianlah Pembaharu itu bersama teman?temannya berangkat dari Wittenberg.


Sepanjang perjalanan, mereka melihat bahwa pikiran orang?orang diganggu oleh firasat buruk. Dibeberapa kota tidak ada penghormatan yang diberikan kepada mereka. Pada waktu mereka berhenti untuk beristirahat pada malam hari, seorang imam yang ramah menyatakan kekhawatirannya dengan menunjukkan kepada Luther gambar seorang pembaharu bangsa Italia yang telah mengalami mati syahid. Hari berikutnya mereka mengetahui bahwa tulisan?tulisan Luther telah diharamkan dan dilarang di Worms. Para pesuruh kekaisaran telah mengumumkan dekrit kaisar, dan menghimbau orang?orang untuk membawa karya?karya Luther yang dilarang itu kepada pengadilan. Pengawal, khawatir akan keselamatan Luther pada konsili itu, dan berpikir mungkin keputusan Luther mulai goyah, bertanya kalau?kalau ia masih ingin terus pergi. Luther menjawab, "Meskipun dilarang disetiap kota, saya akn jalan terus." ?? Idem, ch. 7.

Di Erfurt, Luther disambut dengan hormat. Ia dikelilingi oleh banyak orang pada waktu ia melewati jalan?jalan kota yang dulu sering ditelusurinya dengan membawa kantong sebagai peminta?minta. Ia mengunjungi kamar biara yang pernah ditempatinya, sambil merenungkan perjuangan melalui mana sinar terang yang sekarang membanjiri Jerman telah dicurahkan kepada jiwanya. Ia diminta untuk berkhotbah. Hal ini sebenarnya telah dilarang baginya, tetapi pengawalnya mengizinkannya, dengan demikian maka biarawan yang pernah bekerja keras di biara itu sekarang naik mimbar.

Kepada perkumpulan yang penuh sesak itu ia mngucapkan perkataan Kristus, "Damai sejahtera bagi kamu." "Para ahli filsafat, para doktor dan para penulis, " katanya, "telah berusaha mengajarkan kepada manusia cara untuk memperoleh hidup yang kekal, dan mereka itu tidak berhasil. Sekarang saya memberitahukan kepadamu, . . . bahwa Allah telah membangkitkan seorang Manusia dari kematian, Tuhan kita Yesus Kristus, agar Dia membinasakan kematian, membasmi dosa sampai keakar?akarnya, dan menutup pintu naraka. Inilah pekerjaan keselamatan, . . . Kristus telah memenangkannya! Inilah berita sukacita. Dan kita diselamatkan oleh usaha?Nya, dan bukan oleh usaha kita. . . . Tuhan kita Yesus Kristus berkata, 'Damai sejahtera bagi kamu. Lihatlah tangan?Ku.' Sebenarnya yang ia katakan ialah, Lihatlah, hai manusia! adalah Aku, Aku sendiri satu?satunya, yang telah menghapuskan dosamu dan yang telah menebus engkau. Dan sekarang engkau beroleh kedamaian, kata Tuhan." ?? Idem, b. 7, ch. 7.

Ia melanjutkan, menunjukkan bahwa iman yang benar akan dinyatakan oleh kehidupan yang kudus. "Oleh karena Allah telah menyelamatkan kita, marilah kita mengatur pekerjaan kita sedemikian rupa agar berkenan kepada?Nya. Apakah engkau kaya? biarlah kekayaanmu digunakan untuk keperluan orang?orang miskin. Apakah engkau miskin? biarlah pelayananmu berkenan kepada orang kaya. Jikalau usahamu hanya berguna bagimu saja, maka pelayanan yang kamu sangka diberikan kepada Allah adalah dusta." ?? Idem, b. 7, ch. 7.

Orang?orang mendengar dengan terpesona. Roti hidup telah dibagi?bagikan kepada jiwa?jiwa yang lapar itu. Kristus ditinggikan dihadapan mereka mengatasi para paus, para utusan paus, para kaisar dan raja?raja. Luther tidak menyinggung kedudukannya yang penuh bahaya. Ia tidak berusaha membuat dirinya pusat perhatian atau simpati. Ia tidak memikirkan dirinya oleh karena Kristus. Ia berlindung dibelakang Orang dari Golgota itu, dan memikirkan hanya untuk menyatakan Yesus sebagai Penebus orang?orang berdosa.

Sementara Pembaharu meneruskan perjalanannya, dimana?mana ia disambut dengan perhatian besar. Orang?orang berkerumun mengelilinginya, dan suara?suara bersahabat mengamarkannya mengenai maksud para pengikut Roma. "Mereka akan membakarmu," kata beberapa orang, "dan memperabukan tubuhmu seperti yang mereka lakukan pada John Huss." Luther menjawab, "Walaupun mereka menyalakan api sepanjang jalan dari Worms ke Wittenberg, dan nyala api itu sampai ke langit, saya akan menjalaninya dalam nama Tuhan. Saya akan tampil dihadapan mereka. Saya akan masuk kedalam rahang raksasa ini dan mematahkan gigi?giginya, dan sambil mengakui Tuhan Yesus Kristus." ?? Idem, b. 7, ch. 7.


Kabar semakin mendekatnya ia kekota Worms menimbulkan kegemparan. Sahabat?sahabatnya takut mengenai keselamatannya. Musuh?musuhnya takut keberhasilan mereka terganggu. Usaha keras dilakukan untuk mencegahnya memasuki kota. Atas dorongan para pengikut paus, ia telah diajak ke sebuah kastel seorang ksatria yang ramah, dimana dinyatakan bahwa semua masalah atau kesulitan dapat diatur secara bersahabat. Sahabat?sahabatnya berusaha menunjukkan ketakutan mereka dengan menjelaskan bahaya?bahaya yang mengancamnya. Tetapi semua usaha mereka gagal. Luther tanpa goyah, mengatakan, "Sekalipun ada Setan di Worms sebanyak genteng yang diatas rumah?rumah, saya tetap akan memasukinya." ?? Idem, b. 7, ch. 7.

Sementara ia memasuki kota Worms, orang banyak berkerumun di pintu gerbang kota untuk menyambut dia. Begitu besar penyambutan itu, bahkan kaisar sendiripun belum pernah disambut seperti itu. Kegembiraan pada waktu itu begitu meluap?luap. Dan dari tengah?tengah orang banyak itu terdengar suara nyaring bernada sedih yang berulang?ulang menerikakkan nada ratapan penguburan, sebagai amaran kepada Luther mengenai nasib yang menantinya. "Allah akan menjadi pelindungku," katanya, sementara ia turun dari keretanya.

Para pengikut paus sebelumnya tidak percaya kalau Luther berani untuk tampil di Worms, sehingga kedatangannya membuat mereka dipenuhi ketakutan. Kaisar dengan segera meminta para penasihatnya untuk mempertimbangkan apa yang harus dilakukan. Salah seorang imam, pengikut paus yang keras, menyatakan, "Sudah lama kita diminta pendapat mengenai masalah ini. Biarlah yang mulia melenyapkan orang ini dengan segera. Bukankah kaisar Sigismund yang menyebabkan John Huss mati dibakar? Kita tidak berkewajiban untuk memberi atau mematuhi surat jaminan keselamatan seorang bida'ah." "Tidak," kata kaisar, "kita harus mengingat janji kita." ?? Idem, b. 7, ch. 8. Itulah sebabnya diputuskan bahwa Pembaharu itu harus didengar.

Seluruh penduduk kota itu ingin melihat orang luar biasa ini, dan banyaklah pengunjung yang memenuhi penginapan?pengipan. Luther belum sembuh benar dari penyakitnya. Ia sangat letih oleh karena perjalanan yang memakan waktu dua minggu penuh. Ia harus siap menghadapi kejadian?kejadian penting hari esok, dan ia memerlukan istirahat dan ketenangan. Akan tetapi begitu banyak orang yang rindu menemui dia, sehingga ia hanya sempat beristirahat beberapa jam saja. Para bangsawan, ksatria, imam dan penduduk kota berkerumun menelilingi dia. Diantara mereka banyak para bangsawan yang begitu keras memohon kepada kaisar suatu pembaharuan penyalah?gunaan dan penyelewengan gereja, dan yang, seperti kata Luther, "telah dibebaskan oleh Injil yang saya beritakan." ?? Martyn, "Life and Times of Luther," p. 393. Musuh?musuh dan sahabat?sahabatnya datang untuk melihat biarawan pemberani itu. Ia menerima mereka dengan ketenangan yang tak tergoyhkan, menjawab semua pertanyaan dengan berwibawa dan bijaksana. Pembawaannya kokoh dan berani. Ekspresi wajahnya menunjukkan kebaikan hatinya, bahkan kesukacitaannya, meskipun pucat, kurus dan ditandai oleh kerja keras dan penyakit. Keseriusan dan kesungguh?sungguhan kata?katanya yang mendalam memberinya kuasa yang bahkan musuh?musuhnyapun tak mampu menahan seluruhnya. Baik kawan?kawan maupun lawan?lawannya sama?sama takjub. Sebagian yakin bahwa pengaruh ilahi menolongnya, sementara yang lain menyatakan, seperti pernyataan orang Farisi mengenai Kristus, "Ia dipengaruhi Setan."

Pada hari berikutnya, Luther dipanggil untuk menghadiri Mahkamah. Seorang pejabat kekaisaran ditunjuk untuk membawanya ke ruang pemeriksaan. Setiap jalan telah dipenuhi penonton yang ingin melihat biarawan yang berani menentang kekuasaan paus ini.

Sementara ia hampir memasuki tempat ia menghadap para hakim, seorang jenderal tua, pahlawan dari banyak peperangan, berkata dengan ramah kepadanya, "Biarawan yang malang, biarawan yang malang, engkau akan berdiri lebih agung dari saya atau dari para kapten lain yang pernah memenangkan peperangan yang paling sengit sekalipun. Akan tetapi jika engkau merasa yakin perjuanganmu itu benar, majulah terus dalam nama Tuhan, dan janganlah takut sesuatupun. Allah tidak akan melupakanmu." ?? D'Aubigne, b. 7, ch. 8.


Akhirnya Luther berdiri dihadapan konsili. Kaisar duduk diatas takhtanya. Ia dikelilingi oleh orang?orang yang terkenal dan terhormat di kekaisaran itu. Belum pernah seseorang menghadap sidang yang lebih mengagumkan dari ini dimana Martin Luther akan memberikan jawaban?jawaban mengenai imannya. "Pemunculan Luther di majelis ini sebenarnya adalah suatu pertanda kemenangannya atas kepausan. Paus telah menghukum orang ini, tetapi sekarang ia berdiri didepan pengadilan, yang oleh tindakan ini, menempatkan diri di atas paus. Paus telah memutuskan pengucilannya dan melarang masyarakat berhubungan dengan dia. Namun, ia telah dipanggil dengan bahasa yang terhormat, dan diterima menghadap sidang yang paling mulia di dunia ini. Paus telah menghukumnya dengan hukuman berdiam diri selamanya. Tetapi sekarang ia akan berbicara dihadapan ribuan orang pendengar yang datang dari berbagai tempat jauh dari dunia Kekristenan. Suatu revolusi besar telah dimulai oleh peran Luther. Roma telah merosot dari takhtanya, dan kemerosotan itu disebabkan oleh suara seorang biarawan." ?? Idem, b. 7, ch. 8.

Dihadapan sidang yang berkuasa dan bergengsi itu, Pembaharu, kelahiran orang kebanyakan itu, tampaknya kagum dan malu. Beberapa orang dari para pangeran mengamati emosinya dan mendekatinya. Salah seorang berbisik kepadanya, "Janganlah takut kepada mereka yang membunuh tubuh, tetapi yang tidak dapat membunuh jiwa." Yang lain berkata, "Bilamana engkau dibawa berhadapan dengan para gubernur dan raja?raja oleh karena Aku, Roh Bapamu akan memberitahukan kepadamu apa yang akan engkau katakan." Demikianlah kata?kata Kristus telah digunakan oleh orang?orang besar dunia untuk menguatkan hamba?Nya pada saat pencobaan.

Luther dibawa pada posisi tepat dihadapan takhta kaisar. Keheningan menyelimuti seluruh sidang. Kemudian pejabat kekaisaran bangkit, dan menunjuk kepada koleksi tulisan?tulisan Luther dan menyuruh Luther menjawab dua pertanyaan, ?? apakah dia mengakui buku?buku itu sebagai tulisan?tulisannya, dan apakah ia bermaksud untuk menarik kembali buah pikiran yang telah diajukannya didalam tulisan?tulisan tersebut. Sementara judul buku?buku itu dibacakan, Luther memberi pengakuan bahwa buku?buku itu adalah tulisannya sebagai jawaban kepada pertanyaan yang pertama. "Mengenai pertanyaan kedua," katanya, "berhubung pertanyaan itu menyangkut iman dan keselamatan jiwa?jiwa, dan dalam mana firman Allah, harta termahal dan terbesar di Surga maupun di dunia terlibat, saya akan dianggap bertindak tidak bijaksana kalau saya menjawabnya tidak dengan sungguh?sungguh. Mungkin saya menegaskan kurang dari yang dituntut keadaan, atau lebih dari yang diperlukan oleh kebenaran, dengan demikian berdosa kepada perkataan Kristus ini, 'Tetapi barang siapa menyangkal Aku didepan manusia, Aku juga akan menyangkalnya didepan Bapa?Ku yang di Surga.' (Matius 10:33). Untuk ini aku memohon kepada Yang Mulia, dengan segala kerendahan, untuk memberikan waktu kepadaku, agr aku dapat menjawabnya tanpa melanggar firman Allah." ?? D'Aubigne, b. 7, ch. 8.

Dalam mengajukan permohonan ini Luther bertindak dengan bijaksana. Sikapnya meyakinkan sidang bahwa ia tidak bertindak secara bernafsu atau gegabah. Keterangan dan penguasaan diri yang demikian itu, menambah kekuatan kepadanya. Sikap seperti itu tidak diharapkan dari seorang yang tegas dan tak mengenal kompromi. Sikap ini menyanggupkannya selanjutnya memberikan jawaban dengan bijaksana, tegas, berakal budi dan berwibawa, sehingga mengejutkan dan mengecewakan musuh?musuhnya, dan menempelak kekurang?ajaran dan kesombongan mereka.


Hari berikutnya ia harus menghadap kembali untuk memberikan jawabannya yang terakhir. Untuk sementara hatinya remuk pada waktu ia merenungkan kekuatan?kekuatan yang bersatu melawan kebenaran. Imannya goyah, ketakutan dan kegentaran menimpanya, dan kengerian menyelimutinya. Bahaya berlipat ganda dihadapannya. Musuh?musuhnya tampaknya akan menang, dan kuasa kegelapan merajalela. Awan menutupinya, dan tampaknya memisahkan dirinya dari Allah. Ia sangat rindu jaminan kepastian bahwa Allah yang mahakuasa akan menyertainya. Dalam penderitaan jiwanya, ia tersungkur ketanah dan mencurahkan jeritan hatinya yang hancur, yang tak seorangpun mengerti dengan sesungguhnya selain Allah.

"O, Allah yang kekal dan mahakuasa," ia memohon, "betapa mengerikan dunia ini! Lihatlah, ia membuka mulutnya untuk menelan aku, dan aku tidak berharap sepenuhnya kepada?Mu . . . . Jikalau hanya pada kuasa dunia ini aku menaruh harap, berarti segalanya sudah selesai . . . . Saatku sudah tiba, hukumanku sudah diumumkan . . . . O, Allahku, tolonglah aku melawan semua kebijaksanaan dunia ini. Tolongah Tuhan, . . . Engkau sendiri; karena ini bukan pekerjaanku, tetapi pekerjaan?Mu. Tidak ada urusanku disini, tidak ada yang diperdebatkan dengan pembesar?pembesar dunia ini . . . . Tetapi ini adalah urusan?Mu, . . . urusan kebenaran dan kekekalan. O, Tuhan, tolonglah aku! Allah yang setia dan yang tidak berubah, aku tidak bisa menaruh harap kepada seorang manusiapun . . . . Segala yang dari manusia tidak ada kepastian. Segala yang datang dari manusia adalah kegagalan . . . . Engkau telah memilih aku untuk pekerjaan ini . . . . Berdirilah disampingku demi Anak?Mu yang kekasih, Yesus Kristus, yang menjadi pertahananku, perisaiku dan bentengku yang kuat." ?? Idem, b. 7, ch. 8.

Allah, Pemelihara yang maha bijaksana, telah mengizinkan Luther menyadari bahaya yang mengancamnya, agar supaya ia tidak menaruh harap kepada kekuatannya sendiri, dan takabur masuk kedalam bahaya. Namun bukan ketakutan penderitaan diri sendiri, ketakutan penyiksaan atau kematian yang tampaknya segera akan terjadi, yang meresahkannya. Ia menemui kemelut, dan dia merasa tidak sanggup menghadapinya. Oleh karena kelemahannya kebenaran mungkin akan menderita kerugian. Ia bergumul dengan Allah bukan untuk keselamatannya, tetapi demi kemenangan Injil. Seperti Israel, yang pada malam itu bergumul sendirian di tepi sungai, demikianlah penderitaan dan pergumulan jiwanya. Seperti Israel, ia menang dipihak Allah. Didalam ketidak?berdayaannya, imannya berpegang teguh kepada Kristus, Penyelamat perkasa itu. Ia dikuatkan dengan jaminan bahwa ia tidak akan tampil sendirian dihadapan konsili. Kedamaian kembali memenuhi jiwanya, dan ia bersukacita oleh karena diizinkan untuk meninggikan firman Allah dihadapan penguasa?penguasa bangsa itu.

Dengan pikirannya tetap tertuju kepada Allah, Luther mempersiapkan diri menghadapi perjuangan yang menghadangnya. Ia memikirkan rencana jawaban yang akan diberikannya. Ia memeriksa tulisan?tulisannya, dan mengambil bukti?bukti dari Alkitab untuk mempertahankan posisinya. Kemudian, ia meletakkan tangan kirinya di atas Alkitab yang terbuka didepannya, ia mengangkat tangan kanannya ke atas, dan berjanji "tetap setia kepada Injil, dan mengakui imannya dengan bebas, walaupun harus memeteraikan kesaksiannya dengan darahnya sendiri." ?? Idem, b. 7, ch. 8.

Ketika sekali lagi ia dituntun ke hadapan Mahkamah, tidak tampak rasa takut atau malu di wajahnya. Dengan tenang, penuh kedamaian, namun dengan berani dan penuh wibawa, ia berdiri sebagai saksi Allah diantara orang?orang besar dunia. Sekarang pejabat kekaisaran menuntut keputusan Luther, apakah ia ingin menarik kembali ajaran?ajarannya. Luther memberikan jawaban dengan nada yang lembut dan merendah tanpa kekerasan atau emosi. Sikapnya malu?malu dan penuh hormat, namun ia menunjukkan rasa percaya diri dan sukacita, yang membuat hadirin kagum.

"Kaisar yang agung, para pangeran yang muia, dan tuan?tuan yang budiman," kata Luther, "pada hari ini saya berdiri dihadapan hadirin sesuai dengan perintah yang diberikan kepadaku kemarin. Dan oleh rahmat Allah saya memohon yang agung dan yang mulia untuk mendengarkan pembelaanku terhadap satu hal yang saya yakin tepat dan benar. Jikalau oleh karena kelalaian saya harus melanggar kebiasaan dan tatatertib pengadilan, saya mohon diampuni, karena saya tidak dibesarkan di istana raja?raja, tetapi di biara terpencil." ?? Idem, b. 7, ch. 8.


Kemudian melanjutkan kepada pertanyaan, ia mengatakan bahwa karya?karyanya yang sudah diterbitkan itu tidak sama sifatnya. Dalam sebagian ia membahas mengenai iman dan perbuatan?perbuatan baik, dan musuh?musuhnya sendiri menyatakan bahwa karya?karya itu bukan saja tak berbahaya, tetapi bahkan sangat berguna. Menarik kembali karya?karya ini berarti mempersalahkan kebenaran yang diakui semua pihak. Kelompok yang kedua dari tulisan?tulisan yang mengungkapkan kebejatan moral dan penyelewengan kepausan. Menarik kembali karya?karya ini akan memperkuat kekejaman Roma, dan membuka pintu lebih lebar lagi terhadap kejahatan yang lebih banyak dan lebih besar. Dalam kelompok ketiga buku?bukunya, ia menyerang idividu?individu yang telah mempertahankan kejahatan?kejahatan yang sedang merajalela. Megenai ini ia mengakui bahwa ia telah bertindak lebih keras. Ia tidak menyatakan dirinya bebas dari kesalahan. Dan buku?buku inipun ia tidak mau menariknya kembali karena dengan berbuat demikian akan memberi semangat kepada musuh?musuh kebenaran, dan mereka akan mengambil kesempatan untuk menghancurkan umat Allah dengan kekejaman yang lebih besar.

"Namun, saya adalah manusia biasa, bukan Allah," ia meneruskan, "Oleh sebab itu saya akan mempertahankan diri seperti yang dilakukan Kristus: 'Jikalau saya berkata jahat, saksikanlah kejahatan itu' . . . . Oleh rahmat Allah, saya memohon kepadamu kaisar yang agung, dan kepadamu para pangeran yang mulia, dan kepada semua orang dari berbagai tingkatan untuk membuktikan dari tulisan?tulisan para nabi dan para rasul bahwa saya telah bersalah. Dan segera setelah saya diyakinkan mengenai hal ini saya akan menarik kembali semua yang salah itu. Dan sayalah orang yang pertama mengambil buku?buku itu dan melemparkannya kedalam api untuk dibakar.

"Apa yang baru saja saya katakan menunjukkan dengan jelas, saya harap, bahwa saya telah mempertimbangkannya dengan masak?masak dan memperhitungkan bahaya yang mengancam saya. Tetapi saya jauh dari rasa takut, saya bersukacita bahwa Injil itu sekarang, seperti pada zaman dahulu, penyebab kesusahan dan perselisihan. Inilah sifat dan tujuan firman Allah. 'Aku datang bukan membawa damai ke atas bumi, tetapi Aku datang membawa pedang,' kata Yesus Kristus. Nasihat?nasihat Allah adalah ajaib dan mengerikan. Berhati?hatilah, jangan menginjak?injak firman Allah yang kudus dengan dalih memadamkan perselisihan, dan dengan demikian mendatangkan bahaya besar dan mengerikan bagi dirimu, malapetaka sekarang dan kehancuran kekal . . . . Saya dapat mengutip banyak contoh dari firman Allah. Saya dapat berbicara tentang Firaun?firaun, raja?raja Babilon, dan tentang raja?raja Israel, yang usaha?usahanya hanya mendatangkan kebinasaannya sendiri karena mereka tidak meminta nasihat. Kelihatannya mereka paling bijaksana untuk memperkuat kekuasaannya. 'Allah memindahkan gunung?gunung, dan mereka tidak mengetahui hal itu.' " ?? Idem, b. 7, ch. 8.

Luther berbicara dalam bahasa Jerman. Sekarang ia diminta untuk mengulangi kata?katanya itu dalam bahasa Latin. Meskipun ia sudah letih dengan pidatonya yang sebelumnya, ia menuruti dan menyampaikan pidatonya sekali lagi sejelas dan sebersemangat yang pertama. Pemeliharaan Allah menuntunnya kedalam masalah itu. Pikiran para pangeran telah dibutakan oleh kesalahan dan ketakhyulan sehingga pada penyajian pertama mereka tidak melihat kekuatan dan pemikiran Luther. Tetapi dengan pengulangan ini membuat mereka dapat melihat dengan jelas semua hal yang disampaikan.

Mereka yang dengan degilnya menutup mata kepada terang, dan bertekad untuk tidak diyakinkan oleh kebenaran, telah dibuat marah oleh kuasa kata?kata Luther. Setelah ia selesai berbicara, jurubicara Mahkamah berkata dengan marah, "Engkau tidak menjawab pertanyaan yang diajukan kepadamu . . . . Engkau diharuskan memberi jawaban yang jelas dan tepat. . . . Mau atau tidak mau menarik kembali ajaran?ajaranmu?"


Pembaharu itu menjawab, "Oleh karena yang agung dan yang mulia meminta dari saya jawaban yang jeas, sederhana dan tepat, maka saya akan menjawab begini: Saya tidak dapat menyerahkan imanku baik kepada paus atau kepada konsili ini, sebab sudah jelas seperti terangnya siang bahwa mereka sering bersalah dan bertentangan satu sama lain. Kecuali saya diyakinkan oleh kesaksian Alkitab atau oleh pemikiran yang paling terang, kecuali saya terbujuk oleh kalimat?kalimat yang saya kutip, dan kecuali mereka yang membuat hati nuraniku terikat oleh firman Allah, saya tidak dapat dan tidak akan menarik kembali ajaran?ajaran saya, karena tidak baik bagi seorang Kristen berbicara melawan hati nuraninya. Disini saya berdiri, saya tidak dapat berbuat yang lain. Kiranya Tuhan Allah menolongku. Amen."

Begitulah orang benar ini berdiri di atas alasan yang teguh, firman Allah. Terang surga menyinari wajahnya. Kebesarannya dan kesuciannya, kedamaian dan sukacita hatinya, telah dinyatakan kepada semua orang sementara ia bersaksi melawan kuasa kesalahan, dan menyaksikan keunggulan iman yang mengalahkan dunia.

Untuk sementara seluruh hadirin terdiam dalam kekaguman. Dalam jawaban Luther yang pertama, ia berbicara dengan nada rendah dan dengan rasa hormat, seolah?olah menyerah. Para pengikut Romanisme menganggap ini suatu tanda bahwa keberanian Luther mulai pudar. Mereka menganggap permohonan penundaan semata?mata hanya pendahuluan kepada penarikannya kembali ajaran?ajarannya. Kaisar Charles sendiri setelah memperhatikan, setengah memandang rendah tubuh biarawan yang sudah merosot, pakaiannya yang sederhana, dan kesederhanaan pidatonya, telah menyatakan, "Biarawan ini tidak akan pernah membuat saya menjadi bida'ah." Keberanian dan keteguhan yang ditunjukkannya sekarang, serta kuasa dan terangnya pemikirannya, membuat semua pihak terkagum?kagum. Kaisar, oleh karena kekagumannya, berseru, "Biarawan ini berbcara dengan hati yang berani dan dengan semangat yang tidak tergoyahkan." Banyak pangeran Jerman memandang wakil bangsa mereka ini dengan bangga dan gembira.

Para pengikut Roma telah dikalahkan. Kepentingan mereka tampaknya sangat suram. Mereka berusaha untuk mempertahankan kekuasaan mereka, bukan dengan merujuk kepada Alkitab, tetapi dengan menggunakan ancaman?ancaman, argumentasi Roma yang tidak pernah gagal. Juru bicara Mahkamah (Diet) berkata, "Jikalau engkau tidak menarik kembali ajaran?ajaranmu, maka kaisar dan pemerintah negara bagian diseluruh kekaisaran akan merundingkan tindakan apa yang akan dijalankan terhadap seorang bida'ah yang tidak bisa lagi diperbaiki ini." Sahabat?sahabat Luther, yang dengan kesukaan besar mendengarkan pembelaannya, gemetar mendengar kata?kata ini. Tetapi Dr. Luther sendiri berkata dengan tenang, "Kiranya Allah penolongku, karena tidak ada yang saya dapat tarik kembali."

Ia disuruh meninggalkan Mahkamah, sementara para pangeran berkonsultasi bersama. Terasa bahwa kemelut besar akan datang. Penolakan terus?menerus Luther untuk menyerah dapat berpengaruh kepada sejarah gereja selama berabad?abad. Diputuskan untuk memberikan kesempatan sekali lagi kepadanya untuk menarik kembali ajaran?ajarannya. Untuk yang terakhir sekali ia dihadapkan ke persidangan. Sekali lagi pertanyaan diajukan, apakah ia mau menarik kembali ajaran?ajarannya. "Saya tidak mempunyai jawaban yang lain," katanya, "selain dari pada yang sudah saya katakan." Terbukti bahwa ia tidak bisa dipengaruhi, baik dengan janji?janji maupun dengan ancaman untuk menyerah kepada kekuasaan Roma.


Para pemimpin kepausan merasa kecewa kuasa mereka, yang telah membuat raja?raja dan para bangsawan gemetar, dipandang rendah oleh seorang biarawan yang sederhana. Mereka ingin membuat dia merasakan kemarahan mereka dengan cara menyiksanya. Akan tetapi Luther, yang menyadari bahaya, telah berbicara kepada semua orang dengan keagungan dan ketenangan seorang hKristen. Kata?katanya tidak mengandung kesombongan, emosi dan kesalah?pahaman. Ia tidak lagi memperdulikan dirinya sendiri, dan pembesar?pembesar disekelilingnya, dan hanya merasa bahwa ia berada dihadirat Seorang yang mutlak, yang lebih tinggi dari paus, para pejabat tinggi gereja, raja?raja dan para kaisar. Kristus telah berbicara melalui kesaksian Luther dengan kuasa dan keagungan, sehingga pada waktu itu mengilhami dengan kekaguman dan keheranan baik kawan maupun lawan. Roh Allah telah hadir didalam konsili, untuk mempengaruhi hati para pemimpin kekaisaran. Beberapa orang dari para pangeran dengan tegas mengakui kebenaran perjuangan Luther. Banyak yang diyakinkan mengenai kebenaran, tetapi bagi sebagian orang kesan itu tidak bertahan lama. Ada kelompok lain, yang pada waktu itu tidak menunjukkan keyakinan mereka; tetapi setelah menyelidiki sendiri Alkitab menjadi pendukung Pembaharuan yang tak mengenal takut dikemudian hari.

Penguasa Saxony Frederick telah lama mengharapkan kehadiran Luther dihadapan Mahkamah. Dan dengan emosi yang mendalam ia mendengarkan pidato Luther. Dengan gembira dan bangga ia menyaksikan keberanian, keteguhn hati, ketenangan dan rasa percaya diri Dr. Luther, dan tekadnya untuk berdiri lebih teguh lagi dalam mempertahankan diri. Ia membandingkan kedua pihak yang bertikai, dan melihat bahwa kebijaksanaan paus, raja?raja dan pejabat?pejabat tinggi gereja tidak ada artinya dibandingkan dengan kuasa kebenaran. Kekuasaan kepausan telah menderita suatu kekalahan, yang akan dirasakan diantara semua bangsa dan pada segala zaman.

Ketika pejabat tinggi gereja menyadari akibat yang ditimbulkan oleh pidato Luther, ia menjadi takut seperti belum pernah sebelumnya, mengenai keamanan kekuasaan Romawi, dan memutuskan akan mengambil segala tindakan yang dibawah kekuasaannya untuk melenyapkan Pembaharu itu. Dengan kemahirannya berbicara dan ketrampilan diplomatiknya yang menonjol, ia mengemukakan kepada kaisar yang masih muda itu betapa bodohnya dan berbahayanya mengorbankan persahabatan dan dukungan kekuasaan Roma, hanya demi seorang biarawan yang tidak berarti.

Kata?katanya bukan tanpa akibat. Sehari sesudah Luther memberikan jawabannya, Charles mengirim pesan untuk disampaikan kepada Mahkamah, yang mengumumkan keputusannya untuk menjalankan kebijakan pendahulunya untuk mempertahankan dan melindungi agama Katolik. Oleh karena Luther telah menolak menarik kembali ajaran?ajarannya, dan mengakui kesalahannya, maka tindakan yang paling keras akan dilakukan terhadap Luther dan terhadap ajarannya yang menyimpang. "Seorang biarawan yang sesat oleh kebodohannya, telah bangkit melawan iman dunia Kristen. Untuk mempertahankan kesesatan seperti itu, berarti saya akan mengorbankan kerajaanku, hartaku, sahabat?sahabatku, darahku, jiwaku dan hidupku. Saya mau menyingkirkan Luther yang mulia, dan melarangnya melakukan kekacauan yang sekecil apapun di antara rakyat. Kemudian saya akan melawan dia dan pengikut?pengikutnya sebagai orang?orang bida'ah yang degil, oleh mengucilkan, mengasingkan dan apa saja yang diperkirakan dapat menghancurkan mereka. Saya menghimbau para anggota penguasa kerajaan untuk berlaku sebagai orang?orang Kristen yang setia." ?? Idem, b. 7, ch. 9. Namun demikian, kaisar mengatakan bahwa surat jaminan keselamatan Luther harus dihormati, dan sebelum tindakan terhadapnya dilaksanakan, ia harus diizinkan kembali kerumahnya dengan selamat.


Timbul dua pemikiran yang bertentangan diantara anggota?anggota Mahkamah. Para utusan dan wakil?wakil paus menuntut surat jaminan keselamatan itu diabaikan saja. Mereka katakan, "Sungai Rhine harus menerima abunya, sebagaimana telah menerima abu jenazah John Huss seabad yang lalu." ?? Idem, b. 7, ch. 9. Tetapi para pangeran Jerman, walaupun mereka adalah pengikut kepausan dan mengaku memusuhi Luther, memprotes terhadap pelanggaran iman umum, sebagai suatu noda pada kehormatan bangsa. Mereka menunjuk kepada malapetaka yang timbul sesudah kematian Huss, dan menyatakan bahwa mereka tidak berani mempersalahkan Jerman dan kaisar mereka yang masih muda, jika kejahatan yang ngeri seperti itu terulang kembali.

Charles sendiri, dalam menanggapi protes itu, berkata, "Walaupun kehormatan dan iman harus dilenyapkan dari seluruh muka bumi ini, mereka seharusnya mendapatkan perlindungan didalam hati para pangeran." ?? Idem, b. 7, ch. 9. Charles lebih jauh dibujuk oleh musuh Luther yang keras agar memperlakukan Pembaharu itu seperti yang dilakukan Sigismund kepada Huss, ?? menyerahkannya kepada kemurahan hati gereja. Tetapi setelah mengenang peristiwa pada waktu Huss, dihadapan pengadilan, menunjuk kepada rantainya dan mengingatkan raja akan janji imannya, Charles V. menyatakan, "Saya tidak suka dipermalukan seperti Sigismund" ?? Lihat Lenfant, "History of the Council of Constance, " Vol. I, p. 422.

Namun demikian, Charles dengan sengaja menolak kebenaran yang disampaikan oleh Luther. "Saya dengan teguh berketetapan untuk mengikuti teladan leluhur saya," tulis raja. Ia telah memutuskan bahwa ia tidak akan menyimpang dari kebiasaan walaupun dalam jalan kebenaran.Ia akan meninggikan kepausan dengan segala kejahatannya oleh karena ayahnya berbuat demikian. Dengan demikian ia mengambil pendirian, menolak menerima setiap terang yang melebihi apa yang para leluhurnya sudah terima atau melaksanakan sesuatu tugas yang mereka tidak laksanakan.

Sekarang ini ada banyak banyak orang yang bergantung kepada adat kebiasaan dan tradisi para leluhurnya. Bilamana Allah mengirimkan kepada mereka terang tambahan, mereka menolaknya, karena tidak diberikan sebelumnya kepada leluhurnya, sehingga mereka tidak mau menerimanya. Kita tidak ditempatkan ditempat leluhur kita. Sebagai akibatnya tugas?tugas dan tanggungjawab kita tidak sama dengan mereka . Kita tidak akan berkenan kepada Allah kalau kita mencari teladan leluhur untuk menentukan tugas, gantinya kita menyelidiki sendiri Firman kebenaran itu. Tanggungjawab kita lebih besar dari nenek moyang kita. Kita bertanggungjawab ats terang yang mereka terima, dan yang diturunkan kepada kita sebagai warisan bagi kita. Dan kita juga bertanggungjawab atas terang tambahan yang sekarang bersinar atas kita dari firman Allah.

Kristus berkata kepada orang Yahudi yang tidak percaya, "Sekiranya aku tidak datang dan tidak berkata?kata kepada mereka, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang mereka tidak mempunyai dalih bagi dosa mereka"( Johanes 15:22). Kuasa ilahi yang sama telah berbicara melalui Luther kepada kaisar dan para pangeran Jerman. Dan sementara terang bersinar dari firman Allah, Roh?Nya membujuk para hadirin untuk yang terakhir kalinya. Seperti Pilatus berabad?abad yang lalu, membiarkan kesombongan dan popularitas menutup hatinya terhadap Penebus dunia; seperti Felix yang berkata kepada utusan kebenaran, "Cukuplah dahulu dan pergilah sekarang; apabila ada kesempatan baik, aku akan menyuruh memanggil engkau;" dan seperti Agrippa yang sombong mengakui, "Hampir?hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen,"( Kisah 24:25; 26:28), namun berpaling dari pekabaran Surgawi itu, ?? demikianlah Charles V., yang menyerah kepada ketentuan kesombongan dan kebijakan duniawi, sehingga memutuskan menolak terang kebenaran.


Desas desus mengenai tindakan terhadap Luther telah tersebar luas, menyebabkan kegemparan besar diseluruh kota itu. Pembaharu itu telah mempunyai banyak sahabat, yang bertekad untuk tidak mengorbankannya, karena mereka mengetahui kekejaman yang akan dilakukan oleh Roma kepada semua orang yang berani mengungkapkan kekejamannya. Ratusan kaum bangsawan bersumpah untuk melindunginya. Tidak sedikit yang secara terbuka mencela pengumuman kerajaan sebagai tanda kelemahan, menyerah kepada kekuasaan Roma. Digerbang?gerbang rumah dan ditempat?tempat umum, ditempelkan kertas pengumuman. Sebagian mengutuk dan sebagian lagi membela Luther. Salah satu kertas pengumuman itu telah dituliskan dengan kata?kata orang bijak, "Wai engkau tanah, kalau rajamu seorang kanak?kanak" (Pengkhotbah 10:16). Semangat dukungan populer kepada Luther diseluruh Jerman meyakinkan baik kaisar maupun Mahkamah, bahwa setiap tindakan yang tidak adil kepada Luther akan membahayakan perdamaian diseluruh kekaisaran, dan bahkan stabilitas takhta.

Frederick dari Saxony tetap tenang namun mengamati keadaan, menyembunyikan dengan hati?hati perasaannya terhadap Pembaharu. Sementara pada waktu yang sama ia menjaga dirinya tanpa mengenal lelah, memperhatikan gerak geriknya dan gerak gerik musuh?musuhnya. Tetapi banyak juga yang tidak berusaha menyembunyikan rasa simpatinya kepada Luther. Ia dikunjungi oleh para pangeran, kaum bangsawan, orang?orang terkemuka, baik awam maupun para ulama. "Kamar doktor yang sempit," tulis Spalatin, "tidak dapat menampung semua pengunjung yang datang." ?? Martyn, Vol. I, p. 404. Orang?orang memandang kepadanya seolah?olah ia lebih dari sekedar manusia. Bahkan orang?orang yang tidak percaya kepada ajaran?ajarannyapun mengagumi integritasnya yang tinggi, yang membuatnya berani mati daripada melanggar hati nuraninya.

Usaha yang sungguh?sungguh dilakukan untuk memperoleh persetujuan Luther untuk berkopromi dengan Roma. Kaum bangsawan dan para pangeran menyampaikan kepadanya bahwa jika ia tetap pada pendiriannya menentang gereja dan konsili, ia akan dilenyapkan dari kekaisaran, dan dia tidak akan mempunyai perlindungan lagi. Luther memberi jawaban kepada usaha ini, "Injil Kristus tidak dapat dikhotbahkan tanpa perlawanan . . . . Kalau begitu mengapa rasa takut atau cemas akan bahaya memisahkan aku dari Tuhanku dan dari firman?Nya, yang adalah kebenaran satu?satunya? Tidak. Lebih baik saya serahkan tubuhku, darahku dan hidupku." ?? D'Aubigne, b. 7, ch. 10.

Sekali lagi ia didesak agar menyerah kepada pengadilan kaisar, dan kemudian tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. "Aku setuju," jawabnya, "dengan segenap hatiku, agar kaisar, para pangeran dan bahkan orang Kristen yang paling hina, harus memeriksa dan menimbang karya?karyaku, tetapi dengan satu syarat, bahwa mereka membuat firman Allah sebagai ukuran. Manusia tidak bisa berbuat lain selain menurutinya. Janganlah bertindak kejam terhadap hati nuraniku yang terikat dan terantai kepada Alkitab." ?? Idem, b.7, ch. 10.

Kepada himbauan lain ia berkata, "Aku setuju melepaskan surat jaminan keselamatanku. Saya menempatkan diriku dan hidupku ditangan kaisar, tetapi firman Allah . . . sekali lagi tidak!" ?? Idem, b. 7, ch. 10. Ia mengatakan kesediaannya menyerah kepada keputusan konsili umum, tetapi hanya dengan syarat bahwa konsili diminta memutuskan sesuai dengan Alkitab. Selanjutnya ia menambahkan, "Dalam urusan apa firman Allah dan iman setiap orang Kristen disamakan dengan paus dalam menghakimi meskipun didukung oleh sejuta konsili." ?? Martyn, Vo. I, p. 410. Akhirnya baik kawan maupun lawan yakin bahwa usaha?usaha selanjutnya untuk perdamaian tidak akan ada gunanya.

Kalau saja Pembaharu itu menyerah dalam satu hal saja, Setan bersama pengikut?pengikutnya akan memperoleh kemenangan. Tetapi keteguhannya yang tak tergoyahkan itu, menjadi sarana pembebasan gereja untuk memulai era baru yang labih baik. Pengaruh orang yang satu ini, yang berani berpikir dan bertindak bagi dirinya dalam masalah?masalah agama, telah mempengaruhi gereja dan dunia, bukan saja pada zamannya, tetapi juga pada semua generasi yang akan datang. Keteguhannya dan kesetiaannya akan menguatkan semua orang yang akan melalui pengalaman yang serupa pada akhir zaman. Kuasa dan kebesaran Allah mengatasi pemikiran manusia dan mengatasi kekuasaan besar Setan.


Luther segera diperintahkan oleh kaisar untuk kembali ke kampung halamannya. Dan dia tahu bahwa perintah ini akan segera disusul oleh penghukumannya. Awan gelap yang menakutkan membayangi jalannya. Tetapi sementara ia meninggalkan kota Worms, hatinya dipenuhi sukacita dan pujian. "Iblis sendiri," katanya, "mengawal benteng paus; tetapi Kristus telah menerobosnya, dan Setan terpaksa mengakui bahwa Tuhan lebih berkuasa daripadanya." ?? D'Aibigne, b. 7, ch. 11.

Setelah keberangkatannya, ia masih ingin agar ketetapan pendiriannya jangan dianggap salah sebagai suatu pemberontakan. Ia menulis kepada kaisar. "Allah yang menyelidiki segala hati, adalah saksiku," katanya, "bahwa saya siap sedia dengan sungguh?sungguh mematuhi yang mulia, dalam kehormatan atau tidak, dalam kehidupan atau kematian, dan tanpa kecuali dalam firman Allah, oleh mana manusia hidup. Dalam semua liku?liku permasalahan hidup masa kini, kesetiaanku tidak tergoyahkan, oleh karena disini kalah atau menang tidak mempengaruhi keselamatan. Akan tetapi kalau dikaitkan dengan kekekalan, Allah tidak mau bahwa manusia menyerah kepada manusia. Oleh karena penyerahan seperti itu dalam masalah kerohanian adalah perbaktian yang sebenarnya, maka kita berbakti hanya kepada Allah saja." ?? Idem, b. 7, ch. 11.

Dalam perjanannya pulang dari Worms, sambutan terhadap Luther lebih semarak dibandingkan dengan pada waktu ia pergi. Para ulama yang ramah dan baik hati menyambut biarawan yang dikucilkan itu, dan pejabat?pejabat pemerintah menghormati orang yang telah dikutuk oleh kaisar. Ia diminta untuk berkhotbah, dan walaupun ada larangan kekaisaran, ia sekali lagi naik ke mimbar. "Aku tidak pernah berjanji kepada diriku untuk merantai firman Allah, dan tidak akan saya laukan," katanya. ?? Martyn, Vol. I, p. 420.

Tidak berapa lama setelah ia meninggalkan Worms, para pengikut kepausan mendesak kaisar untuk mengeluarkan satu dekrit melawan Luther. Dalam dekrit itu Luther dicela sebagai "Setan sendiri dalam bentuk manusia dan berpakaian jubah biarawan." ?? D'Aubigne, b. 7, ch. 11. Diperintahkan agar segera setelah surat jaminan keselamatan habis masa berlakunya, diambil langkah?langkah untuk menghentikan kegiatannya. Semua orang dilarang untuk menyembunyikannya, memberinya makanan atau minuman, atau membantunya atau bersekongkol dengannya dengan kata?kata atau tindakan, dimuka umum atau secara pribadi. Ia harus ditangkap dimana saja memungkinkan, dan menyerahkannya kepada penguasa. Pengikut?pengikutnya juga akan dipenjarakan, dan harta mereka disita. Tulisan?tulisannya akan dimusnahkan, dan akhirnya, semua yang berani bertindak bertentangan dengan dekrit ini akan menerima hukuman yang sama. Penguasa Saxony, dan para pangeran yang bersahabat dengan Luther, telah meninggalkan kota Worms segera setelah Luther meninggalan Worms, dan dekrit kaisar itu mendapat sanksi dari Mahkamah. Sekarang para pengikut Romawi kegirangan karena merasa menang. Mereka menganggap nasib Pembaharuan telah ditutup termeterai.

Allah telah menyediakan jalan kelepasan bagi hamba?Nya pada saat genting seperti ni. Mata yang terus waspada, yang tidak pernah tertidur, mengawasi gerak gerik Luther. Dan hati yang benar dan agung telah memutuskan untuk menyelamatkannya. Sudah jelas bahwa Roma tidak akan puas kalau Luther belum mati. Hanya dengan menyembunyikannya nyawanya dapat diselamatkan dari mulut singa. Allah memberikan kebijaksanaan kepada Frederick dari Saxony untuk membuat suatu rencana penyelamatan Pembaharu itu. Dengan kerjasama sahabat?sahabat sejati, rencana penguasa Saxony ini dapat dijalankan, dan Luther dapat disembunyikan dengan baik dari sahabat?sahabat dan musuh?musuhnya. Dalam perjalanan pulang ia ditangkap dan dipisahkan dari pengikut?pengikutnya, dan dengan segera dibawa melalui hutan ke kastel Wartburg, suatu benteng terpencil dipengunungan. Baik penangkapannya maupun penyembunyiannya dilakukan secara misterius sehingga Frederick sendiripun, untuk beberapa waktu lamanya, tidak tahu kalau?kalau rencana itu sudah dijalankan. Ketidak?tahuan ini bukanlah secara kebetulan. Selama Frederick tidak tahu dimana Luther berada, selama itu pula ia tidak bisa menyatakannya. Ia merasa puas bahwa Pembaharu itu aman.


Musim bunga, musim panas dan musim gugurpun berlalu. Dan musim dinginpun tiba, dan Lutherpun masih tetap sebagai tawanan. Aleander dan pengikut?pengikutnya bergembira karena terang Injil itu seolah?olah akan padam. Tetapi sebaliknya, Pembaharu itu sedang mengisi minyak lampunya dan perbendaharaan kebenaran, agar sinarnya memancar lebih terang.

Dalam pengamanan Wartburg, untuk sementara, Luther merasa gembira karena terbebas dari kekacauan dan panasnya peperangan. Tetapi ia tidak merasa puas berlama?lama berdiam diri dan beristirahat. Karena sudah biasa dengan kehidupan yang aktif dan pertentangan yang keras, ia tidak tahan tetap tanpa kegiatan. Selama hari?hari hidup menyendiri itu, gereja bangkit dihadapannya sehingga ia berseru dalam keputus?asaan, "Aduh! tak seorangpun pada hari teakhir murka?Nya, yang dapat berdiri bagaian tembok dihadapan Tuhan, dan menyelamatkan Israel!" ?? Idem, b. 9, ch. 2. Sekali lagi, ia memikirkan dirinya sendiri, dan ia takut dicap sebagai pengecut ole karena menarik diri dari arena perjuangan. Akhirnya ia mempersalahkan dirinya karena bermalas?malas dan memanjakan diri. Namun pada waktu yang sama setiap hari ia melakukan tugas yang tampaknya tidak mungkin dilakukan oleh seorang. Penanya tidak pernah malas. Sementara musuh?musuhnya memuji diri oleh karena Luther sudah diam, mereka dikejutkan dan dibingungkan oleh bukti nyata bahwa Luther masih aktif. Sejumlah besar risalah?risalah yang ditulisnya, diedarkan diseluruh Jerman. Ia juga melakukan suatu jasa kepada bangsanya dengan menerjemahkan buku Perjanjian Baru kedalam bahasa Jerman. Dari "Patmos"nya yang berbatu?batu ia terus menyiarkan Injil hampir sepanjang tahun, menegur dan mencela dosa?dosa dan kesalahan?kesalahan pada masa itu.

Akan tetapi bukan hanya sekedar melindungi Luther dari angkara murka musuh?musuhnya, atau bahkan memberinya waktu yang tenang untuk pekerjaan penting ini, sehingga Allah menarik hamba?hamba?Nya dari panggung kehidupan umum. Ada hasil yang lebih berharga dari itu yang akan diperolehnya. Ditempat pengasingan yang terpencil dan tidak diketahui orang ini, Luther terpisah dari dukungan duniawi, dan dari sanjungan manusia. Dengan demikian ia terhindar dari kesombongan dan kepercayaan pada diri sendiri yang sering disebabkan oleh keberhasilan. Oleh penderitaan dan kehinaan ia telah dipersiapkan kembali untuk berjalan dengan aman diatas ketinggian kemana ia tiba?tiba dinaikkan.

Pada waktu orang?orang bersukacita dalam kebebasan yang diberikan oleh kebenaran kepada mereka, mereka cenderung menyanjung mereka yang dipakai Allah untuk memutuskan rantai kesalahan dan ketakhyulan. Setan berusaha untuk mengalihkan pikiran dan kasih manusia dari Allah, dan menujukan kepada manusia. Ia memimpin mereka menghormati alat?alat dan melupakan Tangan yang mengatur semua kejadian?kejadian dan pemeliharaan. Terlalu sering pemimpin?pemimpin agama yang dipuji?puji dan dihormati kehilangan rasa ketergantungan mereka kepada Allah dan menaruh percaya pada diri sendiri. Akibatnya, mereka berusaha menguasai pikiran dan hati nurani orang?orang, yang cenderung mencari tuntunan dari mereka, gantinya mencari dari firman Allah. Pekerjaan pembaharuan itu sering menjadi lambat karena roh seperti itu dimanjakan oleh para pendukungnya. Allah akan menjaga usaha Pembaharuan dari bahaya ini. Ia rindu agar pekerjaan ini menerima, bukan pengaruh manusia, tetapi pengaruh Allah. Mata orang?orang telah ditujukan kepada Luther sebagai penerang kebenaran. Ia diasingkan agar semua mata boleh ditujukan kepada Pencipta kebenaran abadi itu.


PEMBAHARU SWIS

~9~
PEMBAHARU SWISS

Dalam memilih alat-alat pembaharuan gereja, rencana ilahi yang sama terlihat dalam penanaman dan pengembangan jemaat. Guru Surgawi itu diabaikan oleh orang-orang besar dunia, orang-orang kaya dan orang-orang bertitel, yang sudah terbiasa menerima pujian dan penghormatan sebagai pemimpin bangsa. Mereka begitu sombong dan angkuh dalam superioritas kebanggaan mereka, sehingga mereka tidak bisa diarahkan untuk bersimpati kepada sesama manusia dan menjadi teman kerja "Orang Nasaret" yang rendah hati itu. Kepada orang-orang yang tidak terpelajar, para nelayan Galilea yang bekerja keras, panggilan diberikan, "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." ( Matius 4:19 ). Murid-murid ini rendah hati dan dapat diajar. Semakin sedikit mereka dipengaruhi oleh ajaran-ajaran palsu pada zamannya, semakin berhasil mereka diajar dan dilatih oleh Kristus bagi pelayanannya. Demikian juga halnya pada zaman Pembaharuan. Pembaharu-pembaharu terkemuka adalah orang-orang yang hidupnya sederhana, -- orang-orang yang hidupnya jauh dari kesombongan kedudukan, dan dari pengaruh kefanatikan dan keimaman. Adalah rencana Allah untuk menggunakan alat-alat yang sederhana untuk mencapai hasil-hasil yang besar. Kemudian kemuliaan tidak akan diberikan kepada manusia itu, tetapi kepada-Nya yang bekerja melalui mereka yang melakukan kemauan-Nya.

Beberapa minggu setelah Luther lahir digubuk buruh tambang di Saxony, Ulric Zwingle telah lahir di pondok gembala diantara pegunungan Alpen. Lingkungan Zwingle pada masa kanak-kanak dan pendidikan pertamanya adalah sedemikian rupa sehingga mempersiapkan dirinya kepada misinya dikemudian hari. Karena dibesarkan ditengah-tengah kebebasan dan keindahan pemandangan alam, dan keagungan yang menakjubkan, pikirannya telah terkesan dengan rasa kebesaran, kuasa dan keagungan Allah. Sejarah perbuatan-perbuatan berani yang dicapai dinegerinya di daerah pegunungan telah menyalakan aspirasi kemudaannya. Dan dari neneknya yang saleh ia mendengar beberapa cerita-cerita Alkitab berharga yang telah dikumpulkan menggantikan cerita-cerita legenda dan tradisi gereja. Dengan penuh perhatian ia mendengarkan cerita tentang perbuatan-perbuatan besa para bapa dan para nabi, dan tentang para gembala yang menjaga kawanan ternaknya dibukit-bukit Palestina di mana malaikat-malaikat berbicara dengan mereka tentang Bayi Betlehem dan tentang Orang Golgota.

Seperti John Luther, ayah Martin Luther, ayah Zwingle juga menginginkan suatu pendidikan bagi anaknya. Lalu ia mengirimkan anak itu kesekolah diluar kampung halamannya di lembah itu. Pikiran anak muda ini berkembang cepat sehingga timbul masalah mendapatkan seorang guru yang berkompeten mengajarnya. Pada usia tiga belas tahun ia pergi ke Bern, dimana terdapat sekolah yang paling terkenal di Swis. Namun, disini timbulah suatu bahaya yang mengancam janji hidupnya. Usaha-usaha keras dilakukan oleh para biarawan untuk memikatnya memasuki biara. Para biarawan Dominika dan Francisca saling bersaing untuk menarik perhatian. Hal ini dilakukan dengan menunjukkan gereja-gereja mereka yang dihiasi, pertunjukan acara-acara mereka dan penarikan benda-benda kuno dan patung-patung yang membuat mujizat.

Para biarawan Dominika Bern melihat bahwa jika mereka dapat memenangkan pemuda berbakat ini, mereka akan mendapat keuntungan dan kehormatan. Usianya yang masih sangat muda, kemampuan alamiahnya sebagai pembicara dan penulis, kecerdasannya yang luar biasa dalam musik dan puisi, akan lebih efektif dai semua pertunjukan dan peragaan untuk menarik orang-orang mengunjungi kebaktian dan sekaligus meningkatkan pemasukan uang bagi ordo mereka. Dengan tipuan dan pujian yang berlebih-lebihan mereka berusaha membujuk Zwingle memasuki biara mereka. Luther, pada waktu ia masih sekolah, telah membenamkan dirinya diruangan biara. Ia pasti sudah hilang dari dunia ini seandainya pemeliharaan Allah tidak melepaskannya. Zwingle tidak diizinkan untuk menemui bahaya yang sama. Secara kebetulan ayahnya menerima informasi mengenai rencana para biarawan itu. Ia tidak berencana untuk mengizinkan anaknya untuk mengikuti jalan hidup biarawan, yang malas dan tak berguna itu. Ia melihat bahwa kegunaannya dihari depan terancam, sehingga ia menyuruh Zwingle segera pulang.

Perintah ayahnya itu dituruti. Tetapi pemuda ini tidak berapa lama bisa sabar tinggal di kampung halamannya di lembah itu. Ia segera meneruskan sekolahnya ke Basel setelah beberpa lama kemudian. Disinilah Zwingle untuk pertama sekali mendengar Injil rahmat Allah yang diberikan dengan cuma-cuma. Seorang guru bahasa-bahasa kuno, bernama Wittenbach, telah dituntun kepada Alkitab pada waktu ia mempelajari bahasa-bahasa Yunani dan Iberani. Dan dengan demikian sinar-sinar terang ilahi telah dipancarkan kedalam pikiran siswa-siswa yang diajarnya. Ia menyatakan bahwa ada satu kebenaran yang lebih tua dan yang lebih berharga daripada teori-teori yang diajarkan oleh para guru dan para ahli filsafat. Kebenaran tua ini ialah bahwa kematian Kristus adalah tebusan orang-orang berdosa satu-satunya. Bagi Zwingle perkataan ini bagaikan sinar terang pertama yang mendahului fajar.


Tidak lama kemudian Zwingle dipanggil dari Basel untuk memasuki pekerjaan hidupnya. Ladang tempat bertugasnya yang pertama ialah di salah satu paroki di Alpine, tidak jauh dari kampung halamannya di lembah. Setelah ia menerima pengurapan sebagai imam, ia "membaktikan dirinya dengan segenap jiwanya untuk menyelidiki kebenaran ilahi, karena ia sepenuhnya menyadari," kata seorang teman pembaharu, "betapa ia harus tahu kepada siapa kawanan domba Kristus dipercayakan." -- Wylie, b. 8, ch. 5. Semakin ia menyelidiki Alkitab, semakin jelas tampak perbedaan antara kebenaran-kebenaran Alkitab dengan penyelewengan-penyelewengan Roma. Ia menerima Alkitab sebagai firman Allah, sebagai satu-satunya peraturan yang sempurna dan mutlak. Ia melihat bahwa firman itu menerangkan tentang dirinya sendiri. Ia tidak berani mencoba menerangkan Alkitab untuk mempertahankan ajaran-ajaran dan teori-teori yang sudah diprakondisi sebelumnya. Tetapi mengambil sebagai tugasnya untuk mempelajari apa ajarannya yang langsung dan nyata. Ia berusaha menyediakan dirinya menjadi penolong untuk memberikan pengertian yang penuh dan benar tentang artinya, dan memohon pertolongan Roh Kudus, yang ia katakan akan menyatakannya kepada semua orang yang mencarinya dengan sungguh-sungguh dan dengan doa.

"Alkitab itu," kata Zwingle, "datang dari Allah, bukan dari manusia, dan bahkan Allah, yang menerangi itu, akan memberikan kepadamu pengertian bahwa perkataan itu datang dari Allah . . . tidak bisa gagal. Firman itu terang, mengajarkan sendiri, menyatakan dirinya sendiri. Ia menerangi jiwa dengan semua keselamatan dan rahmat kasih karunia, menghiburkan jiwa itu didalam Tuhan, melembutkannya, sehingga menyangkali bahkan menghilangkan diri sendiri dan merangkul Allah." -- Wylie, b. 8, ch. 6. Kebenaran firman ini telah dibuktikan sendiri oleh Zwingle. Berbicara mengenai pengalamannya pada waktu ini, ia kemudian menulis, "Ketika . . . aku mulai menyerahkan diriku seluruhnya kepada Alkitab yang suci, falsafah dan teologi selalu mengundang pertentangan dalam aku. Akhirnya saya datang kepada pemikiran ini, 'Engkau harus menganggap itu semua sebagai kebohongan, dan mempelajari arti Allah semata-mata dari firman-Nya yang sederhana.' Kemudian saya mulai memohon kepada Allah terang-Nya, dan Alkitab itu mulai lebih mudah saya mengerti." -- Idem, b. 8, ch. 6.

Doktrin yang diajarkan oleh Zwingle tidak diterimanya dari Luther. Doktrin itu adalah doktrin Kristus. "Jikalau Luther mengkhotbahkan Kristus," kata Pembaharu Swis itu, "ia melakukan apa yang sedang saya lakukan. Mereka yang telah dibawanya kepada Kristus jauh lebih banyak daripada mereka yang saya tuntun. Tetapi ini tidak menjadi soal. Saya tidak akan membawa nama lain selain Kristus, yang saya adalah laskar-Nya dan Dia adalah satu-satunya pemimpinku. Belum pernah sepatah katapun kutuliskan kepada Luther, atau oleh Luther kepada saya. Dan mengapa? . . . Agar hal itu menunjukkan betapa Roh Alah adalah satu, oleh karena keduanya kami, tanpa persekongkolan, telah mengajarkan doktrin Kristus dengan cara yang sama." -- D'Aubigne, b. 8, ch. 9.

Pada tahun 1516, Zwingle telah diundang menjadi pengkhotbah di biara di Einsiedeln. Disini ia dapat melihat lebih dekat kebejatan Roma, dan berusaha menanamkan pengaruhnya sebagai Pembaharu, yang dapat dirasakan jauh diluar kampung halamannya Alpen. Salah satu yang paling menarik perhatian di Einsiedeln ialah patung Anak Dara, yang dikatakan mempnyai kuasa membuat mujizat-mjizat. Diatas gerbang biara ada tulisan, "Disini dapat diperoleh pengampunan dosa yang sempurna." -- D'Aibigne, b. 8, ch. 5. Sepanjang masa para musafir berdatangan ketempat pemujaan Anak Dara ini. Tetapi pada perayaan besar tahunan, penahbisannya, orang banyak datang dari berbagai bagian Swis, dan bahkan dari Perancis dan Jerman. Zwingle merasa sangat susah melihat hal ini, lalu menggunakan kesempatan itu untuk mengumumkan pembebasan melalui Injil bagi orang-orang yang diperbudak oleh ketakhyulan ini.

"Jangan kamu sangka," katanya, "bahwa Allah hanya ada di dalam tempat pemujaan ini dan tidak ada ditempat lain. Negara mana sajapun tempat kamu tinggal, Allah ada disekitarmu, dan mendengarkan kamu . . . . Dapatkah pekerjaan sia-sia, pengembaraan berziarah yang jauh, persembahan-persembahan, pemanggilan Anak Dara atau orang-orang kudus memberikan rahmat kasih karunia Allah kepadamu? . . . Apakah manfaatnya kata-kata yang banyak yang kita tuangkan dalam doa-doa kita? Kemanjuran apakah yang dimiliki oleh mantel pendeta yang mengkilap, topi runcing, jubah yang panjang atau sandal yang bersulam emas? . . . Allah melihat pada hati, dan hati kita jauh dari pada-Nya." "Kristus ," katanya, "yang sekali telah dikorbankan di kayu salib, adalah persembahan dan korban, yang telah menyelesaikan dosa-dosa orang percaya sampai zaman kekalan." -- Idem, b. 8, ch. 5.

Pengajaran ini tidak diterima oleh banyak pendengar. Adalah suatu yang mengecewakan kepada mereka mengatakan bahwa perjalanan mereka yang dengan susah payah itu adalah kesia-siaan. Mereka tidak dapat memahami pengampunan yang diberikan dengan cuma-cuma kepada mereka melalui Kristus. Mereka telah puas mencari Surga dengan cara lama yang telah ditentukan oleh Roma bagi mereka. Mereka menghindarkan diri dari kebingungan menyelidiki sesuatu yang lebih baik. Adalah lebih mudah mempercayakan keselamatan kepada imam-imam dan kepada paus daripada mencari kesucian hati.


Tetapi kelompok lain menerima dengan gembira berita penebusan melalui Kristus. Upacara-upacara yang diperintahkan oleh Roma telah gagal memberikan kedamaian jiwa, dan dengan iman mereka menerima darah Juru Selamat sebagai perdamaian mereka. Orang-orang ini kembali kekampung halamannya dan menyatakan kepada orang-orang lain terang berharga yang mereka telah terima. Dengan demikian terang kebenaran itu telah dibawa dari satu desa ke desa lain, dan dari satu kota ke kota lain. Orang-orang musafir peziarah ke tempat pemujaan Anak Dara berkurang dengan drastis. Dampaknya terjadi penurunan uang persembahan, dan sebagai akibatnya berkurang gaji Zwingle yang diperoleh dari persembahan itu. Akan tetapi ia bersukacita karena melihat bahwa kuasa kefanatikan dan ketakhyulan sedang hancur.

Para penguasa gereja tidak buta terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh Zwingle, tetapi untuk sementara mereka bersabar untuk tidak mengganggunya. Mereka masih mengharapkan Zwingle untuk kepentingan mereka, sehingga mereka berusaha memenangkannya dengan bujukan dan pujian-pujian. Dan sementara itu kebenaran telah memasuki hati orang-orang.

Pekerjaan Zwingle di Einsiedeln telah mempersiapkannya untuk suatu ladang yang lebih luas yang segera akan ia masuki. Setelah tiga tahun disini, ia telah dipanggil untuk menduduki jabatan pengkhotbah di katedral di Zurich. Zurich kemudian menjadi kota terpenting di konferderasi Swis, dan pengaruh yang dikembangkan disini akan dirasakan secara luas. Para rohaniawan, yang mengundangnya datang ke Zurich, sebenarnya ingin mencegah sebarang pembaharuan; dan oleh sebab itu mereka mulai menginstruksikan kepadanya apa-apa yang menjadi tugasnya.

"Engkau harus mengerahkan seluruh tenaga," kata mereka, "untuk mengumpulkan pendapatan dari semua kelompok tanpa mengabaikan yang paling kecil. Engkau harus mendorong mereka yang setia, baik dari mimbar maupun dalam pengakuan dosa, untuk membayar semua persepuluhan dan iuran, dan menunjukkan kasih sayang mereka kepada gereja oleh persembahan mereka. Engkau harus rajin meningkatkan pendapatan dari orang-orang sakit, dari upacara misa dan pada umumnya dari setiap peraturan yang bersangkutan dengan gereja dan para ulama." "Mengenai pelaksanaan sakramen, berkhotbah dan penggembalaan umat-umat," para intrukturnya menambahkan, "ini juga adalah tugas pendeta. Tetapi untuk ini engkau boleh mempekerjakan seorang pengganti, terutama dalam berkhotbah. Engkau melaksanakan sakramen hanya kepada orang-orang terkenal, itupun kalau mereka memanggil. Engkau dilarang melaksanakannya tanpa membedakan orang-orang." -- D'Aubigne, b. 8, ch. 6.

Zwingle mendengar tugas-tugas ini dengan diam. Dan dalam jawabannya setelah mengucapkan rasa syukurnya atas panggilannya kepada pos penting ini, ia mulai menerangkan rencana yang ia usulkan untuk dijalankan. "Hidup Kristus telah terlalu lama disembunyikan dari umat manusia," katanya. "Saya akan mengkhotbahkan seluruh Injil Matius, . . . yang seluruhnya diambil dari mata air Alkitab, mengukur kedalamannya, membandingkan satu alinea dengan alinea lainnya, dan berusaha memahaminya oleh doa yang sungguh-sungguh dan terus menerus. Saya akan mengabdikan pelayanan saya kepada kemuliaan Allah , kepada puji-pujian kepada Anak-Nya yang Tunggal, kepada keselamatan jiwa-jiwa yang sesungguhnya, dan kepada pembangunan mereka dalam iman yang benar." -- Idem, b. 8, ch. 6. Walaupun sebagian dari para ulama itu tidak menyetujui rencana ini, dan berusaha mencegahnya untuk dilakukan, Zwingle tetap pada pendiriannya. Ia mengatakan bahwa ia tidak memperkenalkan metode baru, tetapi metode lama yang digunakan oleh gereja pada zaman yang lebih dahulu dan yang lebih murni.

Suatu minat telah timbul pada kebenaran yang diajarkannya. Orang-orang sangat banyak berkumpul mendengarkan khotbahnya. Banyak diantara para pendengar adalah orang-orang yang sudah lama tidak menghadiri upacara perbaktian. Ia memulai pelayanannya dan membuka Injil, dan membacanya dan menerangkannya kepada para pendengarnya berita kehidupan itu, pengajaran dan kematian Kristus. Disini, sebagaimana juga di Einsiedeln, ia menyampaikan firman Allah sebagai satu-satunya kuasa mutlak, dan kematian Kristus sebagai satu-satunya korban yang sempurna. Ia berkata, "Saya ingin menuntun kamu sekalian kepada kristus -- kepada Kristus, sumber keselamatan yang benar." -- Idem, b. 8, ch. 6. Disekeliling pengkhotbah itu berkerumun orang-orang dari segala lapisan -- para negarawan dan cendekiawan, para pekerja dan petani. Mereka mendengarkan kata-kata Zwingle dengan perhatian yang mendalam. Ia bukan saja mengumumkan untuk memberikan keselamatan dengan cuma-cuma, tetapi tanpa gentar mencela kejahatan dan kebejatan pada zaman itu. Banyak yang pulang dari katedral memuji Tuhan. "Orang ini," kata mereka, "adalah pengkhotbah kebenaran. Ia adalah Musa kita, yang memimpin kita keluar dari kegelapan Mesir ini." -- Idem, b. 8, ch. 6.

Akan tetapi walaupun pada mulanya pekerjaannya telah diterima dengan semangat yang tinggi, perlawanan timbul setelah beberapa lama waktunya. Para biarawan menghalang-halangi usahanya dan mencela ajaran-ajarannya. Banyak yang menyerangnya dengan ejekan dan cemoohan; yang lain bertindak kurang ajar dan mengancam. Tetapi Zwingle menanggung semuanya dengan sabar, dan berkata, "Jikalau kita ingin memenangkan orang jahat kepada Kristus, kita harus menutup mata kita terhadap banyak hal." -- Idem, b. 8, ch. 6.


Kira-kira pada waktu ini seorang anggota baru tampil untuk memajukan pekerjaan pembaharuan. Seorang anggota ordo Lucian telah dikirim ke Zurich dengan membawa beberapa tulisan-tulisan Luther oleh seorang sahabat di Basil, yang imannya telah dibaharuai. Ia menyarankan bahwa dengan menjual buku-buku ini mungkin akan menjadi satu alat ampuh untuk menyebarkan terang kebenaran itu. "Pastikan," ia menulis kepada Zwingle, "apakah orang ini cukup bijaksana dan trampil; jika demikian, biarkanlah ia menjual dari kota ke kota, dari desa ke desa dan bahkan dari rumah ke rumah orang-orang Swis, karya-karya Luther, terutama pembahasannya atas Doa Tuhan Yesus, yang ditulis untuk orang awam. Semakin banyak yang mengetahui, semakin banyak pembeli yang ditemukan." -- Idem, b. 8, ch. 6. Demikianlah terang kebenaran memperoleh jalan masuk.

Pada waktu Allah bersiap-siap mematahkan belenggu kebodohan dan ketakhyulan, maka pada waktu itu Setan bekerja keras untuk menyelubungi manusia didalam kegelapan dan belenggunya lebih kuat lagi. Ketika manusia bangkit di berbagai negeri untuk menyatakan kepada orang-orang pengampunan dan pembenaran melalui darah Kristus, Roma tampil dengan kekuatan yang diperbaharui untuk membuka pasar diseluruh dunia Kekritenan yang memberikan pengampunan dengan uang.

Setiap jenis dosa mempunyai tarif masing-masing, dan kepada orang-orang diberikan surat izin untuk melakukan kejahatan, asal peti perbendaharaan gereja diisi penuh. Demikianlah kedua gerakan itu bersaing maju: -- yang satu memberi pengampunan melalui uang, yang satu lagi pengampunan melalui darah Kristus. Roma memberi lisensi untuk berbuat dosa, dan membuatnya sumber pendapatannya, dan para Pembaharu mencela dosa, dan menunjuk kepada Kristus sebagai perdamaian dan penyelamat.

Di Jerman, penjualan surat pengampunan dosa telah diserahkan kepada para biarawan ordo Dominika, dan telah dilaksanakan oleh Tetzel yang keji itu. Di Swis pengedarannya diserahkan kepada para biarawan ordo Fransiskus, dibawah pengawasan Samson, seorang biarawan bangsa Italia. Samson telah melakukan pelayanan yang baik kepada gereja, dengan mengumpulkan sejumlah besar uang dari Jerman dan Swis untuk mengisi perbendaharaan kepausan. Sekarang ia menjelajahi seluruh Swis menarik perhatian banyak orang, merampas petani-petani miskin yang hanya berpenghasilan sedikit, dan mengeruk pemberian-pemberian mewah dari orang-orang kaya. Tetapi pengaruh pembaharuan telah terasa dapat mengurangi penjualan surat pengampunan dosa walaupun tidak dapat menghentikannya. Zwingle masih berada di Einsiedeln pada waktu Samson tiba dengan dagangannya di kota yang berdekatan, segera setelah ia memasuki Swis. Menyadari akan misinya, Pembaharu itu segera berusaha menentangnya. Keduanya tidak bertemu, tetapi Zwingle berhasil membuka kedok biarawan angkuh itu sehingga ia terpaksa meninggalkan tempat itu pergi kedaerah lain.

Di Zurich, Zwingle berkhotbah dengan bersemangat menentang perdagangan surat pengampunan dosa. Dan pada waktu Samson mendekati tempat itu, ia telah dijumpai oleh seorang utusan konsili, dengan suatu pemberitahuan bahwa ia harus segera meninggalkan tempat itu. Ia akhirnya dapat masuk dengan siasat licik, tetapi ia meninggalkan tempat itu tanpa menjual satupun surat pengampunan dosa. Segera sesudah itu ia meninggalkan Swis.

Gerakan pembaharuan mendapat dorongan kuat dengan terjadinya wabah atau yang disebut "kematian hebat" yang melanda Swis pada tahun 1519. Sementara manusia berhadapan muka dengan muka dengan pembinasa, banyak yang merasa betapa sia-sianya dan tidak bergunanya surat pengampunan dosa yang baru saja mereka beli. Mereka merindukan landasan iman yang lebih pasti. Zwingle di Zurich diserang penyakit. Ia menderita begitu parah sehingga tidak ada harapan untuk sembuh. Bahkan laporan yang tersebar luas mengatakan bahwa ia telah meninggal. Pada saat yang kritis itu, pengharapan dan keberaniannya tetap tidak goyah. Ia memandang dalam iman kepada salib di bukit Golgota, dan mempercayai pendamaian yang sempurna bagi dosa. Setelah ia terlepas dari bahaya maut itu, ia mengkhotbahkan Injil dengan semangat yang lebih berapi-api dari sebelumnya. Kata-katanya mengandung kuasa yang luar biasa. Orang-orang menyambut dengan sukacita, pendetanya yang kembali dari tepi liang kubur kepada mereka. Mereka sendiri baru kembali dari menolong orang sakit dan yang hampir mati. Mereka merasakan manfaat Injil seperti yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Zwingle telah sampai kepada pengertian kebenaran yang lebih jelas, dan telah mengalami lebih sempurna kuasa membaharui kebenaran itu. Kejatuhan manusia dan rencana penebusan adalah pokok-pokok penting diatas mana ia tinggal. "Di dalam Adam," katanya, "kita semua mati, tenggelam dalam kebejatan dan kutuk." -- Wylie, b. 8, ch. 9. "Kristus, . . . telah membeli penebusan kekal bagi kita . . . . Penderitaan-Nya adalah . . . pengorbanan kekal, dan yang selamanya dapat menyembuhkan. Pengorbanan itu memenuhi keadilan ilahi selama-lamanya demi kepentingan semua yang bergantung kepada-Nya, dengan iman yang teguh dan tidak goyah." Namun demikian ia dengan jelas mengajarkan bahwa manusia, karena kemurahan Kristus, tidak bebas untuk terus berbuat dosa. "Dimana saja ada iman kepada Allah, disitu Allah ada. Dan dimana saja Allah tinggal, disitu ada semangat yang mendorong dan mendesak manusia melakukan pekerjaan-pekerjaan baik." -- D'Aubigne, b. 8, ch. 9.

Begitu luas perhatian terhadap khotbah Zwingle sehingga katedral melimpah dipenuhi orang banyak yang datang untuk mendengarkannya. Sedikit demi sedikit, semampu mereka mendengar, ia membukakan kebenaran itu kepada para pendengar. Ia berhati-hati, pada mulanya, untuk tidak memperkenalkan pokok-pokok ajaran yang dapat mengejutkan dan menimbulkan prasangka. Pekerjaannya ialah memenangkan hati mereka kepada ajaran-ajaran Kristus, dan untuk melembutkan hati itu dengan kasih-Nya, serta menunjukkan teladan-Nya dihadapan mereka. Dan sementara mereka menerima prinsip-prinsip Injil, praktek-praktek dan kepercayaan ketakhyulan mereka akan dibuang.


Selangkah demi selangkah Pembaharuan itu maju di Zurich. Dalam ketakutan musuh-musuh pembaharuan bangkit menentang dengan gigih. Setahun sebelumnya, biarawan Wittenberg telah mengatakan "Tidak" kepada paus dan kaisar di Worms, dan sekarang ada tanda-tanda bahwa perlawanan yang sama terhadap tuntutan kepausan akan terjadi di Zurich. Berulang-ulang Zwingle mendapat serangan. Di daerah-daerah kepausan, dari waktu ke waktu murid-murid Injil dibawa ke tiang gantungan. Tetapi ini belum cukup. Guru bida'ah itu sendiri harus dibungkam. Oleh sebab itu uskup dari Constance mengutus tiga orang deputi ke Konsili Zurich, menuduh Zwingle mengajar orang-orang untuk melanggar hukum-hukum gereja, dengan demikian membahayakan perdamaian dan ketertiban masyarakat. Ia mengatakan, jikalau wewenang gereja dikesampingkan, akibatnya akan timbul anarki dimana-mana. Zwingle menjawab bahwa ia telah empat tahun mengajarkan Injil di Zurich, "yang telah lebih tenang dan lebih damai dari kota-kota lain di konfederasi ini." "Bukankah," katanya, "Kekristenan adalah pengawal keamanan umum?" -- Wylie, b. 8, ch. 11.

Para deputi itu menasihatkan para anggota konsili untuk tetap bertahan didalam gereja, karena diluar itu, seperti yang mereka nyatakan, tidak ada keselamatan. Zwingle berespons, "Jangan biarkan tuduhan ini menggoncangkan kamu. Dasar gereja adalah Batu yang sama, Kristus yang sama, yang memberikan nama kepada Petrus oleh karena ia mengakui-Nya dengan jujur. Dari segenap bangsa, barangsiapa yang percaya kepada Tuhan Yesus dengan segenap hati akan diterima oleh Allah. Inilah sebenarnya gereja itu, yang diluar ini tak seorangpun dapat selamat." -- D'Aubigne, b. 8, ch. 11 (London ed.). Sebagai hasil dari pertemuan itu, salah seorang deputi uskup menerima iman yang dibaharui itu.

Konsili menolak mengambil tindakan terhadap Zwingli. Oleh sebab itu Roma bersiap-siap mengadakan serangan baru . Setelah mengetahui rencana jahat musuh-musuhnya, Pembaharu itu berseru, "Biarlah mereka datang; saya menakuti mereka sebagai sebuah gunung batu menghadapi pukulan ombak dikakinya." -- Wylie, b. 8, ch. 11. Usaha para pemuka agama, yang tadinya dimaksudkan untuk menggulingkan pembaharuan, justru memajukan reformasi itu sendiri. Kebenaran itu terus tersebar. Di Jerman, para pengikut pembaharuan yang putus asa oleh karena menghilangnya Luther, kembali bersemangat ketika mereka melihat kemajuan Injil di Swis.

Pada waktu Pembaharuan menjadi kuat di Zurich, buah-buahnya nampak lebih jelas dengn menurunnya angka kejahatan, meningkatnya ketertiban dan keharmonisan. "Kedamaian mendiami kota kita," tulis Zwingle, "tidak ada pertengkaran, tidak ada kemunafikan, tidak ada kecemburuan, tidak ada perselisihan. Dari mana datangnya persatuan seperti itu kalau bukan dari Tuhan dan dari ajaran kita, yang memenuhi kita dengan buah-buah perdamaian dan kesalehan?" -- Wylie, b.8, ch. 15.

Kemenangan-kemenangan yang diperoleh Pembaharuan menggerakkan para pengikut Romanisme untuk lebih meningkatkan usahanya untuk meruntuhkan pembaharuan itu. Memperhatikan betapa sedikit yang dihasilkan penganiayaan dalam menekan pekerjaan Luther di Jerman, maka mereka memutuskan untuk menghadapi pembarauan itu dengan senjatanya sendiri. Mereka akan mengadakan perdebatan dengan Zwingle, dan mengatur segala sesuatu yang perlu untuk itu. Mereka mengatur sedemikian rupa untuk memastikan kemenangan oleh menentukan sendiri tempat perdebatan dan para hakim yang harus memutuskan siapa pemenang dari para pedebat. Dan jikalau seandainya mereka bisa sekali memasukkan Zwingle kedalam kekuasaan mereka, mereka tidak akan melepaskannya lagi. Pemimpin itu akan diam dan pergerakan itupun akan dapat ditumpas dengan cepat. Rencana ini dengan cermat dirahasiakan.

Perdebatan itu ditentukan akan dilaksanakan di Baden. Tetapi Zwingle tidak hadir. Konsili Zurich mencurigai rencana pengikut kepausan itu dan diamarkan oleh tumpukan kayu yang telah disulut diwilayah kepausan bagi pengaku Injil. Lalu konsili melarang pendeta mereka untuk menampakkan diri kepada bahaya itu. Di Zurich ia telah siap sedia untuk bertemu dengan semua pendukung Roma yang mungkin dikirim. Tetapi untuk pergi ke Baden, dimana darah para syuhada baru saja dicurahkan demi kebenaran, adalah seperti pergi kepada suatu kematian tertentu. Oecolampadius dan Haller telah dipilih untuk mewakili para Pembaharu, sementara Dr. Eck yang terkenal, didukung oleh sekelompok para doktor dan pejabat-pejabat tinggi gereja, mewakili pihak Roma.

Meskipun Zwingle tidak hadir pada pertemuan itu, tetapi pengaruhnya dapat dirasakan. Semua sekretaris dipilih oleh pengikut kepausan, dan orang-orang lain diancam akan disiksa atau dihukum kalau berani membuat catatan. Meskipun begitu, Zwingli setiap hari menerima laporan yang jujur mengenai apa yang dikatakan di Baden. Seorang mahasiswa yang menghadiri perdebatan itu membuat catatan setiap malam mengenai argumentasi yang diadakan pada hari itu. Catatan-catatan ini, bersama surat harian Oecolampadius diserahakan kepada dua orang mahasiswa lain untuk disampaikan kepada Zwingle di Zurich. Pembaharu itu memberi jawaban, nasihat dan usulan-usulan. Surat-suratnya ditulis pada malam hari, dan surat itu dibawa oleh mahasiswa-mahasiswa yang kembli ke Baden pada pagi harinya. Untuk mengelabui ketatnya penjagaan dipintu gerbang kota, jurukabar-jurukabar ini membawa keranjang berisi ayam diatas kepala mereka, dan dengan demikian mereka diizinkan lewat tanpa rintangan.

Demikianlah Zwingle mempertahankan perlawanan terhadap lawan-lawannya yang licik. "Ia telah bekerja lebih keras," kata Myconius, "dengan bermeditasi, tidak tidur pada malam hari, menuliskan nasihat yang diteruskan ke Baden, dibandingkan seadainya ia bisa mendiskusikannya sendiri ditengah-tengah musuh-musuhnya." -- D'Aubigne, b. 11, ch. 13.


Para pengikut Romanisme, dengan mengharap akan menang, mereka datang ke Baden dengan berpakaian yang mewah-mewah dan mahal-mahal, dengan permata yang berkilau-kilauan. Makanan mereka serba luks, mejanya penuh dengan makanan yang mahal-mahal, dengan anggur pilihan. Beban keutamaan mereka diperringan oleh kegembiraan dan pesta pora. Perbedaan yang nyata terlihat pada para Pembaharu, yang tampak kepada orang-orang sedikit lebih baik daripada sekelompok pengemis, yang dengan makanannya yang sangat sederhana membuat mereka tidak perlu lama-lama di meja makan. Kadang-kadang Oecolampadius diamati oleh tuan tanahnya didalam kamarnya. Ia didapati terus belajar atau berdoa, dan sangat heran, dilaporkan bahwa orang bida'ah paling sedikit "sangat saleh."

Pada pertemuan itu, "Eck dengan angkuhnya naik ke mimbar yang telah dihiasi dengan indahnya, sementara Oecolampadius yang berpakaian sederhana, telah dipaksa duduk di atas bangku yang diukir dengan kasar, tepat dihadapan lawannya." -- Idem, b. 11, ch. 13. Suara Eck yang keras dan kepercayaan diri yang tak terbatas tidak pernah hilang. Semangatnya dirangsang oleh pengharapan akan mendapat upah emas dan kemasyhuran, karena pembela iman ini akan diberi upah yang besar. Bilamana argumentasi terbaik gagal, ia akan menghina dan bahkan bersumpah.

Oecolampadius, yang sederhana dan yang tidak mempercayai diri sendiri, telah merasa gentar dalam pertempuran itu, lalu ia memasuki pertarungan itu dengan satu pengakuan yang terus terang, "Saya tidak mengakui standar penghakiman selain firman Allah." -- Idem, b. 11, ch. 13. Meskipun bertingkah laku lembut dan sopan, ia membuktikan dirinya sanggup dan tabah menghadapi serangan. Sementara penganut Romanisme, sesuai dengan kebiasaan mereka berpegang pada wewenang dan kebiasaan gereja, sedangkan Pembaharu berpegang teguh pada Alkitab yang suci. "Kebiasaan," katanya, "tidak mempunyai kekuatan di negeri kita Swis, kecuali sesuai dengan undang-undang. Sekarang, dalam masalah iman, Alkitab itulah kitab undang-undang kita." -- Idem b. 11, ch. 13.

Perbedaan antara kedua pedebat itu bukan tanpa efek. Pertimbangan Pembaharu tenang dan jelas, yang disampaikan dengan lembut dan sederhana, menarik perhatian dan membalikkan kesombongan dan keributan Eck yang menjijikkan.

Perdebatan itu berlangsung selama delapan belas hari. Pada penutupannya, para pengikut kepausan dengan yakin mengatakan mereka meraih kemenangan. Kebanyakan para deputi memihak kepada Roma, dan Mahkamah mengumumkan kekalahan Pembaharu, dan menyatakan agar mereka bersama pemimpin mereka, Zwingle, dipecat dari gereja. Tetapi buah-buah pertemuan itu menyatakan dipihak mana kemajuan terletak. Perdebatan itu mengakibatkan suatu dorongan kuat kepada pergerakan Protestan, dan tidak lama sesudah itu kota-kota penting Bern dan Basel menyatakan ikut Pembaharuan.


KEMAJUAN PEMBAHARUAN DI JERMAN

~10~
KEMAJUAN PEMBAHARUAN DI JERMAN

Menghilangnya Luther secara misterius menimbulkan kegemparan di seluruh Jerman. Dimana-mana terdengar orang bertanya-tanya mengenai dia. Desas-desus liar tersiar dan banyak orang percaya bahwa ia telah dibunuh. Ada perkabungan besar, bukan saja pada sahabat-sahabatnya yang setia, tetapi juga pada ribuan orang yang belum secara terbuka menyatakan pendiriannya di pihak Pembaharu. Banyak dari mereka bersumpah untuk membalaskan kematiannya.

Pemimpin-pemimpin Romawi melihat dengan ngeri rasa dendam yang timbul terhadap mereka. Walaupun pada mulanya gembira atas kemungkinan kematian Luther, mereka ingin segera menghindar dari amukan kemurkaan orang-orang. Musuh-musuh Pembaharuan belum pernah begitu ketakutan oleh tindakannya yang paling berani semetara Luther masih bersama mereka, seperti yang mereka alami waktu ia tidak ada lagi. Mereka yang dengan marahnya telah mencoba membinasakan Pembaharu yang tangguh itu, sekarang dipenuhi ketakutan, sehingga mereka telah menjadi tawanan yang tidak berdaya. "Satu-satunya cara yang masih ada untuk menyelamatkan diri kita," kata salah seorang, "ialah menyalakan obor, dan mencari Luther keseluruh pelosok dunia, dan mengembalikannya kepada bangsa yang membutuhkannya." -- D'Aubigne, b. 9, ch.1. Perintah kaisar tampaknya tidak berkuasa. Utusan-utusan kepausan telah dipenuhi dengan kemarahan karena melihat kurang mendapat perhatian dibandingkan dengan nasib Luther.

Berita-berita yang mengatakan bahwa Luther selamat, walaupun sebagai seorang tahanan, menenangkan ketakutan orang-orang. Sementara itu hal itu masih membangkitkan semangat mereka selanjutnya. Tulisan-tulisannya dibaca dengan keinginan yang lebih besar dari sebelumnya. Bilangan yang semakin bertambah menggabungkan diri pada orang perkasa ini, yang telah mempertahankan firman Allah pada masa-masa yang sukar dan menakutkan. Pembaharuan terus semakin bertambah kuat. Bibit yang telah ditaburkan Luther bertumbuh dimana-mana. Ketidak-hadirannya mencapai suatu kemajuan pekerjaan yang tidak mungkin dicapai dengan kehadirannya. Pekerja-pekerja lain sekarang merasakan suatu tanggungjawab baru, karena pemimpin besar mereka disingkirkan. Dengan keyakinan dan kesungguh-sungguhan baru mereka terus maju bekerja dengan segenap kuasa, agar pekerjaan yang telah dimulai dengan baik ini tidak terhalang.

Tetapi Setan tidak tinggal berpangku tangan. Sementara ia mencoba apa yang ia coba didalam setiap gerakan pembaharuan, menipu dan membinasakan orang-orang dengan cara licik, menawarkan kepada mereka kepalsuan sebagai ganti pekerjaan yang benar. Sebagaimana ada Kristus palsu pada abad pertama gereja Kristen, demikian juga muncul nabi-nabi palsu pada abad keenambelas.

Beberapa orang, yang begitu terpengaruh dengan kejadian-kejadian yang terjadi didunia keagamaan membayangkan dirinya telah menerima wahyu khusus dari Surga, dan mengatakan telah diutus oleh ilahi untuk melaksanakan penyelesaian Pembaharuan, yang mereka katakan, telah dimulai Luther dengan lemah. Sebenarnya mereka menghancurkan pekerjaan yang telah dicapai oleh Luther. Mereka menolak prinsip yang menjadi dasar pembaharuan -- bahwa firman Allah adalah cukup menjadi patokan iman dan perbuatan. Dan untuk penuntun yang tidak bisa salah ini mereka menggantinya dengan standar yang bisa berubah dan yang tidak tentu, menurut perasaan dan pemikiran mereka. Dengan tindakan mengesampingkan penunjuk kesalahan dan kepalsuan itu, jalan telah terbuka bagi Setan untuk mengendalikan pikiran manusia sesuka hatinya.

Salah seorang dari nabi-nabi itu mengatakan bahwa ia telah diperintahkan oleh malaikat Jibril. Seorang mahasiswa yang bersatu dengan dia meninggalkan studinya, mengatakan bahwa Allah sendiri telah menganugerhkan kebijaksanaan kepadanya untuk menjelaskan Firman-Nya. Orang-orang lain yang biasanya cenderung kepada kefanatikan bersatu dengan mereka. Tindakan orang-orang yang antusias ini menimbulkan kegemparan yang tidak sedikit. Khotbah Luther telah membangkitkan orang-orang dimana-mana untuk merasakan perlunya pembaharuan. Dan sekarang orang-orang yang benar-benar jujur tertipu oleh kemunafikan nabi-nabi baru ini.

Para pemimpin pergerakan ini pergi ke Wittenberg dan mengajukan pernyataan mereka kepada Melanchthon dan teman-teman sekerjanya. Mereka berkata, "Kami diutus oleh Allah untuk mengajar orang-orang. Kami telah mengadakan percakapan langsung dengan Tuhan, kami tahu apa yang akan terjadi. Dengan kata lain kami adalah rasul-rasul dan nabi-nabi yang membujuk Dr.Luther." -- D'Aubigne, b. 9, ch. 7.

Para Pembaharu itu terkejut dan bingung. Ini adalah satu unsur yang belum pernah mereka temui sebelumnya, dan mereka tidak tahu arah mana yang mereka harus tempuh. Kata Melanchthon, "Memang ada roh-roh luar biasa pada orang-orang ini, tetapi roh yang mana? . . . . Pada satu pihak, marilah kita berhati-hati supaya tidak memadamkan Roh Allah, sementara dipihka lain, supaya jangan tersesat oleh roh Setan." -- D'Aubigne, b. 9, ch. 7.


Buah dari pengajaran baru ini segera nyata. Orang-orang dituntun untuk mengabaikan Alkitab, atau sama sekali menyingkirkannya. Sekolah-sekolah jatuh dalam kebingungan. Para mahasiswa menolak pembatasan, meninggalkan pelajara mereka dan menarik diri dari univesitas. Orang-orang yang berpikir mereka berkompeten untuk menghidupkan dan mengendalikan pekerjaan Pembaharuan, hanya berhasil membawanya ketepi jurang kehancuran. Para penganut Romanisme sekarang memperoleh rasa percaya diri kembali, dan berseru dengan sukaria, "Satu lagi perjuangan terakhir, maka seluruhnya akan menjadi milik kita." -- Idem, b. 9, ch. 7.

Luther yang berada di Wartburg, setelah mendengar apa yang terjadi, berkata dengan penuh perhatian, "Saya selalu mengharapkan bahwa Setan akan mengirimkan wabah ini kepada kita." -- Idem, b. 9, ch. 7. Ia mengetahui tabiat yang sebenarnya dari nabi-nabi palsu tersebut, dan melihat bahaya yang mengancam kepentingan kebenaran. Perlawanan paus dan kaisar tidak menyebabkan ia begitu bingung dan susah seperti yang dia alami sekarang. Dari orang-orang yang mengaku sahabat-shabat Reformasi telah muncul musuh-musuh yang paling ganas. Kebenaran itu sendiri, yang telah memberikan sukacita dan penghiburan yang besar kepadanya, sedang digunakan untuk menimbulkan pertengkaran dan menjadikan kebingungan didalam gereja.

Dalam pekerjaan Pembaharuan, Luther telah didorong maju oleh Roh Allah, dan pekerjaan itu telah dilakukan melebihi kemampuannya sendiri. Ia tidak bermaksud mengambil posisi seperti yang ia lakukan, atau melakukan perobahan yang radikal. Ia telah menjadi alat ditangan Yang Mahakuasa. Namun ia sering gemetar melihat akibat dari pekerjaannya. Ia pernah berkata, "Jikalau saya tahu bahwa ajaran saya menyakiti seseorang, seorang sajapun, betapaun rendahnya dan tidak terkenal -- yang tidak mungkin, karena itulah Injil itu sendiri, -- lebih baik saya mati sepuluh kali dari pada menariknya kembali." -- Idem, b. 9, ch. 7.

Dan sekarang Wittenberg sendiri, pusat pembaharuan, jatuh dengan segera kedalam kuasa kefanatikan dan pelanggaran hukum. Keadaan yang mengerikan ini tidak disebabkan oleh ajaran Luther, tetapi musuh-musuhnya diseluruh Jerman menuduhkan hal itu kepadanya. Dalam penderitaan batin, kadang-kadang ia bertanya, "Inikah akhir dari pekerjaan besar Pembaharuan ini?." -- Idem, b. 9, ch. 7. Sekali lagi, sementara ia bergumul dengan Allah didalam doa, kedamaian mengalir kedalam hatinya. "Ini bukanlah pekerjaanku, tetapi pekerjaan-Mu," katanya, "Engkau tidak akan membiarkannya dilanda oleh ketakhyulan dan kefanatikan." Tetapi ia pikir, tinggal lebih lama diluar pertentangan seperti kemelut ini, menjadi tidak memperoleh dukungan Allah, sebab itu, ia memutuskan untuk kembali ke Wittenberg.

Tanpa bertangguh ia mulai mengadakan perjalanan yang berbahaya. Ia berada dalam larangan meninggalkan kekaisaran. Musuh-musuhnya bebas membunuhnya; sahabat-sahabatnya dilarang untuk membantunya atau memberi perlindungan kepadanya. Pemerintah memberlakukan peraturan yang ketat terhadap para pengikutnya. Tetapi ia melihat bahwa pekerjaan Injil sedang terancam bahaya, dan dalam nama Tuhan ia pergi berperang tanpa takut demi kebenaran.

Dalam suratnya kepada penguasa Saxony, setelah menyatakan maksudnya untuk meninggalkan Wartburg, Luther berkata, "Kiranya yang mulia mengetahui bahwa saya pergi ke Wittenberg dibawah perlindungan yang lebih tinggi dari para pangeran dan para penguasa. Saya tidak berpikir untuk memohon dukungan dan perlindungan yang mulia. Saya sendiri ingin melindungi yang mulia. Kalau saya tahu yang mulia dapat dan mau melindungi saya, saya sama sekali tidak mau pergi ke Wittenberg. Tak ada pedang yang dapat melanjutkan pekerjaan ini. Allah sendiri yang harus melakukan segalanya, tanpa pertolongan atau persetujuan manusia. Dia yang mempunyai iman yang paling besar ialah dia yang paling mampu melindungi." -- D'Aubigne, b.9, ch. 8.

Dalam surat yang kedua, yang ditulis dalam perjalanan ke Wittenberg, Luther menambahkan, "Saya sudah siap untuk mendatangkan ketidak-senangan yang mulia dan kemarahan seluruh dunia. Bukankah penduduk Wittenberg adalah domba-dombaku? Bukankah Allah telah mempercayakan mereka kepadaku? Dan bukankah saya harus, kalau perlu, menyerahkan nyawaku demi mereka? Selain itu, saya khawatir pecahnya peperangan di Jerman, oleh mana Allah menghukum bangsa kita." -- idem, b. 9, ch. 8.

Dengan sangat hati-hati dan dengan rendah hati, namun dengan ketetapan dan keteguhan, ia memasuki pekerjaannya. "Oleh Firman," katanya, "kita harus menggulingkan dan memusnahkan apa yang telah dibangun dengan kekerasan. Saya tidak akan menggunakan kekerasan melawan ketakhyulan dan ketidak-percayaan . . . . Tak seorangpun yang harus dipaksa. Kebebasan adalah inti iman." -- Idem, b. 9, ch. 8.

Segera terjadi kegemparan di Wittenberg karena Luther telah kembali dan karena ia akan berkhotbah. Orang-orang berdatangan dari segala penjuru, dan gereja menjadi penuh sesak. Sementara ia menaiki mimbar, dengan bijaksana dan dengan lembut ia memberi instruksi, menasihati, mendorong dan menegur mereka. Menyinggung usaha beberapa orang untuk menghapuskan misa dengan kekerasa, ia berkata,


"Misa adalah hal yang buruk. Allah menentang hal itu. Upacara itu harus dihapuskan. Dan saya mau agar diseluruh dunia upacara itu diganti dengan perjamuan kudus menurut Injil. Tetapi janganlah memaksa seseorang untuk meninggalkannya. Kita harus menyerahkan masalah itu ketangan Allah. Firman-Nyalah yang bertindak, bukan kita. Dan engkau mungkin bertanya mengapa demikian? Oleh karena saya tidak menggenggam hati manusia didalam tanganku, sebagaimana tukang periuk menggenggam tanah liat. Kita mempunyai hak untuk berbicara, tetapi kita tidak mempunyai hak untuk bertindak. Marilah kita berkhotbah, selebihnya milik Allah. Sekiranya saya menggunakan paksaan, apakah yang akan saya peroleh? Menyeringai, formalitas, peniruan, peraturan manusia dan kemunafikan . . . . Tetapi tidak akan ada kesungguh-sungguhan hati, atau iman, atau kedermawanan. Dimana ketiga hal ini kurang, maka semua kurang, dan saya tidak merasa senang dengan keadaan seperti itu . . . . Allah berbuat lebih banyak dengan firman-Nya sendiri daripada dengan kekuatanmu, kekuatanku dan kekuatan seluruh dunia dipersatukan. Allah memegang hati kita; dan jikalau hati itu sudah dikuasainya, segalanya sudah dimenangkan . . . .

Saya akan berkhotbah, berdiskusi dan menulis; tetapi saya tidak akan memaksa, karena iman adalah tindakan sukarela. Lihatlah apa yang saya sudah lakukan. Saya berdiri menentang paus, surat pengampunan dosa, dan pengikut kepausan, tetapi tanpa kekerasan dan keributan. Saya mengemukakan firman Allah. Saya berkhotbah dan menulis -- inilah semua yang saya lakukan. Dan namun sementara saya tidur, . . . firman yang saya sudah khotbahkan menggulingkan kepausan, agar supaya baik pangeran maupun kaisar tidak melakukannya dengan banyak kerusakan dan bahaya. Namun saya tidak melakukan apapun; Firman itu sendiri yang melakukannya. Jikalau saya menghimbau penggunaan kekerasan, barangkali seluruh Jerman sudah kebanjiran darah. Tetapi apa hasilnya? Kehancuran dan kesepian tubuh dan jiwa. Oleh sebab itu saya tetap diam, dan membiarkan Firman itu menjalankan tugasnya diseluruh dunia." -- D'Aubigne, b. 9, ch. 8.

Hari demi hari, sepanjang minggu, Luther terus berkhotbah kepada orang banyak yang rindu mendengarkan. Firman Allah mematahkan kuasa kefanatikan. Kuasa Injil membawa orang yang tersesat kembali kepada kebenaran.

Luther tidak berkeinginan untuk menghadapi orang-orang fanatik itu, yang pekerjaannya telah menghasilkan kejahatan besar. Ia mengetahui mereka sebagai orang-orang yang tidak mempunyai pertimbangan yang kuat dan sehat, dan yang beremosi yang tidak berdisiplin. Yang, sementara mereka mengatakan mendapat terang khusus dari surga, tidak tahan menanggung perbedaan sedikitpun, atau bahkan teguran atau nasihat yang paling lembut. Dengan mengaku mempunyai kekuasaan tertinggi, mereka menuntut setiap orang mengakuinya tanpa tedeng aling-aling. Tetapi ketika mereka memintanya untuk diwawancarai, Luther setuju untuk menemui mereka. Dan dia menelanjangi kemunafikan mereka dengan berhasil, sehingga para penipu itu langsung meninggalkan Wittenberg.

Kefantikan dapat dikendalikan untuk sementara. Tetapi beberapa tahun kemudian kembali merebak dengan lebih keras dan dengan akibat yang mengerikan. Luther berkata mengenai para pemimpin pergerakan ini, "Kepada mereka Alkitab itu hanyalah sebuah surat yang telah mati, dan mereka semua mulai berseru, 'Roh itu!, Roh itu!' Tetapi yang pasti saya tidak akan mengikuti kemana roh mereka itu memimpin mereka. Semoga rahmat Allah memeliharakan saya didalam gereja yang tidak ada didalamnya orang-orang lain kecuali orang-orang kudus. Saya rindu untuk tinggal bersama orang-orang yang rendah hati, hina, orang yang sakit, mereka yang mengetahui dan merasakan dosa-dosa mereka, dan mereka yang terus mengerang dan berseru kepada Allah dari lubuk hati yang dalam untuk memohon penghiburan dan pertolongan." -- Idem, b. 10, ch. 10.

Thomas Munzer, seorang fanatik yang paling giat, adalah seorang yng berkemampuan, yang jikalau diarahkan dengan benar, akan mampu melakukan hal-hal yang baik. Tetapi belum mempelajari prinsip-prinsip utama agama yang benar. "Ia telah dikuasai oleh suatu keinginan untuk membaraui dunia ini, tetapi lupa, sebagaimana pengikut-pengikut yang lain juga lupa, bahwa pembaharuan itu mulai dari dirinya sendiri." -- Idem, b. 10, ch. 10. Ia berambisi untuk mendapatkan kedudukan dan pengaruh, dan tidak mau menjadi orang kedua, biar kepada Luther sekalipun. Ia menyatakan bahwa para Pembaharu, dalam menggantikan wewenang paus kepada wewenang Alkitab, hanya untuk mendirikan kepausan bentuk lain. Ia sendiri, menurutnya, telah diutus ilahi untuk memperkenalkan pembaharuan yang benar. "Ia yang memiliki Roh ini," kata Munzer, "memiliki iman yang benar, walaupun ia tidak pernah melihat Alkitab itu dalam hidupnya." -- Idem, b. 10, ch. 10.

Guru-guru kefanatikan memberikan dirinya dikuasai oleh pemikiran, menganggap setiap pemikiran dan dorongan hati sebagai suara Allah. Akibatnya mereka bertindak keterlaluan. Sebagian bahkan membakar Alkitabnya, dan berseru, "Surat itu membunuh, tetapi roh itu memberi kehidupan." Pengajaran Munzer menghimbau keinginan manusia kepada hal-hal yang mengagumkan, sementara itu menghargai kebanggaan mereka oleh menempatkan ide-ide dan pikiran manusia diatas firman Allah. Doktrin-doktrinnya telah diterima oleh beribu-ribu orang. Ia segera mencela semua aturan perbaktian umum, dan menyatakan bahwa menuruti para pangeran adalah mencoba berusaha untuk melayani Allah dan Belial.

Pikiran orang-orang, sudah mulai membuangkan beban (kuk) kepausan, dan juga menjadi tidak sabar dibawah pembatasan-pembatasan kekuasaan peraturan pemerintah. Pengajaran revolusioner Munzer, yang menyatakan sanksi ilahi, menuntun mereka melepaskan diri dari semua pengendalian, dan membiarkan dirinya diperintah oleh prasangka dan nafsu mereka sendiri. Tindakan penghasutan dan percekcokan yang paling mengerikan menyusul, dan bumi Jermanpun bermandikan darah.


Penderitaan jiwa yang sudah lama ditanggung Luther sebelum pengalaman di Erfurt, sekarang menekannya dengan kekuatan dua kali lipat pada waktu ia melihat akibat dari kefanatikan yang dituduhkan kepada Pembaharuan. Para pangeran pengikut kepausan menyatakan -- dan banyak orang yang setuju dengan pernyataan itu -- bahwa pemberontakan itu adalah akibat logis dari doktrin-doktrin Luther. Meskipun tuduhan ini tidak berdasar sama sekali, tidak boleh tidak menyebabkan Pembaharu mengalami kesusahan besar. Dengan demikian pekerjaan kebenaran dipermalukan dengan mensejajarkannya dengan fanatisisme yang paling mendasar, yang tampaknya melebihi dari pada yang dapat ditanggungnya. Sebaliknya, pemimpin-pemimpin dalam pemberontakan itu membenci Luther, oleh karena bukan saja ia menentang doktrin-doktrin mereka dan menyangkal pernyataan mereka mengenai ilham ilahi, tetapi juga ia telah menyatakan mereka sebagai pemberontak menentang kekuasaan pemerintah. Sebagai balasannya mereka mencelanya sebagai orang yang berpura-pura, yang tidak bermoral. Tampaknya banyak permusuhan yang ditujukan kepadanya, baik dari para pangeran maupun dari orang-orang.

Para pengikut Romanisme bergembira, berharap menyaksikan kejatuhan segera Pembaharuan. Dan mereka mempersalahkan Luther, bahkan untuk kesalahan-kesalahan yang ia sendiri sudah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperbaikinya. Golongan fanatik, yang dengan salah menyatakan telah diperlakukan dengan tidak adil, berhasil memperoleh simpati dari segolongan besar orang. Dan, sebagaimana sering terjadi dengan orang-orang yang memilih pihak yang salah, mereka mau dianggap sebagai para syuhada. Dengan demikian, mereka yang telah mengerahkan segenap tenaga untuk menentang Pembaharuan telah dikasihani dan disanjung sebagai korban-korban kekejaman dan penindasan. Ini adalah pekerjaan Setan, yang didorong oleh roh pemberontakan yang sama, yang pertama-tama ditunjukkan di Surga.

Setan terus menerus berusaha menipu manusia, dan menuntun mereka untuk mengatakan dosa itu kebenaran, dan kebenaran itu dosa. Betapa pekerjaannya ini sudah berhasil! Betapa sering celaan dan teguran ditujukan kepada hamba-hamba Allah yang setia oleh karena mereka mau berdiri tanpa gentar mempertahankan kebenaran! Orang-orang yang sebenarnya adalah agen-agen Setan dipuji-puji dan disanjung, dan bahkan dipandang sebagai syuhada, sementara mereka yang seharusnya dihargai dan dipertahankan oleh karena kesetiaannya kepada Allah, dibiarkan sendirian, dicurigai dan tidak dipercayai.

Kesucian palsu, penyucian palsu, masih melakukan pekerjaan penipuannya. Dalam berbagai bentuk ditunjukkan roh yang sama seperti pada zaman Luther, mengalihkan pikiran orang-orang dari Alkitab, dan menuntun manusia menuruti perasaan dan pikirannya sendiri lebih dari pada menuruti hukum Allah. Inilah salah satu alat Setan yang paling ampuh untuk mencela kemurnian dan kebenaran.

Tanpa gentar, Luther mempertahankan Injil dari serangan-serangan yang datang dari segala sudut. Firman Allah membuktikan dirinya sebagai senjata ampuh dalam setiap pertikaian. Dengan Firman itu ia berperang melawan kuasa kepausan, dan filsafat rasionalistik para orang-orang terpelajar, sementara ia sendiri teguh bagaikan batu karang melawan kefanatikan yang berusaha mau bersekutu dengan Pembaharuan.

Setiap unsur penentang ini berusaha mengesampingkan Alkitab, dan meninggikan kebijaksanaan manusia sebagai sumber kebenaran keagamaan dan pengetahuan. Rasionalisme mendewa-dewakan akal sehat, dan membuat ini sebagai ukuran atau kriteria bagi agama. Romanisme, yang mengatakan kekuasaan tertinggi kepausan suatu ilham yang diturunkan dari para rasul, dan tidak bisa diubah sepanjang masa, memberikan kesempatan yang cukup bagi segala jenis pemborosan dan korupsi serta kebejatan yang bersembunyi dibalik kesalehan perintah rasul. Inspirasi atau ilham yang dikatakan oleh Munzer dan kawan-kawannya, bermula dari sumber yang tidak lebih tinggi dari tingkah laku aneh imaginasi, dan pengaruhnya merong-rong semua kekuasaan manusia atau ilahi. Kekristenan yang benar menerima firman Allah sebagai rumah perbendaharaan kebenaran yang diilhamkan, dan sebagai penguji segala jenis ilham.

Sekembalinya dari Wartburg, Luther menyelesaikan terjemahan Perjanjian Baru, dan Injil itu tidak lama kemudian diberikan kepada rakyat Jerman dalam bahasa mereka sendiri. Terjemahan ini disambut dengan sukacita besar oleh mereka yang cinta kebenaran, tetapi ditolak dengan penghinaan oleh mereka yang memilih tradisi dan peraturan manusia.

Para imam merasa khawatir oleh karena mereka berpikir bahwa rakyat jelata sekarang sanggup mendiskusikan ajaran firman Allah dengan mereka, dan dengan demikian kebodohan mereka akan terungkap. Senjata pertimbangan jasmani mereka tidak berkuasa melawan pedang Roh itu. Roma memanggil seluruh penguasanya untuk mencegah pengedaran Alkitab itu. Tetapi dekrit, kutukan, dan penyiksaan tampaknya seperti tidak ada gunanya. Semakin Alkitab itu dicela dan dilarang, semakin besar keinginan orang untuk mengetahui apa sebenarnya yang diajarkannya. Semua yang sudah bisa membaca ingin mempelajari firman Allah bagi mereka sendiri. Mereka membawanya kemana saja, dan membacanya berulang-ulang, dan tidak merasa puas sebelum dapat menghafalkan sebagian besar isinya. Setelah melihat penerimaan yang baik terhadap Perjanjian Baru, Luther segera memulai menerjemahkan Perjanjian Lama, dan menerbitkannya sebagian-sebagian segera setelah selesai diterjemahkan.


Tulisan-tulisan Luther mendapat sambutan baik, baik dikota-kota maupun didesa-desa. "Apa yang ditulis oleh Luther dan sahabat-sahabatnya, diedarkan oleh orang-orang lain. Para biarawan, yang menyadari ketidak-sahan kewajiban dan syarat-syarat biara, ingin mengubah kebiasaan hidup bermalas-malas dengan kehidupan yang giat dan aktif, tetapi terlalu bodoh untuk menyiarkan firman Allah. Mereka ini pergi menjelajahi seluruh propinsi, mengunjungi desa-desa dan gubuk-gubuk, menjual buku-buku tulisan Luther dan teman-temannya. Tidak lama kemudian Jerman dibanjiri oleh kolportir-kolportir yang tangguh ini." -- Idem, b. 9, ch. 11.

Tulisan-tulisan itu dipelajari dengan perhatian yang mendalam, baik oleh orang-orang miskin maupun orang-orang kaya, orang terpelajar maupun tidak. Pada malam hari, guru-guru sekolah-sekolah desa membacakan firman itu kuat-kuat kepada kelompok-kelompok yang berkumpul dekat perapian. Sebagai hasil berbagai usaha, beberapa jiwa-jiwa sangat yakin akan kebenaran itu, dan menerima firman itu dengan gembira, yang pada gilirannya akan menceriterakan kabar baik ini kepada orang lain.

Firman yang diilhamkan itu diverifikasi: "Masuknya firman-Mu memberikan terang, memberikan pengertian kepada orang yang sederhana." (Mazmur 119:130). Pelajaran Alkitab telah menyebabkan perubahan besar dalam pikiran dan hati orang-orang. Peraturan-peraturan kepausan telah meletakkan pada pundak pengikutnya suatu kuk besi yang membuat mereka tetap dalam kebodohan dan degradasi atau penurunan martabat. Pemeliharaan ketakhyulan dipertahankan dengan cermat, tetapi dalam semua upacara mereka, hati dan intelek tidak mempunyai peranan yang berarti. Khotbah-khotbah Luther, yang mengetengahkan kebenaran firman Allah yang sederhana, dan kemudian firman itu sendiri, yang diberikan ketangan orang-orang biasa, telah membangkitkan semangat orang-orang yang selama ini teridur, bukan saja memurnikan dan memuliakan kerohanian, tetapi juga memberikan kekuatan dan tenaga baru kepada intelek seseorang.

Orang-orang dari segala lapisan masyarakat tampak membawa Alkitab ditangan mereka, mempertahankan doktrin-doktrin Pembaharuan. Para pengikut kepausan yang menyerahkan mempelajari Alkitab itu kepada para imam dan para biarawan, sekarang ditantang tampil untuk membuktikan kesalahan ajaran-ajaran baru itu. Akan tetapi, karena sama sekali tidak tahu mengenai Alkitab dan kuasa Allah, imam-imam dan biarawan-biarawan itu dikalahkan total oleh orang-orang yang mereka katakan tidak terpelajar dan bida'ah. "Sayangnya," kata seorang penulis Katolik, "Luther membujuk para pengikutnya untuk tidak percaya kepada firman lain selain Alkitab." -- D'Aubigne, b. 9, ch. 11. Orang-orang akan berkumpul untuk mendengarkan kebenaran yang dibela oleh orang-orang yang kurang pendidikan, dan bahkan mendiskusikannya dengan para ahli teologi yang terpelajar dan trampil. Ketidak-tahuan yang memalukan orang-orang besar ini telah menjadi nyata ketika argumentasi mereka dihadapi dengan ajaran-ajaran sederhana firman Allah. Para pekerja, tentera, kaum wanita, dan bahkan anak-anak mengenal lebih baik pengajaran-pengajaran Alkitab daripada para imam dan doktor-doktor terpelajar.

Perbedaan antara murid-murid Injil dengan pendukung tetakhyulan kepausan lebih kurang seperti yang nyata antara orang biasa dibandingkan dengan kelompok kaum cendekiawan. "Bertentangan dengan pimpinan lama hirarki, yang telah melalaikan mempelajari bahasa dan pembinaan kesusasteraan, . . . pemuda-pemuda yang berpikiran dermawan, mempelajari dan menyelidiki Alkitab, dan membiasakan diri dengan karya-karya seni zaman purba. Orang-orang muda ini yang memiliki pikiran yang giat, jiwa yang ditinggikan dan hati yang berani, segera memperoleh pengetahuan seperti itu, yang untuk jangka waktu yang lama tak seorangpun dapat menandingi mereka . . . . Oleh sebab itu, bilamana pemuda-pemuda pembela Pembaharuan ini bertemu dengan para doktor pengikut Roma di suatu perkumpulan, mereka menyerang dengan begitu mudah dan yakin bahwa orang-orang bodoh ini menjadi malu dan merasa terhina karena dipermalukan didepan mata semua orang." -- Idem, b. 9, ch. 11.

Ketika para pastor Roma melihat jemaat mereka semakin berkurang, mereka meminta pertolongan para hakim. Dan dengan berbagai cara yang dalam wewenang mereka, mereka berusaha untuk mengembalikan para pendengar mereka. Tetapi orang-orang telah menemukan pada ajaran-ajaran baru itu apa yang memenuhi kebutuhan jiwa mereka, dan meninggalkan mereka yang telah memberi makan kepada mereka sekam yang tak berguna upacara-upacara ketakhyulan dan tradisi manusia yang tidak berguna.

Ketika penganiayaan dilancarkan terhadap para guru-guru kebenaran itu, mereka menaruh perhatian kepada sabda Kristus, "Apabila mereka menganiaya kamu di kota yang satu, larilah kamu ke kota lain," (Matius 10:23). Terang itu menembus kemana-mana. Para pelarian itu akan menemukan di suatu tempat pintu terbuka untuk menerima mereka, dan sementara tinggal disana mereka mengkhotbahkan Kristus, kadang-kadang di dalam gereja, atau kalau tidak diberi kesempatan, di rumah-rumah pribadi atau alam terbuka. Dimana saja mereka bisa mendapat pendengar, itulah yang menjadi kaabah yang dikuduskan. Kebenaran itu, yang disiarkan dengan kekuatan dan kepastian, tersiar dengan kuasa yang tidak terbendung.


Baik para penguasa maupun pemerintah percuma berusaha menghancurkan bia'ah itu. Percuma mereka berusaha memenjarakan, menyiksa, membakar dan membunuh mereka dengan pedang. Ribuan orang percaya memeteraikan iman mereka dengan darahnya, namun pekerjaan itu terus berlanjut. Penganiayaan hanya akan melebarkan dan meluaskan pengabaran kebenaran saja; dan kefanatikan yang diusahakan Setan untuk menyatukannya dengan kebenaran, hanya mengakibatkan perbedaan yang lebih nyata dan jelas antara pekerjaan Setan dan pekerjaan Allah.


PROTES PARA PANGERAN

~11~
PROTES PAR
A PANGERAN

Salah satu kesaksian yang termulia yang pernah diucapkan bagi Pembaharu, adalah Protes yang diajukan oleh para pangeran Kristen Jerman pada Mahkamah di Spires pada tahun 1529. Kebenranian, iman dan keteguhan hati hamba-hamba Allah telah menambah kebebasan berpikir dan sauara hati nurani pada masa-masa berikutnya. Protes mereka memberikan nama Prostestan kepada gereja yang dibaharui itu; prinsip-prinsipnya adalah "intisari Protestantisme." -- D'Aubigne, b. 13, ch. 6.

Hari gelap dan menakutkan telah datang mengancam Pembaharuan. Walaupun keputusn Mahkamah di Worms menyatakan Luther sebagai pelanggar hukum, dan melarang mengajarkan atau mempercayai doktrin-doktrinnya, toleransi beragama sejauh ini telah meluas di seluruh kekaisaran. Pemeliharaan Allah telah mengendalikan kekuatan-kekuatan yang menentang kebenaran. Kaisar Charles V. cenderung untuk menghancurkan Reformasi (Pembaharuan), tetapi setiap kali ia mengangkat tangan untuk bertindak, ia terpaksa menghentikan tindakannya. Berkai-kali kehancuran segera orng-orang yang berani menentang Roma tampaknya tidak dapat dihindarkan lagi. Tetapi pada saat-saat yang kritis itu tentera Turki muncul di perbatasan sebelah Timur, atau raja Perancis, atau bahkan paus sendiri, yang cemburu atas kebesaran kaisar yang semakin bertambah, mengadakan peperangan melawan kaisar. Dan dengan demikian, di tengah-tengah keributan dan permusuhan itu Pembaharuan telah dibiarkan semakin kuat dan meluas.

Namun akhirnya penguasa kepausan telah memperketat permusuhannya untuk memancing alasan melawan Pembaharuan. Mahkamah Spires pada tahun 1526 telah memberikan kepada masing-masing negara bagian kebebasan penuh urusan masalah agama sampai kepada bersidangnya konsili umum. Tetapi tidak lama setelah bahaya berlalu oleh karena konsesi ini, kaisar memanggil Mahkamah untuk kedua kalinya bersidang di Spires pada tahun 1529 dengan maksud utnuk menghancurkan para bida'ah. Para pangeran dihimbau, dengan cara damai kalau mungkin, untuk berpihak melawan Pembaharuan. Tetapi kalau himbauan ini gagal, kaisar Charles telah siap menggunakan pedang. Para pengikut kepausan merasa gembira. Mereka hadir di Spires dalam jumlah besar, dan secara terbuka mereka menunjukkan rasa permusuhan mereka kepada para Pembaharu dan kepada semua orang yang memihak kepada mereka. Melanchthon berkata, "Kami telah dikutuk dan dibuang oleh dunia ini, tetapi Krsitus akan menilik umat-umat-Nya yang malang, dan akan memelihara mereka." -- Idem, b. 13, ch. 5. Para pangeran yang percaya kepada Injil yang menghadiri Mahkamah, telah dilarang untuk mengkhotbahkan Injil di tempat tinggal mereka. Tetapi orang-orang di Spires haus akan firman Allah, dan walaupun ada larangan, ribuan orang berkumpul pada kebaktian yang diadakan di kapel penguasa Saxony.

Hal ini mempercepat datangnya krisis. Sebuah amanat kaisar diumumkan di Mahkamah, bahwa sebagai akibat pemberian kebebasan hati nurani telah timbul kesusahan besar, maka kaisar meminta agar pemberian kebebasan itu dibatalkan. Tindakan sewenang-wenang ini telah menimbulkan kemarahan dan ketakutan pada para penginjil Kristen. Salah seorang berkata, "Sekali lagi Kristus jatuh ketangan Kayapas dan Pilatus." Pengikut-pengikut Romanisme semakin mengganas. Seorang pengikut paus yang fanatik berkata, "Orang-orang Turki lebih baik dari pengikut-pengikut Luther, karena orang-orang Turki menjalankan hari-hari puasa, sedangkan pengikut-pengikut Luther melanggarnya. Jikalau kita harus memilih antara Alkitab Allah dan kesalahan- kesalahan lama gereja, maka kita harus menolak yang pertama." Melanchthon berkat, "Setiap hari, di dalam persidangan penuh, Faber melemparkan batu-batu baru kepada kita pengikut-pengikut Injil." -- Idem, b. 13, ch. 5.

Toleransi beragama telah ditetapkan secara sah, dan negara bagian-negara bagian yang menerima Injil telah memutuskan untuk melawan setiap pelanggaran hak-hak mereka. Luther yang masih dikenakan larangan oleh keputusan Mahkamah Worms, tidak diizinkan hadir di Spires. Tetapi tempatnya ditempati oleh teman-teman sekerjanya dan para pangeran yang telah dibangkitkan Allah untuk mempertahankan kepentingan-Nya dalam keadaan darurat ini. Frederick dari Saxony, pelindung Luther dari Saxony dahulu, telah meninggal dunia. Tetapi Duke John, saudaranya dan penggantinya, dengan sukacita menyambut Pembaharuan, dan sebagai seorang sahabat damai, ia mengerahkan segenap tenaga dan keberaniannya dalam segala hal yang berhubungan dengan kepentingan iman.

Para imam menuntut agar semua negara bagian yang telah menerima Pembaharuan, tunduk sepenuhnya kepada kekuasaan hukum Romawi. Sebaliknya, para Pembaharu menuntut kebebasan yang sebelumnya telah diberikan. Mereka tidak setuju Roma kembali menguasai negara bagian- negara bagian yang telah menerima firman Allah dengan sukacita besar.


Sebagai jalan kompromi, akhirnya diusulkan agar dimana Pembaharuan belum diterima, keputusan Mahkamah Worms harus diberlakukan dengan jeras, dan bahwa dimana orang-orang menyimpang dari itu, dan dimana mereka tidak bisa menyesuaikan diri ke situ tanpa terjadi bahaya revolusi, paling sedikit mereka tidak melakukan pembaharuan yang baru, mereka tidak boleh menjamah hal-hal yang kontroversial, mereka tidak menentang upacara misa, mereka tidak akan mengizinkan Katolik Roma merangkul Lutheranisme." -- Idem, b. 13, ch. 5. Keputusan ini dikeluarkan oleh Mahkamah untuk kepuasan besar para imam kepausan dan pejabat-pejabat tinggi gereja.

Jikalau keputusan ini dipaksakan, Pembaharuan tidak dapat dikembangkan lagi . . . dimana ia belum dikenal, atau didirikan di atas fondasi yang kuat . . . dimana ia telah berada." -- Idem, b. 13, ch. 5. Kebebasan berbicara akan dilarang. Tidak diizinkan perubahan atau pertobatan. Dan para sahabat Pembaharuan diharuskan segera mengalihkan sikap terhadap pembatasan dan pelarangan ini. Harapan dunia tampaknya seolah-olah padam. "Mendirikan kembali hirarki Romawi . . . berarti mengembalikan penyalah-gunaan-penyalahgunaan lama;" dan saatnya akan tiba bagi "suatu pemusnahan pekerjaan yang sudah dengan keras digoncang oleh kefanatikan dan perselisihan." -- Idem, b. 13, ch. 5.

Ketika kelompok evangelikal bertemu untuk berkonsultasi, mereka saling memandang dengan pandangan cemas. Mereka saling bertanya. "Apa yang harus kita lakukan?" Masalah terbesar dunia sekarang dalam ujian. "Akankah pemimpin-pemimpin Pembaharuan menyerah, dan menerima keputusan itu? Betapa mudahnya para Pembaharu dalam krisis seperti ini saling berbantah ke jalan yang salah! Betapa banyaknya dalih dan alasan-alasan yang masuk akal yang bisa dikemukakan untuk alasan penyerahan! Para pangeran pengikut Luther telah dijamin untuk menjalankan agamanya dengan bebas. Keuntungan yang sama telah diberikan kepada pengikut-pengikut mereka yang menerima pandangan baru, sebelum peraturan ini diluruskan. Bukankah hal ini menyenangkan mereka? Betapa banyaknya kesusahan yang bisa dihindarkan oleh penyerahan! Bahaya dan pertentangan apa lagi yang akan didatangkan oleh perlawanan bagi mereka? Marilah kita rangkul perdamaian; marilah kita menangkap tangkai pohon zaitun yang disodorkan oleh Roma, dan menutup luka-luka Jerman. Dengan argumentasi seperti ini mungkin para Pembaharu dapat menerima keputusan itu dan yang sudah pasti dikeluarkan tidak lama lagi sebagai kehancuran mereka.

"Dengan gembira mereka memandang kepada prinsip, pada mana persetujun itu didasarkan, dan mereka bertindak dalam iman. Apakah prinsip itu? Itu adalah hak Roma untuk memaksa hati nurani dan melarang hak bertanya dengan bebas. Tetapi bukankah mereka sendiri bersama pengikut-pengikut Prostestannya menikmati kebebasan beragama? Ya, sebagai suatu keinginan yang secara khusus ditetapkan di dalam persetujuan itu, tetapi bukan sebagai hak. Sebagaimana yang berlaku bagi semua yang berada di luar persetujuan itu, prinsip kekuasaan besar yang berlaku ialah mengatur, sedangkan hati nurani di luar pengadilan. Roma adalah hakim yang mutlak, dan harus dituruti. Penerimaan persetujuan yang diusulkan itu akan menjadi penerimaan nyata bahwa kebebasan beragama harus terbatas kepada Saxony yang telah diperbaharui. Dan bagi negeri-negeri Kristen lainnya, kebebasan bertanya dan pengakuan percaya yang diperbaharui tetap merupakan suatu kejahatan, dan harus dihukum dengan penjara di bawah tanah dan tiang gantungan. Dapatkah mereka menyetujui kebebasan beragama yang dibatasi pada suatu tempat? Yaitu mengumumkan bahwa Pembaharuan telah menobatkan orang yang terakhir?, atau memenangkan sejengkal tanah yang terakhir? Dan di mana saja Roma berkuasa pada waktu ini, di sana kekuasaannya akan tetap abadi? Dapatkah para Pembaharu berkata bahwa mereka tidak bersalah terhadap darah ratusan, bahkan ribuan orang yang telah mengorbankan nyawanya di negeri-negeri kekuasaan kepausan, dalam pelaksanaan persetujuan itu? Ini adalah suatu pengkhianatan kepada kepentingan Injil dan kebebasan negeri-negeri Kristen, pada saat yang begitu penting." -- Wylie, b. 9, ch. 15. Sebaliknya, mereka "mengorbankan segalanya, bahkan negara mereka, mahkota mereka dan hidup mereka." -- D'Aubigne, b. 13, ch. 5.

"Mari kita tolak dekrit ini," kata para pangeran. "Dalam masalah hati nurani, orang banyak tidak mempunyai kuasa." Para deputi menyatakan, "Kita berhutang kepada dekrit tahun 1526 atas perdamaian yang dinikmati seluruh kekaisaran. Penghapusannya akan memenuhi seluruh Jerman dengan kesusahan dan perpecahan. Mahkamah tidak berwenang berbuat lebih banyak daripada memelihara kebebasan beragama sampai konsili bersidang." -- Idem, b. 13, ch. 5. Melindungi kebebasan hati nurani adalah tugas negara bagian, dan inilah batas wewenang dalam masalah-masalah agama. Setiap pemerintah yang berusaha mengatur atau memaksakan pemeliharaan agama dengan wewenangnya, berarti mengorbankan prinsip yang diperjuangkan oleh penginjil-penginjil Kristen dengan gigih. Para pengikut paus bertekad menekan apa yang mereka sebut sebagai "orang yang keras kepala yang berani." Mereka mulai dengan membuat perpecahan di antara para pendukung Pembaharuan, dan mengintimidasi semua mereka yang tidak menyatakan persetujuannya dengan terang-terangan. Para wakil dari kota-kota bebas akhirnya dipanggil untuk menghadap mahkamah, dan diharuskan menyatakan apakah mereka menyetujui ketentuan-ketentuan dalam usul persetujuan itu. Mereka memohon penundaan, tetapi sia-sia. Pada waktu menghadapi ujian, hampir separuh mereka memihak kepada Pembaharuan. Mereka yang menolak mengorbankan kebebasan hati nurani dan hak pertimbangan pribadinya, mengetahui dengan jelas bahwa mereka kelak akan dikritik, dicela, dan disiksa. Salah seorang utusan berkata, "Kita harus menyangkal firman Tuhan, atau akan dibakar." -- Idem, b. 13, ch. 5.


Raja Ferdinand, wakil kaisar dalam Mahkamah melihat bahwa dekrit itu akan menyebabkan perpecahan yang serius kecuali para pangeran dapat dibujuk untuk menerima dan mendukung persetujuan itu. Oleh sebab itu ia mencoba dengan cara persuasif atau bujukan, dengan mengetahui bahwa menggunakan kekerasan kepada orang-orang seperti itu akan membuat mereka lebih bertekad. Ia "membujuk para pangeran untuk menerima dekrit itu, dan memastikan bahwa kaisar akan sangat senang kepada mereka." Akan tetapi orang-orang yang setia ini mengakui suatu kekuasaan di atas penguasa dunia, dan mereka menjawab dengan tenang, "Kami akan menuruti kaisar dalam segala hal yang menunjang kepada pemeliharaan perdamaian dan memuliakan Allah." -- Idem, b. 13, ch. 5.

Dihadapan Mahkamah, raja akhirnya mengumumkan kepada penguasa dan sahabat-sahabatnya bahwa surat perintah itu "hampir ditulis dalam bentuk dekrit kekaisaran," dan bahwa "satu-satunya kesempatan bagi mereka ialah tunduk kepada mayoritas." Setelah mengucapkan kata-kata itu, ia meninggalkan rapat, tidak memberikan kesempatan kepada para Pembaharu memberikan pertimbangan atau jawaban. "Tanpa direncanakan, mereka mengirim utusan untuk membujuk raja supaya kembali." Terhadap protes mereka itu ia hanya menjawab, "Masalahnya sudah diputuskan, yang tinggal hanya penyerahan." -- Idem, b. 13, ch. 5.

Pihak kekaisaran telah yakin bahwa para pangeran Kristen akan memperlakukan Alkitab sebagai yang tertinggi di atas doktrin-doktrin dan tuntutan-tuntutan manusia. Dan mereka tahu dimana prinsip ini diterima, maka disanalah kepausan akan digulingkan. Tetapi, seperti beribu-ribu orang pada waktunya, mereka hanya memandang "kepada perkara-perkara yang kelihatan," mereka bergembira bahwa kepentingan kaisar dan paus adalah kuat dan para Pembaharu lemah. Seandainya para Pembaharu bergantung kepada pertolongan manusia saja, mereka akan tidak berkuasa seperti yang disangka pengikut kepausan. Akan tetapi, walaupun lemah dalam bilangan, dan kalau dibandingkan dengan Roma, mereka mempunyai kekuatannya. Mereka naik banding "dari laporan Mahkamah kepada firman Allah, dan dari kaisar Charles kepada Yesus Krsitus, Raja segala raja dan Tuhan segala tuan." -- Idem, b. 13, ch. 6.

Pada waktu Ferdinand menolak menghargai keyakinan mereka, maka para pangeran memutuskan untuk tidak memperdulikan kehadirannya, dan mengajukan Protes mereka itu ke konsili nasional tanpa bertangguh. Sebuah deklarasi sungguh-sungguh telah dituliskan dan diserahkan kepada Mahkamah:

"Kami protes dihadapan hadirin, di hadirat Allah, Khalik kami satu-satunya, Pelindung, Penebus dan Juru Selamat kami, dan yang pada suatu hari kelak Hakim kami, serta dihadapan semua orang dan semua makhluk, bahwa kami, demi kami dan bangsa kami, tidak menyetujui atau mentaati dengan cara apapun dekrit yang diusulkan itu, yang dalam segala hal bertentangan kepada Allah, kepada firman-Nya yang kudus, kepada hak hati nurani kami, dan kepada keselamatan jiwa kmi." "Bagaimana mungkin kami meratifikasi surat keputusan itu! Kami menyatakan bahwa bilamana Allah Yang Mahakuasa memanggil seseorang kepada pengetahuan-Nya, apakah orang itu tidak dapat menerima pengetahuan akan Allah?" "Tidak ada doktrin yang pasti selain dari pada yang telah disesuaikan dengan firman Allah . . . . Tuhan melarang mengajarkan doktrin lain . . . . Alkitab itu harus diterangkan oleh ayat-ayat lain dengan lebih jelas, . . . Buku yang suci ini, adalah yang diperlukan oleh orang Kristen lebih dari segala sesuatu, mudah dimengerti dan digunakan untuk mengusir kegelapan. Kami bertekad bulat, oleh rahmat Allah, untuk mempertahankan kemurnian dan mengkhotbahkan hanya firman-Nya sebagaimana yang terdapat di dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, tanpa menambahkan sesuatu kedalamnya, yang mungkin bertentangan dengannya. Firman inilah satu-satunya kebenaran. Itulah patokan bagi semua doktrin dan bagi semua kehidupan, dan tak akan pernah gagal atau menipu kita. Ia yang dibangun di atas landasan firman ini akan berdiri teguh melawan kuasa neraka, sementara semua kesombongan manusia yang melawannya akan jatuh di hadapan Allah."

"Untuk alasan ini kami menolak beban kuk yang ditanggungkan kepada kami." "Pada waktu yang sama kami mengharapkan bahwa yang mulia kaisar akan berlaku baik kepada kami sebagai pangeran Kristen, yang mengasihi Allah di atas segala sesuatu. Dan menyatakan kesediaan kami memberikan kepada-Nya, serta kepadamu, tuan-tuan yang budiman, semua rasa hormat dan penurutan yang menjadi kewajiban kami yang benar dan sah." -- Idem, b. 13, ch. 6.

Mahkamah memperoleh kesan yang mendalam. Kebanyakan hadirin dipenuhi kekaguman dan kekhawatiran melihat keberanian para pemrotes itu. Bagi mereka masa depan tampak penuh badai dan ketidakpastian. Perselisihan, percekokan dan pertumphan darah tampaknya tak terelakkan. Tetapi para Pembaharu, yang diyakinkan oleh kebenaran perjuangan mereka, dan yang bergantung pada lengan Yang Mahakuasa, "penuh dengan keberanian dan ketetapan hati."


Prinsip-prinsip yang terkandung dalam Protes ini . . . menjadi pokok utama Protestantisme. Sekarang Protes ini menentang dua macam penyalahgunaan manusia dalam hal iman: pertama, campur tangan pengadilan sipil, dan kedua, kekuasaan gereja yang sewenang-wenang. Sebagai ganti penyalahgunaan ini, Protestantisme menetapkan kuasa hati nurani di atas pengadilan, dan kuasa firman Allah di atas gereja yang nampak. Terutama Protestantisme menolak kekuasaan sipil dalam hal-hal ilahi, dan berkata bersama-sama dengan para nabi dan para rasul, ' Kita harus menurut Allah lebih dari pada manusia.' Di hadapan mahkota Charles V seharusnya ditinggikan mahkota Yesus Kristus. Tetapi, lebih jauh, protestantisme meletakkan prinsip bahwa semua pengajaran manusia haruslah menjadi lebih rendah kepada firman Allah." -- Idem, b. 13, ch. 6. Para pemrotes lebih mengukuhkan hak mereka untuk mengatakan dengan bebas keyakinan mereka terhadap kebenaran. Mereka bukan saja percaya dan menurut, tetapi mengajarkan apa yang dikemukakan oleh firman Allah, dan mereka menolak campur tangan imam atau penguasa pengadilan. Protes di Spires adalah kesaksian yang sungguh-sungguh menentang sikap tidak toleran terhadap agama, dan penegasan hak semua orang untuk berbakti kepada Allah menurut hati nurani masing-masing.

Deklarasi sudah dibuat. Telah terlukis di ingatan ribuan orang, dan didaftarkan di buku-buku Surga, dimana tidak seorangpun sanggup menghapusnya. Semua penginjil Jerman menerima Protes itu sebagai pernyataan iman. Dimana-mana orang memandang kepada deklarasi sebagai suatu yang menjanjikan era baru yang lebih baik. Salah seorang pangeran berkata kepada Protestan Spires, "Kiranya Allah Yang mahakuasa, yang telah menganugerahkan kepadamu rahmat untuk bersaksi dengan penuh semangat, dengan bebas tanpa takut, memeliharamu didalam keteguhan Kristen sampai masa kekekalan." -- Idem, b. 13, ch. 6.

Seandainya Pembaharuan setuju menyesuaikan diri dengan kesenangan dunia, setelah memperoleh tingkatan kemajuan, mereka akan menjadi tidak benar kepada Allah dan kepada dirinya sendiri. Dan dengan demikian memastikan kehancurannya. Pengalaman para Pembaharu yang mulia ini berisi pelajaran bagi zaman-zaman berikutnya. Cara Setan bekerja menentang Allah dan firman-Nya tidak berubah. Ia masih tetap menentang Alkitab yang dibuat sebagai panduan kehidupan seperti pada abad keenam belasan. Pada zaman kita terdapat penyimpangan yang lebar dari doktrin dan pengajaran Alkitab. Dan ada kebutuhan untuk kembali ke prinsip Protestan yang benar -- Alkitab, dan hanya Alkitab saja, sebagai ukuran iman dan tugas. Setan masih bekerja melalui segala usaha yang ia dapat kendalikan untuk menghancurkan kebebasan beragama. Kekuasaan antikristen yang ditolak oleh para Pemrotes Spires sekarang dengan kekuatan yang diperbaharui berusaha untuk mengembalikan supremasinya yang hilang. Ketaatan kepada firman Allah yang tak terbelokkan yang sama yang dinyatakan pada krisis Pembaharuan adalah satu-satunya harapan pembaharuan zaman ini.

Ada nampak tanda bahaya yang mengancam Protestan. Ada juga tanda yang tangan ilahi direntangkan untuk melindungi umat-umatnya yang setia. Adalah kira-kira pada waktu ini "Melanchthon dengan terburu-buru menuntun sahabatnya Simon Grynnaeus melalui jalan-jalan kota Spires menuju Sungai Rhine dan mendesaknya untuk menyeberangi sungai itu. Simon Grynaeus heran melihat tindakan yang terburu-buru itu. 'Seorang tua bangka dengan nafas terengah-engah tetapi saya tidak kenal' kata Melanchthon, 'tampak di depan saya dan berkata bahwa sesaat lagi pejabat-pejabat pengadilan akan dikirim oleh Ferdinand untuk menangkap Grynaeus.'"

Pada hari itu Grynaeus telah dipermalukan oleh Faber dalam khotbahnya. Faber adalah salah seorang doktor kepausan terkemuka. Dan pada penutupan khotbahnya, Grynaeus mengajukan protes kepada Faber karena mempertahankan "kesalahan-kesalahan yang menjijikkan." "Faber menyembunyikan kemarahannya, tetapi segera setelah ia pergi kepada raja, yang memberi perintah kepadanya melawan profesor yang mengganggu dari Heidelberg itu. Melanchthon tidak meragukan bahwa Allah telah menyelamatkan sahabatnya itu oleh mengutus salah seorang malaikat-Nya mengamarkannya.

"Tanpa bergerak Melanchthon menunggu di tepi Sungai Rhine, sampai air sungai itu menyelamatkan Grynaeus dari para penganiayanya. 'Akhirnya,' kata Melanchthon, pada waktu ia melihat Grynaeus di tepi sungai di seberang sana, 'ia dirampas dari rahang jahat mereka yang haus darah orang yang tidak bersalah.' Pada waktu ia kembali ke rumahnya, Melanchthon diberi tahu bahwa pejabat-pejabat yang mencari Gynaeus telah menggeledah rumahnya dari atas sampai kebawah." -- Idem, b. 13, ch. 6.

Pembaharuan harus lebih ditonjolkan kehadapan orang-orang berkuasa dunia. Para pangeran evangelikal telah ditolak untuk didengar oleh Raja Ferdinand, tetapi akan diberikan kesempatan kepada mereka untuk mengajukan masalah mereka di hadapan kaisar, dan dihadapan pemuka-pemuka gereja dan negara. Untuk menghentikan perpecahan yang telah mengganggu kekaisaran, kaisar Charles V, pada tahun berikut setelah Protes Spires, mengadakan rapat Mahkamah di Augsburg. Diumumkan bahwa ia sendiri akan memimpin rapat itu. Para pemimpin Protestant diundang kesana.


Bahaya besar mengancam Pembaharuan. Tetapi para pembelanya masih mempercayakan usaha mereka kepada Allah, dan mereka berjanji untuk tetap teguh kepada Injil. Elector dari Saxony telah didesak oleh para penasihatnya untuk tidak hadir di Mahkamah itu. Mereka berkata, bahwa kaisar menghendaki kehadiran para pangeran agar dapat menjerat mereka. "Bukankah sangat berbahaya untuk pergi dan hadir didalam tembok kota yang penuh dengan musuh yang berkuasa?" Tetapi yang lain mengatakan, "Biarlah para pangeran itu bersikap berani, dan kepentingan Allah diselamatkan." "Allah itu setia, Ia tidak akan meninggalkan kita," kata Luther. -- Idem, b. 14, ch. 2. Elector bersama rombongan berangkat ke Augsburg. Semua orang mengetahui bahaya yang mengancamnya. Banyak yang maju dengan muka muran dan hati yang susah. Tetapi Luther, yang menyertai mereka sampai ke Coburg, mengangkat kembali iman mereka yang telah tenggelam oleh menyanyikan sebuah lagu yang digubahnya dalam perjalanan, "A strong tower is our God" (Ya Allah kota yang teguh). Kata-kata nyanyian itu telah menghilangkan perasaan was-was, dan meringankan hati yang berat.

Para pangeran penganut pembaharuan telah berketetapan membuat pernyataan pandangan mereka dengan bentuk yang sistematis, dengan bukti-bukti dari Alkitab, untuk disajikan dihadapan Mahkamah. Dan tugas untuk menyediakannya diserahkan kepada Luther, Melanchthon dan rekan-rekan mereka. Surat pengakuan ini diterima oleh orang-orang Protestan sebagai pernyataan iman, dan mereka berkumpul untuk membubuhkan nama mereka pada bagian dokumen penting itu. Saat itu adalah saat yang khidmat dan mendebarkan. Para Pembaharu ingin agar kepentingan mereka jangan dicampur-adukkan dengan masalah-masalah politik. Mereka merasa bahwa Pembaharuan tidak akan menerima pengaruh lain selain dari firman Allah. Ketika para pangeran Kristen itu maju untuk menandatangani Pengakuan itu, Melanchthon menyela pembicaraan sambil berkata, "Adalah tugas para ahli teologi dan para pendeta untuk mengusulkan hal-hal ini. Marilah kita cadangkan bagi masalah-masalah lain wewenang orang-orang berkuasa dunia." "Allah melarang, " jawab John dari Saxony, "bahwa engkau mengecualikan saya. Saya telah berketetapan untuk melakukan apa yang benar, tanpa memperdulikan mahkota saya. Saya ingin untuk mengakui Tuhan. Mahkota ke'electoral'an dan kedudukan saya tidak begitu penting bagi saya dibandingkan dengan salib Yesus Kristus." Setelah ia mengatakan demikian, ia menuliskan namanya. Pangeran lain berkata sambil mengambil pena, "Jikalau kehormatan Tuhanku Yesus Kristus memerlukannya, saya bersedia . . . untuk meninggalkan harta kekayaan dan kehidupanku." "Lebih baik saya meninggalkan rakyatku dan negaraku, lebih baik meninggalkan negeri nenek-moyangku," lanjutnya, "daripada menerima ajaran atau doktrin lain selain daripada yang tercantum didalam pengakuan ini." -- Idem, b. 14, ch. 6. Begitulah kesetian dan keberanian umat-umat Allah itu.

Saat yang ditentukan untuk tampil di hadapan kaisarpun tiba. Kaisar Charles V, yang duduk di atas takhtanya, dikelilingi oleh para "elector" dan para pangeran, memberikan kesempatan berudiensi kapada para Pembaharu Protestan. Maka dibacakanlah pengakuan percaya mereka. Kebenaran Injil dengan jelas dikemukakan dihadapan perkumpulan yang mulia itu. Dan kesalahan-kesalahan gereja kepausan ditunjukkan. Hari itu diumumkan sebagai "hari terbesar Pembaharuan, dan salah satu hari paling mulia dalam sejarah Kekristenan dan umat manusia." -- Idem, b. 14, ch. 7.

Tetapi beberapa tahun telah berlalu sejak biarawan Wittenberg berdiri sendirian di Worms di hadapan konsili nasional. Sekarang penggantinya adalah para pangeran yang paling agung dan paling berkuasa di seluruh kekaisaran Luther telah dilarang hadir di Augsburg, tetapi ia sebenarnya hadir melalui kata-katanya dan doa-doanya. "Saya sangat bersukacita," tulis Luther, "bahwa saya telah hidup sampai saat ini, dimana Kristus telah ditinggikan secara umum oleh para pengaku-Nya yang terkenal, dan di dalam majelis yang begitu mulia." -- idem, b.14, ch. 7. Demikianlah digenapi apa yang Alkitab katakan, "Aku hendak berbicara tentang peringatan-peringatan-Mu di hadapan raja-raja." (Maz. 119:46).

Pada zaman Rasul Paulus, Injil, untuk mana ia telah dipenjarakan, telah diperkenalkan dihadapan para pangeran dan para bangsawan kota kekaisaran. Demikian juga pada kesempatan ini, bahwa apa yang dilarang kaisar dikhotbahkan dari mimbar, sekarang telah diumumkan di dalam istana. Apa yang dianggap banyak orang sebagai yang tidak pantas untuk didengar oleh budak sekalipun telah didengar dengan kagum oleh tuan-tuan dan penguasa-penguasa kekaisaran. Pendengarnya adalah raja-raja dan orang-orang besar, pengkhotbahnya adalah para putra mahkota, dan khotbahnya adalah kebenaran agung Allah. "Sejak zaman rasul-rasul." kata seorang penulis, "belum pernah terjadi pekerjaan yang lebih besar atau pengakuan iman yang lebih agung dari itu." -- Idem, b. 14, ch. 7.

"Semua yang dikatakan oleh pengikut Luther adalah benar. Kita tidak bisa menyangkalnya," seorang uskup kepausan mengatakan. "Dapatkah engkau membantah Pengakuan itu, yang disebutkan oleh 'elector' dengan sekutu-sekutunya, dengan alasan yang kuat?" tanya Dr. Eck. "Dengan tulisan para rasul dan para nabi -- tidak!" demikian jawabnya; tetapi dengan tulisan para Pater dan konsili-konsili -- ya!" "Saya mengerti," kata penanya. "Para pengikut Luther, menurutmu, ada di dalam Alkitab, dan kita berada di luar." -- Idem, b. 14, ch. 8.

Beberapa orang pangeran Jerman telah dimenangkan kepada iman yang dibaharui itu. Kaisar sendiri menyatakan bahwa artikel-artikel atau tulisan-tulisan Protestan adalah kebenaran. Pengakuan itu diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, dan disebarkan ke seluruh Eropa, dan telah diterima oleh berjuta-juta orang selama generasi berikut sebagai pernyataan iman mereka.


Hamba-hamba Allah yang setia tidak bekerja sendiri. Sementara "para penguasa dan kuasa-kuasa serta roh-roh jahat di udara" bersekutu melawan mereka, Tuhan tidak melupakan umat-Nya. Sekiranya mata mereka dibuka, mereka akan melihat bukti-bukti kehadiran dan pertolongan ilahi sebagaimana yang telah diberikan kepada nabi zaman dahulu. Pada waktu hamba Elisha menunjukkan kepada tuannya bala tentera musuh yang mengelilingi mereka, dan tidak lagi mempunyai kesempatan untuk meloloskan diri, nabi itu berdoa kepada Allah, "Ya Tuhan. Bukalah kiranya matanya supaya ia melihat." ( 2 Raja 6:17). Dan lihatlah, bukit-bukit penuh dengan kereta perang dan kuda-kuda api, balatentera Surga betugas untuk melindungi umat Allah. Demikianlah malaikat-malaikat mengawal pekerja-pekerja Pembaharuan.

Salah satu prinsip yang paling kuat dipertahankan oleh Luther adalah agar jangan menggunakan kuasa duniawi untuk mendukung Pembaharuan, dan tidak boleh meminta senjata untuk mempertahankannya. Ia bersukacita sebab Injil itu telah diakui oleh para pangeran kekaisaran. Tetapi pada waktu mereka mengusulkan untuk bersatu dalam sebuah persekutuan pertahanan, ia mengatakan bahwa "doktrin Injil itu harus dipertahankan oleh Allah sendiri . . . . Semakin sedikit campur tangan manusia pada pekerjaan itu, semakin besar campur tangan Allah untuk mempertahankannya. Semua pencegahan politik yang diusulkan di sini, dalam pandangannya, adalah disebabkan oleh ketakutan yang tidak sepantasnya dan ketidak-percayaan yang penuh dosa." -- D'Aubigne, b. 10, ch. 14 (ed. London).

Ketika musuh-musuh yang kuat bersatu untuk meruntuhkan iman yang diperbaharui itu, dan ribuan pedang akan dihunus untuk menumpas mereka, Luther menulis, "Setan sedang mengamuk; uskup yang tidak beriman sedang bersekongkol, dan kita diancam untuk berperang. Ajaklah orang-orang berjuang dengan berani di hadapan takhta Tuhan oleh iman dan permintaan doa, agar musuh-musuh kita, dikalahkan oleh Roh Allah dan perdamaian boleh didapat. Kebutuhan utama kita, usaha utama kita ialah berdoa. Biarlah semua orang tahu bahwa mereka sekarang sedang berada di ujung pedang kemarahan Setan, dan biarlah mereka berdoa." -- D'Aubigne, b. 10, ch.14.

Sekali lagi, pada hari kemudian, sehubungan dengan persekutuan yang dimaksudkan oleh para pangeran pembaharuan, Luther menyatakan bahwa senjata satu-satunya yang digunakan dalam peperangan ini adalah "pedang Roh." Ia menulis kepada penguasa (elector) dari Saxony, "Kita tidak bisa dengan hati nurani kita menyetujui persekutuan yang disarankan. Lebih baik kita mati sepuluh kali daripada melihat Injil kita menyebabkan setetes darah tertumpah. Bagian kita hanyalah seperti domba di pembantaian. Salib Kristus harus dipikul. Biarlah yang mulia tidak takut. Kita akan berbuat lebih banyak oleh doa-doa kita daripada semua musuh-musuh kita dengan kesombongannya. Hanya janganlah membiarkan tanganmu dikotori oleh darah saudara-saudaramu. Jikalau kaisar mengharuskan kita diserahkan ke pengadilannya, kita siap tampil. Anda tidak bisa mempertahankan iman kita: masing-masing harus percaya pada risiko dan bahaya sendiri." -- Idem, b. 14, ch. 1

Dari tempat berdoa tersembunyi datanglah kuasa yang menggoncangkan dunia dengan Pembaharuan Agung itu. Di sana dengan ketenangan yang kudus, hamba-hamba Allah menjejakkan kakinya di atas batu janji-janji-Nya. Selama pergumulan di Augsburg, Luther "tidak melewatkan satu hari tanpa menggunakan tiga jam waktu terbaiknya untuk berdoa." Di dalam kamar pribadinya terdengar ia mencurahkan isi jiwanya di hadapan Allah dalam kata-kata yang "penuh pujian, ketakutan dan pengharapan, bagaikan seorang berbicara kepada sahabatnya." "Saya tahu bahwa Engkaulah Bapa dan Allah kami," katanya, "dan Engkau akan mencerai-beraikan penganiaya anak-anak-Mu, karena Engkau sendiri terancam bersama kami. Semua masalah ini adalah milik-Mu, dan hanya oleh doronganmu kami turut serta. Oleh sebab itu, lindungilah kami, ya Bapa!" -- D'Aubigne, b. 14, ch. 6.

Kepada Melanchthon yang telah dilanda beban kecemasan dan ketakutan, ia menulis, "Kasih karunia dan damai sejahtera di dalam Kristus, -- saya katakan di dalam Kristus dan bukan di dalam dunia. Amen. Saya sangat membenci segala kesusahan yang menimpa engkau. Jikalau pekerjaan ini tidak benar, tinggalkanlah dia; tetapi jikalau pekerjaan ini benar, mengapa kita harus mengingkari janji-janji-Nya yang memerintahkan kita untuk tidur tanpa takut? . . . . Kristus tidak kekurangan pekerjaan keadilan dan kebenaran. Ia hidup; Ia memerintah, mengapa kita harus takut?" -- Idem, b. 14, ch. 6.

Allah mendengarkan seruan hamba-hamba-Nya. Ia memberikan kepada para pangeran dan para pendeta kasih karunia dan keberanian untuk mempertahankan kebenaran melawan penguasa kegelapan dunia ini. Kata Tuhan, "Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya tidak akan dipermalukan." (1 Peterus 2:6).


PEMBAHARUAN (REFORMASI) DI PERANCIS

~12~
PEMBAHARUAN (REFORMASI) DI PERANCIS

Protes Spires dan Pengakuan di Augsburg, yang menandai kemenangan Pembaharuan di Jerman, diikuti oleh pertentangan dan kegelapan selama bertahun-tahun lamanya. Dilemahkan oleh pertentangan diantara para pendukungnya dan diserang oleh musuh-musuhnya yang kuat, Protestantisme tampaknya menuju kehancurannya. Ribuan orang memeteraikan kesaksiannya dengan darahnya. Perang saudarapun pecah. Kepentingan Protestan dikhianati oleh seorang pengikutnya yang terkemuka. Para pangeran pembaharuan yang terbaik jatuh ke tangan kaisar, dan diseret sebagai tawanan dari satu kota ke kota lain. Tetapi disaat kemenangannya yang nyata, kaisar dipukul kalah. Ia melihat mangsanya dirampas dari genggamannya, dan pada akhirnya ia terpaksa memberikan toleransi kepada doktrin-doktrin, yang telah menjadi cita-cita hidupnya untuk menghancurkannya. Ia telah mempertaruhkan kerajaannya, hartanya dan hidupnya sendiri, untuk menumpas bida'ah. Sekarang ia melihat bala tenteranya habis percuma dalam peperangan, hartanya ludas, daerah-daerah kerajaannya terancam pemberontakan, sementara dimana-mana iman yang dengan sia-sia ditekannya semakin meluas. Charles V telah berperang melawan Yang Mahakuasa. Allah telah bersabda, "Jadilah terang," tetapi kaisar telah berusaha mempertahankan kegelapan itu. Segala maksudnya telah gagal. Dan dalam usia yang masih muda, dilelahkan oleh perjuangan yang lama, ia turun dari takhtanya dan mengasingkan diri di suatu biara.

Di Swis, sebgaimana juga di Jermn, hari-hari kegelapan menyelubungi Pembaharuan. Sementara banyak daerah menerima iman yang dibaharui, yang lain secara membabi buta masih tetap bergantung kepada ajaran Roma. Penganiayaan terhadap mereka yang ingin menerima kebenaran, akhirnya menimbulkan perang saudara. Zwingle, dan banyak yang lain yang telah bersatu dengan dia dalam pembaharuan, terlibat dalam peristiwa berdarah di Cappel. Oecolampadius, yang merasa terpukul oleh peristiwa yang mengerikan ini, meninggal dunia tidak lama kemudian. Roma menang, dan di berbagai tempat kelihatannya hampir direbut kembali apa yang telah hilang. Akan tetapi Allah tidak melupakan pekerjaan-Nya dan umat-Nya. Tangan-Nya akan melepaskan mereka. Di negeri-negri lain Ia telah mengangkat pekerja-pekerja untuk melanjutkan pekerjaan Pembaharuan.

Di Perancis, sebelum nama Luther didengar sebagai seorang Pembaharu, fajar telah mulai menyingsing. Salah seorang yang pertama menerima terang itu ialah Lefevre, seorang yang sudah tua. Ia seorang yang berpendidikan luas, seorang guru besar di Universitas Paris, dan seorang pengikut kepausan yang sungguh-sungguh dan bersemangat. Dalam penelitiannya terhadap literatur kuno, perhatiannya tertuju kepada Alkitab, dan ia memperkenalkan ilmunya itu kepada para mahasiswanya.

Lefevre adalah seorang pemuja orang-orang saleh yang bersemangat, dan ia bertanggungjawab untuk mempersiapkan sejarah para orang-orang saleh dan para syuhada (martir) sebagaimana terdapat dalam cerita-cerita kuno gereja. Pekerjaan ini melibatkan usaha besar; tetapi sebenarnya ia telah membuat kemajuan yang berarti, pada waktu ia berpikir mungkin ia boleh mendapat bantuan yang berarti dari Alkitab, lalu ia mulai mempelajarinya dengan tujuan ini. Benar, di sini ia menemukan orang-orang saleh, tetapi tidak seperti yang digambarkan oleh kalender Romawi. Pikirannya dibanjiri oleh terang ilahi. Dalam kekagumannya dan kemuakannya ia meninggalkan tugasnya itu, dan membaktikan dirinya kepada firman Allah. Kebenaran-kebenaran yang berharga yang ditemukannya di sana segera diajarkannya.

Pada tahun 1512 sebelum Luther maupun Zwingle memulai pekerjaan pembaharuan, Lefevre menulis, "Allahlah yang mengaruniakan kepada kita, oleh iman, kebenaran yang hanya oleh karena karunia, membenarkan kita bagi hidup kekal." -- Wylie, b. 13, ch. 1. Berpegang pada rahasia penebusan, ia berkata, "Oh, betapa tak terkatakan besarnya penggantian itu. Yang Tak Berdosa menanggung hukuman, dan ia yang bersalah dibebaskan. Yang Diberkati menanggung kutuk, dan yang terkutuk dibawa kepada berkat. Kehidupan itu mati, dan yang mati itu dihidupkan. Yang Mulia masuk ke dalam kegelapan, dan dia yang tidak tahu apa-apa selain bermuka kebingungan, disalut dengan kemuliaan." -- D'Aubigne, b. 12, ch. 2 (London ed.).

Dan sementara ia mengajarkan bahwa kemuliaan keselamatan semata-mata adalah milik Allah, ia juga menyatakan bahwa tugas penurutan adalah milik manusia. "Jika engkau adalah anggota gereja Kristus," katanya, "engkau adalah anggota tubuh-Nya. Jika engkau adalah anggota tubuh-Nya, maka engkau penuh dengan alamiah ilahi . . . . Oh, jikalau sekiranya orang-orang mengerti kesempatan ini, betapa murninya, sucinya dan kudusnya mereka akan hidup, dan betapa mereka dapat digabungkan bersama, jika dibandingkan dengan kemuliaan yang di dalam mereka, -- kemuliaan yang mata daging tidak dapat lihat, -- akan menganggap semua kemuliaan dunia yang tidak berarti ini." -- Idem, b. 12, ch. 2 (London ed.).


Ada beberapa mahasiswa Lefevre yang mendengarkan perkataannya dengan sungguh-sungguh, dan terus menyatakan kebenaran, lama sesudah suara gurunya itu didiamkan. Salah seorang diantaranya ialah William Farel. Ia adalah anak dari orang tua yang saleh dan dididik menerima, dengan iman yang sungguh-sungguh, ajaran-ajaran gereja. Sehingga ia boleh berkata mengenai dirinya seperti Rasul Paulus, "Aku telah hidup sebagai seorang Farisi menurut mazhab yang paling keras dalam agama kita." (Kisah 26:5). Sebagai seorang pengikut Roma yang taat, dengan semangat yang berapi-api ia berusaha membinasakan semua mereka yang berani menentang gereja. "Saya akan menggertakkan gigiku bagaikan serigala yang ganas," katanya kemudian waktu berbicara mengenai dirinya waktu itu, "bilamana saya mendengar seseorang berbicara menentang paus." -- Wylie, b. 13, ch. 2. Ia tidak mengenal lelah memuja para orang saleh. Bersama-sama dengan Lefevre mengunjungi gereja-gereja di Paris, beribadat di mezbah-mezbah dan memuja dengan persembahan-persembahan di tempat-tempat pemujaan kudus. Tetapi semuanya ini tidak dapat membawa kedamaian kepada jiwanya. Perasaan berdosa terus melekat pada dirinya, yang tidak dapat dihapuskan oleh semua tindakan pemujaan yang dilakukannya. Ia mendengarkan kata-kata Pembaharu sebagai suara dari Surga, "Keselamatan adalah kasih karunia Allah." "Yang kudus dihukum, dan penjahat dibebaskan." "Hanya salib Kristus saja yang sanggup membuka pintu gerbang Surga, dan menutup pintu gerbang neraka." -- Wylie, b. 13, ch. 2.

Farel menerima kebenaran dengan sukacita. Oleh pertobatan seperti yang dialami oleh Rasul Paulus, ia beralih dari perhambaan tradisi kepada kemerdekaan anak-anak Allah. "Gantinya memiliki hati seorang pembunuh bagaikan serigala yang kelaparan," katanya, "ia menjadi seperti seekor anak domba yang lembut dan tak berbahaya, karena hatinya seluruhnya telah ditarik dari paus dan dberikan kepada Yeusu Kristus." -- D'Aubigne, b. 12, ch. 3.

Sementara Lefevre terus menyebarkan terang itu kepada para mahasiswanya, Farel, seorang yang bersemangat dalam pekerjaan Yesus, sebagaimana dahulu pada paus, pergi memberitakan kebenaran kepada umum. Seorang pejabat gereja, uskup dari Meaux, bergabung dengan mereka tidak lama kemudian. Guru-guru lain yang tergolong tinggi dalam kemampuan dan pendidikan, bergabung juga untuk memberitakan Injil. Dan mereka memenangkan banyak pengikut dari semua golongan, dari kalangan pekerja dan petani sampai ke istana raja. Saudara perempuan Francis I, yang kemudian menjadi raja, menerima iman yang dibaharui itu. Raja sendiri dan ibu suri, nampaknya untuk sementara menanggapinya dengan baik, dan dengan sangat mengharap para Pembaharu itu memandang ke depan di saat mana Perancis dimenangkan kepada Injil.

Tetapi harapan-harapan mereka belum terwujud. Pencobaan dan penganiayaan menanti murid-murid Kristus. Namun hal ini diselubungi dari pandangan mereka. Satu waktu kedamaian menyelinginya agar mereka boleh mendapat kekuatan untuk menghadapi bencana, dan Pembaharuan memperoleh kemajuan pesat. Uskup Meaux bekerja dengan bersemangat di wilayah keuskupannya untuk mengajar para imam maupun orang-orang biasa atau umum. Imam-imam yang tidak mau perduli atau bodoh dan tidak bermoral dipindahkan sejauh mungkin, dan diganti dengan orang-orang terpelajar dan yang saleh. Uskup sangat menginginkan agar orang-orangnya mempelajari sendiri firman Allah bagi mereka sendiri, dan hal ini segera tercapai. Lefevre merasa bertanggungjawab untuk menerjemahkan Alkitab Perjanjian Baru . Dan pada waktu Alkitab bahasa Jerman terjemahan Luther keluar dari percetakan di Wittenberg, Alkitab Perjanjian Baru bahasa Perancis telah diterbitkan di Meaux. Uskup mengerahkan tenaga dan biaya untuk menyebarkan buku itu di gereja-gerejanya, sehingga tidak lama para petani Meaux sudah mempunyai Alkitab Perjanjian Baru.

Bagaikan musafir yang kehausan menyambut dengn sukacita mata air hidup, demikianlah jiwa-jiwa ini menerima pekabaran dari Surga. Para pekerja di ladang, para pengrajin di ruang kerjanya bergembira dalam kerjanya setiap hari sambil membicarakan kebenaran berharga Alkitab. Pada malam hari, mereka tidak lagi pergi ke bar-bar atau tempat-tempat minum-minum lainnya. Mereka berkumpul di rumah-rumah untuk membaca firman Tuhan, dan berdoa dan memuji Tuhan bersama-sama. Suatu perubahan besar segera terlihat di masyarakat. Walaupun mereka tergolong kelompok paling sederhana, yang kurang berpendidikan dan petani yang bekerja keras, kuasa kasih karunia Allah yang membaharui dan yang mengangkat kelihatan dalam kehidupan mereka. Mereka berdiri sebagai saksi yang rendah hati, pengasih, dan kudus terhadap apa yang akan diberikan Injil kepada mereka yang menerimanya dengan sungguh-sungguh.

Terang kebenaran yang dinyalakan di Meaux memancarkan sinarnya sampai ke tempat yang jauh. Setiap hari bilangan orang yang bertobat terus bertambah. Kemarahan pejabat tinggi gereja pada satu saat dapat ditahan oleh raja, yang benci kepada kefanatikan sempit para biarawan. Tetapi akhirnya para pemimpin kepausan memperoleh kemenangan. Sekarang tiang gantungan sudah didirikan. Uskup Meaux dipaksa untuk memilih antara api dan penarikan kembali ajaran-ajarannya, lalu ia memilih jalan mudah. Tetapi walaupun pemimpin mereka sudah jatuh, para pengikutnya tetap teguh pada pendirian mereka. Banyak yang bersaksi demi kebenaran di tengah-tengah nyala api yang berkobar-kobar. Dengan keberanian dan kesetiaan mereka di tiang gantungan, orang-orang Kristen yang rendah hati ini berbicara kepada ribuan orang, yang pada hari-hari damai tidak pernah mendengar kesaksian mereka.


Bukan hanya orang-orang sederhana dan miskin ini, yang di tengah-tengah penderitaan dan hinaan, berani bersaksi bagi Kristus. Di aula-aula besar dan di istana terdapat jiwa-jiwa yng berasal dari kalangan raja-raja yang menilai kebenaran mengatasi kekayan atau status kedudukan, atau bahkan kehidupan itu sendiri. Di balik baju perang kerajaan tersembunyi roh yang lebih agung dan lebih teguh dari pada jiwa yang ada di balik jubah dan topi uskup. Louis de Berquin adalah keturunan bangsawan. Ia adalah seorang satria istana pemberani yang menggunakan waktunya untuk belajar, bertingkah laku halus dan bermoral yang tak bercacad. Seorang penulis berkata, "Ia adalah seorang pengikut konstitusi kepausan, dan seorang pendengar setia khotbah-khotbah dan misa, . . . menyempurnakan semua kebajikannya yang lalim dengan menahan faham Lutheran dengan kebencian khusus." Tetapi seperti yang lain-lainnya, dengan tuntunan Allah ia telah dibawa kepada Alkitab. Ia merasa heran menemukan di sana bukan ajaran-ajaran Roma, tetapi ajaran-ajaran Luther." -- Wylie, b. 13, ch. 9. Sejak waktu itu ia membaktikan dirinya untuk kepentingan Injil.

"Sebagai seorang bangsawan Perancis yang paling terpelajar," kecakapannya dan ketrampilannya, keberaniannya yang tiada terkekang dan keperkasaannya serta pengaruhnya di istana -- karena ia kesukaan raja -- menyebabkan ia dianggap banyak orang sebagai seorang yang akan menjadi Pembaharu di negerinya. Beza berkata, "Berqiun akan menjadi Luther kedua, kalau saja Francis I menjadi 'elector' kedua." "Ia lebih buruk dari Luther," kata para pengikut kepausan. -- Idem, b. 13, ch. 9. Memang dia lebih ditakuti oleh para pengikut Roma di Perancis. Mereka memasukkannya ke penjara sebagai seorang bida'ah, seorang penyesat, tetapi ia dibebaskan oleh raja. Perjuangan berlanjut selama bertahun-tahun. Francis, yang terombang-ambing antara Roma dan Pembaharuan, kadang-kadang menerima kadang-kadang mengekang semangat hebat para biarawan itu. Tiga kali Berquin dipenjarakan oleh penguasa kepausan, tetapi tiga kali pula ia dibebaskan oleh raja, yang mengagumi kecakapan dan keagungan tabiatnya, menolak mengorbankannya kepada kebencian pejabat gereja.

Telah berulang-ulang Berquin diamarkan mengenai bahaya yang mengancamnya di Perancis, dan mendesaknya untuk mengikuti jejak mereka yang mencari keamanan dipengasingan secara sukarela. Erasmus, seorang pemalu dan seorang oportunis, menulis kepada Berquin, "Mintalah supaya engkau dikirim ke luar negeri sebagai duta besar ke negara asing, pergi dan jelajahilah Jerman. Engkau mengenal Beda -- ia adalah binatang buas raksasa yang berkepala seribu, yang menyemburkan bisa ke segala penjuru. Musuh-musuhmu disebut Legion. Seandainya pekerjanmu lebih baik dari pekerjaan Yesus Kristuspun, mereka tidak akan membiarkanmu sampai mereka benar-benar membinasakanmu. Janganlah engkau terlalu percaya kepada perlindungan raja. Dalam segala keadaan janganlah berkompromi dengan saya dalam kemampuan teologia." -- Wylie, b. 13, ch. 9.

Akan tetapi, sementara bahaya-bahaya semakin memuncak, semangat Berquinpun semakin kuat. Dengan memanfaatkan nasihat Erasmus yang menyangkut politik dan penggunaan waktu, ia berketetapan untuk lebih berani dalam usahanya. Ia bukan saja berdiri mempertahankan kebenaran, tetapi ia juga akan menyerang kesalahan. Tuduhan bida'ah yang dituduhkan pengikut Romanisme kepadanya akan balik dituduhkannya kepada mereka. Lawan-lawannya yang paling giat dan sengit ialah doktor dan para biarawan dari departemen teologia Universitas Paris yang besar itu, salah satu pemegang kekuasaan tertinggi gereja baik di kota maupun di seluruh negara itu. Dari tulisan-tulisan para doktor ini, Berquin menarik 12 dalil yang dinyatakannya secara umum, "bertentangan dengan Alkitab, dan menyimpang atau bida'ah." Dan ia menghimbau raja untuk bertindak sebagai hakim dalam pertikaian itu.

Raja, dengan tidak bosan-bosannya mempertentangkan penguasa dengan penantangnya, merasa gembira mempunyai kesempatan untuk merendahkan keangkuhan para biarawan yang sombong itu. Ia meminta agar para pengikut Romanisme mempertahankan kepentingan mereka berdasarkan Alkitab. Senjata ini, sebagaimana mereka tahu, hanya sedikit bisa membantu. Penjara, penganiayaan, dan tiang gantungan adalah senjata-senjata yang mereka tahu cara menggunakannya. Sekarang keadaan sudah berbalik. Mereka melihat diri mereka hampir jatuh ke dalam lobang yang sebenarnya mereka harapkan untuk Berquin. Dalam keheranan, mereka mencari jalan di sekitar mereka untuk meloloskan diri.

"Tepat pada waktu itu patung Anak Dara (Bunda Maria) yang berada di sudut salah satu jalan, dirusak orang." Ada kegemparan di kota itu. Orang-orang berkerumun ke tempat itu dengan sedih bercampur marah. Raja juga turut prihatin. Ini adalah salah satu keuntungan yang dapat dibalikkan oleh para biarawan menjadi milik mereka, dan dengan cepat mereka memanfaatkan kejadian ini. "Ini adalah buah-buah dari doktrin-doktrin Berquin," teriak mereka. "Semua akan diruntuhkan oleh komplotan Lutheran -- agama, undang-undang, dan bahkan takhta sendiri." -- Idem, b. 13, ch. 9.

Sekali lagi Berquin ditahan. Raja mengundurkan diri dari Paris, dan dengan demikian para biarawan bebas melakukan kemauan mereka. Pembaharu itu diadili dan dijatuhi hukuman mati. Hukuman mati dilaksanakan hari itu juga, supaya Francis tidak sempat menyelamatkannya. Pada tengah hari Berquin dibawa ke tempat pelaksanaan hukuman mati. Orang ramai sekali berkumpul menyaksikan kejadian itu. Dan banyak yang merasa heran dan sedih melihat bahwa yang menjadi korban adalah seorang dari keluarga bangsawan Perancis yang terbaik dan paling pemberani. Keheranan, kemarahan, makian dan kebencian serta dendam kesumat meliputi wajah orang ramai. Tetapi pada satu wajah tidak ada kemurungan. Pikiran sang martir atau syuhada itu jauh dari suasana kemurungan dan kekacauan. Ia menyadari hanya hadirat Tuhannya


Kereta narapidana yang ditumpanginya, wajah-wajah seram para penganiaya, kematian yang mengerikan yang akan dijalaninya, -- semua ini tidak dihiraukannya. Ia yang hidup dan yang telah mati, dan yang telah hidup kembali untuk selama-lamanya, dan yang mempunyai anak kunci maut dan neraka, ada disampingnya. Wajah Berquin disinari dengan terang dan kedamaian Surga. Ia mengenakan sendiri pakaian yang mewah, memakai "satu jubah dari beludru, baju kuno yang terbuat dari satin dan sutra, dan celana ketat yang berwarna keemasan." -- D'Aubigne, "History of the Reformation in the Time of Calvin," b. 2, ch. 16. Ia sudah mau menyaksikan imannya dihadirat Raja segala raja dan alam semesta yang menyaksikannya, dan tidak ada tanda dukacita yang menodai sukacitanya.

Ketika arak-arakan bergerak perlahan melalui jalan-jalan yang sudah dipadati orang, orang-orang merasa heran melihat pembawaannya yang penuh kedamaian yang tidak terselubung dan sukacita kemenangan. Kata mereka, "Ia seperti seseorang yang duduk di sebuah kaabah dan merenungkan perkara-perkara suci." -- Wylie, b. 13, ch. 9.

Dari tiang gantungan, Berquin berusaha menucapkan beberapa perkataan kepada orang banyak. Tetapi para biarawan, yang takut akan akibatnya, mulai berteriak, dan para prajurit membentur-benturkan senjata mereka sehingga suara berisik itu menghilangkan suara sang syuhada. Demikianlah pada tahun 1529 penguasa negara dan gereja kota Paris yang sudah beradab, "telah memberikan contoh yang paling buruk kepada penduduk tahun 1793, yang mendiamkan kata-kata suci orang yang sedang berada di atas panggung hukuman mati." -- Idem, b. 13, ch. 9.

Berquin dicekik dengan tali, dan tubuhnya hangus dimakan api. Berita kematiannya menimbulkan dukacita pada sahabat-sahabat Pembaharuan di seluruh Perancis. Tetapi teladannya tidak hilang. "Kita juga siap," kata saksi-saksi kebenaran itu, "menghadapi kematian dengan sukacita, menunjukkan pandangan kita pada kehidupan yang akan datang." -- D'Aubigne, "History of the Reformation in the Time of Calvin," b. 2, ch. 16.

Selama penganiayaan di Meaux, guru-guru iman yang diperbaharui itu tidak diizinkan untuk berkhotbah, dan mereka pergi ke ladang-ladang yang lain. Lefevre kemudian pergi ke Jerman. Dan Farel kembali ke kota asalnya di bagian Timur Perancis, untuk menyebarkan terang di tempat masa kanak-kanaknya. Telah diterima kabar mengenai apa yang terjadi di Meaux, dan kebenaran yang diajarkannya dengan tidak mengenal rasa takut, mendapat tempat di dalam hati para pendengar. Segera para penguasa bengkit untuk membungkamkannya, dan ia telah menghilang dari kota. Walaupun ia tidak bisa lagi bekerja dengan terang-terangan, ia menjelajahi lembah dan desa-desa mengajar di rumah-rumah tinggal pribadi, dan di padang-padang terpencil, dan berlindung di hutan-hutan dan di celah-celah bukit batu yang telah sering dikunjunginya semasa kecilnya. Allah mempersiapkannya bagi pencobaan yang lebih besar. "Salib-salib, penganiayaan-penganiayaan dan persekongkolan Setan, yang telah lebih dahulu diamarkan kepadaku, tidak berkurang," katanya, "bahkan lebih berat dari pada yang dapat saya tanggung. Tetapi Allah adalah Bapaku, Ia telah memberikan dan akan terus memberikan kekuatan yang saya perlukan." -- D'Aubigne, b. 12, ch. 9.

Sebagaimana pada zaman rasul-rasul, penganiayaan telah "menyebabkan kemajuan Injil." ( Pilipi 1:12). Diusir dari Paris dan Meaux, "mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri sambil memberitakan Injil." (Kisah 8:4). Dan demikianlah terang itu memasuki beberapa propinsi-propinsi terpencil di Perancis.

Allah masih terus menyediakan pekerja-pekerja untuk meluaskan pekerjaannya. Di salah satu sekolah di Paris ada seorang pemuda pendiam dan yang penuh perhatian. Ia telah memperlihatkan kemampuan pikirannya dan kemurnian hidupnya, semangat intelektualnya dan pengabdian agamanya. Kecerdasannya yang menonjol telah membuatnya menjadi kebanggaan perguruan tinggi dimana ia kuliah, dan telah diperkirakan bahwa John Calvin akan menjadi salah seorang pembela gereja yang paling kuat dan disegani. Akan tetapi sinar terang ilahi menembusi tembok kependidikan dan ketakhyulan dimana Calvin berada. Ia mendengar ajaran atau doktrin baru dengan gentar, tanpa ragu-ragu bahwa para bida'ah itu pantas untuk dibakar. Namun tanpa disengaja ia telah berhadapan muka dengan muka dengan para bida'ah, dan terpaksa menguji kemampuan teologi Romanisme melawan ajaran Protestan.

Seorang keponakan Calvin, yang telah bergabung dengan para Pembaharu, berada di Paris. Dua orang berkeluarga ini sering bertemu, dan memperbincangkan hal-hal yang mengganggu Kekristenan. "Hanya ada dua agama di dunia ini," kata Olivetan, orang Protestan itu. "Salah satu diantaranya ialah agama yang diciptakan oleh manusia, yang oleh manusia menyelamatkan dirinya melalui upacara-upacara dan perbuatan-perbuatan baik. Dan yang satu lagi ialah agama yang dinyatakan di dalam Alkitab, dan yang mengajar manusia untuk mencari keselamatan yang semata-mata adalah kasih karunia Allah yang diberikan dengan cuma-cuma."

"Saya tidak memerlukan ajaran barumu itu," seru Calvin, "apakah kamu pikir saya telah hidup dalam kesalahan selama hidup saya?" -- Wylie, b. 13, ch. 7.

Tetapi pikiran telah timbul di benaknya yang tidak bisa dihilangkannya. Dalam kesendirian di kamarnya, ia merenungkan kata-kata keponakannya itu. Ia percaya dosa melekat kepadanya. Ia melihat dirinya tanpa perantara, dihadapan Hakim yang kudus dan adil. Pengantaraan orang-orang saleh, pekerjaan-pekerjaan baik, upacara-upacara gereja, semuanya tidak berkuasa untuk menghapuskan dosa. Ia tidak dapat melihat apa-apapun selain keputus-asaan abadi yang menyelubunginya. Sia-sia segala usaha para doktor gereja untuk menghilangkan kesusahannya. Pengakuan dosa, penyiksaan diri, semuanya adalah sia-sia. Tidak dapat memperdamaikan jiwa dengan Allah.


Sementara bergumul dalam kesia-sian ini, Calvin berkesempatan pergi ke sebuah alun-alun untuk menyaksikan pembakaran seorang bida'ah. Ia sangat kagum melihat ekspresi kedamaian yang memenuhi wajah syuhada itu. Di tengah-tengah penyiksaan kematian yang mengerikan dan hukuman gereja yang menakutkan itu, sang martir atau syuhada itu menyatakan satu iman dan keberanian, yang bagi mahasiswa muda itu sulit untuk membandingkan dengan keputus-asaan dan kegelapan dirinya sendiri, walaupun ia hidup dengan sangat patuh kepada gereja. Ia mengetahui para bida'ah itu mengalaskan iman mereka kepada Alkitab. Ia bertekad untuk mempelajari Alkitab, dan menemukan, jika mungkin, rahasia sukacita mereka.

Ia menemukan Kristus di dalam Alkitab. "O, Bapa," serunya, "pengorbanan-Nya telah meredakan murka-Mu. Darah-Nya telah mencuci kekotoranku. Salib-Nya telah menanggung kutukku, dan kematian-Nya telah menebus aku. Kami telah membuat bagi kami kebodohan yang tidak berguna, tetapi Engkau telah menempatkan firman-Mu di hadapanku bagaikan obor, dan Engkau telah menjamah hatiku, agar aku boleh menganggap jasa-jasa lain sebagai kebencian selain jasa Yesus." -- Martyn, Vol. III, ch. 13.

Calvin telah dididik untuk menjadi seorang imam. Pada usia yang baru dua belas tahun ia telah ditugaskan sebagai gembala di jemaat kecil, dan kepalanya dicukur oleh uskup sesuai dengan peraturan gereja. Ia tidak ditahbiskan dan tidak memenuhi tugas-tugas seorang imam, tetapi ia menjadi anggota para rohaniawan, dan memegang jabatan ini serta menerima tunjangan sebagaimana mestinya.

Sekarang, merasa bahwa ia tidak akan pernah menjadi seorang imam, untuk sementara ia mempelajari ilmu hukum. Tetapi akhirnya ia meninggalkan niatnya ini dan membaktikan hidupnya kepada Injil. Tetapi ia tidak mau menjadi guru bagi masyarakat. Sebagai seorang pemalu, ia dibebani dengan rasa tanggungjawab jabatan yang berat. Dan oleh sebab itu ia ingin untuk terus belajar. Namun, atas permohonan sungguh-sungguh sahabat-sahabatnya, akhirnya ia setuju menjadi guru. "Mengherankan," bahwa seorang yang asalnya hina harus ditinggikan kepada keagungan." -- Wylie, b. 13, ch. 9.

Ia memulai pekerjaannya dengan diam-diam, dan kata-katanya bagaikan embun pagi yang menyegarkan bumi. Ia telah meninggalkan Paris, dan sekarang ia berada di sebuah kota propinsi di bawah lindungan putri Margaret, yang karena mencintai Injil, memberikan perlindungan kepada murid-murid Injil itu. Calvin masih seorang pemuda dengan penampilan lemah lembut dan sederhana, tidak sombong. Pekerjaannya dimulainya di rumah orang-orang. Dengan dikelilingi oleh anggota keluarga di rumah itu ia membaca Alkitab, dan membukakan kebenaran keselamatan. Mereka yang mendengarkan pekabaran itu memberitahukan kabar baik itu kepada orang-orang lain. Tidak lama kemudian guru Injil itu melewati kota ke kota-kota kecil dan desa-desa. Ia dapat masuk ke kastel dan gubuk, dan maju terus meletakkan dasar gereja-gereja yang akan menghasilkan kesaksian-kesaksian tanpa gentar bagi kebenaran.

Beberapa bulan kemudian ia kembali ke Paris. Ada hasutan luar biasa di kalangan kaum terpelajar dan cendekiawan. Pelajaran bahasa-bahasa kuno telah menuntun mereka kepada Alkitab, dan banyak dari mereka yang hatinya belum dijamah kebenaran, ingin mendiskusikannya, dan bahkan ada yang menyerang pejabat-pejabat Romanisme. Calvin, walaupun seorang yang mahir berdebat mengenai pertikaian teologia, mempunyai misi lain yang hendak dicapai, yang lebih tinggi dari pada orang-orang pendidikan yang ribut itu. Pikiran orang-orang telah digerakkan, dan sekaranglah waktunya untuk membukakan kebenaran itu kepada mereka. Sementara ruangan-ruangan universitas dipenuhi dengan perdebatan masalah teologia, Calvin bekerja dari rumah ke rumah, membukakan Alkitab kepada orang-orang, dan berbicara kepada mereka dari hal Kristus dan penyaliban-Nya.

Dengan pertolongan Tuhan, Paris menerima undangan lain untuk menerima Injil. Panggilan Lefevre dan Farel telah ditolak, tetapi sekali lagi pekabaran ini akan didengarkan oleh semua kalangan masyarakat di ibukota yang besar itu. Raja, yang dipengaruhi pertimbangan-pertimbangan politik, belum sepenuhnya memihak Roma melawan Pembaharuan. Putri Margaret masih mengharapkan agar Protestantisme menang di Perancis. Ia memutuskan agar iman yang diperbaharui itu dikhotbahkan di Paris. Pada waktu raja tidak ada, ia memerintahkan seorang pendeta Protestan berkhotbah di gereja-gereja di kota itu. Sebenarnya hal itu dilarang oleh pejabat-pejabat kepausan, tetapi ia, putri, membukakan istana. Sebuah apartemen dibuat sebagai kapel, dan diumumkan bahwa setiap hari pada jam-jam tertentu, sebuah khotbah akan dikhotbahkan, dan orang-orang dari semua golongan diundang untuk mengikutinya. Orang banyak memadati kebaktian itu. Bukan hanya kapel itu, juga ruang di depannya dan gang-gang telah dipadati. Ribuan orang berkumpul setiap hari -- para bangsawan, negarawan, ahli-ahli hukum, pedagang dan para pekerja. Sebagai gantinya melarang perkumpulan itu, raja memerintahkan agar dua gereja di Paris dibuka. Belum pernah sebelumnya kota itu digerakkan oleh firman Allah seperti itu. Roh kehidupan dari Surga tampaknya diturunkan kepada orang-orang. Penahanan diri atau pertarakan, kesucian, keteraturan dan kerajinan telah menggantikan kemabukan, ketidak-bermoralan, perbantahan dan kemalasan.


Akan tetapi hirarki tidak tinggal diam. Oleh karena raja masih tetap menolak untuk menghentikan pengkhotbahan, maka mereka berbalik kepada penduduk. Segala usaha dilakukan untuk menimbulkan ketakutan, prasangka buruk dan kefanatikan orang banyak yang masih bodoh dan percaya ketakhyulan. Secara membabi buta percaya kepada guru-guru palsu, seperti Yerusalem pada zaman dahulu, Paris tidak menyadari bencana atau hal-hal yang menjadi kedamaiannya. Selama dua tahun lamanya firman Allah dikhotbahkan di ibukota ini. Tetapi sementara banyak yang menerima Injil, kebanyakan orang masih menolaknya. Francis menunjukkan rasa toleransinya, semata-mata hanya untuk kepentingan maksud-maksudnya, dan para pengikut kepausan berhasil memperoleh kembali kekuasaannya. Sekali lagi gereja-gereja ditutup, dan tiang gantungan didirikan.

Calvin masih di Paris, mempersiapkan diri dengan belajar, bermeditasi dan berdoa demi pekerjaannya dikemudian hari, dan meneruskan menyebarkan terang kebenaran. Namun, akhirnya ia dicurigai juga. Para penguasa memutuskan untuk membakarnya. Ia tidak menyadari bahaya yang mengancamnya di tempat persembunyiannya. Sahabat-sahabatnya bergegas kekamarnya menemuinya dengan membawa kabar bahwa pejabat-pejabat penguasa sedang menuju ke tempatnya untuk menangkapnya. Seketika itu juga ketokan keras terdengar di pintu luar. Tak sesaatpun yang bisa disia-siakan. Sebahagian sahabat-sahabatnya menahan para pejabat penguasa itu di pintu, sementara yang lain menolong Pembaharu itu keluar dari jendela dan segera melarikan diri ke luar kota. Ia berlindung di pondok seorang pekerja yang menjadi teman pembaharuan. Ia menyamar dengan memakai jubah pekerja itu dan sambil menyandang cangkul ia meneruskan perjalanannya. Ia berjalan menuju Selatan dan mendapat perlindungan di tempat Putri Margaret. -- Lihat D'Aubigne, "History of the Reformation in the Time of Calvin," b. 2, ch. 30.

Ia tinggal beberapa bulan di sini, aman dalam perlindungan teman-temannya yang kuat, dan seperti sebelumnya menyibukkan diri dengan belajar. Tetapi hatinya sudah terpaut dengan evangelisasi Perancis, sehingga ia tidak bisa berlama-lama tidak aktif. Segera setelah badai amarah mulai reda, ia mencari ladang baru di Poitiers, dimana ada satu universitas, dan dimana pendapat baru telah mendapat perhatian. Orang-orang dan semua golongan mendengarkan Injil itu dengan sukacita. Tidak diadakan ceramah umum. Tetapi Calvin membukakan firman hidup kekal itu kepada mereka yang ingin mendengarkan di rumah hakim ketua, di tempat penginapannya dan kadang-kadang di taman kota. Pada suatu hari, pada waktu pendengar semakin bertambah, dirasakan akan lebih aman jika mereka berkumpul di luar kota. Maka dipilihlah sebuah gua ditepi sebauh jurang yang dalam, yang ditumbuhi pepohonan dan ada batu-batu bergantung menjadi tempat berkumpul terpencil yang aman. Mereka meninggalkan kota dalam kelompok-kelompok kecil dengan jurusan yang berbeda menuju tempat ini. Di tempat tersembunyi inilah Alkitab dibacakan dan diterangkan. Di tempat ini jugalah perjamuan kudus Tuhan dirayakan pertama kali oleh orang-orang Protestan Perancis. Dari jemaat kecil inilah beberapa pemberita Injil diutus keluar.

Sekali lagi Calvin kembali ke kota Paris. Ia belum putus asa bahwa Perancis sebagai bangsa, akan menerima Pembaharuan. Tetapi ia mendapati semua pintu untuk pembaharuan tertutup. Mengajarkan Injil disana berarti mengambil jalan pintas menuju tiang gantungan. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke Jerman. Tidak mungkin ia meninggalkan Perancis pada waktu badai kesusahan melanda orang-orang Protestan, yang kalau ia tinggal, pasti terlibat dalam kencuran.

Para Pembaharu Perancis ingin melihat negerinya sejajar dengan Jerman dan Swis, lalu memutuskan untuk menyerang ketakhyulan Roma dengan membangkitkan seluruh bangsa itu. Pada suatu malam selebaran-selebaran yang menyerang upacara misa kudus telah ditempelkan di seluruh Peancis. Gantinya memajukan Pembaharuan, gerakan yang bersemangat tetapi kurang pertimbangan ini justrus membawa kehancuran bukan saja kepada para pencetus gerakan, tetapi juga kepada semua sahabat-sahabat iman yang telah dibaharui di seluruh Perancis. Gerakan itu memberikan kepada para pengikut Roma apa yang telah lama diidam-idamkannya -- alasan yang dibuat-buat untuk membinasakan para bida'ah sebagai penghasut yang membahayakan kestabilan takhta kerajan dan perdamaian bangsa.

Salah satu selebaran itu telah ditempelkan di pintu ruang pribadi raja oleh orang yang tidak diketahui, apakah oleh teman atau musuh yang mau mendiskreditkan para pembaharu tidak diketahui dengan pasti. Raja menjadi sangat ketakutan. Dalam selebaran itu, ketakhyulan yang telah dihormati selama berabad-abad lamanya, diserang dengan gencarnya. Raja sangat murka karena keberanian orang memasuki daerah istana dan menempelkan selebaran itu. Dalam keheranannya ia berdiri sejenak gemetar tanpa bicara. Kemudian amarahnya meluap dengan kata-kata beikut ini, "Tangkap semua orang tanpa kecuali yang dicurigai sebagai pengikut Lutherisme. Saya akan membinasakan mereka semua." D'Aubigne, "History of the Reformation in the Time of Calvin," b. 4, ch. 10. Dadu telah dilemparkan. Raja telah menentukan dirinya sepenuhnya berada di pihat Roma.


Usaha-usaha segera dilakukan untuk menangkap semua pengikut Luther di Paris. Seorang pekerja yang miskin pengikut iman yang diperbaharui, yang biasa memanggil orang-orang percaya ke perkumpulan rahasia mereka, telah ditangkap dan diancam dengan hukuman mati di tiang gantungan waktu itu juga, diperintahkan untuk menuntun pesuruh-pesuruh kepausan ke rumah-rumah orang-orang Protestan di kota itu. Ia terkejut mendengar maksud jahat itu, tetapi ketakutan akan nyala api menguasai dirinya, lalu setuju menjadi pengkhianat saudara-saudaranya. Dengan didahului oleh sejumlah besar orang, dan dikelilingi oleh serombongan imam, pembawa dupa, para biarawan dan tentara, Morin, detektif kerajaan bersama pengkhianat, dengan perlahan-lahan dan dengan tenang melalui jalan-jalan kota. Pertunjukan ini adalah pura-pura menghormati "sakramen kudus", suatu pemulihan kepada penghinaan yang dilontarkan para pemrotes kepada upacara misa. Tetapi di balik pertunjukan itu tersembunyi maksud jahat. Pada waktu tiba bertepatan dengan rumah seorang pengikut Luther, pengkhianat itu memberi tanda tanpa berkata apa-apa. Rombongan pawai itu berhenti, rumah itu dimasuki, dan keluarga penghuninya diseret keluar dan dirantai, dan begitulah rombongan manusia kejam itu maju terus mencari mangsanya. Mereka "tidak melewatkan satu rumahpun, besar atau kecil, perguruan tinggi-perguruan tinggi Universitas Parispun tidak . . . . Morin menggoncangkan seluruh kota . . . . Benar-benar suatu teror." -- Idem, b. 4, ch. 10.

Para korban dihukum mati dengan siksaan kejam. Secara khusus diperintahkan agar api dikecilkan untuk memperpanjang penderitaan mereka. Tetapi mereka mati sebagai penakluk atau pemenang. Ketetapan hati mereka tak tergoyahkan, kedamaian mereka tidak dapat ditutupi. Para penganiaya, yang tak mampu menggoyahkan hati mereka, merasa dikalahkan. "Tiang-tiang gantungan dibagikan ke segenap bagian kota Paris, dan pembakaran berlangsung pada hari berikutnya. Tujuannya untuk menyebarkan tempat pelaksanaan hukuman mati itu ialah untuk menteror para bida'ah. Namun, pada akhirnya mendatangkan kemajuan bagi pekabaran Injil. Seluruh Paris dapat melihat manusia yang bagaimanakah yang dihasilkan oleh pandangan baru itu. Tidak ada mimbar seperti tumpukan para syuhada itu. Sukacita yang damai yang menerangi wajah-wajah orang ini sementara mereka melewati . . . ke tempat pelaksanaan hukuman mati, keperkasaan mereka sementara berdiri di tengah-tengah api yang menyala-nyala, kerendahan hati mereka untuk mengampuni sekalipun mereka disakiti, mengubahkan tidak sedikit pada waktu itu kemarahan menjadi belas kasihan, kebencian menjadi kasih sayang, dan kata-kata pembelaan dengan kemahiran berbicara yang tidak bisa disangkal demi kepentingan Injil." -- Wylie, b. 13, ch. 20.

Untuk menjaga kemarahan umum tetap memuncak, imam-imam mengedarkan tuduhan paling keji terhadap Protestan. Mereka dituduh berkomplot mengadakan pembunuhan masal orang-orang Katolik, menggulingkan pemerintahan dan membunuh raja. Tak secercah buktipun yang dapat menguatkan tuduhan itu. Meskipun demikian nubuatan kejahatan ini harus digenapi, tetapi dengan keadaan yang sangat berbeda dan dengan alasan yang sangat bertentangan. Kekejaman yang dilakukan kepada orang-orang Protestan yang tidak bersalah itu oleh orang-orang Katolik semakin memuncak sebagai hukuman dan pembalasan. Dan pada abad-abad selanjutnya terjadi malapetaka yang diramalkan akan terjadi terhadap raja, pemerintahannya dan rakyatnya. Tetapi semuanya itu dilakukan oleh orang-orang kafir dan oleh pengikut kepausan sendiri. Ini tidak berarti pembentukan Protestan, tetapi penindasan, yang tiga abad kemudian mendatangkan malapetaka besar bagi Perancis.

Kecurigaan, ketidak percayaan dan teror sekarang melanda seluruh lapisan masyarakat. Di tengah-tengah ketakutan umum terlihat betapa dalamnya masuk ajaran Lutheran ke dalam pikiran orang-orang yang berpendidikan tinggi, yang berpengaruh dan yang bertabiat baik. Posisi kepercayaan dan kehormatan kosong seketika. Para pekerja, pencetak, kaum cendekiawan, profesi di universitas, pengarang, dan bahkan pegawai tinggi istana, menghilang. Ratusan orang melarikan diri dari Paris, mengasingkan diri dari negerinya. Dalam berbagai kasus hal ini memberikan isyarat pertama bahwa mereka menyukai iman yang dibaharui itu. Para pengikut kepausan memandang mereka dengan kekerasan, memikirkan orang-orang bida'ah yang tidak mereka duga telah diterima di antara mereka. Mereka melampiaskan nafsu kemarahan mereka kepada banyak korban yang lebih rendah yang dalam jangkauan kekuasaan mereka. Penjara-penjara penuh sesak, dan udara tampaknya digelapkan oleh asap pembakaran yang dinyalakan bagi mereka yang mengakui Injil.

Francis I merasa bangga sebagai pemimpin gerakan besar untuk kebangkitan kembali pendidikan yang menandai permulaan abad ke enam belas. Ia bergembira mengumpulkan di istananya para sasterawan dari setiap negeri. Oleh karena kecintaannya kepada pendidikan dan kebenciannya kepada kebodohan dan ketakhyulan para biarawan telah tiba waktunya, paling sedikit sebagian, memberikan tingkat toleransi kepada pembaharuan. Tetapi, diilhami oleh semangat untuk menumpas para bida'ah, pelindung pendidikan ini mengeluarkan sebuah keputusan untuk menghapuskan semua percetakan di seluruh Perancis. Francis I memberikan salah satu dari sekian banyak contoh catatan yang menunjukkan bahwa kebudayaan intelektual bukanlah jaminan yang aman bagi perlawanan terhadap sikap tidak toleran beragama dan penganiayaan.

Perancis merencanakan akan mengadakan satu upacara umum yang khidmat untuk membulatkan tekad melenyapkan Protestantisme sepenuhnya. Imam-imam menuntut, penghinaan yang dilontarkan kepada Surga Yang Mahatinggi dengan mengutuk upacara misa, agar ditebus dengan darah, dan agar raja, atas nama paus, memberikan sanksinya secara terbuka kepada pekerjaan yang menakutkan itu.


Maka ditentukanlah tanggal 21 Januari 1535 tanggal penyelenggaraan upacara itu. Rasa rakut ketakhyulan dan dendam kesumat seluruh bangsa itu telah dibangkitkan. Kota Paris dipadati orang-orang negeri sekitarnya memenuhi jalan-jalannya. Datangnya hari itu disambut dengan sebuah arak-arakan besar yang menakjubkan. "Dari rumah yang ada di sepanjang jalan yang dilalui barisan arak-arakan bergelantungan kain lambang kedukaan, dan mezbah-mezbah dibangun berselang-seling." Di depan setiap pintu ditempatkan sebuah obor yang sedang menyala sebagai tanda penghormatan kepada "upacara kudus" itu. Sebelum matahari terbit, arak-arakan itu telah disiapkan di istana raja. "Di baris depan terdapat bendera-bendera dan salib-salib dari beberapa gereja, kemudian nampak penduduk yang berjalan berdua-dua sambil membawa obor." Kemudian menyusul keempat ordo biarawan, masing-masing dengan pakaian mereka yang khas. Lalu menyusul koleksi benda-benda peninggalan masa lalu. Sesudah ini menyusul rohaniawan dengan jubah merah dan ungu dengan perhiasan permata yang berkilau-kilauan.

"Roti ekaristi dibawa oleh uskup Paris yang ditutupi dengan tudung yang megah, . . . ditopang oleh empat orang pangeran upacara berdarah . . . . Di belakang roti itu berjalan raja . . . . Francis I pada hari itu tidak mengenakan mahkota, atau jubah kenegaraan." Dengan "kepala yang terbuka, matanya melihat ke tanah, dan tangannya memegang lilin yang sedang menyala," raja Perancis itu tampak "seperti seorang berdosa yang bertobat." -- Wylie, b. 13, ch. 21. Di setiap mezbah ia tunduk merendahkan diri, bukan bagi dosa-dosanya yang mencemarkan jiwanya atau darah orang-orang yang tidak bersalah yang mengotori tangannya, tetapi bagi dosa rakyatnya yang berani mencela upacara misa. Dibelakangnya menyusul ratu dan pejabat-pejabat tinggi negara, yang berjalan berdua-dua, masing-masing membawa obor yang menyala.

Sebagai bagian dari upacara hari itu, raja sendiri memberi amanat kepada pejabat-pejabat tinggi kerajaan di ruangan besar istana keuskupan. Dengan muka sedih ia tampil di depan mereka, dan dengan kata-kata yang lancar ia meratap, "kejahatan, penghujatan, hari kedukaan dan memalukan," telah datang menimpa bangsa ini. Dan ia menghimbau semua rakyat yang setia untuk membantu membasmi bida'ah yang mengancam kehancuran Perancis. "Tuan-tuan, sebagaimana sebenarnya saya adalah rajamu," katanya, "jikalau saya tahu salah satu anggota tubuhku diketahui ternoda atau terinfeksi dengan kebusukan, saya akan menyerahkannya kepadamu untuk dipotong . . . . Dan lebih jauh, jika saya melihat salah seorang anak saya tercemar olehnya, saya tidak akan menyayangkannya . . . . Saya akan menyerahkannya dan mengorbankannya kepada Allah." Air matanya menyumbat kata-katanya, dan seluruh hadirin menangis, dan dengan suara bulat berseru, "Kami mau hidup dan mati demi agama Katolik!" -- D'Aubigne, "History of the Reformation in the Time of Calvin," b. 4, ch. 12.

Kengerian menutupi bangsa yang menolak terang kebenaran. "Kasih karunia yang membawa keselamatan" telah tampak; tetapi Perancis, setelah memandang kuasa dan kesuciannya, setelah beribu-ribu orang yang telah ditarik oleh keelokan ilahi, setelah kota-kota dan desa-desa diterangi oleh sinarnya, telah meninggalkan dan memilih kegelapan lebih dari pada terang. Mereka telah menolak karunia Surgawi yang ditawarkan kepada mereka. Mereka telah mengatakan yang jahat itu baik, dan yang baik itu jahat, sampai mereka jatuh menjadi korban penipuan diri sendiri. Sekarang, walaupun mungkin mereka percaya bahwa mereka sedang melakukan pekerjaan Allah dalam menyiksa umat-umat-Nya, namun kesungguh-sungguhan mereka itu tidak membuat mereka tidak bersalah. Mereka telah dengan sengaja menolak terang yang akan menyelamatkan mereka dari penipuan, dari penodaan jiwa mereka dengan dosa penumpahan darah.

Mereka telah bersumpah untuk menumpas bida'ah di katedral yang besar, dimana hampir tiga abad kemudian, "Dewi Pemikir" akan dinobatkan bangsa itu yang telah menolak Allah yang hidup. Sekali lagi arak-arakan dibentuk dan utusn Perancis pergi memulai pekerjaan yang mereka telah bersumpah untuk melakukannya. "Tiang-tiang gantungan didirikan dalam jarak yang berdekatan, tempat membakar hidup-hidup orang-orang Kristen Protestan tertentu. Dan telah diatur, agar tumpukan kayu api dinyalakan pada waktu raja mendekat, dan arak-arakan harus berhenti meyaksikan pelaksanaan hukuman mati itu." -- Wylie, b. 13, ch. 21. Rincian penganiayaan yang ditanggung oleh saksi-saksi Kristus itu terlalu ngeri untuk diceriterakan kembali, tetapi para korban itu sedikitpun tidak goyah. Pada waktu didorong untuk menarik kembali imannya, seseorang justeru berkata, "Saya hanya percaya pada apa yang dahulu dikhotbahkan oleh para nabi dan rasul-rasul, dan apa yang persekutuan semua orang-orang saleh percayai. Imanku percaya pada Allah yang akan melawan semua kuasa neraka." -- D'Aubigne, "History of the Reformation in the Time of Calvin," b. 4, ch. 12.

Berulang-ulang arak-arakan itu berhenti di tempat-tempat penganiayaan. Setelah kembali di istana raja darimana arak-arakan itu dimulai, orang-orang ramai itu membubarkan diri, dan raja serta para pejabat tinggi agama pulang, merasa puas dengan pekerjaan hari itu, dan mengucapkan selamat kepada mereka sendiri, dan bahwa pekerjaan yang sekarang dimulai akan diteruskan sampai selesai pembasmian para bida'ah itu.


Injil perdamaian yang telah ditolak oleh Perancis cepat atau lambat pasti akan tercabut, dan akibatnya sungguh mengerikan. Pada tanggal 21 Januari 1793, dua ratus lima puluh delapan tahun sesudah Perancis bersumpah untuk menganiaya para Pembaharu, arak-arakan lain melintasi jalan-jalan kota Paris, dengan tujuan yang sangat berbeda. "Sekali lagi raja menjadi figur utama. Sekali lagi ada kegaduhan dan teriakan. Sekali lagi terdengar teriakan mencari lebih banyak mangsa atau korban. Sekali lagi ada tiang-tiang gantungan atau panggung. Dan sekali lagi pemandangan hari itu ditutup dengan pelaksanaan hukuman yang mengerikan. Louis XVI, yang berjuang melawan para penjaga penjara dan para pelaksana hukuman, diseret ke tempat pelaksanaan hukuman, dan di sini ia dipegangi dengan kuat sampai kampak dijatuhkan memotong lehernya, dan kepalanya yang sudah terpisah dari badan itu bergulir dari atas panggung pelaksanaan hukuman." -- Wylie, b. 13, ch. 21. Bukan hanya raja yang menjadi korban. Didekat tempat yang sama dua ribu delapan ratus orang anak manusia dibinasakan dengan pisau gulotin (alat pemenggal) selama hari-hari berdarah Pemerintahan Teror itu.

Pembaharuan telah menjanjikan kepada dunia ini Alkitab yang terbuka, membukakan ajaran-ajaran hukum Allah, dan mendorong hati nurani manusia. Kasih yang Takterbatas itu telah membukakan kepada manusia ketetapan-ketetapan dan prinsip-prinsip Surga. Allah telah bersabda, "Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi." (Ulangan 4:6). Pada waktu Perancis menolak karunia Surga, ia menaburkan bibit anarki dan kebinasaan. Dan sebagai sebab dan akibatnya adalah Revolusi dan Pemerintahan Teror.

Lama sebelum penganiayaan dibangkitkan oleh selebaran-selebara itu, Farel, sipemberani dan yang rajin telah melarikan diri dari tanah kelahirannya. Ia pergi ke Swis, dan dengan usahanya ia meneruskan usaha Zwingle. Ia membantu majunya gerakan Pembaharuan. Ia menggunakan waktunya selanjutnya di sini, namun ia terus memberikan pengaruh yang menentukan kepada Pembaharuan di Perancis. Pada tahun pertama pengasingannya, usaha-usaha secara khusus ditujukan kepada peyebaran Injil di tanah airnya. Ia menggunakan banyak waktu berkhotbah kepada teman-teman senegaranya dekat perbatasan, dimana dengan kewaspadaan yang tinggi ia memperhtikan pertentangan itu, dan membantu mereka dengan kata-kata dorongan dan nasihat. Dengan bantuan orang-rang yang diasingkan lainnya, tulisan-tulisan para Pembaharu Jerman diterjemahkan kedalam bahasa Perancis, dan bersama-sam dengan Alkitab bahasa Perancis dicetak dalam jumlah yang besar. Buku-buku atau tulisan-tulisan ini dijual secara luas di Perancis oleh para kolportir. Buku-buku itu dijual dengan harga yang lebih rendah kepada para kolportir, sehingga denga keuntungan pekerjaan mereka sanggup meneruska penyebaran buku-buku itu.

Farel memulai pekerjaannya di Swis dengan menyamar sebagai guru sekolah yang sederhana. Ia pergi ke salah satu gereja yang terpencil, dan di sanalah ia membaktikan dirinya mengajar anak-anak. Selain mata pelajaran yang biasa, dengan hati-hati ia memperkenalkan kebenaran Alkitab, dengan harapan melalui anak-anaknya dapat menjangkau orang-orang tua. Ada beberapa orang yang percaya, tetapi imam-imam segera datang untuk menghentikan kegiatan itu, dan orang-orang yang masih percaya kepada ketakhyulan bangkit menentangnya. "Tidak mungkin ini Injil Kristus," desak para imam, "karena dengan mengkhotbahkannya tidak membawa damai, melainkan perang." -- Wylie, b. 14, ch. 3. Sebagaimana murid-murid yang mula-mula, bilamana dianiaya di suatu kota ia pergi ke kota lain. Dari desa ke desa, dari kota ke kota, ia pergi berjalan kaki menahan lapar, dingin dan keletihan, dan dimana-mana hidupnya terancam bahaya. Ia berkhotbah di pasar-pasar, di gereja-gereja, kadang-kadang di mimbar katedral. Kadang-kadang ia mendapati gereja itu kosong tanpa pendengar. Suatu waktu khotbahnya diganggu dengan teriakan dan cemoohan. Untuk kesekian kalinya ia diseret dengan kasar dari mimbar. Lebih dari sekali ia diserang orang gembel, dan dipukuli hampir mati. Namun, ia terus maju. Walaupun ia sering ditolak, tetapi dengan tidak mengenal lelah ia datang kembali. Ia melihat kota-kota kecil dan besar yang menjadi benteng kepausan, satu persatu membuka pintu gerbangnya bagi kabar Injil. Gereja kecil, dimana ia pertama sekali bekerja, tidak lama kemudian menerima iman yang dibaharui itu. Kota-kota Morat dan Neuchatel juga menolak upacara-upacara Romawi, dan membuangkan patung-patung berhala dari gereja-gereja mereka.

Farel sudah sejak lama ingin menanamkan standar Protestan di Geneva. Jika sekiranya kota ini bisa dimenangkan, kota ini akan menjadi pusat Pembaharuan di Perancis, Swis dan Italia. Dengan pemikiran ini di benaknya, ia meneruskan pekerjaannya, sehingga banyak kota-kota dan desa-desa disekitarnya telah dimenangkan. Kemudian, bersama seorang teman, ia memasuki kota Geneva. Tetapi hanya dua khotbah yang diizinkn dikhotbahkan. Karena gagal berusaha menghukumnya melalui penguasa sipil, imam-imam memanggilnya menghadap majelis rohaniawan. Mereka datang ke majelis itu dengan membawa senjata yang disembunyikan di balik jubahnya. Mereka bermaksud untuk menghabisi nyawanya. Di luar gedung, segerombolan rakyat yang mengamuk dengan membawa pemukul dan pedang telah menanti untuk membunuhnya, jika seandainya ia berhasil melarikan diri dari majelis itu. Akan tetapi, kehadiran para hakim dan tentara di dalam majelis menyelamatkan nyawanya. Besoknya pagi-pagi benar ia bersama temannya dituntun melalui danau ke tempat yang aman. Dengan demikian berakhirlah usahanya yang pertama untuk memberitakan Injil di Geneva.

Pada usaha berikutnya, dipilih alat yang lebih sederhana -- seorang pemuda yang berpenampilan sederhana, sehingga ia disambut dingin bahkan oleh mereka yang mengaku sahabat-sahabat pembaharuan. Tetapi apalah yang bisa dilakukan oleh orang yang seperti itu, dimana Farelpun sudah ditolak? Bagaimanakah mungkin seorang yang kurang berani dan kurang pengalaman dapat menahan topan dimana seorang yang paling berani dan paling kuat sekalipun telah terpaksa melarikan diri? "Bukan dengan keperkasaan, dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman Tuhan semesta alam."( Zakaria 4:6). "Apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan yang kuat." "Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia, dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia." (1 Kor. 1: 27, 25).


Froment memulai pekerjannya sebagai guru sekolah. Kebenaran yang diajarkannya kepada murid-murid di sekolah, diulangi oleh murid-murid itu di rumah mereka. Tidak lama kemudian para orang tua datang untuk mendengarkan Alkitab diterangkan, sehingga ruang kelas penuh dengan pendengar-pendengar yang aktif. Buku Perjanjian Baru dan risalah-risalah dibagikan dengan cuma-cuma, bahkan sampai juga kepada orang-orang yang tidak berani datang dengan terang-terangan untuk mendengarkan ajaran baru itu. Tidak lama kemudian pekerja inipun terpaksa juga melrikan diri. Tetapi kebenaran yang diajarkannya telah mengambil tempat dalam pikiran orang-orang. Pembaharuan (Reformasi) sudah ditanamkan dan terus semakin kuat dan semakin meluas. Para pengkhotbah kembali ke Geneva, dan melalui usaha-usaha mereka akhirnya perbaktian Protestan ditetapkan di Geneva.

Kota itu telah dinyatakan bagi Pembaharuan pada waktu Calvin memasuki pintu gerbangnya, setelah melalui berbagai pengembaraan dan perubahan. Waktu kembali dari kunjungannya yang terakhir ke tempat kelahirannya, ia pergi ke Basel. Ketika didapatinya jalan yang langsung diduduki oleh tentara Charles V, ia terpaks mengambil jalan keliling melalui Geneva.

Dalam kunjungan ini, Farel menyadari pertolongan tangan Allah. Meskipun Geneva telah menerima iman yang dibaharui, namun pekerjaan besar masih harus dilakukan disana. Bukan sebagai masyarakat, tetapi sebagai perorangan orang-orang ditobatkan kepada Allah. Pekerjaan regenerasi atau pembaharuan hidup harus dilaksanakan di dalam hati dan dalam hati nurani seseorang oleh karena kuasa Roh Kudus, bukan oleh dekrit-dekrit konsili. Sementara orang-orang di Geneva telah meninggalkan kekuasaan Roma, mereka belum begitu bersedia untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang tumbuh subur dibawah kekuasaannya. Untuk mendirikan prinsip-prinsip Injil yang murni disini, dan untuk mempersiapkan orang-orang ini mengisi kedudukan mulia kepada mana Allah tampaknya memanggil mereka, bukanlah suatu tugas yang mudah.

Farel yakin bahwa ia telah menemukan Calvin sebagai seorang yang bisa bersatu dengan dia untuk melakukan pekerjaan ini. Dalam nama Allah, ia memohon dengan sungguh-sungguh agar evangelis muda itu tinggal dan bekerja di situ. Calvin mengundurkan diri dengan ketakutan. Sebagai seorang pemalu dan yang cinta damai, ia takut berhubungan dengan orang-orang Geneva yang pemberani, yang bebas, dan bahkan yang mempunyai semangat yang keras. Kesehatannya yang buruk, ditambah dengan kebiasaannya yang rajin belajar, membuat ia mencari tempat untuk mengasingkan diri. Percaya bahwa melalui tulisan-tulisannya ia bisa melayani pekerjaan pembaharuan itu, ia ingin mendapatkan satu tempat retrit yang tenang untuk belajar. Di sana, melalui percetakan, ia mengajar dan membangun gereja-gereja. Tetapi nasihat Farel yang datang kepadanya sebagai satu panggilan dari Surga, ia tidak berani menolaknya. Tampaknya kepadanya, katanya, "bahwa tangan Allah direntangkan dari Surga, dan memegangnya, dan menetapkannya tanpa bisa dibantah ke tempat kemana ia akan pergi." -- D'Aubigne, "History of the Reformatin in the Time of Calvin," b. 9, ch. 17.

Pada waktu ini pekerjaan dan kepentingan Protestan diliputi oleh bahaya besar. Kutukan paus menggeledek terhadap Geneva, dan bangsa-bangsa yang kuat itu mengancam untuk membinasakan. Bagaimana mungkin kota kecil ini dapat menahan hirarki yang begitu kuat yang telah sering memaksa raja-raja dan kaisar-kaisar untuk tunduk? Bagaimana mungkin ia bisa bertahan melawan tentara dari penakluk besar dunia?

Sepanjang sejarah Kekristenan, Protestantisme diancam oleh musuh-musuh yang menakutkan. Kemenangan pertama Pembaharuan berlalu. Roma membentuk pasukan baru, dengan harapan agar dapat membinasakan musuh-musuhnya. Pada waktu ini ordo Yesuit dibentuk, pembela-pembela kepausan yang paling kejam, yang bertindak semaunya dan sangat berkuasa. Mereka terputus dengan ikatan duniawi dan kepentingan manusia, mati terhadap kasih sayang alami. Pertimbangan dan suara hati nurani telah dibungkemkan seluruhnya. Mereka tidak mengenal aturan, tidak ada ikatan, kecuali dengan ordonya sendiri. Dan tidak ada tugas-tugas lain selain yang berhubungan dengan ordonya sendiri. -- Lihat Lampiran. Injil Kristus telah menyanggupkan pengikut-pengikutnya untuk menghadapi bahaya dan menanggung penderitaan, tidak cemas menahan dingin, kelaparan, kerja keras dan kemiskinan, untuk meninggikan panji-panji kebenaran di atas para-para, di penjara bawah tanah dan di atas tiang pembakaran. Untuk melawan kekuatan ini, Yesuitisme mengilhami pengikut-pengikutnya dengan fanatisisme yang menyanggupkan mereka untuk menahan bahaya-bahaya dan menentang kuasa kebenaran dengan segala senjata penipuan. Tidak ada kejahatan yang terlalu besar untuk mereka lakukan, tidak ada penipuan yang terlalu keji merendahkan martabat untuk dilaksanakan, dan tidak ada penyamaran yang terlalu sukar untuk dikerjakan. Berjanji untuk terus menerus miskin dan hina, tujuan pelajaran mereka adalah mengumpulkan harta dan kuasa, dan bertekad untuk menggulingkan Protestantisme, dan mendirikan kembali supremasi kepausan.


Bilamana mereka tampil sebagai anggota ordonya, mereka memakai pakaian jubah kesalehan; mengunjungi penjara-penjara dan rumah-rumah sakit, melayani orang-orang sakit dan orang-orang miskin, mengaku sudah meninggalkan keduniawian, dan membawa nama Yesus yang kudus pergi melakukan kebajikan. Akan tetapi di balik penampilan luar yang tidak bercela ini sering tersembunyi maksud-maksud yang paling jahat dan paling mematikan. Adalah prinsip dasar dari ordo ini bahwa tujuan menghalalkan segala cara. Dengan kode atau prinsip ini, berdusta, mencuri, bersumpah palsu, dan membunuh, bukan saja bisa diampuni, tetapi patut dihargai, bilamana dilaksanakan demi kepentingan gereja. Dengan berbagai penyamaran mereka berhasil menduduki jabatan-jabatan pemerintahan negara, menjadi penasihat raja-raja dan membentuk kebijakan-kebijakan negara. Mereka menjadi hamba untuk memata-matai tuan mereka. Mereka mendirikan perguruan-perguruan tinggi untuk para bangsawan, dan sekolah-sekolah bagi rakyat jelata. Dan anak-anak orangtua pengikut Protestan diharuskan untuk mengikuti upacara-upacara kepausan. Semua kemegahan penampilan luar dan seragam perbaktian Romawi dilakukan untuk membingungkan pikiran dan untuk mempesona dan memikat imaginasi. Dengan demikian kebenaran yang diperjuangkan oleh orangtua dengan susah payah telah dikhianati oleh anak-anak mereka. Dalam wktu yang singkat kaum Yesuit telah menyebar ke seluruh Eropa, dan kemana saja mereka pergi maka kebangkitan kembali kepausan terjadi di tempat itu.

Untuk memberikan wewenang yang lebih besar kepada mereka, maka paus mengeluarkan satu perintah resmi untuk membentuk kembali lembaga Pemeriksaan (Inquisition) (Lihat Lampiran). Walaupun kebencian merajalela dimana-mana mengenai lembaga Pemeriksaan ini, bahkan di negeri-negeri Katolik sendiri, pemeriksaan kembali dibentuk oleh penguasa-penguasa kepausan, dan kekejaman-kekejaman yang sangat mengerikan dilakukan di terang hari, di ulangi kembali dilakukan di penjara-penjara bawah tanah yang dirahasiakan. Di beberapa negera, beribu-ribu bunga bangsa yang paling murni dan paling agung, yang paling intelek dan berpendidikan tinggi, pendeta-pendeta yang saleh dan berdedikasi, warga yang rajin dan patriotik, sarjana-sarjana yang brilian, seniman-seniman berbakat, pekerja-pekerja yang mahir, telah dibunuh atau terpaksa melarikan diri ke negeri lain.

Beginilah cara-cara yang dilakukan oleh Roma untuk memadamkan terang Pembaharuan itu, menarik Alkitab dari tangan orang-orang, mengembalikan kebodohan dan ketakhyulan Zaman Kegelapan. Tetapi dengan berkat-berkat Allah dan dengan kerja keras orang-orang yang mulia, yang telah dibangkitkan oleh Allah untuk menggantikan Luther, Protestantisme tidak bisa digulingkan. Bukan kepada persenjataan para pangeran ia berhutang budi untuk kekuatannya. Negeri yang paling kecil, bangsa yang paling sederhana dan paling lemah kekuatannya, menjadi benteng Pembaharuan. Kota Geneva yang kecil itulah, di tengah-tengah musuh-musuhnya yang perkasa, yang merencanakan kehancurannya; Negeri Belanda sendiri, yang berpantai pasir di laut sebelah Utara, yang berjuang melawan tirani Spanyol, kemudian paling besar dan makmur dari antara kerajaan-kerajaan; Swedia yang suram dan tandus itulah yang memperoleh kemenangan Pembaharuan.

Hampir selama tiga puluh tahun, Calvin bekerja di Geneva. Mula-mula mendirikan gereja yang mengikuti moralitas Alkitab, kemudian untuk memajukan Pembaharuan di seluruh Eropa. Tugasnya sebagai pemimpin masyarakat bukan tanpa kesalahan, bahkan doktrin-dotrinnya bukan tanpa kesalahan. Tetapi ia adalah suatu alat yang sangat penting untuk menyebarluaskan kebenaran pada zamannya, untuk mempertahankan prinsip-prinsip Protestantisme melawan gelombang balik kepausan yang cepat datangnya, dan untuk memajukan kesederhanaan dan kemurnian hidup di dalam gereja-gereja yang telah dibaharui, sebagai gantinya kesombongan dan kebejatan yang berkembang di bawah ajaran-ajaran Roma.

Dari Geneva, bahan-bahan cetakan keluar menyebarkan ajaran-ajaran yang telah dibaharui. Sampai sejauh ini, negeri-negeri yang telah mengalami penganiayaan terus mencari petunjuk, nasihat dan dorongan. Kotanya Calvin menjadi tempat perlindungan bagi para Pembaharu yang terus diburu diseluruh Eropa bagian Barat. Para buronan yang melarikan diri dari badai yang mengerikan, yang berlanjut selama berabad-abad, datang ke Geneva. Dalam keadaan lapar, luka-luka, kehilangan rumah dan keluarga, mereka disambut dan dipelihara dengan baik penuh kelemah-lembutan. Mereka mendapat rumah di sini. Mereka memberkati kota yang telah menerima mereka, dengan kecakapan, ilmu dan kesalehan mereka. Banyak dari mereka yang telah berlindung di sini kembali ke negeri mereka untuk melawan kelaliman Roma. John Knox, Pembaharu Skotlandia yang berani, banyak dari orang-orang Puritan Inggeris, Protestan Negeri Belanda dan Spanyol serta orang-orang Huguenots Perancis, membawa obor kebenaran dari Geneva untuk menerangi kegelapan di negeri mereka masing-masing.


NEGERI BELANDA DAN SKANDINAVIA

~13~
NEGERI BELANDA DAN SKANDINAVIA

 

Di Negeri Belanda, kelaliman kepausan lekas menimbulkan protes. Tujuh ratus tahun sebelum zaman Luther, paus Roma, tanpa takut, dituduh oleh dua orang uskup, yang telah pernah dikirim sebagai duta ke Roma. Mereka telah mengetahui tabiat sebenarnya "Sri Paus" : Allah "telah menjadikan gereja permaisuri-Nya, isterinya, untuk menjadi pemelihara yang agung selama-lamanya bagi keluarganya, dengan maskawin yang tidak akan luntur atau binasa, dan memberikan kepadanya mahkota kekal dan tongkat kekuasaan, . . . yang kesemuanya memberikan keuntungan kepadamu seperti pencuri yang tercegat. Engkau menempatkan dirimu di kaabah seperti Allah; gantinya sebagai gembala engkau telah menjadi serigala kepada domba-domba ; . . . engkau membuat kami percaya bahwa engkau adalah uskup tertinggi, tetapi engkau bahkan bertindak bagaikan seorang lalim. . . . Yang sebenarnya engkau harus menjadi hamba kepada hamba-hamba seperti yang engkau katakan, namun engkau telah berusaha menjadi tuan segala tuan . . . . Engkau membuat perintah-perintah Allah jatuh kepada kehinaan . . . . Roh Kudus adalah pembangun semua gereja sejauh dunia masih terbentang. . . . Kota Allah kita, dimana kita menjadi warganya, meliputi seluruh alam semesta. Kota Allah itu lebih besar dari kota yang disebut nabi-nabi kudus Babylon yang berpura-pura bersifat ilahi, mengangkat dirinya ke langit dan menyombongkan diri bahwa hikmatnya kekal. Dan akhirnya, walaupun tanpa alasan, ia mengaku bahwa ia tidak pernah salah, atau tidak akan pernah salah." -- Brandt, "History of the Reformation in and about the Low Countries," b. 1, p. 6.

Yang lain bangkit menggemakan protes ini dari abad ke abad. Dan guru-guru pada zaman itu, yang menjelajahi berbagai negeri dan dikenal dengan berbagai nama, memenghidupkan tabiat misionaris Vaudois, dan menyebarkan kemana-mana pengetahuan Injil itu, memasuki Negeri Belanda. Ajaran (doktrin) mereka menyebar dengan cepat. Alkitab Waldenses mereka terjemahkan dalam bentuk ayat-ayat kedalam bahasa Belanda. Mereka menyatakan "bahwa ada keuntungan besar di dalamnya. Tak ada lelucon, tidak ada cerita dongeng, tidak ada hal yang sepele, tidak ada kekurangan, tetapi semuanya adalah perkataan kebenaran. Memang benar, di sana sini ada kerak-kerak yang mengeras, tetapi sumsum dan manisnya apa yang baik dan suci dengan mudah bisa ditemukan di dalamnya." -- Brandt, b. 1, p. 14. Demikianlah dituliskan oleh sahabat-sahabat iman zaman kuno pada abad kedua belas.

Sekarang mulailah penganiayaan Romawi. Tetapi di tengah-tengah tumpukan kayu bakar dan penganiayaan, orang-orang percaya terus bertambah. Mereka dengan teguh menyatakan bahwa Alkitab adalah satu-satunya pedoman agama yang tidak bisa salah, dan bahwa "tak seorangpun harus dipaksa untuk mempercayainya, tetapi harus dimenangkan dengan khotbah." -- Martyn, Vol. II, p. 87.

Ajaran Luther mendapat tanah subur di Negeri Belanda. Orang-orang yang sungguh-sungguh dan setia bangkit untuk mengkhotbahkan Injil. Dari salah satu propinsi Negeri Belanda muncullah Menno Simons. Seorang Katolik Roma yang terdidik, dan yang diurapi kepada keimamatan, ia sama sekali masih buta mengenai Alkitab, dan ia tidak akan membacanya, karena takut tertipu menjadi bida'ah. Pada waktu keragu-raguan mengenai doktrin penjelmaan roti dan air anggur menjadi daging dan darah Kristus ("transubstantiation") mengganggu pikirannya, ia menganggapnya sebagai godaan Setan, dan oleh doa dan pengakuan ia berusaha membebaskan diri dari gangguan itu, tetapi sia-sia. Dengan hidup boros ia berusaha untuk mendiamkan suara hati nuraninya yang mengganggunya. Namun tanpa hasil apa-apa. Setelah beberapa waktu lamanya ia dituntun untuk mempelajari buku Perjanjian Baru. Dan buku ini bersama-sama dengan tulisan-tulisan Luther membuat ia menerima iman yang diperbaharui. Segera sesudah itu ia menyaksikan di kampung yang berdekatan pemenggalan kepala seseorang yang dihukum mati oleh karena dibaptiskan ulang. Hal ini menuntunnya mempelajari mengenai baptisan bayi. Ia sama sekali tidak menemukan bukti-bukti di dalam Alkitab mengenai hal ini, tetapi menemukan bahwa pertobatan dan imanlah sebagai syarat untuk menerima baptisan.


Menno mengundurkan diri dari Gereja Roma, dan membaktikan hidupnya kepada pengajaran kebenaran yang telah diterimanya. Suatu golongan orang-orang fanatik telah bangkit, baik di Negeri Belanda maupun di Jerman, yang menganjurkan ajaran-ajaran yang tidak masuk akal dan yang menghasut, melanggar hukum dan kesopanan, dan menimbulkan kekerasan dan pemberontakan serta huruhara. Menno melihat akibat yang mengerikan yang diakibatkan oleh gerakan ini, dan dengan keras ia menentang ajaran-ajaran yang salah dan rencana-rencana liar golongan fanatik itu. Namun, banyak orang yang telah disesatkan oleh kaum fanatik ini, telah meninggalkan ajaran-ajaran sesatnya. Masih ada tinggal beberapa keturunan orang Kristen purba, buah-buah dari pengajaran Waldenses. Menno bekerja dengan bersemangat dan berhasil di antara golongan-golongan ini. Selama dua puluh lima tahun ia bersama isterinya dan anak-anaknya mengembara menanggung kesulitan besar, pengucilan, dan sering yang membahayakan nyawanya. Ia menjelajahi Negeri Belanda dan Jerman bagian Utara, terutama bekerja di antara golongan-golongan rakyat biasa, namun berusaha menyebar-luaskan pengaruhnya. Secara alamiah ia pandai berbicara. Meskipun mempunyai pendidikan yang terbatas, ia mempunyai integritas yang tidak goyang, mempunyai kerendahan hati dan tabiat yang lemah lembut, dan seorang yang tulus dan saleh yang sungguh-sungguh, sehingga nyata dalam hidupnya semua jaran-ajaran yang diajarkannya, dan membawa rasa keyakinan orang orang banyak. Pengikut-pengikutnya tersebar, berpencar dimana-mana, dan ditindas. Mereka sangat menderita oleh karena disamakan dengan pengikut-pengikut Munster yang fanatik. Tetapi banyak sekali yang bertobat atas usahanya.

Doktrin yang dibaharui itu lebih banyak diterima di Negeri Belanda daripada dimanapun. Di beberapa negara pengikut-pengikutnya mengalami penganiayaan yang mengerikan. Di Jerman, Charles V telah melarang Pembaharuan, dan dengan gembira membunuh pengikut-pengikutnya di tiang pembakaran. Tetapi para pangeran berdiri sebagai penghalang melawan kelalimannya. Di Negeri Belanda kuasanya lebih besar lagi, dan dekrit penganiayaan dikeluarkan susul menyusul dengan cepat. Membaca Alkitab, mendengarkannya atau mengajarkannya, atau bahkan berbicara mengenai itu akan mendatangkan hukuman mati di atas tiang pembakaran. Berdoa kepada Allah di tempat tersembunyi, tidak menyembah patung, atau menyanyikan nyanyian Mazmur juga bisa dihukum mati. Bahkan mereka yang menyangkal kesalahannya juga dipersalahkan. Jika laki-laki, dibunuh dengan pedang, dan jika wanita, dikubur hidup-hidup. Ribuan orang binasa dibawah pemerintahan Charles dan Philip II.

Pada suatu waktu seluruh anggota suatu keluarga dibawa kehadapan pemeriksa, dituduh menghindari upacara misa, dan berbakti di rumah. Pada pemeriksaan ini, yang biasanya dilakukan dengan rahasia, anak yang paling muda menjawab, "Kami bertelut berdoa, kiranya Allah menerangi pikiran kami dan mengampuni dosa-dosa kami. Kami berdoa bagi pemerintah kami, kiranya pemerintahannya makmur, sejahtera dan hidupnya berbahagia. Kami berdoa bagi hakim-hakim kami, semoga Allah melindunginya." -- Wylie, b. 18, ch. 6. Sebagian dari para hakim yang mendengarnya sangat terkesan, namun sang ayah dan seorang dari anak-anaknya dihukum mati di tiang pembakaran.

Kemarahan para penganiaya diimbangi iman para syuhada. Bukan hanya para lelaki, tetapi jga perempuan cantik yang lemah lembut dan wanita-wanita muda menunjukkan keberanian yang pantang mundur. "Para isteri berdiri di samping tiang pembakaran suaminya, dan sementara suami menahan api yang membakarnya, mereka membisikkan kata-kata penghiburan, atau menyanyikan lagu-lagu pujian untuk memberi semangat." "Wanita-wanita muda memasuki lubang kubur mereka seolah-olah mereka memasuki kamar mereka pada waktu mau tidur malam, atau pergi ke tempat pembakaran dengan memakai pakaian terbagusnya seolah-olah mereka mau pergi ke pesta pernikahannya." -- Wylie, b. 18, ch. 6.

Seperti pada waktu kekafiran berusaha membinasakan Injil, darah orang-orang Kristen itu menjadi benih kabar Injil." -- Lihat Tertullian's "Apology," par. 50. Penganiayaan menambah jumlah orang-orang yang bersaksi bagi kebenaran. Tahun demi tahun raja semakin gusar oleh tekad orang-orang yang tak terdundukkan itu, lalu berusaha meningkatkan usaha-usaha kejamnya, tetapi hasilnya sia-sia. Di bawah William dari Orange, akhirnya Revolusi membawa kebebasan beribadat kepada Allah bagi Negeri Belanda.

Di pegunungan Piedmont, di dataran Perancis dan pantai-pantai Negeri Belanda, kemajuan pekabaran Injil ditandai dengan pertumpahan-pertumpahan darah murid-murid Injil. Tetapi di negeri-negeri di sebelah Utara, Injil itu masuk dengan aman. Mahasiswa-mahasiswa dari Wittenberg, yang kembali ke kampung halamannya, membawa iman yang dibaharui itu ke Skandinavia. Penerbitan tulisan-tulisan Luther juga menyebarkan terang kebenaran itu. Orang-orang Utara yang sederhana dan keras berbalik dari kebejatan, kemegahan dan ketakhyulan Roma, dan menyambut kemurnian, kesederhanaan dan kebenaran yang memberi kehidupan Alkitab.

Tausen, "Sang Pembaharu Denmark," adalah anak seorang petani. Sejak kecil ia sudah menunjukkan intelektual yang keras. Ia haus akan pendidikan, tetapi keinginannya ini tidak bisa terpenuhi oleh karena keadaan orang tuanya. Kemudian ia memasuki sebuah biara. Di sini, kemurnian hidupnya bersama-sama dengan kemajuannya dan kesetiaannya menjadikannya disenangi oleh atasannya. Ujian menunjukkan bahwa ia mempunyai bakat yang menjanjikan pelayanan yang baik bagi gereja di masa yang akan datang. Diputuskan untuk menyekolahkannya di salah satu universitas di Jerman atau di Nederland. Pemuda ini diizinkan memilih sendiri sekolah yang ia sukai dengan satu syarat, bahwa ia tidak boleh pergi ke Wittenberg. Sarjana-sarjana gereja tidak boleh dipengaruhi dengan racun bida'ah. Demikianlah kata para biarawan itu.

Tausen pergi ke Cologne, yang kemudian, sebagaimana sekarang, menjadi salah satu benteng pertahanan Romanisme. Di sini ia segera muak dengan ilmu mistik para pengajar. Kira-kira pada waktu yang sama ia mendapat tulisan-tulisan Luther. Ia membacanya dengan kagum dan dengan senang. Dan dengan kerinduan yang besar ingin menikmati pengajaran pribadi Pembaharu itu. Tetapi dengan berbuat demikian ia harus siap menanggung risiko melawan atasan biaranya, dan kehilangan dukungannya. Ia segera membuat keputusan. Dan tidak lama sesudah itu ia mendaftarkan diri menjadi mahasiswa di Wittenberg.


Sekembalinya ke Denmark, kembali ia pergi ke biaranya. Tak seorangpun yang menduga bahwa ia adalah pengikut Lutheranisme. Ia tidak membukakan rahasianya, tetapi berusaha menuntun orang-orang kepada iman yang lebih murni dan kehidupan yang lebih suci tanpa menimbulkan prasangka buruk teman-temannya. Ia membuka Alkitab, dan menjelaskan artinya yang sebenarnya; dan akhirnya mengajarkan Kristus kepada mereka sebagai kebenaran bagi orang-orang berdosa, dan satu-satunya harapan keselamatan. Kepala biara sangat marah kepadanya. Ia telah mengharapkannya sebagai seorang pembela Roma yang berani. Ia segera dipindahkan dari biaranya ke biara yang lain, dan dimasukkan ke dalam kamar tahanan dengan pengawasan ketat.

Para pengawalnya yang baru ketakutan karena beberapa biarawan segera menyatakan mereka bertobat kepada Protestantisme. Melalui terali-terali ruang tahanannya Tausen berkomunikasi kepada teman-temannya mengenai pengetahuan kebenaran.

Seandainya para pater Denmark cakap dalam perencanaan gereja mengenai penanganan para bida'ah, maka suara Tausen tidak akan pernah lagi kedengaran.Tetapi sebagai gantinya mengirim dia kedalam penjara di bawah tanah, mereka mengeluarkannya dari biara. Sekarang mereka menjadi tidak berdaya. Dekrit kerajaan baru saja dikeluarkan, yang memberi perlindungan kepada guru-guru doktrin baru. Tausen mulai berkhotbah. Gereja-gereja terbuka baginya, dan orang-orangpun berduyun-duyun datang mendengarkannya. Yang lain juga mengkhotbahkan firman Allah. Alkitab Perjanjian Baru yang diterjemahkan kedalam bahasa Denmark, diedarkan secara luas. Usaha-usaha yang dilakukan oleh para pengikut paus untuk menghancurkan pekerjaan itu, justru meluaskannya. Tidak berapa lama kemudian Denmark menyatakan menerima iman yang dibaharui itu.

Juga di Swedia, para pemuda yang telah meminum air dari sumur Wittenberg membawa air hidup itu ke negeri mereka dan memberikannya kepada orang-orang di negerinya. Dua orang pemimpin Pembaharuan Swedia, Olaf dan Laurentius Petri, anak-anak seorang pandai besi dari Orebro, belajar dari Luther dan Melanchthon. Dan kebenaran yang mereka telah plajari, mereka ajarkan dengan rajin. Sebagaimana Pembaharu besar itu, Olaf membangunkan orang-orang oleh semangatnya dan kemahirannya berbicara, sementara Lurentius, seperti Melanchthon, adalah orang yang terpelajar, penuh pikiran dan tenang. Keduanya adalah orang-orang saleh yang giat, yang mempunyai pencapaian teologi yang tinggi, dan yang mempunyai keberanian yang sangat, dalam memajukan kebenaran. Oposisi para pengikut paus tidak berkurang. Imam-imam Katolik menggerakkan orang-orang bodoh dan penganut ketakhyulan. Olaf Petri sering diserang oleh orang banyak, dan dalam beberapa kejadian hampir-hampir tidak dapat menyelamatkan jiwanya. Akan tetapi para Pembaharu itu sebenarnya disukai dan dilindungi oleh raja.

Dibawah kekuasaan Gereja Roma, rakyat tenggelam dalam kemiskinan, dan dihempas oleh penindasan. Mereka buta akan Alkitab, dan agama mereka hanya sekedar tanda-tanda dan upacara-upacara yang tidak membawa terang ke dalam pikiran. Mereka kembali kepada kepercayaan ketakhyulan dan praktek-praktek kekafiran nenek moyang mereka. Bangsa ini terbagi kedalam dua bagian yang bersaing satu sma lain. Dan permusuhan mereka itu menambah penderitaan semua orang. Raja bermaksud untuk mengadakan pembaharuan di dalam negara dan gereja, dan ia menyambut para pembantu yang berkemampuan ini dalam melawan Roma.

Di hadapan raja dan orang-orang terkemuka Swedia, Olaf Petri dengan kemampuan besar mempertahnkan ajaran-ajaran iman yang diperbaharui itu melawan jago-jago Romawi. Ia menyatakan bahwa pengajaran para Pater (Padri) diterima hanya kalau itu sesuai dengan Alkitab. Bahwa doktrin-doktrin penting mengenai iman disajikan di dalam Alkitab dengan cara yang jelas dan sederhana, sehingga semua orang bisa mengerti. Kristus berkata, "Ajaranku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku." ( Yohanes 7:16). Dan Rasul Paulus menyatakan bahwa kalau ia memberitakan Injil yang lain selain dari yang ia sudah terima, terkutuklah dia (Galatia 1:8).

"Jadi, bagaimana sekarang," kata Pembaharu itu, "orang-orang lain harus menganggap menampilkan dogma dengan sesuka hati, dan memberlakukannya sebagai sesuatu yang perlu bagi keselamatan?" -- Wylie, b. 10, ch. 4. Ia menunjukkan bahwa dekrit gereja tidak berwenang jikalau bertentangan dengan perinta-perintah Allah, dan mempertahankan prinsip-prinsip Protestan yang utama, bahwa "hanya Alkitab saja satu-satunya" peraturan dan ukuran iman dan perbuatan.


Kontes ini, walaupun dilakukan dengan keadaan yang samar-samar, menunjukkan kepada kita "jenis orang-orang yang membentuk lapisan dan barisan prajurit para Pembaharu. Mereka tidak buta huruf, tidak pendukung sesuatu sekte, dan bukan penentang-penentang yang suka ribut -- jauh dari itu. Mereka adalah orang-orang yang telah mempelajari firman Allah, dan mengetahui benar bagaimana menggunakan senjata yang diberikan oleh Alkitab. Dalam hal pengetahuan, mereka telah mendahului zamannya. Bilamana kita memusatkan perhatian kita kepada pusat-pusat mengagumkan seperti Wittenberg dan Zurich, dan kepada nama-nama seperti Luther dan Melanchthon, Zwingle dan Oecolampadius, kita cenderung mengetahui bahwa mereka-mereka inilah pemimpin pergerakan itu, dan sewajarnyalah kita mengharapkan adanya kuasa luar biasa dan kemahiran yang luas pada mereka. Tetapi tidak demikian dengan bawahan mereka. Baiklah kita memandang kepada gedung kesenian yang tidak terkenal di Swedia, dengan nama-nama sederhana Olaf dan Laurentius Petri -- mulai dari guru-guru sampai kepada murid-murid -- apakah yang kita dapati? . . . . Para sarjana dan pakar-pakar teologia. Orang-orang yang telah menguasai seluruh sistem kebenaran Injil, dan yang telah memperoleh kemenangan dengan mudah atas orang-orang yang pandai memutar-balikkan argumentasi di sekolah-sekolah dan pemuka-pemuka Roma." -- Wylie, b. 10, ch. 4.

Sebagai akibat dari perdebatan ini, raja Swedia menerima iman Protestan, dan tidak lama kemudian majelis nasional menyatakan dukungannya. Alkitab Perjanjian Baru diterjenahkan ke dalam bahasa Swedia oleh Olaf Petri, dan raja ingin kedua bersaudara itu menerjemahkan seluruh Alkitab. Dengan demikian untuk pertama kalinya rakyat Swedia menerima firman Allah dalam bahasa mereka sendiri. Dewan Perwakilan Rakyat memerintahkan agar diseluruh kerajaan itu para pendeta menerangkan Alkitab, dan agar anak-anak di sekolah-sekolah di ajar untuk membaca Alkitab.

Dengan tetap dan pasti kegelapan kebodohan dan ketakhyulan diusir oleh terang Injil. Bangsa itu mengalami kemajuan dan kebesaran yang belum pernah dialami sebelumnya, setelah dibebaskan dari penindasan Romawi. Swedia menjadi salah satu benteng pertahanan Protestanisme. Seabad kemudian, pada waktu bahaya yang paling sengit, bangsa yang kecil dan lemah ini -- satu-satunya di Eropa yang berani memberikan pertolongan -- membantu melepaskan Jerman dari Perang Tigapuluh Tahun yang sengit. Tampaknya semua negara Eropa bagian Utara akan kembali berada di bawah kelaliman Roma. Tentara Swedialah yang menyanggupkan Jerman untuk mengalahkan kepausan, untuk memenangkan toleransi bagi kaum Protestan -- pengikut-pengikut Calvin maupun Luther -- dan mengembalikan kebebasan hati nurani Pembaharuan.


PARA PEMBAHARU INGGRIS YG MUNCUL

~14~
PARA PEMBAHARU INGGRIS YANG MUNCUL KEMUDIAN

 

Sementara Luther telah membuka Alkitab yang tertutup bagi orang Jerman, Tyndale telah didorong oleh Roh Allah untuk melakukan hal yang sama bagi orang Inggeris. Alkitab Wycliffe telah diterjemahkan dari bahasa Latin, yang berisi banyak kesalahan. Buku itu tidak pernah dicetak, dan harga naskah-naskahnya sangat mahal, sehingga hanya sedikit orang-orang kaya atau bangsawan yang dapat memilikinya. Lebih jauh, sirkulasi peredarannya terbatas, karena dilarang oleh gereja. Pada tahun 1516, setahun sebelum munculnya tesis Luther, Erasmus telah menerbitkan Perjanjian Baru edisi Yunani dan Latin. Sekarang untuk pertama alinya firman Allah dicetak dalam bahasa aslinya Dalam cetakan ini kesalahan-kesalahan yang banyak terdapat pada versi-versi sebelumnya diperbaiki, dan artinya lebih diperjelas. Buku ini menuntun golongan kaum terpelajar untuk mengetahui kebenaran itu lebih baik, dan memberikan dorongan baru bagi pekerjaan pembaharuan. Tetapi orang-orang biasa masih terhalang dari firman Allah. Tyndale meneruskan usaha Wycliffe untuk memberikan Alkitab kepada bangsanya.

Sebagi seorang mahasiswa dan pencari kebenaran yang sungguh-sungguh, ia telah menerima Injil dari buku Perjanjian Baru bahasa Jerman, terjemahan Erasmus. Ia mengkhotbahkan keyakinannya tanpa takut, dan mengajak agar semua doktrin diuji dengan Alkitab. Terhadap tuntutan pengikut paus yang mengatakatn bahwa gereja telah memberikan Alkitab dan gereja sendirilah yang boleh menerangkannya, Tyndale memberikan tanggapannya, "Tahukah kamu siapa yang mengajar burung elang menemukan mangsanya? Ya, Allah yang sama mengajar anak-anak-Nya yang lapar untuk menemukan Bapa mereka di dalam Firman-Nya. Alkitab tidak pernah diberikan kepada kami, bahkan kamu sendirilah yang telah menyembunyikan Alkitab itu dari kami. Kamulah yang membakar mereka yang mengajarkannya, dan kalau kamu dapat, kamu akan membakar Alkitab itu sendiri." -- D'Aubigne, b. 18, ch. 4.

Penajaran Tyndale membangkitkan minat besar orang-orang. Banyak yang menerima kebenaran. Tetapi imam-imam berjaga-jaga. Segera setelah Tyndale meninggalkan tempat itu, mereka berusaha memusnahkan pekerjaan itu dengan ancaman-ancaman dan tafsiran-tafsiran yang salah. Sering-sering mereka berhasil. "Apakah yang harus dilakukan?" serunya. "Sementara saya menabur di suatu tempat, musuh-musuh merusakkan ladang-ladang yang baru saja saya tinggalkan. Saya tidak bisa berada dimana-mana. Oh, jika seandainya orang-orang Kristen memiliki Alkitab dalam bahasanya sendiri, mereka akan dapat bertahan terhadap pemutar-balikan ini. Tanpa Alkitab tidak mungkin memantapkan anggota awam dalam kebenaran." -- Idem, b. 6, ch. 4.

Sekarang ia mempunyai gagasan baru dalam pikirannya. "Nyanyian mazmur dinyanyikan di kaabah Yehovah dalam bahasa Israel", katanya. "Bukankah seharusnya kabar Injil itu disampaikan dalam bahasa Inggeris di lingkungan kita sendiri? . . . Haruskah gereja mempunyai terang yang kurang di tengah hari daripada waktu fajar? . . . Orang-orang Kisten harus membaca Alkitab Perjanjian Baru dalam bahasa mereka sendiri." Para doktor dan guru gereja saling tidak setuju. Hanya oleh Alktab orang-orang sampai kepada kebenaran. "Seorang berpegang kepada doktor ini, yang lain kepada yang itu . . . . Sekarang masing-masing pengarang saling bertentangan. Jadi, bgaimanakah kita bisa membedakan dia yang mengatakan benar dari dia yang mengatakan salah? . . . Bagaimana? . . . Sesungguhnya hanya oleh firman Allah." -- Idem, b. 18, ch. 4.

Tidak lama sesudah itu seorang doktor Katolik yang terlibat suatu pertentangan dengan Tyndale, berseru, "Lebih baik kita tanpa hukum Allah daripada tanpa hukum paus." Tyndale menjawab, "Saya menentang paus dan semua hukum-hukumnya. Dan jikalau Allah memelihara hidupku, dalam beberapa tahun saya akan membuat seorang anak yang kerjanya membajak mengerti lebih banyak Alkitab daripada kamu." -- Anderson, "Annals of English Bible," p. 19, (rev. ed. 1862).

Tujuan untuk memberikan Perjanjian Baru kepada rakyat dalam bahasa mereka sendiri, sekarang sudah dipastikan. Ia segera bekerja. Ia pergi ke London, karena diusir oleh penganiayaan dari musuh-musuhnya. Dan di sini untuk sementara ia melakukan tugasnya tanpa gangguan. Tetapi sekali lagi, kekuasaan para pengikut paus memaksanya melarikan diri. Kelihatannya seluruh Inggeris tertutup baginya. Ia memutuskan untuk mencari perlindungan di Jerman. Di sini ia mulai mencetak Alkitab Perjanjian Baru bahasa Inggeris. Dua kali pekerjaan itu dihentikan. Tetapi bilamana dilarang mencetak di suatu kota, ia pergi ke kota lain. Akhirnya ia pergi ke Worms, dimana beberapa tahun sebelumnya, Luther mempertahankan kabar Injil dihadapan Mahkamah (Diet). Dalam kota lama ini banyak sahabat-sahabat Pembaharuan, dan di sini Tyndale meneruskan pekerjaannya tanpa hambatatan lebih jauh. Tiga ribu buah Alkitab Perjanjian Baru segera diselesaikan, dan edisi lain menyusul pada tahun itu juga.


Dengan kesungguh-sungguhan yang besar dan kesabaran, ia meneruskan pekerjaannya. Walaupun penguasa Inggeris telah mengawasi pelabuhan-pelabuhannya dengan ketat, firman Allah dikirimkan ke London dengan berbagai cara rahasia dan disebarkan di seluruh negeri. Para pengikut paus berusaha menindas kebenaran itu, tetapi sia-sia saja. Uskup dari Durham pada suatu waktu membeli seluruh Alkitab dari seorang penjual buku, yang adalah teman Tyndale, dengan maksud untuk membinasakan Alkitab tersebut. Dengan demikian ia mengira dapat menghalangi pekerjaan penyebaran kebenaran itu. Tetapi sebaliknya, uang yang diperoleh digunakan untuk membeli bahan untuk mencetak edisi baru dan yang lebih baik, yang tanpa uang itu tak mungkin bisa diterbitkan. Pada waktu kemudian Tyndale ditahan, ia boleh dibebaskan dengan satu syarat bahwa ia harus memberitahukan nama-nama orang yang telah menolongnya membiayai pencetakan Alkitabnya. Ia mengatakan bahwa uskup dari Durham telah membantu melebihi dari orang-orang lain, karena dengan membeli seluruh stok buku-buku yang tersisa telah menyanggupkannya meneruskan pencetakan itu.

Tyndale dikhianati dan diserahkan ke tangan musuh-musuhnya, dan pada suatu ketika dipenjarakan selama delapan bulan. Akhirnya ia menyaksikan imannya dengan mati syahid. Tetapi senjata yang telah disediakannya telah menyanggupkan para pejuang lain meneruskan perjuangan sepanjang abad-abad berikutnya, bahkan sampai ke zaman kita.

Latimer mempertahankan dari mimbar bahwa Alkitab harus dapat dibaca orang-orang dalam bahasanya sendiri. "Pengarang Alkitab yang suci itu," katanya, "adalah Allah sendiri," dan Alkitab itu memiliki kuasa dan keabadian Pengarangnya. "Semua raja, kaisar, hakim dan penguasa . . . harus menuruti

. . . firman-Nya yang kudus." Janganlah kita menyimpang, biarlah firman Allah menuntun kita. Janganlah kita mengikuti . . . nenek moyang kita, atau melakukan apa yang telah mereka lakukan, tetapi melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan." -- Latimer, "First Sermon Preached before King Edward VI." (ed. Parker Sciety).

Barnes dan Frith sahabat-sahabat setia Tyndale, bangkit mempertahankan kebenaran. Diikuti oleh keluarga Ridley dan Cranmer. Pemimpin-peimpin Pembaharuan Inggeris ini adalah orang-orang terpelajar, dan kebanyakan mereka sangat dihormati oleh karena semangat dan kesalehan mereka dalam persekutuan Romawi. Mereka menentang kepausan oleh karena mengetahui kesalahan-kesalahan "bapa suci," Sri Paus. Pengetahuan mereka mengenai rahasia-rahasia Baylon memberikan kuasa yang lebih besar kepada kesaksian mereka menentangnya.

"Sekarang saya mau menanyakan pertanyaan aneh," kata Latimer. "Siapakah uskup dan pejabat tinggi gereja yang paling rajin di Inggeris? . . . Saya melihat Anda mendengarkan dan memperhatikan, mengharapkan saya menyebutkan namanya, . . . Saya akan katakan kepadamu, dia adalah Setan. . . . Ia tidak pernah keluar dari daerah keuskupannya; . . . panggillah dia bilamana engkau mau, ia selalu ada di rumah; . . . ia selalu membajak, . . . Engkau tidak akan pernah melihat dia bermalas-malas, saya jamin . . . . Dimana Setan itu tinggal, . . . di sana buku-buku disingkirkan dan lilin-lilin dinyalakan. Alkitab disingkirkan, dan tasbih atau manik-manik dihitung. Terang kabar Injil disingkirkan, dan lilin-lilin dinyalakan, ya, pada tengah hari; . . . salib Kristus dirubuhkan, dan dompet api penyucian ditinggikan. Tidak perlu memberi pakaian kepada orang yang bertelanjang, orang yang miskin dan yang lemah, tetapi mendirikan patung-patung dan menghiasi gemerlapan kaus kaki dengan batu-batu berharga. Meninggikan tradisi-tradisi mausia dan hukum-hukumnya. Tetapi merendahkan tradisi Allah dan firman-Nya yang Mahakudus. . . . Oh, kalau saja pejabat-pejabat tinggi gereja kita menaburkan bibit doktrin yang baik serajin Setan menaburkan kerang dan lalang!" -- Latimer, "Sermon of the Plough,"

Prinsip agung yang dipertahankan oleh para Pembaharu ini ialah wewenang Alkitab yang tidak bisa salah sebagai ukuran iman dan perbuatan, sebagaimana yang juga dipegang oleh orang-orang Waldenses, oleh Wycliffe, John Huss, Luther, Zwingle dan orangoranga yang bergabung dengan mereka. Mereka menolak hak paus, konsili, Paters, dan raja-raja, untuk mengendalikan hati nurani dalam masalah-masalah agama. Alkitab adalah otoritas mereka, dan dengan pengajarannya mereka menguji semua doktrin dan tuntutan. Percaya pada Allah dan firman-Nya memelihara orang-orang saleh ini pada waktu mereka menyerahkan hidup mereka di tiang pembakaran. 'Terhiburlah," seru Latimer kepada rekan-rekan syuhadanya sementara api sudah hampir membungkan suara mereka, "karena pada hari ini kita menyalakan lilin di Inggeris, oleh kasih karunia Allah yang saya yakin tidak akan pernah bisa dipadamkan." -- "Works of Hugh Latimer," Vol. I, p. xiii (ed. Parker Society).

Dis Scotlandia bibit kebenaran yang ditaburkan oleh Columba dan rekan sekerjanya tidak pernah seluruhnya dibinasakan. Ratusan tahun sesudah gereja-gereja Inggeris menyerah kepada kekuasaan Roma, gereja-gereja di Scotlandia tetap mempertahankan kemerdekaan. Namun, pada abad ke dua belas, kepausan berdiri disini, dan menjalankan kekuasaan sewenang-wenang yang lebih dibandingkan di negara-negara lain. Dimana-mana keadaan semakin gelap. Tetapi masih ada seberkas sinar terang yang menembusi kekelaman, yang menjanjikan fajar yang akan menyingsing. Keluarga Lollards yang datang dari Inggeris dengan Alkitab dan ajaran-ajaran Wycliffe, berbuat banyak untuk memelihara pengetahuan akan kabar Injil. Dan pada setiap zaman mempunyai para saksinya dan para syuhadanya.

Dengan dimulainya Pembaharuan Besar, datanglah tulisan-tulisan Luther dan Alkitab Perjanjian Baru bahasa Inggeris Tyndale. Tanpa disadari oleh hirarki, jurukabar-jurukabar ini menjelajahi bukit-bukit dan lembah-lembah, menyalakan kembali obor kebenaran yang hampir padam di Skotlandia, dan meruntuhkan pekerjaan yang telah dilakukan oleh Roma selama empat abad penindasan.


Kemudin darah para syuhada itu memberikan dorongan segar kepada pergerakan. Para pemimpin pengikut kepausan, tiba-tiba bangkit karena menyadari bahaya yang mengancam kepentingan mereka, dan membawa ke tiang pembakaran putra-putra terbaik dan terhormat Skotlandia. Mereka mendirikan mimbar, dari mana kata-kata perpisahan para saksi yang mau mati ini diperdengarkan ke seluruh megeri, menggetarkan jiwa orang-orang dengan tujuan yang tidak pernah mati untuk melepaskan belenggu Roma.

Hamilton dan Wishart, yang mempunyai tabiat dan kelahiran bangsawan, dengan barisan panjang murid-murid yang lebih sederhana, menyerahkan hidup mereka di tiang pembakaran. Tetapi dari api yang berkobar-kobar membakar Wishart muncul seorang yang tidak bisa didiamkan oleh nyala api, seorang yang dengan pertolongan Allah memukul lonceng kematian kepausan di Skotlandia.

John Knox telah beralih dari tradisi dan ketakhyulan gereja dan mengecap kebenaran firmn Allah. Dan ajaran Wishart telah memastikan keputusannya untuk memutuskan persekutuannya dengan Roma, dan menggabungkan diri dengan para Pembaharu yang dianiaya itu.

Ia dibujuk oleh sahabat-sahabatnya untuk menjadi seorang pengkhotbah, tetapi ia menolak dengan takut, mengingat akan tanggungjawabnya. Hanya setelah menyendiri beberapa hari dan bergumul keras dengan dirinya sendiri ia akhirnya setuju. Tetapi sekali ia menerima jabatan itu, ia maju terus dengan tekad yang tidak goyah dan keberanian yang tidak gentar sepanjang umur hidupnya. Pembaharu yang berhati jujur ini tidak takut kepada manusia. Api mati syahid yang berkobar disekitarnya hanya untuk membangkitkan semangatnya untuk bekerja dengan lebih intensif. Dengan kampak kelaliman mengancam di atas kepalanya, ia berdiri teguh memukul dengan kuat ke kiri dan ke kanan untuk menghancurkan penyembahan berhala.

Ketika ia dibawa berhadapan muka dengan muka dengan ratu Skotlandia, John Knox memberikan kesaksian mengenai kebenaran dengan gagah berani. Di hadapan ratu Skotlandia banyaklah pemimpin Protestan yang kalah semangat. Ia tidak bisa dimenangkan dengan bujuk rayu, ia tidak takut ancaman-ancaman. Ratu menuduhnya dengan tuduhan bida'ah. Ia telah mengajar orang-orang menerima agama yang dilarang oleh negara, kata ratu, dan dengan demikian melanggar perintah Allah yang menyuruh rakyat menuruti raja. Knox menjawab dengan tegas,

"Oleh karena agama yang benar tidak mendapatkan kekuatan azasinya atau wewenangnya dari raja-raja dunia, tetapi hanya dari Allah yang kekal, maka rakyat tidak terikat untuk menjalankan agamanya sesuai dengan selera raja mereka. Karena sering bahwa rajalah yang paling bodoh dari semua orang mengenai agama Allah yang benar . . . . Jika semua benih Abraham menuruti agama Firaun, yang telah lama memerintah mereka, saya memohon, Sri Ratu, agama apakah yang akan ada di atas dunia ini? Atau jikalau semua manusia pada zaman rasul-rasul menuruti agama kaisar-kaisar Roma, agama apakah yang akan terdapat di muka bumi ini? . . . Jadi, Sri Ratu dapat melihat, bahwa rakyat tidak terikat kepada agama raja-raja mereka, walaupun mereka diperintahkan untuk menuruti raja-raja mereka."

Ratu Mary berkata, "Engkau menafsirkan Alkitab itu dalam satu cara, dan mereka [guru-guru Katolik Roma] menafsirkannya dengan cara yang lain, siapakah yang saya harus percaya, dan siapakah yang menjadi hakim?"

"Sri Ratu harus percaya kepada Allah, yang berbicara dengan jelas di dalam firman-Nya," jawab Pembaharu itu, "dan lebih jauh dari pada yang diajarkan oleh Firman itu kepadamu, engkau tidak boleh mempercayai baik yang satu maupun yang lainnya. Firman Allah itu sendiri cukup jelas, dan jikalau ada muncul yang tidak jelas di suatu tempat, Roh Suci, yang tidak pernah bertentangan dengan Allah, menerangkan dengan lebih jelas di tempat lain, sehingga tidak ada lagi keragu-raguan, kecuali kepada mereka yang keras kepala tetap tidak mau perduli." -- Laing, "Works of John Knox," Vol. II, pp. 281, 284 (ed. 1895).

Itulah kebenaran yang dikatakan oleh Pembaharu yang berani itu, ke telinga keluarga kerajaan, pada saat bahaya mengancam hidupnya. Dengan keberanian yang tidak mengenal gentar seperti itu ia tetap pada maksudnya, berdoa dan berjuang dalam peperangan Tuhan, sampai Skotlandia bebas dari kepausan.

Di Inggeris penetapan Protestantisme sebagai agama nasional, mengurangi penganiayaan, tetapi tidak seluruhnya berhenti. Walaupun banyak doktrin Roma yang telah ditinggalkan, tetapi tidak sedikit yang masih terus dipertahankan. Supremasi paus ditolak, tetapi sebagai gantinya raja dinobatkan sebagai kepala gereja. Dalam upacara gereja masih terdapat penyimpangan dari kemurnian kesederhanaan Injil. Prinsip utama kebebasan beragama belum dimengerti. Walaupun kekejaman yang mengerikan yang dilakukan oleh Roma kepada para bida'ah tidak dilakukan atau jarang dilakukan oleh penguasa-penguasa Protestan, namun hak setiap orang untuk menyembah Allah sesuai dengan bisikan hati nuraninya belum sepenuhnya diakui. Semuanya diharuskan menerima doktrin-doktrin dan melakukan bentuk-bentuk perbaktian yang ditetapkan oleh gereja yang sudah ada. Orang yang tidak setuju menderita penganiayaan, sedikit banyaknya, selama ratusan tahun.


Pada abad ke tujuh belas, ribuan orang pendeta dipecat dari jabatan mereka. Orang-orang dilarang menghadiri sesuatu perkumpulan agama kecuali yang sudah ditentukan oleh gereja. Pelanggaran kepada ketentuan itu diancam dengan denda yang berat, hukuman penjara dan pembuangan. Jiwa-jiwa yang setia, yang tidak bisa berhenti berkumpul berbakti kepada Allah, terpaksa bertemu di gang-gang sempit yang gelap, di loteng-loteng yang tersembunyi, dan pada musim-musim tertentu, di hutan pada waktu tengah malam. Di tempat perlindungan di hutan lebat, kaabah Allah yang didirikan-Nya sediri, anak-anak Tuhan yang tercerai berai dan dianaiaya itu berkumpul untuk mencurahkan isi jiwa mereka di dalam doa dan puji-pujian. Tetapi sekalipun mereka waspada dan berjaga-jaga, banyak juga yang menderita karena iman mereka. Kamar-kamar penjara penuh sesak. Keluarga-keluaga terpecah-pecah. Banyak yang diasingkan ke negeri asing. Namun, Allah menyertai umat-Nya, dan penganiayaan tidak akan berhasil mendiamkan kesaksian mereka. Banyak yang diusir menyeberangi laut ke Amerika. Dan di sini diletakkanlah dasar kebebasan sipil dan kebebasan beragama, yang telah menjadi benteng dan kemuliaan negeri ini.

Sekali lagi, sebagaimana pada zaman rasul-rasul, penganiayaan berubah menjadi kemajuan dan peningkatan kabar Injil. Dalam sebuah penjara bawah yang sangat menjijikkan, yang dipenuhi oleh orang-orang yang tidak bermoral dan penjahat, John Bunyan bernafaskan suasana Surga. Di sana ia menulis cerita kiasannya yang ajaib mengenai perjalanan para musafir dari tanah kebinasaan ke kota Surgawi yang mulia. Selama lebih dari dua ratus tahun suara dari penjara Bedford itu telah berbicara dengan kuasa yang luar biasa kepada hati orang-orang. Buku Bunyan, "Pilgrim's Progress" dan "Grace Abounding to the Chief of Sinners" telah menuntun langkah banyak orang kepada jalan kehidupan.

Baxter, Flavel, Alleine, dan orang-orang berbakat lainnya, yang berpendidikn dan mempunyai pengalaman Kristen yang mendalam, berdiri teguh untuk mempertahankan iman yang pernah disampaikan kepada orang-orang kudus. Pekerjaan yang dicapai orang-orang ini, meskipun dilarang dan diharamkan oleh penguasa-penguasa dunia, tidak pernah binasa. Buku tulisan Flavel, "Fountain of Life," dan "Method of Grace" telah mengajar ribuan orang bagaimana mempertahankan pemeliharaan jiwa mereka kepada Kristus. Buku karangan Baxter, "Reformed Pastor" telah terbukti menjadi berkat bagi banyak orang yang rindu kepada kebangunan pekerjaan Allah, dan bukunya, "Saint's Everlasting Rest" telah menuntun jiwa-jiwa kepada "perhentian yang menanti umat Allah."

Seratus tahun kemudian pada hari kegelapan rohani yang besar, Whitefield dan Wesley bersaudara muncul sebagai pembawa-pembawa terang bagi Allah. Di bawah pemerintahan gereja yang sudah berdiri, rakyat Inggeris telah kembali kepada keadaan kemunduran keagamaan yang sulit dibedakan dari kekafiran. Agama alamiah adalah pelajaran yang paling disukai oleh para ulama, dan dimasukkan menjadi bagian terbesar dari teologia mereka. Golongan-golongan masyarakat yang lebih tinggi mencemoohkan kesalehan, dan meyombongkan diri berada di atas apa yang dinamakan kefanatikan. Golongan-golongan yang lebih rendah kebanyakan bersikap masa bodoh dan menyerah kepada kejahatan, sementara gereja tidak lagi mempunyai keberanian atau keyakinan untuk mendukung kepentingan kebenaran yang telah jatuh itu.

Doktrin agung pembenaran oleh iman, yang begitu jelas diajarkan oleh Luther, sudah hampir seluruhnya tidak tampak lagi, dan prinsip Romawi yang mempercayai pekerjaan-pekerjaan baik untuk keselmatan sudah menggantikannya. Whitefield dan Keluarga Wesley, yang menjadi anggota gereja yang sudah berdiri, adalah orang-orang yang sungguh-sungguh mencari kehendak Allah. Dan seperti yang diajarkan kepada mereka, harus diperoleh melalui kehidupan yang saleh dan penurutan kepada peraturan-peraturan agama.

Bilamana Charles Wesley, pada suatu waktu jatuh sakit, dan diperkirakan akan meninggal, ia ditanya di atas dasar apa pengharapan hidup kekalnya diletakkan. Jawabnya ialah, "Saya telah berusaha sebaik-baiknya melayani Allah." Oleh karena teman yang menanyakan pertanyaan itu tampaknya tidak puas, Wesley berpikir, "Apa! apakah usaha saya itu bukan suatu landasan pengaharapn yang cukup? Apakah usaha saya itu sia-sia? Tak ada lagi yang saya percayai." -- Whitehead, John, "Life of the Rev. Charles Wesley," p. 102 (2d Am. ed. 1845). Demikianlah kegelapan pekat yang telah menutupi gereja, yang menyembunyikan penyucian, merampok Kristus dari kemulian-Nya, mengalihkan pikiran manusia dari pengharapan keselamatan satu-satunya, -- darah Penebus yang telah disalibka itu.

Wesley dan rekan-rekannya telah dituntun untuk melihat bahwa agama yang benar ada di dalam hati, dan bahwa hukum Allah mencakup pikiran serta perkataan dan tindakan. Setelah diyakinkan oleh perlunya kesucian hati serta tepatnya tingkah laku luar, mereka bertekad menghidupkan suatu hidup baru. Dengan usaha dan doa yang tekun mereka berusaha menundukkan kejahatan hati alamiah. Mereka menghidupkan suatu kehidupan penyangkalan diri, kedermawanan dan kerendahan hati, menuruti dengan seksama setiap peraturan yang mereka anggap dapat menolong mereka untuk memperoleh apa yang paling mereka rindukan, yaitu kesucian, yang berkenan kepada Allah. Namun, sia-sia usaha mereka untuk membebaskan mereka dari hukuman dosa atau menghancurkan kuasa dosa itu. Pergumulan yang sama seperti itulah yang dialami Luther di selnya di Erfurt. Pertanyaan yang sama itulah yang telah menyiksa jiwanya -- "Masakan manusia benar dihadapan Allah" ( Ayub 9:2).


Api kebenaran ilahi yang hampir padam di atas mezbah Protestantisme, akan dinyalakan kembali dari obor terdahulu yang diteruskan sepanjang zaman oleh orang-orang Kristen Bohemia. Sesudah Pembaharuan, Prostestantisme di Bohemia telah diinjak-injak oleh sekelompok orang-orang Roma. Semua orang yang menolak meninggalkan kebenaran dipaksa untuk melarikan diri. Beberapa dari mereka mendapat perlindungan di Saxony, dimana mereka meneruskan memelihara imannya yang dahulu itu. Dari keturunan orang-orang Kristen inilah terang kebenaran datang kepada Wesley dan rekan-rekannya.

John dan Charles Wesley, setelah diurapi kepada kependetaan, telah dikirim dalam sebuah misi ke Amerika. Di dalam kapal ada serombongan orang-orang Moravia. Dalam pelayaran itu mereka dipukul oleh angin topan, dan John Wesley, yang berhadapan muka dengan muka dengan kematian, merasa bahwa ia tidak mempunyai jaminan kedamaian dengan Allah. Orang-orang Jerman itu -- orang-orang Moravia -- sebaliknya menunjukkan ketenangan dan pengharapan, yang bagi Wesley hal itu masih asing.

"Sudah sejak lama," katanya, "saya memperhatikan kesungguh-sungguhan tabiat mereka. Mereka telah membuktikan secara terus menerus kerendahan hati mereka oleh melaksanakan tugas-tugas pelayanan kepada penumpang-penumpang lainnya, yang tak seorang orang Inggerispun akan mau melakukannya. Untuk pelayanan ini mereka tidak menerima pembayaran. Mereka mengatakan adalah baik bagi hati mereka yang sombong, dan bagi Juru Selamat yang telah berbuat lebih banyak bagi mereka. Dan setiap hari ada saja kesempatan untuk menunjukkan kelemah-lembutan dan kesabaran mereka, yang tidak bisa dipengaruhi oleh sesuatu gangguan. Jika mereka terdorong, terpukul atau terpelanting, mereka bangkit kembali dan pergi berlalu. Tidak ada keluhan dari mulut mereka. Sekarang ada kesempatan untuk mencobai apakah mereka telah terlepas dari ketakutan serta kesombongan, angkara murka dan balas dendam. Di tengah-tengah suasana menyanyikan lagu pujian pada awal acara dimulai, lautan kembali bergelora, merobek layar utama dan menutupi kapal. Air tercurah ke atas geladak kapal seolah-olah lautan yang dalam telah menelan kami semua. Jeritan yang mengerikan terdengar dari antara orang-orang Inggeris. Orang-orang Jerman dengan tenang terus menyanyi. Setelah kejadian itu saya bertanya kepada seorang dari mereka, 'Apakah engkau tidak takut?' Ia menjawab, 'Terimakasih kepada Tuhan, tidak.' Saya bertanya lebih lanjut, 'Tetapi, apakah wanita-wanita dan anak-anakmu takut?' Ia menjawab dengan lembut, 'Tidak. Wanita-wanita dan anak-anak kami tidak takut mati.'" -- Whitehead, "Life of the Rev. John Wesley," p. 10 (Am. ed. 1845).

Setelah tiba di Savannah, Wesley untuk sementara tinggal bersama orang-orang Moravia itu, dan sangat terkesan dengan tingkah laku Kristen mereka. Mengenai salah satu upacara keagamaan mereka, yang sangat bertentangan dengan formalitas yang tidak hidup Gereja Inggeris, ia menulis, "Kesederhanaan dan kekhidmatan semuanya hampir membuat saya lupa bahwa 1700 tahun sudah berlalu, dan membayangkan diri saya dalam salah satu perkumpulan dimana tidak ada formalitas dan rumusan. Tetapi Rasul Paulus, pembuat tenda, atau Rasul Petrus, si nelayan, yang memimpin acara; namun dengan peragaan Roh dan kuasa." -- Idem, pp. 11-12.

Pada waktu ia kembali ke Inggeris, atas petunjuk seorang pengkhotbah Moravia, Wesley tiba pada suatu pengertian yang lebih jelas mengenai iman Alkitab. Ia yakin bahwa ia harus membuangkan semua ketergantungannya kepada perbuatannya untuk memperoleh keselamatan, dan harus percaya sepenuhnya kepada "Anak Domba Allah yang mengangkut dosa isi dunia ini." Pada suatu pertemuan masyarakat Moravia di London, suatu pernyataan dari Luther dibacakan, yang menjelaskan suatu perubahan yang dikerjakan oleh Roh Allah di dalam hati orang-orang percaya. Pada waktu Wesley mendengarkan, iman mulai terbit di dalam jiwanya. "Aku merasakan hatiku dihangatkan secara aneh," katanya. "Aku merasakan saya percaya pada Kristus, Kristus satu-satunya jalan keselamatan. Dan kepastian telah diberikan kepada saya bahwa Ia telah membuangkan dosa-dosaku, ya, dosaku sendiri, dan menyelamatkanku dari hukum dosa dan kematian." -- Whitehead, "Life of John Wesley," p. 52.

Melalui tahun-tahun yang panjang pekerjaan yang melelahkan dan membosankan, -- tahun-tahun penyangkalan diri yang keras, teguran dan celaan, -- Wesley berpegang teguh kepada tujuannya mencari Allah. Sekarang ia telah menemukan-Nya, dan ia telah menemukan bahwa anugerah yang ia telah perjuangkan untuk dimenangkan oleh berdoa dan berpuasa, oleh perbuatan-perbuatan baik dan pengorbanan diri sendiri, adalah suatu karunia, "tanpa uang, tanpa harga."

Sekali diteguhkan dalam iman kepada Kristus, seluruh jiwa dibakar oleh suatu kerinduan untuk menyebarkan kemana-mana pengetahuan akan kabar Injil Allah yang mulia tentang karunia cuma-cuma-Nya. "Aku menganggap seluruh dunia sebagai daerah parokiku," katanya, "dengan demikian di bagian manapun di dunia ini saya berada, aku menganggapnya baik dan benar, dan adalah tugas kewajibanku untuk menyatakan kabar kesukaan keselamatan kepada semua orang yang mau mendengarkan." -- Idem, p. 74.

Ia melanjutkan kehidupannya yang ketat dan penuh penyangkalan diri, sekarang bukan sebagai landasan, tetapi sebagai akibat dari iman. Bukan sebagai akar, tetapi sebagai buah dari kesalehan. Kasih karunia Allah di dalam Kristus adalah dasar pengharapan orang Kristen, dan bahwa kasih karunia itu akan dinyatakan di dalam penurutan. Kehidupan Wesley dibaktikan kepada pemberitaan berita kebenaran yang besar yang telah diterimanya, yaitu pembenaran oleh iman di dalam darah Kristus yang menyucikan itu, dan kuasa yang memperbaharui hati dari Roh Kudus, yang akan menghasilkan buah dalam hidup yang sesuai dengan teladan Kristus.


Whitefield dan Wesley bersudara, telah dipersiapkan bagi pekerjaan mereka oleh keyakinan pribadi yang lama dan tepat mengenai keadaan mereka yang hilang. Dan agar mereka sanggup menanggung kesukaran sebagai laskar Kristus, mereka telah dihadapkan kepada cobaan-cobaan gencar cemoohan, olok-olokan dan penganiayaan, baik waktu di universitas maupun waktu mereka memasuki pelayanan kependetaan. Mereka dan beberpa orang lain yang bersimpati dengan mereka dituduh dengan panggilan Metodis oleh rekan-rekannya mahasiswa yang tidak percaya pada Tuhan, -- suatu nama yang dewasa ini dianggap sebagai kehormatan oleh salah satu denominasi terbesar di Inggeris dan Amerika.

Sebagai anggota Gereja Inggeris, mereka dengan kuat terikat kepada bentuk-bentuk perbaktian, tetapi Tuhan telah memberikan kepada mereka di dalam firman-Nya suatu standar yang lebih tinggi. Roh Suci mendorong mereka untuk mengkhotbahkan Kristus, Dia yang disalibkan itu. Kuasa Yang Mahatinggi menolong mereka dalam pekerjaan mereka. Ribuan orang diyakinkan dan benar-benar ditobatkan. Adalah perlu agar kawanan domba-domba ini dilindungi dari serigala-serigala buas yang kelaparan. Wesley tidak berpikir untuk membentuk organisasi agama baru, tetapi ia mengorganisasikan mereka kedalam apa yang dinamakan Methodist Connection atau Persekutuan Metodis.

Para pengkhotbah ini mendapat pertentangan keras dan misterius dari gereja yang sudah ada. Namun, Allah di dalam hikmat-Nya telah mengatasi segala kejadian-kejadian itu sehingga menyebabkan mulainya pembaharuan di dalam gereja itu sendiri. Seandainya pembaharuan itu seluruhnya datang dari luar gereja, maka tidak akan mampu menembus masuk ke dalam, dimana pembaharuan itu sangat diperlukan. Akan tetapi oleh karena pengkhotbah-pengkhotbah pembaharuan itu adalah anggota-anggota gereja, yang bekerja di dalam lingkungan gereja bilamana mereka mendapat kesempatan, maka kebenaran telah dapat masuk sementara pintu tetap tertutup. Beberapa dari pendeta-pendeta dibangunkan dari tidur moral mereka dan menjadi pengkhotbah-pengkhotbah yang bersemangat di wilayah paroki masing-masing. Gereja yang telah mengeras dengan formalisme sekarang dibangunkan menjadi hidup kembali.

Pada zaman Wesley, sebagaimana juga pada zaman-zaman sejarah gereja, orang-orang dengan berbagai karunia melakukan pekerjaan-pekerjaan yang telah ditetapkan bagi mereka. Mereka tidak mempunyai pandangan yang selaras atas setiap pokok doktrin, tetapi semuanya digerakkan oleh Roh Allah, dan bersatu dalam satu tujuan untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus. Perbedaan-perbedaan antara Whitefield dan Wesley bersaudara pada suatu waktu mengancam terjadinya kerenggangan, tetapi oleh karena mereka telah belajar kelemah-lembutan dalam sekolah Kristus, maka mereka tetap berdamai dengan saling berbaik hati serta sabar dan saling mengendalikan diri. Mereka tidak mempunyai waktu untuk berselisih dan berdebat-debat, sementara kesalahan dan kejahatan merajalela dimana-mana, dan orang-orang berdosa sedang mau binasa.

Hamba-hamba Allah berjalan di jalan yang kasar. Orang-orang yang berpengaruh dan orang-orang terpelajar menggunakan kuasa menentang mereka. Tidak lama kemudian banyak pendeta-pendeta yang menunjukkan sikap bermusuhan, dan pintu gereja tertutup terhadap iman yang murni dan terhadap mereka yang menyiarkannya. Para pendeta , dalam menolak mereka dari mimbar, membangkitkan unsur-unsur kegelapan, kebodohan dan kejahatan. Berulang kali John Wesley lolos dari kematian oleh mujizat kemurahan Allah. Pada waktu massa yang marah mengamuk melawan dia, dan tampaknya tidak ada lagi jalan untuk meloloskan diri, seorang malaikat dalam rupa manusia datang ke sampingnya, sehingga massa mundur dan hamba Kristus luput dari tempat bahaya itu.

Mengenai kelepasannya dari amukan massa pada salah satu peristiwa itu, Wesley berkata, "Banyak yang berusaha melemparkan saya kebawah sementara kami turun dari atas bukit melalui jalan yang licin menuju kota, dengan pertimbangan bahwa sekali saya terkapar di atas tanah, saya tidak bisa bangkit lagi. Tetapi saya sama sekali tidak tersandung atau tergelincir sampai saya lepas dari tangan mereka. . . . Walaupun banyak yang berusaha keras memegang leher baju saya atau pakaian saya, untuk menjatuhkan saya, mereka sama sekali tidak bisa menahan saya. Hanya pernah seseorang memegang kuat tutup saku baju rompi saya, yang akhirnya robek tertinggal ditangannya. Tutup saku lain, saku yang berisi uang kertas, robek menjadi dua bagian . . . . Seorang yang kuat yang berada di belakangku memukul saya beberapa kali dengan tongkat kayu ek. Kalau saja dengan tongkat itu ia memukul belakang kepala saya, maka semuanya sudah beres. Tetapi setiap kali ia memukul, pukulan itu menyamping, saya tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi, karena saya sendiri tidak dapat bergerak ke kiri atau ke kanan . . . . Yang lain datang tergesa-gesa menerobos massa dan mengangkat tangannya hendak memukul, lalu tiba-tiba tangannya turun hanya menyentuh kepala saya, lalu ia berkata, 'Betapa halusnya rambutnya!' . . . Orang yang paling pertama yang diubahkan hatinya ialah pahlawan-pahlawan kota, pemimpin gerombolan dalam berbagai kejadian, salah seorang dari antara mereka pernah menjadi petarung memperebutkan hadiah dengan beruang . . . .


"Dengan tingkatan kelembutan yang bagaimanakah Allah mempersiapkan kita bagi kehendak-Nya? Dua tahun yang lalu, sepotong batu bata menggores bahu saya. Setahun kemudian sebuah batu menghantam wajah saya, di antara kedua mata. Bulan yang lalu saya menerima sebuah pukulan, dan sore ini dua pukulan, satu pukulan sebelum kami datang kekota, dan satu lagi sesudah kami pergi dari kota. Tetapi kedua-duanya tidak apa-apa, karena walaupun seseorang memukul saya di dada dengan sekuat tenaganya, dan yang lain memukul saya di mulut dengan sekeras-kerasnya sehingga darah mengucur keluar, saya tidak merasakan sakit dari pukulan-pukulan itu lebih dari seandainya mereka sentuh saya dengan sebatang jerami." -- Wesley's Works, Vol. III, pp. 297,298 (ed. 1831).

Orang-orang Metodis pada zaman itu, baik anggota biasa maupun para pendeta, menanggung ejekan dan penganiayaan dari anggota-anggota gereja dan orang-orang yang nyata-nyata tidak beragama yang marah oleh karena kekeliruan mereka. Mereka dituntut ke pengadilan -- hanya nama saja, sebab keadilan sangat jarang ditemukan pada zaman itu. Mereka sering mengalami perlakuan kejam dari penganiaya. Gerombolan massa bergerak dari rumah ke rumah, menghancurkan perabot dan barang-barang, merampas apa saja yang mereka mau, dan dengan brutal memperlakukan semena-mena pria, wanita dan anak-anak. Kadang-kadang mereka menempelkan pengumuman, memanggil mereka yang mau membantu merusak jendela-jendela dan merampok rumah-rumah orang Metodis, supaya berkumpul pada waktu dan tempat yang telah ditentukan. Pelanggaran terhadap hukum kemanusiaan dan hukum Tuhan yang secara terang-terangan ini telah dibiarkan terjadi tanpa teguran. Penganiayaan yang sistematis telah dilakukan kepada orang-orang yang "kesalahannya" adalah mengembalikan langkah-langkah orang berdosa dari jalan kebinasaan ke jalan kesalehan.

John Wesley berkata, menanggapi tuduhan yang dilancarkan kepadanya dan rekan-rekannya, "Sebagian orang menduga bahwa doktrin-doktrin orang-orang ini adalah palsu, salah dan penuh entusias; bahwa doktrin itu baru dan belum pernah terdengar sampai baru-baru ini; bahwa doktrin itu adalah Quakerisme, fanatisisme, kepausan. Semua kepura-puraan ini telah dicabut sampai ke akar-akarnya, meskipun telah ditunjukkan bahwa setiap cabang doktrin atau ajaran ini adalah doktrin sederhana Alkitab yang ditafsirkan oleh gereja kita sendiri. Oleh sebab itu tidak mungkin palsu atau salah, selama Alkitab itu benar." "Yang lain menduga, 'Ajaran mereka terlalu ketat, sehingga membuat jalan ke Surga itu terlalu sempit.' Dan inilah sebenarnya yng mereka tolak, (sebagaimana hampir satu-satunya selama beberapa waktu), dan bukan itu saja, secara rahasia ada ribuan lagi yang nampak dalam berbagai bentuk. Tetapi apakah mereka mempersempit jalan ke Surga dari pada yang dilakukan oleh Tuhan kita dan rasul-rasul-Nya? Apakah doktrin mereka lebih ketat dari pada yang ada dalam Alkitab? Perhatikanlah hanya beberap ayat saja: 'Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap pikiranmu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu.' 'Karena setiap perkataan yang sia-sia yang diucapkan oleh seseorang akan dipertanggungjawabkan pada hari penghakiman.' 'Apakah engkau makan atau minum, atau apa saja yang engkau perbuat, perbuatlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.'

"Jikalau doktrin mereka lebih ketat dari semua ini, mereka patut dipersalahkan. Tetapi engkau tahu di dalam hati nuranimu tidaklah demikian. Dan siapakah yang dapat menjadi kurang ketat tanpa menyelewengkan firman Allah? Dapatkah seorang pelayan rahasia-tahasia Allah didapati setia jikalau ia mengubah sesuatu bagian dari tulisan kudus itu? Tidak. Ia tidak boleh menghilangkan sesuatupun. Ia tidak boleh melembutkan sesuatupun. Ia harus menyatakan kepada semua orang, 'Saya tidak dapat menyesuaikan Alkitab menuruti seleramu. Engkau harus menyesuaikan diri kepadanya, atau engkau akan binasa untuk selama-lamanya.' Inilah landasan yang sebenarnya adanya seruan mengenai 'kekejaman orang-orang ini'. Kejam, benarkah mereka begitu? Apakah engkau tidak memberi makan orang lapar dan memberi pakaian orang yang bertelanjang? 'Tidak, bukan itu masalahnya. Mereka tidak menghendaki itu, tetapi mereka begitu kejam dalam pertimbangan. Mereka pikir tak seorangpun bisa selamat kecuali melalui jalan mereka.' " -- Wesley's Works, Vil. III, pp. 152-153.

Kemerosotan rohani yang telah nyata di Inggeris sebelum zamannya Wesley, sebagian besar diakibatkan oleh ajaran Antinomian. Banyak yang menyatakan bahwa Kristus telah menghapuskan hukum moral, dan oleh sebab itu orang Kristen tidak berkewajiban untuk menurutinya; bahwa orang percaya telah dibebaskan dari "perhambaan perbuatan-perbuatan baik." Sebagian yang lain, walaupun mengakui keabadian hukum itu, menyatakan bahwa para pendeta tidak perlu mendesak atau mendorong orang-orang untuk menuruti aturan atau perintah itu, oleh karena mereka yang telah dipilih Allah kepada keselamatan akan "dituntun kepada perbuatan kesalehan dan kebajikan oleh dorongan kasih karunia ilahi yang tidak tertahankan itu," sementara mereka yang binasa kedalam kutuk yang kekal "tidak mempunyai kuasa atau kesanggupan untuk menuruti hukum ilahi itu."

Yang lain yang berpegang pada ajaran bahwa "umat pilihan itu tidak bisa jatuh dari kasih karunia atau kehilangan kehendak ilahi," tiba pada kesimpulan yang lebih mengerikan lagi, bahwa "perbuatan jahat yang mereka lakukan sebenarnya bukanlah dosa, atau tidak dianggap sebagai pelanggaran hukum ilahi, dan sebagai akibatnya mereka tidak perlu mengakui dosanya atau meninggalkannya oleh pertobatan." -- McClintock and Strong's Cyclopaedia, art. Antinomians (ed. 1871). Oleh sebab itu mereka menyatakan bahwa seseorang yang mempunyai dosa yang paling buruk sekalipun, "yang dianggap secara universal sebagai pelanggaran berat kepada hukum ilahi, bukanlah suatu dosa di pandangan Allah," jika dilakukan oleh seseorang umat pilihan, "sebab itulah salah satu ciri-ciri penting dan jelas dari seorang umat pilihan, bahwa mereka tidak dapat melakukan sesuatu baik yang tidak menyenangkan hati Allah maupun yang dilarang oleh hukum."


Doktrin-doktrin aneh dan menakutkan ini pada dasarnya adalah sama dengan pengajaran yang berkembang kemudian oleh para pendidik dan para ahli teologia -- bahwa tidak ada hukum ilahi yang tidak bisa diubah sebagai standar hak, tetapi standar moral akan ditentukan oleh masyarakat itu sendiri, dan selamanya mempunyai kemungkinan untuk diubah. Semua pemikiran ini diilhami oleh roh yang sama -- oleh dia yang, bahkan di antara penduduk Surga yang tidak berdosa, memulai pekerjaannya mencari-cari kesempatan untuk menghancurkan hukum Allah yang benar dan yang mengendalikan itu.

Doktrin dekrit ilahi, yang tidak berubah dan memperbaiki tabiat manusia, telah menuntun banyak orang kepada penolakan hukum Allah. Wesley dengan tegas menolak kesalahan guru-guru ajaran Antinomian, dan menunjukkan bahwa doktrin ini, yang menuntun kepada Antinomianisme, bertentangan dengan Alkitab. "Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata." "Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juru Selamat kita, yang menghendaki semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia." (Titus 2:11; 1 Timotius 2:3-6).

Roh Allah dianugerahkan dengan cuma-cuma untuk menyanggupkan setiap orang untuk memperoleh keselamatan. Dengan demikian Kristus, "Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia." (Yoh. 1:9). Manusia gagal memperoleh keselamatan oleh karena dengan sengaja menolak karunia hidup.

Sebagai jawaban kepada pendapat yang mengatakan bahwa pada saat kematian Kristus, ajaran Sepuluh Hukum (decalogue) telah dihapuskan bersama dengan hukum upacara, Wesley berkata, "Hukum moral, yang terdapat di dalam Sepuluh Hukum dan diberlakukan oleh para nabi, tidak dihapuskan-Nya. Kedatangan-Nya tidak dimaksudkan untuk membatalkan sesuatu bagian dari hukum itu. Hukum ini adalah hukum yang tidak pernah dihapuskan, yang 'berdiri teguh sebagai saksi yang setia di Surga' . . . . Hukum ini sudah ada sejak awal dunia ini, yang 'dituliskan bukan di atas loh-oh batu,' tetapi di dalam hati semua anak manusia, pada waktu mereka keluar dari tangan Pencipta (Khalik). Namun huruf-huruf yang pada suatu ketika dituliskan oleh jari-jari tangan Allah, sekarang dinodai oleh dosa. Meskipun begitu, hukum itu tidak dapat benar-benar dihapuskan sementara kita masih mempunyai kesadaran terhadap yang baik dan yang jahat. Setiap bagian dari hukum ini harus tetap berlaku bagi manusia, dan di segala zaman, sebagaimana ia tidak tergantung kepada waktu atau tempat, atau keadaan-keadaan yang lain yang dapat berubah. Tetapi bergantung pada sifat alamiah Allah, dan alamiah manusia dan hubungannya yang tak berubah kepada satu sama lain.

" 'Aku datang bukan untuk merombak hukum, tetapi untuk menggenapi' . . . . Tanpa dipertanyakan, maksud-Nya dalam hal ini (sesuai dengan semua yang sudah lalu dan yang akan menyusul), -- Aku datang untuk memenuhinya, walau apapun pemutar-balikan manusia: Aku datang untuk menempatkannya di tempat yang bisa dilihat dengan jelas dan penuh betapapun kegelapan atau atau kesuraman menutupi tempat itu. Aku datang untuk menyatakan kebenaran dan kepenuhan makna setiap bagian dari hukum itu, untuk menunjukkan panjangnya dan lebarnya, luas seluruhnya setiap perintah yang dikandungnya dan tingginya dan dalamnya, kemurnian dan kerohanian yang tak terpahami dalam semua cabang-cabangnya." -- Wesley's Works, Sermon 25.

Wesley menyatakan keselarasan yang sempurna hukum itu dengan kabar Injil. "Oleh sebab itu, ada hubungan yang paling erat yang dapat dipikirkan, antara hukum dan Injil. Di satu sisi, hukum itu secara terus menerus menunjukkan jalan dan mengarahkan kita kepada Injil. Di sisi lain, Injil itu terus menerus menuntun kita kepada penggenapan hukum itu dengan lebih tepat. Sebagai contoh, hukum itu menghendaki kita mengasihi Allah, mengasihi tetangga kita, menjadi lemah lembut, rendah hati atau suci. Kita merasa bahwa kita tidak layak untuk hal-hal ini, ya, 'bagi manusia hal ini tidak mungkin,' tetapi kita melihat janji Allah memberikan kasih itu kepada kita, dan membuat kita lemah lembut dan rendah hati dan suci. Kita berpegang kepada Injil ini, kepada kabar kesukaan. Hal itu diberikan kepada kita sesuai dengan iman kita. Dan 'kebenaran hukum itu digenapi di dalam kita,' melalui iman yang di dalam Kristus Yesus . . . .


"Di tingkat yang paling tinggi musuh-musuh Injil Kristus," kata Wesley, "adalah mereka yang secara terbuka dan jelas 'menghakimi hukum itu,' sendiri, dan 'berbicara jahat mengenai hukum itu,' yang mengajar orang melanggar (melenyapkan, melonggarkan, atau membuka ikatan kewajiban kepada) bukan hanya satu -- yang paling kecil atau yang paling besar -- tetapi seluruh hukum itu . . . . Yang paling mengherankan dari semua keadaan yang membantu keadaan penipuan besar ini ialah bahwa mereka yang menyerah kepadanya, benar-benar percaya bahwa mereka menghormati Kristus oleh membuangkan hukum-Nya. Dan bahwa mereka sedang membesarkan kedudukan-Nya sementara membinasakan ajaran-ajaran-Nya! Ya, mereka menghormati-Nya hanya seperti yang dilakukan Yudas bilamana ia berkata, 'Salam Rabbi dan ia mencium-Nya,' Dan Kristus juga bisa berkata dengan jujur kepada setiap orang, 'Engkau mengkhianati Anak Manusia dengan sebuah ciuman?' Adalah pengkhianatan dengan ciuman membicarakan darah-Nya, tetapi membuang mahkota-Nya. Menyalakan terang oleh sesuatu bagian hukum-Nya, tetapi berpura-pura memajukan Injil-Nya. Tidak ada yang akan lolos dari tuduhan ini, yang mengkhotbahkan iman sedemikian rupa, apakah secara langsung atau tidak langsung cenderung mengesampingkan setiap cabang penurutan, dan yang mengkhotbahkan Kristus dengan meniadakan atau melemahkan hukum Allah yang terkecil sekalipun.' -- Wesley's Works, Sermon 25.

Kepada mereka yang mendesak bahwa, "pengkhotbahan Injil menjawab semua tujuan akhir hukum itu," Wesley menjawab, "Ini kita tolak dengan keras. Hal itu tidak menjawab tujuan akhir sekali dari hukum itu, yaitu, meyakinkan manusia akan dosa, membangunkan mereka yang masih tidur di tepi pintu neraka." Rasul Paulus menyatakan bahwa "oleh hukum kita mengenal dosa;" "dan bukan sampai seseorang melakukan dosa baru benar-benar merasakan keperluannya akan penebusan darah Kristus . . . . 'Mereka yang sehat' sebagaimana Tuhan kita sendiri mengamatinya, 'tidak memerlukan dokter, tetapi mereka yang sakit.' Oleh sebab itu, adalah tidak masuk akal untuk menyodorkan seorang dokter kepada mereka yang sehat, atau paling sedikit yang membayangkan diri mereka sehat. Pertama-tama engkau harus meyakinkan bahwa mereka itu sakit, sebab kalau tidak mereka tidak akan berterimakasih kepadamu atas jerih payahmu. Adalah sama mustahilnya menyodorkan Kristus kepada mereka yang hatinya 'sehat,' yang belum pernah mengalami patah hati." -- Idem, Sermon 35.

Dengan demikian sementara mengkhotbahkan Injil karunia Allah, Wesley, seperti Tuannya, berusaha "membesarkan hukum, dan menghormatinya." Dengan setia ia melakukan tugas yang diberikan Allah kepadanya, dan ia diizinkan untuk melihat hasilnya yang gemilang. Pada akhir hidupnya yang cukup lanjut yang lebih dari delapan puluh tahun -- lebih dari setengah abad digunakannya dalam pelayanan Injil -- pengikut-pengikutnya berjumlah lebih dari setengah juta orang. Tetapi orang-orang banyak, yang melalui usahanya telah diangkat dari puing-puing dan kehinaan dosa kepada kehidupan yang lebih tinggi dan lebih suci, dan jumlahnya yang oleh pengajarannya telah mencapai pengalaman yang lebih dalam dan lebih kaya, tidak akan pernah diketahui sampai seluruh keluarga umat yang ditebus itu dikumpulkan ke dalam kerajaan Allah. Hidupnya mempersembahkan satu pelajaran yang tak ternilai harganya bagi setiap orang Kristen. Akankah iman dan kerendahanhati, semangat yang tak mengenal lelah, pengorbanan diri sendiri, dan penyerahan hamba Kristus ini, boleh dipantulkan di dalam gereja-gereja zaman ini?


ALKITAB DAN REVOLUSI PERANCIS


~15~
ALKITAB DAN REVOLUSI PERANCIS

Pada abad ke enam belas Pembaharuan berusaha memasuki semua negara di Eropa dengan mempersembahkan Alkitab yang terbuka bagi semua orang. Sebagian bangsa-bangsa menyambutnya dengan gembira sebagai juru kabar Surga. Di negara-negara lain, kepausan berhasil mencegah masuknya Pembaharuan itu, dan terang pengetahuan Alkitab dengan pengaruhnya yang mengangkat jiwa itu hampir seluruhnya dipadamkan. Di satu negara, meskipun terang itu bisa masuk, tidak dimengerti oleh kegelapan. Selama berabad-abad, kebenaran dan kesalahan berjuang demi keunggulan masing-masing. Akhirnya kejahatan menang dan kebenaran Surga diusir keluar. "Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang." (Yoh. 3:19). Bangsa itu, tentu saja, akan menuai akibat dari pilihannya. Pengendalian Roh Allah telah ditarik dari bangsa yang telah meremehkan pemberian kasih karunia-Nya. Kejahatan telah dibiarkan sampai matang. Dan seluruh dunia melihat buah dari penolakan terang yang dengan sengaja itu.

Perang melawan Alkitab yang berlangsung beberapa abad di Perancis, mencapi puncaknya dalam wujud Revolsi. Perang yang mengerikan itu terjadi sebagai akibat dari penindasan Roma pada Alkitab. (Lihat Lampiran. Hal ini menyajikan satu gambaran paling jelas yang pernah disaksikan dunia ini mengenai akibat dari peraturan kepausan -- suatu gambaran dari akibat ajaran Gereja Roma yang dipeliharanya selama lebih dari seribu tahun.

Perang melawan Alkitab selama masa supremasi kepausan telah diramalkan oleh para nabi, dan Pewahyu juga menunjukkan kepada akibat yang mengerikan yang meluas terutama ke Perancis dari dominasi "manusia durhaka."

Malaikat Tuhan berkata, "Dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya. Dan Aku akan memberi tugas kepada dua saksiKu, supaya mereka bernubuat sambil berkabung seribu dua ratus enam puluh tahun lamanya . . . . Dan apabila mereka telah menyelesaikan kesaksian mereka, maka binatang yang muncul dari jurang maut, akan memerangi mereka, dan mengalahkan mereka serta membunuh mereka. Dan mayat mereka akan terletak di atas jalan raya kota besar, yang secara rohani disebut Sodom dan Mesir dimana juga Tuhan kita disalibkan . . . . Dan mereka yang diam di atas bumi bergembira dan bersukacita atas mereka itu dan berpesta dan saling mengirim hadiah, karena kedua nabi itu telah merupakan siksaan bagi semua orang yang diam di atas bumi. Tiga setengah hari kemudian, masuklah Roh kehidupan dari Allah ke dalam mereka, sehingga mereka bangkit dan semua orang melihat mereka menjadi sangat takut." (Wahyu 11: 2-11).

Jangka waktu yang disebutkan di sini -- "empat puluh dua bulan," dan "seribu dua ratus enam puluh hari" -- adalah sama, yaitu menggambarkan zaman dimana gereja Kristus menderita penindasan dari Roma. Jangka waktu 1260 tahun supremasi kepausan bermula dari tahun 538 TM (Tarikh Masehi), dan dengan demikian akan berakhir pada tahun 1798 TM. (Lihat Lampiran).

Pada waktu itu bala tentera Perancis memasuki Roma dan menawan paus dan yang kemudian meninggal di pembuangan. Meskipun paus baru segera dipilih waktu itu, hirarki kepausan tidak pernah lagi mempunyai kekuatan seperti yang dimilikinya sebelumnya.

Penganiayaan terhadap gereja tidak berlangsung terus selama jangka waktu 1260 tahun itu. Allah dalam kemurahan-Nya kepada umat-Nya telah mempersingkat waktu pencobaan sengit itu. Dalam meramalkan "masa kesengsaraan besar" yang akan menimpa gereja, Juru Selamat berkata, "Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktunya akan dipersingkat." (Matius 24:22). Oleh karena pengaruh Pembaharuan, penganiayaan telah diakhiri menjelang tahun 1798.

Mengenai kedua saksi, nabi selanjutnya mengatakan, "Mereka adalah kedua pohon zaitun dan kedua kaki dian yang berdiri di hadapan Tuhan semesta alam." "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." (Wahyu 11:4; Maz. 119:105). Kedua saksi itu melambangkan Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kedua-duanya adalah saksi penting mengenai asal mula dan kekekalan hukum Allah. Keduanya juga menjadi saksi rencana keselamatan. Lambang-lambang atau contoh-contoh dan nubuatan-nubuatan Alkitab Perjanjian Lama menunjuk kepada Juru Selamat yang akan datang. Buku Injil dan Surat-surat Rasul-rasul Alkitab Perjanjian Baru menerangkan Juru Selamat yang sudah datang dengan cara yang tepat seperti yang dikatakan sebelumnya oleh lambang dan nubuatan.


"Mereka akan bernubuat sambil berkabung seribu dua ratus enam puluh tahun lamanya." Selama sebagian besar dari waktu ini, saksi-saksi Allah tetap dalam keadaan samar-samar. Kuasa kepausan berusaha menyembunyikan Firman kebenaran itu dari orang-orang, dan menampilkan saksi-saksi palsu untuk menandingi kesaksiannya. (Lihat Lampiran). Pada waktu Alkitab diharamkan oleh penguasa agama dan pemerintah, pada waktu kesaksiannya diputar-balikkan atau dipalsukan dan segala usaha dilakukan oleh manusia dan Setan mencari cara untuk mengalihkan pikiran orang-orang dari Alkitab itu, pada waktu mereka yang berani menyiarkan kebenarannya yang suci diburu, dikhianati, disiksa, disekap dalam penjara bawah tanah, mati syahid demi iman mereka, atau terpaksa melarikan diri ke gunung-gunung, ke lobang-lobang dan gua-gua di tanah, -- maka saksi-saksi yang setia itu bernubuat sambil berkabung. Namun begitu, mereka meneruskan kesaksian mereka selama masa 1260 tahun itu. Pada masa yang paling gelap ada orang-orang yang setia yang mencintai firman Allah dan mempertahankan kehormatan-Nya. Kepada hamba-hamba yang setia ini telah diberikan kebijaksanaan, kekuatan dan kuasa untuk menyatakan kebenaran-Nya selama jangka waktu itu.

"Dan jikalau ada orang yang hendak menyakiti mereka, keluarlah api dari mulut mereka menganguskan semua musuh mereka. Dan jikalau ada yang hendak menyakiti mereka, maka orang itu harus mati secara itu." (Wahyu 11:5). Orang-orang yang menginjak-injak firman Tuhan tidak bisa bebas dari hukuman. Makna dari perkataan yang mengerikan ini dijelaskan dalam pasal penutup buku Wahyu: "Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: 'Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini." (Wahyu 22:18,19).

Begitulah amaran-amaran yang diberikan Allah kepada manusia supaya mereka jangan mengubah dengan cara apapun apa yang telah dinyatakan-Nya atau diperintahkan-Nya. Pernyataan yang sungguh-sungguh ini berlaku bagi semua orang yang oleh pengaruhnya menuntun orang-orang menganggap enteng hukum Allah. Pernyataan ini harus menyebabkan mereka takut dan gemetar, mereka yang dengan lancang menyatakan bahwa adalah masalah kecil bagi kita menuruti atau tidak hukum Allah. Semua yang meninggikan pendapatnya di atas pernyataan ilahi, semua yang mengganti arti jelas Alkitab dan menyesuaikannya kepada kesenangan mereka, atau demi kepentingan penyesuaian dengan dunia ini, sedang mengambil bagi dirinya suatu tanggungjawab yang mengerikan. Firman yang tertulis dan hukum Allah, akan mengukur tabiat setiap orang, dan menghukum semua mereka yang dinyatakan kurang oleh batu ujian yang tak pernah salah ini.

"Kapan mereka harus menyelesaikan (sedang menyelesaikan) kesaksian mereka." Masa bilamana kedua saksi itu bernubuat sambil berkabung, berakhir pada tahun 1798. Sementara mereka mendekati akhir pekerjaan mereka yang samar-samar, peperangan akan dilancarkan terhadap mereka oleh kuasa yang dilambangkan sebagai "binatang yang muncul dari jurang maut." Di banyak bangsa di Eropa, kuasa yang memerintah dalam gereja dan negara selama berabad-abad telah dikendalikan oleh Setan, melalui perantaraan kepausan. Tetapi di sini diperlihatkan manifestasi baru kekuasaan Setan.

Telah menjadi peraturan atau kebijakan Roma, dengan pernyataan rasa hormat kepada Alkitab, untuk tetap membuat Alkitab tertutup dalam bahasa yang tidak bisa dimengerti, dan menyembunyikan dari orang-orang. Di bawah pemerintahan Roma saksi-saksi itu bernubuat sambil "berkabung." Tetapi kuasa lain -- binatang yang muncul dari jurang maut -- bangkit mengadakan serangan terbuka dengan terang-terangan melawan firman Allah.

"Kota besar" yang di jalan-jalannya saksi-saksi itu dibunuh, dan dimana tubuh mereka tergeletak, "adalah Mesir secara rohani." Dari semua bangsa yang dinyatakan dalam sejarah Alkitab, Mesirlah yang paling berani menyangkal adanya Allah yang hidup, dan menolak perintah-perintah-Nya. Tidak ada raja yang pernah berani secara terbuka menentang dan menghujat kekuasaan Surga selain raja Mesir. Pada waktu pekabaran dibawa oleh Musa kepadanya dalam nama Tuhan, Firaun dengan sombongnya menjawab, "Siapakah Tuhan itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi. Tidak kenal aku Tuhan itu dan tidak juga aku akan membiarkan orang Israel pergi." (Keluaran 5:2). Inilah ateisme. Dan bangsa yang dilambangkan oleh Mesir akan mengucapkan penyangkalan yang sama terhadap Allah yang hidup, dan akan menyatakan roh tidak percaya dan pembangkangan yang serupa. "Kota besar" itu juga dibandingkan "secara rohani" dengan Sodom. Kebejatan Sodom dalam melangggar hukum Allah secara khusus dinyatakan dalam ketidak-bermoralan. Dan dosa ini juga akan menjadi ciri-ciri yang menonjol dari suatu bangsa yang akan menggenapi nubuatan Alkitab.

Kemudian, menurut perktaan nabi, sebelum tahun 1798 beberapa kuasa yang berasal dari Setan akan bangkit untuk memerangi Alkitab. Dan di negeri dimana kesaksian kedua saksi-saksi Allah itu harus didiamkan atau dibungkam, akan tampak ateisme Firaun dan kebejatan moral Sodom.


Nubuatan ini digenapi dengan sangat tepat dan luar biasa di dalam sejarah Perancis. Selama Revolusi pada tahun 1793 "untuk pertama kalinya dunia ini mendengar suatu perkumpulan orang-orang, yang dilahirkan dan dididik dalam peradaban dan menyombongkan hak untuk memerintah salah satu negara Eropa yang terbaik, mengangkat suara mereka untuk menyangkal kebenaran yang paling khidmat yang diterima oleh jiwa manusia, dan menolak dengan suara bulat kepercayaan dan perbaktian keilahian." -- Scott, Sir Walter, "Life of Napoleon Bonaparte," Vol. I, ch. 17 (ed. 1854). "Perancis adalah satu-satunya bangsa di dunia yang tercatat dalam catatan otentik, yang sebagai satu bangsa mengangkat tangan memberontak melawan Pencipta alam semesta. Banyaklah penghujat-penghujat, orang yang tidak beriman di Inggeris, Jerman, Spanyol dan dimana-mana baik yang sudah ada maupun yang akan terus ada. Tetapi Perancis menduduki tepat tersendiri dalam sejarah dunia sebagai satu-satunya negara yang oleh keputusan Dewan Perwakilan Rakyatnya (Mahkamah Legislatif), menyatakan bahwa tidak ada Allah. Dan untuk ini seluruh penduduk ibukota, dan kebanyakan dimana-mana, baik laki-laki maupun perempuan, menari dan menyanyi dengan bersukacita menyambut keputusan itu." -- Blackwood's Magazine, November 1870.

Prancis juga menunjukkan ciri-ciri khusus Sodom. Selama Revolusi ditandai dengan kemerosotan dan kebejatan moral yang sama dengan yang membawa kebinasaan bagi kota lembah itu, yaitu Sodom. Dan ahli sejarah menampilkan bersama-sama ateisme dan kemerosotan moral Perancis, sebagaimana diberikan dalam nubuatan: "Yang erat hubungannya dengan hukum-hukum ini yang mempengaruhi agama ialah yang mengurangi eratnya ikatan pernikahan -- yang paling suci dalam ikatan yang bisa di bentuk oleh manusia, dan yang kelanggengannya membentuk konsolidasi masyarakat yang paling kuat -- menjadi sekedar perjanjian sipil yang sifatnya sementara, yang masing-masing pihak dapat meneruskan atau membatalkan sesuka hatinya . . . . Jikalau Setan sudah menemukan cara yang paling efektif untuk membinasakan apa saja yang patut dihormati dan baik, atau kehidupan rumah tangga tang permanen, dan memastikan diri pada waktu itu juga bahwa kejahatan yang menjadi tujuannya dapat dipertahankan dari generasi ke generasi, maka mereka tidak akan menciptakan rencana lain yang lebih efektif selain dari merusak dan merendahkan nilai-nilai pernikahan. . . . Sophie Arnoult, seorang aktris terkenal untuk hal-hal jenaka, menerangkan pernikahan kenegaraan sebagai "upacara perzinahan." -- Scott, Vol. I, ch. 17.

"Dimana juga Tuhan kita disalibkan." Nubuatan ini juga digenapi oleh Perancis. Rasa bermusuhan terhadap Kristus yang dilakukan dengan berani di sini, melebihi dari di negeri-negeri manapaun. Kebenaran menghadapi perlawanan yang lebih pahit dan jahat di sini lebih dari negara manapun. Dalam penganiayaan yang dilakukan Perancis kepada pengaku-pengaku Injil, ia telah menyalibkan Kristus di dalam pribadi murid-murid-Nya.

Dari abad ke abad darah orang-orang saleh telah dicurahkan. Sementara orang-orang Waldenses menyerahkan nyawanya di pegunungan-pegunungan Piedmont "demi firman Allah dan demi kesaksian Yesus Kristus," kesaksian yang sama telah ditanggung oleh Saudara-saudara mereka orang-orang Albigenses dari Perancis. Pada zaman Pembaharuan, murid-murid pembaharuan itu telah dibunuh dengan siksaan yang kejam. Raja dan para bangsawan, para wanita ningrat dan wanita-wanita cantik, kebanggaan dan pahlawan-pahlawan bangsa, telah berpesta pora di atas penderitaan para syuhada Yesus. Orang-orag Huguenots pemberani, yang berjuang demi hak-hak yang hati nuraninya menganggap suci, telah mencurahkan darahnya dalam berbagai medan pertempuran berat. Orang-orang Protestan dianggap sebagai penjahat, binatang liar yang harga per kepala telah ditentukan.Dan mereka diburu seperti layaknya binatang liar.

"Gereja di Padang Belantara" keturunan orang-orang Kristen kuno yang tidak seberapa jumlahnya, yang masih bertahan tinggal di Perancis pada abad ke delapan belas, dan juga bersembunyi di pegunungan sebelah Selatan, masih tetap mengasihi iman leluhur mereka. Pada waktu mereka mengambil risiko berkumpul pada malam hari di kaki bukit atau di tanah yang bersemak-semak yang terpencil, mereka dikejar-kejar oleh tentara berkuda, dan diseret dijadikan budak seumur hidup di dapur kapal-kapal. Orang-orang Perancis yang termurni, terhalus dan terpintar dirantai, dan disiksa dengan kejam di tengah-tengah perampok dan pembunuh bayaran. -- Lihat Wylie, b. 22, ch. 6. Yang lain diperlakukan dengan lebih berbelas kasihan, ditembak oleh penembak berdarah dingin sebagai orang-orang yang tak bersenjata dan tanpa pertolongan, mereka jatuh terduduk berdoa. Ratusan orang-orang tua dan wanita-wanita yang tak berdaya dan anak-anak yang tak berdosa mati terkapar di atas tanah tempat mereka berkumpul. Dalam menjelajahi kaki bukit atau hutan-hutan, dimana mereka biasanya berkumpul, bukan suatu yang luar biasa menemukan "pada setiap empat langkah menemukan mayat-myt bergelimpangan di rumput dan mayat-mayat yang bergelantungan dari pohon-pohon." Negeri mereka menjadi tandus oleh pedang, kampak, tumpukan kayu bakar, "telah diubah menjadi satu padang gurun yang seram dan luas." "Kekejaman ini diberlakukan . . . bukan pada zaman kegelapan, tetapi zaman kejayaannya Louis XIV. Ilmu pengetahuan dikembangkan, kesusasteraan bertumbuh subur, pejabat-pejabat istana dan pemuka-pemuka ibukota adalah orang-orang terdidik dan yang fasih lidah, sehingga sangat mempengaruhi kasih karunia kelemah-lembutan dan kedermawanan." -- Wylie, b. 22, ch. 7.

Tetapi kejahatan yang paling buruk dari daftar hitam kejahatan, perbuatan yang paling ngeri dari semua perbuatan Setan sepanjang abad-abad yang penuh dengan kekejaman, ialah Pembantaian massal di St. Bartolomeus. Dunia masih gemetar ketakutan mengenang peristiwa penyerangan pengecut dan kejam itu. Raja Perancis didesak oleh imam-imam dan pejabat-pejabat tinggi gereja Roma untuk memberikan persetujuannya kepada pekerjaan yang mengerikan itu. Sebuah lonceng yang dibunyikan pada malam yang gelap itu adalah suatu tanda bagi para pembantai. Ribuan orang-orang Prostestan yang sedang tidur nyenyak di rumah masing-masing, percaya kepada janji terhormat raja mereka, telah diseret keluar tanpa amaran, dan dibunuh dengan keji.


Sebagaimana Kristus adalah pemimpin yang tidak kelihatan umat-umat-Nya keluar dari perhambaan Mesir, demikian juga Setan pemimpin yang tak kelihatan pasukannya, melipat-gandakan jumlah para syuhada. Selama tujuh hari pembantaian itu berlangsung di Paris, dan tiga hari pertama dengan kekejaman dan kedahsyatan yang tak terbayangkan. Dan bukan hanya berlangsung di kota itu sendiri, tetapi dengan perintah khusus raja, diperluas ke seluruh propinsi dan kota-kota kecil lainnya dimana terdapat orang-orang Protestan. Usia atau jenis kelamin tidak diperlukan. Tidak perduli orang yang sudah ubanan atau bayi yang tidak berdosa, semuanya dibinasakan. Para bangsawan dan petani, tua dan muda, ibu-ibu dan nak-anak semuanya dibunuh. Di seluruh Perancis pembantaian itu berlanjut selama dua bulan. Tujuh puluh ribu orang kusuma bangsa binasa waktu itu. Pada waktu berita pembantaian itu sampai ke Roma, kegembiraan para rohaniawan meluap-luap tanpa batas. Uskup (kardinal) Lorraine memberikan penghargaan kepada pembawa berita itu seribu kron. Tembakan penghargaan meriam St. Angelo bergemuruh tanda kegembiraan. Lonceng-lonceng berdentang dari menara-menara. Api-api unggun dinyalakan sehingga malam terang benderang seperti siang hari. Dan George XIII, dengan dibantu oleh para uskup (kardinal) dan pejabat tinggi gereja mengikuti arak-arakan panjang menuju gereja St. Louis, dimana kardinal Lorraine menyanyikan sebuah Te Diem . . . .

Sebuah medali diciptakan untuk memperingati pembantaian itu, dan di Vatican masih dapat di lihat tiga lukisan cat air Vasari di atas batu kapur yang menggambarkan serangan terhadap laksamana, raja yang sedang bermusyawarah merencanakan pembantaian itu . . . dan pembantaian itu sendiri. Gregory mengutus Charles si Mawar Keemasan; dan empat bulan kemudian sesudah pembantaian itu, . . . ia merasa puas mendengarkan khotbah seorang imam Perancis, . . . yang berbicara mengenai 'hari yang penuh kebahagiaan dan sukacita, pada waktu bapa suci menerima berita, dan yang dengan khidmat menyampaikan terimakasih kepada Allah dan St. Louis.'" -- White, Henry, "The Massacre of St. Bartholomew," ch. 14, par. 34, (ed. 1871).

Roh perancang pembantaian yang sama yang menimbulkan Pembantaian di St. Bartholomew juga menuntun dalam Revolusi. Yesus Kristus dinyatakan sebagai pembohong dan penipu. Dan teriakan orang-orang Perancis yang tidak percaya kepada Tuhan adalah, "Ganyang Orang malang itu," maksudnya Kristus. Hujatan terhadap surga dan kejahatan yang menjijikkan berjalan bersama-sama, dan orang-orang yang paling tidak bermoral, serta orang-orang yang sangat kejam dan mempunyai kebiasaan buruk adalah yang paling ditinggikan. Dalam semuanya ini, penghormatan yang paling tinggi diberikan kepada Setan, sementara Kristus dengan ciri kebenaran-Nya, kemurnian-Nya dan cinta-Nya yang tidak mementingkan diri itu, disalibkan.

"Maka binatang yang muncul dari jurang maut akan memerangi mereka, dan mengalahkan serta membunuh mereka." Kekuasaan ateis yang memerintah di Perancis selama Revolusi dan Pemerintahan Teror, ikut serta dalam peperangan melawan Allah dan firman-Nya yang kudus sebagaimana dunia belum pernah menyaksikannya sebelumnya. Peribadatan kepada Allah telah dihapuskan oleh Musyawarah Nasional. Alkitab-Alkitab dikumpulkan dan dibakar di depan umum dengan segala manifestasi penghinaan yang mungkin dilakukan. Hukum Allah diinjak-injak. Lembaga-lembaga Alkitab dilenyapkan. Hari istirahat mingguan dikesmpingkan, dan sebagai gantinya setiap sepuluh hari dikhususkan untuk berpesta pora bersenang-senang, dan penghujatan. Acara baptisan dan perjamuan kudus dilarang. Pengumuman-pengumuman yang menarik perhatian ditempelkan di tempat-tempat penguburan, yang menyatakan bahwa kematian adalah keadaan tidur yang kekal.

Takut akan Allah dikatakan bukan sebagai permulaan segala hikmat, tetapi permulaan segala kebodohan. Semua upacara perbaktian agama dilarang, kecuali yang berhubungan dengan kebebasan dan negara. "Uskup konstitusional Paris ditugaskan memainkan peranan utama dalam olok-olokan yang paling kasar dan sangat memalukan yang pernah dilakukan di hadapan perutusan nasional . . . . Ia ditampilkan dengan penuh arak-arakan atau prosesi, untuk menyatakan kepada Konvensi bahwa agama yang telah diajarkannya beberapa tahun yang lalu, dalam segala hal, hanyalah permainan imam belaka, yang tidak mempunyai dasar sejarah maupun kebenaran yang kudus. Ia menyangkal, dengan istilah khas, keberadaan Tuhan, kepada siapa peribadatan ditujukan ; dan membaktikan dirinya pada hari-hari yang akan datang kepada penghormatan kebebasan, persamaan, kebijakan dan moralitas. Kemudian ia meletakkan hiasan tanda-tanda jasa di atas meja, dan menerima pelukan persaudaraan dari ketua Konvensi. Imam-imam yang telah murtad mengikuti teladan pejabat-pejabat tinggi gereja." -- Scott, Vol. I, ch. 17.

"Dan mereka yang diam di atas bumi bergembira dan bersukacita atas mereka itu dan berpesta dan saling mengirim hadiah, karena kedua nabi itu telah merupakan siksaan bagi semua orang yang diam di atas bumi." Perancis yang tidak percaya adanya Tuhan telah membungkam suara teguran kedua saksi Allah. Suara kebenaran dibiarkan 'terletak mati' di jalan-jalan, dan mereka yang membenci pembatasan dan tuntutan hukum Allah bergembira dan bersukaria. Manusia menentang raja Surga. Seperti orang-orang berdosa zaman dahulu mereka berteriak, "Bagaimanakah Allah tahu hal itu? Adakah pengetahuan pada Yang Mahatinggi?" (Maz. 73:11).

Dengan keberanian menghujat yang melampaui batas, yang sudah sukar dipercaya, salah seorang imam orde baru berkata, "Allah, jika Engkau memang ada, tuntutlah pembalasan atas nama-Mu yang sudah rusak itu. Saya menentang-Mu! Engkau tetap diam. Engkau tak berani mendatangkan guntur-Mu. Siapakah sesudah ini yang percaya kepada keberadaan-Mu?" -- Lacretelle's "History," Vol. XI, p. 309; dalam Allison's "History of Europe," Vol. I, ch. 10. Bukankah ini merupakan gema suara tuntutan Firman, "Siapakah Tuhan itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Tidak kenal aku Tuhan itu, dan tidak juga aku membiarkan orang Israel pergi."


"Orang bebal berkata dalam hatinya, tidak ada Allah" (Maz. 14:1). Dan Tuhan menyatakan mengenai penyesat-penyesat kebenaran, "kebodohan mereka akan nyata bagi semua orang" (2 Tim. 3:9). Sesudah Perancis menolak penyembahan kepada Allah yang hidup, "Yang Mahatinggi dan yang mendiami kekekalan," tidak berapa lama bangsa itu terjerumus ke dalam penyembahan berhala yang menurunkan martabat, oleh pemujaan kepada Dewi Pertibangan, dalam wujud seorang wanita tidak bermoral. Dan ini mereka lakukan di hadapan mahkamah perwalian bangsa itu, dan dihadapan kekuasaan tertinggi sipil dan legislatif! Ahli sejarah berkata, "Salah satu upacara pada saat yang sudah gila ini tidak tertandingi oleh karena perpaduan antara kemustahilan dengan kebejatan. Pintu-pintu Konvensi terbuka lebar bagi para pemusik, yang didahului oleh prosesi khidmat anggota-anggota badan pemerintahan kota, sambil menyanyikan lagu-lagu pujian terhadap kebebasan, dan sambil mengawal sasaran pemujaan mereka di masa yang akan datang, yaitu wujud seorang wanita yang ditutupi, yang mereka sebut Dewi Pertimbangan. Setelah dibawa ke atas meja panjang, lalu dibuka penutupnya seluruhnya, dan ditempatkan di sebelah kanan presiden, yang ternyata ia kenal sebagai penari wanita opera . . . . Dengan alasan ini, sebagai wakil pertimbangan yang mereka sembah, Konvensi Nasional Perancis memberikan penghormatan umum kepadanya.

Kemunafikan dan penyamaran yang tidak beriman dan menggelikan ini mempunyai cara tertentu, dan pelantikan Dewi Pertimbangan ini diperbaharui dan ditiru di seluruh negeri, di tempat-tempat dimana penduduk ingin menunjukkan bahwa mereka sama dengan tingginya Revolusi." -- Scott, Vol. I, ch. 17.

Kata seorang ahli pidato yang memperkenalkan perbaktian kepada Dewi Pertimbangan, "Para pembuat undang-undang! Fanatisisme telah memberikan jalan kepada pertimbangan. Matanya yang rabun tidak dapat menahan kecemerlangan terang. Pada hari ini telah berkumpul di tempat ini, di bawah kubah bangunan bergaya Gothik ini, banyak orang berdesak-desakan, yang untuk pertamakalinya menggemakan kebenaran kembali. Di sini, orang-orang Perancis telah merayakan perbaktian yang benar satu-satunya, -- yaitu Kebebasan dan Pertimbangan. Di sinilah kita membentuk satu keinginan untuk kemakmuran kekuatan Republik. Di sini kita telah meninggalkan berhala-berhala yang mati demi Pertimbangan dan demi patung hidup, karya agung alam." -- Thiers, M.A., "History of the French Revolution," Vo. II, pp. 370,371.

Pada waktu Dewi itu dibawa ke dalam Konvensi, ahli pidato itu memegangnya seraya berpaling kepada perkumpulan itu, "Orang-orang yang fana, berhentilah gemetar dihadapan suatu Allah yang tidak berdaya, yang telah menciptakan ketakutanmu. Mulai sekarang akuilah bahwa tidak ada keilahian tetapi hanya Pertimbangan. Saya tawarkan kepadamu patungnya yang paling agung dan paling murni. Jikalau engkau harus mempunyai berhala, berilah pengorbananmu hanya kepada yang seperti ini . . . . Sujudlah dihadapan Senat Kebebsan yang agung, oh Dewi Pertimbangan! . . .

"Setelah presiden memeluk dewi itu, ia dnaikkan kereta kencana, dan dituntun melalui kerumunan massa, ke katedral Notre Dame, untuk menggantikan tempat Allah. Disana ia dinaikkan ke atas mezbah yang tinggi, dan menerima penghormatan dari semua yang hadir." -- Allison, Vol. I, ch. 10.

Tidak lama sesudah itu, upacara itu diikuti pembakaran Alkitab. Pada suatu kesempatan "Perkumpulan Masyarakat Museum Populer," memasuki gedung balai kota, dan berseru, "Viva la Raison" (Hidup Pertimbangan), dan membawa di ujung sebuah tongkat sisa-sia buku-buku yang setengah terbakar, yang diantaranya terdapat buku penuntun sembahyang bagi para imam, misa dan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang "ditebus dalam api besar," kata presiden, "semua kebodohan yang telah dilakukan oleh umat manusia." -- Journal of Paris, 1793, No. 318. Quoted in Buchez-Roux's collection of Parliamentary History, Vol. XXX, pp. 200,201.

Kepausanlah yang memulai pekerjaan yang diselesaikan oleh ateisme. Peraturan dan kebejatan Roma telah menciptakan keadaan-keadaan, seperti sosial, politik dan keagamaan yang tela membuat Perancis segera menuju kehancuran. Para penulis yang merujuk kepada kengerian Revolusi itu, menyatakan bahwa ekses-ekses ini adalah akibat kesalahan kerajaan dan gereja. -- (Lihat Lampiran). Berdasarkan pertimbangan keadilan, gereja patut dipersalahkan di sini. Kepausan telah meracuni pikiran-pikiran untuk menentang Pembaharuan sebagai musuh kerajaan, sebagai suatu unsur perpecahan yang berdampak fatal kepada perdamaian dan keharmonisan bangsa. Adalah pikiran Roma yang mengilhamkan kekejaman langsung dan penindasan paling pahit yang diperintahkan oleh raja.

Roh kebebasan berjalan bersama-sama dengan Alkitab. Dimana saja Injil diterima, pikiran orang-orang dibangunkan. Mereka mulai membuangkan belenggu yang mengikat mereka dalam perhambaan kebodohan, kebiasaan buruk dan ketakhyulan. Mereka mulai berpikir dan bertindak sebagai anusia. Raja-raja melihat hal itu dan merasa takut oleh karena pemerintahan mereka yang sewenang-wenang.


Roma tidak berlambatan untuk menghancurkan ketakutan mereka. Paus berkata kepada wali raja Perancis pada tahun 1525, "Aliran gila ini (Protestantisme) tiak saja mengacaukan dan membinasakan agama, tetapi juga semua pemerintahan, kebangsawanan, hukum, peraturan dan kedudukan." -- Felice, G. de, "History of the Protestants of France," b. 1, ch. 2, par. 8. Beberapa tahun kemudian, duta kepausan mengamarkan raja, "Sri baginda, janganlah tertipu. Kaum Protestan akan mengacaukan ketertiban umum dan agama. . . . Takhta kerajaan dan mezbah sama-sama dalam bahaya . . . . Memperkenalkan agama baru berarti memperkenalkan pemerintah baru." -- D'Aubigne, "History of the Reformtaion in the Time of Calvin," b. 2, ch. 36. Dan ahli-ahli teologi menghimbau permusuhan orang-orang dengan menyatakan bahwa ajaran Protestan "menarik orang-orang kepada hal-hal baru dan kebodohan, merampas kecintaan rakyat kepada rajanya, dan menghancurkan baik gereja maupun negara." Dengan demikian Roma berhasil mempersiapkan Perancis menentang Pembaharuan. "Maka dihunuslah pedang penganiayaan yang pertama di Perancis untuk mendukung dan meninggikan raja, untuk melindungi para bangsawan, dan menegakkan hukum dan undang-undang." -- Wylie, b. 13, ch. 4.

Para pemerintah negeri itu tidak bisa meramalkan akibat-akibat dari kebijakan dan peraturan yang menentukan ini. Pengajaran Alkitab sebenarnya menanamkan di dalam pikiran dan hati manusia azas-azas peradilan, pengendalian diri, kebenaran, keadilan dan kedermawanan, yang menjadi batu penjuru bagi kemakmuran bangsa. "Kebenaran meninggikan derajat bangsa." Dengan demikian "takhta menjadi kokoh." (Amsal 14:34; 16:12). "Dimana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya." (Yesaya 32:17). Ia yang menuruti hukum ilahi akan menuruti dan menghormati hukum-hukum negaranya. Ia yang takut akan Allah akan menghormati raja yang menjalankan semua kejujuran dan wewenangnya yang sah menurut hukum. Tetapi Perancis yang malang melarang Alkitab dan mengharamkan murid-muridnya. Dari abad ke abad orang-orang yang jujur dan yang setia kepada prinsip, orang-orang yang mempunyai intelek yang tinggi dan moral yang kuat, yang mempunyai keberanian untuk mengakui keyakinannya, dan yang mempunyai iman untuk menderita demi kebenaran, -- untuk selama berabad-abad orang-orang ini bekerja sebagai budak-budak di dapur kapal-kapal, binasa di atas tiang pembakaran, atau membusuk di penjara bawah tanah. Beribu-ribu orang mencari selamat di pelarian, dan hal ini terus berlanjut selama dua ratus lima puluh tahun sesudah Pembaharuan dimulai.

"Jarang ada generasi bangsa Perancis selama jangka waktu yang panjang itu yang tidak menyaksikan murid-murid kabar Injil yang melarikan diri dari hadapan penganiaya yang ganas sambil membawa bersama mereka kepintaran, kesenian kerajinan dan usaha industri, peraturan, dalam hal-hal mana mereka menonjol, sehingga memperkaya negeri-negeri tempat mereka berlindung.Dan dalam perbandingan, sementara mereka memperkaya negara-negara lain dengan kebolehan-kebolehan yang baik ini, dalam pada itu mereka mengosongkan negara mereka dari kebolehan-kebolehan tersebut. Jika sekiranya semua yang telah mengalir keluar itu tetap tinggal di Perancis, jika sekiranya selama tiga ratus tahun ini kecakapan industri orang-orang yang melarikan diri itu mengusahakan tanah negeri itu, jika selama tiga ratus tahun ini bakat artistik mereka meningkatkan manufaktur, jika selama tiga ratus tahun ini kejeniusan kreatifitas dan kemampuan analitik mereka memperkaya literatur dan mengembangkan ilmunya, jika hikmat mereka telah menuntun konsili-konsili mereka, keberanian mereka berjuang dalam peperangan, keadilan mereka membentuk hukum-hukumnya, dan agama Alkitab memperkuat intelek dan memerintah hati nurani rakyat, maka alangkah besarnya kemuliaan yang mengelilingi Perancis sekarang ini! Betapa besarnya, makmurnya, dan bahagianya negara itu -- sebagai teladan bagi bangsa-bangsa lain.

"Akan tetapi kefanatikan yang membabibuta dan tak terhindarkan mengusir dari negerinya guru-guru kebajikan, pelopor-pelopor peraturan dan pembela-pembela setia takhta kerajaan. Perancis berkata kepada orang-orang yang sebenarnya mampu membuat negeri itu 'terkenal dan mulia' di dunia ini, 'mana yang engkau pilih, tiang gantungan pembakaran atau pengasingan'. Akhirnya negeri itupun mengalami keruntuhan benar-benar. Tidak ada lagi hati nurani untuk menegur, tidak ada lagi agama yang harus diseret ke tiang gantungan pembakaran. Tidak ada lagi patriotisme untuk diusir ke pengucilan." -- Wylie, b. 13, ch. 20. Dan akibatnya adalah Revousi dengan segala akibatnya.

"Dengan perginya orang-orang Huguenots melarikan diri, maka terjadilah kemerosotan umum di Perancis. Kota-kota industri yang dulu bertumbuh pesat sekarang jatuh merosot tajam. Daerah-daerah subur kembali menjadi tandus. Kelambanan intelektual dan kemerosotan moral menggantikan masa kemajuan. Paris menjadi salah satu tempat orang-orang miskin, dan diperkirakan, pada permulaan Revolusi, dua ratus ribu orang yang sangat miskin mengharapkan belas kasihan dari tangan raja. Kaum Yesuit sajalah yang terus maju di negara yang sedang merosot itu, dan memerintah gereja-gereja dan sekolah-sekolah, penjara-penjara dan dapur-dapur kapal dengan kelaliman yang mengerikan."


Sebenarnya Injil akan membawa kepada Perancis penyelesaian masalah polotik dan sosial yang membingungkan para ulama dan rajanya, dan para pembuat undang-undangnya, yang akhirnya menjerumuskan bangsa itu kepada anarki dan keruntuhan. Tetapi dibawah dominasi Roma oarng-orang telah kehilangan berkat pelajaran dari Juru Selamat, yaitu pelajaran penyangkalan diri dan kasih yang tidak mementingkan diri sendiri. Mereka telah dituntun jauh dari penyangkalan diri demi kebaikan orang lain. Orang kaya tidak merasa ditegur atas penindasan mereka terhadap orang miskin. Orang miskin tidak mendapat imbalan yang setimpal atas pelayanan dan kehinaan yang mereka alami. Rasa mementingkan diri orang kaya dan orang-orang yang berkuasa bertumbuh semakin nyata dan semakin menekan. Selama berabad-abad ketamakan dan tindakan tidak bermoral para bangsawan mengakibatkan pemerasan yang sangat menghimpit para petani. Orang kaya mempersalahkan orang miskin dan orang miskin membenci orang kaya. Di beberapa daerah tanah pertanian dikuasai oleh para bangsawan, dan golongan pekerja hanyalah sebagai penyewa. Mereka bergantung kepada belas kasihan tuan-tuan tanah, dan mereka terpaksa tunduk kepada permintaan tuan-tuan tanah itu yang terlalu tinggi. Beban untuk mendukung baik gereja maupun negara terletak pada golongan bawah dan menengah, yang dibebani dengan pajak yang tinggi oleh pemerintah dan gereja. "Kesenangan dan kehendak para bangsawan dianggap sebagai hukum tertinggi. Para petani dan peladang kelaparan, semua karena penindasan mereka yang kejam. . . . Rakyat dipaksa untuk menanyakan kemauan para tuan tanah dalam setiap tindakan mereka. Kehidupan para petani adalah kehidupan yang terus menerus bekerja dan penderitaan yang yang tidak ada habis-habisnya. Keluhan mereka, jika mereka berani mengeluh, diperlakukan dengan penghinaan yang kurang ajar. Pengadilan selalu memenangkan bangsawan bilamana berhadapan dengan petani. Hakim sudah biasa menerima sogok. Dan perobahan pikiran yang tiba-tiba dari para bangsawan mempunyai kekuatan hukum, oleh karena sistem korupsi dan kebejatan yang sudah merajalela ini. Dari pajak yang ditarik dari rakyat jelata, oleh pegawai penting pemerintah dan para rohaniawan, tidak sampai separuh yang sampai ke perbendaharaan kerajaan atau perbendaharaan keuskupan. Yang selebihnya diboroskan dalam pemanjaan diri yang tidak bermoral. Orang-orang yang memelaratkan temannya sesama rakyat, mereka sendiri bebas dari pajak, dan berhak atas semua penunjukan negara berdasarkan undang-undang. Golongan-golongan yang mempunyai kedudukan sosial yang baik dan yang mempunayi kekayaan, berjumlah seratus lima puluh ribu orang, dan untuk memuaskan hati mereka berjuta-juta orang telah dihukum dengan kehidupan yang tanpa harapan dan yang merendahkan derajatnya." -- (Lihat Lampiran).

Istana menjadi tempat kemewahan dan percabulan yang tak bermoral. Hanya sedikit rasa percaya yang terjadi antara rakyat dan penguasa. Semua undang-undang dan peraturan pemerintah dipandang dengan rasa curiga, sebagai suatu kelicikan dan yang mementingkan diri sendiri. Selama lebih setengah abad sebelum Revolusi terjadi, takhta telah diduduki oleh Louis XV, yang, walaupun dalam waktu yang berbahaya seperti itu, ia dikenal sebagai seorang pemalas, semberono, dan bernafsu jahat. Dengan negara yang diperinth oleh kaum bangsawan yang bermoral bejat dan kejam serta dengan penduduk golongan yang miskin dan bodoh, maka keuangan negara sangat merosot, dan rakyat menjadi jengkel dan marah. Tidak diperlukan mata seorang nabi untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Raja biasa memberi jawaban kepada para penasihatnya, "Usahakan membuat segala sesuatu berjalan terus selama saya masih hidup. Setelah saya mati biarlah berjalan menurut kemauannya." Sia-sia himbauan untuk mengadakan suatu pembaharuan. Ia melihat kejahatan itu, tetapi tidak mempunyai keberanian atau kuasa untuk menghadapinya. Malapetaka yang menantikan Perancis terlalu jelas digambarkan dalam jawaban kemalasan yang mementingkan diri, "Sesudah aku, banjir besar!"

Dengan bekerja melalui kecemburuan raja-raja dan golongan-golongan yang memerintah, Roma telah mempengaruhi mereka untuk terus memperbudak rakyat. Mengetahui dengan jelas bahwa negara dengan demikian akan dilemahkan, dan bermaksud dengan cara ini mengikat baik pemerintah maupun rakyat ke dalam perbudakannya. Dengan peraturannya yang memandang jauh kedepan ia melihat bahwa untuk memperbudak orang-orang dengan efektif harus dibelenggu jiwa mereka. Dan untuk memastikan mereka tidak melarikan diri dari perbudakan itu ialah dengan tidak memberikan kebebasan sama sekali kepada mereka. Yang seribu kali lebih ngeri dari penderitaan fisik yang diakibatkan kebijakan atau pertauran ini ialah pemerosotan moral. Karena tidak lagi mendapat pengajaran dari Alkitab, selain dari ajaran kefanatikan dan mementingkan diri sendiri, maka rakyat diselubungi oleh kebodohan dan ketakhyulan, dan tenggelam dalam sifat-sifat buruk, sehingga sama sekali tidak sesuai lagi untuk mempunyai pemerintahan sendiri.

Akan tetapi akibat dari semua ini berbeda dengan apa yang diharapkan oleh Roma. Sebagai gantinya membuat massa secara buta tunduk kepada dogma-dogmanya, pekerjaannya telah berhasil membuat mereka menjadi tidak setia dan menjadi revolusionis atau meberontak. Romanisme mereka pandang dan benci sebagai kelicikan imam-imam. Mereka memandang para pendeta dan rohaniawan sebagai kelompok penindas mereka. Satu-satunya yang mereka kenal ialah ilah Roma, ajarannya adalah agama mereka. Mereka menganggap ketamakannya dan kekejamannya adalah buah-buah sah Alkitab, sedangkan mereka sendiri tidak kebagian apa-apa.

Roma telah memberikan gambaran yang salah mengeni tabiat Allah, dan memutar-balikkan tuntutan-Nya. Dan sekarang menolak baik Alkitab maupun Pengarangnya. Roma menghendaki orang percaya kepada dogma-dogmanya dengan membabibuta, seolah-olah itu dibenarkan oleh Alkitab. Sebagai reaksinya, Voltaire dan rekan-rekannya sama sekali mengesampingkan firman Allah, dan menyebarkan dimana-mana racun pemberontakan. Roma telah menginjak-injak rakyat, dan sekarang massa, yang telah dihinakan dan brutal, melepaskan diri dari kelaliman dan menolak semua kekangan pembatasan. Kemarahan terhadap kecurangan yang licik, yang kepada siapa selama ini mereka membayar upeti atau penghormatan, mereka menolak kebenaran dan kepalsuan sekaligus. Dan para budak ini salah mengerti mengenai kebebasan mereka, sehingga mereka bersukaria di dalam kebebasan mereka yang masih di angan-angan.


Pada permulaan Revolusi, atas izin raja, rakyat diberi perwakilan melebihi para bangsawan dan para rohaniawan digabungkan. Dengan demikian perimbangan kekuasaan ada di tangan mereka. Tetapi mereka belum siap untuk menggunakannya dengan bijaksana dan dengan sikap yang wajar. Ingin mengganti kesalahan-kesalahan yang membuat mereka menderita, mereka memutuskan untuk menjalankan rekronstruksi (membangun kembali) masyarakat. Kemarahan rakyat jelata, yang pikirannya dipenuhi oleh kenangan kesalahan pahit yang lama, memutuskan untuk merevolusi keadaan penderitaan yang telah tidak tertanggung lagi, dan membalas dendam kepada mereka yang mereka anggap sebagai penyebab penderitaan mereka. Orang-orang yang tertindas itu melaksanakan apa yang mereka pelajari dari kelaliman, dan menjadi penindas mereka yang telah menindas mereka.

Perancis yang malang menuai dalam darah tuaian yang ia telah tabur. Sungguh mengerikn akibat dari pengabdiannya kepada kekuasaan Romawi. Dimana Perancis, dibawah pengaruh Romanisme, telah mendirikan tiang gantungan pembakaran yang pertama pada permulaan Pembaharuan, sekarang Revolusi mendirikan gullotinnya (alat pemenggalnya) yang pertama. Di tempat yang sama, dimana para syuhada iman Protestan dibakar pada abad ke enam belas, korban pertama di gullotin pada abad ke delapan belas. Dalam penolaknnya akan Injil yang sebenarnya membawa kesembuhan kepadanya, Perancis telah membuka pintu kepada pemberontakan dan kehancuran. Pada waktu pembatasan-pembatasan hukum Allah dikesampingkan, telah diketemukan bahwa hukum-hukum manusia tidak cukup untuk menahan gelombang kuat nafsu manusia. Dan bangsa itu bangkit kepada revolusi dan anarki. Perang melawan Alkitab meresmikan suatu era yang dalam sejarah dunia disebut sebagai "Pemerintahan Teror." Kedamaian dan kebahagiaan telah lenyap dari rumah dan hati manusia. Tak seorangpun merasa aman. Ia yang menang hari ini besok dicurigai dan dihukum. Kekerasan dan hawa nafsu merajalela.

Para rohaniawan dan para bangsawan dipaksa menyerah kepada kekejaman rakyat yang sudah bangkit naik pitam itu. Kehausan mereka untuk membalas dendam dirangsang oleh kematian raja; dan dia yang mendekritkan kematiannya, segera juga menyusul ke tiang gantungan pembakaran. Suatu pembunuhan umum atas semua yang dicurigai memusuhi Revolusi telah ditetapkan. Penjara-penjara penuh sesak, pada suatu waktu berisi lebih dari dua ratus ribu orang tawanan. Kota-kora kerajaan itu dipenuhi horor. Satu golongan atau kelompok revolusionis melawan golongan atau kelompok lain. Dan Perancis menjadi medan persaingan massa, digoncang oleh kekejaman hawa nafsu mereka. "Di Paris huru-hara dan kerusuhan susul menyusul, dan pnduduk terbagi-bagi dalam faksi-faksi, yang tampaknya tidak ada maksud lain selain saling membinasakan atau menyingkirkan." Dan sebagai tambahan kepada penderitaan umum, bangsa ini menjadi terlibat dalam perang yang berkepanjangan yang paling merusakkan, dengan kekuasaan-kekuasaan besar. "Negara itu hampir-hampir bangkrut. Tentara berteriak karena tunggakan gaji mereka , orang-orang Paris kelaparan, daerah-daerah diporak-porandakan oleh perampok-perampok, dan peradaban hampir dilenyapkan dalam kekacauan dan kebebasan."

Orang-orang telah belajar kekejaman dan penyiksaan yang diajarkan oleh Roma. Akhirnya telah datang hari pembalasan. Sekarang bukan murid-murid Yesus yang dilemparkan ke dalam penjara bawah tanah dan diseret ke tiang pembakaran. Murid-murid Yesus sudah lama binasa atau diusir ke pengasingan. Sekarang Roma merasakan kekuasaan kejam yang telah dilatihnya untuk bergembira dalam pekerjaan-pekerjaan penumpahan darah. "Contoh penganiayaan yang dipertontonkan oleh kaum rohaniawan Perancis selama bertahun-tahun, sekarang dibalaskan kepada mereka dengan kekerasan. Panggung-panggung pembakaran bersimbah darah para imam. Penjara-penjara dan kapal-kapal, yang pada suatu waktu di huni oleh orang-orang Huguenots, sekarang dipenuhi oleh penyiksa-penyiksa. Dirantai ke bangku dan bekerja mendayung kapal-kapal, kaum rohaniawan Roma Katolik mengalami semua bencna yang gereja mereka dengan sewenang-wenang lakukan kepada kaum bida'ahyang lemah-lembut." -- (Lihat Lampiran).


"Maka tibalah waktunya bilamana undang-undang yang paling biadab dan paling kejadm diberlakukan oleh pengadilan yang paling biadab dan paling kejam, bilamana tak seorangpun diperbolehkan menyapa tetangganya atau mengucapkan doa-doanya . . . tanpa bahaya dituduh melakukan kejahatan utama yang dapat di tuntut hukuman mati; bilamana mata-mata bersembunyi mengintai di setiap sudut, bilmanana gullotin bekerja keras setiap pagi, bilamana penjara-penjara penuh seperti penuhnya palka-palka kapal pembawa budak-budak, bilamana parit-parit mengalirkan darah berbuih ke Sungai Seine . . . . Sementara kereta yang penuh dengan korban-korban di dorong melalui jalan-jalan kota Paris menuju kebinasaan mereka, para kepala daerah, yang telah dikirim oleh komite kekuasaan tertinggi ke tiap-tiap departemen, berpesta pora dengan kekejaman yang luar biasa yang di ibukota sendiripun belum dikenal. Pisau alat pemotong itu naik turun terlalu lambat rasanya dalm pekerjaan pembantaian itu. Barisan panjang para tawanan diberondong dengan peluru. Lobang-lobang dibuat di dasar kapal tongkang yang penuh sesak. Kota Lyons menjadi padang gurun. Di Arras permohonan para tawanan supaya dibunuh dengan cepat bahkan ditolak. Dari Loire sampai ke Saumur hingga ke tepi laut, kawanan burung-burung gagak dan burung rajawali berpesta-pora memakan bangkai-bangkai yang bertelanjang, yang terikat berdua-dua sambil berpelukan dengan sangat mengerikan. Tidak ada belas kasihan yang ditunjukkan terhadap usia atau jenis kelamin. Jumlah pemuda dan pemudi yang berumur tujuh belas tahunan yang dibunuh oleh pemerintah yang keji, diperkirakan ratusan orang banyaknya. Bayi-bayi yang dirampas dari pelukan di dada ibunya ditusuk dengan lembing dan dilontarkan dari satu tebing ke tebing yang lain sepanjang barisan sepanjang barisan Jacobin." -- (Lihat Lampiran). Dalam tempo sepuluh tahun saja tak terkira banyaknya manusia yang dibinasakan.

Semua kejadian ini berlangsung seperti yang diinginkan oleh Setan. Inilah yang diusahakannya untuk dicapai sepanjang zaman. Kebijakannya adalah penipuan sejak dari permulaan sampai penghabisan, dan tujuan utamanya ialah mendatangkan bencana dan kehancuran kepada manusia, untuk merusakkan dan mengotori ciptaan Allah, merusakkan tujuan ilahi dalam kedermawanan dan kasih, dan dengan demikian menyebabkan dukacita di Surga. Kemudian oleh seni penipuan ini ia membutakan pikiran manusia, dan menuntun untuk mempersalahkan semua yang terjadi ini kepada Allah, seolah-olah semua penderitaan ini adalah akibat dari rencana Khalik. Demikian juga, bilamana mereka yang telah dihinakan dan yang diperlakukan dengan kejam melalui kekuasaannya yang kejam, memperoleh kemerdekaan mereka, ia mendorong mereka untuk bertindak sewenang-wenang dan kejam. Kemudian gambaran perbuatan tanpa kekang ini ditunjukkan oleh kelaliman dan penindasan sebagai akibat dari kebebasan atau kemerdekaan.

Bilamana kesalahan yang disembunyikan diketahui, Setan hanya menutupinya dengan penyamaran yang lain. Dan orang banyak menerimanya dengan senang hati seperti yang semula. Pada waktu orang-orang menemukan bahwa Romanisme adalah penipuan, dan melalui agen-agennya ia tidak bisa menuntun orang-orang untuk melanggar hukum Allah, ia mendorong mereka untuk menganggap semua agama adalah penipu, dan Alkitab itu adalah cerita-cerita dongeng. Dan dengan mengesampingkan undang-undang ilahi, mereka menyerahkan diri kepada kejahatan yang tidak dapat dikekang itu.

Kesalahan fatal yang dilakukan oleh bencana ini bagi rakyat Perancis ialah tidak mau tahu mengenai kebenaran besar: bahwa kebebasan yang benar terletak pada larangan hukum Allah. "Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti." "Tidak ada damai sejahtera bagi orang-orang fasik!" firman Tuhan. "Tetapi siapa mendengarkan Aku, ia akan tinggal dengan aman terlindung dari pada kedahsyatan malapetaka." ( Yes. 48:18; Amsal 1:33).

Para ateis, pelanggar hukum, dan orang-orang yang sudah murtad, menentang dan menolak hukum Allah. Tetapi akibat-akibat dari pengaruh mereka membuktikan bahwa kesejahteraan manusia tergantung kepada penurutan kepada hukum-hukum ilahi. Mereka yang tidak membaca pelajaran dari buku Allah, diminta agar membacanya dalam sejarah bangsa-bangsa.

Pada waktu Setan bekerja melalui Gereja Roma untuk menuntun orang-orang mengingkari penurutan, agen-agennya disembunyikan dan pekerjaannya begitu samar-samar sehingga kemerosotan dan penderitaan yang diakibatkannya tidak terlihat sebagai akibat dari pelanggaran. Dan kuasanya sebegitu jauh dihalangi oleh pekerjaan Roh Allah, sehingga maksud-maksudnya tidak mencapai keberhasilan penuh. Orang-orang tidak menelusuri akibatnya dari penyebabnya untuk mengetahui sumber kesusahan mereka. Tetapi dalam Revolusi, hukum Allah telah dikesampingkan oleh Konsili Nasional secara terbuka. Dan dalam Pemerintahan Teror yang menyusul, pekerjaan sebab dan akibat tampak jelas dilihat semua orang.


Pada waktu Perancis menolak secara terang-terangan dan mengesampingkan Alkitab, orang-orang jahat dan roh-roh kegelapan bersorak-sorai oleh karena tercapainya tujuan yang sudah lama dirindukan -- suatu kerajaan yang bebas dari kungkungan hukum Alah. Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati nurani "penuh niat untuk berbuat jahat." ( Pengkhotbah 8:11-13). Tetapi pelanggaran hukum keadilan dan kebenaran tidak bisa tidak harus mengakibatkan penderitaan dan kehancuran. Walaupun tidak datang segera pengadilan itu, kejahatan manusia bagaimanapun juga pasti mendatangkan kebinasaan mereka. Kemurtadan dan kejahatan yang sudah berabad-abad telah mendatangkan murka pada hari pembalasan. Dan apabila kejahatan mereka telah penuh, para pembenci Allah itu sudah terlambat untuk mengetahui bahwa adalah hal yang menakutkan menghabiskan panjang sabar ilahi. Roh Allah yang mencegah dan mengendalikan itu, yang mengendalikan pekerjaan jahat Setan, telah ditarik kembali. Dan dia yang kesukaannya ialah kesengsaraan manusia, telah diizinkan berbuat sekehendak hatinya. Mereka yang telah memilih pemberontakan, dibiarkan untuk menuai buah-buahnya, sampai negeri itu dipenuhi dengan kejahatan yang terlalu mengerikan untuk dilukiskan dengan pena. Dari daerah-daerah yang sudah rusak dan kota-kota yang sudah hancur, suatu jeritan yang memilukan terdengar -- suatu jeritan penderitaan yang paling pahit. Perancis diguncangkan seolah-olah oleh gempa bumi. Agama, hukum, keteriban sosial, keluarga, negara dan gereja -- semua telah dipukul oleh tangan yang tidak beriman yang telah bangkit melawan hukum Allah. Benarlah perkataan orang bijaksana itu, "Orang jahat aka jatuh oleh kejahatannya." "Walaupun orang yang berdosa dan yang berbuat jahat seratus kali hidup lama, namun aku tahu, bahwa orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan, sebab mereka takut terhadap hadirat-Nya. Tetapi orang fasik tidak akan beroleh kebahagiaan dan seperti bayang-bayang ia tidak akan panjang umur, karena ia tidak takut terhadap hadirat Allah." (Pengkhotbah 8:11-13). "Oleh karena mereka benci kepada pengetahuan dan tidak memilih takut akan Tuhan," "maka mereka akan memakan buah perbuatan mereka, dan menjadi kenyang oleh rencana mereka." (Amsal 1:29,31).

Saksi-saksi Allah yang setia, yang dibunuh oleh kuasa penghujat yang "muncul dari jurang maut" tidak lama tetap berdiam. "Tiga setengah hari kemudian masuklah roh kehidupan dari Allah ke dalam mereka, sehingga mereka bangkit dan semua orang melihat mereka menjadi sangat takut." (Wah. 11:11). Pada tahun 1793 dekrit penumpasan agama Kristen dan pengesampingan Alkitab, diluluskan oleh Majelis Permusyawatan Perancis. Tiga setengah tahun kemudian suatu resolusi membatalkan dekrit itu. Dengan demikian diberikan toleransi kepada Alkitab pada hari itu juga. Dunia berdiri heran terperanjat melihat banyaknya kejahatan yang diakibatkan oleh penolakan Kitab yang Suci itu, dan manusia menyadari perlunya percaya kepada Allah dan Firman-Nya sebagai landasan kebajikan dan moralitas. Tuhan bersabda, "Siapakah yang engkau cela dan engkau hujat? terhadap siapakah engkau menyaringkan suaramu dan memandang dengan sombong-sombong? Terhadap Yang Mahakudus, Allah Israel." (Yes. 37:23). "Sebab itu ketahuilah, Aku mau memberitahukan kepada mereka, sekali ini Aku akan memberitahukan kepada mereka kekuasaan-Ku dan keperkasaan-Ku, supaya mereka tahu, bahwa nama-Ku Tuhan." (Yer. 16:21).

Mengenai kedua saksi-saksi, nabi menyatakan lebih jauh, "Dan orang-orang itu mendengar suatu suara yang nyaring dari Surga berkata kepada mereka: 'Naiklah kemari!' Lalu naiklah mereka ke langit di selubungi awan, disaksikan oleh musuh-musuh mereka." (Wah. 11:12). Semenjak Perancis memerangi kedua saksi-saksi Allah itu, maka saksi-saksi itu telah dihormati seperti yang belum pernah sebelumnya. Pada tahun 1804, British & Foreign Bible Society (Lembaga Alkitab Inggris & Luar Negeri) telah diorganisasi. Hal ini diikuti organisasi-organisasi yang sama, dengan banyak cabang-cabangnya di benua Eropa . Pada tahun 1816 didirikan American Bible Society (Lembaga Alkitab Amerika). Pada waktu British Society didirikan, Alkitab itu telah dicetak dan diedarkan dalam 50 bahasa. Sejak waktu itu Alkitab telah diterjemahkan kedalam lebih dari 400 bahasa dan bahasa-bahasa daerah. -- (Lihat Lampiran).

Selama lima puluh tahun sebelum tahun 1792, hanya sedikit perhatian diberikan kepada misi-misi luar negeri. Tidak ada lembaga-lembaga didirikan, dan hanya ada sedikit gereja-gereja yang berusaha menyebarkan Kekristenan ke dunia kafir. Tetapi menjelang akhir abad ke delapan belas, terjadi perubahan besar. Orang-orang menjadi tidak merasa puas dengan hasil-hasil nasionalisme, dan menyadari perlunya pernyataan ilahi dan agama eksperimental. Dari waktu ini pekerjaan misi luar negeri mendapat pertumbuhan yang luar biasa. -- (Lihat Lampiran).

Kemajuan dalam bidang percetakan memberikan rangsangan kepada pekerjaan penyebar-luasan Alkitab. Sarana komunikasi yang bertambah antara berbagai negara, runtuhnya hambatan prasangka buruk dan ekslusif kebangsaan, dan hilangnya kekuasaan paus Roma, telah membuka jalan untuk masuknya firman Allah. Untuk selama beberapa tahun Alkitab telah dijual tanpa hambatan dijalan-jalan kota Roma, dan sekarang telah dibawa ke segala penjuru dunia yang berpenduduk.

Voltaire, yang tidak percaya kepada Tuhan, suatu kali berkata, "Saya sudah bosan mendengar orang-orang berulang-ulang mengatakan mengenai dua belas orang yang mendirikan agama Kristen. Saya akan membuktikan bahwa seorang saja sudah cukup untuk meruntuhkannya." Seabad sudah berlalu sejak kematiannya. Berjuta-juta orang telah berjuang bersama-sama memerangi Alkitab. Tetapi nyatanya jauh dari keruntuhan. Kalau pada zaman Voltaire ada seratus Alkitab, sekarang ada sepuluh ribu Alkitab, ya, bahkan seratus ribu Alkitab, Buku Allah. Seorang Pembaharu yang terdahulu berkata mengenai gereja Kristen, "Alkitab itu adalah landasan yang telah merusakkan banyak palu." Tuhan berkata, "Setiap senjata yang ditempa terhadap engkau tidak akan berhasil, dan setiap orang yang melontarkan tuduhan melawan engkau dalam pengadilan akan engkau buktikan salah." (Yes. 54:17). "Firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya." "Segala titah-Nya teguh, kokoh untuk seterusnya dan selama-lamanya dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran." ( Yes. 40:8; Maz. 111:7,8.). Apa saja yang didirikan atas kekuasaan manusia akan hancur, tetapi yang didirikan atas landasan batu zaman, firman Allah, akan teguh berdiri sampai selama-lamanya.


BAPA-BAPA MUSAFIR

~16~
BAPA-BAPA MUSAFIR

 

Walaupun para Pembaharu Inggris menolak doktrin-doktrin Roma, namun sebagian dari bentuk upacara-upacaranya masih tetap diertahankan. Dengan demikian walaupun kekuasaan dan kepercayaan atau syahadat Roma ditolak, tidak sedikit dari kebiasaan-kebiasaannya dan upacara-upacaranya yang dimasukkan ke dalam perbaktian Gereja Inggris. Telah dinyatakan bahwa perkara-perkara ini bukanlah masalah hati nurani, bahwa walaupun perkara-perkara itu tidak diperintahkan di dalam Alkitab, dan oleh karena itu tidak penting, namun tidak dilarang, pada hakekatnya perkara-perkara itu tidaklah jahat. Perhatian mereka cenderung untuk mengurangi jurang yang memisahkan gereja yang dibaharui itu dengan Roma, dan didorong agar mereka memajukan penerimaan iman Protestan oleh para pegikut Roma.

Bagi kaum konservatif dan yang suka berkompromi, argumen-argumen ini tampaknya cukup meyakinkan. Tetapi ada golongan lain yang tidak berpendapat demikian. Fakta bahwa kebiasaan ini "cenderung untuk menjembatani jurang perbedaan antara Roma dan Pembaharuan," -- Martyn, Vol. V, p. 22, dalam pandangan mereka adalah argumen yang meyakinkan untuk tidak mempertahankannya. Mereka memandang hal itu sebagai tanda-tanda perhambaan dari mana mereka telah dibebaskan, dan tidak berencana untuk kembali ke situ. Mereka berpikir bahwa Allah di dalam firman-Nya telah menetapkan peraturan mengenai perbaktian-Nya, dan bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan untuk menambah atau menguranginya. Permulaan sekali kemurtadan adalah dengan menambahkan kepada kekuasaan Allah kekuasaan gereja. Roma memulainya dengan melakukan yang tidak dilarang Allah, dan yang akhirnya melarang apa yang secara khusus di suruh-Nya.

Banyak orang yang dengan sungguh-sungguh ingin kembali kepada kemurnian dan kesederhanaan yang telah menandai gereja yang mula-mula itu. Mereka menganggap banyak kebiasaan-kebiasaan Gereja Inggris sebagai tugu perinngatan penyembahan berhala, dan hati nurani mereka tidak bisa bersatu dengan perbaktian seperti itu. Akan tetapi gereja, yang didukung oleh kekuasaan pemerintah, tidak mengizinkan adanya perselisihan dalam hal bentuk upacara-upacara ini. Mengikuti upacara ini diharuskan oleh undang-undang, dan perkumpulan-perkumpulan kebaktian agama yang tidak diizinkan, dilarang dengan ancaman hukuman penjara, dibuang, dan hukuman mati.

Pada permulaan abad ke tujuh belas, raja yang baru saja naik takhta kerajaan Inggris menyatakan keputusannya untuk memaksa kaum Puritan untuk "menyesuaikan diri, atau . . . mereka akan diusir keluar dari negeri itu, atau tindakan yang lain yang lebih buruk." -- Bancroft, George, "History of the United State of America," Part I, ch. 12, par. 6. Diburu-buru, dianiaya, dan dipenjarakan. Mereka melihat hari depan yang tidak menjanjikan hari-hari yang lebih baik, dan banyak yang bertekad melayani Allah sesuai dengan kata hati nurani mereka. "Inggris tidak bisa lagi didiami untuk selama-lamanya." -- Palfrey, J. G., "History of New England," ch. 3, par. 43. Akhirnya sebagian mencari perlindungan di Negeri Belanda. Kesulitan-kesulitan, kehilangan-kehilangan dan penjara dihadapi dan dialami. Rencana dan maksud-maksud mereka digagalkan, dan mereka dikhianati dan diserahkan ke tangan musuh-musuh mereka. Akan tetapi kesabaran dan keteguhan hati mereka akhirnya dapat mengatasinya, dan mereka menemukan perlindungan di pantai yang ramah Republik Belanda.

Dalam pelarian mereka, mereka telah meninggalkan rumah mereka, barang-barangnya, dan sumber penghidupan mereka. Mereka adalah orang-orang asing di negeri asing, di antara orang yang berbeda bahasa dan adat kebiasaan. Mereka terpaksa melakukan pekerjaan baru yang belum pernah dicoba sebelumnya hanya untuk memperoleh makanan. Orang-orang setengah baya, yang telah menggunakan waktunya mengolah tanah, sekarang harus belajar berdagang. Akan tetapi menerima keadaan mereka dengan gembira, dan tidak membuang-buang waktu dengan bermalas-malas atau mengeluh. Meskipun sering dihimpit oleh kemiskinan, mereka bersyukur kepada Allah untuk berkat-berkat yang masih dikaruniakan kepada mereka. Dan mendapatkan sukacita dalam persekutuan rohani yang tidak terganggu. "Mereka mengetahui bahwa mereka adalah musafir, dan mereka tidak mengharapkan banyak pada hal-hal keuntungan, tetapi mata mereka memandang ke Surga, tanah air mereka yang tercinta, dan yang menerangi jiwa mereka." -- Bancroft, PartI, ch. 12, par.15.

Ditengah-tengah kesukaran dan pembuangan itu, kasih dan iman mereka bertambah kuat. Mereka mempercayai janji-janji Tuhan, dan Dia tidak melupakan mereka pada waktu yang diperlukan. Malaikat-malaikat-Nya berada disamping mereka, untuk menguatkan dan menolong mereka. Dan pada waktu tangan Allah tampaknya menunjuk mereka untuk menyeberangi lautan, ke negeri dimana mereka boleh mendapat negara sendiri, dan memberikan warisan berharga kebebasan beragama kepada anak-anak mereka, mereka maju tanpa takut atau gentar dalam jalan pemeliharaan Tuhan.


Allah mengizinkan pencobaan datang kepada umat-umat-Nya untuk mempersiapkan mereka melaksanakan maksud-Nya kepada mereka. Gereja telah direndahkan agar ia boleh ditinggikan. Allah sudah hampir memperagakan kuasa-Nya demi mereka, untuk menunjukkan kepada dunia bukti lain bahwa Ia tidak akan meninggalkan mereka yang percya kepada-Nya. Ia telah mengendalikan kejadian-kejadian yang menyebabkan kemarahan Setan dan rencana-rencana orang-orang jahat untuk memajukan kemulian-Nya, dan membawa umat-umat-Nya ke tempat yang aman. Penganiayaan dan pembuangan atau pengasingan telah membuka jalan kepada kebebasan.

Pada waktu pertama kali didorong untuk memisahkan diri dari Gereja Inggris, kaum Puritan telah mempersatukan diri mereka bersama, oleh suatu perjanjian yang sungguh-sungguh, sebagai umat Tuhan yang bebas, "untuk berjalan bersama dalam segala jalan-Nya yang telah diberitahukan atau yang aka diberitahukan kepada mereka." -- Brown, J., "The Pilgrim Fathers," p. 74.

Inilah roh pembaharuan yang benar, prinsip vital Protestantisme. Dengan maksud inilah para musafir ini berangkat dari Negeri Belanda untuk mencari tempat di Dunia Baru Amerika Serikat. John Robinson, pendeta mereka yang ditakdirkan, dicegah untuk menyertai mereka, berkata dalam amanat perpisahannya kepada para buangan itu,

"Saudara-saudara, sekarang kita segera akan berpisah, dan Tuhan tahu apakah saya masih akan tetap hidup untuk melihat mukamu lagi. Tetapi apakah Tuhan sudah menetapkannya atau tidak, saya memberikan tantangan kepadamu dihadapan Allah dan malaikat-malaikat-Nya untuk mengikuti saya tidak lebih jauh daripada yang saya ikuti Kristus. Jika Allah harus menyatakan sesuatu kepadamu oleh alat-alat-Nya yang lain, bersedialah menerimanya sebagaimana Anda bersedia menerima kebenaran pelayanan saya. Karena saya sangat yakin bahwa Allah masih mempunyai lebih banyak lagi kebenaran dan terang yang akan keluar dari firman-Nya." -- Martyn, Vol. V, p. 70.

"Bagiku, aku tidak dapat menangisi keadaan gereja-gereja yang telah dibaharui, yang telah sampai kepada masa agama, dan sekarang tidak lebih dari sekadar alat pembaharuan. Kaum Lutheran tidak bisa ditarik perhatiannya melebihi dari apa yang dilihat oleh Luther . . . dan pengikut-pengikut Calvin sangat berpegang teguh kepada apa yang ditinggalkan oleh hamba Allah yang besar ini, yang juga belum melihat segala sesuatu. Inilah penderitaan yang masih harus kita tangisi, sebab walaupun mereka telah menyalakan dan memancarkan terang itu pada zaman mereka, namun mereka tidak menerusi kedalam seluruh nasihat Allah. Tetapi seandainya mereka hidup sekarang, mereka juga akan mau menerima terang yang lebih lnjut sebagaimana mereka menerimanya untuk pertama kali." -- Neal, D., "History of the Puritans," Vol.I, p. 269 9two-vol. ed. 1848).

"Ingatlah janji setia gerejamu, dimana engkau telah setuju untuk berjalan dalam segala jalan Tuhan, yang sudah maupun yang akan dinyatakan kepadamu. Ingatlah janjimu dan janji setiamu kepada Allah dan kepada satu sama lain, untuk menerima terang dan kebenaran apapun yang akan dinyatakan kepadamu dari firman-Nya yang tertulis. Tetapi, sebagai tambahan saya memohon kepadamu, berhati-hatilah, apa yang kamu terima sebagai kebenaran bandingkanlah dan timbanglah dengan kebenaran Alkitab yang lain sebeblum kamu menerimanya. Karena bukan tidak mungkin dunia Kristen keluar terlambat dari kegelapan Antikristen, dan kesempurnaan pengetahuan terpancar sekaligus." -- Martyn, Vol. V, pp. 70,71.

Kerinduan akan kebebasan hati nuranilah yang mengilhami para Musafir sehingga berani menghadapi bahaya perjalanan jauh menyeberangi lautan, menanggung kesulitan dan bahaya hutan belantara. Dan berkat Allahlah yang meletakkan dasar satu bangsa yang kuat di pantai benua Amerika. Namun sementara mereka jujur dan takut kepada Allah, para Musafir ini belum memikirkan prinsip-prinsip besar kebebasan beragama. Kebebasan yang mereka peroleh dengan banyak pengorbanan, belum bisa mereka berikan kepada orang lain. "Sangat sedikit orang, bahkan diantara para ahli-ahli pikir dan ahli-ahli moral abad ketujuhbelas, yang mempunyai konsep yang benar tetang prinsip besar, perkembangan Alkitab Perjanjian Baru yang mengakui Allah sebagai satu-satunya hakim iman manusia." -- Martyn, Vol. V, p. 297. Ajaran atau doktrin yang mengatakan bahwa Allah telah memberikan kepada gereja hak untuk mengendalikan hati nurani, dan mendefinisikan dan menghukum bida'ah adalah salah satu kesalahan kepausan yang telah berakar paling dalam. Sementara para Pembaharu menolak kepercayaan Roma, mereka tidak seluruhnya terbebas dari roh tidak toleran. Kegelapan yang telah menutupi seluruh dunia Kristen, selama pemerintahan kepausan yang lama, belum seluruhnya dihilangkan. Salah seorang pendeta terkemuka di koloni Teluk Massachusetts berkata, "Adalah toleransi yang membuat dunia Antikristen. Dan gereja tidak pernah merasakan bahaya menghukum para bida'ah."-- Idem, p. 335. Peraturan yang dijalankan oleh para pemukim ini ialah bahwa hanya anggota gerejalah yang mempunyai hak suara dalam pemerintahan sipil. Sejenis gereja negarapun dibentuk, semua orang diharuskan memberikan kontribusi untuk mendukung para alim ulama, dan para hakim diberi wewenang untuk menindas bida'ah. Dengan demikian kekuasaan pemerintahan berada di tangan gereja. Tidak berapa lama sesudah semua tindakan ini menuntun kepada akibat yang tidak terelakkan -- penganiayaan.


Sebelas tahun sesudah terbentuknya pemukiman yang pertama, Roger Williams datang ke Dunia Baru, Amerika. Seperti para musafir yang mula-mula, ia datang untuk menikmati kebebasan. Tetapi tidak seperti mereka, ia melihat, -- apa yang dilihat hanya oleh sedikit orang pada waktu itu -- bahwa kebebasan ini adalah hak semua orang yang tidak bisa dicabut atau dipindahkan, apapun yang menjadi keyakinannya. Ia adalah seorang pencari kebenaran yang sungguh-sungguh, yang bersama Robinson percaya bahwa tidaklah mungkin bahwa semua terang dari firman Allah telah diterima. "William adalah orang pertama dalam dunia Kristen modern yang membentuk pemerintahan sipil berdasarkan doktrin kebebasan hati nurani, kesamaan pendapat dihadapan hukum." -- Bancroft, Part I, ch.15, par. 16. Ia menyatakan bahwa adalah tugas hakim untuk menekan kejahatan tetapi tidak untuk mengontrol hati nurani. "Masyarakat atau pengadilan boleh memutuskan," katanya, "apa yang patut dari seorang kepada orang lain. Tetapi pada waktu mereka mencoba menetapkan kewajiban manusia kepada Allah, maka mereka tidak pada tempatnya lagi, dan tidak ada keamanan lagi. Karena adalah jelas bahwa jikalau pengadilan mempunyai kuasa, ia boleh mendekritkan seperangkat pendapat atau kepercayaan hari ini dan yang lain lagi besok, sebagaimana yang telah dilakukan di Inggris oleh raja-raja dan ratu-ratu, dan oleh berbagai paus dan konsili-konsili dalam Gereja Katolik. Jadi kepercayaan itu menjadi tumpukan kebingungan." -- Martyn, Vol. V, p. 340.

Kehadiran pada perbaktian di gereja yang sudah ditetapkan diharuskan berdasarkan undang-undang, yang diancam dengan hukuman denda atau penjara bagi yang tidak menurutinya."Williams menolak hukum itu. Peraturan yang paling buruk dalam undang-undang Inggris ialah yang memaksa seseorang untuk memasuki gereja. Memaksa seseorang untuk bersatu dengan mereka yang berbeda kepercayaan, ia menganggap itu sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hak-hak alamiah mereka. Menyeret orang-orang yang tidak beragma dan yang tidak mau ke perbaktian umum tampaknya hanyalah suatu tuntutan yang munafik . . . . 'Tak seorangpun boleh terikat untuk berbakti, atau' ia menambahkan, 'mempertahankan perbaktian yang berlawanan kepada kemauannya.' 'Apa!' seru lawan-lawannya, yang heran melihat pengajarannya, 'bukankah pekerja patut mendapat upah?' 'Ya.' jawabnya, 'dari mereka yang menggajinya.'" -- Bancroft, Part I, ch. 15, par. 2.

Roger Williams dihargai dan dikasihi sebagai seorang pendeta yang setia, seorang yang mempunyai karunia-karunia yang jarang dimiliki orang lain, mempunyai integritas yang tidak bisa dibengkokkan, dan kedermawanan yang benar. Namun penolakannya yang gigih terhadap hak pengadilan sipil atas wewenng gereja dan tuntutannya untuk kebebasan beragama, tidak bisa diterima. Penggunaan doktrin barunya akan menggulingkan fundamen negara dan pemerintahan negeri itu." -- Idem, par. 10. Ia dijatuhi hukuman pengasingan dari koloni itu, dan akhirnya, untuk menghindari penangkapan, ia telah dipaksa melarikan diri, di tengah-tengah dinginnya badai musim dingin, ke dalam hutan lebat.

"Selama empat belas minggu," katanya, "saya diombang-ambingkan oleh musim yang kejam, tanpa mengetahui apa itu roti dan tempat tidur." Tetapi "burung gagak memberiku makan di hutan belantara," dan lobang-lobang dalam kayu menjadi tempat perlindungannya. -- Martyn, Vol. V, pp. 349,350. Demikianlah ia meneruskan pelariannya yang menyakitkan itu melalui salju dan hutan belantara yang belum pernah dilalui orang, sampai akhirnya ia menemukan perlindungan di tengah-tengah salah satu suku Indian. Ia telah mendapatkan kepercayaan dan kasih sayang dari suku Indian ini pada waktu ia berusaha mengajar mereka mengenai kebenaran-kebenaran Injil.

Setelah mengembara beberapa bulan dan mengalami perobahan, akhirnya ia tiba di pantai Teluk Narragansett. Di sini ia meletakkan dasar dari negara zaman modern yang dalam pengertian sesungguhnya mengakui hak kebebasan beragama. Prinsip fundamental koloni Williams ialah, "bahwa setiap orang harus mempunyai kebebasan untuk berbakti kepada Allah sesuai dengan terang hati nuraninya," -- Martyn, Vol. V, pp. 349, 350. Negaranya yang kecil itu, Rhode Island, menjadi suaka bagi yang tertindas, dan terus bertambah dan makmur sampai akhirnya prinsip-prinsip dasarnya -- kebebasan sipil dan agama -- menjadi batu penjuru Republik Amerika.

Dalam dokumen yang tua dan agung yang nenek moyang Amerika menjadikannya sebagai undang-undang hak azasi -- Deklarasi Kemerdekaan -- mereka menyatakan, "Kami memegang kebenaran-kebenaran ini sebagai hal yang nyata, bahwa semua manusia dijadikan sama, bahwa mereka dianugerahi oleh Pencipta mereka dengan hak-hak tertentu yang tidak bisa dicabut atau dipindahkan, bahwa beberapa diantaranya ialah kehidupan, kebebasan, dan usaha memperoleh kebahagiaan." Dan Undang-undang Dasar menjamin, dalam istilah yang jelas, hati nurani yang tidak dapat diganggu-gugat, "tidak ada ujian agama dituntut sebagai suatu persyaratan kepada sesuatu jabatan umum di Amerika Serikat." "Kongres tidak akan membuat undang-undang mengenai pendirian suatu agama, atau melarang pelaksanaannya yang bebas."

"Para perancang Undang-undang Dasar itu menyadari prinsip abadi bahwa hubungan manusia dengan Allahnya berada di atas kekuasaan manusia, dan hak-hak hati nuraninya tidak bisa dicabut atau dipindahkan. Pemikiran dan pertimbangan tidak perlu untuk menetapkan kebenaran ini. Kita menyadari hal itu di dalam dada dan hati kita. Kesadaran seperti inilah yang mempertahankan begitu banyak syuhada dalam penyiksaan dan nyala api, oleh karena menentang hukum-hukum manusia. Mereka merasa bahwa tugas mereka kepada Allah adalah lebih tinggi daripada kepada undang-undang buatan manusia, dan bahwa tak seorangpun boleh menguasai hati nurani mereka. Itu adalah prinsip yang dibawa lahir dan tak seorangpun boleh menghapuskannya." -- Congressional Documents (U.S.A.), Serial No. 200, Document No. 271.


Pada waktu berita-berita tersebar di negara-negara Eropa, mengenai sebuah negeri di mana setiap orang boleh menikmati hasil-hasil pekerjaannya dan menuruti keyakinan hati nuraninya, maka ribuan orang berduyun-duyun datang ke dunia baru, Amerika. Koloni dengan cepat bertambah. "Massachusetts, oleh peraturan khusus, menyambut para pendatang Kristen dari berbagai bangsa, atas biaya pemerintah, yang mungkin telah menyeberangi lautan Atlantik 'meluputkan diri dari perang, atau bala kelaparan, atau penindasan para penindas.' Dengan demikian pelarian dan yang tertindas, oleh undang-undang, telah dibuat menjadi tamu persekemakmuran." -- Martyn, Vol. V, p. 417. Dalam tempo dua puluh tahun setelah pendaratan pertama di Plymouth, beberapa ribu Musafir telah menetap di New England.

Untuk mencapai tujuan yang mereka cita-citakan "mereka puas dengan penghasilan secukupnya dengan menghidupkan kehidupan yang berhemat dan bekerja keras. Mereka tidak mengharapkan apa-apa dari tanah itu selain hasil yang sesuai dengan usaha mereka. Tidak ada angan-angan yang muluk-muluk dalam perjalanan hidup mereka . . . . Mereka puas dengan kemajuan yang lambat namun pasti pemerintahan sosial mereka. Dengan sabar mereka menanggung penderitaan di hutan rimba, menyirami pohon kebebasan dengan air mata mereka, dan dengan keringat yang bercucuran di dahi mereka, sampai kebebasan itu benar-benar berurat berakar di negeri itu.

Alkitab digunakan sebagai landasan iman, sumber hikmat dan piagam kebebasan. Prinsip-prinsipnya dengan rajin diajarkan di rumah, di sekolah dan di gereja, dan buah-buahnya tampak dalam berhemat, kemurnian, kecerdasan dan pengendalian diri atau pertarakan. Seseorang mungkin tinggal bertahun-tahun di pemukiman kaum Puritan, "dan tidak melihat pemabuk atau mendengar sumpah serafah, atau bertemu dengan seorang pengemis." -- Bancroft, Part I, ch. 19, par. 25. Ditunjukkan bahwa prinsip Alkitab adalah pengawal yang paling pasti kebebasan nasional.

Pemukiman-pemukiman yang kecil dan terasing bertumbuh menjadi konfederasi negara bagian yang kuat, dan dunia menyaksikan dengan kagum kedamaian dan kemakmuran "suatu gereja tanpa paus, dan suatu negara tanpa raja."

Akan tetapi jumlah pendatang yang tertarik datang ke pantai Amerika terus bertambah, yang motifnya jauh berbeda dengan Musafir yang pertama. Meskipun iman dan kemurnian primitif berusaha menyebar-luaskan kuasanya yang mampu membentuk manusia itu, namun pengaruhnya semakin lama semakin berkurang, sementra jumlah mereka yang semata-mata untuk mencari keuntungan duniawi semakin bertambah.

Peraturan yang diberlakukan oleh para pemukim yang mula-mula, yang mengizinkan hanya anggota gereja yang boleh memberi suara atau menduduki jabatan pemerintahan, mengakibatkan kerusakan yang paling parah. Peratura ini membawa akibat yang sangat berbahaya. Cara ini diterima sebagai suatu alat untuk mempertahankan kemurnian negara, tetapi hal itu mengakibatkan kebejatan dan penyimpangan gereja. Pengakuan agama merupakan syarat untuk pemberian suara dan memegang jabatan pemerintahan, sehingga banyaklah yang bergabung menjadi anggota gereja tanpa perubahan hati dan semata-mata motifnya hanya untuk memperoleh keuntungan-keuntungan duniawi. Dengan demikian gereja dipenuhi oleh orang-orang yang tidak bertobat, yang tidak sedikit jumlahnya. Dan bahkan dalam kependetaan terdapat orang-orang yang bukan saja memegang doktrin palsu, tetapi juga sama sekali bodoh mengenai kuasa membaharui dari Roh Kudus. Sekali lagi ditunjukkan akibat-akibat jahat, yang begitu sering disaksikan dalam sejarah gereja mulai dari Constantine sampai hari ini; yang mencoba membangun gereja dengan pertolongan negara, yang menghimbau kuasa duniawi untuk mendukung Injil Dia yang menyatakan "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini." (Yoh. 18:36). Penyatuan gereja dengan negara, betapapun tingkatnya, tampaknya akan membawa dunia lebih dekat dengan gereja, tetapi dalam kenyataannya gerejalah yang dibawa lebih dekat kepada dunia.

Prinsip yang agung yang dijalankan dengan baik oleh Robinson dan Roger Williams, bahwa kebenaran itu berkembang, bahwa orang Kristen harus siap sedia menerima semua terang yang bersinar dari firman Allah yang kudus, telah kehilangan pandangan oleh generasi penerus mereka. Gereja Protestan Amerika -- demikian juga Protestan Eropa -- yang begitu senang menerima berkat-berkat Pembaharuan, telah gagal untuk maju terus dalam jalan pembaharuan. Walaupun ada beberapa orang-orang yang setia bangkit pada segala waktu, untuk menyiarkan terang baru dan menunjukkan kesalahan yang sudah berlarut-larut, tetapi kebanyakan, seperti orang-orang Yahudi di zaman Kristus atau pengikut-pengikut kepausan pada zaman Luther, merasa puas untuk percaya seperti leluhur mereka percaya, dan hidup seperti mereka hidup. Itulah sebabnya agama sekali lagi merosot menjadi sekedar formalitas. Dan kepalsuan dan ketakhyulan, yang seharusnya sudah disingkirkan seandainya gereja terus berjalan dalam terang firman Allah, tetap ada dan berkembang. Dengan demikian semangat yang diilhami oleh Pembaharuan berangsur-angsur menurun, sampai terasa adanya kebutuhan pembaharuan dalam gereja-gereja Protestan sebagaimana dalam Gereja Roma pada zaman Luther. Terdapat keduniawian dan mati rohani yang sama, penghormatan yang sama kepada pandangan-pandangan manusia, dan menggantikan ajaran-ajaran firman Allah dengan teori-teori manusia.

Pengedaran Alkitab secara luas pada permulaan abad ke sembilan belas, dan terang besar yang dicurahkan ke dunia ini, tidak diikuti oleh kemajuan pengetahuan kebenaran yang dinyatakan Alkitab itu, atau pengamalan agama. Seperti pada zaman-zaman sebelumnya, Setan tak bisa menahan firman Allah dari orang-orang. Firman itu telah ditempatkan dalam jangkauan semua orang. Tetapi agar mencapai tujuannya Setan menuntun banyak orang menilai firman itu dengan enteng. Manusia melalaikan penyelidikan Alkitab, dan dengan demikian mereka terus menerima interpretasi yang salah, dan memegang ajaran-ajaran yang tidak berdasarkan Alkitab.


Melihat kegagalan usahanya untuk menumpas kebenaran dengan penganiayaan, sekali lagi Setan menggunakan rencana kompromi, seperti yang telah menuntun kepada kemurtadan besar dan pembentukan Gereja Roma. Ia telah mengajak orang-orang Kristen untuk bersekutu, bukan dengan orang-orang kafir, tetapi dengan mereka, yang oleh kasihnya kepada harta dunia, telah membuktikan dirinya sebagai penyembah-penyembah berhala yang sebelumnya sama dengan yang berbakti menyembah patung-patung ukiran. Dan akibat dari persatuan ini tidak kurang berbahayanya dari pada zaman-zaman sebelumnya. Kesombongan, keangkuhan dan keborosan yang berlebihan yang diselubungi oleh agama meraja-lela, dan gereja menjadi bejat dan merosot. Setan terus memutar-balikkan ajaran-ajaran Alkitab, dan tradisi-tradisi yang telah membinasakan jutaan orang telah berakar sangat dalam. Gereja meninggikan dan mempertahankan tradisi-tradisi ini, gantinya berusaha memperoleh "iman yang pernah diberikan kepada orang-orang saleh." Demikianlah prinsip-prinsip yang telah diperjuangkan oleh para Pembaharu dengan menanggung banyak penderitaan, telah direndahkan dan dihinakan.


BERITA KEDATANGAN KRISTUS

~17~
BERITA KEDATANGAN KRISTUS

 

Salah satu kebenaran yang paling menggembirakan dan paling mulia yang dinyatakan didalam Alkitab ialah kedatangan Kristus yang kedua kali, untuk menyempurnakan pekerjaan besar penyelamatan. Bagi umat-umat musafir Allah yang sudah lama berdiam sementara di "daerah bayang-bayang maut," telah diberikan suatu pengharapan yang berharga yang mendatangkan sukacita, yaitu janji kedatangan-Nya kembali, yang menjadi "kebangkitan dan hidup," untuk "membawa pulang umat-umat-Nya yang terbuang." Doktrin mengenai kedatangan-Nya yang kedua kali adalah inti dari Alkitab yang suci itu. Sejak pasangan yang pertama melangkah meninggalkan taman Eden, anak-anak yang beriman telah menunggu kedatangan Yang Dijanjikan untuk menghancurkan kuasa yang merusak itu dan untuk membawa mereka kembali ke taman Eden yang telah hilang. Orang-orang saleh zaman dahulu mengharap kepada kedatangan Mesias di dalam kemuliaan, sebagai penyempurnaan pengharapan mereka. Henok, keturunan yang ketujuh dari manusia Adam yang tinggal di taman Eden, yang selama tiga abad berjalan bersama-sama dengan Allah di dunia ini, telah diizinkan memandang dari jauh kedatangan Penebus, si Penyelamat. "Sesungguhnya," katanya, "Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya hendak menghakimi semua orang." (Yudas 14,15). Ayub pada malam kesusahannya, berseru, "Tetapi aku tahu, Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit dari atas debu: . . . tanpa dagingkupun aku akan melihat Allah, yang aku sendiri akan melihat, . . . mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain." (Ayub 19:25-27).

Kedatangan Kristus untuk membawa kerajaan atau pemerintahan kebenaran, telah mengilhami kata-kata yang paling agung dan yang membangkitkan semangat dari para penulis kudus. Para pujangga dan para nabi Alkitab memusatkan perhatian kepada-Nya dalam kata-kata yang bercahaya dengan api surgawi. Pemazmur menyanyikan kuasa dan kebesaran Raja Israel, "Dari Sion puncak keindahan, Allah tampil bersinar. Allah kita datang dan tidak akan berdiam diri . . . . Ia berseru kepada langit di atas, dan kepada bumi untuk mengadili umat-Nya." (Maz. 50:2-4). "Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, . . . di hadapan Tuhan sebab Ia datang, sebab ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya." (Maz. 96:11,13).

Nabi Yesaya berkata, "Ya, Tuhan, orang-orang-Mu yang mati akan hidup pula, mayat-mayat mereka akan bangkit pula. Hai orang-orang yang sudah dikubur di dalam tanah bangkitlah dan bersorak-sorai! Sebab embun Tuhan ialah embun terang, dan bumi akan melahirkan arwah kembali." "Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya, dan Tuhan Allah akan menghapuskan air mata dari pada segala muka, dan aib umat-Nya akan dijauhkan-Nya dari seluruh bumi, sebab Tuhan telah mengatakannya. Pada waktu itu orang akan berkata, 'Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah Tuhan yang kita nati-nantikan, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya.'" (Yes. 26:19; 25:8,9).

Dan Habakuk, yang asyik dengan penglihatan kudus itu, memandang kedatangan-Nya, "Allah datang dari negeri Teman dan Yang Mahakudus dari pegunungan Paran. Sela. Keagungan-Nya menutupi segenap langit, dan bumipun penuh dengan pujian kepada-Nya. Ada kilauan seperti cahaya." "Ia berdiri, maka bumi dibuat-Nya bergoyang, Ia melihat berkeliling, maka bangsa-bangsa dibuat-Nya melompat terkejut, hancur gunung-gunung yang ada sejak purba, merendah bukit-bukit yang berabad-abad; itulah perjalanan-Nya yang berabad-abad." ". . . Engkau mengendarai kuda dan kereta kemenangan-Mu." "Melihat Engkau gunung-gunung gemetar, . . . samudera raya mendengarkan suara-Nya dan mengangkat tangannya. Matahari, bulan berhenti di tempat kediamannya, karena cahaya anak-anak panah-Mu yang melayang laju, karena kilauan tombak-Mu yang berkilat." "Engku berjalan maju untuk menyelamatkan umat-Mu, untuk menyelamatkan orang yang Kauurapi." (Habakuk 3:3-13).

Pada waktu Juru Selamat hampir berpisah dari murid-murid-Nya, Ia menghibur mereka dalam kesedihan mereka dengan jaminan bahwa Ia akan datang lagi, "Janganlah gelisah hatimu . . . . Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal . . . . Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku pergi ke situ dan telah menyedikan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku." (Yoh. 14:1-3). "Apabila Anak Manusia datang dalam kemualiaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya." (Matius 25:31,32).

Para malaikat yang ada di Bukit Zaitun setelah kenaikan Kristus ke Surga, mengulangi janji kedatangan-Nya kembali kepada murid-murid itu, "Yesus ini, yang terangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga." (Kisah 1:11). Dan Rasul Paulus yang berbicara oleh Roh inspirasi, menyaksikan, "Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru, dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari surga." ( 1 Tes. 4:16). Nabi di Patmos berkata, "Lihatlah Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia."( Wah. 1:7).


Mengenai kedatangan-Nya, yang penuh dengan kemuliaan itu, bahwa Kristus itu harus tinggal di Surga sampai "pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-bainya yang kudus di zaman dahulu." (Kisah 3:21). Kemudian pemerintahan Setan yang sudah lama akan dihancurkan. "Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya." (Wah. 11:15). "Maka kemuliaan Tuhan akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama." "Tuhan Allah akan menumbuhkan kebenaran dan puji-pujian di depan semua bangsa-bangsa," "Pada waktu itu Tuhan semesta alam akan menjadi mahkota kepermaian dan perhiasan kepala yang indah-indah bagi sisa umat-Nya."(Yes. 40:5; 61:11; 28:5).

Kemudian kerajaan mesias yang penuh damai dan yang telah lama dinanti-nantikan itu akan didirikan di bawah seluruh alam semesta. "Sebab Tuhan menghibur Sion, menghibur segala reruntuhannya; Ia membuat padang gurunnya seperti taman Eden, dan padang belantaranya seperti taman Tuhan." "Kemuliaan Libanon akan diberikan kepadanya, semarak Karmel dan Saron." "Engkau tidak akan disebut lagi 'yang ditinggalkan suami,' dan negerimu tidak akan disebut lagi 'yang sunyi'. Tetapi engkau akan dinamai 'yang berkenan kepada-Ku,' dan negerimu 'yang bersuami.'" "Dan seperti girang hatinya seorang mempelai melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu." (Yes. 51:3; 35:2; 62:4,5).

Kedatangan Tuhan telah menjadi pengharapan pengikut-pengikut-Nya yang benar sepanjang zaman. Janji perpisahan Juru Selamat di Bukit Zaitun, bahwa ia akan datang kembali, menerangi hari depan murid-murid-Nya, memenuhi hati mereka dengan sukacita dan pengharapan yang tidak bisa dihilangkan oleh kedukaan, atau diredupkan oleh pencobaan. Di tengah-tegah penderitaan dan penganiayaan, "kembalinya Allah dan Juru Selamat kita Yeusu Kristus," adalah "pengharapan yang berbahagia." Pada waktu orang-orang Kristen Tesalonika dipenuhi dukacita sementara mereka menguburkan kekasih-kekasih mereka, yang telah berharap tetap hidup untuk menyaksikan kedatangan Tuhan, Rasul Paulus, guru mereka, menunjukkan mereka kepada kebangkitan yang terjadi pada waktu Juru Selamat datang. Kemudian yang mati di dalam Kristus akan bangkit dan bersama-sama dengan mereka yang masih hidup menyongsong Tuhan di angkasa. "Karena itu," katanya, "hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini." (1 Tes. 4:16-18).

Di Pulau Patmos yang berbatu-batu, murid yang kekasih mendengar janji, "Ya, Aku datang segera!" dan sambutan kerinduannya menyuarakan doa gereja dalam seluruh pengembaraannya, "datanglah Tuhan Yesus1" ( Wahyu 22:20).

Dari penjara bawah tanah, dari tiang gantungan pembakaran, dari panggung-panggung hukuman mati, di mana orang-orang saleh dan para syuhada bersaksi demi kebenaran, terdengarlah ucapan-ucapan iman dan pengharapan selama berabad-abad. "Diyakinkan oleh kebangkitan-Nya secara pribadi dan juga kebangkitan mereka sendiri pada kedatangan-Nya," kata seorang Kristen, "mereka menganggap remeh kematian itu, dan didapati bahwa mereka berada di atasnya." -- Taylor, Daniel T., "The Reign of Christ on Earth; or The Voice of the Church in All Ages," p. 33. Mereka rela mati, agar mereka bisa "bangkit kepada kebebasan." -- Taylor, "The Voice of the Church," p. 54. Mereka "menantikan Tuhan datang dari langit dalam awan-awan dengan kemuliaan Bapa-Nya," "membawa kerajaan kepada orang benar." Orang-orang Waldenses memegang iman yang sama." -- Idem, pp. 129-132. Wycliffe mengharapkan kedatangan Penebus sebagai pengharapan gereja. -- Idem, pp. 132-134.

Luther menyatakan, "Aku meyakinkan diriku dengan sungguh-sungguh, bahwa hari penghakiman tidak akan absen tiga abad penuh. Allah tidak akan, tidak dapat, menahan dunia ini lebih lama lagi." "Hari yang besar semakin dekat dimana kerajaan kebencian akan dihancurkan." -- Idem, pp. 158, 134.

Dunia yang sudah tua ini tidak jauh dari akhirnya," kata Melanchthon. Calvin mengajak orang-orang Kristen "jangan ragu-ragu, melainkan dengan bersemangat merindukan hari kedatangan Kristus sebagai hari yang paling memberi harapan dari semua kejadian," dan menyatakan bahwa "seluruh keluarga orang-orang yang setia akan terus memandang kepada hari itu." "Kita harus merasa lapar akan Kristus, kita harus mencari, dan memikirkannya," katanya, "sampai terbitnya fajar hari besar itu, bilamana Tuhan kita menyatakan dengan sepenuhnya kemuliaan kerajaan-Nya." -- Idem, pp. 158, 134.

"Benarkah Tuhan kita Yesus telah membawa daging kita ke surga? kata Knox, Pembaharu Skotlandia itu, "dan tidakkah Ia akan datang kembali? Kita tahu bahwa Ia akan kembali, dan dengan segera." Ridley dan Latimer, yang mengorbankan hidupnya demi kebenaran, memandang dengan iman kepada kedatangan Tuhan. Ridley menulis, "Dunia ini tanpa ragu-ragu -- hal ini saya percayai dan oleh sebab itu saya mengatakannya -- menuju kepada akhirnya. Marilah kita bersama-sama Yohanes, hamba Allah itu, berseru di dalam hati kita kepada Juru Selamat kita Kristus, Datanglah, Tuhan Yesus, datanglah!" -- Idem, pp. 151, 145.


"Pikiran mengenai kedatangan Tuhan," kata Baxter, "adalah yang paling manis dan yang penuh sukacita bagiku." -- Baxter, Richard, "Works," Vol. XVII, p. 555. "Itu adalah pekerjaan iman dan tabiat orang-orang saleh-Nya untuk mencintai kedatangan-Nya dan menantikan pengharapan yang berbahagia itu." "Jikalau kematian adalah musuh terakhir yang akan dibinasakan pada waktu kebangkitan, kita tahu betapa sungguh-sungguh umat-umat percaya seharusnya merindukan dan mendoakan kedatangan Kristus yang kedua kali itu, ketika penaklukan terakhir dan sepenuhnya akan dilakukan ." -- Idem, p. 500. "Inilah hari yang semua orang percaya harus rindukan, dan harapkan, dan tunggu, sebagai pencapaian pekerjaan penebusan mereka, dan semua usaha dan kerinduan jiwa mereka." "Segerakanlah, ya, Tuhan, hari yang berbahagia ini." -- Baxter, "Works," Vol. XII, pp. 182,183. Begitulah pengharapan gereja pada zaman rasul-rasul, pengharapan "gereja di padang belantara," dan pengharapan para Pembaharu.

Nubuatan bukan hanya meramalkan cara dan tujuan kedatangan Kristus, tetapi juga memberikan tanda-tanda oleh mana orang-orang mengetahui bahwa kedatangan itu sudah dekat. Yesus berkata, "Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang," (Lukas 21:25). ". . . mata hari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit, dan kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya." (Markus 13:24-26). Pewahyu menjelaskan tanda pertama yang mendahului kedatangan kedua kali itu, "sesungguhnya terjadilah gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah." ( Wahyu 6:12).

Tanda-tanda ini telah disaksikan sebelum abad kesembilan belas. Sebagai kegenapan nubuatan ini telah terjadi pada tahun 1755, gempa bumi yang paling dahsyat yang pernah dicatat. Walaupun biasanya dikenal sebagai gempa Lissabon, gempa itu menjangkau sebagian besar Eropa, Afrika dan Amerika. Gempa itu dirasakan juga di Greenland, di pulau-pulau Hindia Barat, di pulau Madeira, di Norwegia dan Swedia, di Britania Raya dan Irlandia. Gempa itu menyebar luas ke tidak kurang dari empat juta mil bujur sangkar. Di Afrika, getaran dirasakan sekeras seperti di Eropa. Sebagian besar Aljazair hancur, dan tidak jauh dari Marokko, suatu perkampungan yang berpenduduk delapan sampai sepuluh ribu orang penduduk telah ditelan bumi. Gelombang laut yang besar dan ganas menyapu pantai Spanyol dan Afrika, melanda kota-kota dan menimbulkan kebinasaan besar.

Goncangan yang paling kuat terjadi di Spanyol dan Portugis. Di Cadiz gelombang yang menyapu dikatakan setinggi 60 kaki. Gunung-gunung, "beberapa buah yang tertinggi di Portugis, telah bergoncang dengan sangat kuat, seolah-olah goncangan itu datang dari dasarnya. Dan beberapa diantaranya terbelah di puncaknya dan bongkahan-bongkahannya terlepas dan terbelah-belah dengan cara ajaib, dan jatuh ke lembah-lembah di sekitarnya. Nyala api tersembur dari gnung-gunung ini." -- Lyell, Sir Charles, "Principles of Geology," p. 495 (ed. 1858, N.Y.).

Di Lissabon, " sura gemuruh terdengr di bawah tanah, dan segera sesudah itu goncangan keras meruntuhkan sebagian besar kota itu. Dalam waktu kira-kira enam menit 60,000 ribu orang binasa. Mula-mula pasang surut, ambang laut kering. Kemudian laut itu bergulung, naik setinggi 50 kaki atau lebih dari permukaan yang biasa." "Di antara kejadian luar biasa yang telah terjadi di Lissabon selama malapetaka itu ialah hilang lenyapnya dermaga baru, yang seluruhnya dibangun dari batu pualam dengan biaya yang tinggi. Sejumlah besar orang berkumpul di sana untuk mencari perlindungan, sebagai satu tempat yang jauh dari reruntuhan gedung-gedung. Tetapi dengan tiba-tiba dermaga itu terbenam dengan semua orang yang di atasnya, dan tak seorang bangkai manusiapun yang mengapung ke permukaan." -- Idem, p. 495 (ed. 1858, N.Y.).

"Goncangan" gempa itu, "dengan segera disusul oleh runtuhnya gereja dan biara. Hampir semua gedung-gedung besar dan lebih dari seperempat rumah-rumah runtuh. Kira-kira dua jam sesudah goncangan itu, api mengamuk di berbagai tempat. Api itu begitu dahsyatnya dan terus menyala selama tiga hari, sehingga menyebabkan kota benar-benar kosong. Gempa bumi itu terjadi pada waktu hari besar, pada waktu gereja-gereja dan biara-biara dipenuhi orang-orang, sehingga sangat sedikit yang selamat." -- Encyclopaedia Americana, art. Lisbon, note (ed. 1831). "Teror yang mengerikan itu tidak dapat digambarkan. Tak seorangpun yang menangis, karena tidak tertangiskan. Mereka berlari ke sana ke mari, tidak sadar karena ketakutan dan kengerian, sambil memukul-mukul mukanya dan dadanya dan berseru, 'Misericordia! dunia kiamat!' Ibu-ibu lupa anak-anak mereka, dan berlari sambil memeluk patung-patung dan salib. Malangnya, banyak yang lari ke gereja mencari perlindungan, tetapi sia-sia sakramen itu dibukakan, sia-sia makhluk yang malang ini memeluk mezbah-mezbah, patung-patung, imam-imam, dan orang-orang terkubur dalam satu reruntuhan." Diperkirakan sekitar 90,000 orang binasa pada hari yang fatal itu.

Dua puluh lima tahun kemudian muncullah tanda berikut, yang disebutkan dalam nubuatan -- matahari dan bulan digelapkan. Apa yang menyebabkan hal ini sangat menarik ialah kenyataan bahwa kegenapan nubuatan itu telah ditunjukkan dengan pasti. Dalam percakapan Juru Selamat dengan murid-murid-Nya di gunung Zaitun, setelah menjelaskan pencobaan yang lama bagi gereja -- 1260 tahun penganiayaan kepausan, mengenai ini Ia telah menjanjikan bahwa penyiksaan itu akan diperpendek -- maka Ia menyebutkan kejadian-kejadian tertentu yang mendahului kedatangan-Nya, dan menentukan waktunya kapan ini untuk pertama kali akan disaksikan, "Tetapi pada masa itu, sesudah siksaan itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya." ( Markus 13:24). Masa 1260 hari atau tahun itu berakhir pada tahun 1798. Seperempat abad sebelumnya, penganiayaan sudah hampir seluruhnya berakhir. Sesudah penganiayaan atau penyiksaan ini, menurut perkataan Kristus, matahari akan digelapkan. Pada tanggal 19 Mei 1780, nubuatan ini sudah digenapi.


"Hampir kalau bukan seluruhnya sebagai satu-satunya jenis fenomena yang misterius dan tak terjelaskan, . . . terjadi pada tanggal 19 Mei 1780, -- di New England, langit tampak menjadi gelap tidak bisa djelaskan kenapa demikian." -- Devens, R.M., "Our First Century," p. 89.

Seorang saksi mata di Massachusetts menjelaskan kejadian itu sebagai berikut: "Pada pagi hari matahari terbit bersinar terang, tetapi tidak lama kemudian awan menutupi langit. Awan-awan itu menjadi semakin turun, dan dari awan-awan yang kemudian gelap itu kilat menyambar dan guntur berbunyi serta hujan rintik-rintik turun. Menjelang pukul sembilan, awan itu menjadi semakin tipis, dan berubah warna menjadi kekuning-kuningan bagaikan warna kuningan atau tembaga, sehingga tanah, batu-batuan, pohon-pohonan, bangun-bangunan, air dan orang-orang telah tampak berubah warnanya oleh terang yang aneh dan ngeri itu. Beberapa menit kemudian, awan hitam pekat menyebar ke seluruh langit kecuali lingkaran tipis di kaki langit, dan gelapnya seperti gelapnya pada pukul sembilan malam musim panas. . . .

"Ketakutan, kecemasan dan kengerian merasuk pikiran orang-orang. Perempuan-perempuan berdiri di pintu, melihat pemandangan alam yang gelap; laki-laki kembali ke rumah dari bekerja di ladang. Tukang kayu meninggalkan perkakasnya, tukang besi meninggalkan bengkelnya, dan para pedagang meninggalkan toko-tokonya. Murid-murid sekolah-sekolah dibubarkan, dan dengan gemetar murid-murid itu berlari pulang ke rumah masing-masing. Para pengembara atau yang sedang mengadakan perjalanan berhenti di pondok-pondok petani yang terdekat. 'Apa yang sedang terjadi,' hati dan bibir manusia bertanya-tanya. Tampaknya seperti badai akan menyapu negeri itu, atau seolah-olah hari itu merupakan hari kemusnahan segala sesuatu.

"Lilin-lilin dinyalakan dan api dari perapian bercahaya begitu terang seperti pada malm tanpa sinar bulan di musim gugur . . . . Unggas kembali ke sarangnya dan tidur, ternak berkumpul di kandangnya, katak-katak berisik, burung-burung menyanyikan nyanyian malam mereka, dan kelelawar-kelelawar mulai beterbangan. Tetapi manusia mengetahui sebenarnya malam belum tiba . . . .

"Dr. Natahanael Whittaker, pendeta gereja Tabernakel di Salem, mengadakan acara keagamaan di tempat pertemuan, dan mengkhotbahkan khotbah di mana ia mengatakan bahwa kegelapan itu suatu keajaiban supernatural. Anggota-anggota jemaat datang berkumpul di berbagai tempat. Ayat-ayat khotbah yang tiba-tiba tanpa persiapan ini adalah yang tampaknya menyatakan bahwa kegelapan itu sesuai dengan nubuatan Alkitab . . . . Kegelapan yang paling pekat atau kelam terjadi sesudah pukul sebelas." -- "The Essex ntiquarian," Salem, Mass., April 1899 (Vol. III, No. 4, pp. 53, 54). "Di sebahagian besar negeri itu kegelapan begitu hebatnya di siang hari itu, sehingga orang-orang tidak bisa menyatakan jam berapa dengan melihat jam, atau makan atau melakukan kerjanya di rumah tanpa cahaya lilin . . . .

" Luasnya cakupan kejadian kegelapan ini luar biasa. Dapat dilihat ke sebelah Timur sejauh Falmouth. Ke arah Barat sampai bagian terjauh Connecticut dan Albany. Ke arah Selatan, dapat dilihat sepanjang tepi laut, dan ke arah Utara sejauh pemukiman Amerika." -- Gordon, Dr. Wm., "History of the Rise, Progress and Establishment of the Independent of U.S.A.," Vol. III, p. 57 (N.Y., 1789).

Kegelapan pekat hari itu telah berlalu sejam atau dua jam kemudian sebelum malam, oleh langit yang sebagian terang, dan matahari tampak meskipun masih ditutupi oleh kabut hitam tebal. "Sesudah matahari terbenam, awan kembali datang menutupi dan malampun datang cepat." "Kegelapan malam inipun tidak kurang menakutkan dan luar biasa dibandingkan dengan yang terjadi pada siang harinya. Walaupun pada malam itu sudah hampir bulan purnama, tidak ada benda yang dapat dilihat tanpa pertolongan terang buatan atau lampu, yang bilamana dilihat dari rumah-rumah tetangga dan tempat-tempat lain yang agak berjauhan, nampak bagaikan kegelapan Mesir yang kelihatannya hampir tidak bisa ditembusi oleh sinar." -- Thomas, Massachusetts Spy; or, American Oracle of Liberty," Vol. X, No. 472 (May 25, 1780). Salah seorang saksi mata pemandangan itu berkata, "Saya tidak bisa membayangkan pada waktu itu, sekiranya semua benda bercahaya di jagad raya ini diselubungi dengan selubung yang tidak tembus cahaya, atau benda-benda bercahaya itu dilenyapkan, maka kegelapan itu akan lebih hebat lagi." -- Letter by Dr. Samuel Tenney, of Exeter, N. H., December 1785 (in "Massachusetts Historical Society Collection," 1792, 1st series, Vol. I, p. 97).

Walaupun pukul sembilan malam itu bulan purnama nampak juga, "sinarnya tak mampu mengusir kegelapan mencekam bagaikan maut itu." Sesudah tengah malam, kegelapan itu sirna, dan bulan pada waktu pertama kali kelihatan, tampak seperti darah.

Tanggal 19 Mei 1780 dicatat dalam sejarah sebagai, "Hari Gelap." (The Ddark Day). Sejak zaman Musa, belum ada waktu kegelapan yang menyamai kepekatan, jangkauan dan lamanya kegelapan ini yang pernah dicatat. Penjelasan mengenai kejadian ini yang diberikan oleh para saksi mata merupakan gema firman Tuhan yang dicatat oleh Nabi Yoel, dua ribu ima ratus tahun sebelum kegenapannya, "Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan." (Yoel 2:31).


Kristus telah menyuruh umat-Nya memperhatikan tanda-tanda kedatangan-Nya, dan bergembira sementara memandang tanda-tanda Raja mereka yang datang itu. "Apabila semuanya itu mulai terjadi," kata-Nya, "bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat." Ia menunjukkan pengikut-pengikut-Nya kepada pohon-pohon yang bertunas di musim semi dan berkata, "Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa kerajaan Allah sudah dekat." (Luk. 21:28,30,31).

Akan tetapi oleh karena roh kerendahan hati dan penyerahan di gereja telah digantikan oleh kesombongn dan formalisme, kasih kepada Kristus dan iman kepada kedatangan-Nya telah menjadi dingin. Karena asyiknya dalam keduniawian dan kepelesiran, orang yang mengaku umat Allah telah dibutakan terhadap petunjuk Juru Selamat mengenai tanda-tanda kedatangan-Nya. Doktrin mengenai kedatangan Kristus kedua kali telah diabaikan, dan ayat-ayat Alkitab yang berhubungan dengan itu dikaburkan oleh salah tafsir, sampai akhirnya diremehkan dan dilupakan. Terutama hal ini terdapat di gereja-gereja Amerika. Kebebasan dan kesenangan yang dinikmati oleh segenap lapisan masyarakat, ambisi untuk memperoleh kekayaan dan kemewahan, membuat pengabdian sepenuhnya kepada usaha mencari uang. Keinginan mendapatkan popularitas dan kuasa, yang tampaknya dalam jangkauan semua orang, menyebabkan manusia memusatkan perhatian dan harapan mereka kepada perkara-perkara duniawi dalam hidup ini. Dan menganggap masih lama hari yang penting itu, bilamana segala perkara yang sekarang ini berlalu.

Pada waktu Juru Selamat menunjukkan kepada pengikut-pengikut-Nya tanda-tanda kedatangan-Nya, Ia meramalkan kemurtadan yang terjadi sebelum kedatangan-Nya yang kedua kali itu. Akan terjadi, seperti pada waktu zaman Nuh, kegiatan dan bisnis duniawi dan mencari kepelesiran -- membeli, menjual, menanam, membangun, kawin-mawin -- dengan melupakan Tuhan Allah dan kehidupan di masa yang akan datang. Bagi mereka yang hidup waktu ini, nasihat Yesus adalah, "Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi, dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat." "Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semu yang akan terjadi itu, dan supya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia." (Lukas 21:34,36).

Keadaan gereja pada saat ini digambarkan dalam kata-kata Juru Selamat di dalam buku Wahyu, "Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, pada hal engkau mati." (Wahyu 3:1,3). Dan kepada mereka yang menolak untuk bangkit meninggalkan ketidak-perdulian, diberikan amaran penting ini, "Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Akan akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu." (Wahyu 3:3).

Manusia perlu dibangunkan supaya sadar adanya bahaya. Mereka harus dibangunkan supaya bersedia menghadapi kejadian-kejadian penting yang berhubungan dengan tertutupnya masa percobaan atau tertutupnya pintu kasihan. Nabi Allah mengatakan, "Betapa hebat dan sangat dahsyat hari Tuhan! Siapakah yang dapat menahannya?" (Yoel 2:11). Siapakah yang dapat menahannya pada waktu ia menyatakan diri yang matanya "terlalu suci untuk melihat kejahatan," dan tidak dapat "memandang kelaliman?" (Habakuk 1:13). Kepada mereka yang berseru, "Ya Allahku, kami, Israel mengenal Engkau," (Hosea 8:2), namun telah melangkahi perjanjian-Nya (Hosea 2:1), dan segera mengikuti allah lain (Maz. 16:4), menyembunyikan kejahatan di dalam hati mereka, dan menyukai jalan-jalan kejahatan -- bagi mereka ini hari Tuhan itu adalah "kegelapan dan bukan terang, kelam kabut dan tidak bercahaya." (Amos 5:20). "Pada waktu itu," sabda Tuhan, "Aku akan menggeledah Yerusalem dengan memakai obor dan akan menghukum orang-orang yang telah mengental seperti anggur di atas endapannya dan yang berkata dalam hatinya, 'Tuhan tidak berbuat baik dan tidak berbuat jahat!'" (Zefanya 1:12). "Kepada dunia akan Kubalaskan kejahatannya, dan kepada orang-orang fasik kesalahan mereka. Kesombongan orang-orang pemberani akan Kuhentikan, dan kecongkakan orang-orang yang gagah akan Kupatahkan." (Yes. 13:11). Mereka tidak bisa diselamatkan oleh perak atau emas mereka." (Zefanya 1:18). "Maka harta kekayaannya akan dirampas dan rumah-rumahnya akan menjadi sunyi sepi."(Zefanya 1:13).

Nabi Yeremia, pada waktu memandang kepada masa yang menakutkan ini, berseru, "Aduh, dadaku, dadaku! Aku menggeliat sakit! Aduh dinding jantungku! . . . sebab aku mendengar bunyi sangkakala, pekik perang." "Kehancuran demi kehancuran dikabarkan, seluruh negeri dirusakkan." (Yer. 4:19,20).

"Hari keganasan hari itu, hari kesusahan dan hari kesulitan, hari kemusnahan dan pemusnahan, hari kegelapan dan kesuraman, hari berawan dan kelam, hari peniupan sangkakala dan pekik tempur terhadap kota-kota yang berkubu dan terhadap menara penjuru tinggi." (Zefanya 1:15,16). "Sungguh hari Tuhan datang dengan kebengisan, dan dengan ganas dan dengan murka yang menyala-nyala untuk membuat bumi menjadi sunyi sepi dan untuk memunahkan dari padanya orang-orang berdosa." (Yes. 13:9).


Mengenai hari yang dahsyat, firman Allah, dalam bahasa yang sungguh-sungguh dan sangat berkesan, memanggil umat-umat-Nya untuk bangun dari tidur rohaninya, dan mencari Allah dengan pertobatan dan kerendahan hati, "Tiuplah sangkakala di Sion dan berteriaklah di gunungKu yang kudus! Biarlah gemetar seluruh penduduk negeri, sebab hari Tuhan datang, sebab hari itu sudah dekat." (Yoel 2:1). "Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, kumpulkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak . . . baiklah pengantin laki-laki keluar dari kamarnya, dan pengantin perempuan dari kamar tidurnya; baiklah para imam, pelayan-pelayan Tuhan, menangis di antara balai depan dan mezbah." (Yoel 2:15-17). "Berbaliklah kepadaKu dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh. Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia." (Yoel 2:12,13).

Untuk mempersiapkan suatu umat yang dapat berdiri teguh pada hari Allah, perlu dilakukan pembaharuan yang besar. Allah melihat bahwa banyak orang-orang yang mengaku umat-Nya tidak membangun untuk kekekalan, dan di dalam kemurahan-Nya Ia mengirim suatu pekabaran amaran untuk membangunkan mereka dari tidurnya, dan menuntun mereka untuk bersedia kepada kedatangan Tuhan.

Amaran itu dinyatakan dalam Wahyu 14. Di sini dinyatakan suatu pekabaran rangkap tiga sebagaimana diumumkan oleh makhluk-makhluk Surgawi, dan yang segera diikuti oleh kedatangan Anak Manusia "untuk menuai panen dunia." Bagian pertama amaran ini mengumumkan penghakiman yang sudah dekat. Nabi melihat seorang malaikat yang terbang "di tengah-tengah langit, dan padanya ada Injil yang kekal untuk diberitahukannya kepada mereka yang diam di atas bumi dan kepada semua bangsa dan suku dan bahasa dan kaum, dan ia berseru dengan suara nyaring: Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba hari penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air." (Wah. 14:6,7).

Pekabaran ini dinyatakan menjadi bagian dari "Injil yang kekal." Pekerjaan untuk menyiarkan Injil tidak pernah diserahkan kepada malaikat-malaikat, tetapi telah dipercayakan kepada manusia. Malaikat-malaikat kudus ditugaskan untuk mengendalikan pekerjaan ini. Mereka bertanggungjawab atas pergerakan besar keselamatan umat manusia. Tetapi pengajaran Injil yang sebenarnya di dunia ini dilakukan oleh hamba-hamba Kristus.

Orang-orang yang setia, yang menuruti bisikan-bisikan dan dorongan Roh Allah dan pengajaran firman-Nya, mengumumkan amaran ini kepada dunia ini. Mereka adalah yang telah memberikan perhatian kepada "firman yang telah disampaikan oleh para nabi," "pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit . . . ." (2 Pet.1:19). Mereka telah mencari pengetahuan akan Allah lebih dari semua harta yang tersembunyi, karena "keuntungan melebihi keuntungan perak dan hasilnya melebihi emas." (Amsal 3:14). Dan Tuhan menyatakan kepada mereka perkara-perkara besar kerajaan itu. "Tuhan bergaul karib dengan orang-orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka." (Maz. 25:14).

Bukan ahli-ahli teologi terpelajar yang mengerti kebenarn ini, dan yang melibatkan diri dalam penyiarannya. Seandainya ahli-ahli teologia ini menjadi seorang yang setia dan berjaga-jaga, yang menyelidiki Alkitab dengan rajin dan dengan doa, mereka tentu akan mengetahui waktunya sudah dekat, dan nubuatan-nubuatan akan membukakan kepada mereka peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Tetapi mereka tidak melakukan seperti itu, dan pekabaran ini diberitakan oleh orang-orang yang lebih sederhana. Yesus berkata, "Hanya sedikit waktu lagi terang ada di antara kamu. Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadanya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu; barang siapa berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu bemana ia pergi." (Yoh. 12:35). Mereka yang meninggalkan terang yang diberikan Allah, atau yang lalai mencarinya walaupun ada dalam jangkauannya, akan tetap tinggal dalam gelap. Tetapi Juru Selamat mengatakan, "Barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yoh. 8:12). Siapa saja yang bertekad bulat berusaha melakukan kehendak Allah, dan dengan sungguh-sungguh memperhatikan terang yang sudah diberikan, akan menerima terang yang lebih besar. Kepada jiwa-jiwa seperti itu bintang-bintang yang menyinarkan terang Surga akan dikirimkan, untuk memimpinnya kepada segala kebenaran.

Pada waktu kedatangan Kristus yang pertama, imam-imam dan ahli-ahli taurat kota suci, kepada siapa firman Allah dipercayakan, seharusnya memahami tanda-tanda zaman, dan memberitakan kedatangan Dia yang dijanjikan itu. Nubuatan Mika menunjukkan tempat kelahiran-Nya (Mika 5:1). Daniel memperinci waktu kedatangan-Nya (Daniel 9:25). Allah memberikan nubuatan-nubuatan ini kepada para pemimpin Yahudi; tidak ada maaf bagi mereka jika mereka tidak mengetahuinya dan menyatakan kepada orang-orang bahw kedatangan Mesias sudah dekat. Kebodohan mereka adalah akibat dari dosa kelalaian mereka. Orang-orang Yahudi membangun tugu-tugu bagi nabi-nabi Allah yang telah di bunuh, sementara oleh rasa hormat mereka kepada orang-orang besar dunia mereka telah memberi hormat kepada hamba-hamba Setan. Karena hanyut dalam perjuangan yang ambisius untuk memperoleh tempat dan kuasa di antara manusia, mereka kehilangan pandangan terhadap kehormatan-kehormatan ilahi yang diberikan oleh Raja Surga kepada mereka.


Dengan perhatian yang mendalam dan sungguh-sungguh seharusnya tua-tua Israel sudah mempelajari tempat, waktu dan keadaan peristiwa paling besar dalam sejarah dunia kedatangan Anak Allah untuk menyelesaikan penebusan manusia. Seharusnya semua orang sudah berjaga dan menunggu agar supaya mereka boleh termasuk di antara yang pertama menyambut Penebus dunia itu. Tetapi lihatlah, di Bethlehem dua orang pendatang dari perbukitan Nasaret yang sudah keletihan, menelusuri jalan-jalan sempit ke arah ujung Timur kota, tidak menemukan tempat untuk beristirahat dan berlindung pada malam. Tidak ada pintu yang terbuka bagi mereka. Akhirnya mereka menemukan tempat berlindung malam itu di sebuah gubuk hina, yang disediakan buat ternak. Di situlah Yesus, Juru Selamat dunia , dilahirkan.

Malaikat-malaikat Surgawi telah melihat kemuliaan Anak Allah dengan Bapa sebelum dunia dijadikan, dan mereka telah mengharapkan dengan perhatian yang sangat kepada kedatangan-Nya di dunia ini, sebagai satu peristiwa yang penuh dengan kesukaan besar bagi semua orang. Malaikat-malaikat ditugaskan untuk menyampaikan kabar kesukaan itu kepada mereka yang bersedia menerimanya, dan yang dengan gembira memberitahukan kepada penduduk bumi. Kristus telah merendahkan diri-Nya untuk mengambil rupa manusia kepada diri-Nya sendiri. Ia memikul beban penderitaan tanpa batas pada waktu Ia mempersembahkan jiwanya sebagai korban dosa. Namun para malaikat merindukan bahwa walaupun dalam keadaan direndahkan, Anak Allah Yang Mahatinggi boleh kelihatan di hadapan manusia dengan keagungan dan kemuliaan yang sesuai dengan tabiat-Nya. Maukah orang-orang besar dunia berkumpul di ibukota Israel untuk menyambut kedatangan-Nya? Maukah pasukan malaikat memperkenalkan-Nya kepada rombongan yang sudah mengharapkan-Nya?

Seorang malaikat mengunjungi dunia ini melihat siapa-siapa yang bersedia menyambut Yesus. Tetapi ia tidak melihat adanya tanda-tanda kesediaan. Ia tidak mendengar suara puji-pujian dan kemenangan, bahwa waktu kedatangan Mesias sudah dekat. Malaikat itu melayang-layang sebentar di atas kota terpilih dan di atas kaabah di mana hadirat ilahi dinyatakan berabad-abad lamanya. Tetapi di sinipun yang terdapat hanya keadaan acuh tak acuh yang sama. Para imam, dalam kebesaran dan kebanggaannya, mempersembahkan persembahan-persembahan yang telah cemar di kaabah itu. Orang-orang Farisi dengan suara nyaring berbicara kepada orang banyak, atau mengucapkan doa-doa kesombongan di sudut-sudut jalan. Di istana raja-raja, di perkumpulan-perkumpulan para ahli filsafat, di sekolah-sekolah rabbi-rabbi, semuanya sama-sama tidak memperhatikan fakta ajaib yang telah memenuhi seluruh Surga dengan sukacita dan pujian -- bahwa Penebus manusia sudah hampir datang ke dunia.

Tidak ada tanda-tanda bahwa Kristus sedang ditunggu-tunggu, dan tidak ada persediaan menyambut Raja kehidupan itu. Dalam keheranan, utusan Surgawi itu sudah hampir kembali ke Surga dengan satu berita yang memalukan, pada waktu ia menemukan sekelompok gembala yang menjaga ternak mereka pada waktu malam. Dan pada waktu mereka memandang ke langit yang penuh bintang, mereka merenungkan nubuatan mengenai seorang Mesias yang datang ke dunia, dan merindukan kedatangan penebus dunia itu. Kelompok gembala inilah yang bersedia menerima pekabaran Surga. Dan tiba-tiba malaikat Tuhan tampak menyatakan berita baik, berita kesukaan besar. Kemuliaan Surga memenuhi seluruh padang itu; malaikat tampak tak terhitung banyaknya. Seolah-olah berita kesukaan itu terlalu besar untuk dibawa oleh seorang saja utusan dari Surga. Sejumlah besar suara memperdengarkan nyanyian, yang suatu hari kelak seluruh bangsa akan menyanyikannya, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya" (Lukas 2:14).

Oh, betapa cerita Betlehem yang luar biasa ini menjadi suatu pelajaran! Bagaimana cerita itu menegur ketidak-percayaan kita, kesombongan kita dan kepuasan diri sendiri. Bagaimanakah cerita itu mengamarkan kita supaya berjaga-jaga, agar jangan oleh kelalaian kita, kita juga gagal memperhatikan tanda-tanda zaman, sehingga tidak mengetahui hari pehukuman kita.

Bukan hanya di bukit-bukit Yudea, bukan hanya di antara para gembala yang sederhana, malaikat menemukan orang-orang yang memperhatikan dan menantikan kedatangan Mesias. Di negeri orang kafir juga ada yang merindukan-Nya. Mereka adalah orang-orang bijaksana, orang-orang yang kaya, bangswan dan ahli-ahli filsafat dari Timur. Sebagai pengamat alam, orang-orang majus ini telah melihat Allah dalam ciptaan-Nya. Dari Alkitab Ibrani mereka telah mempelajari Bintang yang akan terbit di Yakub, dan dengan kerinduan mereka menunggu kedatangan-Nya, yang bukan saja menjadi "Penghiburan bagi Israel," tetapi juga "terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain," dan yang membawa keselamatan sampai ke ujung bumi." (Lukas 2:25,32; Kisah 2:47). Mereka adalah pencari terang, dan terang dari takhta Allah menerangi jalan mereka. Sementara iman-iman dan rabbi-rabbi di Yerusalem, yang menjadi pelindung dan penyebar kebenaran, telah diselubungi oleh kegelapan. Bintang yang di kirim Surga menuntun orang-orang majus, yang kafir ini, ke tempat Raja yang baru lahir itu.

Adalah "kepada mereka yang menantikan Dia" Kristus akan "menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan." (Iberani 9:28). Seperti berita kelahiran Juru Selamat, pekabaran kedatangan kedua kali tidak diserahkan kepada pemimpin-pemimpin agama. Mereka telah gagal untuk memelihara hubungan mereka dengan Allah, dan telah menolak terang dari Surga. Oleh sebab itu mereka tidak tergolong kepada apa yang diterangkan oleh Rasul Paulus, "Tetapi kamu, Saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan." (1 Tes. 5:4,5).


Penjaga-penjaga tembok kota Sion seharusnya adalah orang pertama yang menangkap berita kedatangan Juru Selamat, orang pertama yang mengumumkan kedatangan-Nya yang sudah dekat, orang pertama yang mengamarkan orang-orang supaya bersedia kepada kedatangan-Nya. Tetapi mereka tenang-tenang saja, memimpikan perdamaian dan keamanan, sementara orang-orang tertidur di dalam dosa-dosa mereka. Yesus melihat gerejan-Nya bagaikan pohon ara yang tidak berbuah, ditutupi oleh daun-daun kesombongan, tetapi tidak meghasilkan buah-buah yang berharga. Ada kesombongan pemeliharaan formalitas agama, sementara roh kerendahan hati yang benar, pertobatan dan iman -- yang satu-satunya bisa meberikan pelayanan yang berkenan kepada Allah -- sangat kurang. Sebagai ganti kasih karunia Roh, mereka menunjukkan keangkuhan, formalisme, kesombongan, mementingkan diri sendiri dan penindasan. Gereja yang murtad menutup matanya kepada tanda-tanda zaman. Allah tidak melupakan mereka, atau menahankan kasih setia-Nya. Tetapi mereka meninggalkan-Nya dan memisahkan diri dari kasih-Nya. Pada waktu mereka menolak menuruti syarat-syarat, maka janji-janji-Nya tidak akan digenapi kepada mereka.

Demikianlah akibatnya kalau lalai menghargai dan menggunakan terang dan kesempatan yang diberikan Allah. Kecuali jemaat mengikuti pimpinan-Nya dan menerima setiap sinar terang dan melakukan setiap tugas yang dapat dinyatakan, maka agama akan pasti merosot menjadi perbaktian formalitas, dan roh kesalehan yang vital akan lenyap. Kebenaran ini telah berulang kali digambarkan di dalam sejarah gereja. Allah menuntut pekerjaan-pekerjaan iman dari umat-umat-Nya, dan penurutan yang sejajar dengan berkat-berkat dan kesempatan-kesempatan yang diberikan. Penurutan memerlukan pengorbanan dan salib. Dan inilah sebabnya mengapa banyak orang yang mengaku pengikut Kristus menolak menerima terang dari Surga, dan, seperti orang-orang Yahudi zaman dahulu, tidak mengetahui saat bilamana Allah melawat mereka (Lik. 19:44). Oleh karena kesombongn dan ketidak-percayaan, Tuhan melewatkan mereka, dan menyatakan kebenaran-Nya kepada orang lain yang telah memperhatikan semua terang yang telah diterima, seperti gembala-gembala di Betlehem dan orang-orang majus dari negeri Timur.


PEMBAHARU AMERIKA

~18~
PEMBAHARU AMERIKA

 

Seorang petani yang benar dan berhati jujur, yang telah pernah meragukan otoritas ilahi Alkitab, namun yang dengan sungguh?sungguh ingin mengetahui kebenaran, adalah orang yang secara khusus dipilih oleh Allah untuk memimpin pemberitaan kedatangan Kristus yang kedua kali. Seperti kebanyakan pembaharu?pembaharu lain, William Miller, pada permulaan hidupnya berjuang melawan kemiskinan, dan dengan demikian memperoleh pelajaran besar mengenai energi dan penyangkalan diri. Anggota?anggota keluarga darimana ia datang dikenal dengan roh mandiri, mencintai kebebasan, ketahanan dan kesanggupan, dan patriotisme yang bersemangat ?? sifat?sifat yang juga menonjol dalam tabiatnya. Ayahnya seorang kapten tentera Revolusi, dan pembaharuan yang dilakukannya dalam perjuangan dan penderitaan selama masa gawat, dapat ditelusuri dalam permulaan hidup Miller yang terbatas.

Ia mempunyai fisik yang sehat dan kuat, dan bahkan pada masa kanak?kanaknya telah ditunjukkan bahwa ia mempunyai kecerdasan yang lebih dari biasa. Pada waktu ia beranjak dewasa, hal ini semakin nyata. Pikirannya giat dan berkembang dengan baik. Ia haus akan pengetahuan. Meskipun ia tidak memperoleh pendidikan tinggi, kecintaannya kepada pendidikan dan kebiasaannya berpikir berhati?hati dan berpikir kritis, membuatnya menjadi seorang yang mempunyai pertimbangan yang sehat dan pandangan yang komprehensif. Ia memiliki tabiat moral yang tanpa cacad cela, dan reputasi yang patut ditiru orang lain dan umumnya ia dihormati oleh karena integritasnya, berhemat dan kedermawanannya. Berkat tenaga dan penggunannya ia segera memperoleh keahlian, walaupun tabiat suka belajarnya masih terus dipertahankan. Ia menduduki berbagai jabatan sipil dan militer dengan reputasi baik. Jalan kepada kekayaan, kemakmuran dan kehormatan tampaknya terbuka lebar baginya.

Ibunya adalah seorang wanita sejati yang saleh, dengan demikian pada masa kanak?kanaknya ia telah mendapat kesan agama. Namun pada permulaan masa dewasa ia terjun ke dalam kelompok masyarakat penganut apa yang dinamakan deisme ?? suatu aliran kepercayaan yang mengakui adanya Allah yang menciptakan dunia ini, akan tetapi sesudah itu tidak memperdulikannya lagi, bahkan tidak memperhatikan manusia. Suatu kepercayaan yang menyatakan bahwa akal pikiran sudah cukup untuk pengetahuan kebenaran, dengan demikian menolak wahyu. ?? Webster's New World Dictionary. Pengaruh deisme ini lebih kuat karena mereka adalah warga negara yang baik, orang?orang yang mempunyai sifat manusiawi dan dermawan. Karena mereka tinggal di tengah?tengah lembaga Kristen, tabiat mereka sebagian besar dipengaruhi atau dibentuk oleh keadaan sekeliling. Mereka berhutang budi kepada Alkitab atas keunggulan?keunggulan yang memberikan kehormatan dan kepercayaan kepada mereka. Namun karunia?karunia ini disalahgunakan untuk menimbulkan suatu pengaruh menentang firman Allah. Oleh karena bergaul dengan orang?orang ini, Miller telah dituntun untuk mengikuti pendapat dan perasaan mereka. Tafsiran Alkitab menimbulkan kesulitan yang tampaknya tak teratasi. Namun, kepercayaannya yang baru pada waktu mengesampingkan Alkitab, tidak memberikan yang lebih baik sehingga membuatnya tidak puas. Namun, ia terus berpegang kepada pandangan ini selama kira?kira dua belas tahun. Tetapi pada umur tiga puluh empat tahun, Roh Suci mempengaruhi hatinya dengan keadaannya sebagai seorang berdosa. Ia tidak menemukan pada kepercayaannya yang sebelumnya, suatu jaminan kebahagiaan di balik kematian. Hari depan gelap dan suram. Merujuk kepada perasaannya pada waktu itu, ia berkata,

"Pemusnahan adalah suatu pemikiran yang dingin dan menakutkan, dan pertanggungjawaban adalah kebinasaan yang pasti bagi semua orang. Langit tampak seperti kuningan di atas kepala saya, dan dunia ini bagaikan besi di bawah kaki saya. Kekekalan ?? apa itu? Dan kematian ?? mengapa? Semakin saya pikirkan, semakin tidak menentu kesimpulan saya. Saya mencoba berhenti berpikir, tetapi pikiran saya tidak terkendalikan. Saya benar?benar sengsara, tetapi saya tidak mengerti apa sebabnya. Saya bersungut dan mengeluh, tetapi tidak tahu mengenai siapa. Saya tahu bahwa ada sesuatu yang salah, tetapi saya tidak tahu bagaimana dan dimana harus didapatkan yang benar. Saya berduka, tetapi tanpa harapan."

Ia berada dalam keadaan ini selama beberapa bulan. "Tiba?tiba," katanya, "tabiat Juru Selamat dengan jelas terkesan di dalam pikiran saya. Tampaknya ada satu oknum yangbegitu baik dan bersimpati yang menghapuskan pelanggaran?pelanggaran kita, dan dengan demikian menyelamatkan kita dari menderita hukuman dosa. Dengan segera saya rasakan betapa menyenangkan dan baik oknum yang seperti itu, dan membayangkan bahwa saya dapat meletakkan diriku ke pangkuannya dan mengharap kepada kemurahan orang seperti itu. Tetapi timbul pertanyaan, 'Bagaimana membuktikan bahwa oknum seperti itu ada?' Selain dari Alkitab, saya tidak menemukan bukti adanya Juru Selamat seperti itu, atau bahkan di masa mendatang . . . .


"Saya melihat bahwa Alkitab menunjukkan seorang Juru Selamat yang saya perlukan. Dan saya merasa susah dan heran mengetahui bahwa buku yang telah diilhamkan dapat mengembangkan prinsi?prinsip yang sempurna yang disesuaikan kepada kebutuhan dunia yang jatuh. Saya telah didorong untuk mengakui bahwa Alkitab itu adalah wahyu penyataan Allah. Buku ini menjadi kesukaan saya, dan di dalam Yesus saya menemukan seorang sahabat. Juru Selamat bagiku menjadi yang terutama dari selaksa. Dan Alkitab, yang sebelumnya gelap dan bertentangan, sekarang menjadi lampu pada kakiku dan terang bagi jalanku. Pikiran saya menjadi tenang dan merasa puas. Saya menemukan Allah menjadi Batu Karang di tengah?tengah lautan kehidupan. Alkitab sekarang menjadi pelajaranku yang utama, dan benar?benar saya bisa mengatakan bahwa saya menyelidikinya dengan sukacita. Saya menemukan bahwa setengahnya belum pernah saya dengar. Saya kagum mengapa saya belum pernah melihat keindahan dan kemuliaannya sebelumnya, dan heran bahwa saya pernah menolaknya. Saya menemukan segala sesuatu yang dinyatakan adalah yang diinginkan hatiku dan yang menjadi obat bagi setiap penyakit jiwa. Saya kehilangan minat untuk membaca buku?buku lain, dan mencurahkan hati saya untuk memperoleh hikmat dari Allah." ?? Bliss, S., "Memoirs of Wm. Miller," pp.65?67.

Miller mengakui di depan umum imannya dalam agama yang pernah dibencinya. Tetapi rekan?rekannya yang tidak percaya kepada Allah tidak berlambatan mengajukan semua argumentasi yang ia sendiri sudah sering lancarkan melawan otoritas ilahi Alkitab. Ia belum bersedia menjawab mereka. Tetapi ia berpikir, bahwa jika Alkitab adalah wahyu dari Allah, maka ia harus sesuai dengan dirinya sendiri, dan oleh karena Alkitab itu diberikan untuk mengajar manusia, maka ia harus sesuai dengan pengertiannya. Ia memutuskan untuk mempelajari Alkitab untuk dirinya sendiri, dan memastikan kalau?kalau setiap kotradiksi atau pertentangan tidak bisa diselaraskan.

Dengan mengesampingkan semua pendapat dan komentar?komentar, ia membandingkan buku dengan buku dengan bantuan referensi?referensi pada tepi halaman?halaman buku dan konkordans. Ia belajar dengan cara teratur dan sistematis. Ia mulai dengan buku Kejadian, membaca ayat demi ayat. Ia tidak perlu terburu?buru mempelajarinya sampai arti beberapa paragraf terungkap sehingga dengan demikian ia tidak malu. Bilamana ia menemukan sesuatu yang tidak jelas, kebiasaannya ialah membandiungkan ayat dengan ayat lain yang tampaknya ada hubungan dengan masalah yang dipertimbangkan. Setiap kata dibiarkan mempunyai kedudukannya yang sebenarnya pada pokok masalah dalam ayat itu, dan jika pandangannya sesuai dengan paragraf tambahan, maka tidak ada lagi kesulitan. Dengan demikian, bilamana ia menemukan paragraf yang sulit dimengerti, maka ia menemukan keterangan di bagian?bagian lain Alkitab. Sementara ia belajar dengan doa yang sungguh?sungguh untuk penerangan ilahi, maka yang dulunya gelap kepada pengertiannya dibuat menjadi terang dan jelas. Ia mengalami kebenaran kata?kata pemazmur, "Bila tersingkap firman?firman?Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang?orang bodoh." (Maz. 119:130).

Dengan kemauan yang sungguh?sungguh ia mempelajari buku?buku Daniel dan Wahyu, dengan menggunakan prinsip penafsiran yang sama seperti pada buku?buku lainnya, dan ia dapati bahwa lambang?lambang dapat dimengerti. Ia melihat bahwa nubuatan?nubuatan yang sebegitu jauh telah digenapi, telah digenapi secara harafiah atau secara sesungguhnya. Bahwa semua angka, kiasan?kiasan, perumpamaan?perumpamaan, ibarat dan sebagainya, dijelaskan baik dalam hubungannya yang langsung maupun istilah dimana ia dinyatakan, diartikan dalam buku?buku lain, dan dengan demikian bilamana diterangkan, akan dimengerti secara literal atau harafiah. "Dengan demikian saya merasa puas, " katanya, " bahwa Alkitab itu adalah sebuah sistem kebenaran yang sudah dinyatakan, yang diberikan dengan jelas dan sederhana, sehingga para musafirpun tidak akan salah mengertinya walaupun ia bodoh." ?? Bliss, "Memoirs of Wm. Miller," p. 70. Mata rantai demi mata rantai kebenaran berhasil dihubungkannya, sementara langkah demi langkah ia telusuri garis?garis nubuatan. Malaikat?malaikat Surga memimpin pikirannya, dan membukakan pengertian kepada Alkitab.

Dengan mengetahui cara nubuatan?nubuatan digenapi di masa lampau, sebagai kriteria untuk menilai penggenapan nubuatan di masa yang akan datang, ia menjadi merasa puas bahwa dengan pandangan umum pemerintahan rohani Kristus ?? masa seribu tahun sebelum akhir dunia ?? tidak didukung oleh firman Allah. Ajaran ini yang menunjukkan adanya masa seribu tahun yang penuh kebenaran dan kedamaian sebelum kedatangan Tuhan secara pribadi, telah menjauhkan teror hari Allah. Meskipun ajaran itu menyenangkan, tetapi itu bertentangan dengan ajaran Kristus dan rasul?rasul?Nya, yang menyatakan bahwa gandum dan lalang tumbuh bersama sampai waktu menuai, yaitu akhir dunia ini (Ma. 13:30), bahwa orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, bahwa "pada hari?hari terakhir akan datang masa yang sukar" (2Tim. 3:13,1) dan bahwa kerajaan kegelapan akan terus berlangsung sampai kedatangan Tuhan, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulut?Nya, dan akan memusnahkannya, pada waktu Ia datang kembali. (2 Tes. 2:8).

Ajaran atau doktrin tentang pertobatan dunia dan pemerintahan Kristus secara rohani tidak dianut oleh gereja pada zaman rasul?rasul. Pada umumnya ajaran tidak diterima oleh orang?orang Kristen sampai pada permulaan abad ke delapan belas. Seperti setiap kesalahan yang lain, ajaran itu mengakibatkan kejahatan. Doktrin itu mengajarkan kepada manusia untuk memandang jauh ke depan kepada kedatangan Tuhan. Hal ini menyebabkan mereka tidak memperhatikan tanda?tanda yang memberitakan kedatangan?Nya yang mendekat. Ini menimbulkan rasa yakin dan aman yang tidak berdasar, hal ini menuntun banyak orang melalaikan persiapan yang diperlukan untuk bertemu dengan Tuhan.


Miller menemukan bahwa kedatangan Kristus secara pribadi dan secara harafiah diajarkan di dalam Alkitab dengan jelas dan sederhana. Rasul Paulus berkata, "Sebab pada waktu tanda diberikan, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari Surga." (1 Tes. 4:16,17). Dan Juru Selamat menyatakan, "Mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan?awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan?Nya." "Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah Timur dan memancarkan cahayanya sampai ke Barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia." (Mat. 24:30,27). Ia akan disertai oleh seluruh malaikat Surga. "Anak Manusia datang dalam kemuliaan?Nya dan semua malaikat bersama dengan Dia." (Mat. 25:31). "Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat?malaikat?Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang?orang pilihan?Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain." (Mat. 24:31).

Pada kedatangan?Nya orang benar yang sudah meninggal akan dibangkitkan, dan orang benar yang masih hidup akan diubahkan. "Kita tidak akan mati semuanya, " kata Rasul Paulus, "tetapi kita semuanya akan diubahkan dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang?orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak bisa binasa dan kita semua akan diubah. Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati harus mengenakan yang tidak dapat mati." ( 1 Kor. 15:51?53). Dan dalam suratnya kepada orang Tesalonika, setelah menerangkan kedatangan Tuhan, ia berkata, "Mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama?sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama?lamanya bersama=sama dengan Tuhan." (1 Tes. 4:16,17).

Umat Tuhan akan menerima kerajaan pada waktu kedatangan Kristus secara pribadi. Juru Selamat berkata, "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan?Nya dan semua malaikat bersama?sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan?Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan?Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang daripada seorang sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba?domba di sebelah kanan?Nya dan kambing?kambing di sebelah kiri?Nya. Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan?Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa?Ku, terimalah kerajaan yang disediakan bagimu sejak dunia dijadikan." (Mat. 25:31?34). Kita melihat dari ayat yang baru saja diberikan bahwa apabila Anak Manusia datang, yang mati dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa, dan yang masih hidup diubahkan. Dengan perobahan besar ini mereka dipersiapkan untuk menerima kerajaan, karena Rasul Paulus berkata, "Daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalamm apa yang tidak binasa." ( 1 Kor. 15:50). Manusia dalam keadaannya yang sekarang adalah mati dan dapat binasa. Tetapi kerajaan Allah tidak dapat binasa dan akan bertahan selama?lamanya. Oleh sebab itu, manusia dalam keadaannya yang sekarang tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Allah. Akan tetapi bilamana Yesus datang, Ia akan menganugerahkan peri yang tidak binasa kepada umat?Nya. Dan sesudah itu Ia menyuruh mereka mewarisi kerajaan yang baru. Sejak itulah mereka menjadi ahli waris.

Ayat ini dan ayat?ayat lain dengan jelas membuktikan kepada pikiran Miller bahwa peritiwa?peristiwa yang diharapkan terjadi sebelum kedatangan Kristus, seperti pemerintahan damai secara universal dan berdirinya kerajaan Allah di dunia ini, adalah terjadi sesudah kedatangan Kristus yang kedua kali. Lebih jauh, semua tanda?tanda zaman dan keadaan dunia akan sesuai dengan keterangan nubuatan tentang akhir zaman. Dengan mempelajari Alkitab saja, ia dipaksa untuk mengambil kesimpulan bahwa waktu yang diberikan untuk kelangsungan dunia dalam keadaannya yang sekarang ini sudah hampir berakhir.

"Bukti lain yang sangat mempengaruhi pikiran saya," katanya, "adalah urutan waktu dalam Alkitab . . . . Saya menemukan bahwa peristiwa?peristiwa yang diramalkan terjadi, yang telah digenapi pada waktu yang lalu, sering terjadi pada waktu yang sudah ditetapkan. Masa seratus dua puluh tahun dalam air bah (Kej. 6:3), tujuh hari sebelumnya, dengan empat puluh hari lamanya, hujan yang diramalkan (Kej. 7:4), empat ratus tahun pengembaraan benih Abraham (Kej. 15:13), tiga hari mimpi juru minuman dan juru makanan (Kej. 40:12?20), tujuh tahun Firaun (Kej. 41:28?54); empat puluh tahun di padang belantara (Bil. 14:34), tiga setengah tahun bala kelaparan (1 Raja 17:1): ?? Lihat Lukas 4:25); . . . tujuh puluh tahun perhambaan (Yer. 25:11), tujuh tahun Nebukadnezar (Dan. 4:13?16), dan tujuh minggu, enam puluh dan dua minggu, dan satu minggu, menjadikan tujuh puluh minggu, ditentukan bagi bangsa Yahudi (Dan. 9:24?27) ?? peristiwa?peristiwa yang dibatasi oleh waktu?waktu ini yang pada suat waktu hanyalah merupakan perkara nubuatan, kemudian telah digenapi sesuai dengan ramalannya." ?? Bliss, "Memoirs of Wm. Miller," pp. 74,75.


Oleh sebab itu, bilamana ia menemukan dari pelajaran Alkitab berbagai urutan waktu yang, menurut pengertiannya, berlanjut terus kepada kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali, ia tidak bisa berbuat apa?apa kecuali menganggapnya sebagai "masa sebelum ditetapkan," yang telah dinyatakan Allah kepada hamba?hamba?Nya. "Hal?hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan, Allah kita, tetapi hal?hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan anak?anak kita sampai selama?lamanya," kata Musa. (Ul. 29:29). Dan Tuhan menyatakan melalui nabi Amos, bahwa "Tuhan Allah tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan?Nya kepada hamba?hamba?Nya para nabi," (Amos 3:7). Oleh sebab itu para pelajar firman Allah dapat dengan pasti berharap akan menemukan peristiwa yang paling menakjubkan terjadi dalam sejarah manusia yang dengan jelas ditunjukkan di dalam Alkitab.

"Setelah sepenuhnya saya diyakinkan," kata Miller, "bahwa segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat"(2 Tim. 3:16), dan tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang?orang berbicara atas nama Allah (2 Pet. 1:21), dan 'segala sesuatu yang ditulis dahulu , telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci' (Roma 15:4), maka saya menganggap bahwa bagian?bagian urutan?urutan waktu di dalam Alkitab adalah bagian dari firman Allah, dan sepatutnya mendapat perhatian kita yang sungguh?sungguh seperti bagian?bagian Alkitab yang lain. Oleh sebab itu saya merasa bahwa usaha untuk memahami apa yang dilihat Allah di dalam kemurahan?Nya sesuai untuk dinyatakan kepada kita, saya tidak berhak untuk melewatkan atau mengabaikan periode?periode nubuatan itu." ?? Bliss, "Memoirs of Wm. Miller," p. 75.

Nubuatan yang tampaknya paling jelas menyatakan "waktu" kedatangan kedua kali itu ialah Daniel 8:14, "Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan disucikan dalam keadaan yang wajar." (disucikan). Dengan mengikuti aturan yang dibuatnya yang membuat Alkitab itu penafsir sendiri, Miller mengetahui bahwa satu hari dalam nubuatan simbolis melambangkan satu tahun (Bil. 14:34; Yehez. 4:6). Ia melihat bahwa dua ribu tiga ratus hari nubuatan, atau tahun secara harafiah, akan berlanjut jauh melampaui penutupan dispensasi yang diberikan kepada orang Yahudi, dengan demikian itu tidak menunjuk kepada kaabah pada masa dispensasi. Miller menerima pandangan yang umum diterima, bahwa di zaman Kristen dunia ini adalah kaabah, dan oleh sebab itu dapat dimengerti bahwa pemulihan dalam keadaan yang wajar (penyucian) kaabah yang disebutkan sebelumnya dalam Daniel 8:14 menunjukkan pemulihan (penyucian) dunia ini oleh api pada waktu kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali. Jikalau, kemudian, permulaan 2300 hari yang tepat dapat ditemukan, ia menyimpulkan, bahwa kedatangan yang kedua kali itu akan dapat ditentukan. Dengan demikian akan dinyatakan waktu kebinasaan besar, waktu bilamana keadaan sekarang dengan "segala kesombongan dan kuasanya, pemborosan dan penyia?nyiaan, kejahatan dan penindasan akan berakhir," waktu bilamana kutuk akan dihapuskan dari dunia ini, kematian dibinasakan, upah diberikan kepada hamba?hamba Allah, para nabi dan orang?orang saleh, dan mereka yang takut akan nama?Nya, dan mereka yang membinasakan dunia akan dibinasakan." ?? Bliss, "Memoirs of Wm. Miller," p. 76.

Dengan kesimpulan?kesimpulan baru dan lebih mendalam, Miller meneruskan memeriksai nubuatan?nubuatan, baik siang maupun malam, terus mempelajari apa yang sekarang tampaknya sangat penting dan menarik perhatian. Dalam buku Daniel fatsal 18 ia menemukan petunjuk permulaan masa 2300 hari itu. Dan malaikat Gabriel, walaupun diperintahkan untuk memberikan pengertian kepada Daniel mengenai penglihatan itu, hanya memberikan sebagian keterangan kepadanya. Pada waktu penganiayaan ngeri yang akan menimpa gereja diungkapkan kepada penglihatan nabi, kekuatan fisiknya melemah. Ia tidak dapat lagi menahannya, dan malaikat meninggalkannya untuk sementara waktu lamanya. Daniel "pingsan dan sakit beberapa hari lamanya." Dan saya sangat heran mengenai penglihatan itu," katanya, "tetapi tak seorangpun memahaminya."

Tetapi Allah menyuruh utusan?Nya, malaikat Gabriel. "Buatlah orang ini memahami penglihatan itu." Perintah ini harus digenapi. Dalam penurutannya, malaikat itu kembali kepada Daniel beberapa saat kemudian, dan berkata, "Daniel, sekarang aku datang untuk memberi akal budi kepadamu untuk mengerti." "Jadi camkanlah firman itu dan perhatikanlah penglihatan itu." (Dan. 9:22,23). Ada satu perkara penting dalam penglihatan fatsal delapan yang belum diungkapkan, yang berhubungan dengan waktu, ?? waktu 2300 hari. Oleh sebab itu malaikat itu dalam meneruskan penjelasannya, terutama berkisar pada pokok waktu itu:

"Tujuh puluh kali tujuh masa telah ditetapkan atas bangsamu dan atas kotamu yang kudus . . . . Maka ketahuilah dan fahamilah: dari saat firman itu keluar, yakni bahwa Yerusalem dipulihkan dan dibangun kembali, sampai pada kedatangan seorang Yang Diurapi, seorang Raja, ada tujuh kali tujuh masa; dan enam puluh dua kali tujuh masa lamanya kota itu akan dibangun kembali dengan tanah lapang dan paritnya, tetapi ditengah?tengah kesulitan. Sesudah keenam puluh dua kali tujuh masa itu akan disingkirkan seorang Yang telah Diurapi, padahal tak ada salahnya apa?apa . . . . Raja itu akan membuat perjanjian itu menjadi berat bagi banyak orang selama satu kali tujuh masa. Pada pertengahan tujuh masa itu ia akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan."


Malaikat telah dikirimkan kepada Daniel untuk menjelaskan kepadanya perkara yang belum dipahaminya dalam penglihatan yang terdapat dalam fatsal delapan, yaitu yang menyangkut waktu, ?? "sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar." Setelah menyuruh Daniel dengan berkata, "Camkanlah firmAn itu dan perhatikanlah penglihatan itu," kata?kata pertama malaikat itu ialah, "Tujuh puluh kali tujuh masa telah ditetapkan atas bangsamu dan atas kotamu yang kudus." Perkataan yang diterjemahkan "ditetapkan" secara harafiah menyatakan "dipotong." Tujuh puluh kali tujuh masa yang menyatakan 490 tahun, dinyatakan oleh malaikat itu akan "dipotong", terutama mengenai orang?orang Yahudi. Tetapi dari apakah waktu "dipotong"? Oleh karena hanya masa 2300 hari saja waktu yang disebutkan dalam fatsal delapan, dengan demikian dari masa itulah waktu tujuh puluh kali tujuh masa itu "dipotong." Oleh sebab itu yang tujuh puluh kali yujuh itu adalah bagian dari 2300 hari, dan kedua masa ini haruslah bermula dari waktu yang sama. Yang tujuh puluh kali tujuh masa itu dinyatakan oleh malaikat bermula dari keluarnya perintah untuk memulihkan dan membangun kembali kota Yerusalem. Jika tanggal keluarnya perintah ini dapat ditentukan, maka permulaan masa 2300 haripun akan dapat ditentukan.

Perintah (dekrit) itu ditemukan dalam buku Ezra fatsal yang ketujuh (Ezra 7:12?26). Perintah itu dikeluarkan oleh raja Artahsasta, raja Persia, pada tahun 457 SM (Sebelum Masehi), dalam bentuknya yang paling lengkap. Tetapi di dalam Ezra 6:14 rumah Allah itu dikatakan telah dibangun "menurut perintah Allah Israel dan menurut perintah(dekrit) Koresy, Darius dan Artahsasta raja Persia." Ketiga raja ini, dalam membuat, memastikan dan menyelesaikan dekrit itu, menyempurnaan sesuai dengan yang dituntut oleh nubuatan untuk menandai permulaan masa 2300 tahun itu. Dengan mengambil tahun 457 SM tahun dekrit itu diselesaikan sebagai tahun perintah dikeluarkan, maka setiap rincian nubuatan mengenai tujuh puluh kali tujuh masa itu kelihatannya sudah digenapi.

"Dari saat perintah dikeluarkan untuk memulihkan dan membangun kota Yerusalem sampai kepada kedatangan seorang Yang Diurapi, seorang Raja, adalah tujuh kali tujuh masa, dan enam puluh dua kali tujuh masa" ?? yaitu 62 x 7 masa, atau 483 tahun. Dekrit Artahsasta mulai berlaku pada musim gugur tahun 457 SM. Dari saat ini dihitung 483 tahun kemudian akan mencapai musim gugur tahun 27 TM (Tarikh Masehi). ?? (Lihat Lampiran). Pada waktu itu nubuatan ini digenapi. Perkataan "Mesias" menyatakan "Yang Diurapi." Pada musim gugur tahun 27 TM, Kristus telah dibaptiskan oleh Yohanes, dan menerima pengurapan Roh. Rasul Petrus menyaksikan bahwa "Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa." (Kisah 10:38). Dan Juru Selamat sendiri menatakan, "Roh Tuhan ada pada?Ku oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik (Injil) kepada orang?orang miskin." (Lukas 4:18).

"Raja itu akan membuat perjanjian itu menjadi berat bagi banyak orang selama satu kali tujuh masa." "Tujuh masa" (satu minggu) di sini ialah tujuh masa yang terakhir dari yang tujuh puluh kali satu masa itu. Itu adalah tujuh tahun yang terakhir yang diberikan terutama kepada orang Yahudi. Selama waktu ini, yaitu mulai dari tahun 27 TM sampai tahun 34 TM, Kristus sendiri dan kemudian murid?murid?Nya, menyampaikan undangan Injil (kabar baik) itu terutama kepada orang?orang Yahudi. Pada waktu murid?murid pergi memberitakan kabar baik kerajaan itu, petunjuk Juru Selamat adalah, "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba?domba yang hilang dari umat Israel." (Mat. 10:5,6).

Pada pertengahan tujuh masa (minggu) itu Ia akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan." Pada tahun 31 TM, tiga setengah tahun setelah Ia dibaptiskan, Tuhan kita Yesus Kristus disalibkan. Dengan pengorbanan yang dipersembahkan di bukit Golgota, maka berakhirlah sistem atau upacara perembahan yang selama empat ribu tahun telah menunjuk kepada Anak Domba Allah. Lambang telah bertemu dengan yang dilambangkan, dan semua korban sembelihan dan korban santapan dalam sistem upacara dengan demikian sudah dihentikan.

Yang tujuh puluh kali tujuh masa atau 490 tahun, yang khusus disediakan bagi orang Yahudi, berakhir, sebagaimana kita lihat, pada tahun 34 TM. Pada waktu itu, melalui tindakan Sanhedrin orang Yahudi, bangsa itu memeteraikan penolakannya kepada kabar baik (Injil) dengan mati syahidnya Stefanus dan penganiayaan atas pengikut?pengikut Kristus. Sesudah itu kabar keselamatan tidak lagi terbatas hanya kepada umat pilihan, telah diberikan kepada seluruh dunia. Murid?murid yang terpaksa melarikan diri dari kota Yerusalem oleh karena penganiayaan, "menjelajahi seluruh negeri sambil memberitakan Injil. Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang?orang di situ." (Kis. 8:4,5). Petrus dengan pimpinan ilahi membukakan Injil kepada perwira pasukan Italia di Kaesarea, Kornelius, yang takut akan Tuhan. Demikian juga Paulus yang penuh semangat, yang sudah percaya kepada Yesus, diutus untuk membawa kabar kesukaan "jauh dari sini kepada bangsa?bangsa lain." (Kis. 22:21).

Sejauh ini setiap perincian nubuatan digenapi dengan cara yang mengagumkan, dan permulaan tujuh puluh kali tujuh masa itu tidak diragukan lagi, yaitu tahun 457 SM, dan berakhir pada tahun 34 TM. Dari data ini tidak sulit untuk mengetahui akhir dari masa 2300 hari. Tujuh puluh kali tujuh masa ?? 70 minggu, 490 hari ?? dikurang dari 2300 hari, tinggallah 1810 hari. Setelah 490 hari berakhir, yang 1810 hari lagi masih harus digenapi. Dari tahun 34 TM., 1810 tahun itu berlanjut dan berakhir pada tahun 1844. Sebagai hasilnya ialah bahwa masa 2300 hari yang disebutkan dalam buku Daniel 8:14 itu berakhir pada tahun 1844. Pada akhir dari masa nubuatan yang panjang ini, atas kesaksian malaikat Allah, "lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaannya yang wajar." Jadi masa pemulihan tempat kudus itu ?? yang hampir secara universal dipercayai terjadi pada kedatangan Kristus yang kedua kali ?? telah dinyatakan dengan pasti.


Mula?mula Miller dan rekan?rekannya percaya bahwa masa 2300 hari itu akan berakhir pada musim semi tahun 1844, sedangkan nubuatan menunjuk kepada musim gugur pada tahun itu ?? (Lihat Lampiran). Kesalahan dalam memahami hal ini membawa kekecewaan dan kebingungan kepada mereka yang telah menetapkan tanggal sebelumnya sebagai waktu kedatangan Tuhan. Tetapi ini sama sekali tidak mempengaruhi kuatnya argumentasi yang menunjukkan bahwa masa 2300 hari itu berakhir pada tahun 1844, dan peristiwa besar yang menyatakan pemulihan tempat kudus harus terjadi. Ia mempelajari Alkitab, sebagaimana kebiasaannya, untuk membuktikan bahwa masa?masa itu adalah nubuatan dari Allah. Miller pada mulanya sedikitpun tidak mengharapkan akan tiba kepada kesimpulan seperti yang sekarang. Ia sendiri sulit mempercayai hasil penelitiannya. Akan tetapi bukti Alkitab terlalu jelas dan tidak dapat diabaikan.

Ia menghabiskan waktunya dua tahun untuk mempelajari Alkitab, bilamana pada tahun 1818 ia mencapai suatu keyakinan yang kuat bahwa dalam waktu kira?kira 25 tahun Kristus akan datang untuk menebus umat?umat?Nya. "Saya tidak perlu bicara," kata Miller, "mengenai sukacita yang memenuhi hatiku sehubungan dengan masa depan yang menggembirakan, atau kerinduan jiwa saya yang besar untuk turut ambil bagian dalam kesukaan orang?orang yang ditebus. Alkitab sekarang bagiku adalah buku baru. Buku itu berisi pemikiran. Semua yang gelap, yang tersembunyi atau terselubung kepadaku dalam pengajaran?pengajarannya, telah lenyap dari pikiran saya dihadapan sinar terang yang sekarang terbit dari lembaran?lembarannya yang kudus. Dan ah, betapa terang dan mulia kebenaran itu tampak! Semua kontradiksi dan yang tidak tentu yang saya temukan sebelumnya di dalam Firman itu sekarang telah lenyap. Dan walaupun ada banyak bagian yang saya belum merasa puas saya mengerti sepenuhnya, namun begitu banyak terang yang memancar dari dalamnya untuk menerangi pikiran saya yang gelap sebelumnya, sehingga saya merasakan kesukaan dalam mempelajari Alkitab yang sebelumnya saya tidak sangka akan mendapat apa?apa dari pengajaran?pengajarannya.' ?? Bliss, "Memoirs of Wm. Miller," pp. 76,77.

"Dengan keyakinan yang sungguh bahwa peristiwa?peristiwa penting yang diramalkan di dalam Alkitab akan digenapi dalam waktu yang tidak lama, pertanyaan datang kepada saya dengan kuasa yang besar mengenai kewajiban saya terhadap dunia ini sehubungan dengan kenyataan yang telah mempengaruhi pikiran saya." ?? Bliss, "Memoirs of Wm. Miller," p. 81. Ia merasa bahwa adalah kewajibannya untuk membagikan kepada orang?orang lain terang yang telah diterimanya. Ia memperkirakan akan menemui perlawanan dari orang?orang yang tidak beriman, tetapi merasa yakin bahwa semua orang Kristen akan bersukacita dalam pengharapan akan bertemu dengan Juru Selamat yang diakuinya dicintai. Kekuatirannya satu?satunya ialah bahwa dalam kesukaan mereka yang besar terhadap pengharapan kelepasan yang mulia itu, yang segera akan terwujud, banyak akan menerima ajaran itu tanpa penyelidikan Alkitab yang memadai dalam menyatakan kebenarannya. Oleh karena itu ia ragu?ragu untuk menyajikannya, kalau?kalau ia salah dan menjadi alat penuntun yang salah bagi orang lain. Oleh sebab itu ia meneliti dan mengkaji?ulang bukti?bukti yang mendukung kesimpulan yang telah diambilnya, dan mempertimbangkan dengan hati?hati setiap kesulitan yang muncul dipikirannya. Ia menemukan bahwa keberatan?keberatan lenyap dihadapan terang firman Allah , seperti kabut dihadapan sinar matahari. Ia telah menggunakan waktu selama lima tahun, dan ia telah sepenuhnya yakin kebenaran posisinya.

Dan sekarang tugas membuat orang lain mengetahui apa yang ia percayai begitu jelas diajarkan di dalam Alkitab, begitu kuat mendorongnya dengan kekuatan yang baharu. "Ketika saya melakukan pekerjaan saya," katanya, "selalu berdering di telinga saya, 'Pergilah dan beritakan kepada dunia ini mengenai bahaya mereka' Ayat ini selalu datang kedalam pikiran saya, 'Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! ?? dan engkau tidak berkata apa?apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalamkesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya daripadamu. Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu.' (Jehez. 33:8,9). Saya merasa bahwa jikalau orang jahat berhasil diamarkan, maka banyaklah mereka yang akan bertobat. Dan jikalau mereka tidak diamarkan, maka darah mereka akan dituntut dari padaku." ?? Bliss, p. 92.

Ia mengemukakan pandangannya secara pribadi pada waktu ia mempunyai kesempatan, dan berdoa semoga ada dari pendeta yang merasakan dorongan ini dan membaktikan diri mereka kepada penyebaran pekabaran itu. Tetapi ia tidak bisa menghilangkan keyakinan bahwa ia mempunyai tugas pribadi untuk memberikan amaran itu. Kata?kata ini selalu berbicara dalam pikirannya, "Pergilah dan beritahukan kepada dunia. Dan mereka akan dituntut dari padamu." Ia menunggu sembilan tahun lamanya, dan beban itu masih menekan jiwanya, sampai akhirnya pada tahun 1831 untuk pertama kali secara umum memberikan alasan?alasan imannya.

Seperti Elisa dipanggil sementara membajak ladang, untuk menerima jubah pengabdian kepada tugas kenabian, demikianlah William Miller dipanggil meninggalkan bajaknya dan membukakan kepada orang?orang rahasia kerajaan Allah. Dengan gemetar ia memasuki pekerjaannya, menuntun pendengar?pendengarnya langkah demi langkah, melalui masa?masa nubuatan kepada kedatangan Kristus yang kedua kali. Dalam setia usaha ia memperoleh kekuatan dan keberanian sementara ia melihat perhatian yang semakin meluas yang dibangkitkan oleh kata?katanya.


Hanya atas permintaan saudara?saudaranyalah, yang dalam kata?kata mereka ia mendengar panggilan Allah, maka Miller menyetujui untuk memberitakan pandangan?pandangannya di hadapan umum. Sekarang ia berumur 50 tahun, tidak biasa berbicara di hadapan umum, dan dibebani dengan perasaan tidak layak untuk mengerjakan pekerjaan yang sedang dilakukannya Tetapi sejak pertama sekali pekerjaan?pekerjaannya diberkati dengan cara yang menakjubkan dalam penyelamatan jiwa?jiwa. Ceramahnya yang pertama disusul oleh kebangunan agama, dimana tiga belas keluarga seluruhnya bertobat kecuali dua orang . Ia segera diminta untuk berbicara di tempat?tempat lain, dan hampir di setiap tempat pekerjaannya menghasilkan kebangunan pekerjaan Allah. Orang?orang berdosa ditobatkan, orang?orang Kristen dibangunkan kepada pengabdian yang lebih besar, dan pengikut?pengikut deisme dan yang tidak percaya kepada Tuhan telah dituntun mengakui kebenaran Alkitab dan agama Kristen. Kesaksian mereka dimana ia bekerja adalah, "Suatu tingkatan pemikiran dicapainya yang tidak dalam keadaan dipengaruhi oleh orang?orang lain." ?? Bliss, "Memoirs of Wm. Miller," p. 138. Khotbahnya direncanakan untuk membangunkan pikiran umum kepada perkara?perkara besar agama dan membendung pertumbuhan keduniawian dan hawa nafsu zaman.

Di hampir setiap kota ada puluhan, bahkan di beberapa ada ratusan orang yang bertobat sebagai hasil khotbahnya. Di banyak tempat gereja?gereja Protestan dari hampir semua denominasi terbuka lebar?lebar baginya . Dan undangan untuk bekerja biasanya datang dari pendeta?pendeta beberapa organisasi agama atau kongregasi. Adalah merupakan peraturannya untuk tidak bekerja di suatu tempat kalau ia belum diundang untuk bekerja di tempat itu. Tetapi segera didapatinya bahwa ia tidak bisa memenuhi hampir separuhpun dari permintaan yang datang kepadanya.

Banyak di antara mereka yang tidak menerima pandangannya mengenai waktu tepatnya kedatangan Kristus kedua kali, telah diyakinkan mengenai pastinya dan dekatnya kedatangan Kristus, dan perlunya persiapan. Di beberapa kota?kota besar pekerjaannya menghasilkan kesan yang mendalam. Penjual?penjual minuman keras menutup usahanya dan menjadikan toko?tokonya menjadi ruang?ruang pertemuan. Tempat?tempat perjudian dibubarkan; orang?orang yang tidak percaya adanya Tuhan, pengikut?pengikut deisme, kaum universalis, dan bahkan orang?orang yang paling tidak bermoral atau sampah masyarakat telah dibaharui. Beberapa diantaranya sudah tidak memasuki perbaktian selama bertahun?tahun. Kumpulan?kumpulan doa diadakan oleh berbagai denominasi di berbagai tempat dan hampir setiap jam. Para pengusaha berkumpul tengah hari untuk berdoa dan menyanyikan lagu puji?pujian. Tidak ada pemborosan, pikiran manusia dipengaruhi rasa khidmat. Pekerjaannya, seperti para pembaharu dahulu, hanya untuk meyakinkan pengertian dan membangunkan serta menggugah daripada sekedar membangkitkan emosi.

Pada tahun 1833 Miller menerima izin untuk berkhotbah dari Garaja Baptis, dimana ia menjadi anggota. Banyak pendeta gereja ini yang menyetujui pekerjaannya, dan adalah atas persetujuan mereka sehingga ia meneruskan pekerjaannya. Ia bepergian dan berkhotbah tanpa henti, walaupun sebenarnya tugasnya adalah terutama di New England dan Middle State. Untuk selama bertahun?tahun biaya?biaya pekerjaannya seluruhnya ditanggung sendiri. Ia tidak pernah menerima cukup uang untuk kebutuhan biaya perjalanan ke tempat?tempat kemana ia diundang. Dengan demikian pekerjaannya untuk umum, jauh dari keuntungan uang, bahkan menjadi beban kepada harta miliknya yang sudah semkin berkurang sepanjang hidupnya. Ia adalah seorang ayah dari keluarga besar, tetapi oleh karena mereka adalah orang?orang yang hemat dan rajin, maka hasil ladangnya cukup untuk kebutuhan keluarganya dan kebutuhannya.

Pada tahun 1833, dua tahun sesudah Miller mulai mengkhotbahkan bukti?bukti kedatangan Kristus yang segera di depan umum, tanda terakhir nampak yang dijanjikan oleh Juru Selamat sebagai tanda kedatangan?Nya yang kedua kali. Yesus berkata, "Bintang?bintang akan berjatuhan dari langit." (Mat. 24:29). Dan Yohanes dalam buku Wahyu menyatakan, sementara ia memandang dalam penglihatan pemandangan yang mendahului hari Allah, "Dan bintang?bintang di langit berjatuhan ke atas bumi bagaikan pohon ara menggugurkan buah?buahnya yang mentah, apabila ia diguncang angin kencang." (Wah. 6:13) Nubuatan ini memperoleh penggenapan yang nyata dan mengesankan pada peristiwa besar hujan meteor pada tanggal 13 Nopember 1833. Itulah kejatuhan bintang yang paling besar dan paling hebat yang pernah dicatat. "Seluruh cakrawala di atas seluruh Amerika Serikat, menyala berpijar selama beberapa jam. Tidak pernah terjadi fenomena langit di negeri ini sejak pendudukan yang pertama, yang dilihat dengan sangat kagum oleh segolongan masyarakat atau dengan sangat takut dan gentar oleh golongan yang lain." "Keagungan dan keindahannya masih terus terkenang di banyak pikiran orang . . . . Belum pernah hujan turun lebih lebat dari meteor?meteor itu yang jatuh ke bumi ini. Ke Timur, ke Bbarat, ke Utara dan ke Selatan sama saja. Pendek kata seluruh langit tampak bergoyang . . . . Kejadian itu, sebagaimana dijelaskan di Journal Profesor Silliman, dilihat di seluruh Amerika Utara . . . . Dari jam dua sampai terang pagi hari langit sangat terang dan cerah tanpa berawan, suatu pertunjukan yang terus?menerus kilauan cahaya bintang?bintang yang cemerlang terjadi di seputar langit." ?? Devens, R.M., "American Progress; or The Greatest Event of the Greatest Country," Ch. 28, ?ars. 1?5.


"Sungguh, tidak ada bahasa yang dapat menggambarkan kemuliaan pertunjukan yang begitu indah; . . . tak seorangpun yang tidak melihatnya dapat membentuk suatu gambaran yang memadai dalam pikirannya mengenai kemuliaan periistiwa itu. Tampaknya bagaikan seluruh langit berbintang berkumpul di suatu titik dekat zenith (puncak) dan secepat kilat serta?merta serentak memancar ke segala penjuru kaki langit. Tetapi tidak habis?habisnya ?? ribuan meteor diikuti ribuan meteor lainnya seolah?olah semuanya itu diciptakan untuk kejadian itu." ?? Reed, F. in the Christian Advocate Journal, 13 December 1833. " Suatu gambaran yang lebih tepat ialah bagaikan sebatang pohon ara yang menggugurkan buahnya apabila dihembus angin kencang. Tidak mungkin untuk memperhatikan seluruhnya." ?? "The Old Countryman," in Portland Evening Advenrtiser, 26 November 1833.

Dalam New York Journal of Commerce 14 November 1833, muncul sebuah artikel panjang mengenai fenomena ajaib ini yang berisi pernyataan berikut, "Saya pikir, tak seorang ahli filsafat atau sarjanapun yang menceriterakan atau mencatat suatu kejadian seperti kejadian kemarin pagi. Seorang nabi meramalkannya dengan tepat 1800 tahun yang lalu, jikalau kita mengalami kesulitan untuk mengerti bahwa bintang?bintang yang berjatuhan itu berarti jatuhnya bintang?bintang . . . dalam satu?satunya pengertian yang mungkin benar secara harafiah."

Demikianlah diperagakan tanda?tanda terakhir kedatangan?Nya, mengenai mana Yesus menyuruh murid?murid?Nya, "Demikian juga, jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu." (Mat. 24:33). Setelah tanda?tanda ini, Yohanes melihat sebagai peristiwa besar berikut yang lainnya, langit menyusut bagaikan gulungan kitab yang digulung, sementara bumi bergoncang, gunung?gunung dan pulau?pulau bergeser dari tempatnya. Dan orang jahat yang ketakutan berusaha melarikan diri dari hadirat Anak Manusia."(Wah. 6:12?17).

Banyak yang menyaksikan jatuhnya bintang?bintang itu, memandangnya sebagai suatu berita penghakiman yang akan datang, ?? "suatu jenis tanda yang mengerikan, tanda pendahuluan yang pasti, suatu tanda penuh kemurahan dari hari besar yang menakutkan itu." ?? "The Old Countyman" in Portland Evening Advertiser, 26 Nopember 1833. Dengan demikian perhatian orang?orang ditujukan kepada kegenapan nubuatan, dan banyak dituntun untuk memperhatikan amaran kedatangan?Nya yang kedua kali.

Pada tahun 1840 kegenapan nubuatan yang luar biasa yang lain menimbulkan perhatian yang luas. Dua tahun sebelumnya Josiah Litch, salah seorang pendeta terkemuka yang mengkhotbahkan kedatangan Kristus yang kedua kali, menerbitkan penjelasan buku Wahyu fatsal 9, yang meramalkan kejatuhan Kekaisaran Ottoman. Menurut perhitungannya, kekuasaan ini akan digulingkan "kira?kira bulan Agustus 1840 TM." Dan hanya beberapa hari sebelum itu terjadi ia menulis, "Setelah melewati periode pertama seratus limapuluh tahun, yang digenapi secara tepat sebelum Deacozes naik takhta atas izin orang?orang Turki, dan bahwa yang tiga ratus sembilan puluh satu tahun, lima belas hari, yang mulai pada penutupan periode pertama itu, akan berakhir pada tanggal 11 Agustus 1840, ketika Kekaisaran Ottoman di Konstantinopel diharapkan akan hancur. Dan saya percaya bahwa hal ini akan terjadi demikian." ?? Litch, Josiah, article in Singns of the Times, and Expositor of Prophecy, 1 August 1840

Pada waktu yang ditentukan, Turki, melalui duta?dutanya, menerima perlindungan dari kekuasaan Eropa yang bersekutu. Dengan demikian menempatkan dirinya di bawah pemngawasan bangsa?bangsa Kristen. Peristiwa ini benar?benar menggenapi ramalan. ?? (Lihat Lampiran). Pada waktu berita ini diketahui orang?orang, orang?orang banyak diyakinkan mengenai tepatnya prinsip?prinsip penafsiran nubuatan yang dianut oleh Miller dan rekan?rekannya. Dan motivasi yang kuat telah diberikan kepada Pergerakan Advent. Orang?orang yang berpendidikan dan yang berpangkat bersatu dengan Miller, baik dalam mengkhotbahkan maupun menyiarkan pandangan?pandangannya. Dan dari tahun 1840 sampai 1844 pekerjaan ini meluas dengan cepat

William Miller memiliki mental yang kuat, disiplin berpikir dan belajar. Dan ia menambahkan hikmat Surga, dengan menghubungkan dirinya kepada Sumber Hikmat itu. Ia adalah seorang bernilai luhur, yang layak mendapat penghargaan dan kepercayaan dimana integritas tabiat dan kesempurnaan moral dinilai. Dengan mempersatukan keramah?tamahan dengan kerendahan hati Kristen dan pengendalian diri, ia menjadi seorang yang menaruh perhatian dan sopan santun kepada semua oerang, siap sedia mendengar pendapat orang?orang lain, dan mempertimbangkan argumen?argumen mereka. Tanpa nafsu amarah atau emosi yang meluap, ia menguji setiap teori dan ajaran dengan firman Allah. Dan pertimbangannya yang matang dan pengetahuan Alkitabnya yang menyeluruh menyanggupkannya untuk membuktikan dan menelanjangi kesalahan.

Namun, pelaksanaan pekerjaannya bukan tanpa perlawanan berat. Sebagimana dengan para Pembaharu terdahulu, kebenaran?kebenaran yang disajikannya tidak diterima dengan baik oleh guru?guru agama. Karena orang?orang ini tidak dapat mempertahankan pendapat mereka dengan Alkitab, mereka terpaksa menggunakan sebutan?sebutan dan ajaran?ajaran manusia dan tradisi para leluhur mereka. Tetapi hanya firman Allah satu?satunya kesaksian yang diterima oleh pengkhotbah?pengkhotbah kebenaran kedatangan Kristus itu. Semboyan mereka adalah, "Alkitab dan hanya Alkitab." Karena kurangnya argumentasi Alkitab di pihak lawan, maka lawan mereka menggunakan ejekan dan cemoohan. Mereka mengunakan waktu, sarana dan kecakapan untuk menfitnah mereka yang memandang dengan sukacita kembalinya Tuhan mereka, dan yang berusaha menghidupkan kehidupan yang saleh, dan yang mengajak orang?orang lain untuk bersedia menyambut kedatangan?Nya.


Usaha?usaha keras dilakukan untuk mengalihkan pikiran orang?orang dari pokok masalah, yaitu kedatangan Kristus kedua kali. Dibuatlah merupakan suatu dosa sesuatu yang orang?orang harus malu, jika seseorang mempelajari nubuatan yang berhubungan kepada kedatangan Kristus dan kesudahan alam. Dengan demikian pelayanan Injil populer merusak iman dalam firman Allah. Ajaran?ajaran mereka menjadikan orang?orang tidak percaya kepada Allah, dan banyak orang berani berjalan menurut hawa nafsu orang?orang tak beriman. Dan kemudian sumber segala kejahatan itu menuduhkan semua keadaan ini kepada orang?orang Avent.

Walaupun Miller berhasil menarik begitu banyak pendengar dari kalangan cendekiawan dan orang?orang yang berminat, namun nama Miller jarang disebut oleh pers agama kecuali yang berisi ejekan atau celaan. Orang?orang yang tidak perduli dan yang tidak beriman, diberanikan oleh guru?guru agama memberikan julukan penghinaan yang merendahkan dengan ucapan?ucapan hujatan jenaka, dalam usahanya mereka memberikan makian kepadanya dan kepada pekerjaannya. Orang sudah berambut putih ini, yang sudah meninggalkan rumahnya yang nyaman dan bepergian atas biaya sendiri dari kota ke kota, dari desa ke desa, bekerja tanpa mengenal lelah dan tanpa henti untuk menyampaikan amaran penghakiman yang sudah dekat kepada dunia ini, telah ditolak dengan cemoohan sebagai seorang fanatik, seorang pembohong, seorang bangsat, penipu yang berspekulasi.

Ejekan, kepalsuan, dan penghinaan yang dilemparkan kepadanya menimbulkan kemarahan dan protes keras dari pers sekular. "Memperlakukan seseorang yang agung dan yang berakibat menakutkan," dengan sewenang?wenang dan secara kotor, dinyatakan oleh orang duniawi sebagai "bukan saja sekedar lelucon kepada perasaan para pencetus dan pelaksananya," tetapi "membuat lelucon terhadap hari penghakiman, mengejek Ilahi sendiri, dan menghina serta memandang rendah penghakiman?Nya yang mengerikan itu." ?? Bliss, "Memoirs of Wm. Miller," p. 183.

Penghasut dan semua biang keladi semua kejahatan bukan saja berusaha menangkal pengaruh pekabaran Advent, tetapi membinasakan jurukabar?jurukabar itu sendiri. Miller membuat penerapan kebenaran Alkitab itu secara praktis ke dalam hati para pendengarnya, menegor dosa?dosa mereka dan mencegah rasa berpuas diri mereka; dan kata?katanya yang sederhana dan menusuk menimbulkan rasa permusuhan. Perlawanan yang dinyatakan oleh anggota?anggota jemaat kepada pekabarannya, memberanikan hati golongan masyarakat yang lebih rendah untuk bertindak lebih jauh, Dan musuh?musuh berkomplot untuk membunuhnya pada waktu ia meninggalkan tempat perkumpulan. Akan tetapi malaikat kudus ada diantara orang banyak, sehingga salah seorang dari mereka dalam rupa manusia, memegang tangan hamba Tuhan itu, dan menuntunnya ke tempat aman dari khalayak ramai yang marah itu. Pekerjaannya belum selesai, dan Setan beserta antek?anteknya merasa kecewa sebab maksud mereka tidak tercapai.

Walaupun menghadapi banyak perlawanan, perhatian pada Pergerakan Advent terus bertambah. Dari puluhan dan ratusan jumlah para pengikut telah bertumbuh menjadi beberapa ribu. Mereka memasuki berbagai gereja. Tetapi setelah beberapa lama roh perlawanan ditunjukkan kepada orang?orang yang bertobat ini. Dan gereja?gereja itu mulai mengambil tindakan disiplin terhadap mereka yang telah menerima pandangan?pandangan Miller. Tindakan ini menimbulkan respons dari pena Miller, sehingga dalam sebuah amanat kepada orang?orang Kristen dari semua oraganisasi gereja, ia mengajak untuk menunjukkan kesalahan ajaran?ajarannya dari Alkitab, kalau ada.

"Apakah yang kami sudah percayai," katanya, "yang tidak diperintahkan oleh firman Allah untuk dipercayai, yang kamu sendiri izinkan, adalah ukuran dan satu?satunya ukuran iman dan perbuatan kita? Apakah yang telah kami lakukan sehingga mengundang celaan keras terhadap kami dari mimbar dan pers, dan memberikan alasan bagimu untuk mengucilkan kami (orang?orang Advent) dari gereja?gereja dan persekutuan?persekutuanmu?" "Jikalau kami salah, mohon tunjukkan kesalahan kami. Tunjukkanlah kepada kami dari firman Allah bahwa kami salah. Kami sudah mendapat cukup banyak ejekan yang tidak dapat membuktikan kesalahan kami. Hanya firman Allah saja yang dapat mengubah pandangan kami. Kesimpulan kami telah dibuat dengan berhati?hati dan dengan doa, setelah kami melihat bukti?bukti di dalam Alkitab." ?? Bliss, "Memoirs of Wm. Miller," pp. 250,252.

Dari zaman ke zaman amaran?amaran yang dikirimkan Allah ke dunia ini oleh perantaraan hamba?hamba?Nya telah diterima dengan ketidakpercayaan. Ketika kejahatan orang?orang sebelum air bah menggerakkan Allah untuk mendatangkan air bah ke dunia ini, pertama?tama Ia memberitakan makud?Nya kepada mereka, agar mereka mempunyai kesempatan berbalik dari jalan?jalannya yang jahat. Selama seratus dua puluh tahun disampaikan ke telinga mereka amaran untuk bertobat, supaya jangan murka Allah dinyatakan dalam kebinasaan mereka. Tetapi pekabaran itu bagaikan cerita dongeng saja kepada mereka, dan mereka tidak mau percaya. Dikeraskan oleh kejahatan mereka, mereka mengolok?olok pesuruh Allah, menganggap remeh pekabaran mereka. Bahkan menuduh berkata lancang dan semena?mena. Betapa beraninya Nuh berdiri teguh menghadapi semua orang?orang besar dunia! Jikalau pekabaran Nuh benar, mengapa seluruh dunia tidak melihatnya dan mempercayainya? Pernyataan seorang melawan hikmat ribuan orang. Mereka tidak menghargai amaran itu atau mencari perlindungan di dalam bahtera.


Para pengolok menunjuk kepada perkara?perkara di alam ?? keadaan musim yang tidak berubah, ke langit biru yang tidak pernah menurunkan hujan, ke ladang yang hijau yang disegarkan oleh embun malam ?? dan mereka berseru, "Bukankah ia mengatakan perumpamaan?" Dengan sikap memandang rendah, mereka mengatakan pengkhotbah kebenaran itu sebagai penggemar liar, yang terlalu bersemangat. Dan selanjutnya mereka terus mengolok?olok, lebih bersemangat dalam jalan?jalannya yang jahat daripada sebelumnya. Tetapi ketidakpercayaan mereka tidak menghalangi peristiwa yang sudah diramalkan sebelumnya. Sudah lama Allah bersabar dengan kejahatan mereka, dan memberikan cukup kesempatan untuk pertobatan mereka. Tetapi pada waktu yang ditentukan penghakiman?Nya akan dilaksanankan atas orang?orang yang menolak kemurahan?Nya.

Kristus menyatakan bahwa akan ada orang?orang seperti itu yang tidak percaya kepada kedatangan?Nya yang kedua kali. Sebagaimana orang?orang pada zaman Nuh, "mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak," kata Juru Selamat, "pada kedatangan Anak Manusia." (Mat. 24:39). Bilamana orang?orang yang mengaku umat Allah bersatu dengan dunia ini, hidup sebagaimana orang dunia hidup, dan bersekutu dengan mereka dalam kesenangan dunia yang dilarang; bilamana kemewahan dunia menjadi kemewahan gereja, bilamana lonceng pernikahan berbunyi, dan semua melihat ke masa depan ke tahun?tahun kemakmuran duniawi ?? kemudian, tiba?tiba pada waktu kilat memancar dari langit, akan datang akhir dari impian dan pengharapan mereka yang menyesatkan itu.

Sebagaimana Allah mengirimkan hamba?Nya untuk mengamarkan dunia mengenai air bah yang akan datang, demikianlah Ia mengirimkan jurukabar?jurukabar pilihan?Nya untuk memberitakan dekatnya penghakiman terakhir. Dan sebagaimana orang?orang pada zaman Nuh mentertawakan ramalan?ramalan para pendeta kebenaran, demikianlah juga pada zaman Miller, banyak, bahkan yang mengatakan dirinya umat Allah, mencemoohkan kata?kata amaran.

Dan mengapa doktrin dan khotbah mengenai kedatangan Kristus kedua kali tidak mendapat sambutan dari gereja?gereja? Sementara kepada orang jahat kedatangan Tuhan itu membawa malapetaka dan kehancuran, tetapi bagi orang benar kedatangan Tuhan itu adalah sukacita dan pengharapan. Kebenaran agung ini telah menjadi penghiburan bagi umat?umat Allah yang setia sepanjang zaman. Mengapa hal itu menjadi "batu sandungan" dan "batu penghalang" kepada orang?orang yang mengaku Allah? Tuhan kita sendirilah yang menjanjikan kepada murid?murid?Nya, "Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat?Ku." (Yoh. 14:3). Juru Selamat yang berbelas kasihan itulah yang memerintahkan malaikat?malaikat?Nya untuk menghibur mereka dengan kepastian bahwa Ia akan datang kembali secara pribadi sebagaimana Ia pergi ke Surga itu, karena Ia telah mengantisipasi penderitaan dan kesedihan yang akan dialami pengikut?pengikut?Nya. Sementara murid?murid itu menatap ke langit dengan sungguh?sungguh untuk melihat kilasan terakhir Dia yang mereka kasihi, perhatian mereka diganggu oleh kata?kata, "Hai kamu orang?orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke Surga meninggalkan kamu akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke Surga." (Kisah 1:11). Pengharapan mereka disegarkan oleh pekabaran malaikat itu. Murid?murid itu "pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah." (Luk. 24:52,53). Mereka tidak bersukacita karena Yesus telah dipisahkan dari mereka, dan dibiarkan bergumul dengan pencobaan dan penggodaan dunia ini, tetapi oleh karena jaminan kepastian yang diberikan oleh malaikta bahwa Ia akan datang kembali.

Pengumuman atau pemberitahuan tentang kedatangan Kristus seharusnya menjadi kabar baik dan kabar kesukaan besar sebagaimana yang pernah dikabarkan malaikat?malaikat kepada para gembala di Betlehem. Mereka yang mengasihi Juru Selamat dengan sungguh?sungguh tidak bisa tidak akan menyambut dengan kesukaan pemberitahuan yang terdapat di dalam firman Tuhan, bahwa Ia yang menjadi pusat pengharapan hidup kekal, akan datang kembali, bukan untuk dihinakan, dibenci dan ditolak seperti pada waktu kedatangan?Nya yang pertama, tetapi dengan kuasa dan kemuliaan untuk menebus umat?Nya. Hanya mereka yang tidak mengasihi Yesus Juru Selamat saja yang ingin supaya Ia jangan datang. Tidak ada lagi bukti yang paling meyakinkan bahwa gereja telah memisahkan diri dari Allah daripada permusuhan dan gangguan yang ditimbulkan oleh pekabaran yang dikirim dari Surga ini.


Mereka yang menerima doktrin kedatangan Kristus, telah digerakkan kepada pertobatan dan merendahkan diri di hadapan Allah. Banyak yang telah lama ragu?ragu antara Kristus dan dunia ini. Sekarang mereka merasa sudah waktunya mengambil suatu pendirian yang tegas. "Perkara?perkara kekal yang diberikan kepada mereka adalah realitas yang tidak biasa. Surga didekatkan kepada mereka sehingga mereka merasa bersalah dihadapan Allah." ?? Bliss, "Memoirs of Wm. Miller," p. 146. Orang?orang Kristen didorong menghidupkan kehidupan kerohanian yang baru. Mereka dibuat merasakan bahwa waktunya sudah singkat sehingga apa yang mereka harus lakukan kepada sesama manusia harus dilakukan dengan segera. Dunia mundur, kekekalan tampaknya terbuka dihadapan mereka, dan jiwa dengan segala yang berkaitan dengan kebahagiaan dan laknat kekal, dirasakan mengatasi setiap perkara?perkara sementara atau fana. Roh Allah turun ke atas mereka, dan memberikan kuasa kepada mereka untuk mengajak saudara?saudara mereka, demikian juga orang?orang berdosa supaya bersedia kepada hari Allah itu. Kesaksian diam?diam kehidupan mereka setiap hari merupakan teguran yang terus menerus kepada anggota?anggota gereja yang sungguh?sungguh maupun yang tidak sungguh?sungguh. Mereka ini tidak mau diganggu oleh usaha?usaha mencari kepelesiran, usaha?usaha mencari uang dan ambisi mendapatkan kehormatan dunia. Oleh karena itu permusuhan dan perlawanan bangkit melawan iman Advent dan mereka yang menyiarkannya.

Oleh karena argumentasi mengenai masa nubuatan kelihatannya tidak tergoyahkan, maka para penentang berusaha untuk menghalangi dan menghentikan penelitian masalah itu dengan mengajarkan bahwa nubuatan?nubuatan itu dimeteraikan. Dengan demikian Protestan mengikuti langkah?langkah pengikut Roma. Sementara gereja kepausan melarang memberikan Alkitab (Lihat Lampiran) kepada orang?orang, gereja?gereja Protestan menyatakan bahwa bagian penting dari firman kudus itu ?? dan bagian yang memunculkan kebenaran yang terutama sesuai dengan zaman kita ?? tidak bisa dimengerti.

Para pendeta dan orang awam menyatakan bahwa nubuatan?nubuatan Daniel dan Wahyu adalah misteri yang tidak bisa dipahami. Tetapi Kristus mengarahkan murid?murid?Nya kepada kata?kata nabi Daniel mengenai peristiwa?peristiwa yang akan terjadi pada zaman mereka, dan berkata, "Para pembaca haruslah memperhatikannya." (Mat. 24:15). Dan pernyataan yang mengatakan bahwa Wahyu adalah suatu misteri, tidak bisa dimengerti, bertentangan dengan amanat judul buku itu sendiri: Inilah Wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada?Nya, supaya ditunjukkan?Nya kepada hamba?hamba?Nya apa yang harus segera terjadi . . . . Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata?kata nubuat ini dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat." (Wah. 1:1?3).

Kata nabi itu, "Berbahagialah ia yang membacakan," ?? karena ada yang tidak mau membaca, berkat itu bukan bagi mereka. "Dan mereka yang mendengarkan" ?? karena juga ada sebagian orang yang menolak mendengarkan mengenai nubuatan?nubuatan, sehingga berkat itu bukan bagi golongan manusia seperti itu. "Dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya" ?? banyak yang menolak amaran?amaran dan petunjuk?petunjuk yang ada dalam buku Wahyu, tak seorangpun dari orang?orang ini yang berhak menuntut berkat?berkat yang dijanjikan itu. Semua orang yang menghina pokok?pokok nubuatan, dan mengejek lambang?lambang yang diberikan di sini dengan khidmat, semua yang menolak membaharui kehidupan mereka dan menyediakan diri bagi kedatangan Anak Manusia, tidak akan diberkati.

Dengan memandang kepada kesaksian Ilham, begitu beraninya orang mengajarkan bahwa buku Wahyu itu adalah misteri, dan berada di luar jangkauan pengertian manusia. Itu adalah misteri yang dinyatakan, sebuah buku yang dibukakan. Pelajaran buku Wahyu akan menuntun pikiran kepada nubuatan?nubuatan nabi Daniel, dan keduanya menyajikan petunjuk yang paling penting yang diberikan Allah kepada manusia mengenai peristiwa?peristiwa yang akan terjadi menjelang penutupan sejarah dunia ini.

Kepada Yohanes telah dibukakan pemandangan mengenai peristiwa?peristiwa yang menggetarkan dan mengharukan dalam pengalaman gereja. Ia melihat kedudukan, bahaya, pertentangan dan kelepasan akhir dari umat?umat Allah. Ia mencatat pekabaran terakhir yang mematangkan tuaian dunia, baik sebagai berkas?berkas bagi lumbung surga maupun sebagai berkas?berkas kayu bakar bagi api kehancuran. Pokok?pokok masalah yang sangat penting telah dinyatakan kepadanya, terutama bagi gereja yang terakhir, agar mereka yang harus berbalik dari kesalahan kepada kebenaran boleh diberitahu mengenai mara bahaya dan pertentangan?pertenatangan yang dihadapan mereka. Tak seorangpun perlu tinggal di dalam kegelapan dalam hubungannya dengan apa yang datang ke dalam dunia ini.

Kalau begitu, mengapa kebodohan tentang bagian penting Alkitab itu begitu merajalela dan meluas? Mengapa manusia pada umumnya enggan menyelidiki ajaran?ajaran Alkitab? Itu adalah akibat dari usaha penguasa kegelapan, yang telah lama dipelajarinya, untuk menutupi dari manusia itu hal?hal yang membukakan penipuannya. Untuk alasan inilah Kristus, Pewahyu itu, yang melihat terlebih dahulu peperangan melawan orang yang mempelajari buku Wahyu, mengumumkan berkat bagi semua orang yang membacakan, mendengarkan dan melakukan perkataan nubuat itu.


TERANG MENEMBUSI KEGELAPAN

~19~
TERANG MENEMBUSI KEGELAPAN

Pekerjaan Allah di dunia ini dari zaman ke zaman memberikan suatu kesamaan yang menarik perhatian dalam setiap pembaharuan besar atau pergerakan agama. Prinsip perlakuan Allah kepada manusia tetap sama. Pergerakan penting dewasa ini mempunyai kesejajarannya dengan masa-masa yang lalu, dan pengalaman gereja pada zaman dahulu memberikan pelayanan penting bagi zaman kita sekarang ini.

Tidak ada kebenaran yang lebih jelas diajarkan di dalam Alkitab daripada oleh Roh Kudus-Nya terutama menuntun hamba-hamba-Nya di atas dunia ini di dalam pergerakan besar untuk memajukan pekerjaan penyelamatan. Manusia adalah alat di tangan Allah, yang digunakan-Nya untuk mencapai tujuan-tujuan pengasihan dan kemurahan-Nya. Masing-masing orang mempunyai bagian sendiri untuk dilakukan. Kepada setiap orang dikaruniakan sejumlah terang, yang disesuaikan dengan kebutuhan waktunya, dan cukup untuk menyanggupkannya melakukan pekerjaan yang telah diserahkan Allah kepadanya. Tetapi tak seorangpun, betapapun ia dihormati oleh surga, pernah memperoleh pengertian sepenuhnya mengenai rencana keselamatan, atau bahkan menghargai sepenuhnya rencana keselamatan, atau bahkan menghargai sepenuhnya maksud ilahi dalam pekerjaan pada zamannya. Manusia tidak mengerti sepenuhnya apa yang akan dicapai Allah dalam pekerjaan yang diberikan-Nya kepada mereka untuk dilakukan. Mereka tidak mengerti pekabaran dalam segala bentuknya yang mereka ucapkan dalam nama-Nya.

"Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa?" "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya lamgit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu, dan rancangan-Ku dari rancanganmu." "Bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana." (Ayub 11:7; Yes. 55:8,9; 46:9,10).

Bahkan nabi yang mendapat penerangan khusus Roh Suci tidak sepenuhnya mengerti makna wahyu yang diberikan kepada manusia. Arti wahyu itu akan diungkapkan dari zaman ke zaman, pada waktu umat Allah memerlukan petunjuk yang ada di dalamnya.

Petrus, penulis keselamatan yang membawa keselamatan kepada terang melalui Injil, berkata, "Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diperuntukkan bagimu. Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu. Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi, melayani kamu." (1 Pet. 1:10-12).

Namun, walaupun para nabi tidak diberi pengertian sepenuhnya perkara-perkara yang dinyatakan kepada mereka, mereka dengan sungguh-sungguh mencari untuk memperoleh semua terang yang dikehendaki Allah untuk dinyatakan. Mereka "mencari dan meneliti dengan rajin," "meneliti saat yang mana, atau yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus yang ada dalam mereka dimuliakan." Betapa menjadi satu pelajaran bagi umat Allah pada zaman Kekristenan, karena nubuatan-nubuatan ini diberikan kepada hamba-hamba-Nya untuk keuntungan mereka.! "Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu." Saksikanlah umat-umat kudus Allah pada waktu mereka "mencari dan meneliti dengan tajin" mengenai wahyu yang diberikan kepada mereka bagi generasi yang akan datang yang belum lahir. Bandingkanlah semangat mereka yang saleh dengan sifat acuh tak acuh umat-umat pada zaman kemudian memperlakukan karunia surga ini. Betapa suatu teguran bagi pecinta keselamatan, pecinta keduniawian dan kesenangannya, yang acuh tak acuh, yang puas hanya menyatakan bahwa nubuatan-nubuatan itu tidak bisa dimengerti.

Walaupun pikiran manusia fana ini tidak mampu untuk memahami hal-hal Yang Kekal, atau mengerti sepenuhnya pelaksanaan rencana-Nya, namun sering hal itu disebabkan oleh beberapa kesalahan atau kelalaian di pihak sendiri, yang membuat tidak mampu memahami pekabaran-pekabaran Surga. Tidak jarang pikiran orang-orang, bahkan pikiran hamba-hamba Allah, dibutakan oleh pendapat-pendapat, tradisi-tradisi dan ajaran-ajaran palsu manusia, sehingga mereka hanya mampu menangkap sebagian saja perkara-perkara besar yang Ia sudah nyatakan dalam firman-Nya. Demikianlah halnya dengan murid-murid Kristus, walaupun pada waktu Juru Selamat ada bersama mereka secara pribadi. Pikiran mereka telah diilhami oleh konsep populer mengenai Mesias sebagai raja dunia, yang akan mengangkat Israel ke takhta kekaisaran universal, dan mereka tidak bisa mengerti arti kata-kata-Nya yang memberitahukan penderitaan dan kematian-Nya.


Kristus sendiri telah mengutus mereka dengan pekabaran, "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil." (Mark. 1:15). Pekabaran ini didasarkan atas nubuatan nabi Daniel pada Daniel 9. Yang enam puluh sembilan kali tujuh masa telah dinyatakan oleh malaikat berlanjut kepada "Mesias Raja," dan dengan harapan besar dan sukacita murid-murid itu mengharapkan terbentuknya kerajaan Mesias di Yerusalem, untuk memerintah seluruh dunia.

Mereka mengkhotbahkan pekabaran yang telah diberikan Kristus kepada mereka, walaupun mereka salah mengerti maknanya. Walaupun pengumuman mereka terdapat dalam Daniel 9:25, mereka tidak melihat pada ayat berikutnya di fatsal yang sama bahwa Mesias akan disingkirkan. Sejak mereka lahir telah terbentuk di dalam hati mereka suatu harapan kemuliaan kekaisaran dunia, dan hal ini membutakan pengertian mereka kepada tanda-tanda nubuatan dan kepada perkataan Kristus.

Mereka melaksanakan tugas mereka untuk menyatakan kepada bangsa Yahudi undangan kasih karunia, dan kemudian pada saat mereka mengharapkan melihat Tuhan mereka naik takhta menduduki takhta Daud, mereka melihat Dia ditangkap bagaikan penjahat, dicambuk, dicemooh dan dikutuk, dan memikul salib Golgota. Betapa putus asa, kecewa dan sedih hati murid-murid itu selama hari-hari Tuhan mereka tidur di dalam kubur.

Kristus telah datang pada waktu yang tepat dan dengan cara yang telah diramalkan oleh nubuatan. Kesaksian Alkitab telah digenapi dalam setiap rincian pelauanan-Nya. Ia telah mengkhotbahkan kabar keselamatan, dan "kata-kata-Nya berkuasa." Hati para pendengar-Nya telah menyaksikan bahwa Ia datang dari Surga. Firman dan Roh Allah menguatkan tugas ilahi Anak-Nya.

Murid-murid itu masih tetap bergantung kepada kasih sayang yang tidak padam kepada Tuhan mereka. Dan kesedihan mereka, mereka tidak mengingat kata-kata Kristus yang menunjukkan kepada mereka penderitaan dan kematian-Nya. Jika Yesus orang Nasaret itu adalah Mesias yang sejati, mengapa mereka harus terjerumus ke dalam kesedihan dan kekecewaan? Inilah pertanyaan yang menyiksa batin mereka sementara Juru Selamat terbaring dalam kubur-Nya selama jam-jam hari Sabat yang penuh keputusasaan itu, yaitu antara kematian-Nya dan kebangkitan-Nya.

Walaupun malam gelap kesedihan menutupi pengikut-pengikut Yesus ini, namun mereka tidak ditinggalkan. Nabi berkata, "Sekalipun aku jatuh, aku akan bangun pula, sekalipun aku duduk dalam gelap, Tuhan akan menjadi terangku, . . . . Dan memberi keadilan kepadaku, membawa aku ke dalam terang sehingga aku mengalami keadilan-Nya." "Maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang dalam gelap terbit terang bagi orang benar." "Aku mau memimpin orang-orang buta di jalan yang tidak mereka kenal, dan mau membawa mereka berjalan di jalan-jalan yang tidak mereka kenal. Aku mau membuat kegelapan yang di depan mereka menjadi terang dan tanah yang berkeluk-keluk menjadi tanah yang rata. Itulah hal-hal yang hendak Kulakukan kepada mereka, yang pasti akan kulaksanakan." (Mika 7:8,9; Maz. 139:12; 112:4; Yes. 42:16).

Pengumuman yang telah disampaikan oleh murid-murid dalam nama Tuhan adalah benar, dan peristiwa-peristiwa yang diramalkan benar terjadi. "Waktunya telah digenapi, kerajaan Allah sudah dekat," adalah pekabaran mereka. Pada waktu berakhirnya "waktu itu," -- yang enam puluh sembilan kali tujuh masa dari Daniel 9, yang berlanjut sampai kepada Mesias, Yang Diurapi" -- Kristus telah menerima pengurapan Roh, setelah Ia dibaptiskan oleh Yohanes di Sungai Yordan. Dan "Kerajaan Allah" yang mereka nyatakan sudah dekat telah didirikan oleh kematian Kristus. Kerajaan itu tidak seperti yang mereka ajarkan dan yakini, suatu kerajaan duniawi. Atau juga bukan kerajaan kekal yang akan datang yang akan didirikan bilamana "pemerintahan, kekuasaan, dan kebesaran dari kerajaan-kerajaan di bawah semesta langit akan diberikan kepada orang-orang kudus, umat Yang Mahatinggi;" bahwa kerajaan kekal dimana "segala kekuasaan akan mengabdi dan patuh kepada mereka." (Dan. 7:27). Sebagaimana digunakan di dalam Alkitab, sebutan "kerajaan Allah" digunakan untuk menyatakan baik kerajaan kasih karunia maupun kerajaan kemuliaan. Kerajaan kasih karunia dimunculkan oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada orang Iberani. Setelah menunjuk kepada Kristus, pengantara yang penuh kasihan yang "turut merasakan kelemahan-kelemahan kita," rasul itu berkata, "Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan pada waktunya." (Iberani 4:16). Takhta kasih karunia melambangkan kerajaan kasih karunia; karena adanya takhta menyatakan adanya kerajaan. Dalam banyak perumpamaan-Nya, Kristus menggunakan sebutan "kerajaan surga" untuk menyatakan pekerjaan kasih karunia ilahi atas hati manusia.

Demikian juga takhta kemuliaan menyatakan kerajaan kemuliaan. Dan kerajaan inilah yang disebut dalam kata-kata Juru Selamat, "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa dikumpulkan di hadapan-Nya." (Mat. 25:31,32). Kerajaan ini masih akan datang. Kerajaan ini tidak akan didirikan sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali.


Kerajaan kasih karunia didirikan segera setelah kejatuhan manusia, pada waktu rencana dibuat untuk menebus umat manusia yang sudah berdosa. Kerajaan itu ada dalam rencana dan janji Allah. Dan melalui iman, manusia dapat menjadi warganya. Tetapi kerajaan itu belum betul-betul didirikan sebelum kematian Kristus. Bahkan sebenarnya setelah memasuki misi-Nya di dunia ini, Juru Selamat, karena merasa letih dengan kekerasan hati dan pendurhakaan manusia, dapat menarik diri dari pengorbanan di Golgota. Di taman Getsemane cawan penderitaan gemetar dalam tangan-Nya. Sebenarnya Ia bahkan dapat menghapus keringat darah dari dahi-Nya, dan membiarkan umat manusia yang berdosa itu binasa dalam kejahatannya. Seandainya Ia berbuat demikian, maka tidak akan ada penebusan bagi manusia yang sudah jatuh itu. Akan tetapi bilamana Juru Selamat menyerahkan hidup-Nya, dan dengan hembusan nafas-Nya Ia berseru, "Sudah selesai," barulah kegenapan rencana penebusan dipastikan. Janji keselamatan yang diberikan kepada pasangan di taman Eden (Firdaus) diratifikasi. Kerajaan kasih karunia, yang sebelumnya ada oleh karena janji Allah, sekarang didirikan.

Dengan demikian kematian Kristuslah peristiwa yang dianggap oleh murid-murid sebagai kebinasaan terakhir pengharapan mereka -- adalah yang membuat kerajaan kasih karunia itu pasti selama-lamanya. Sementara kematian itu membawa kekecewaan berat bagi mereka, itu adalah suatu klimaks bahwa iman mereka telah tepat. Peristiwa yang telah membawa dukacita dan keputusasaan bagi mereka adalah yang membuka pintu pengharapan kepada setiap anak Adam, dan di dalam mana berpusat kehidupan masa datang dan kebahagiaan kekal semua umat Allah yang pada segala zaman.

Tujuan anugerah kekal sedang mencapai kegenapannya bahkan melalui kekecewaan murid-murid itu. Sementara hati mereka dimenangkan oleh kasih karunia ilahi dan kuasa pengajaran-Nya, yang "berkata-kata seperti yang belum pernah seorangpun berkata-kata," namun kasih mereka kepada Yesus bagaikan percampuran emas murni dengan logam campuran kesombongan dunia dan ambisi-ambisi yang mementingkan diri. Bahkan dalam ruangan Paskah pada saat khidmat pada waktu Guru mereka bersiap memasuki bayang-bayang Getsemane, ada "pertengkaran di antara murid-murid Yesus, siapakah yang dapat dianggap terbesar diantara mereka." (Lukas 22:24). Penglihatan atau visi mereka dipenuhi oleh takhta, mahkota, dan penderitaan taman Getsemane, gedung pengadilan dan salib Golgota. Adalah kesombongan hati mereka, kehausan mereka terhadap kemuliaan duniawi, yang menuntun mereka bergantung begitu kuat kepada ajaran-ajaran palsu zaman mereka, dan membiarkan kata-kata Juru Selamat berlalu tanpa diperhatikan, yang menunjukkan sifat kerajaan-Nya yang benar, dan menunjuk ke depan kepada penderitaan dan kematian-Nya. Dan kesalahan-kesalahan ini mengakibatkan datangnya pencobaan -- tajam tetapi diperlukan -- yang diizinkan demi perbaikan mereka. Walaupun murid-murid itu salah mengerti arti pekabaran mereka, dan telah gagal menyadari harapan-harapan mereka, namun mereka telah mengkhotbahkan amaran yang diberikan Allah kepada mereka, dan Tuhan akan menghargai iman mereka dan menghormati penurutan mereka. Kepada mereka dipercayakan pekerjaan penyiaran ke seluruh bangsa kabar Injil mulia Tuhan mereka yang telah bangkit. Untuk persiapan kepada pekerjaan inilah sehingga pengalaman yang tampaknya pahit bagi mereka diizinkan datang.

Setelah kebangkitan-Nya, Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya di jalan ke Emmaus, dan "Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia di dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari Kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi."(Luk. 24:27). Hati para murid itu digerakkan. Iman mereka dinyalakan. Mereka "dilahirkan kembali kepada pengharapan yang hidup," bahkan sebelum Yesus menyatakan diri-Nya kepada mereka. Ia bermaksud memberi terang kepada pengertian mereka dan menggantungkan iman mereka kepada "perkataan nubuatan yang lebih teguh." Ia rindu agar kebenaran berakar kuat di dalam pikiran mereka, bukan saja karena didukung oleh kesaksian pribadi-Nya, tetapi juga karena penyataan yang tidak diragukan yang diberikan dengan lambang dan bayangan hukum, dan nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama. Sangat perlu bagi pengikut Kristus untuk memiliki iman yang berdasarkan pengetahuan, bukan saja demi kepentingan mereka, tetapi agar mereka dapat membawa pengetahuan mengenai Kristus kepada dunia ini. Dan sebagai langkah pertama untuk memberikan pengetahuan ini, Yesus mengarahkan murid-murid-Nya kepada "buku Musa dan nabi-nabi." Demikianlah kesaksian yang diberikan oleh Juru Selamat yang bangkit itu mengenai nilai pentingnya Alkitab Perjanjian Lama.


Betapa besar perubahan yang terjadi di dalam hati murid-murid itu pada waktu mereka sekali lagi melihat wajah Guru mereka yang penuh kasih sayang. (Luk. 24:32). Dalam arti yang lebih lengkap dan lebih sempurna daripada sebelumnya, mereka sudah "menemukan Dia, yang telah dituliskan Musa di dalam taurat dan kitab nabi-nabi." Ketidakpastian, kesedihan yang mendalam, keputusasaan diganti dengan kepastian yang sempurna dan iman yang cerah. Betapa mengagumkan bahwa setelah kenaikan Yesus, murid-murid "tetap tinggal di dalam kaabah memuji-muji dan memuja Allah." Orang-orang yang hanya mengetahui kematian Juru Selamat yang memalukan mengharap akan melihat wajah murid-murid yang dipenuhi oleh kesedihan, kebingungan dan kekalahan, tetapi mereka melihat kegembiraan dan kemenangan. Betapa persiapan matang telah diterima oleh murid-murid ini bagi tugas-tigas di hadapan mereka! Mereka telah melewati cobaan yang paling berat yang mungkin mereka alami, dan melihat bagaimana firman Allah telah memberikan kemenangan, pada waktu penglihatan manusia tidak lagi memberikan harapan. Sejak waktu itu, apakah yang dapat mengecilkan dan melemahkan iman mereka?, atau mendinginkan kehangatan kasih mereka? Dalam kesedihan yang paling dalam mereka mempunyai "penghiburan yang kuat," "dorongan yang kuat," suatu pengharapan yang bagaikan "sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir." (Iberani 6:18,19). Mereka telah menjadi saksi kepada hikmat dan kuasa Allah, dan mereka "yakin, bahwa baik maut maupun hidup, baik malaikat-malaikat maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk yang lain tidak dapat memisahkan" mereka dari "kasih Allah, yang ada di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." "Tetapi dalam semuanya itu," kata mereka, " kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." (Roma 8:38,39,37). "Firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya." (1 Pet. 1:25). Dan "siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit dan yang juga duduk di sebelah kanan Allah,yang malah menjadi pembela bagi kita?" (Roma 8:34).

Tuhan berkata, "Dan umat-Ku tidak akan menjai malu lagi untuk selama-lamanya." (Yoel 2:26). "Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi ada sorak sorai." (Maz. 30:6). Bilamana pada waktu hari kebangkitan-Nya murid-murid itu bertemu dengan Juru Selamat, hati mereka terbakar mendengar firman-Nya. Bilamana mereka melihat kepala, kaki dan tangan yang telah memar dan luka-luka karena mereka, bilamana sebelum kenaikan-Nya, Yesus menuntun mereka ke luar sampai ke Batania, dan mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka, Ia menyuruh mereka, "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk," dan Ia menambahkan, "Dan ketahuilah Aku menyertai kami senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mark. 16:15; Mat. 28:20). Bilamana pada hari Pentakosta, Penghibur yang dijanjikan itu turun, dan kuasa dari atas diberikan, dan jiwa orang-orang percaya digerakkan dengan kesadaran kehadiran Tuhan mereka yang telah naik -- kemudian, walaupun seperti Dia, jalan mereka menuju pengorbanan dan mati syahid, akankah mereka menukarkan pelayanan Injil kasih karunia-Nya dan "mahkota kebenaran" yang akan diterima kedatangan-Nya dengan kemuliaan takhta dunia yang telah menjadi harapan mereka pada permulaan kerasulan mereka? Ia yang "sanggup melakukan lebih banyak dari yang kita minta atau pikirkan," telah mengaruniakan kepada mereka yang bersekutu di dalam penderitaan-Nya, persekutuan sukacita-Nya, -- sukacita "membawa banyak anak Allah kepada kemuliaan," sukacita yang tidak terkatakan, "satu kemuliaan besar yang abadi," yang mengenai hal ini Rasul Paulus berkata, "penderitaan kita yang hanya sementara," dan "tidak layak dibandingkan."

Pengalaman murid-murid yang mengabarkan "Injil kerajaan" pada kedatangan Kristus yang pertama, ada persamaannya dengan pengalaman mereka yang memberitakan pekabaran kedatangan-Nya yang kedua kali. Pada waktu murid-murid itu pergi ke luar mengabarkan "waktunya sudah digenapi, kerajaan Allah sudah dekat," demikian juga Miller dan rekan-rekannya mengabarkan bahwa masa nubuatan terpanjang dan terakhir yang dinyatakan di dalam Alkitab sudah hampir berakhir, bahwa pengadilan sudah dekat, dan kerajaan kekal akan segera mulai. Pemberitaan murid-murid yang berhubungan dengan waktu didasarkan atas tujuh puluh kali tujuh masa yang terdapat dalam Daniel 9. Pekabaran yang dikabarkan Miller dan rekan-rekannya mengumumkan akhir dari 2300 hari dari Daniel 8:14 dimana yang tujuh puluh kali tujuh masa itu adalah bagian daripadanya. Pemberitaan masing-masing didasarkan atas penggenapan berbagai bagian dari masa nubuatan besar yang sama.

Seperti murid-murid yang pertama, Wm. Miller dan rekan-rekannya tidak mengerti dengan sepenuhnya makna pekabaran yang mereka kabarkan. Kesalahan-kesalahan yang telah lama ada di dalam gereja mencegah mereka tiba pada suatu interpretasi yang tepat mengenai hal-hal penting di dalam nubuatan. Itulah sebabnya, walaupun mereka mengabarkan pekabaran yang Allah telah serahkan kepada mereka untuk disampaikan kepada dunia ini, namun oleh karena salah pengertian mengenai artinya, mereka menderita kekecewaan.

Dalam menerangkan Daniel 8:14, "Sampai lewat 2300 petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar," Miller, sebagaimana sudah disebutkan, menerima pandangan umum yang lazim bahwa dunia ini adalah tempat kudus itu dan ia percaya bahwa pemulihan tempat kudus menggambarkan pembersihan dunia ini dengan api pada kedatangan Tuhan. Itulah sebabnya bilamana ia menemukan bahwa akhir dari 2300 hari itu dengan pasti dinubuatkan atau diberitahukan, ia menyimpulkan bahwa ini menyatakan kedatangan Kristus kedua kali. Kesalahannya adalah sebagai akibat dari penerimaannya pada pandangan populer atau pandangan umum ,mengenai tempat kudus itu.

Dalam upacara kaabah, yang menjadi bayangan pengorbanan dan keimamatan Kristus, pemulihan tempat kudus adalah upacara terakhir yang dilaksanakan oleh imam besar dalam pelayanan tahunan. Itu adalah pekerjaan penutup penyucian atau hari grafirat -- yaitu pembersihan atau penghapusan dosa dari Israel. Hal itu menggambarkan atau melambangkan pekerjaan penutup dalam pelayanan Imam Besar kita di Surga, dalam pembersihan atau penghapusan dosa-dosa umat-Nya, yang dicatat dalam buku catatan Surga. Upacara ini meliputi pekerjaan pemeriksaan, pekerjaan pengadilan, dan segera disusul oleh kedatangan Kristus di atas awan dengan kuasa dan kemuliaan besar, karena kalau Ia datang setiap kasus telah diputuskan. Yesus berkata, "Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya." (Wah. 22:12). Pekerjaan penghakiman inilah yang mendahului kedatangan kedua kali, yaitu yang diumumkan dalam pekabaran malaikat yang pertama dari Wahyu 14:7, "Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya."


Mereka yang mengumumkan amaran ini memberikan pekabaran yang tepat pada waktu yang tepat. Tetapi sebagaimana murid-murid yang dahulu menyatakan, "Waktunya sudah genap, dan kerajaan ALLah sudah dekat," yang didasarkan atas nubuatan Daniel 9, sebagaimana mereka gagal mengerti bahwa kematian Mesias telah diramalkan dalam buku yang sama, demikianlah Miller dan rekan-rekannya memberitakan pekabaran yang didasarkan atas Daniel 8:14 dan Wahyu 14:7, dan gagal melihat masih ada pekabaran lain yang dinyatakan di dalam Wahyu 14, yang juga harus diberikan sebelum kedatangan Tuhan. Sebagaimana murid-murid salah dalam hal kerajaan yang akan didirikan pada akhir masa tujuh puluh kali tujuh masa, demikianlah orang-orang Advent salah dalam hal peristiwa yang akan terjadi pada akhir 2300 hari. Dalam kedua kasus ini ada penerimaan atau keterikatan kepada kesalahan umum atau populer yang membutakan pikiran kepada kebenaran. Kedua golongan ini memenuhi kehendak Allah dalam menyampaikan pekabaran yang Ia ingin agar diberikan, dan keduanya melalui kekurangmengertinya akan pekabaran itu telah menderita kekecewaan.

Namun Allah mencapai maksud kemurahan hati-Nya dalam mengizinkan amaran Penghakiman diberikan sebagaimana adanya. Hari yang besar itu sudah dekat, dan dalam pimpinan-Nya orang-orang dibawa kepada ujian waktu yang tentu untuk menyatakan kepada mereka apa yang ada dalam hati mereka. Pekabaran itu dibuat untuk menguji dan memurnikan jemaat itu. Mereka dituntun untuk melihat apakah kasih sayang mereka ditujukan kepada dunia ini atau kepada Kristus dan Surga. Mereka mengaku mengasihi Juru Selamat. Sekarang mereka harus membuktikan kasih mereka. Apakah mereka sudah bersedia meninggalkan harapan-harapan dan ambisi-ambisi duniawi, dan menyambut sukacita kedatangan Tuhan mereka? Pekabaran itu dirancang untuk menyanggupkan mereka untuk menilai keadaan kerohanian mereka yang sebenarnya. Pekabaran itu diberikan untuk membangunkan mereka untuk mencari Tuhan dengan pertobatan dan merendahkan diri.

Kekecewaan itu juga, walaupun itu sebagai akibat dari kekurangmengertian mereka akan pekabaran yang mereka kabarkan, harus dibuang untuk kebaikan. Kekecewaan itu menguji hati mereka yang mengaku menerima amaran itu. Dalam kekecewaan mereka, apakah mereka dengan buru-buru membuang pengalaman mereka dan menghilangkan keyakinan mereka kepada firman Allah? Atau apakah mereka, di dalam doa dan kerendahan hati, mau melihat dimana mereka gagal mengerti makna dari nubuatan itu? Berapa banyak yang telah dipindahkan dari rasa takut atau emosi dan kegembiraan? Berapa banyak yang setengah-setengah hati atau bimbang dan tidak percaya? Banyak orang mengaku rindu kepada kedatangan Tuhan. Pada waktu mereka diminta menanggung ejekan dan celaan dunia, dan ujian keterlambatan kedatangan Tuhan dan kekecewaan, apakah mereka akan meninggalkan iman mereka? Oleh karena mereka tidak dengan segera mengerti perlakuan Allah kepada mereka, apakah mereka akan mengesampingkan kebenaran yang didukung oleh kesaksian firman-Nya yang paling jelas?

Ujian ini akan menyatakan kekuatan mereka yang dengan iman yang sungguh-sungguh telah menuruti apa yang mereka percayai adalah pengajaran firman dan Roh Allah. Ujian itu akan mengajarkan kepada mereka bahayanya menerima teori-teori dan penafsiran manusia, gantinya membuat Alkitab itu sebagai penafsirnya sendiri. Bagi orang beriman, kebingungan dan kesusahan yang diakibatkan oleh kesalahan akan melakukan perbaikan yang diperlukan. Mereka akan dituntun kepada pelajaran yang lebih mendalam dan teliti mengenai kata-kata nubuatan. Mereka akan diajar untuk memeriksa lebih cermat dasar kepercayaan mereka, dan menolak segala sesuatu yang tidak terdapat di dalam Alkitab kebenaran, betapapun meluasnya diterima oleh dunia Kristen.

Kepada orang-orang percaya ini, sebagaimana dengan murid-murid yang pertama itu, yang pada saat pencobaan kelihatannya gelap dalam pengertiannya, akan dibuat jelas sesudah itu. Bilamana mereka harus melihat "akhir Tuhan," mereka akan mengetahui bahwa walaupun pencobaan itu diakibatkan oleh kesalahan mereka, maksud kasih-Nya kepada mereka sedang digenapi dengan pasti. Mereka akan belajar dari pengalaman yang berbahagia bahwa Ia "sangat berbelas kasihan, dan dengan kemurahan yang lembut;" dan bahwa semua jalan-jalan-Nya "adalah kemurahan dan kebenaran bagi orang-orang yang berpegang kepada perjanjian-Nya dan kesaksian-kesaksian-Nya."


KEBANGUNAN KEAGAMAAN YANG BESAR

~20~
KEBANGUNAN KEAGAMAAN YANG BESAR

 

Sebuah kebangunan agama di bawah pengumuman kedatangan Kristus yang segera, diramalkan dalam nubuatan pekabaran malaikat yang pertama yang terdapat dalam Wahyu 14. Seorang malaikat tampak terbang "ditengah-tengah langit dan padanya ada Injil yang kekal untuk diberitakannya kepada mereka yang diam di atas bumi dan kepada semua bangsa, dan suku, dan bahasa dan kaum." "Dengan suara nyaring," ia mengabarkab pekabaran itu, "Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air." (Wah. 14:6,7).

Fakta bahwa seorang malaikat dikatakan menjadi jurukabar amaran ini adalah sesuatu yang penting dan berarti. Oleh kemurnian, kemuliaan, dan kuasa Jurukabar Surgawi itu, hikmat ilahi berkenan menyatakan sifat pekerjaan yang tinggi yang harus dicapai oleh pekabaran dan kuasa dan kemuliaan yang menyertainya. Dan malaikat yang terbang di "tengah-tengah langit" dan "suara nyaring" dengan mana amaran itu disuarakan, dan penyebarluasan kepada semua "yang diam di atas bumi" -- "kepada semua bangsa dan suku dan bahasa dan kaum," -- membuktikan betapa cepatnya pergerakan itu menyebar ke seluruh dunia.

Pekabaran itu sendiri memancarkan terang seperti pada saat pergerakan ini dimulai. Ia dinyatakan sebagai bagian dari "Injil kekal." Dan pekabaran itu mengumumkan pembukaan penghakiman. Kabar keselamatan telah disiarkan pada segala zaman, tetapi pekabaran ini adalah bagian dari Injil yang dapat dikabarkan hanya pada akhir zaman, karena hanya sesudah itulah benar bahwa saat penghakiman telah tiba. Nubuatan-nubuatan itu menyatakan suatu rentetan peristiwa yang menuntun kepada dimulainya penghakiman. Hal ini terutama benar dalam buku Daniel. Tetapi bagian dari nubuatan ini yang berhubungan dengan akhir zaman, telah diperintahkan kepada Daniel agar disembunyikan dan dimeteraikan "sampai pada akhir zaman." Kita tidak boleh memberitakan berita tentang penghakiman sebelum tiba waktunya, yang didasarkan atas penggenapan nubuatan-nubuatan itu. Tetapi pada akhir zaman, kata nabi itu, "banyak orang akan menyelidikinya, dan pengetahuan akan bertambah." (Daniel 12:4).

Rasul Paulus mengamarkan gereja agar jangan mencari kedatangan Kristus pada zamannya. "Sebab sebelum hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka yang harus binasa." (2 Tes. 2:3). Kita tidak bisa melihat kedatangan Tuhan sebelum kemurtadan besar, dan pemerintahan yang lama dari "manusia durhaka." "Manusia durhaka," yang juga dijuluki "rahasia kejahatan," "si manusia jahanam," dan "si jahat," melambangkan kepausan, yang mempertahankan supremasinya selama 1260 tahun, sebagaimana diramalkan dalam nubuatan. Masa ini berakhir pada tahun 1798. Kedatangan Kristus tidak akan terjadi sebelum waktu itu. Rasul Paulus menutupi seluruh dispensasi Kristen sampai tahun 1798 dengan amarannya. Saat setelah waktu inilah pekabaran kedatangan Kristus yang kedua kali itu dikabarkan.

Tidak ada pekabaran yang seperti itu pernah diberitakan pada masa lalu. Paulus, sebagaimana kita lihat, tidak mengkhotbahkannya, ia menunjukkan saudara-saudaranya kepada hari depan yang jauh kepada kedatangan Tuhan. Para Pembaharu tidak memberitakannya. Martin Luther menempatkan penghakiman itu kira-kira 300 tahun di muka zamannya. Akan tetapi sejak tahun 1798 buku Daniel telah dibukakan meterainya, pengetahuan akan nubuatan telah dipertambahkan, dan banyak yang telah mengabarkan berita penghakiman yang sudah dekat.

Seperti Pembaharuan besar pada abad ke enam belas, Pergerakan Advent muncul di berbagai negeri Kekristenan pada waktu yang bersamaan. Baik di Eropa maupun di Amerika orang-orang beriman dan yang penuh doa telah dituntun untuk mempelajari nubuatan, dan meneliti catatan-catatan yang diilhamkan. Mereka menemukan bukti bahwa akhir dari segala sesuatu sudah dekat. Di berbagai negeri ada badan-badan Kristen yang terpencil yang, sama sekali hanya mempelajari Alkitab, sampai pada keyakinan bahwa kedatangan Juru Selamat sudah dekat.


Pada tahun 1821, tiga tahun setelah Miller sampai pada keterangan (eksposisi) nubuatan-nubuatan yang menunjuk kepada waktu penghakiman, Dr. Joseph Wolff, "misionaris ke seluruh dunia," mulai menyiarkan kedatangan Tuhan yang segera. Wolf lahir di Jerman, dari keturunan Iberani, ayahnya seorang rabbi Yahudi. Pada masa remaja ia telah yakin kebenaran agama Kristen. Selaku seorang yang aktif dan berpikiran cerdas, ia telah menjadi pendengar yang menaruh perhatian kepada pembicaraan-pembicaraan yang diadakan di rumah ayahnya, pada waktu orang-orang Iberani yang taat berkumpul setiap hari untuk memperbincangkan pengharapan dan perkiraan orang-orang mereka, kemuliaan kedatangan Mesias, dan pemulihan Israel. Pada suatu hari ia mendengar Yesus orang Nasaret diperbincangkan, lalu anak itu bertanya siapa Dia. "Seorang Yahudi yang sangat berbakat," jawabnya, "tetapi pada waktu ia berpura-pura jadi Mesias, pengadilan Yahudi menjatuhkan hukuman mati kepada-Nya." "Mengapa," kembali penanya bertanya, "Yerusalem dihancurkan, dan mengapa kita ditawan?" "Wah, wah!" jawab ayahnya, "karena orang-orang Yahudi membunuh nabi-nabi." Pikiran segera timbul pada anak itu, "mungkin Yesus juga adalah seorang nabi, dan orang Yahudi membunuh Dia sedangkan Dia tidak bersalah." -- "Travels and Adventures of Rev. Joseph Wolff." Vol. I, p. 6.(ed.1860). Begitu kuat perasaan ini mempengaruhinya, sehingga walaupun ia dilarang memasuki gereja Kristen, sering ia tinggal di luar untuk mendengarkan khotbah.

Pada waktu ia baru berumur tujuh tahun, ia membual kepada seorang tetangga, seorang orang Kristen yang sudah tua, mengenai kemenangan Israel di masa depan pada waktu kedatangan Mesias. Orang tua itu berkata dengan lembut, "Hai anakku, saya katakan kepadamu siapa Mesias yang sebenarnya. Ia adalah Yesus orang Nasaret, . . . yang telah disalibkan oleh nenek moyangmu, seperti yang telah mereka lakukan kepada nabi-nabi zaman dahulu. Pulanglah ke rumah dan baca fatsal 53 buku Yesaya, maka engkau akan yakin bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah." -- "Travels and Adventures of Rev. Joseph Wolff," Vol. I, p. 7. Anak itu segera yakin. Ia pulang ke rumah dan membaca Kitab Suci, dengan kagum ia melihat betapa sempurnanya hal itu digenapi pada diri Yesus orang Nasaret. Apakah benar kata-kata orang Kristen itu? Anak itu meminta penjelasan nubuatan itu dari ayahnya. Tetapi ayahnya diam dan marah sehingga ia tidak pernah berani lagi menyinggung masalah itu. Tetapi, hal ini hanya menambah kerinduannya untuk mengetahui lebih banyak mengenai agama Kristen.

Pengetahuan yang ia cari tidak bisa ia peroleh di rumahnya yang keluarga Yahudi, sebab begitu ketat dihindarkan daripadanya dan dilarang. Tetapi pada waktu ia berumur sebelas tahun, ia meninggalkan rumah ayahnya dan pergi berkelana untuk mencari pendidikan, untuk memilih agamanya dan pekerjaan seumur hidupnya. Untuk sementara ia tinggal di rumah sebuah keluarga, tetapi segera diusir dari sana sebagai seorang yang murtad. Sekarang ia sendirian, tanpa uang sesenpun ia mengadakan perjalanan di antara orang-orang asing. Ia pergi dari satu tempat ke tempat yang lain, belajar dengan rajin dan membiayai dirinya dengan mengajar bahasa Iberani. Melalui pengaruh seorang instruktur Katolik, ia dituntun untuk menerima iman Romawi, dan bermaksud menjadi seorang misionaris kepada bangsanya sendiri. Dengan tujuan ini, beberapa tahun kemudian, ia pergi belajar di College of the Propaganda di Roma. Di sini, ia dituduh sebagai seorang murtad, seorang bida'ah karena kebiasaannya berpikir bebas dan berbicara terus terang. Ia menyerang secara terus terang penyalahgunaan gereja dan mengajak mengadakan pembaharuan seperlunya. Walaupunpada mulanya ia diperlakukan secara istimewa oleh pejabat-pejabat kepausan, tetapi tidak berapa lama kemudian ia diusir dari Roma. Di bawah pengawasan gereja ia pergi dari satu tempat ke tempat lain, sampai akhirnya jelas bahwa ia tidak bisa tunduk kepada perhambaan Romanisme. Ia dinyatakan sebagai seorang yang tidak bisa diperbaiki dan dibiarkan dengan bebas kemana ia suka pergi. Sekarang ia pergi ke Inggeris, dan mengaku mempunyai iman Protestan. Ia bergabung dengan Gereja Inggeris. Setelah belajar selama dua tahun, ia berangkat pada tahun 1821 untuk memulai misinya.

Pada waktu Wolff menerima kebenaran yang agung, yaitu kedatangan Kristus yang pertama sebagai "seorang yang susah dan biasa dengan penderitaan." ia melihat bahwa nubuatan-nubuatan menyatakan dengan jelas kedatangan-Nya yang kedua kali dengan kuasa dan kemuliaan. Pada waktu ia berusaha menuntun umat-Nya kepada Yesus dari Nasaret sebagai Yang Dijanjikan, dan menunjukkan mereka kepada kedatangan-Nya yang pertama dalam kehinaan sebagai korban bagi dosa-dosa manusia, ia juga mengajarkan kepada mereka mengenai kedatangan-Nya yang kedua kali sebagai raja dan pelepas.

"Yesus orang Nasaret, Mesias yang benar," katanya, "yang tangan-Nya dan kaki-Nya telah dipaku, yang telah dibawa ke pembantaian seperti seekor anak domba, seorang orang susah yang sudah biasa dengan penderitaan, yang adalah tongkat kerajaan yang diambil dari suku Yehuda dan pemerintahan di antara kedua kakinya datang untuk pertama kali, Ia akan datang untuk kedua kalinya dalam awan dengan bunyi sangkakala penghulu malaikat," -- Wolff, "Researches and Missionary Labours," p. 62 (ed. 1835), "dan akan berdiri di atas Bukit Zaitun. Dan pemerintahan, yang pernah diberikan kepada Adam pada waktu kejadian, tetapi hilang dari tangannya(Kej. 1:26; 3:17) akan diserahkan kepada Yesus. Ia akan menjadi raja atas seluruh dunia. Rintihan dan ratapan semua makhluk ciptaan akan berakhir, tetapi nyanyian pujian dan ucapan syukur akan terdengar . . . . Bilamana Yesus datang dalam kemuliaan Bapa-Nya, dengan malaikat-malaikat kudus, . . . orang-orang percaya yang sudah mati akan bangkit dahulu.(1 Tes. 4:16; 1 Kor. 15:23). Inilah yang kita orang-orang Kristen sebut kebangkitan yang pertama. Kemudian dunia binatang akan mengubah alamiahnya (Yes. 11:6-9), dan tunduk kepada Yesus (Maz. 8). Terjadilah perdamaian universal." -- "Journal of the Rev. Joseph Wolff," pp. 378,379 (ed.1839). "Sekali lagi Tuhan akan melihat dunia ini, dan berkata, 'Lihatlah, semuanya baik adanya.'" -- Idem, p. 294.


Wolff percaya bahwa kedatangan Tuhan itu sudah dekat, dan penafsirannya akan masa-masa nubuatan itu menempatkan hari kebinasaan besar itu atau hari penyempurnaan besar itu beberapa tahun sesudah waktu yang ditunjukkan oleh Wm. Miller. Kepada mereka yang mengutip dari Alkitab, "Tetapi tentang hari dan ketikanya tak seorangpun yang tahu," bahwa tak seoranpun yang tahu mengenai dekatnya kedatangan itu, Wolff menjawab, "Apakah Tuhan kita mengatakan bahwa hari dan ketikanya itu tidak akan pernah diketahui? Bukankah Ia memberikan kepada kita tanda -tanda zaman agar kita tahu paling sedikit kedatangan-Nya yang sudah mendekat?, sebagaimana seseorang yang mengetahui bahwa musim panas sudah mendekat oleh melihat ranting-ranting pohon ara mulai melembut dan mulai bertunas? (Maz. 24:32). Apakah kita tidak boleh mengetahui waktunya, sementara Ia sendiri mengajak kita untuk tidak hanya membaca buku nabi Daniel, tetapi juga mengertinya? Dan dalam buku Daniel itu sendiri dikatakan bahwa firman itu dimeteraikan sampai akhir zaman (memang demikianlah halnya pada zamannya) dan bahwa 'banyak orang akan menyelidikinya' (istilah Iberani untuk mengatakan memperhatikan dan memikirkan mengenai waktu), 'dan pengetahuan' (mengenai waktu itu) 'akan dipertambahkan.' (Dan. 12:4). Disamping itu, Tuhan kita tidak bermaksud dengan mengatakan ini bahwa waktunya yang sudah dekat tidak akan diketahui, tetapi 'hari dan jam yang tepat tak seorangpun yang tahu.' Ia mengatakan bahwa cukup mengetahui dari tanda-tanda zaman untuk mendorong kita bersedia kepada kedatangan-Nya itu, sebagaimana Nuh menyediakan bahtera." -- Wolff, "Research and Missionary Labours," pp. 404,405.

Mengenai cara penafsiran Alkitab yang umum atau penafsiran Alkitab yang salah, Wolff menulis, "Sebagian besar gereja Kristen telah menyimpang dari arti sederhana Alkitab itu, dan telah beralih ke cara berpikir khayal orang-orang Buddha; mereka percaya bahwa kebahagiaan manusia di masa yang akan datang akan terdiri dari melayang-layang di udara, dan menyangka bahwa bilamana mereka membaca orang Yahudi; mereka harus memahami orang kafir; dan bilamana mereka membaca Yerusalem, mereka harus memahami gereja. Dan jikalau dikatakan dunia, artinya langit; dan untuk kedatangan Tuhan mereka harus mengerti kemajuan perkumpulan-perkumpulan misionaris; dan naik ke bukit rumah Tuhan, menyatakan pertemuan kelompok Metodis besar." -- "Journal of the Rev. Joseph Wolff," p. 96.

Selama dua puluh empat tahun, dari tahun 1821-1845, Wolff menjelajahi Mesir dan Abessinia di Afrika, melintasi Palestina, Syria, Persia, Bokhara dan India di Asia. Ia juga mengunjungi Amerika Serikat, dalam perjalanan untuk berkhotbah di pulau St. Helena. Ia tiba di New York pada bulan Agustus 1837, dan setelah berkhotbah di kota itu ia berkhotbah di Philadelphia dan Baltimore, dan akhirnya menuju Washington. Di sini ia berkata, "atas usul yang dikemukakan bekas presiden John Quincy Adam, dalam salah satu rapat-rapat Kongres, dengan suara bulat Kongres menyetujui Gedung Kongres saya gunakan untuk tempat ceramah. Saya berceramah di sana pada hari Sabtu dihadapan semua anggota Kongres dan juga uskup Virginia, dan para ulama serta penduduk Washington. Penghormatan yang serupa juga diberikan kepada saya oleh anggota-anggota pemerintahan New Jersey dan Pensylvania, dimana saya menyampaikan ceramah saya mengenai riset saya di Asia dan juga tentang keberadaan pribadi Yesus Kristus." -- "Journal of the Rev. Joseph Wolff," pp. 398,399.

Dr. Wolf menjelajahi negeri-negeri yang paling kejam dan biadab, tanpa perlindungan sesuatu negara atau kekuasaan Eropah, menanggung banyak kesulitan dan dikelilingi banyak mara bahaya. Ia dipukuli dengan tongkat, dibiarkan kelaparan, dijual sebagai budak, dan tiga kali dijatuhi hukuman mati. Ia dihadang perampok, dan kadang-kadang hampir mati kehausan. Suatu kali semua miliknya dirampok, dan dibiarkan berjalan ratusan mil tanpa alas kaki melalui gunung-gunung, salju menerpa wajahnya, dan kakinya yang bertelanjang itu kaku karena menginjak tanah yang sudah membeku.

Pada waktu ia diamarkan jangan pergi tanpa senjata di antara suku-suku yang ganas dan liar, ia menyatakan bahwa dirinya "dipersenjatai" -- "doa, semangat bagi Kristus, dan keyakinan akan pertolongan-Nya." "Saya juga," katanya, "dibekali dengan Kasih Allah dan tetangga saya dalam hati saya, serta Alkitab ditangan saya." -- Adams, W.H.D., "In Perils Oft," p. 192. Kemana saja ia pergi ia membawa Alkitab bahasa Iberani dan bahasa Inggeris sertanya. Mengenai salah satu perjalanannya yang kemudian, ia berkata, "Saya memegang Alkitab itu terbuka di tangan saya. Saya merasakan kuasa saya ada di dalam Alkitab itu dan bahwa kuasa itu akan memelihara saya." -- Idem, p. 201.

Demikianlah ia bersabar di dalam pekerjaannya sampai pekabaran penghakiman itu telah disampaikan ke sebagian besar dunia yang sudah berpenduduk. Ia membagikan firman Allah dalam berbagai bahasa di antara orang-orang Yahudi, Turki, Persia, Hindu dan banyak lagi bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa lain, dan dimana-mana ia mengabarkan pemerintahan Mesias yang sudah dekat itu.

Dalam perjalanannya ke Bokhara ia menemukan doktrin kedatangan Tuhan yang segera yang dipegang oleh orang-orang udik yang terpencil. Orang-orang Arab di Yaman, katanya, "memiliki buku yang dinamakan 'Seera' yang mengamarkan mengenai kedatangan Kristus yang kedua kali dan pemerintahannya dalam kemuliaan. Dan mereka mengharapkan akan terjadi peristiwa besar pada tahun 1840." -- Journal of the Rev. Joseph Wolff," p. 377. "Di Yaman, . . . saya tinggal bersama anak-anak keturunan Rechab selama enam hari. Mereka tidak minum anggur, tidak menanam pokok anggur, tidak menanam biji apapun, mereka hidup di tenda dan mengingat Jonadab, anak Rehab. Dan saya menemukan bersama mereka anak-anak Israel dari suku Dan . . . yang, bersama anak-anak Rechab, mengharapkan kedatangan Mesias yang segera di awan-awan." -- Idem, p. 389.

Kepercayaan yang sama ditemukan oleh misionaris lain di antara orang-orang Tartar. Imam Tartar bertanya kepada misionaris kapan Kristus akan datang kedua kali. Pada waktu misionaris itu menjawab bahwa ia tidak mengetahuinya, imam itu tampaknya heran atas kebodohan seseorang yang mengaku sebagai guru Alkitab. Dan ia mengatakan kepercayaannya, yang didasarkan atas nubuatan, bahwa Kristus akan datang kira-kira pada tahun 1844.


Pada tahun 1826 pekabaran Advent mulai diberitakan di Inggeris. Pergerakan di sini tidak begitu jelas bentuknya seperti di Amerika. Waktu yang tepat mengenai kedatangan itu tidak begitu umum diajarkan, tetapi kebenaran agung mengenai kedatangan Yesus yang segera, dalam kuasa dan kemuliaan diberitakan secara luas. Dan pemberitaan ini bukan saja kepada orangorang yang ingkar, tetapi juga kepada orang-orang yang tidak mau berkompromi. Mourant Brock, seorang penulis Inggeris, mengatakan bahwa kira-kira tujuh ratus pendeta Gereja Inggeris terlibat dalam mengkhotbahkan "Injil kerajaan" itu. Pekabaran yang menunjukkan kepada tahun 1844 sebagai waktu kedatangan Tuhan juga diberitakan di Inggeris Raya. Risalah-risalah mengenai kedatangan Kristus kedua kali dari Amerika serikat disebarkan secara luas. Buku-buku dan majalah-majalah dicetak-ulang di Inggeris. Dan pada tahun 1842, Robert Winter, seorang kelahiran Inggeris, yang telah menerima iman advent di Amerika, kembali ke negerinya untuk memberitakan kedatangan Tuhan. Banyak orang yang bergabung dengan dia, dan pekabaran penghakiman itu disiarkan di berbagai bagian Inggeris.

Di Amerika Selatan, di antara barbarisme, Lacunza, seorang Spanyol dan seorang imam, membaca Alkitab dan menemukan dan menerima kebenaran tentang kedatangan Kristus yang segera. Di dorong oleh keinginan untuk memberikan amaran, namun ingin melepaskan diri dari cemoohan dan kritikan Roma, ia menerbitkan pandangannya dalam buku yang diberi judul, "Rabbi Ben-Ezra," yang memperkenalkan dirinya sebagai seorang Yahudi yang sudah bertobat. Lacunza hidup pada abad ke delapan belas, tetapi baru kira-kira tahun 1825 buku ini tersebar di London. Buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris. Penerbitan buku itu memperdalam perhatian yang telah bangkit di Inggeris mengenai kedatangan Kristus kedua kali.

Di Jerman, doktrin ini telah diajarkan pada abad ke delapan belas oleh Bengel, seorang pendeta Gereja Lutheran, dan seorang sarjana dan ahli kritik Alkitab yang terkenal. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Bengel telah "membaktikan dirinya untuk mempelajari teologia yang sangat diminatinya dan diperdalam serta diperkuat oleh pendidikannya yang sebelumnya. Seperti pemuda-pemuda lain yang bertabiat berhati-hati, baik sebelum ataupun sesudah, ia bergumul dengan keragu-raguan dan kesulitan sifat-sifat agama. Dan ia menyindir dengan perasaan tentang "banyak anak panah yang menusuk hatinya yang membuat masa mudanya sulit ditanggung." -- Encyclopaedia Britanica, art. Bengel (ninth edition). Setelah ia menjadi anggota Majelis Gereja di Wurtemberg, ia menganjurkan kebebasan beragama. "Sementara mempertahankan hak-hak dan kesempatan gereja, ia adalah penganjur untuk semua kebebasan yang layak bagi mereka yang terikat, atas dasar hati nurani, untuk mnengundurkan diri dari persekutuannya." -- Encyclopaedia Britanica, art. Bengel (ninth edition). Pengaruh-pengaruh baik kebijakan ini masih terasa di kampung halamannya.

Pada waktu ia menyediakan khotbah dari Wahyu 21 untuk "Minggu Advent," terang kedatangan Kristus yang kedua kali muncul di pikiran Bengel. Nubuatan-nubuatan Wahyu dibukakan kepada pengertiannya seperti belum pernah sebelumnya. Dipenuhi dengan perasaan penting yang menakjubkan dan pandangan yang melebihi segala kemuliaan yang ditunjukkan nabi itu, ia dipaksa beralih untuk sementara dari pokok pemikiran itu. Di mimbar, perasaan itu sekali lagi datang kepadanya dengan sangat terang dan berkuasa. Sejak waktu itu ia mengabdikan diri untuk mempelajari nubuatan-nubuatan, terutama nubuatan yang mempunyai lambang-lambang, yang kekuasaan Allah akan menghancurkan segala kekuasaan dunia, seperti pada buku Wahyu. Dan dengan segera ia sampai pada keyakinan bahwa nubuatan-nubuatan itu menunjuk kepada kedatangan Kristus kedua kali yang sudah dekat. Waktu yang ia tetapkan sebagai waktu kedatangan yang kedua kali itu tidak jauh berbeda dengan apa yang ditetapkan oleh William Miller kemudian.

Tulisan-tulisan Bengel telah disebarkan di seluruh dunia Kristen. Pandangan-pandangannya mengenai nubuatan pada umumnya diterima di negara bagiannya Wurtemberg, dan dalam beberapa hal, di bagian-bagian Jerman lainnya. Pergerakan ini diteruskan sesudah ia meninggal dunia, dan pekabaran Advent itu di dengar di Jerman pada waktu yang sama pekabaran itu menarik perhatian orang-orang di negeri-negeri lain. Sebelumnya beberapa dari oranhg-orang percaya pergi ke Rusia, dan membentuk kelompok tempat tinggal di sana. Dan iman mengenai kedatangan Kristus yang kedua kali yang tidak lama lagi tetap dipegang oleh gereja-gereja orang Jerman di negeri itu.

Terang itu juga bersinar di Perancis dan Swis. Di Geneva, dimana Farel dan Calvin telah menyebarkan kebenaran Pembaharuan, Gaussen memberitakan kabar kedatangan Kristus yang kedua kali. Pada waktu masih menjadi mahasiswa, Gaussen telah menemukan bahwa roh rasionalisme melanda Eropa pada akhir abad ke delapan belas dan permulaan abad ke sembilan belas; dan pada waktu ia memulai pelayanannya sebagai pendeta ia bukan saja buta mengenai iman yang benar, tetapi ia cenderung skeptis, ragu-ragu. Pada masa mudanya ia tertarik untuk mempelajari nubuatan. Setelah ia membaca tulisan "Rollin's Ancient History," perhatiannya tertarik kepada buku Daniel fatsal yang kedua. Dan ia tertarik kepada ketepatan yang luar biasa dari nubuatan yang telah digenapi, sebagaimana terlihat dalam catatan ahli sejarah itu. Ini adalah suatu kesaksian kepada inspirasi Alkitab, yang menjadi jangkar baginya ditengah-tengah malapetaka tahun-tahun berikutnya. Ia tidak merasa puas dengan ajaran rasionalisme. Dan dalam mempelajari Alkitab dan mencari terang yang lebih jelas, setelah beberapa lama kemudian, ia telah dituntun kepada iman yang positif.


Pada waktu ia meneruskan penyelidikannya terhadap nubuatan-nubuatan, ia akhirnya tiba pada keyakinan bahwa kedatangan Tuhan sudah dekat. Terkesan oleh khidmatnya dan pentingnya kebenaran agung ini, ia ingin membawakannya di hadapan orang-orang. Tetapi kepercayaan populer yang menyatakan bahwa buku Daniel adalah misteri yang tidak bisa dimengerti menjadi penghalang besar keinginannya itu. Akhirnya ia memutuskan -- sebagaimana yang telah lakukan oleh Farel sebelum dia dalam mengevangelisasi Geneva -- memulai dengan anak-anak dengan harapan dapat menarik perhatian para orang tua.

"Saya ingin hal itu dimengerti," katanya kemudian waktu berbicara mengenai langkah yang diambilnya, "bukan karena itu kurang penting, tetapi sebaliknya oleh karena nilainya yang besar, sehingga saya ingin menyajikannya dalam bentuk yang biasa, dan saya tujukan kepada anak-anak. Saya ingin didengar, dan saya takut tidak akan didengar jika terlebih dahulu saya tujukan kepada orang-orang dewasa. "Oleh sebab itu saya putuskan untuk memulai dengan yang paling muda. Saya kumpulkan pendengar anak-anak. Jika kelompok ini semakin banyak, jika mereka kelihatannya mau mendengar, jika mereka senang, tertarik dan bahwa mereka mengerti dan dapat menerangkan pokok bahasan, maka saya merasa pasti akan ada kelompok kedua dengan segera. Dan pada gilirannya, orang-orang dewasa akan dapat melihat bahwa adalah berguna duduk bersama dan belajar. Bilamana hal ini terjadi, maka usaha sudah berhasil."-- Gaussen, L., "Daniel the Prophet," Vol. II, Preface.

Usaha itu berhasil. Pada waktu ia mengajar anak-anak itu, orang-orang dewasa datang untuk mendengarkan. Ruang gerejanya penuh dengan pendengar-pendengar yang berminat. Di antara mereka terdapat orang-orang berpangkat dan yang terpelajar, dan orang-orang yang sedang berkunjung ke Geneva. Dengan demikian, kabar itu telah dibawa ke tempat-tempat lain.

Didorong oleh keberhasilannya, Gaussen menerbitkan pelajaran-pelajarannya itu, dengan harapan untuk memajukan pelajaran buku-buku nubuatan di jemaat-jemaat yang berbahasa Perancis. "Untuk menerbitkan pelajaran yang diberikan kepada anak-anak," kata Gaussen, "adalah mengatakan kepada orang dewasa, yang terlalu sering mangabaikan buku-buku seperti itu dengan dalih bahwa buku-buku itu samar-samar, 'bagaimana mungkin buku-buku itu samar-samar sementara anak-anakmu bisa mengerti?'" "Saya mempunyai kerinduan yang besar," ia tambahkan, "memberikan pengetahuan nubuatan yang populer di kelompok kita, kalau memungkinkan." "Dan yakin tidak ada pelajaran yang tampaknya bisa menjawab kebutuhan zaman lebih baik dari ini." "Dengan inilah kita boleh bersedia kepada kesengsaraan dan penderitaan yang sudah dekat, dan berjaga dan menunggu kedatangan Yesus Kristus.

Walaupun Gaussen adalah seorang pendeta berbahasa Perancis yang paling menonjol dan paling disenangi, tidak berapa lama kemudian ia diskors dari kependetaan. Kesalahan utamanya adalah bahwa ia telah menggunakan Alkitab dalam mengajar pemuda-pemuda sebagai gantinya katekismus gereja, buku pegangan yang rasionalistis, dan yang hampir tak mempunyai iman yang positif. Sesudah itu ia menjadi guru di sekolah teologia, sementara pada hari Minggu ia terus mengerjakan tugasnya sebagai guru agama mengajar anak-anak dan memberikan petunjuk dari Alkitab. Pekerjaannya mengenai nubuatan membangkitkan banyak minat. Dari jabatannya sebagai profesor, melalui percetakan dan kerja favoritnya sebagai guru anak-anak, ia teruskan selama bertahun-tahun mengerahkan suatu pengaruh yang luas. Dan ia adalah alat yang ampuh dalam menarik perhatian orang banyak untuk mempelajari nubuatan-nubuatan yang menunjukkan bahwa kedatangan Tuhan sudah dekat.

Di Skandinavia juga telah diberitakan pekabaran Advent dan api perhatian yang luas telah disulut. Banyak orang yang telah bangkit dari kelalaiannya, mengakui dan meninggalkan dosa-dosa mereka, dan mencari pengampunan dalam nama Yesus Kristus. Tetapi alim ulama gereja negara menentang gerakan ini, dan melalui pengaruh mereka beberapa orang yang memberitakan pekabaran itu dijebloskan ke dalam penjara. Di beberapa tempat, pengkhotbah kedatangan Yesus Kristus yamg tidak lama lagi itu dibungkam, Allah suka mengirim pekabaran itu dalam cara yang ajaib, melalui anak-anak kecil. Oleh karena mereka masih di bawah umur, undang-undang negara tidak boleh membatasi mereka, dan mereka diizinkan untuk berbicara tanpa gangguan.

Gerakan ini terutama di antara golongan bawah, dan di tempat-tempat sederhana tempat tinggal para buruh itulah orang-orang berkumpul untuk mendengarkan amaran. Pengkhotbah-pengkhotbah cilik itu sendiri adalah anak-anak dari penghuni gubuk-gubuk miskin itu. Beberapa dari antara mereka belum berumur enam tahun atau delapan tahun. Dan sementara kehidupan mereka menyaksikan bahwa mereka mengasihi Juru selamat, dan mencoba hidup dalam penurutan kepada kehendak Allah yang kudus, biasanya mereka hanya menunjukkan kecerdasan dan kemampuan yang biasa terlihat pada anak-anak seumur mereka. Namun, bilamana mereka berdiri di hadapan orang-orang, nyatalah bahwa mereka digerakkan oleh suatu pengaruh di luar karunia mereka yang biasa. Nada dan cara berbicaranya berubah, dan dengan kuasa yang sungguh-sungguh mereka memberikan amaran penghakiman dengan menggunakan kata-kata dari Alkitab, "Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena hari penghakiman-Nya sudah tiba." Mereka mencela dosa-dosa orang banyak, bukan saja mencela kebejatan moral dan kejahatan, tetapi juga mencela keduniawian dan kemurtadan; dan mengamarkan pendengar-pendengar agar segera menyingkir dari murka Allah yang akan datang.


Orang-orang mendengarkan dengan gemetar. Roh Allah yang meyakinkan itu berbicara ke dalam hati mereka. Banyak yang dituntun untuk menyelidiki Alkitab dengan minat yang baru dan mendalam. Keadaan tak bertarak dan tak bermoral dibaharui, yang lain meninggalkan kebiasaannya yang tidak jujur. Dan pekerjaan ini telah dilakukan begitu nyata sehingga pendeta-pendeta negara sendiripun terpaksa mengakui bahwa tangan Allah ada dalam gerakan ini.

Adalah kehendak Allah agar berita kedatangan Juru Selamat dikabarkan di negara-negara Skandinavia. Dan bilamana suara hamba-hamba-Nya dibungkam, Ia mencurahkan Roh-Nya ke atas anak-anak, agar pekerjaan itu dapat dilaksanakan. Pada waktu Yesus semakin dekat memasuki Yerusalem diserati oleh orang banyak yang bersukacita yang, dengan pekik kemenangan dan lambaian daun-daun palem, mengumumkan-Nya sebagai Anak Daud, orang-orang Farisi yang cemburu memintanya untuk mendiamkan mereka. Tetapi Yesus menjawab bahwa semua ini adalah kegenapan nubuatan. Jika mereka harus diam maka batu-batu juga akan berbicara. Orang-orang, yang ditakut-takuti oleh ancaman imam-imam dan penguasa-penguasa, menghentikan pernyataan sukacita mereka pada waktu mereka memasuki gerbang kota Yerusalem. Tetapi kemudian anak-anak di halaman Bait Allah menyambut dengan sorak sorai, sambil melambai-lambaikan daun palem mereka berseru, "Hosana bagi anak Daud!" (Mat. 21:8-16). Pada waktu orang Farisi sangat jengkel, lalu mereka berkata kepada-Nya, "Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?" Yesus menjawab, "Aku dengar, belum pernah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusui Engkau telah menyediakan puji-pujian?" Sebagaimana Allah bekerja melalui anak-anak pada waktu kedatangan Yesus yang pertama, demikianlah Ia bekerja melalui mereka dalam memberitakan kedatangan-Nya yang kedua kali. Firman Allah harus digenapi, bahwa pekabaran kedatangan Juru Selamat harus disampaikan kepada semua orang, bahasa dan bangsa.

Kepada William Miller dan rekan-rekannya diberi tugas untuk memberitakan amaran itu di Amerika. Negara ini menjadi pusat Pergerakan Advent besar itu. Di sinilah nubuatan pekabaran malaikat yang pertama digenapi secara langsung. Tulisan-tulisan Miller dan rekan-rekannya telah dibawa ke negeri-negeri yang jauh. Di mana saja misionaris telah menjelajahi seluruh dunia, disanalah diberitakan kabar kesukaan mengenai kedatangan Kristus yang tidak lama lagi. Jauh dan luaslah penyebaran kabar Injil kekal, "Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena hari penghakiman-Nya sudah tiba."

Kesaksian nubuatan yang kelihatannya menunjuk kepada kedatangan Kristus pada musim semi tahun 1844, berakar dalam di pikiran orang-orang. Pada waktu pekabaran itu tersebar dari satu Negara Bagian ke Negara Bagian lainnya, dimana-mana terjadi kebangunan perhatian yang meluas. Banyak yang diyakinkan bahwa argumen dari masa-masa nubuatan itu adalah tepat, dan mereka membuang pendapat sombong mereka dan menerima kebenaran dengan sukacita. Beberapa pendeta mengesampingkan pandangan-pandangan dan perasaan-perasaan sekte mereka, mereka meninggalkan kepegawaian dan gereja mereka dan bersatu untuk memberitakan kedatangan Yesus. Namun hanya sedikit pendeta yang menerima pekabaran ini, oleh sebab itu kebanyakan pemberitaan itu sebagian besar diserahkan kepada kaum awam yang sederhana. Para peladang meninggalkan ladangnya, para ahli bengkel meninggalkan perkakasnya, para pedagang meninggalkan barang dagangannya, dan para profesional meninggalkan jabatan mereka. Namun begitu jumlah pekerja masih sedikit dibandingkan dengan pekerjaan yang harus diselesaikan. Keadaan gereja yang tidak beriman dan dunia yang penuh kejahatan membebani jiwa-jiwa para penjaga yang setia, dan dengan rela mereka menanggung kerja keras, kesepian dan penderitaan, agar mereka bisa memanggil orang-orang untuk bertobat kepada kesela,matan. Walaupun ditentang oleh Setan, pekerjaan itu maju terus dan kebenaran Advent itu diterima oleh ribuan orang.

Dimana-mana terdengar kesaksian-kesaksian yang menggugah hati menggambarkan orang-orang berdosa, baik anggota jemaat maupun orang yang bersifat duniawi, untuk menghindarkan diri dari murka yang akan datang. Seperti Yohanes Pembaptis, pendahulu Kristus, para pengkhotbah meletakkan kampaknya pada akar pohon, dan mendorong semua untuk memberikan buah-buah pertobatan. Himbauan dan ajakan mereka yang menggugah hati sangat berbeda dengan jaminan damai sejahtera yang terdengar dari mimbar populer dimana saja pekabaran itu dikabarkan, maka orang-orangpun digerakkan. Kesaksian Alkitab yang langsung dan sederhana, dengan kuasa Roh Kudus, membawa keyakinan yang mendalam yang hanya sedikit yang berhasil menolaknya. Mahaguru-mahaguru agama telah dibangunkan dari keselamatan mereka yang palsu. Mereka melihat kemurtadan mereka, keduniawian dan ketidakpercayaan mereka, kesombongan dan sifat mementingkan diri mereka. Banyak yang mencari Tuhan dengan pertobatan dan kerendahan hati. Kasih sayang yang selama ini ditujukan kepada perkara-perkara dunia, sekarang ditujukan ke Surga. Roh Allah turun ke atas mereka, dan dengan hati yang dilembutkan dan diserahkan mereka bergabung memekikkan seruan, "Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena saat penghakiman-Nya telah tiba."


Orang-orang berdosa bertanya sambil menangis, "Apakah yang harus kuperbuat supaya selamat?" Mereka yang hidupnya ditandai dengan ketidakjujuran ingin membuat ganti rugi. Semua orang yang telah menemukan kedamaian dalam Kristus rindu melihat orang-orang lain mendapat berkat. Hati orang-orang tua berbalik kepada anak-anak mereka, dan hati anak-anak kepada orang tua mereka. Penghalang kesombongan dan pamrih telah dibuang jauh-jauh. Pengakuan yang menyentuh hati dilakukan; dan anggota keluarga bekerja untuk keselamatan keluarga mereka yang paling dekat dan yang paling disayang. Sering terdengar suara pengantaraan yang sungguh-sungguh. Dimana-mana terdapat jiwa-jiwa yang sangat menderita, yang memohon kepada Allah. Banyak yang bergumul berdoa sepanjang malam untuk memastikan bahwa dosa-dosa mereka sudah diampuni, atau untuk pertobatan sanak keluarga atau tetangga mereka.

Semua golongan berbondong-bondong ke perkumpulan-perkumpulan orang-orang Advent. Orang kaya dan orang miskin, yang terhormat dan yang hina, oleh karena berbagai alasan, ingin mendengar sendiri doktrin kedatangan kedua kali itu. Tuhan menahan roh perlawanan sementara hamba-hambanya-Nya menjelaskan alasan-alasan iman mereka. Kadang-kadang alat-alat itu lemah, tetapi Roh Allah memberikan kuasa kepada kebenaran-Nya. Kehadiran malaikat-malaikat kudus terasa di perkumpulan-perkumpulan, dan setiap hari banyak yang ditambahkan kepada orang-orang percaya. Pada waktu bukti-bukti kedatangan Kristus yang tidak lama lagi dikemukakan berulang-ulang, orang banyak berkerumun mendengarkan firman itu dengan tekun seolah-olah tidak bernafas. Surga dan dunia seolah-olah saling mendekat. Kuasa Allah dapat dirasakan oleh orang tua dan orang muda maupun orang setengah baya. Orang-orang kembali ke rumah mereka dengan puji-pujian di bibir mereka, dan suara kesukaan terdengar di udara malam yang tenang itu. Tak seorangpun dari mereka yang menghadiri perkumpulan-perkumpulan itu dapat melupakan pemandangan perhatian yang begitu besar dan dalam.

Pemberitaan mengenai waktu yang pasti kedatangan Kristus menimbulkan perlawanan besar dari berbagai golongan, dari pendeta di mimbar gereja sampai kepada orang-orang berdosa yang paling gegabah, dan yang berani menantang Surga. Kata-kata nubuatan digenapi, "bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. Kata mereka: Dimanakah janji kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan." (2 Pet. 3:3,4). Banyak orang yang mengaku mengasihi Juru Selamat, menyatakan bahwa mereka tidak menentang doktrin kedatangan Kristus yang kedua kali. Mereka hanya tidak setuju mengenai waktu yang dipastikan. Tetapi Allah yang maha melihat membaca hati mereka. Mereka tidak ingin mendengarkan kedatangan Kristus untuk menghakimi dunia ini dalam kebenaran. Mereka adalah hamba-hamba yang tidak setia. Pekerjaan mereka tidak tahan kepada ujian Allah yang mengetahui segala isi hati, dan mereka takut bertemu dengan Tuhan mereka. Seperti orang-orang Yahudi pada waktu kedatangan Yeusu yang pertama kali, mereka tidak siap sedia menyambut Yesus. Mereka bukan saja menolak untuk mendengar argumentasi sederhana dari Alkitab, tetapi bahkan mengejek mereka yang mencari Tuhan. Setan dengan malaikat-malaikatnya bersukaria, dan melemparkan cemoohan ke muka Kristus dan malaikat-malaikat-Nya yang kudus, bahwa orang yang mengaku umat-Nya tidak mengasihi-Nya dan bahwa mereka itu tidak menginginkan kedatangan-Nya.

"Tak seorangpun yang mengetahui hari atau jamnya," adalah argumentasi yang paling sering dikemukakan oleh para penolak iman kedatangan kedua kali itu. Alkitab mencatat, "Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat yang di Surga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri." (Mat. 24:36). Keterangan yang jelas dan harmonis serta selaras mengenai ayat ini telah diberikan oleh mereka yang mencari Tuhan, dan penggunaan yang salah dari ayat ini oleh penentang-penentang telah dinyatakan dengan jelas. Firman itu diucapkan oleh Kristus dalam suatu percakapan yang tak terlupakan dengan murid-murid-Nya di Bukit Zaitun setelah untuk terakhir kalinya Ia meninggalkan kaabah. Murid-murid itu bertanya, "Apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?" (Mat. 24:3). Yesus memberikan tanda-tanda kepada mereka, dan berkata, "Jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah diambang pintu." (Mat. 24:33). Suatu ucapan Juru Selamat tidak akan dibuat untuk merusakkan ucapan-Nya yang lain. Walau tak seorangpun yang tahu tentang hari dan saat kedatangan -Nya, kita diajar dan diharuskan untuk mengetahui kapan kedatangan-Nya itu sudah dekat. Lebih jauh kita diajar bahwa mengabaikan amaran-Nya dan menolak atau tidak mau mengetahui kapan kedatangan-Nya itu, akan sama fatalnya kepada kita seperti kepada mereka pada zaman Nuh. Mereka tidak mengetahui kapan air bah itu datang. Dan perumpamaan dalam fatsal yang sama mempertentangkan hamba yang setia dengan yang tidak setia, dan memberikan kebinasaan kepada mereka yang berkata dalam hatinya, "Tuanku tidak datang-datang,"(Mat. 24:49) dan Kristus menghargai dan memberi upah kepada mereka yang didapat-Nya berjaga dan mengajarkan kedatangan-Nya, dan mereka yang menyangkalnya. "Karena itu berjaga-jagalah," (Mat. 24:42), kata-Nya. "Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang." (Mat. 24:46). Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri, dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu." (Wah. 3:3).

Paulus berbicara kepada segolongan orang yang tidak berjaga-jaga pada waktu kedatangan Tuhan. "Bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam. Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman -- maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan . . . mereka pasti tidak akan luput." (1 Tes. 5:2). Tetapi ia tambahkan kepada mereka yang memperhatikan amaran Juru Selamat itu, "Tetapi kamu, Saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan." (1 Tes. 5:4-5).


Jadi jelas ditunjukkan bahwa Alkitab tidak membiarkan orang-orang yang tetap tidak mau tahu atau bersikap masa bodoh terhadap kedatangan Kristus itu. Tetapi mereka yang hanya mencari dalih untuk menolak kebenaran, menutup telinganya kepada keterangan ini, dan perkataan "tentang hari dan saat itu tak seorangpun yang tahu," terus digemakan dan didengungkan oleh pengolok-olok, bahkan oleh mereka yang mengaku pelayan-pelayan Kristus. Pada waktu orang-orang bangkit dan mulai mencari jalan keselamatan, guru-guru agama menghalangi mereka menemukan kebenaran, berusaha menenteramkan ketakutan mereka dengan menafsirkan salah firman Allah. Para penjaga yang tidak setia bersatu dengan penipu besar itu berseru, Damai, damai, sementara Allah tidak berbicara damai. Seperti Farisi pada zaman Kristus, banyak yang menolak memasuki kerajaan Surga. Dan mereka yang mau masuk, mereka halang-halangi. Darah jiwa-jiwa ini akan dituntut dari tangan mereka.

Orang yang paling rendah hati dan yang bersungguh-sungguh berserah biasanya adalah yang pertama menerima pekabaran ini. Mereka yang mempelajari sendiri Alkitab itu akan dengan segera dapat melihat sifat yang tidak Alkitabiah dari pandangan-pandangan populer nubuatan. Dan dimana orang-orang tidak dikendalikan oleh alim ulama, dimana mereka bisa menyelidiki firman Allah bagi mereka sendiri, maka doktrin itu hanya perlu dibandingkan dengan Alkitab saja untuk menetapkan kewenangan ilahinya.

Banyak orang dianiaya oleh Saudara-saudara mereka yang tidak percaya. Untuk mempertahankan kedudukannya di dalam jemaat, sebagian orang memilih diam mengenai pengharapannya. Tetapi yang lain merasa bahwa kesetiaan kepada Allah melarang mereka menyembunyikan kebenaran yang telah dipercayakan Tuhan kepada mereka. Banyak yang dipecat dari persekutuan jemaat dengan alasan karena menyatakan keyakinan mereka pada kedatangan Kristus. Kata-kata nabi ini sangat berharga bagi mereka yang mengalami cobaan iman, "Saudara-saudaramu yang membenci kamu, yang mengucilkan kamu oleh karena kamu menghormati nama-Ku, telah berkata, 'Baiklah Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya supaya kamu melihat sukacitamu.' Tetapi mereka sendirilah yang mendapat malu." (Yes. 66:5).

Malaikat-malaikat Tuhan memperhatikan dengan sungguh-sungguh hasil dari amaran ini. Bilamana secara umum jemaat-jemaat menolak pekabaran itu, maka malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dengan sedih. Tetapi banyak yang belum diuji sebelumnya dengan kebenaran kedatangan Kristus itu. Banyak yang tertipu oleh suami, isteri, orang tua, atau anak-anak, dan membuatnya percaya bahwa adalah dosa hanya mendengar sajapun kepada ajaran-ajaran sesat seperti yang diajarkan oleh orang-orang Advent. Malaikat-malaikat diperintahkan untuk terus memperhatikan jiwa-jiwa ini, karena terang lain masih akan bersinar kepada mereka dari takhta Allah.

Dengan kerinduan yang tak terucapkan, mereka telah menerima pekabaran memperhatikan kedatangan Juru Selamat mereka. Waktunya sudah dekat dimana mereka akan bertemu dengan-Nya. Mereka menantikan saat itu dengan tenang dan khidmat. Mereka tetap mengadakan persekutuan yang mesra dengan Allah, suatu kedamaian yang sungguh-sungguh yang akan mereka warisi pada masa depan yang cerah. Tak seorangpun yang mengalami oengharapan dan kepercayaan ini dapat melupakan indanya dan berharganya saat-saat menunggu itu. Beberapa minggu sebelum waktu itu, kebanyakan usaha-usaha duniawi telah dikesampingkan umat-umat percaya yang sungguh-sungguh dengan cermat memeriksa setiap pikiran dan emosi hati mereka seperti seseorang yang mau meninggal dan beberapa saat lagi akan menutup mata mereka terhadap pemandangan dunia ini. Tidak ada yang membuat "jubah kenaikan," (Lihat Lampiran) tetapi semua merasakan perlunya keyakinan kesaksian dalam diri bahwa mereka telah bersedia bertemu dengan Juru Selamatnya. Jubah putih mereka adalah kemurnian jiwa -- tabiat yang disucikan dari dosa oleh darah Kristus. Apakah roh pemeriksaan hati yang seperti itu masih ada pada orang-orang yang mengaku umat Allah, iman yang sama yang sungguh-sungguh dan yang pasti? Sekiranya mereka terus merendahkan diri di hadirat Tuhan, dan mengajukan permohonan mereka ke hadapan takhta kemurahan, mereka akan memiliki pengalaman yang jauh lebih kaya daripada yang mereka miliki sekarang. Terlalu sedikit doa, terlalu sedikit pengakuan dan kesadaran dosa dan kurangnya iman yang hidup membuat banyak orang jadi miskin akan kasih karunia yang sebenarnya begitu limpahnya disediakan oleh Penebus.

Allah bermaksud menguji umat-Nya. Tangan-Nya menutupi kesalahan dalam perhitungan masa-masa nubuatan. Orang-orang Advent tidak menemukan kesalahan itu, atau ditemukan oleh penentang-penentangnya yang paling terpelajar. Penentang itu berkata, "Perhitunganmu mengenai masa-masa nubuatan itu adalah tepat. Beberapa peristiwa besar akan terjadi. Tetapi itu bukan yang diramalkan oleh Tuan Miller. Itu adalah pertobatan dunia ini, dan bukan kedatangan Kristus yang kedua kali." (Lihat Lampiran).


Waktu yang diharapkan itu sudah berlalu dan Kristus tidak datang untuk melepaskan umat-Nya. Mereka yang dengan iman dan kasih yang sungguh-sungguh yang telah mencari dan menantikan Juru Selamat mereka, mengalami kekecewaan yang pahit. Namun begitu maksud Allah sedang dicapai. Ia menguji hati mereka yang mengaku menanttikan kedatangan-Nya. Ada beberapa di antara mereka yang hanya karena takut. Pengakuan iman mereka tidak mengubah hati mereka, atau hidup mereka. Pada waktu peristiwa yang diharapkan tidak terjadi, orang-orang ini menyatakan bahwa mereka tidak kecewa. Mereka tidak pernah percaya kalau Kristus akan datang. Merekalah justru yang pertama mengejek kesedihan orang-orang percaya yang benar itu.

Tetapi Yesus, bersama seluruh balatentera Surga, melihat dengan kasih sayang dan simpati kepada mereka yang dicobai dan yang setia namun kecewa. Seandainya tirai yang memisahkan dunia yang kelihatan dan dunia yang tidak kelihatan disingkirkan, maka malaikat-malaikat akan tampak semakin dekat dengan jiwa-jiwa yang teguh ini dan melindungi mereka dari serangan Setan.


AMARAN DITOLAK

~21~
AMARAN DITOLAK


Dalam mengkhotbahkan doktrin kedatangan Tuhan, William Miller dan rekan-rekannya bekerja dengan satu tujuan membangunkan orang-orang untuk bersedia kepada penghakiman. Mereka berusaha membangunkan orang-orang yang mengaku beragama kepada pengharapan gereja yang benar dan kepada kebutuhan mereka akan pengalaman Kristen yang lebih dalam. Mereka juga membangunkan orang-orang yang belum bertobat kepada penyesalan dan pertobatan segera kepada Allah. "Mereka tidak berusaha menobatkan seseorang kepada sesuatu sekte atau golongan agama. Oleh karena itu mereka bekerja di antara semua golongan dan sekte tanpa mengganggu organisasi atau disiplin mereka."

"Dalam semua usaha saya," kata Miller, "saya tak pernah berkeinginan atau berpikir untuk mendirikan kepentingan terpisah dari denominasi yang ada, atau menguntungkan sesuatu atas biaya yang lain. Saya berpikir untuk menguntungkan semua. Seandainya semua orang Kristen bersukacita dalam prospek kedatangan Kristus, dan bahwa mereka yang tidak melihat sebagaimana saya lihat akan mengasihi sebagaimana mereka yang menerima ajaran ini, saya tidak melihat perlunya mengadakan pertemuan yang terpisah. Tujuan saya satu-satunya adalah keinginan untuk menobatkan jiwa-jiwa kepada Allah, untuk memberitahu dunia mengenai penghakiman yang akan datang, dan mengajak sesama manusia untuk mengadakan persediaan hati yang akan menyanggupkan mereka bertemu dengan Allah mereka di dalam damai. Mayoritas dari mereka yang bertobat oleh karena usaha-usaha saya bergabung dengan berbagai gereja yang ada." -- Bliss, "Memoirs of Wm. Miller," p. 328.

Oleh karena usahanya adalah membangun gereja-gereja, maka untuk sementara usaha-usaha ini diterima dengan baik. Tetapi pada waktu pendeta-pendeta dan para pemimpin agama memutuskan menentang ajaran tentang kedatangan Kristus dan bermaksud untuk menekan semua yang menggerakkan ajaran itu, mereka bukan saja menentangnya dari mimbar, tetapi melarang anggota-anggotanya untuk mengikuti dan menghadiri khotbah-khotbah mengenai kedatangan Yesus yang kedua kali, atau bahkan membicarakan pengharapan mereka di perkumpulan-perkumpulan sosial gereja. Dengan demikian orang-orang yang percaya ini menghadapi cobaan dan kebingungan besar. Mereka mencintai gereja mereka, dan tidak ingin berpisah dari gereja itu. Tetapi pada waktu mereka melihat kesaksian firman Allah di tindas, dan hak mereka untuk menyelidiki nubuatan dilarang, mereka merasa bahwa kesetiaan mereka kepada Allah melarang mereka menyerah. Yang berusaha menutupi kesaksian firman Allah, tidak bisa dianggap sebagai bentuk gereja Kristus, "sebagai tiang dan landasan kebenaran." Oleh karena itu mereka merasa benar kalau berpisah dari gereja mereka semula. Pada musim panas tahun 1844 kira-kira 50,000 orang mengundurkan diri dari gereja-gereja.

Kira-kira pada waktu ini terjadi perubahan nyata di kebanyakan gereja-gereja di seluruh Amerika Serikat. Selama bertahun-tahun terdapat perubahan pelan-pelan tetapi pasti di dalam gereja. Mereka semakin menyesuaikan diri dengan praktek-praktek dan kebiasaan keduniawian, dan kemerosotan dalam kehidupan kerohanian yang sebenarnya semakin nyata. Dan pada tahun itu ada tanda-tanda kemunduran yang nyata di hampir semua gereja-gereja di negara itu. Sementara tak seorangpun yang dapat mengatakan penyebabnya, maka fakta itu tersebar luas dan dikomentari baik oleh pers maupun oleh para pendeta dari mimbar.

Pada sebuah pertemuan dewan gereja Philadelphia, Tuan Barnes, seorang pengarang komentar yang digunakan secara luas, dan pendeta dari salah satu gereja yang terutama di kota itu, "mengatakan bahwa ia telah bekerja dalam pelayanan kependetaan selama dua puluh tahun, dan tak pernah ia melaksanakan aturan tanpa menerima lebih atau kurang ke dalam gereja, sampai perjamuan yang terakhir. Tetapi sekarang tidak ada kebangunan, tidak ada pertobatan, tidak banyak pertumbuhan nyata dalam kasih karunia pada orang-orang yang mengaku orang Kristen, dan tak seorangpun datang untuk belajar membicarakan mengenai keselamatan jiwa-jiwa mereka. Dengan bertambahnya usaha bisnis, dan prospek cerah perdagangan dan pabrik-pabrik, ada pertambahan dalam pemikiran keduniawian. Demikianlah yang terjadi dengan semua agama." -- Congregational Journal, May 23, 1844.

Pada bulan Februari tahun itu, Profesor Finney dari Oberlin College, berkata, "Kita telah mempunyai fakta dalam pikiran kita, bahwa pada umumnya gereja-gereja Protestan di negara kita bersikap apatis atau buas terhadap hampir semua pembaharuan moral pada zamannya. Memang ada pengecualian, namun tidak cukup memberikan fakta sebaliknya daripada yang umumnya. Kita juga mempunyai fakta pendukung lainnya: hampir sama sekali tidak ada pengaruh kebangunan rohani di dalam gereja. Apatisme kerohanian sudah hampir merajalela kepada semua, dan sangat mendalam dan menakutkan; demikianlah kesaksian surat kabar agama diseluruh negeri menyaksikannya . . . . Anggota-anggota gereja sudah sangat keranjingan mode -- bergandengan tangan dengan orang-orang yang tidak percaya dalam pesta pora kepelesiran, dalam dansa-dansi, dalam perayaan-perayaan dan lain-lain . . . . Tetapi kita tidak perlu memperluas masalah yang menyakitkan ini. Cukuplah kita melihat bahwa bukti-bukti semakin menumpuk dan melanda kita untuk menunjukkan bahwa pada umumnya gereja-gereja merosot akhlaknya dengan sangat menyedihkan. Mereka telah menyimpang begitu jauh dari Tuhan, dan Dia telah menarik diri dari mereka."


Dan seorang penulis dalam Religious Telescope menyaksikan, "Kita belum pernah menyaksikan kemerosotan umum agama seperti sekarang ini. Sungguh, gereja harus bangun, dan mencari penyebab penderitaan ini, karena setiap orang yang mengasihi Sion harus memandang itu sebagai penderitaan. Kalau kita merenungkan betapa "sedikit dan jarang" ada kasus pertobatan yang benar, dan betapa kekurangajaran dan kekerasan orang-orang berdosa, maka tanpa disadari kita berseru, 'Apakah Allah sudah lupa kasih karunia-Nya? atau apakah pintu kasihan sudah tertutup?"

Keadaan seperti itu tidak akan pernah terjadi tanpa sebab di dalam gereja itu sendiri. Kegelapan rohani yang menimpa bangsa-bangsa, gereja-gereja dan pribadi bukan karena Tuhan menarik kasih karunia ilahi-Nya, tetapi karena manusia itu mengabaikan atau menolak terang ilahi itu. Ilustrasi menarik mengenai kebenaran ini dinyatakan dalam sejarah orang-orang Yahudi pada zaman Kristus. Oleh karena pengabdian mereka kepada dunia dan kelalaiannya kepada Allah, pengertian mereka menjadi gelap, hati mereka dipenuhi keduniawian dan hawa nafsu. Dengan demikian mereka menjadi acuh tak acuh dan bodoh mengenai kedatangan Mesias, dan di dalam kesombongan dan ketidakpercayaan mereka, mereka menolak Penebus. Allah bahkan sesudah itu tidak menghalangi bangsa Yahudi untuk mengetahui atau ikut serta dalam berkat-berkat keselamatan. Tetapi mereka yang menolak kebenaran kehilangan semua kerinduan untuk memperoleh karunia Surga. Mereka telah "mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan," sampai terang yang ada pada mereka menjadi kegelapan. Dan betapa pekatnya kegelapan itu!

Sesuailah dengan kebijakan Setan, bahwa manusia harus mempertahankan formalitas agama, tetapi roh keilahian dan kesalehan yang vital kurang. Setelah mereka menolak Injil, orang Yahudi terus mempertahankan upacara-upacara keagamaan lama dengan sungguh-sungguh. Mereka dengan gigih memelihara keekslusifan nasional mereka, sementara mereka sendiri mengaku bahwa hadirat Allah tidak lagi dinyatakan di antara mereka. Nubuatan nabi Daniel menunjuk dengan tak mungkin salah kepada masa kedatangan Mesias dan secara langsung menubuatkan kematian-Nya. Mereka melarang mempelajari nubuatan, dan akhirnya para rabbi mengumumkan kutuk bagi semua yang mencoba menghitung masa. Dalam kebutaan dan tanpa penyesalan, orang Israel telah berdiri selama 1800 tahun tidak memperdulikan tawaran kasih karunia keselamatan, tidak memperhatikan berkat-berkat Injil, dan amaran yang sungguh-sungguh dan menakutkan mengenai bahayanya menolak terang dari Surga.

Bilamana penyebabnya ada terjadi, maka akibat yang sama akan menyusul. Ia yang dengan sengaja mengabaikan tanggungjawab karena mengganggu kesukaan-kesukaannya, pada akhirnya akan kehilangan kuasa untuk membedakan antara kebenaran dan kesalahan. Pengertiannya menjadi digelapkan, hati nuraninya tidak berperasaan, hatinya dikeraskan dan jiwanya dipisahkan dari Allah. Dimana pekabaran kebenaran ilahi ditolak atau diremehkan, maka di sana gereja akan selubungi oleh kegelapan. Iman dan kasih menjadi dingin, dan perpecahan serta perselisihanpun masuk. Anggota-anggota gereja memusatkan perhatian dan tenaga mereka kepada perkara-perkara duniawi, dan orang-orang berdosa semakin tidak mau menyesal.

Pekabaran malaikat yang pertama dalam Wahyu 14 yang mengumumkan saat penghakiman Allah, dan yang memanggil orang-orang supaya takut akan Allah dan menyembah Dia, dimaksudkan untuk memisahkan orang-orang yang mengaku umat Allah dari pengaruh bejat dunia ini, dan membangunkan mereka untuk melihat keadaan mereka yang sebenarnya yang murtad dan bersifat keduniawian. Dalam pekabaran ini Allah telah mengirimkan amaran kepada jemaat, yang kalau diterima, akan memperbaiki kejahatan yang telah memisahkan mereka dari Dia. Seandainya mereka menerima pekabaran yang dari Surga itu dan merendahkan hati mereka di hadirat Allah serta berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mempersiapkan diri berdiri di hadirat-Nya, maka Roh dan kuasa Allah akan dinyatakan di antara mereka. Jemaat itu sekali lagi akan memperoleh berkat persatuan, iman dan kasih yang ada pada zaman rasul-rasul; bilamana orang-orang percaya itu "sehati dan sejiwa," dan "memberitakan firman Allah dengan berani," dan bilamana "Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan." (Kisah 4:32, 31; 2:47).

Jikalau orang-orang yang mengaku umat Allah mau menerima terang sebagaimana bersinar kepada mereka dari firman-Nya, mereka akan mencapai persatuan sebagaimana yang telah didoakan oleh Kristus, yang oleh rasul itu dikatakan, "kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera." Ada "satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan. (Epes. 4:3-5).

Demikianlah berkat-berkat yang akan dialami oleh mereka yang menerima pekabaran kedatangan Kristus. Mereka datang dari berbagai denominasi atau organisasi agama, dan batasan-batasan denominasi mereka dicampakkan, ajaran-ajaran yang bertentangan telah dihancurkan, pengharapan kerajaan seribu tahun yang tidak sesuai dengan keterangan Alkitab telah ditinggalkan, pandangan-pandangan yang salah mengenai kedatangan Kristus yang kedua kali dibetulkan, kesombongan dan keduniawian dibuang jauh-jauh, yang salah dibenarkan. Hati bersatu dalam persekutuan yang paling manis, dan kasih serta sukacita menguasai mereka sepenuhnya. Jika doktrin ini melakukan hal-hal itu kepada mereka yang menerimanya yang sedikit jumlahnya, hal yang sama akan dilakukan kepada semua jika semuanya menerima ajaran itu.

Tetapi pada umumnya jemaat tidak mau menerima amaran itu. Pendeta-pendeta mereka, "sebagai penjaga Israel" yang seharusnya adalah yang pertama melihat tanda-tanda kedatangan Yesus, telah gagal mengetahui kebenaran, baik dari kesaksian nabi-nabi maupun dari tanda-tanda zaman. Sementara pengharapan-pengharapan dan ambisi-ambisi duniawi memenuhi hati, kasih kepada Allah dan iman kepada firman-Nya semakin dingin. Dan bilamana doktrin kedatangan Kristus itu diajarkan, itu hanya menimbulkan prasangka dan tidak percaya bagi mereka. Fakta bahwa pekabaran itu sebagian besar disiarkan oleh kaum awam, telah digunakan sebagai argumentasi untuk menentangnya. Sebagaimana pada zaman dahulu, kesaksian sederhana firman Allah telah dihadapi dengan pertanyaan, "Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang Farisi?" (Yoh. 7:48). Dan kenyataan betapa sulitnya membantah argumentasi yang diangkat dari masa-masa nubuatan, maka banyaklah orang yang berhenti mempelajarai nubuatan, dan mengatakan bahwa buku-buku nubuatan itu dimeteraikan, dan tidak akan bisa dimengerti. Orang banyak yang hanya percaya kepada pendeta-pendeta mereka, menolak mendengarkan amaran itu. Dan yang lain, walaupun yakin terhadap kebenaran itu tetapi tidak berani mengakuinya, kalau-kalau mereka "dikucilkan" dari rumah perbaktian. Pekabaran yang dikirimkan Allah untuk menguji dan memurnikan jemaat menyatakan dengan jelas betapa besar jumlahnya orang-orang yang mengasihi dunia ini dibandingkan dengan mereka yang mengasihi Kristus. Tali yang mengikat mereka ke dunia ini lebih kuat daripada penarikan yang menuju Surga. Mereka memilih untuk mendengarkan suara hikmat duniawi, dan berpaling dari pekabaran kebenaran yang menyelidiki hati.

Dengan menolak amaran malaikat yang pertama, mereka menolak sarana yang disediakan Surga untuk pemulihan mereka. Mereka menolak dengan hinaan jurukabar yang murah hati, yang akan memperbaiki kejahatan yang memisahkan mereka dari Allah. Dan dengan keinginan yang lebih besar mereka berbalik, mencari persahabatan dengan dunia. Inilah penyebab keadaan yang menakutkan dari keduniawian, kemurtadan, dan kematian rohani yang terjadi dalam jemaat pada tahun 1844.

Dalam buku Wahyu 14, malaikat yang pertama diikuti oleh malaikat yang kedua, mengumumkan, "Sudahlah rubuh, sudahlah rubuh Babel, kota besar itu, yang telah memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya." (Wah. 14:8). Istilah "Babilon," diambil dari kata "Babel," yang melambangkan kekacauan. Digunakan dalam Alkitab untuk menyatakan berbagai bentuk agama yang salah atau murtad. Dalam buku Wahyu 17, Babilon dilambangkan sebagai seorang perempuan, -- sosok yang digunakan dalam Alkitab sebagai lambang gereja; perempuan yang saleh melambangkan gereja yang murni, dan perempuan sundal melambangkan gereja yang murtad.

Dalam Alkitab tabiat yang saleh dan yang bertahan dalam hubungan antara Kristus dengan gereja-Nya dilambangkan dengan persekutuan nikah. Tuhan telah menggabungkan umat-Nya kepada diri-Nya oleh suatu perjanjian khidmat; Ia berjanji menjadi Allah mereka dan mereka berjanji menjadi kepunyaan-Nya, dan hanya kepunyaan Dia sendiri. Ia mengatakan, "Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteriku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang." (Hosea 2:18). Dan sekali lagi, "Aku telah menjadi tuan atas kamu."(Yer. 3:14) (Aku telah menikah dengan kamu -- Yer. 3:14 KJV). Dan Paulus menggunakan sosok yang sama dalam buku Perjanjian Baru pada waktu ia berkata, "Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus." (2 Kor. 11:2).

Ketidaksetiaan jemaat kepada Kristus dengan membiarkan kepercayaan dan kasih sayangnya dialihkan daripada-Nya, dan dengan membiarkan cinta kepada perkara-perkara duniawi mengisi jiwanya, disamakan dengan pelanggaran kepada sumpah pernikahan. Dosa Israel dengan berpaling dari Tuhan dinyatakan dengan gambaran ini. Dan kasih Allah yang ajaib yang mereka hinakan digambarkan begini, "Dengan sumpah Aku mengadakan perjanjian dengan engkau, demikianlah firman Tuhan Allah, dan dengan ini engkau Aku punya." "Dan engkau menjadi sangat cantik, sehingga layak menjadi ratu. Dan namamu termasyhur di antara bangsa-bangsa karena kecantikanmu, sebab sangat sempurna adanya, oleh karena semarak perhiasan-Ku yang Kuberikan kepadamu, . . . . Tetapi engkau mengandalkan kecantikanmu dan engkau seumpama bersundal dalam menganggarkan ketermasyhuranmu." "Tetapi sesungguhnya, seperti seorang isteri tidak setia terhadap suaminya, demikianlah kamu tidak setia terhadap Aku, hai kamu Israel, demikianlah firman Tuhan." "Hai isteri yang berzinah, yang memeluk orang-orang lain ganti suaminya sendiri." (Yehez. 16:8, 13-15,32; Yer. 3:20).

Dalam Alkitab Perjanjian Baru, bahasa yang sangat mirip dengan yang di atas ditujukan kepada orang-orang yang mengaku Kristen yang bersahabat dengan dunia ini melebihi daripada dengan Allah. Rasul Yakub berkata, "Hai kamu orang-orang yang tidak setia! (orang-orang yang berzinah -- KJV) Tidakkah kamu tahu bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah." (Yakub 4:4).

Perempuan (Babilon) dalam buku Wahyu 17 digambarkan sebagai "yang memakai kain ungu dan kain kirmizi yang dihiasi dengan emas, permata, dan mutiara, dan ditangannya ada suatu cawan emas penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulannya. Dan pada dahinya tertulis suatu nama, suatu rahasia, "Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi." Nabi berkata, "Dan aku melihat perempuan itu mabuk oleh darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yesus." Lebih jauh, Babilon dinyatakan sebagai "kota besar yang memerintah atas raja-raja di bumi." (Wah. 17:4-6,18). Kuasa yang untuk beberapa abad lamanya mempertahankan kekuasaan kelaliman atas raja-raja dunia Kristen ialah Roma. Warna ungu dan kirmizi, emas, batu permata dan mutiara menggambarkan kemegahan luar biasa yang melebihi raja yang dipertontonkan oleh Roma yang sombong dan pongah. Dan tidak ada satu kuasa yang benar-benar bisa dinyatakan sebagai "mabuk oleh darah orang-orang kudus," seperti gereja ini yang dengan begitu kejam menganiaya pengikut-pengikut Kristus. Babilon juga dituduh karena dosanya berhubungan secara tidak sah dengan "raja-raja dunia." Karena meninggalkan Tuhan dan bersekutu dengan orang-orang kafir sehingga jemaat Yahudi menjadi seorang pelacur, seorang sundal. Dan demikian juga Roma, yang korup oleh mencari dukungan kuasa-kuasa dunia, menerima hukuman yang sama .

Babilon dikatakan sebagai "ibu dari wanita-wanita pelacur" (Wahyu 17:5). Dan anaknya, yaitu wanita-wanita pelacur, melambangkan gereja-gereja yang bergantung kepada ajaran-ajarannya dan tradisi-tradisinya dan yang mengikuti teladannya mengorbankan kebenaran dan pengakuan Allah, untuk membentuk persekutuan ilegal dengan dunia. Pekabaran Wahyu 14, yang mengumumkan kejatuhan Babilon, digunakan untuk badan-badan agama yang pada suatu kali adalah murni tetapi kemudian menjadi korup atau bejat. Oleh karena pekabaran ini menyusul amaran penghakiman, maka pekabaran itu pastilah diberikan pada akhir zaman. Jadi tidak dimaksudkan hanya kepada Gereja Roma saja, oleh karena gereja tersebut sudah berada dalam keadaan jatuh selama berabad-abad. Lebih jauh, pada fatsal delapan belas buku Wahyu, umat Allah dipanggil supaya keluar dari Babilon. Menurut tulisan ini, banyak umat-umat Allah yang masih berada di Babilon. Dan di dalam badan agama manakah pengikut-pengikut Kristus paling banyak ditemukan? Tanpa ragu-ragu, di berbagai gereja yang mengaku iman Protestan. Pada waktu kebangkitan gereja-gereja Protestan, gereja-gereja ini mengambil pendirian yang agung demi Allah dan kebenaran-Nya, dan berkat-berkat-Nya ada bersama mereka. Dunia yang tidak mau percaya sendiripun terpaksa mengakui manfaat yang diakibatkan oleh penerimaan prinsip-prinsip Injil. Kata-kata nabi kepada Israel, "Dan namamu termasyhur di antara bangsa-bangsa karena kecantikanmu, sebab sangat sempurna adanya, oleh karena semarak perhiasan-Ku yang Kuberikan kepadamu, demikianlah firman Tuhan Allah." Tetapi mereka jatuh oleh karena keinginan yang sama yang telah mengutuki dan meruntuhkan Israel -- keinginan untuk meniru persahabatan dengan orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan. "Tetapi engkau mengandalkan kecantikanmu dan engkau seumpama bersundal dalam menganggarkan kemasyhuranmu." (Yehez. 16:14,15).

Banyak gereja-gereja Protestan mengikuti teladan hubungan jahat Roma dengan "raja-raja dunia," -- gereja-gereja negara, oleh hubungan mereka dengan pemerintah, dan denominasi-denominasi lain, oleh usaha-usaha agar disukai dunia. Dan istilah "Babilon" -- yang berarti kekacauan -- dapat dikaitkan dengan badan-badan ini yang semua mengaku mengambil ajaran atau doktrinnya dari Alkitab, namun, terbagi-bagi menjadi banyak sekte, dengan ajaran dan teori yang bertentangan.

Selain persekutuan jahat dengan dunia ini, gereja-gereja yang memisahkan diri dari Roma menampilkan karakteristiknya yang lain.

Seorang Katolik Roma memberikan bantahan, bahwa "jikalau Gereja Roma pernah dipersalahkan mengenai penyembahan berhala sehubungan dengan orang-orang saleh, maka anak perempuannya, Gereja Inggeris, juga melakukan kesalahan yang sama, dimana sepuluh gereja diabdikan kepada Maria sementara hanya satu diabdikan kepada Kristus." -- Dr. Challoner, "The Catholic Christian Instructed," Preface, pp. 21,22 (ed. 1897).

Dan Dr. Hopkins dalam "A Treatise on the Millenium," menyatakan, "Tidak ada alasan menganggap roh dan praktek-praktek agama antikristen dibatasi hanya kepada apa yang sekarang disebut Gereja Roma. Gereja-gereja Protestan sendiripun mempunyai banyak antikritus di dalamnya, dan masih jauh dari pembaharuan seluruhnya dari . . . kebejatan dan kejahatan." -- Hopkins, Samuel, "Works," Vol.II, p. 328 (ed. 1854).

Menegnai pemisahan Gereja Presbyterian dari Roma, Dr. Guthrie menulis, "Tiga ratus tahun lalu, gereja kita dengan Alkitab terbuka dalam panji-panjinya, dengan motto ini, 'Selidiki Alkitab' dalam gulungan dokumennya, berbaris keluar dari gerbang kota Roma." Lalu ia menanyakan pertanyaan penting, "Apakah mereka keluar dengan bersih dari Babilon?" -- Guthrie, John, "The Gospel in Ezekiel," p. 237 (Edinburgh ed. 1857).

"Gereja Inggeris," kata Spurgeon, "tampaknya digerogoti terus oleh upacara-upacara sakramentarianisme, tetapi ketidaksesuaian kepada tradisi hampir sama buruknya dengan falsafah tidak percaya kepada Tuhan. Hal-hal yang kita anggap baik telah disisihkan satu persatu dari dasar-dasar iman. Seterusnya, saya percaya bahwa hati Inggeris dipenuhi oleh sarang-sarang ketidaksetiaan yang terkutuk, yang masih berani naik mimbar dan memanggil dirinya orang Kristen."

Apakah asal mula kemurtadan besar itu? Bagaimanakah gereja pertama kali menyimpang dari kesederhanaan Injil? Oleh penyesuaian diri kepada praktek-praktek penyembahan berhala, untuk memudahkan Kekristenan diterima oleh kekafiran. Rasul Paulus menyatakan pada zamannya, "Karena secara rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja." Selama hidupnya para rasul gereja tetap murni. Tetapi menjelang abad kedua kebanyakan gereja-gereja mengambil bentuk baru. Kesederhanaan mula-mula itu hilang lenyap, dan tak terasa, pada waktu murid-murid dulu itu meninggal dunia, anak-anak mereka bersama-sama dengan orang-orang yang baru bertobat . . . tampil dan membuat bentuk baru." -- Robinson, Robert, "Ecclesiastical Researches," ch. 6, par. 17 (ed. 1792, p. 51). Untuk mendapatkan orang-orang yang bertobat, standar iman Kristen yang tinggi diturunkan, dan sebagai akibatnya "penyembah-penyembah berhala berduyun-duyun masuk gereja, dengan membawa adat kebiasaannya dan segala praktek serta berhala-berhalanya." -- Gavazzi's Lectures, p. 278 (ed. 1854). Pada waktu agama Kristen memperoleh bantuan dan dukungan pemerintahan negara, secara nominal diterima oleh orang banyak. Tetapi walaupun tampaknya mereka adalah orang-orang Kristen, masih banyak yang masih tetap penyembah berhala, terutama dengan sembunyi-sembunyi menyembah berhala-berhala mereka." -- Gavazzi's Lectures, p. 278, (ed. 1854)

Bukankah proses yang sama telah diulang-ulangi di hampir setiap gereja yang menamakan dirinya Protestan? Pada waktu para penemunya yang memiliki roh pembaharuan yang benar meninggal, keturunannya tampil dan membuat "bentuk baru." Sementara mereka secara membabibuta bergantung kepada ajaran-ajaran leluhur mereka dan menolak menerima setiap kebenaran yang belum pernah mereka ketahui, anak-anak para pembaharu itu menyimpang jauh dari teladan kerendahan hati, penyangkalan diri, dan membuangkan dunia. Dengan demikian "kederhanaan yang mula-mula itu lenyap." Banjir keduniawian mengalir ke gereja, "membawa adat kebiasaan, praktek-praktek dan berhala-berhala dunia."

Betapa menakutkan meluasnya persahabatan dunia yang adalah "permusuhan dengan Allah" yang sekarang melanda umat yang mengaku pengikut Kristus! Betapa jauhnya gereja-gereja populer di seluruh dunia Kristen menyimpang dari standar Alkitab mengenai kerendahan hati, penyangkalan diri, kesederhanaan dan kesalehan! John Wesley berkata mengenai pemakaian uang yang benar, "Jangan sia-siakan sebagianpun dari talenta yang begitu berharga, hanya untuk memuaskan keinginan mata, untuk pakaian yang berlebih-lebihan dan mahal, atau untuk perhiasan-perhiasan yang tidak perlu. Jangan sia-siakan sebagianpun daripadanya untuk menghiasi rumahmu dengan berlebihan atau dengan perabot yang mahal-mahal, dengan gambar dan lukisan yang mahal-mahal, dan barang-barang sepuhan . . . . Jangan gunakan apapun untuk memuaskan kesombongan hidup, untuk memperoleh kekaguman dan pujian orang-orang . . . . 'Selama engkau berlaku baik maka orang lain akan berkata baik mengenai engkau.' Selama engkau 'berpakaian kain lenan yang halus, memakan makanan yang paling mahal setiap hari,' tak heran banyak orang akan memuji kemewahan seleramu, kemurahanmu dan keramahanmu. Tetapi janganlah membeli pujian mereka dengan begitu mahal. Sebaliknya berpuaslah dengan penghormatan yang datang dari Allah." -- Wesley's Works, Sermon 50, "The Use of Money." Tetapi ajaran seperti ini diabaikan di banyak gereja pada zaman kita.

Pengakuan agama telah menjadi populer di dunia ini. Para penguasa, ahli politik, ahli hukum, doktor-doktor, dan para pedagang bergabung ke dalam gereja sebagai cara untuk memperoleh penghormatan dan kepercayaan masyarakat, dan untuk memajukan kepentingan duniawi mereka. Dengan begitu mereka berusaha menutupi semua transaksi mereka yang tidak benar, di bawah pengakuan Kekristenan. Berbagai badan-badan agama yang didukung oleh kekayaan dan pengaruh orang-orang duniawi yang sudah dibaptiskan ini, masih dilakukan demi popularitas dan perlindungan. Bangunan gereja-gereja yang megah, yang dihiasi dengan sangat mewah, dibangun di jalan-jalan protokol. Para pengunjung yang mau beribadat menghiasi diri mereka dengan pakaian yang mahal-mahal dan mode-mode mutakhir. Pendeta berbakat digaji dengan gaji yang tinggi untuk menghibur dan menarik perhatian orang-orang. Khotbah-khotbahnya tidak boleh menyinggung dosa-dosa, tetapi harus dibuat lembut dan menyenangkan bagi pendengar-pendengar modern. Dengan demikian orang-orang modern yang berdosa didaftarkan dalam catatan-catatan gereja, dan dosa-dosa modern ditutupi di bawah kesalehan yang pura-pura.

Mengomentari sikap orang-orang yang mengaku Kristen dewasa ini terhadap dunia, sebuah majalah terkenal berkata, "Dengan tak disadari gereja telah tunduk kepada kehendak zaman, dan menyesuaikan upacara perbaktiannya kepada kehendak kemodernan." "Memang, segala sesuatu yang menolong membuat agama menarik, sekarang digunakan oleh gereja sebagai alat." Seorang penulis dalam majalah New York Independent, berbicara mengenai Metodisme, "Garis pemisah antara orang saleh dengan orang yang tidak beragama lenyap bagaikan bayangan kabur waktu gerhana, dan orang-orang yang giat bersemangat di kedua belah pihak berusaha keras untuk menghapuskan semua perbedaan antara cara tindakan dan kesenangan mereka." "Popularitas agama cenderung dengan cepat menambah jumlah orang yang mau mendapatkan keuntungan-keuntungan tanpa sama sekali memenuhi kewajiban-kewajibannya."

Howard Crosby berkata, "Sangat memprihatinkan kita menemukan gereja Kristus sangat sedikit melaksanakan rencana Tuhan. Sama seperti oarng Yahudi zaman dahulu membiarkan pergaulan biasa dengan bangsa-bangsa penyembah berhala mencuri hati mereka dari Allah, . . . demikianlah gereja Yeusu sekarang, oleh persekutuannya dengan dunia yang tidak percaya kepada Tuhan, telah kehilangan metode ilahi dalam kehidupannya yang benar. Dan tunduk menyerah kepada kebiasaan atau tabiat berbahaya masyarakat yang tidak mempunyai Kristus, walaupun sering masuk akal, dengan menggunakan argumen-argumen dan mencapai kesimpulan yang asing kepada kenyataan Allah, dan secara langsung berlawanan dengan semua pertumbuhan dalam kasih barunia." -- "The Healthy Christian: An Appeal to the Church," pp. 141,142 (ed. 1811).

Dalam arus keduniawian dan kepelesiran ini, penyangkalan diri dan pengorbanan diri demi Kristus hampir seluruhnya hilang. "Sebagian dari laki-laki dan perempuan sekarang yang hidup aktif dalam gereja kita adalah mereka yang telah dididik waktu masih kanak-kanak untuk berkorban agar dapat melakukan sesuatu bagi Kristus." Tetapi "jika dana dibutuhkan sekarang, . . . tak perlu seorangpun dipanggil untuk memberi. Oh, tidak! Adakanlah perayaan atau pekan raya, sajikan makanan pesta, lelucon, makan malam cara kuno, dan sesuatu untuk dimakan, sesuatu yang menghibur orang-orang."

Gubernur Washburn dari negara bagian Wisconsin, pada amanat tahunannya pada tanggal 9 Januari 1873 menyatakan, "Seperangkat undang-undang atau hukum diperlukan untuk membubarkan sekolah-sekolah dimana penjudi-penjudi di buat, yang merajalela dimana-mana. Bahkan gereja sendiri kadang-kadang (secara tidak sengaja, tidak diragukan) melakukan pekerjaan Setan. Konser-konser amal, usaha-usaha dan undian amal, kadang-kadang untuk membantu tujuan-tujuan keagamaan dan kedermawanan, (tetapi sering untuk tujuan-tujuan yang kurang berguna), lotere, paket-paket hadiah, dan lain-lain, adalah semua cara untuk mendapatkan uang tanpa imbalan diterima. Tidak ada yang paling meracuni dan merusak moral, terutama kepada orang-orang muda, daripada mendapatkan uang atau harta tanpa bekerja. Orang-orang terhormat melibatkan diri dalam usaha musiman ini, dan menenangkan hati nurani mereka dengan refleksi bahwa uang yang diperoleh dari usaha ini digunakan untuk tujuan-tujuan baik. Tidak heran bahwa pemuda-pemuda negara bagian itu sering harus terjerumus ke dalam kebiasaan yang kegemparan permainan berbahaya ini hampir pasti dapat menimbulkan kekejian."

Roh penyesuaian diri dengan keduniawian telah melanda gereja-gereja sepanjang zaman Kekristenan. Robert Atkins, dalam sebuat khotbahnya di London melukiskan gambaran hitam kemerosotan kerohanian yang merajalela di Inggeris, "Orang yang betul-betul benar telah lenyap dari muka bumi ini, dan tak seorangpun yang memperdulikannya. Yang mengakui beragama dewasa ini di setiap gereja adalah pecinta-pecinta dunia, yang menyesuaikan diri dengan dunia ini, pecinta-pecinta hawa nafsu dan pengejar-pengejar kehormatan diri. Mereka dikatakan menderita dengan Kristus, tetapi mereka bahkan menghindar dari teguran . . . . Kemurtadan, kemurtadan dan kemurtadan saja yang terukir di paling depan setiap gereja. Dan sekiranya mereka menyadari itu, dan sekiranya mereka merasakan itu, mungkin masih ada pengharapan. Tetapi malangnya, mereka berseru, 'Kita kaya dan bertambah-tambah kekayaan, sehingga kami tidak memerlukan apa-apa.'" -- Second Advent Library, Tract No. 39.

Dosa besar yang ditimpakan kepada Babilon adalah bahwa ia telah "memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya." Cawan kemabukan yang diberikan kepada dunia ini melambangkan ajaran-ajaran palsu yang diterimanya sebagai akibat dari hubungan gelapnya dengan para pembesar dunia. Persahabatan dengan dunia telah merusakkan imannya, dan pada gilirannya ia menyebarkan pengaruh kerusakan iman dan kebejatan kepada dunia oleh mengajarkan ajaran-ajaran yang bertentangan dengan pernyataan-pernyataan Alkitab yang begitu sederhana dan jelas.

Roma menahan Alkitab itu dari orang-orang, dan sebagai penggantinya mengharuskan semua orang menerima ajaran-ajarannya. Adalah perjuangan Pembaharuan untuk mengembalikan firman Allah kepada manusia. Tetapi bukankah hal itu benar sekali bahwa dalam gereja-gereja zaman kita orang-orang diajar untuk mengalaskan iman mereka kepada doktrin dan ajaran gereja sebagai gantinya kepada Alkitab? Berbicara mengenai gereja Protestan, Charles Beecher berkata, "Mereka mengelak dari mengucapakan kata-kata kasar melawan ajaran kepercayaan sama seperti bapa-bapa kudus mengelak mengucapkan kata-kata kasar melawan orang-orang kudus dan para syuhada (martir) yang sedang naik daun untuk dipuja, yang mereka telah pelihara . . . . Denominasi penginjilan Protestan begitu terikat satu sama lain, dan juga dengan dirinya sendiri, bahwa di antara mereka semua seseorang tidak bisa menjadi seorang pengkhotbah sama sekali, dimana saja, tanpa menerima beberapa buku disamping Alkitab . . . .

Tidak ada khayalan dalam pernyataan itu, bahwa kekuasaan ajaran atau syahadat gereja sekarang mulai melarang Alkitab sebagaimana yang dilakukan oleh Roma, meskipun dengan cara yang lebih halus." -- Sermon on "The Bible a Sufficient Creed," delivered at Fort Wayne, Indiana, Febr. 22, 1846.

Pada waktu guru-guru yang setia menjelaskan firman Allah, bangkitlah orang-orang terpelajar, pendeta-pendeta yang mengaku mengerti Alkitab, yang mencela doktrin yang kuat dan benar sebagai bida'ah atau ajaran sesat. Dengan demikian membuat orang-orang pencari kebenaran berpaling. Seandainya dunia ini tidak dimabukkan dengan anggur Babilon, maka orang-orang banyak akan diyakinkan dan ditobatkan oleh kebenaran firman Allah yang sederhana, jelas dan menusuk. Akan tetapi kepercayaan keagamaan begitu membingungkan dan bertentangan, sehingga orang tidak mengetahui apa yang harus dipercayai sebagai kebenaran. Dosa pendurhakaan dunia terletak di pintu gereja.

Pekabaran malaikat yang kedua dalam buku Wahyu 14 pertama kali dikabarkan pada musim panas tahun 1844, yang kemudian mempunyai penerapan langsung kepada gereja-gereja di Amerika Serikat, dimana amaran penghakiman begitu luas dikabarkan, dan yang pada umumnya ditolak; dan dimana kemerosotan dalam gereja-gereja begitu cepat terjadinya. Akan tetapi pekabaran malaikat yang kedua itu tidak mencapai kegenapannya yang penuh pada tahun 1844. Gereja-gereja kemudian mengalami kejatuhan moral, sebagai akibat dari penolakan terang pekabaran kedatangan Tuhan. Tetapi kejatuhan itu belum lengkap. Pada waktu mereka terus menolak kebenaran istimewa bagi zaman ini, mereka jatuh semakin dalam dan rendah. Tetapi, belumlah bisa dikatakan bahwa "Babilon sudah rubuh, . . . krena ia memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya." Belum smua bangsa dibuatnya melakukan ini. Roh penyesuaian diri dengan dunia dan tidak perduli menguji kebenaran pada zaman kita, terdapat dan telah berakar di dalam gereja-gereja yang beriman Protestan di seluruh dunia Kekristenan. Dan gereja-gereja ini termasuk dalam celaan serius malaikat yang kedua. Tetapi kemurtadan belum mencapai puncaknya.

Alkitab menyatakan bahwa sebelum kedatangan Tuhan, Setan akan bekerja "disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat." Dan mereka yang " tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka," akan menerima "kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta." (2 Tes. 2:9-11). Setelah keadaan ini dicapai dan persekutuan gereja dengan dunia benar-benar tercapai sepenuhnya di seluruh dunia Kekristenan, barulah kejatuhah Babilon itu lengkap. Perobahan terus berlangsung secara bertahap, dan kegenapan sempurna buku Wahyu 18:8 akan terjadi pada masa yang akan datang.

Walaupun kegelapan kerohanian dan pemisahan diri dari Allah yang terjadi di dalam gereja-gereja, yang membentuk Babilon itu, kelompok besar pengikut Kristus yang benar masih terdapat dalam persekutuan mereka. Banyak dari antara mereka ini yang belum pernah melihat kebenaran khusus zaman ini. Tidak sedikit yang tidak puas dengan keadaan mereka sekarang, dan rindu kepada terang kebenaran yang lebih jelas. Mereka tidak melihat gambaran Kristus di gereja-gereja tempat mereka bergabung. Sementara badan-badan ini berpisah semakin jauh dari kebenaran, dan bersekutu dengan dunia ini, maka perbedaan antara dua golongan akan semakin lebar, dan akhirnya akan mengakibatkan perpisahan. Waktunya akan datang bilamana mereka yang mengasihi Allah tidak lagi berhubungan dengan "mereka yang mengasihi kepelesiran lebih dari pada Allah, yang tampaknya beribadat, tetapi menyangkal kuasa peribadatan itu."

Buku Wahyu 18 menunjuk kepada waktu sebagai akibat penolakan amaran rangkap tiga Wahyu 14:6-14, bilamana gereja mencapai sepenuhnya keadaan yang diramalkan oleh malaikat yang kedua, dan umat Tuhan yang masih berada di Babilon akan dipanggil keluar memisahkan diri dari persekutuannya. Pekabaran itu adalah pekabaran yang terakhir yang pernah diberikan kepada manusia, dan akan mencapai tujuannya. Bilamana mereka yang "tidak percaya akan kebenaran, dan yang suka kejahatan," (2 Tes. 2:12) akan dibiarkan menerima penipuan dan mempercayai kebohongan, kemudian terang kebenaran akan bersinar ke dalam semua hati yang terbuka untuk menerimanya. Dan semua anak-anak Tuhan yang tinggal di Babilon akan mendengarkan panggilan, "Keluarlah daripadanya hai kaum-Ku." (Wahyu 18:4 Terkemahan Lama).


NUBUATAN-NUBUATAN DIGENAPI

~22~
NUBUATAN-NUBUATAN DIGENAPI

Pada waktu kedatangan Tuhan yang diharapkan itu berlalu -- pada musim semi 1844 -- tanpa terjadi apa-apa, mereka yang dengan iman menantikan kedatangan-Nya, untuk sementara dilanda kebimbangan dan ketidakpastian. Sementara dunia ini menganggap mereka telah kalah telak dan terbukti menjadi korban penipuan, sumber konsolidasi mereka masih tetap firman Allah. Banyak yang terus menyelidiki Alkitab, memeriksa kembali tanda-tanda dan bukti-bukti iman mereka, dan dengan seksama menyelidiki dan mempelajari nubuatan-nubuatan untuk mendapatkan terang lebih jauh. Kesaksian Alkitab yang mendukung posisi mereka tampak jelas dan meyakinkan. Tanda-tanda yang tidak bisa salah menunjukkan kedatangan Kristus sebagai sudah dekat. Berkat khusus dari Tuhan, baik dalam pertobatan orang-orang berdosa maupun kebangunan kehidupan kerohanian orang-orang Kristen, telah menyaksikan bahwa pekabaran itu datangnya dari Surga. Dan walaupun orang-orang percaya itu tidak dapat menerangkan kekecewaan mereka, mereka merasa yakin bahwa Allah telah menutnun mereka dalam pengalaman-pengalaman masa lalu.

Dijalin dengan nubuatan-nubuatan yang mereka anggap sebagai yang diterapkan pada kedatangan kedua kali, adalah ajaran atau petunjuk yang khusunya sesuai dengan keadaan mereka yang tidak menentu dan dalam keadaan tegang, dan mendorong mereka menunggu dengan sabar dalam iman bahwa apa yang sekarang gelap kepada pengertia mereka akan menjadi jelas pada waktunya.

Di antara nubuatan-nubuatan itu yang terdapat dalam Habakuk 2:1-4, "Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku. Lalu Tuhan menjawab aku demikian: Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya. Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh. Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya."

Pada permulaan tahun 1842, petunjuk yang diberikan dalam nubuatan ini "tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh supaya orang sambil lalu dapat membacanya," telah mendorong Charles Fitch untuk menerbitkan satu peta nubuatan untuk menggambarkan penglihatan Daniel dan Wahyu. Penerbitan peta ini dianggap sebagai kegenapan perintah yang diberikan oleh Habakuk. Namun, tak seorangpun memperhatikan bahwa penundaan pelakasanaan penglihatan itu -- waktu menunggu -- ada dinyatakan dalam nubuatan yang sama. Setelah kekecewaan itu, maka ayat ini tampak jelas, "Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab ia sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh . . . . Orang benar akan hidup oleh percayanya" (Habakuk 2:1-4).

Sebahagian dari nubuatan Jehezkiel juga menjadi sumber kekuatan dan penghiburan bagi orang-orang percaya: Lalu datanglah firman Tuhan kepadaku, "Hai anak manusia, sindiran apakah itu yang hidup di antara kamu di tanah Israel yang berbunyi sudah lama berselang tetapi satu penglihatanpun tak jadi? Oleh sebab itu katakanlah kepada mereka: Beginilah firman Tuhan Allah: Aku akan menghentikan sindirian ini dan orang tidak akan mengucapkannya lagi ditanah Israel. Sebaliknya katakanlah kepada mereka: Waktunya sudah dekat dan tiap penglihatan akan jadi. Sebab tidak akan ada lagi penglihatan yang menipu ataupun tenungan yang menyesatkan di tengah-tengah kaum Israel, sebab Aku Tuhan, akan berfirman dan apa yang Kufirmankan akan terjadi dan firman itu tidak akan ditunda-tunda lagi, sebab masa hidupmu, hai kamu pemberontak, Aku akan mengucapkan suatu firmn dan Aku akan menggenapinya, demikianlah firman Tuhan Allah." (Yehez. 12:21-25,27-28).

Mereka yang sedang menantikan bersukacita, percaya bahwa Ia yang mengetahui akhir dari permulaan telah memelihara mereka sepanjang zaman dan yang melihat sebelumnya kekecewaan mereka, telah memberikan kepada mereka keberanian dan pengharapan. Kalau bukan bagian ayat-ayat Alkitab yang seperti ini, yang mengingatkan mereka agar menunggu dengan sabar dan berpegang teguh pada firman Allah, iman mereka sudah gagal dalam cobaan seperti itu.


Perumpamaan sepuluh anak dara dalam Matius 25 juga menggambarkan pengalaman orang-orang yang percaya kepada kedatangan Tuhan (orang-orang Advent). Dalam Matius 24, dalam jawaban kepada pertanyaan murid-murid-Nya mengenai tanda-tanda kedatangan-Nya dan akhir dari dunia ini, Kristus telah menunjukkan beberapa peristiwa-peristiwa paling penting dalam sejarah dunia ini dan sejarah gereja mulai dari kedatangan-Nya yang pertama sampai kepada kedatangan-Nya yang kedua, seperti kebinasaan Yerusalem, kesusahan besar yang menimpa gereja di bawah penganiayaan kekafiran dan kepausan, gelapnya matahari dan bulan, dan jatuhnya bintang-bintang. Setelah itu Ia berbicara mengenai kedatangan-Nya dalam kerajaan-Nya, dan menghubungkan dengan kedua golongan hamba yang menantikan kedatangan-Nya. Fatsal dua puluh lima dimulai dengan kata-kata, "Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis." Di sini diungkapkan kehidupan gereja pada akhir zaman, sama seperti yang ditunjukkan pada penghabisan fatsal 24. Dalam perumpamaan ini pengalaman mereka digambarkan dalam satu peristiwa pernikahan cara Timur.

"Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima diantaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!"

Kedatangann Kristus, sebagaimana diumumkan oleh pekabaran malaikat yang pertama, diketahui dilambangkan oleh kedatangan mempelai laki-laki. Pembaharuan yang meluas melalui pemberitaan kedatangan-Nya yang segera menerangkan arti kepergian gadis-gadis itu. Dalam perumpamaan ini, sebagaimana halnya dalam Matius 24, ada dua golongan yang ditunjukkan. Semua telah membawa pelitanya, Alkitab, dan oleh terangnya pergi keluar menyambut mempelai. Tetapi sementara "gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak," "gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka." Golongan yang terakhir ini telah menerima kasih karunia Allah, kuasa Roh Kudus yang menerangi dan membaharui, yang membuat firman-Nya jadi lampu kepada kakinya dan terang kepada jalannya. Dalam takut akan Allah mempelajari Alkitab untuk mengetahui kebenaran dan dengan sungguh-sungguh berusaha agar mempunyai hati dan hidup yang murni dan bersih. Mereka mempunyai pengalaman pribadi, iman kepada Allah dan kepada firman-Nya, yang tidak bisa dihilangkan oleh kekecewaan dan penangguhan kedatangan Kristus. Yang lain "membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak." Mereka tergerak hanya oleh dorongan hati. Rasa takut mereka telah dibangkitkan oleh pekabaran yang sungguh-sungguh, tetapi mereka bergantung kepada iman saudara-saudaranya tanpa mengerti kebenaran sepenuhnya, atau tanpa kasih karunia sejati bekerja di dalam hatinya. Mereka ini pergi menyambut Tuhan dengan pengharapan penuh pada prospek upah yang segera. Tetapi mereka tidak bersedia dan bersiap bagi penangguhan dan kekecewaan. Bilamana pencobaan datang, iman mereka gagal dan terang mereka padam.

"Tetapi karena mempelai itu tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur." Penangguhan kedatangan mempelai laki-laki adalah mengumpamakan berlalunya waktu yang diharapkan Tuhan datang, kekecewaan dan sepertinya penangguhan. Dalam masa yang tidak tentu ini, orang-orang yang perhatiannya tidak mendalam dan yang setengah-setengah hati segera mulai goyang, dan usaha-usaha mereka mengendor. Tetapi mereka yang imannya didasarkan atas pengetahuan pribadi Alkitab, mempunyai batu karang yang teguh tempatnya berpijak, yang tidak bisa dihanyutkan oleh gelombang kekecewaan. "Mengantuklah mereka semua, lalu tertidur." Satu kelompok tidak perduli dan meninggalkan iman mereka, dan satu kelompok lain menunggu dengan tabah dan sabar sampai terang yang lebih jelas diberikan. Tetapi, pada malam pencobaan itu kelompok terakhir ini, sebegitu jauh, kehilangan semangat dan penyerahan mereka. Orang-orang yang setengah hati dan yang mempunyai pengetahuan yang dangkal tidak boleh lagi bersandar kepada iman saudara-saudaranbya. Masing-masing harus berdiri atau jatuh atas dirinya sendiri.

Kira-kira pada waktu ini, fanatisisme mulai muncul. Beberapa orang yang mengaku percaya sungguh-sungguh pada pekabaran itu, menolak firman Allah sebagai penuntun yang mutlak atau tidak bisa salah, dan menyatakan dituntun oleh Roh, menyerahkan dirinya dikendalikan oleh perasaan, kesan dan imaginasi mereka sendiri. Sebagian menampakkan kesungguh-sungguhan yang buta dan fanatisisme sempit, menolak semua orang yang tidak setuju pendapat mereka. Pendapat-pendapat dan kekhawatiran fanatik mereka tidak mendapat simpati dari pengikut-pengikut Advent yang besar itu. Namun, mereka menjadi celaan bagi kepentingan kebenaran.

Dengan cara ini Setan berusaha untuk menentang dan menghancurkan pekerjaan Allah. Orang-orang sangat digemparkan oleh pergerakan advent. Ribuan orang-orang berdosa bertobat dan orang-orang yang setia dengan rela bekerja menyiarkan kebenaran, bahkan pada masa penangguhan itu. Raja kejahatan kehilangan pengikutnya, dan untuk mendatangkan celaan kepada pekerjaan Allah, ia berusaha menipu beberapa orang yang mengaku beriman, dan mendorong mereka melampaui batas atau ekstrim. Dan kemudian agen-agennya siap untuk menangkap setiap kesalahan, setiap kegagalan, setiap tindakan yang tidak sesuai atau tidak senonoh dan mengangkatnya tinggi-tinggi di hadapan orang-orang dan dibesar-besarkan agar orang-orang Advent itu dan imannya dibenci orang. Dengan demikian, semakin banyak jumlah mereka yang bisa dikumpulkan membuat pengakuan iman pada kedatangan Kristus kedua kali sementara kuasanya mengendalikan hati mereka, semakin besar keuntungan yang akan diperoleh oleh menarik perhatian kepada mereka sebagai wakil dari seluruh umat percaya.


Setan adalah "pendakwa saudara-saudara" (Wah. 12:10), dan adalah roh Setan yang mengilhami orang-orang untuk memperhatikan kesalahan-kesalahan dan kekurangan-kekurangan umat Allah, dan menunjukkannya dan menyiarkannya kepada orang-orang lain, sementara perbuatan-perbuatan baik mereka berlalu tanpa disebut-sebut. Setan selalu giat pada waktu Allah bekerja bagi keselamatan jiwa-jiwa. Pada waktu anak-anak Allah datang berkumpul di hadirat Tuhan, Setan juga menyusup bersama mereka. Pada setiap kebangunan rohani ia siap sedia membawa mereka yang tidak disucikan hatinya dan yang pikirannya tidak seimbang. Pada waktu orang-orang ini menerima beberapa bagian dari kebenaran, Setanpun bekerja melalui mereka untuk mengemukakan teori-teori yang akan menipu orang yang tidak waspada. Tak seorangpun terbukti menjadi seorang Kristen yang benar hanya karena ia berada di antara anak-anak Allah, bahkan di rumah perbaktian sendiri dan di sekeliling meja perjamuan Tuhan. Setan sering di sana pada saat-saat yang paling khidmat dalam bentuk mereka yang bisa dipakainya sebagai agennya.

Raja kejahatan memperebutkan setiap inci kemajuan dimana umat Tuhan maju dalam perjalanan mereka menuju kota surgawi. Sepanjang sejarah gereja tidak ada kemajuan pembaharuan yang diperoleh tanpa menemui hambatan yang serius. Demikian juga pada zaman Paulus. Dimana saja rasul itu membangun sebuah gereja, di sana ada beberapa orang yang mengaku menerima iman, tetapi yang membawa ajaran yang menyimpang atau bida'ah, yang jika di terima akan menghilangkan kecintaan kepada kebenaran. Luther juga menderita kebingungan dan tekanan besar dari orang-orang fanatik yang mengatakan bahwa Allah telah berbicara lansung melalui mereka, yang, lalu menetapkan buah pikiran dan pendapat-pendapat mereka di atas kesaksian Alkitab. Banyak yang kurang iman dan pengalaman, tetapi yang merasa cukup percaya pada diri sendiri dan yang suka mendengar dan menceriterakan sesuatu yang baru, diperdaya oleh keangkuhan guru-guru baru, dan bergabung dengan agen-agen Setan dalam kerjanya merobek-robek apa yang Allah suruh Luther bangun. Begitu juga Wesley bersaudara dan yang lain-lain, yang telah menjadi berkat bagi dunia oleh pengaruh dan iman mereka, menemui tipu muslihat Setan dalam setiap langkahnya. Setan mendorong orang-orang yang terlalu bersemangat, yang tidak berpikiran stabil, dan yang tidak disucikan menjadi fanatik dalam berbagai tingkatan.

William Miller tidak bersimpati dengan pengaruh-pengaruh yang menuntun kepada kefanatikan. Ia menyatakan, bersama Luther, bahwa setiap roh harus diuji dengan firman Allah. "Sijahat itu," kata Miller, "mempunyai kuasa besar atas pikiran sebagian orang sekarang ini. Dan bagaimanakah kita tahu jenis roh yang ada pada mereka? Alkitab menjawab, 'Dari buahnya kamu mengetahui' . . . . Ada banyak roh yang pergi ke dunia ini. Dan kita disuruh untuk menguji roh-roh itu. Roh yang tidak membuat kita hidup sungguh-sungguh dan tenang, benar, dan saleh di dunia sekarang ini, ia bukan Roh Kristus. Saya semakin yakin bahwa Setan memegang peranan penting dalam gerakan pengacauan ini . . . . Banyak di antara kita, yang pura-pura disucikan seluruhnya, mengikuti tradisi manusia, dan nyata-nyata adalah bodoh mengenai kebenaran seperti yang lain-lain yang tidak berpura-pura." -- Bliss, "Memoirs of Wm. Miller," pp 236,237,282. "Roh kesalahan akan menuntun kita jauh dari kebenaran. Dan Roh Allah akan menuntun kita ke dalam kebenaran. Tetapi, katamu, seseorang mungkin bersalah, tetapi berpikir bahwa ia mempunyai kebenaran. Lalu apa? Kami menjawab, 'Bahwa Roh dan Firman itu tidak bertentangan'. Jikalau seseorang memyakinkan dirinya sendiri dengan firman Allah dan menemukan keharmonisan yang sempurna dengan seluruh firman itu, ia boleh percaya bahwa ia mempunyai kebenaran. Tetapi jikalau ia temukan roh yang menuntunnya itu tidak harmonis atau selaras dengan seluruh maksud hukum atau buku Allah, maka baiklah ia berhati-hati berjalan, agar jangan tertangkap jerat sijahat." -- The Advent Herald and Signs of the Times Reporter, Vol. VIII, No. 23 (Jan. 15, 1845), "Saya sering mendapatkan lebih banyak bukti kesalehan dalam hati melalui mata yang bersinar, pipi yang basah, dan ucapan yang tersendat-sendat dari pada semua suara gaduh dalam dunia Kristen." -- Bliss, "Memoirs of Wm. Miller," pp.236,237,282.

Pada zaman Pembaharuan musuh-musuhnya menuduhkan semua kejahatan kefanatikan kepada orang-orang yang berusaha sungguh-sungguh menentang kefanatikan itu. Cara yang sama ditempuh oleh penentang-penentang pergerakan advent. Kaum ekstremis dan kaum fanatik tidak puas dengan salah melukiskan dan membesar-besarkan kesalahan, mereka menyebarkan laporan-laporan palsu yang sama sekali tidak mempunyai kemiripan dengan kebenaran. Orang-orang ini digiatkan oleh prasangka buruk dan kebencian. Ketenangan mereka diganggu oleh pemberitaan kedatangan Kristus yang sudah di muka pintu. Mereka takut kalau-kalau itu benar, namun masih berharap supaya tidak benar, dan inilah rahasia pertentangan mereka melawan orang-orang Advent dan kepercayaan mereka.

Fakta bahwa orang-orang fanatik berusaha menjadi sejajar dengan orang Advent sehingga tidak lagi menjadi alasan mengatakan bahwa gerakan itu tidak berasal dari Allah seperti kehadiran orang-orang fanatik dan penipu-penipu dalam gereja pada zaman Paulus atau Luther menjadi alasan yang cukup untuk mengutuk pekerjaan mereka. Biarlah umat Allah bangun dari tidurnya, dan memulai pekerjaan pertobatan dan pembaharuan yang sungguh-sungguh. Biarlah mereka menyelidiki Alkitab untuk mengetahui kebanaran yang di dalam Kristus. Biarlah mereka mengadakan penyerahan yang menyeluruh kepada Allah, sehingga tidak lagi ada tanda-tanda bahwa Setan masih giat dan siap siaga. Setan akan menunjukkan kuasanya dengan berbagai macam penipuan yang mungkin menggerakkan seluruh malaikat yang sudah jatuh untuk membantunya.


Bukanlah pekabaran kedatangan kedua kali yang menimbulkan kefanatikan dan perpecahan. Hal ini nyata pada musim panas 1844 pada waktu orang-orang Advent berada dalam keadaan ragu dan bingung mengenai posisi mereka yang sebenarnya. Penyiaran pekabaran malaikat yang pertama dan "seruan tengah malam" cenderung secara langsung menindas kefanatikan dan pertikaian. Orang-orang yang turut dalam gerakan yang sungguh-sunmgguh ini hidup secara harmonis. Hati mereka dipenuhi kasih satu sama lain dan kasih kepada Yesus, yang mereka harapkan kedatangan-Nya yang segera. Hal satu iman, satu pengharapan yang berbahagia mengangkat mereka mengatasi pengendalian setiap pengaruh manusia, dan terbukti sebagai perisai melawan serangan-serangan Setan.

"Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, maka mengantuklah mereka semua, lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka." (Matius 25:5-7). Pada musim panas tahun 1844, yaitu pertengahan antara musim panas dan musim gugur pada tahun itu juga, waktu yang diperkirakan sebelumnya nubuatan 2300 hari akan berakhir,, yang kemudian diketahui diperpanjang, pekabaran itu disiarkan dalam kata-kata Alkitab, 'Mempelai datang! Songsonglah dia!'"

Yang menuntun kepada pergerakan ini ialah karena ditemukan bahwa dekrit Artahsasta mengenai pembangunan kembali Yerusalem yang menjadi permulaan masa 2300 hari itu, mulai berlaku pada musim gugur tahun 457 SM, dan bukan pada permulaan tahun sebagaimana dipercayai sebelumnya. Dengan menghitung mulai dari musim gugur 457 SM, yang 2300 tahun (hari) itu akan berakhir pada musim gugur tahun 1844 -- Diagram opposite page 328; also Appendix.

Argumentasi yang dikutip dari lambang-lambang Perjanjian Lama juga menunjuk kepada musim gugur sebagai peristiwa yang dilambangkan dengan "penyucian kaabah" yang harus terjadi. Hal ini sangat jelas jika diperhatikan cara yang berhubungan dengan kedatangan pertama digenapi.

Penyembelihan Domba Paskah adalah bayang-bayang kematian Kristus. Paulus berkata, "Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus." (1Kor. 5:7). Berkas buah-buah sulung yang pada waktu Paskah dilambai-lambaikan di hadirat Tuhan adalah lambang kebangkitan Kristus. Paulus berkata mengenai kebangkitan Tuhan dan umat-umat-Nya, "Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya." (1 Kor. 15:23).

Seperti berkas-berkas yang dilambai-lambaikan itu, yaitu buah-buah yang pertama masak yang dikumpulkan sebelum musim menuai, Kristuslah buah sulung dari penuaian kekal umat tebusan yang pada kedatangan-Nya kelak akan dikumpulkan ke dalam lumbung Tuhan.

Lambang ini sudah digenapi bukan saja peristiwanya tetapi juga waktunya. Pada hari ke empat belas bulan yang pertama orang Yahudi pada hari dan bulan mana domba Paskah disembelih selama lima belas abad, Kristus, pada waktu memakan Paskah bersama murid-murid-Nya, memulaikan pesta yang memperingati kematian-Nya sendiri sebagai "anak domba Allah yang mengangkut dosa isi dunia ini." Pada malam itu juga ia telah ditangkap oleh tangan-tangan jahat untuk disalibkan dan dibunuh. Dan sebagai yang dilambangkan berkas buah sulung yang dilambaikan itu, Tuhan kita telah dibangkitkan dari kematian pada hari yang ketiga, "sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal! (1 Kor. 15:20), sebagai contoh dari semua orang-orang benar yang dibangkitkan, yang mempunyai tubuh yang hina akan diubahkan, "sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia." (Fil. 3:21).

Dengan cara yang sama, lambang-lambang yang berhubungan dengan kedatangan kedua kali harus digenapi pada waktu yang ditentukan dalam lambang upacara kaabah. Di bawah tatanan Musa, penyucian kaabah, atau hari garfirat atau hari Pendamaian, dilakukan pada hari ke sepuluh bulan yang ke tujuh penanggalan Yahudi (Imamat 16:29-34). Pada waktu imam besar keluar dari dalam kaabah dan memberkati orang Israel setelah ia menadakan penyucian bagi semua bangsa itu, dan dengan demikian menghapuskan dosa mereka dari dalam kaabah. Jadi dipercayai bahwa Kristus, Imam Besar Agung kita, akan datang untuk menyucikan dunia ini oleh membinasakan dosa dan orang-orang berdosa, dan memberkati umat-Nya yang menantikan-Nya dengan berkat kekekalan. Hari kesepuluh dari bulan ketujuh, hari besar penyucian, hari Grafirat, waktu penyucian kaabah, yang pada tahun 1844 jatuh pula tanggal 22 Oktober, dianggap sebagai hari kedatangan Tuhan. Ini sesuai dengan bukti-bukti yang sudah dikemukakan, bahwa masa 2300 hari akan berakhir pada musim gugur, dan kesimpulan itu kelihatannya tidak dapat ditolak.

Dalam perumpamaan Marius 25, masa menunggu dan mengantuk diikuti oleh kedatangan mempelai laki-laki. Ini sesuai dengan argumentasi yang baru saja dikemukakan, baik dari nubuatan maupun dari lambang-lambang. Keduanya membawa keyakinan yang kuat akan kegenapannya, dan "seruan di tengah malam" itu telah disiarkan oleh ribuan orang percaya.


Bagaikan gelombang pasang, pergerakan ini menyapu seluruh negerei. Dari kota ke kota, dari kampung ke kampung dan ke tempat-tempat yang jauh terpencil pekabaran itu disampaikan, sampai umat Tuhan yang menunggu benar-benar dibangunkan. Kefanatikan lenyap sebelum pengumuman ini bagaikan embun pagi sebeleum matahari terik. Orang-orang percaya melihat kebingungan dan kebimbangan mereka dibuangkan, dan pengharapan serta keberanian menggerakkan hati mereka. Pekerjaan ini terbebas dari ekstrim yang biasanya selalu menandai bilamana kebangunan manusia tanpa pengendalian pengaruh firman dan Roh Allah. Sama halnya dengan orang Israel zaman dahulu yang merendahkan diri dan kembali kepada Tuhan setelah adanya pekabaran teguran dari hamba-hamba Tuhan. Pekerjaan itu mempunyai ciri yang menandai pekerjaan Allah pada segala zaman. Hanya sedikit saja perasaan sangat gembira, tetapi lebih suka menyelidiki hati, pengakuan dosa, dan melupakan keduniawaian. Beban roh mereka yang menderita adalah persiapan untuk bertemu dengan Tuhan. Ada doa untuk ketabahan, dan penyerahan tanpa pamrih kepada Allah.

Miller berkata, dalam menjelaskan pekerjaan itu, "Tidak ada pernyataan sukacita yang besar: yaitu sepertinya disembunyikan untuk peristiwa di masa datang, di mana semua Surga dan dunia akan bersukacita bersama dengan sukacita yang tak terucapkan dan yang penuh kemuliaan. Tidak ada teriakan: inipun, dicadangkan bagi teriakan dari Surga. Penyanyi-penyanyi diam: mereka menunggu untuk bergabung dengan rombongan malaikat, paduan suara dari Surga . . . . Tidak ada bentrokan perasaan: semua sehati dan sepikir." -- Bliss, "Memoirs of Wm. Miller," pp. 270,271. Seorang lain yang berpatisipasi dalam pergerakan ini menyaksikan, "Dimana-mana gerakan itu menghasilkan penyelidikan hati yang mendalam dan merendahkan jiwa di hadirat Allah Yang Mahatinggi. Gerakan itu menyebabkan berhenti mengasihi perkara-perkara duniawi, menyembuhkan pertentangan dan perselisihan, mengakui kesalahan-kesalahan, semua dinyatakan di hadirat Allah; dan orang-orang yang menyesal dan mau bertobat dan yang hancur hatinya, memohon pengampunan dan penerimaan dari Allah. Gerekan itu menyebabkan orang merendahkan diri dan jiwa seperti yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Sebagaimana Allah memerintahkan melalui nabi Yoel, pada waktu hari Allah yang besar itu sudah dekat, orang-orang merobek hatinya dan bukan pakaiannya, dan berbalik kepada Allah dengan berpuasa dan menangis serta berkabung. Sebagaimana Allah berkata melalui nabi Zakaria, roh karunia dan permohonan dicurahkan ke atas anak-anak-Nya; mereka memandang kepada Dia yang telah mereka tikam, sehingga ada dukacita besar di negeri itu . . . dan mereka yang memandang kepada Tuhan menderita jiwa mereka dihadapan-Nya." -- Bliss, in Adventist Shield and Riview, Vol. I, p. 271 (Jan. 1845).

Dari semua pergerakan keagamaan besar sejak zaman rasul-rsaul, tidak ada yang lebih terbebas dari ketidaksempurnaan manusia dan tipu muslihat Setan daripada musim gugur 1844 itu. Bahkan sekarangpun setelah berselang beberapa tahun, semua yang ambil bagian dalam pergerakan itu dan yang telah beridiri teguh di atas landasan kebenaran, masih merasakan pengaruh kudus pekerjaan yang berbahagia itu, dan menyaksikan bahwa pergerakan itu datang dari Allah.

Pada waktu panggilan, "Mempelai datang! Songsonglah Dia!" yang menunggu "bangun semuanya, lalu membereskan pelita mereka." Mereka mempelajari firman Allah dengan perhatian yang sungguh-sungguh yang sebelumnya belum diketahui. Malaikat-malaikat dikirimkan dari Surga untuk membangunkan mereka yang tawar hati, dan menyediakan mereka untuk menerima pekabaran itu. Pekerjaan itu tidak bergantung kepada kebijaksanaan dan pengetahuan manusia, tetapi kepada kuasa Allah. Bukanlah orang yang paling berbakat, tetapi orang yang paling rendah hati dan yang paling berserah yang pertama sekali mendengar dan menuruti panggilan itu. Para petani meninggalkan tanamannya di ladang, ahli mekanik meletakkan peralatan mereka, dan dengan air mata dan sukacita mereka pergi keluar memberitakan amaran itu. Mereka yang dulunya memimpin pekerjaan ini adalah di antara orang yang terakhir yang bergabung dengan pergerakan ini. Pada umumnya gereja-gereja menutup pintu kepada pekabaran ini, dan sekelompok besar yang menerima pekabaran itu menarik diri dari persekutuan. Dengan pertolongan Allah, penyiaran ini bersatu dengan pekabaran malaikat yang kedua, dan memberikan kuasa kepada pekerjaan itu.

Pekabaran, "Mempelai datang! Songsonglah Dia!" bukanlah masalah argumentasi walaupun bukti Alkitab jelas dan nyata. Bersama seruan itu ada kuasa yang mendorong yang menggerakkan jiwa. Tidak ada keragu-raguan dan tidak ada yang perlu dipertanyakan. Pada peristiwa kemenangan Kristus memasuki kota Yerusalem, orang-orang yang berkumpul dari segala penjuru untuk merayakan pesta, berkumpul di Bukit Zaitun, dan pada waktu mereka bergabung dengan khalayak ramai yang mengikuti Yesus, mereka mendapat inspirasi saat itu dan turut berseru, "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!" (Matius 21:9). Demikianlah juga orang-orang yang tidak percaya yang datang berkumpul pada pertemuan-pertemuan orang Advent, sebagian karena ingin tahu, sebagian semata-mata cuma mau mencemoohkan saja, -- merasakan kuasa yang memyakinkan menolong pekabaran itu, "Mempelai datang! Songsonglah Dia!"

Pada waktu itu ada iman yang membawa jawaban kepada doa, -- iman yang menghargai yang membawa upah. Seperti curahan hujan ke atas tanah yang kering, Roh karunia turun ke atas orang-orang yang mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Mereka yang mengharapkan segera berdiri muka dengan muka dengan Penebus mereka, merasakan sukacita yang sungguh-sungguh yang tak terucapkan. Kuasa melembutkan dan menaklukkan dari Roh Kudus melelehkan hati, pada waktu berkat-berkat-Nya dikaruniakan dengan limpahnya kepada yang setia dan percaya.


Dengan hati-hati dan sungguh-sungguh mereka yang menerima pekabaran itu, sampai pada waktu dimana mereka mengharap bertemu dengan Tuhan mereka. Pada setiap pagi mereka merasakan bahwa adalah kewajiban mereka yang pertama untuk memastikan penerimaan mereka akan Allah. Hati mereka dipersatukan dengan erat, dan mereka banyak berdoa bersama orang orang lain dan untuk satu sama lain. Mereka sering bertemu di tempat-tempat terasing untuk bergaul dengan Allah, dan suara pengantaraan atau syafaat naik ke Surga dari ladang-ladang dan dari hutan-hutan. Kepastian perkenan Juru Selamat lebih penting bagi mereka daripada makanan mereka sehari-hari. Dan jikalau awan menggelapkan pikiran mereka, mereka tidak akan berhenti sebelum awan itu berlalu. Sementara mereka merasakan kesaksian karunia yang mengampuni itu, mereka rindu untuk melihat Dia yang dikasihi jiwa mereka.

Tetapi sekali lagi mereka terpaksa mengalami kekecewaan. Waktu yang diharap-harapkan berlalu, dan Juru selamat tidak kelihatan. Dengan keyakinan yang tidak goyang mereka telah mengharapkan kepada kedatangan-Nya, dan sekarang mereka merasa seperti Maryam pada waktu datang ke kubur Yesus Juru Selamat itu dan mendapati kubur itu kosong, ia berseru sambil menangis, "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu dimana Ia diletakkan." (Yoh. 20:13).

Suatu perasaan luar biasa, suatu ketakutan bahwa pekabaran itu mungkin benar, yang untuk sementara waktu telah menjadi kekang bagi dunia yang tidak percaya. Setelah berlalunya waktu, hal ini tidak hilang dengan segera. Pada mulanya mereka yang tidak percaya itu tidak berani menunjukkan perasaan menang atas mereka yang kecewa. Tetapi pada waktu tanda-tanda murka Allah tidak tampak, maka hilanglah rasa takut mereka, dan kembali mereka mencela dan mencemooh. Sekelompok besar orang yang telah mengaku percaya pada kedatangan Tuhan yang segera, meninggalkan iman mereka. Beberapa orang yang begitu yakin akan kedatangan Tuhan itu terluka sangat dalam oleh karena kesombongan mereka sehingga mereka ingin melarikan diri dari dunia ini. Seperti nabi Yunus, mereka mengeluh kepada Allah, dan ingin mati saja daripada hidup. Mereka yang mendasarkan imannya atas pendapat orang-orang lain dan bukan atas firman Allah, sekarang siap untuk mengubah pandangan mereka. Orang pengolok-olok memenangkan orang yang lemah dan pengecut ini kedalam kelompok mereka, dan semua ini bersatu menyatakan bahwa tidak ada lagi ketakutan atau pengharapan kedatangan Tuhan. Waktu sudah berlalu, Tuhan tidak datang, dan dunia mungkin akan tetap sama selama ribuan tahun lagi.

Orang-orang percaya yang sungguh-sungguh dan setia telah mengorbankan segalanya bagi Kristus, dan telah merasakan hadirat-Nya seperti belum pernah sebelumnya. Mereka percaya telah memberikan amaran terakhir kepada dunia ini, dan berharap akan diterima dengan segera ke dalam persekutuan Tuhan dengan malaikat-malaikat surgawi. Sedemikian jauh mereka telah menarik diri dari persekutuan orang-orang yang tidak menerima pekabaran itu. Dengan kerinduan yang sungguh-sungguh mereka berdoa, "Datanglah Tuhan Yesus, datanglah segera." Tetapi Ia tidak datang. Dan sekarang mereka harus menanggung kembali beban berat kehidupan dan kebingungan, dan menanggung cemoohan, dan ejekan para pencemooh dunia ini merupakan cobaan berat iman dan kesabaran mereka.

Tetapi kekecewaan ini tidak sebesar yang dialami oleh murid-murid pada waktu kedatangan Kristus yang pertama. Pada waktu Yesus mengendarai seekor keledai dengan kemenangan memasuki kota Yerusalem, para pengikut-Nya percaya bahwa ia sudah mau menduduki takhta Daud dan membebaskan orang-orang Israel dari penindas-penindasnya. Dengan harapan-harapan yang tinggi dan antisipasi sukacita, mereka berlomba satu sama lain untuk menunjukkan penghormatan kepada Raja mereka. Banyak yang membentangkan pakaian mereka sebagai karpet di jalan yang akan dilalui-Nya , atau menyebarkan daun-daun palem dihadapan-Nya. Dalam sukacita mereka yang sangat besar, mereka bersatu dan berseru dengan gembira, "Hosana bagi anak Daud!" Pada waktu orang-orang Farisi terganggu dan marah oleh karena luapan kegembiraan besar ini, mereka meminta agar Yesus menegur murid-murid-Nya itu. Yesus menjawab, "Aku berkata kepadamu, jika mereka ini diam, maka batu-batu ini akan berteriak." (Luk. 19:40). Nubuatan harus digenapi. Murid-murid itu sedang melaksanakan rencana Allah, namun mereka menderita kekecewaan pahit. Tetapi beberapa hari telah berlalu sebelum mereka menyaksikan kematian Juru Selamat yang memilukan itu dan meletakkan-Nya di dalam kubur. Yang mereka nantikan belum terwujud sedikitpun, pada hal semua harapan-harapan mereka telah sirna bersama Yesus. Mereka tidak mengerti sebelum Tuhan mereka keluar dari kubur dalam kemenangan, bahwa semua telah diramalkan terlebih dahulu oleh nubuatan, dan "bahwa Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati." (Kis. 17:3).

Lima ratus tahun sebelumnya, Tuhan telah menyatakan melalui nabi Zakaria, "Bersorak-soraklah dengan nyaring hai putri Sion, bersorak-soraklah, hai putri Yerusalem! Lihat rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda." (Zak. 9:9). Sekiranya murid-murid itu menyadari bahwa Kristus akan dihakimkan dan dibunuh, mereka tidak akan menggenapi nubuatan ini.

Dengan cara yang sama, Miller dan rekan-rekannya menggenapi nubuatan dan menyampaikan suatu pekabaran yang telah diramalkan oleh Ilham Allah yang harus disampaikan kepada dunia ini. Tetapi mereka tidak dapat menyampaikan pekabaran itu sekiranya mereka mengeri dengan sepenuhnya nubuatan-nubuatan yang menunjukkan kekecewaan mereka, dan menyampaikan pekabaran yang lain untuk diberitakan kepada segala bangsa sebelum Tuhan datang. Pekabaran malaikat yang pertama dan kedua diberikan pada waktu yang tepat, dan menyelesaikan pekerjaan yang dirancang Allah untuk diselesaikan oleh mereka.


Dunia sedang mengharapkan dan menantikan bahwa jika waktu berlalu dan Kristus tidak datang, maka seluruh sistem Adventisme akan menyerah dan ditinggalkan. Tetapi sementara banyak yang meninggalkan iman mereka, di bawah cobaan yang keras, ada sebagian orang yang tetap berdiri teguh. Buah-buah Pergerakan Advent itu, roh kerendahan dan penyelidikan hati, roh penolakan dunia dan roh pembaharuan hidup yang telah membantu pekerjaan, menyaksikan semuanya itu berasal dari Allah. Mereka tidak berani menyangkal bahwa kuasa Roh Suci telah menyaksikan penyiaran kedatangan Tuhan kedua kali, dan mereka tidak dapat menemukan kesalahan dalam perhitungan-perhitungan mereka mengenai masa-masa nubuatan. Penentang yang paling keras dan mampupun tidak berhasil menjatuhkan sistem penafsiran nubuatan mereka. Mereka tidak dapat menyetujui, tanpa bukti-bukti dari Alkitab, utnuk meninggalkan pendirian yang telah dicapai dengan penyelidikan Alkitab yang sungguh-sungguh dan penuh doa, dan dengan pikiran yang diterangi oleh Roh Allah, dan hati yang telah dibakar oleh kuasa-Nya yang hidup. Pendirian yang telah menahan kritik yang paling pedas dan perlawanan pahit dari guru-guru agama dan kaum cendekiawan dunia, dan yang telah berdiri teguh melawan kekuatan gabungan ilmu dan kefasihan berbicara, dan begitu juga ejekan penghinaan kaum terhormat maupun yang hina.

Benar ada kegagalan dalam hal kejadian yang dinantikan, tetapi inipun tidak bisa menggoyahkan iman mereka atas firman Allah. Pada waktu Yunus memberitakan di jalan-jalan kota Niniwe bahwa dalam waktu empat puluh hari kota itu akan dimusnahkan, Tuhan berkenan menerima pertobatan orang-orang Niniwe, dan memperpanjang masa percobaan mereka. Namun, pekabaran Yunus adalah berasal dari Allah, dan Niniwe diuji sesuai dengan kehendak-Nya. Orang-orang Advent percaya bahwa sama seperti itu Allah telah menuntun mereka untuk memberikan amaran penghakiman. Mereka menyatakan, "Pekabaran itu telah menguji hati semua orang yang mendengarkannya, dan membangunkan suatu kerinduan kepada kedatangan Tuhan. Atau hal itu mendatangkan kebenaran, lebih atau kurang mengetahui mengenai kedatangan-Nya, tetapi Allah mengetahui Pekabaran itu telah menarik satu garis . . . sehingga mereka yang mau memeriksai hatinya sendiri, boleh mengetahui di pihak mana mereka berada sekiranya Tuhan datang -- apakah mereka akan berseru, 'Lihat, inilah Allah kita, kita telah menantikan-Nya, dan Ia akan menyelamatkan kita,' atau mereka akan berseru kepada batu-batu dan gunung-gunung untuk menimpa mereka dan menyembunyikan mereka dari wajah Dia yang duduk di atas takhta, dan dari murka Anak Domba. Dengan demikian, Allah, sebagaimana kita percayai, telah menguji umat-Nya, telah mencoba iman mereka, telah membuktikan mereka, dan melihat apakah mereka menciut pada masa pencobaan dari posisi dimana Dia mungkin cocok menempatkan mereka; dan apakah mereka akan meninggalkan dunia dan bergantung sepenuhnya kepada firman Allah. -- The Advent Herald and Singns of the Times Reporter, Vol. VIII, No. 14 (13 Nov. 1844).

Perasaan orang-orang yang masih percaya bahwa Allah telah menuntun mereka dalam pengalaman di masa lalu, dinyatakan dalam kata-kata William Miller, "Sekiranya saya bisa mengulangi hidupku kembali, dengan bukti yang sama yang saya punyai kemudian, saya mengakui secara jujur kepada Allah dan kepada manusia, bahwa saya akan berbuat seperti apa yang telah saya perbuat." "Aku harap aku telah membasuh jubahku dari darah orang-orang. Aku merasa bahwa aku telah membebaskan diriku sendiri dari semua kesalahan dan tuduhan, sejauh itu berada dalam kuasaku." "Meskipun aku telah dua kali kecewa," tulis hamba Allah ini, "aku belum ambruk atau tawar hati . . . . Harapanku dalam kedatangan Kristus tetap sekuat yang biasanya. Aku telah lakukan hanya apa yang aku rasa adalah tugasku untuk melakukannya, setelah mempertimbangkan selama bertahun-tahun. Jikalau aku salah, itu hanyalah dalam bidang kedermawanan, kasih kepada sesama manusia, dan keyakinan tugas kepada Allah." "Satu perkara aku tahu, aku telah menyiarkan yang kupercayai, dan Allah telah menyertai aku. Kuasanya telah dinyatakan dalam pekerjaanku, sehingga menghasilkan banyak kebaikan." "Ribuan orang dalam segala rupa manusia telah mempelajari Alkitab oleh mengkhotbahkan waktu, dan oleh itu, melalui iman dan siraman darah Kristus, telah diperdamaikan kepada Allah." -- Bliss, "Memoirs Wm. Miller," pp. 256,255,277,280,281. "Aku tidak pernah meramahi senyum orang sombong, atau merasa takut bilamana dunia ini bermuka masam. Aku tidak mau membeli persetujuan mereka, dan juga tidak mengundang kebencian mereka. Aku tidak akan pernah mencari hidupku di tangan mereka, atau merasa takut kalau kehilangan hidupku, saya harap jika Allah dalam pemeliharaan-Nya menghendaki demikian." -- White, J., "Life of William Miller," p. 315.

Allah tidak melupakan umat-Nya. Roh-Nya masih tinggal bersama mereka yang tidak terburu-buru menyangkal terang yang telah mereka terima, dan mencela Pergerakan Advent. Dalam surat kepada Iberani ada kata-kata dorongan dan amaran kepada yang dicobai dan yang menunggu pada krisis ini, "Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu. Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang sudah akan ada, tanpa menangguhkan kedatangan-Nya. Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya. Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup." (Iberani 10:35-39).


Bahwa nasehat ini ditujukan kepada gereja pada akhir zaman nyata dari kata-kata yang menunjukkan kepada dekatnya kedatangan Tuhan, "Sebab sedikit, bahkan sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang sudah akan ada tanpa menangguhkan kedatangan-Nya." Dan dengan jelas menyatakan bahwa akan ada seperti penundaan, dan bahwa Tuhan seolah-olah menangguhkan kedatangan-Nya. Petunjuk yang diberikan di sini terutama diberikan sesuai dengan pengalaman orang-orang Avent pada zaman ini. Orang yang diberi amanat di sini berada dalam bahaya karam kapal iman. Mereka telah melakukan kehendak Allah dalam mengikuti tuntunan Roh-Nya dan firman-Nya. Namun demikian, mereka tidak mengerti maksud Allah dalam pengalaman masa lalu mereka, atau dapat melihat dan membedakan jalan-jalan yang terbentang dihadapan mereka, dan mereka tergoda meragukan apakah Allah benar-benar menuntun mereka. Pada waktu ini firman ini dapat diterapkan, "Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman." Pada waktu sinar terang "seruan di tengah malam" telah bersinar ke jalan mereka, dan telah melihat nubuatan dibuka meterainya, dan tanda-tandanya yang digenapi dengan segera mengatakan bahwa kedatangan Kristus sudah dekat, mereka telah berjalan dengan penglihatan sebagaimana sebelumnya. Tetapi sekarang tertunduk oleh pengharapan yang mengecewakan, mereka dapat berdiri hanya oleh iman pada Allah dan firman-Nya. Dunia pengolok-olok berkata, "Engka sudah tertipu. Sangkallah imanmu, dan katakanlah bahwa Pergerakan Advent itu berasal dari Setan." Tetapi firman Tuhan menyatakan, "Dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya." Menyangkal iman mereka sekarang dan menyangkal kuasa Roh Kudus yang telah menolong pekabaran itu adalah mengundurkan diri dan binasa. Mereka didorong dan diberanikan berdiri teguh oleh kata-kata Rasul Paulus, "Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu;" "sebab kamu memerlukan ketekunan," "sebab sedikit, bahkan sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang, sudah akan ada tanpa menangguhkan kedatangan-Nya." Satu-satunya tindakan mereka yang aman ialah mengasihi terang yang mereka telah terima dari Allah, dan berpegang teguh kepada janji-janji-Nya, serta terus menyelidiki Alkitab. Dan dengan tekun dan tabah menanti dan berjaga untuk menerima terang lebih lanjut.


APAKAH KAABAH ITU?

~23~
APAKAH KAABAH ITU?

Alkitab, yang di atas segala sesuatu yang lain telah menjadi landasan dan tiang utama iman tentang kedatangan Kristus, telah menyatakan, "Sampai dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan kepada keadaan yang wajar." (Daniel 8:14). Kata-kata ini tidak asing lagi bagi orang-orang yang percaya kepada kedatangan Tuhan yang segera. Kata-kata nubuatan ini diulang-ulangi oleh bibir ribuan orang sebagai kata-kata semboyan iman mereka. Semua merasa bahwa ke atas kejadian-kejadian yang diramalkan kesanalah bergantung penantian dan harapan mereka. Hari-hari nubuatan itu telah ditunjukkan akan berakhir pada musim gugur tahun 1844. Sama seperti dunia Krsiten lain, pada umumnya orang-orang Advent berpendapat bahwa dunia ini, atau bagian daripadanya, adalah kaabah itu. Mereka mengerti bahwa pemulihan kaabah adalah penyucian dunia ini oleh api pada hari terakhir yang besar itu, dan bahwa hal ini akan terjadi pada kedatangan kedua kali. Sejak waktu itu mereka mengambil kesimpulan bahwa Kristus akan kembali ke dunia ini pada tahun 1844.

Tetapi waktu yang ditetapkan telah berlalu, dan Tuhan tidak datang kembali. Orang-orang percaya tahu bahwa firman Allah tak bisa salah. Penafsiran mereka akan nubuatan pasti salah, tetapi dimanakah kesalahan itu? Banyak orang yang dengan terburu-buru menyatakan bahwa masa 2300 hari itu tidak berakhir pada tahun 1844. Tidak bisa menampilkan alasan kecuali bahwa Kristus tidak datang pada waktu yang mereka harapkan Ia datang. Mereka memperdebatkan bahwa jika masa-masa nubuatan berakhir pada tahun 1844, Kristus tentu sudah datang untuk memulihkan kaabah oleh penyucian dunia ini dengan api; dan oleh karena Ia tidak datang maka hari itu tentu belum berakhir.

Menerima kesimpulan ini berarti menolak perhitungan masa-masa nubuatan atau yang sebelumnya. Masa 2300 hari telah bermula pada waktu perintah raja Artahsasta untuk membangun kembali Yerusalem mulai berlaku pada musim gugur tahun 457 SM (Sebelum Masehi). Dengan mengambil ini sebagai titik permulaan, maka sangat cocok dalam pengetrapan semua peristiwa yang disebutkan dalam penjelasan masa itu di dalam Daniel 9:25-27. Enam puluh sembilan kali tujuh masa, yaitu 483 tahun pertama dari masa 2300 tahun, tiba kepada Mesias, yaitu Dia Yang Diurapi; dan baptisan dan pengurapan Kristus dengan Roh Suci pada tahun 27 TM(Tarikh Masehi) tepat menggenapi perincian itu. Pada pertengahan tujuh masa ketujuh puluh Mesias dikorbankan. Tiga setengah tahun sesudah ia dibaptiskan, Kristus disalibkan, pada musim semi tahun 31 TM. Tujuh puluh kali tujuh masa atau 490 tahun dikhususkan bagi orang Yahudi. Pada akhir masa ini bangsa itu memeteraikan penolakan akan Kristus dengan menganiaya murid-murid-Nya, sehingga rasul-rasul pergi kepada bangsa-bangsa lain pada tahun 34 TM. Masa 490 tahun pertama dari 2300 tahun itu berakhir dan tinggallah lagi 1810 tahun. Bermula dari tahun 34 TM, yang seribu delapan ratus sepuluh tahun itu akan berakhir pada tahun 1844. "Lalu," kata malaikat itu, "tempat kududs itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar." Semua spesifiksai nubuatan yang sebelumnya, tidak diragukan telah digenapi tepat pada waktu yang ditetapkan.

Dengan perhitungan ini, semua jelas dan cocok, kecuali bahwa tidak tampak adanya peristiwa yang terjadi yang menyatakan pemulihan tempat kudus pada tahun 1844. Menolak berakhirnya masa itu pada tahun itu berarti melibatkan seluruhnya dalam kebingungan dan menolak pendirian yang telah ditetapkan oleh kegenapan nubuatan yang tidak salah.

Tetapi Allah telah menuntun umat-Nya dalam Pergerakan Advent yang besar itu. Kuasa-Nya dan kemulian-Nya telah menolong pekerjaan itu dan Ia tidak akan membiarkannya berakhir dalam kegelapan dan kekecewaan, untuk dicela sebagai gerakan palsu dan fanatik. Ia tidak akan membiarkan firman-Nya terlibat dalam keragu-raguan dan ketidakpastian. Meskipun banyak yang meninggalkan perhitungan masa nubuatan mereka yang mula-mula, dan menyangkal ketepatan gerakan yang didasarkan atasnya, yang lain-lainnya tidak mau meninggalkan pokok-pokok iman dan pengalaman yang telah ditunjang oleh Alkitab dan oleh kesaksian Roh Allah. Mereka percaya bahwa mereka telah menerima prinsip penafsiran yang benar dan mempelajari nubuatan-nubuatan, dan bahwa adalah tugas mereka untuk berpegang teguh kepada kebenaran yang telah diperoleh, dan meneruskan menyelidiki Alkitab. Dengan doa yang sungguh-sungguh mereka memeriksa kembali kedudukan mereka dan mempelajari Alkitab untuk menemukan kesalahan mereka. Sementara mereka tidak menemukan sesuatu kesalahan dalam perhitungan masa-masa nubuatan, mereka mulai memeriksa lebih cermat mengenai masalah tempat kudus.


Pada penelitian mereka, mereka mengetahui bahwa tidak ada bukti-bukti dari Alkitab yang mendukung pandangan populer bahwa dunia ini adalah tempat kudus. Tetapi mereka menemukan dalam Alkitab penjelasan lengkap mengenai tempat kudus, keadaannya, lokasinya, dan upacara-upacaranya. Kesaksian penulis-penulis kudus begitu jelas dan cukup sehingga tidak ada keraguan. Rasul Paulus, dalam surat kepada orang Iberani berkata, "Memang perjanjian yang pertama juga mempunyai peraturan-peraturan untuk ibadah dan untuk tempat kudus buatan tangan manusia. Sebab ada dipersiapkan suatu kemah, yaitu bagian yang paling depan dan di situ terdapat kaki dian dan meja dengan roti sajian. Bagian ini disebut tempat yang kudus. Dibelakang tirai yang kedua terdapat suatu kemah lagi yang disebut tempat yang maha kudus. Di situ terdapat mezbah tempat pembakaran ukupan dari emas, dan tabut perjanian yang seluruhnya disalut dengan emas; di dalam tabut perjanjian itu tersimpan buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang pernah bertunas dan loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian, dan di atasnya kedua kerub kemuliaan yang menaungi tutup pendamaian." (Iberani 9:1-5).

Tempat kudus yang dikatakan Rasul Paulus di sini ialah kemah suci yang didirikan oleh Musa atas perintah Allah, sebagai tempat tinggal duniawi Yang Mahatinggi. "Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka" (Kel. 25:8), demikianlah perintah yang diberikan kepada Musa pada waktu ia di atas gunung bersama Allah. Orang-orang Israel berjalan melalui padang gurun, dan kemah suci dibangun sedemikian rupa sehingga dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain. Namun, bangunan itu adalah suatu struktur yang megah dan indah. Dindingnya terbuat dari papan yang dilapisi dengan emas, dan engsel-engselnya terbuat dari perak, sementara atapnya terbuat dari sejumlah tirai atau penutup, dan bagian luarnya terbuat dari kulit. Bagian paling dalam terbuat dari lenan halus yang dengan indah dilukisi dengan gambar kerub. Di samping pelataran luar, yang berisi mezbah persembahan bakaran, kemah suci itu terdiri dari dua buah ruangan yang disebut bilik yang kudus dan bilik yang maha kudus, yang dipisahkan oleh tirai mewah dan indah, atau selubung, selubung yang sama yang menutup pintu masuk ke bilik yang pertama.

Di bilik yang kudus terdapat kaki dian, di sebelah Selatan, dengan tujuh lampunya menerangi tempat kudus itu siang dan malam. Di sebelah Utara, berdiri meja roti sajian. Dan di depan tirai atau selubung yang memisahkan bilik yang kudus dari bilik yang maha kudus terdapat mezbah pedupaan, yang daripadanya naik asap bau-bauan yang harum, bersama doa-doa orang Israel ke hadirat Allah.

Di bilik yang maha kudus berdiri tabut perjanjian, suatu peti yang terbuat dari kayu berharga yang dilapisi demgan emas, tempat menyimpan dua loh batu tempat kesepuluh hukum dituliskan oleh Allah. Dia atas tabut perjanjian itu, yang menjadi penutup peti suci itu tedapat tutup pendamaian, suatu hasil kerja yang indah, dan di atasnya terdapat dua kerub -- satu di setiap ujungnya -- dan semuanya disalut dengan emas murni. Di bilik ini hadirat ilahi ditandai dengan awan kemuliaan di antara kedua kerub itu.

Setelah orang Iberani menetap di tanah Kanaan, kemah suci itu telah digantikan oleh Kaabah Salomo, yang walaupun dengan bangunan permanen dan dalam ukuran yang lebih besar, tetap menuruti perbandingan-perbandingan yang sama dan dilengkapi dengan perlengkapan yang sama. Dalam bentuk ini tempat kudus berdiri teguh sampai dihancurkan tentera Roma pada tahun 70 TM -- kecuali kerusakaan pada zaman Daniel.

Hanya inilah tempat kudus yang pernah berdiri di atas dunia ini, yang mengenai itu Alkitab memberikan keterangan. Inilah tempat kudus yang Rasul Paulus katakan tempat kudus perjanjian yang pertama. Tetapi bukankah perjanjian yang baru mempunyai tempat kudus?

Kembali membuka buku Iberani, para pencari kebenaran menemukan bahwa keberadaan tempat kudus yang kedua, atau tempat kudus perjanjian yang baru tercantum dalam kata-kata Rasul Paulus yang telah dikutip "Memang perjanjian yang pertama juga mempunyai peraturan-peraturan untuk ibadah dan untuk tempat kudus buatan tangan manusia." Dan penggunaan kata "juga" memberi kesan bahwa Rasul Paulus sebelumnya telah menyebutkan tempat kudus. Kita buka kembali kepada permulaan fatsal sebelumnya akan kita baca, "Inti segala yang kita bicarakan itu ialah kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di Surga, dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan bukan oleh manusia." (Iberani 8:1-2).

Di sinilah dinyatakan tempat kudus perjanjian baru. Tempat kudus perjanian yang pertama didirikan oleh tangan manusia, dibangun oleh Musa, dan yang kedua ini didirikan oleh Tuhan, bukan oleh manusia. Di dalam tempat kudus perjanjian yang pertama, imam-imam dunia menjalankan upacara-upacara, sedangkan pada tempat kudus perjanjian yang baru Kristus, Imam Besar kita, melayani di sebelah kanan Allah. Satu kaabah suci ada di dunia ini dan yang satu lagi ada di Surga.

Lebih jauh, kemah suci yang dibangun oleh Musa dibangun sesuai pola atau contoh. Tuhan menuntun dia, "Menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala perabotannya, demikianlah kamu harus membuatnya." Dan sekali lagi perintah diberikan, "Dan ingatlah, bahwa engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu." (Kel. 25:9,40). Dan Rasul Paulus berkata, bahwa kemah suci yang pertama itu, "adalah kiasan masa sekarang. Sesuai dengan itu dipersembahkan korban dan persembahan;" bahwa bilik yang kudusnya adalah "melambangkan apa yang ada di Surga;" bahwa imam yang mempersembahkan persembahan sesuai dengan hukum adalah "gambaran dan bayangan dari apa yang ada di Surga," dan bahwa "Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia, yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam Surga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita." (Iberani 9:9,23; 8:5; 9:24).


Tempat kudus yang di Surga, dimana Yesus melayani demi kita, adalah tempat kudus besar yang asli. Kemah suci yang dibangun oleh Musa mencontoh dari tempat kudus ini. Allah mencurahkan Roh-Nya ke atas orang-orang yang membangun kemah suci duniawi. Ketrampilan artistik yang diperagakan dalam pembagunan tempat kudus itu adalah manifestasi hikmat ilahi. Dinding-dinding yang tampak bagaikan emas besar memantulkan ke segala penjuru sinar ketujuh kandil dari kaki dian emas itu. Meja roti pertunjukan dan mezbah pedupaan berkilau-kilau bagaikan emas mengkilat. Tirai yang maha indah yang membentuk langit-langit, yang dihiasi dengan gambar-gambar malaikat dengan warna biru, ungu dan merah menambah keelokan pemandangan. Dan di balik selubung kedua terdapat sinar shekinah suci, sebagai manifestasi kemuliaan Allah, yang kehadirat-Nya hanya imam besar yang bisa masuk dan tetap hidup.

Keindahan yang tiada taranya tempat kudus duniawi itu merefleksikan kepada pandangan manusia kemuliaan kaabah Surgawi dimana Kristus, penghulu kita, melayani bagi kita di hadirat takhta Allah. Tempat tinggal Raja segala raja itu, dimana seribu kali beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa berdiri di hadapan-Nya (Dan. 7:10); kaabah itu dipenuhi kemuliaan takhta kekal, dimana serapim, sebagai pengawalnya yang bercahaya, menyelubungi wajahnya dalam sikap hormat. Keindahan dan kemuliaan yang terdapat pada bangunan indah yang di dunia ini yang dibangun oleh tangan manusia hanyalah refleksi yang redup dari kebesaran dan kemuliaan tempat kudus Surgawi. Namun kebenaran-kebenaran penting mengenai tempat kudus Surgawi dan mengenai pekerjaan-pekerjaan besar yang dilaksanakan di sana yang dijalankan untuk penebusan manusia telah diajarkan oleh tempat kudus duniawi dan upacara-upacaranya.

Tempat-tempat suci kudus kaabah Surgawi dilambangkan oleh kedua bilik di kaabah yang di dunia ini. Di dalam penglihatan, Rasul Yohanes diizinkan melihat kaabah Allah di Surga, ia melihat di sana "tujuh obor menyala-nyala dihadapan takhta itu." (Wah. 4:5). Ia melihat seorang malaikat "dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyaan untuk dipersembahkan bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas dihadapan takhta itu." (Wah. 8:3). Di sini nabi telah diizinkan memandang bilik yang pertama tempat kudus di Surga itu; dan ia melihat di sana "tujuh obor menyala-nyala" dan "mezbah emas" dilambangkan oleh kaki dian dan dupa dalam tempat kudus yang di dunia ini. Sekali lagi, "terbukalah Bait Suci Allah yang di Surga," dan ia melihat selubung bagian dalam, di atas bilik yang maha suci. Di sini ia melihat "tabut perjanjian-Nya" yang dilambangkan oleh peti kudus yang dibangun oleh Musa yang berisi hukum Allah.

Jadi demikianlah mereka yang mempelajari pelajaran ini menemukan bukti yang tidak bisa dibantah mengenai adanya tempat kudus di Surga. Musa membangun tempat kudus di dunia ini menurut pola yang ditunjukkan kepadanya. Rasul Paulus mengajarkan bahwa pola itulah tempat kudus yang sebenarnya, yaitu yang di Surga. Dan Rasul Yohanes menyaksikan bahwa ia melihatnya di Surga.

Di dalam kaabah di Surga, tempat tinggal Allah, takhta-Nya didirikan dalam kebenaran dan keadilan. Di bilik yang maha suci ia melihat hukum-Nya, sebagai ukuran kebenaran dengan mana semua umat manusia diuji. Tabut tempat menyimpan loh-loh hukum itu ditutupi dengan tutup pendamaian. Di hadirat inilah Kristus mengadakan permohonan melalui darah-Nya demi orang-orang berdosa. Dengan demikian dilambangkan gabungan keadilan dan dan kemurahan dalam rencana penebusan manusia. Hanya hikmat yang tanpa batas saja yang dapat merancangnya dan kuasa yang tak terbatas yang dapat mewujudkannya. Gabungan inilah yang memenuhi semua Surga dengan kekaguman dan rasa hormat. Kerub di tempat kudus duniawi, yang memandang dengan rasa hormat ke tutup pendamaian itu, melambangkan perhatian seluruh Surga mengenai pekerjaan penebusan manusia. Inilah rahasia kemurahan yang ingin di lihat oleh malaikat-malaikat, -- bahwa Allah dapat berlaku adil sementara Ia membenarkan orang-orang berdosa yang bertobat, dan memperbaharui pergaulan-Nya dengan manusia yang sudah jatuh; bahwa Kristus dapat merendahkan diri-Nya untuk mengangkat orang-orang yang tak terhitung banyaknya dari jurang kebinasaan, dan memakaikan kepada mereka jubah kebenaran-Nya sendiri, untuk dipersatukan dengan malaikat-malaikat yang tidak pernah jatuh, dan untuk tinggal selamanya di hadirat Allah.

Pekerjaan Kristus sebagai pengantara manusia dinyatakan dalam nubuatan nabi Zakaria mengenai Dia "yang bernama Tunas." Nabi itu berkata, "Dialah yang akan mendirikan bait Tuhan, dan dialah yang akan mendapat keagungan dan duduk memerintah di atas takhtanya. [takhta Bapa-Nya]. Di sebelah kanannya akan ada seorang imam [Ia akan menjadi imam di takhtanya -- Alkitab Bahasa Inggeris]: dan permufakatan tentang damai akan ada di antara mereka berdua." (Zakaria 6:13).

"Dialah yang akan mendirikan bait Tuhan." Oleh pengorbanan dan pengantaraan-Nya, Kristus adalah fondasi dan pembangun gereja Allah. Rasul Paulus menunjuk kepada-Nya sebagai "batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga," katanya, "turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh." (Epes. 2: 20-22).


"Dan dialah yang akan mendapat keagungan." Keagungan dan kemuliaan penebusan manusia yang sudah jatuh itu adalah milik Kristus. Melalui zaman kekekalan, nyanyian orang tebusan adalah, "Bagi Dia yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya, . . . bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya." (Wah. 1:5,6).

Dan Ia "akan duduk memerintah di atas takhtanya, [takhta Bapanya]. Di sebelah kanannya akan ada seorang imam." Belum sekarang "di atas takhta kemuliaan." Kerajaan kemuliaan belum datang. Setelah pekerjaan pengantaraan-Nya berakhir barulah "Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya," suatu kerajaan yang "tidak akan berkesudahan." (Luk. 1:32,33). Sebagai seorang imam, Kristus sekarang duduk bersama-sama dengan Bapa di atas takhta-Nya (Luk. 3:21). Di atas takhta itu duduk bersama Yang Kekal dan yang dengan sendirinya ada, adalah Dia yang "telah menanggung penyakit kita dan yang memikul kesengsaraan kita," yang dalam segala hal "Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa," sehingga dengan demikian Ia "dapat menolong mereka yang dicobai." "Namun jika seorang berdosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa." (Yes. 53:4; Iberani 4:15; 2:18; 1 Yoh. 2:1). Pengantaraan-Nya ialah dengan tubuh-Nya yang yang ditusuk dan dihancurkan, dengan kehidupan yang tak bercacad. Tangan-Nya yang terluka, lambung-Nya yang ditusuk, kaki-Nya yang dirusakkan, memohon bagi manusia yang sudah jatuh, yang penebusan-Nya dibeli dengan harga yang tidak ternilai.

"Dan permufakatan tentang damai akan ada di antara mereka berdua." Kasih Bapa, tidak kurang dari kasih Anak, adalah mata air keselamatan bagi orang yang telah hilang. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya sebelum Ia pergi, "Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu." ( Yoh. 16:26,27). "Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus." (2 Kor. 5:19). Dan dalam pelayanan di dalam tempat kudus di atas, "permufakatan tentang damai akan ada di antara mereka berdua." "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yoh. 3:16).

Pertanyaan, apakah kaabah itu? dijawab dengan jelas dalam Alkitab. Istilah "tempat kudus" sebagaimana digunakan dalam Alkitab, digunakan pertama-tama kepada kemah suci yang dibangun oleh Musa, menurut pola yang ada di Surga, dan kedua, kepada "kaabah yang sebenarnya" di Surga, yang ditunjuk oleh kaabah duniawi. Pada kematian Kristus, upacara-upacara kaabah berakhir. "Kaabah yang sebenarnya" di Surga adalah tempat kudus perjanjian yang baru. Dan sementara nubuatan Daniel 8:14 digenapi dalam dispensasi ini, tempat kudus yang dimaksud haruslah tempat kudus perjanjian baru. Pada akhir masa 2300 hari pada tahun 1844, di dunia ini tidak ada lagi tempat kudus selama ratusan tahun. Dengan demikian, "Sampai 2300 petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar," tanpa diragukan lagi menunjuk kepada tempat kudus di Surga.

Tetapi pertanyaan yang paling penting tetap harus dijawab. Apakah maksudnya tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar? Bahwa ada upacara yang serupa itu sehubungan dengan tempay kudus duniawi, diterangkan dalam Alkitab Perjanjian Lama. Tetapi adakah sesuatu di Surga yang akan dipulihkan (disucikan -- terjemahan langsung)? Dalam Iberani 9 pemulihan tempat kudus ke dalam keadaan yang wajar diajarkan dengan jelas. "Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum taurat dengan darah, dan tanpa pertumpahan darah tidak ada pengampunan. Jadi segala sesuatu yang melambangkan apa yang ada di Surga haruslah ditahirkan secara demikian [darah binatang], tetapi benda-benda surgawi sendiri oleh persembahan-persembahan yang lebih baik dari pada itu," (Iberani 9:22,23), yaitu darah Kristus yang tidak ternilai harganya.

Pemulihan kembali, baik dalam lambang maupun upacara yang sebenarnya harus dilakukan dengan darah; yang pertama dengan darah binatang, dan yang kemudian dengan darah Kristus. Rasul Paulus menyatakan sebagai alasan mengapa pemulihan itu harus dilakukan dengan darah, bahwa tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan. Pengampunan itu, atau membuangkan dosa, adalah pekerjaan yang harus dicapai. Tetapi bagaimanakah ada dosa sehubungan dengan tempat kudus baik yang di Surga maupun yang di dunia? Hal ini bisa diketahui dengan merujuk kepada upacara bayangan di kaabah dunia, karena imam-imam yang melakukan upacara di kemah suci duniawi "adalah gambaran dan bayangan yang ada di Surga." (Iberani 8:5).


Pelayanan dalam tempat kudus duniawi terdiri dari dua bagian: imam-imam bekerja di bilik yang kudus setiap hari, sementara sekali setahun imam besar melakukan pekerjaan khusus penyucian di bilik yang maha kudus, untuk pemulihan tempat kudus itu. Hari demi hari orang berdosa yang bertobat membawa persembahannya ke pintu kemah suci, dan meletakkan tangannya di atas kepala korban, mengakui dosa-dosanya, dengan demikian menggambarkan pemindahan dosa-dosa dari dirinya sendiri kepada korban yang tidak bersalah itu. Binatang itu kemudian disembelih. "Tanpa penumpahan darah," kata rasul, "tidak ada pengampunan." "Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya." (Imamat 17:11). Pelanggaran hukum Allah menuntut nyawa dari pelanggar. Darah yang melambangkan hutang nyawa orang berdosa, yang kesalahannya ditanggungkan kepada korban, dibawa oleh imam ke dalam bilik yang kudus dan memercikkannya di hadapan tirai penghubung, yang dibelakangnya terdapat tabut perjanjian yang berisi hukum yang dilanggar oleh orang berdosa itu. Dengan upacara ini dosa-dosa, melalui darah, dipindahkan secara simbolis ke tempat kudus. Dalam beberapa kasus, darah tidak dibawa ke bilik yang suci, tetapi dagingnya kemudian akan dimakan oleh imam, sebagaimana Musa memberi petunjuk kepada anak-anak Harun dengan mengatakan, "Tuhan memberikan kepadamu, supaya kamu mengangkut kesalahan umat." (Imamat 10:17). Kedua upacara ini sama-sama melambangkan pemindahan dosa dari orang berdosa kepada tempat kudus.

Itulah pekerjaan yang terus berlangsung dari hari ke hari sepanjang tahun. Dosa-dosa orang Israel dengan demikian dipindahkan ke tempat kudus, dan satu pekerjaan khusus diperlukan untuk menghilangkan dosa-dosa ini. Allah memerintahkan untuk melakukan penyucian dan pendamaian tiap-tiap bilik yang kudus. "Dengan demikian ia mengadakan pendamaian bagi tempat kudus itu karena segala kenajisan orang Israel dan karena segala pelanggaran mereka, apapun juga dosa mereka. Demikianlah harus diperbuatnya dengan Kemah Pertemuan yang tetap diam di antara mereka di tengah-tengah segala kenajisan mereka." Suatu pendamaian juga harus dibuat bagi mezbah untuk "menguduskannya dari segala kenajisan orang Israel." ( Imamat 16:16,19).

Sekali setahun, pada hari besar pendamaian, imam memasuki bilik yang maha kudus untuk membersihkan dan memulihkan tempat kudus. Pekerjaan ini dilakukan untuk mengakhiri pelayanan tahunan. Pada hari pendamaian, dua ekor kambing jantan dibawa ke pintu kemah suci, lalu dibuang undi bagi keduanya, "sebuah undi bagi Tuhan, dan sebuah lagi bagi Azazel." (Imamat 16:8). Kambing yang terundi bagi Tuhan akan disembelih sebagai korban persembahan bagi orang banyak. Dan imam akan membawa darahnya ke dalam tirai selubung, dan memercikkan darah itu ke atas tutup pendamaian dan di hadapan tutup pendamaian itu. Juga darah itu dipercikkan ke atas mezbah pedupaan yang di hadapan tirai selubung itu.

"Dan Harun harus meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kambing jantan yang hidup itu dan mengakui di atas kepala kambing itu segala kesalahan orang Israel dan segala pelanggaran mereka, apapun juga dosa mereka; ia harus menanggungkan semuanya itu ke atas kepala kambing jantan itu dan kemudian melepaskannya ke padang gurun dengan perantaraan seseorang yang sudah siap sedia untuk itu. Demikianlah kambing jantan itu harus mengangkut segala kesalahan Israel ke tanah yang tandus dan kambing itu harus dilepaskan di padang gurun." (Imamat 16:21,22). Kambing Azazel itu tidak lagi datanbg ke perkemahan orang Israel, dan orang yang menggiringnya ke padang gurun harus membasuh dirinya dan pakaiannya dengan air sebelum ia kembali ke perkemahan.

Seluruh upacara itu dimaksudkan untuk memberi kesan kepada orang Israel mengenai kekudusan Allah dan kebencian-Nya kepada dosa. Dan lebih jauh, untuk menunjukkan kepada mereka bahwa mereka tidak boleh berhubungan dengan dosa tanpa menjadi cemar dan najis. Setiap orang diharuskan menyesali dosanya, dan merendahkan diri dan jiwanya sementara upacara pendamaian itu berlangsung. Segala pekerjaan sehari-hari harus dikesampingkan, dan seluruh perhimpunan orang Israel pada hari itu merendahkan diri dengan sungguh-sungguh di hadirat Allah, dengan berdoa, berpuasa dan menyelidiki hatinya yang terdalam.

Kebenaran penting mengenai pendamaian diajarkan oleh upacara lambang-lambang. Suatu pengganti diterima sebagai pengganti orang berdosa. Tetapi dosa tidak dapat ditiadakan oleh darah korban. Dengan demikian suatu cara telah disediakan untuk memindahkan dosa itu ke tempat kudus. Dengan mempersembahkan darah, orang-orang berdosa mengakui otoritas hukum, mengakui kesalahannya dalam pelanggaran, dan menyatakan keinginannya untuk memperoleh pengampunan melalui imam kepada Penebus yang akan datang. Tetapi ia belum seluruhnya dibebaskan dari hukuman dan kutukan hukum. Pada Hari Pendamaian, setelah mengambil persembahan yang orang banyak, imam besar masuk ke bilik yang maha kudus dengan darah persembahan ini, dan memercikkan darah itu ke atas tutup pendamaian, langsung ke atas hukum itu, untuk memenuhi tuntutannya. Kemudian, dalam sikapnya sebagai pengantara, imam besar itu mengambil dosa-dosa itu kepada dirinya dan membawanya keluar dari tempat kudus. Dengan meletakkan tangannya di atas kepala kambing Azazel, ia mengakui segala dosa-dosa ini, dengan demikian menggambarkan pemindahan dosa-dosa itu dari dirinya ke kambing jantan. Kemudian kambing membawa dosa-dosa itu jauh-jauh dan mereka menganggap dosa-dosa itu dipisahkan dari mereka selama-lamanya.

Demikianlah upacara yang dilaksanakan "sebagai gambaran dan bayangan dari perkara-perkara surgawi." Dan apa yang dilakukan dalam lambang dalam pelayanan tempat kudus duniawi, dilakukan dengan sesungguhnya dalam pelayanan tempat kudus surgawi. Setelah kenaikan-Nya, Juru Selamat kita memulai pekerjaan-Nya sebagai imam besar kita. Rasul Paulus berkata, "Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam Surga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita." (Iberani 9:24).

Pelayanan imam sepanjang tahun di bilik yang suci dari tempat kudus itu, "di dalam tirai selubung" yang membentuk pintu dan memisahkan bilik yang suci dari halaman luar, melambangkan pekerjaan pelayanan yang dimulai oleh Kristus pada waktu Ia naik ke Surga. Itu adalah pekerjaan pelayanan harian imam untuk menyampaikan ke hadirat Allah darah persembahan karena dosa, juga dupa yang naik bersama doa-doa orang Israel. Demikian juga Kristus memohon dengan darah-Nya di hadapan Bapa atas nama orang-orang berdosa, dan menyampaikan juga di hadapan-Nya doa-doa orang percaya yang menyesali dosa-dosanya, yang disertai keharuman kebenaran-Nya sendiri. Demikianlah pekerjaan pelayanan di bilik yang kudus di kaabah surgawi.


Kesanalah iman murid-murid Kristus mengikuti Dia pada waktu Ia naik dari pandangan mereka. Di sinilah pengharapan mereka berpusat, "pengharapan itu" kata Rasul Paulus, "adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, dimana Yesus telah masuk sebagai Perintis kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya." "Dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal (bagi kita)." (Iberani 6:19,20; 9:12).

Selama delapan belas abad lamanya pekerjaan pelayanan ini berlangsung di bilik yang suci. Darah Kristus dipersembahkan atas nama orang-orang percaya yang menyesali dosa-dosanya, mendapatkan pengampunan dan penerimaan mereka kepada Bapa, namun, dosa-dosa mereka masih tertulis di dalam buku catatan. Sebagaimana dalam upacara lambang ada pekerjaan pendamaian pada akhir tahun, demikian juga sebelum pekerjaan Kristus untuk menebus manusia diselesaikan, ada pekerjaan pendamaian untuk memindahkan dosa-dosa dari tempat kudus. Inilah upacara yang telah dimulai pada waktu masa 2300 hari itu berakhir. Pada waktu itu, sebagaimana diramalkan oleh nabi Daniel, Imam Besar kita memasuki bilik yang maha kudus untuk melaksanakan bagian terakhir dari pekerjaan-Nya, -- untuk memulihkan tempat kudus itu. (membersihkan -- terjemahan langsung).

Seperti pada zaman dahulu dosa-dosa orang banyak, oleh iman, ditanggungkan ke atas persembahan karena dosa, dan melalui darah korban dipindahkan dalam lambang ke tempat kudus duniawi, demikianlah juga pada perjanjian yang baru dosa-dosa orang-orang yang bertobat, oleh iman, ditanggungkan ke atas Kristus, dan dipindahkan ke tempat kudus surgawi. Dan sebagaimana pemulihan tempat kudus duniawi secara lambang dicapai oleh memindahkan dosa-dosa yang mencemari tempat kudus itu, demikianlah pemulihan yang sebenarnya tempat kudus surgawi dicapai oleh memindahkan, atau menghapuskan dosa-dosa yang telah dicatat di sana. Tetapi sebelum ini dilaksanakan, harus dilakukan terlebih dahulu pemeriksaan buku-buku catatan untuk menentukan siapa yang berhak memperoleh manfaat pendamaian Kristus, melalui pertobatan dari dari dosa dan iman kepada Kristus. Oleh sebab itu pemulihan tempat kudus itu melibatkan pekerjaan pemeriksaan -- pekerjaan penghakiman. Pekerjaan ini harus dilakukan sebelum kedatangan Kristus untuk menebus umat-Nya, karena bila Ia datang, upah-Nya ada bersama-sama dengan Dia yang akan diberikan-Nya kepada tiap-tiap orang menurut perbuatannya." (Wah. 22:12).

Dengan demikian mereka yang mengikuti dalam terang perkataan nubuat itu melihat bahwa, sebagai gantinya datang ke dunia ini pada akhir masa 2300 hari pada tahun 1844, Kristus memasuki bilik yang mahasuci dalam kaabah surgawi untuk melaksanakan pekerjaan penutup dari pekerjaan pendamaian, persiapan kepada kedatangan-Nya.

Juga terlihat bahwa sementara persembahan karena dosa menunjuk Kristus sebagai korban, dan imam besar melambangkan Kristus sebagai pengantara, demikian juga kambing Azazel melambangkan Setan sebagai sumber dosa, ke atas mana dosa-dosa orang yang benar-benar menyesali dosanya pada akhirnya ditanggungkan. Bilamana imam besar, oleh jasa darah korban karena dosa, memindahkan dosa-dosa dari tempat kudus ke atas kambing Azazel. Bilamana Kristus, oleh jasa darah-Nya sendiri, memindahkan dosa-dosa umat-Nya dari tempat kudus surgawi pada akhir pelayanan-Nya, Ia akan menanggungkan dosa-dosa itu ke atas Setan, yang pada pelaksanaan hukuman harus menanggung hukuman terakhir. Kambing Azazel di bawa jauh dan dilepaskan di tempat yang tidak berpenduduk, agar tidak pernah datang kembali ke tengah-tengah perkumpulan orang Israel. Demikianlah Setan untuk selama-lamanya terhapus dari hadirat Allah dan umat-Nya, dan ia akan dihadapkan pada kebinasaan terakhir dosa dan oarng-orang berdosa.

DI BILIK YANG MAHA KUDUS

~24~
DI BILIK YANG MAHA KUDUS

Pelajaran mengenai tempat kudus adalah kunci yang membuka rahasia kekecewaan pada tahun 1844. Pelajaran itu membukakan kepada pendengar suatu sistem kebenaran yang lengkap, yang behubungan dan secara harmonis menunjukkan bahwa tangan Allah telah menuntun Pergerakan Advent yang besar itu, dan menyatakan tugas-tugas sekarang sebagaimana dijelaskan kedudukan dan pekerjaan umat-Nya. Sebagaimana murid-murid Yesus, setelah malam yang mengerikan penuh penderitaan dan kekecewaan itu, "bersukacita bilama mereka melihat Tuhan," demikianlah mereka sekarang bersukacita, mereka yang memandang dengan iman kepada kedatangan-Nya yang kedua kali. Mereka telah menantikan kedatangan-Nya dalam kemuliaan untuk memberikan upah kepada hamba-hama-Nya. Sebagaimana pengharapan mereka dikecewakan, pandangan mereka kepada Yesus hilang, dan bersama Mariam di makam mereka berseru, "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu dimana Ia diletakkan." (Yoh. 20:2). Sekarang di bilik yang maha kudus sekali lagi mereka melihat-Nya, imam besar mereka yang kekasih, segera akan muncul sebagai raja dan pelepas mereka. Terang dari tempat kudus menyinari masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Mereka mengetahui bahwa Allah telah memimpin mereka oleh pemeliharaan-Nya yang tidak pernah salah. Seperti murid-murid yang pertama, walaupun mereka gagal mengerti pekabaran yang mereka bawa, namun pekabaran itu adalah tepat. Mereka telah menggenapi maksud Allah dalam menyiarkan pekabaran itu dan usaha mereka tidak sia-sia dalam Tuhan. "Pengharapan timbul kembali," mereka bergembira "dengan sukacita yang tak terkatakan dan penuh kemuliaan."

Baik nubuatan Daniel 8:14, "Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar," maupun pekabaran malaikat yang pertama, "Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya," kedunya menunjuk kepada pelayanan Kristus di bilik yang mahakudus, kepada penghakiman pemeriksaan, dan bukan kepada kedatangan Kristus untuk menebus umat-Nya dan kebinasaan orang jahat. Kesalahan bukan pada perhitunagn masa-masa nubuatan, tetapi pada peristiwa yang terjadi pada akhir masa 2300 hari itu. Walaupun oleh karena kesalahan ini orang-orang percaya telah menderita kekecwaan, namun semua yang diramalkan oleh nubuatan, dan semua yang dijamin di dalamnya dengan dukungan Alkitab telah terlaksana. Pada saat itu, pada waktu mereka menangisi kegagalan pengharapan mereka, peristiwa telah terjadi yang telah diramalkan oleh pekabaran itu, dan yang harus digenapi sebelum Tuhan datang untuk memberi upah kepada hamba-hamba-Nya.

Kristus telah datang, bukan ke dunia ini seperti yang diharapkan, tetapi, sebagaimana dibayangkan dalam lambang, kebilik yang mahakudus di kaabah Tuhan di Surga. Ia digambarkan oleh nabi Daniel sebagai yang datang pada waktu ini kepada Yang Lanjut Usia, "Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia" -- bukan ke dunia ini tetapi -- "kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia di bawa ke hadapan-Nya." (Dan. 7:13).

Kedatangan ini diramalkan juga oleh nabi Maleaki, "Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman Tuhan semesta alam." (Mal. 3:1). Kedatangan Tuhan ke bait-Nya adalah tiba-tiba, tidak disangka-sangka umat-Nya. Mereka tidak mencari Dia di sana . Mereka mengharapkan Dia datang ke dunia ini, "dalam api yang bernyala-nyala dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah, dan yang tidak mentaati Injil Yesus, Tuhan kita." (2 Tes. 1:8).

Tetapi orang-orang belum bersedia untuk bertemu dengan Tuhan mereka. Masih ada pekerjaan persediaan yang harus mereka laksanakan. Terang akan diberikan untuk menuntun pikiran mereka ke bait Allah di Surga. Dan sementara oleh iman mereka harus mengikuti Imam Besar mereka dalam pelayanan-Nya di sana, tugas-tugas baru akan dinyatakan. Pekabaran amaran dan petunjuk yang lain akan diberikan kepada gereja.

Nabi itu berkata, "Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukangpemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia akan mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada Tuhan." (Mal. 3:2,3). Mereka yang hidup di atas dunia ini pada waktu pengantaraan Kristus akan berakhir ditempat kudus di atas, akan berdiri dihadapan Allah yang kudus tanpa pengantara. Jubah mereka harus tidak bernoda; tabiat mereka harus dimurnikan dari dosa oleh percikan darah. Melalui karunia Allah dan usaha keras mereka, mereka harus menjadi penakluk dalam perang melawan yang jahat. Sementara penghakiman pemeriksaan berlangsung di Surga, sementara dosa-dosa orang percaya yang menyesali dosa-dosanya dipindahkan dari tempat kudus, akan ada pekerjaan khusus pemurnian, untuk membuangkan dosa, di antara umat Tuhan di dunia ini. Pekerjaan ini lebih jelas lagi dinyatakan dalam pekabaran Wahyu 14.


Kalau pekerjaan ini telah dilaksanakan, pengikut-pengikut Kristus akan siap bagi kedatangan-Nya. "Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati Tuhan seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah." (Mal. 3:4). Kemudian jemaat yang akan diterima Tuhan kepada-Nya pada waktu kedatangan-Nya, akan "menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacad atau kerut atau yang serupa itu." (Eps. 5:27). Kemudian jemaat itu akan "muncul laksana fajar merekah, indah bagaikan bulan purnama, bercahaya bagaikan surya, dahsyat seperti balatentara dengan panji-panjinya." ( Kidung 6:10).


Selain kedatangan Tuhan ke dalam bait-Nya, Maleaki juga meramalkan kedatangan-Nya yang kedua kali, kedatangan-Nya untuk melaksanakan keputusan penghakiman, dalam kata-kata berikut ini, "Aku akan mendekati kamu untuk menghakimi dan akan segera menjadi saksi terhadap tukang-tukang sihir, orang-orang berzinah, dan orang-orang yang bersumpah dusta dan terhadap orang-orang yang menindas orang upahan, janda dan anak piatu, dan mendesak ke samping orang asing, dengan tidak takut kepada-Ku, firman Tuhan semesta alam." (Mal. 3:5). Yugas juga merujuk kepada pemandangan yang sama pada waktu ia berkata, "Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya, hendak menghakimi semua orang dan menjatuhkan hukuman atas orang-orang fasik karena semua perbuatan fasik." (Yudas 15,15). Kedatangan ini dan kedatangan Tuhan ke dalam bait-Nya, adalah jelas dan peristiwa yang terpisah.

Kedatangan Kristus sebagai imam besar kita ke dalam bilik yang mahakudus untuk memulihkan tempat kudus itu seperti yang ditampilkan di dalam Daniel 8:14; kedatangan Anak Manusia kepada Yang Lanjut Usianya seperti dinyatakan dalan Daniel 7:13; dan kedatangan Tuhan ke dalam bait-Nya yang diramalkan oleh Maleaki, adalah keterangan peristiwa yang sama. Dan ini juga dinyatakan oleh kedatangan mempelai laki-laki ke pesta pernikahan sebagaimana diterangkan Kristus dalam perumpamaan sepuluh anak dara dalam Matius 25.

Dalam musim panas dan musim gugur tahun 1844, pengumuman "Mempelai datang! Songsonglah Dia!" telah diberikan. Dua golongan seperti yang dilambangkan oleh anak dara yang bijaksana dan yang bodoh itu telah terjadi -- satu golongan yang mengharap dengan sukacita kedatangan Tuhan dan yang dengan tekun menyediakan dirinya untuk bertemu dengan Tuhan; sementara segolongan lain yang dipengaruhi oleh ketakutan, dan bertindak hanya atas hawa nafsu, telah puas dengan teori kebenaran, tetapi miskin karunia Allah. Dalam perumpamaan itu disebutkan, bahwa pada waktu mempelai datang, "mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan Dia ke ruang perjamuan kawin." Kedatangan mempelai laki-laki, yang ditampilkan di sini, terjadi sebelum pernikahan. Pernikahan melambangkan penerimaan oleh Kristus kerajaan-Nya. Kota suci, Yerusalem yang baharu, yaitu ibukota dan sebagai cerminan kerajaan itu, disebut "mempelai perempuan, isteri Anak Domba itu." Malaikat itu berkata kepada Yohanes, "Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kedapamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba." "Lalu di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung," kata nabi itu, "dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari Sutrga, dari Allah." (Wah. 21:9,10). Jelaslah, mempelai perempuan melambangkan kota suci itu, dan anak-anak dara yang pergi menemui mempelai laki-laki adalah lambang jemaat. Dalam buku Wahyu, umat Tuhan dikatakan adalah tamu pada perjamuan kawin. (Wah. 19:9). Jika umat Tuhan adalah tamu, tidak mungkin juga melambangkan mempelai wanita. Kristus, sebagaimana dikatakan oleh nabi Daniel, akan menerima dari Yang Lanjut Usianya, " kekuasaan dan kemuliaan, dan kerajaan." Ia akan menerima Yersualem Baru, ibukota kerajaan-Nya, "yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdan-dan untuk suaminya." (Dan. 7:14; Wah. 21:2). Setelah menerima kerajaan, Ia akan datang dalam kemuliaan-Nya, sebagai Raja atas segala raja dan Tuhan atas segala tuan, untuk menebus umat-Nya, yang akan "duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub" di meja-Nya dalam kerajaan-Nya (Matius 8:11; Luk. 22:30), untuk turut ambil bagian dalam perjamuan kawin Anak Domba.

Pengumuman "Mempelai datang! Songsonglah Dia!" pada musim panas tahun 1844, menyebabkan ribuan orang dituntun untuk mengharapkan kedatangan Tuhan yang segera. Pada waktu yang ditetapkan, mempelai datang bukan ke dunia ini sebagaimana diharapkan oleh orang-orang, tetapi kepada Yang Lanjut Usianya di Surga, kepada pernikahan, penerimaan kerajaan-Nya. "Mereka yang telah siap sedia, masuk bersama-sama dengan Dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu tertutup." Mereka tidak akan hadir secara pribadi pada pernikahan itu, karena pernikahan itu berlangsung di Surga, sementara mereka ada di atas dunia ini. Pengikut-pengikut Kristus "menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan itu." (Lukas 12:36).Tetapi mereka harus mengerti pekerjaan-Nya, dan mengikut Dia oleh iman sementara Dia pergi ke hadirat Allah. Dalam pengertian inilah mereka dikatakan pergi ke pernikahan.

Dalam perumpamaan itu, hanya mereka yang mempunyai minyak dalam buli-buli dan dalam pelitanya saja yang masuk ke perjamuan kawin itu. Mereka yang mengerti kebenaran dari Alkitab, dan juga yang mempunyai Roh dan karunia Allah, dan yang pada malam pencobaan paling pahit mereka telah dengan sabar menunggu, menyelidiki Alkitab untuk terang yang lebih jelas, -- mereka ini melihat kebenaran mengenai tempat kudus di Surga dan perobahan pelayanan Juru Selamat, dan oleh iman mereka mengikuti-Nya dalam pekerjaan-Nya di tempat kudus di atas. Dan semua yang melalui kesaksian Alkitab menerima kebenaran yang sama, mengikuti Kristus oleh iman pada waktu Ia masuk ke hadirat Allah untuk melaksanakan pekerjaan pengantaraan yang terakhir, dan pada penutupannya menerima kerajaan-Nya -- semuanya ini dilambangkan sebagai pergi pernikahan.

Dalam perumpamaan Matius 22 gambaran pernikahan yang sama diperkenalkan. Dan penghakiman pemeriksaan dengan jelas digambarkan terjadi sebelum pernikahan. Sebelum pesta pernikahan mulai, raja itu datang untuk menemui tamu-tamu (Mat. 22:11), untuk melihat kalau-kalau semuanya memakai pakaian pesta, jubah tabiat yang tidak bernoda yang dibasuh dan diputihkan dalam darah Anak Domba (Wah. 7:14). Ia yang ditemukan kurang, dibuang keluar, tetapi semua yang setelah diperiksa ditemukan memakai pakaian pesta perkawinan, diterima oleh Allah dan layak memperoleh bahagian dalam kerajaan-Nya dan tempat duduk di atas takhta-Nya. Pekerjaan pemeriksaan tabiat ini, yang menentukan siapa yang bersedia kepada kerajaan Allah, adalah penghakiman pemeriksaan, pekerjaan penghabisan di kaabah di Surga.

Bilamana pekerjaan pekerjaan pemeriksaan berakhir, bilamana mereka yang pada segala zaman mengaku pengikut-pengikut Kristus telah diperiksa dan diputuskan, kemudian berakhirlah masa percobaan, dan pintu kasihanpun tertutuplah. Jadi dalam kalimat pendek, "mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan Dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup," kita dibawa melalui pelayanan terakhir Juru Selamat, kepada waktu bilamana pekerjaan besar penyelamatan manusia diselesaikan.

Dalam upacara di tempat kudus atau kaabah duniawi, seperti yang kita telah lihat adalah gambaran upacara di kaabah surgawi, bilamana imam besar pada Hari Pendamaian memasuki bilik yang maha kudus, maka pelayanan di bilik yang kudus terhenti. Allah memerintahkan "Seorangpun tidak boleh hadir di dalam Kemah Pertemuan, bilamana Harun masuk untuk mengadakan pendamaian di tempat kudus, sampai ia keluar." (Imamat 16:17). Jadi bilamana Kristus memasuki bilik yang maha kudus untuk melaksanakan penutupan pekerjaan pendamaian, Ia menghentikan pelayanan-Nya di bilik yang kudus. Tetapi bilamana pelayanan di bilik yang kudus berakhir, maka pelayanan di bilik yang maha kuduspun mulai. Bilamana dalam pelayanan lambang, imam besar meninggalkan bilik yang suci pada Hari Pendamaian, ia pergi ke hadirat Allah untuk mempersembahkan darah dari persembahan karena dosa atas nama semua orang Israel yang benar-benar menyesali dosa-dosa mereka. Demikianlah Kristus telah menyelesaikan satu bagian dari pekerjaan-Nya sebagai pengantara, untuk memulai bagian yang lain dari pekerjaan itu, dan Ia masih mempersembahkan darah-Nya di hadirat Bapa atas nama orang-orang berdosa.

Pokok pelayanan ini tidak dimengerti oleh orang-orang Advent pada tahun 1844. Setelah waktu berlalu pada waktu Juru Selamat diharapkan datang, mereka masih percaya kedatangan-Nya sudah dekat. Mereka berpendapat bahwa mereka telah sampai kepada suatu krisis penting, dan bahwa pekerjaan Kristus sebagai pengantara di hadirat Allah telah berakhir. Tampak kepada mereka diajarkan di dalam Alkitab bahwa masa percobaan manusia akan tertutup sedikit waktu lagi sebelum kedatangan Tuhan yang sebenarnya di awan-awan langit. Hal ini terbukti dari Alkitab yang menunjuk kepada suatu masa bilamana manusia akan mencari, mengetok di pintu rahmat, dan pintu itu tidak akan dibuka. Dan menjadi pertanyaan bagi mereka apakah tanggal yang mereka harapkan kedatangan Kristus itu, bahkan menandai permulaan masa yang segera mendahului kedatangan-Nya? Setelah memberikan amaran penghakiman yang sudah dekat, mereka merasa pekerjaan mereka bagi dunia ini sudah selesai, dan tidak ada lagi beban jiwa mereka bagi keselamatan orang-orang berdosa. Sementara itu hujatan keras dan ejekan orang yang tidak percaya kepada Tuhan dianggap sebagai bukti lain bahwa Roh Allah telah ditarik dari mereka yang menolak kasih karunia-Nya. Semuanya ini meyakinkan mereka bahwa percobaan sudah berakhir, atau sebagaimana kemudian mereka sebutkan, "pintu kasihan telah tertutup."

Tetapi terang yang lebih jelas datang dengan penyelidikan mengenai masalah tempat kudus. Sekarang mereka melihat bahwa mereka adalah benar dalam mempercayai bahwa akhir dari 2300 hari itu ialah tahun 1844 yang ditandai dengan krisis penting. Akan tetapi walaupun benar bahwa pintu pengharapan dan pengasihan, melalui mana 1800 tahun manusia datang kepada Allah, sudah tertutup, pintu yang lain terbuka, dan pengampunan dosa diberikan kepada manusia melalui pengantaraan Kristus di bilik yang maha kudus. Satu bagian pelayanan-Nya sudah tertutup, sementara satu lagi terbuka. Masih ada "pintu terbuka" ke tempat kudus surgawi, dimana Kristus melayani demi kepentingan orang-orang berdosa.

Sekarang terlihat penerapan perkataan Kristus yang terdapat dalam Wahyu, yang ditujukan kepada jemaat pada zaman ini: "Inilah firman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka. Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun." (Wah. 3:7,8).

Mereka, yang oleh percaya mengikut Yesus dalam pekerjaan pendamaian-Nya yang besar itu, yang akan menerima manfaat pengantaraan-Nya demi kepentingan mereka. Sementara mereka yang menolak terang yang menampakkan pekerjaan pelayanan ini tidak akan memperoleh manfaat dari padanya. Orang Yahudi yang menolak terang yang diberikan pada waktu kedatangan Kristus yang pertama, dan menolak untuk percaya kepada-Nya sebagai Juru Selamat dunia, tidak dapat menerima pengampunan melalui Dia. Ketika Yesus pada waktu kenaikan-Nya dengan darah-Nya sendiri memasuki tempat kudus surgawi mencurahkan berkat-berkat pengantaraan-Nya kepada murid-murid-Nya, orang-orang Yahudi telah ditinggalkan dalam kegelapan, meneruskan korban-korban dan persembahan-persembahan mereka yang tidak berguna lagi. Pelayanan secara lambang dan bayangan telah berakhir. Pintu melalui mana sebelumnya manusia dapat datang kepada Allah, tidak lagi terbuka. Orang Yahudi telah menolak mencari-Nya di jalan satu-satunya dimana Ia bisa ditemukan, melalui pelayanan dalam tempat kudus di Surga. Itulah sebabnya mereka tidak menemukan persekutuan dengan Allah. Kepada mereka pintu sudah tertutup. Mereka tidak mengetahui Kristus sebagai korban yang benar dan satu-satunya pengantara di hadirat Allah; dan oleh sebab itu mereka tidak dapat menerima manfaat pengantaraan-Nya.

Keadaan orang Yahudi yang tidak percaya itu menggambarkan keadaan orang-orang yang lalai dan tidak percaya di antara orang-orang yang mengaku dirinya orang Kristen, yang dengan sengaja tidak mau tahu mengenai pekerjaan pengasihan Imam Besar kita. Pada upacara lambang, bilamana imam besar memasuki bilik yang maha kudus, seluruh orang Israel diharuskan berkumpul di sekitar kemah suci, dan dalam sikap yang paling khidmat merendahkan hati dan jiwa mereka di hadirat Allah, agar mereka boleh menerima pengampunan atas dosa-dosa mereka, dan tidak dikucilkan dari perhimpunan bangsa itu. Betapa lebih penting lagi pada hari pendamaian yang sebenarnya ini kita memahamai pekerjaan Imam Besar kita, dan mengetahui kewajiban-kewajiban yang dituntut dari kita.

Manusia tidak dapat menolak amaran yang dikirimkan Allah dalam kemurahan-Nya kepada mereka. Pekabaran telah dikirim dari Surga ke dunia ini pada zaman Nuh, dan keselamatan mereka tergantung kepada sikap mereka memperlakukan pekabaran itu. Oleh karena mereka menolak dan tidak memperdulikan amaran itu, maka Roh Allah ditarik dari bangsa yang berdosa itu, dan akhirnya mereka binasa di dalam air bah. Pada zaman Abraham, kemurahan berhenti membujuk penduduk jahat kota Sodom, sehingga semua orang, kecuali Lot dengan isterinya dan kedua anak gadisnya, binasa dimakan api yang dikirim dari langit. Demikian juga pada zaman Kristus. Anak Allah mengatakan kepada orang Yahudi yang tidak percaya mengenai bangsa itu, "Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi." (Mat. 23:38). Memandang kepada akhir zaman, Penguasa Takterbatas yang sama itu menyatakan mengenai mereka yang "tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka." "Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan." (2 Tes. 2:10-12). Sementara mereka menolak pengajaran firman-Nya, Allah menarik Roh-Nya, dan membiarkan mereka jatuh kepada penipuan yang mereka sukai.

Akan tetapi Kristus masih mengantarai demi kepentingan manusia. Dan terang akan diberikan kepada mereka yang mencarinya. Walaupun pada mulanya hal ini tidak dimengerti oleh orang Advent, tetapi kemudian menjadi jelas, pada waktu ayat-ayat Alkitab yang menjelaskan kedudukan mereka yang sebenarnya mulai dibukakan dihadapan mereka.

Berlalunya waktu pada tahun 1844 telah diikuti oleh masa pencobaan besar bagi mereka yang masih memegang kepercayaan kepada kedatangan Kristus kedua kali. Satu-satunya yang melegakan, sejauh yang menyangkut penegasan kedudukan mereka yang benar, ialah terang yang mengarahkan pikiran mereka ke tempat kudus di Surga di atas. Beberapa orang meninggalkan imannya mengenai perhitungan-perhitungan nubuatan sebelumnya, dan menganggap kekuatan manusia atau agen-agen Setan mempengaruhi kuasa Roh Kudus yang telah membantu Pergerakan Advent. Golongan lain berpegang teguh bahwa Tuhan telah menuntun mereka dalam pengalaman-pengalaman mereka di masa lalu. Dan sementara mereka menunggu, berjaga dan berdoa untuk mengetahui kehendak Allah, mereka melihat bahwa Imam Besar mereka telah memasuki pekerjaan pelayanan lain, dan dengan mengikuti-Nya oleh iman mereka telah dituntut untuk melihat juga pekerjaan penutup gereja. Mereka mempunyai pengertian yang lebih jelas mengenai pekabaran-pekabaran malaikat yang pertama dan kedua, dan bersedia menerima dan memberikannya kepada dunia ini amaran yang sungguh-sungguh malaikat yang ketiga dalam Wahyu 14.

 

comments

Artikel Lainnya

IMAGE
MAKANAN DAN KESEHATAN (3)
[AkhirZaman.org] Makanan tidak boleh dimakan terlalu panas atau terlalu dingin....
Read More...
IMAGE
MAKANAN DAN KESEHATAN (2)
[AkhirZaman.org] Adalah satu kesalahan kalau makan hanya sekadar memuaskan...
Read More...
IMAGE
MAKANAN DAN KESEHATAN (1)
[AkhirZaman.org] Tubuh kita dibangun dari makanan yang kita makan. Ada saja...
Read More...
IMAGE
PAKAIAN (2)
[AkhirZaman.org] Menukar pakaian hanya demi mode tidak disetujui oleh firman...
Read More...
IMAGE
PAKAIAN (1)
[AkhirZaman.org] Alkitab mengajarkan kesederhanaan dalam hal...
Read More...
IMAGE
Pencipta Berkata Ingatlah...
[AkhirZaman.org] Kaisar Rusia pada suatu ketika berjalan-jalan di suatu taman...
Read More...
IMAGE
Pencipta Berkata Ingatlah...
[AkhirZaman.org] Dalam artikel sebelumnya kita dapat melihat bahwa Yesus dan...
Read More...
IMAGE
Pencipta Berkata Ingatlah...
[AkhirZaman.org] Pada artikel nubuatan sebelumnya kita telah mempelajari bahwa...
Read More...
IMAGE
Pencipta Berkata Ingatlah...
[AkhirZaman.org] Cerita-cerita dongeng dengan mudah diterima sebagai kebenaran...
Read More...
IMAGE
Pencipta Berkata Ingatlah...
[AkhirZaman.org] Hari Sabat adalah suatu ajakan untuk menggunakan waktu...
Read More...
IMAGE
[RH] DALAM BELASKASIHAN Y...
“Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu...
Read More...
IMAGE
[RH] DALAM SETIAP KEADAAN...
“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dala